Follow Me @lellyfitriana

May 4, 2018

Nasehat Pernikahan dari Ibu


Dulu waktu SMA saya pernah ikut pecinta alam. Jadi aktivitas outdoor macam rafting, rapling, wall climbing, dan banyak hal lain itu semacam aktivitas yang biasa untuk saya. Dari semuanya, mostly seru. Nasehat ibu semalam tentang bagaimana nanti saya harus menjalani kehidupan pernikahan megingatkan saya dengan salah satu aktivitas ini.

Rafting.

Iya, la wong ibu sendiri yang mention ini. Kata ibu, menjalani pernikahan itu semacam lagi rafting. Perahu yang akan dinaiki sama-sama itu akan berjalan di atas aliran sungai yang biasa. Goncangan-goncangaan yang terjadi di dalamnya itu sudah jadi hal biasa. Orang yang liat akan bilang itu seru, menyenangkan. Tapi yang menjalani akan kerasa beda. Tangan bisa njarem-njarem karna harus ngayuh perahu. Dan kudu kompak, kalo gak akan mempengaruhi jalannya perahu. Trus pemegang kendali juga kudu more skillfull. Selanjutnya adalah kemampuan untuk mau mendengar dan menundukkan ego, biar perahu bisa jalan dengan baik, menghindari semua rintangan yang ada, serta bertaha untuk gak numplek.

Pernikahan pun demikian. Jangan dikira naanti  akan seindah feed instagram orang lain. Saat menjalaninya, mungkin kita akan ngalami yang gak enak-enak macem tangan njarem tadi, perahunnya kena ranting trus bochor, nyangkut di antara bebatuan, tangan lecet kesenggol tanaman-tanaman yang ada di tepi sungai, dan semacamnya. Maka menjalani pernikahan tidak bisa hanya mengandalkan kekuatan salah satu pihak saja. Pun tidak bisa mengandalkan pikiran salah satunya saja. Semua orang harus mau bahu membahu agar perahu pernikahan ini teetap berjalan in the track.

Ego harus ditekan. Mau dengar satu sama lain. Mau terbuka satu sama lain. Saling mengingatkan satu sama lain. Saking menguatkan satu sama lain. Dan yang gak kalah pentinb adalah memohln kekuatan sama Allah untuk tetap bisa bertahan dalam bahtera rumah tangga tadi.

Dari semua hal tadi, tidak mungkin menjalani semuanya tanpa bekal ilmu yang cukup. Rafting kalo gatau ilmunya ya perahu gak bakal jalan. Kalopun jalan kemungkinan nyungsep atau numplek juga akan besar. Menjalani pernikahan pun demikian. Upgrade ilmu terus terus dan terus itu jadi kewajiban yang harus dipunya oleh semua pihak. Susah kalo yang satu ngerti, lalu yang lain enggak. Ya bakal ngoyo di salah satu pihak.

Terakhir dari ibu, "tetap libatkan Allah, Mbak. Cuma Allah yang mampu menuntun, menyelamatkan, dan memberi kekuatan ke kita dalam setiap perjalanan yang akan dilalui dalam pernikahan nanti.



No comments:

Post a Comment