Follow Me @lellyfitriana

Apr 21, 2018

Mencabut Masalah Hingga ke Akar


"Trus gimana caranya kita tidak terlibat dengan asuransi? Kamu boleh Lel bilang ini halal haram, kamu gak pernah sih ngerasain butuh duit yang begitu besarnya untuk bayar saudara yang lagi sakit parah. Kalau aku gak pakak asuransi, terus aku harus bayar pakai apa?"
Saya diam. Saya memilih mendengarkan teman saya yang berapi-api dengan masalah yang pernah dia hadapi. 

"Kamu gak bisa dong bilang ini riba, haram. Lalu kamu gak ngasih solusi buat orang-orang yang butuh duit untuk berjuang bersama penyakitnya atau butuh yang lain dengan dana besar," lanjutnya.

Saya akui bahwa saya memang tidak pernah mengalami hal serupa. Saya juga bukan anak yang lahir dari keluarga miskin yang harus berjuang begitu keras hanya untuk mencari sesuap nasi. Alhamdulillah, Allah memberikan saya penghidupan yang jauh lebih layak dibanding saudara-saudara kita yang kurang beruntung. Itu sebabnya saya memilih untuk diam dan mendengarkan, hingga dia selesai bercerita.

Memori saya lompat pada obrolan saya dengan teman saya yang lain. Ibunya pernah sakit parah yang mengharuskan Beliau dirawat inap dan operasi. Biaya yang dikeluarkan sangat amat besar. Tabungan yang dia dan suaminya miliki telah habis digunakan untuk pengobatan Ibunya.

"75 juta. Malam itu saya harus bisa membayar biaya operasi ibu saya agar Beliau segera ditindak. Sementara saya dan suami benar-benar tidak ada uang segitu. Suami saya yang luar biasa. Dalam kondisi seperti itu, dia masih tetap bersikukuh untuk tidak menggunakan sesuatu yang sifatnya ribawi."

"Terus gimana, Bu?"

"Ya bilang sama petugas rumah sakit. Kami gak punya uang segitu. Kami minta ibu kami dioperasi dengan jaminan BPKB motor. Waktu itu kami belum ada mobil, Bu. Itu rasanya gak masuk akal ya, Bu. Tapi alhamdulillah pihak rumah sakit mau menerima. Besoknya ibu saya dioperasi."

Oooo... Ternyata memang bisa kalau kita memang mau mengusahakan untuk tetap berpegang pada syariah. Begitulah yang ada pada benak saya. Maklum, selama ini sudah terlalu banyak input yang masuk ke kepala saya.

"Ini jamannya udah beda, gak mungkin lah kalau kita jadi orang yang sekaku itu sama halal haram."

Ya kan? Kalau tentang statement di atas. Saya rasa bukan saya saja yang mengalaminya. Tapi banyak.

Kita memang perlu sadar bahwa hari ini kita sedang hidup dalam kondisi yang amat sangat tidak ideal yang membuat kita untuk taat saja pada aturan Allah itu susahnya bukan main. Masalah biaya kesehatan yang besar sekali seperti contoh kasus di atas sering menjadikan orang putus asa, kemudian terpaksa mengambil jalan singkat. Riba.

Banyak cerita-cerita lain yang saya dengar dari rekan-rekan kerja saya. Ada yang terpaksa mengambil riba, kemudian setengan mati dia berjuang keras untuk segera lepas darinya. Ada yang benar-benar menghindari, mengambil alternatif lain. Ada juga yang tetap mengambilnya karna menganggap ya cuma itu caranya.

Semua orang tentu mengharapkan sebuah solusi. Siapa sih yang kepingin terjerat dosa besar? Siapa pun pasti tidak menginginkannya. 

Cerita yang disampaikan teman saya yang kedua tadi adalah solusi untuk bisa tetap taat pada perintah Allah. Iya, cara tersebut memang bisa menyelesaikan masalah.

Cara lain seperti penggalangan dana bantuan kesehatan yang dilakukan individu atau pun lembaga sosial pun bisa dijadikan alternatif solusi singkat. Dan tidak ada yang salah dengan hal itu, bahkan akan menjadi amal jariyah yang akan memperberat timbangan amal mereka di akhirat nanti.

Tapi kita pun perlu memikirkan bagaimana cara keluar dari lingkaran masalah yang terus berulang. Jaminan kesehatan yang tidak bisa dirasakan oleh semua lapisan masyarakat. Sebuah lingkaran masalah yang mengharamkan orang miskin untuk sakit. Bagaimana ya lingkaran itu bisa diputus hingga kejadian yang serupa tak lagi berulang. 

Bila kita bicara mengenai bagaimana agar mereka bisa mendapatkan penjaminan yang layak, tentu kita butuh tidak hanya peran dari individu atau lembaga masyarakat untuk menyelesaikannya. Kita butuh institusi yang lebih besar dan punya pengaruh yang jauh lebih besar, yaitu negara. Aturan Allah harus dikembalikan pada posisinya masing-masing untuk pengaturan rakyat. Bukan untuk ditawar, bukan untuk divoting, bukan untuk diperdebatkan di ranah dewan. Tapi untuk dilaksanakan tanpa tapi.

"Gimana caranya, Lel? Kita ini cuma remah-remah rengginang yang suaranya gak bakal ngefek di atas sana."

Memang. Kalau hanya saya yang bersuara, atau kamu saja yang berbicara. Sedangkan kita ini masih sama-sama anak kemarin sore ya memang gak bakal didengar. Tapi bagaimana bila aku, kamu, kita bersatu memperjuangkan hal yang sama?

Ingat aksi bela Islam yang sudah terjadi kan?

Tau bagaimana reaksi dan impact yang terjadi saat itu kan?

Kita bisa. Kita bisa bila terus menyampaikan kebenaran, memperjuangkan kebenaran bersama-sama. Saya saja gak akan bisa. Kita butuh berjuang sama-sama.


Perjalanan menuju Malang, 21 April 2018

©lellyfitriana



sumber gambar: pinterest

No comments:

Post a Comment