Ta'aruf

by - Monday, June 04, 2018

This is a story, how we met, how we trust to each other, and how we start a new story of our life.

Sebuah pesan singkat masuk ke WA saya. Dari Bu Asri, tentor menulis di salah satu kelas menulis online yang saya ikuti.

"Dek, to the point aja nih ya, kamu sudah nikah atau dikhitbah belum?"

Deg! Pertanyaan semacam ini tau lah ya akan berakhir seperti apa.

"Belum, Bu. Ada apa ya, Bu?"

"Saya mau kenalkan kamu lagi dengan keponakan saya. Kali ini sama kakaknya," dan segala deskripsi singkat tentang calon ikhwan yang ingin Beliau kenalkan kepada saya. Tidak ada masalah mengenai promosi yang disampaikan Bu Asri. Sampai pada satu pertanyaan.

"Dia kerja di mana, Bu?"

"Dia lagi ngrintis bisnis IT sama temennya di Jakarta. Trus sekarang tinggalnya di Bogor."

sumber: di sini


Tarik nafaaas... dalaaam.. Udah seneng kan mau ta'aruf. Lha kok orangnya tidak tinggal di Surabaya. Mulailah saya galau. Iya atau tidak menerima ikhwan ini. Banyak hal yang tentu akan saya tinggalkan jika nanti proses kami berjalan lancar dan sampai ke jenjang pernikahan. Sanggupkah saya meninggalkan semuanya yang saya bangun di Surabaya? Sanggupkah saya meninggalkan orang tua saya lebih jauh lagi dengan kondisi psikis Ibu yang demikian setelah Adik melanjutkan studi di Bangkok.

"Saya pikir-pikir lagi ya, Bu," jawab saya. Saya belum bisa memutuskan untuk menerima atau tidak. Banyak hal yang pasti akan berubah lagi 180 derajat. Mampukah saya menghadapi semua itu?

Saya pun mulai konsultasi ke musyrifah saya mengenai perkara ini. Saya sampaikan apa saja yang mengganjal dalam benak saya. Tentang restu Ayah Ibu, tentang pekerjaan di Surabaya, tentang semua hal yang ada di kota ini. Jujur saya bingung harus menyampaikan apa ke orang tua saya. Ada pengalaman pahit di masa lalu yang membuat saya harus ekstra hati-hati ketika akan menyampaikan kabar semacam ini ke Ibu. Saya tidak ingin Ibu saya berharap terlalu banyak padahal kami baru saja akan memulai proses ta'aruf. Masih ada banyak kemungkinan yang akan terjadi. Jangan sampai kegagalan pada proses ini jadi beban pikiran Beliau lagi.

"Tentang Ibu, Mbak. Mbak bisa sampaikan pelan-pelan mengenai kemungkinan bila ada laki-laki yang akan meminang Mbak dan membawa Mbak ke luar Jawa Timur. Tidak perlu disampaikan secara detail bila Mbak khawatir Ibu jadi berharap dan nanti justru akan sakit bila gagal di tengah jalan. 

"Mengenai pekerjaan, Mbak. Mbak bisa kembali pertimbangkan kembali mana sekiranya yang akan membawa keberkahan lebih besar. Bekerja bagi seorang perempuan itu adalah suatu perkara yang mubah. Sedangkan menikah, akan ada ladang pahala yang jauh lebih besar mengalir di dalamnya.

"Kalau Mbak khawatir tentang bagaimana proses ngajinya nanti. Insyaa Allah di sana ada kalau mau ngaji tidak akan sulit," begitulah pertimbangan-pertimbangan yang musyrifah saya sampaikan. Lepas sholat Maghrib berjama'ah dengan Ibu, saya mulai sampaikan apa yang disarankan musyrifah saya. 

Ssudah lama Ibu menanyakan tentang kapan saya akan menikah dan banyak nasehat dari Beliau tentang bagaimana saya harus bersikap ketika ada laki-laki baru yang datang ke dalam hidup saya. Ibu khawatir sekali kalau tak ada laki-laki yang sanggup dengan kriteria yang saya inginkan. Tapi saya tetap berpegang pada apa yang saya inginkan, berikhtiar sebaik mungkin dan memohon pertolongan Allah atas setiap langkah yang saya jalani.

Tak jarang saya bersitegang dengan Ibu mengenai jodoh ini. Kekhawatiran Beliau sudah masuk pada justifikasi yang menurut saya agak berlebihan. Maka, ketika saya akan bertanya terkait hal ini pun, artinya saya harus menyiapkan diri untuk justifikasi lain dari Ibu.

"Bu, semisal nih ya. Ada temenku kuliah yang sekarang kerjanya di Jakarta, Bandung, atau luar pulau suka sama aku trus ngajakin nikah gimana?"

"Emangnya ada?"

"Ya belum sih. Mau nanya aja dulu. Kalau Ibu ridho aku dibawa dia ke tempat kerjanya, misal ada yang ngedeketin ya tak terima. Tapi misal Ibu gak ridho ya aku tolak."

"Gak usah halu. Kalau ada yang serius bawa ke rumah. Kamu itu jangan suka nolak-nolak laki-laki. Nanti kamu gak nikah-nikah."

Dan kata-kata tak menyenangkan lain. Saya dengarkan saja. Saya tak mau membuka sesuatu yang tak untuk dibuka. 

Saya hanya menyimpulkan bahwa tak ada masalah jika kami menjalani proses ta'aruf. Saya sholat istikharah untuk meminta petunjuk. Saya tenangkan diri saya. Saya pikirkan kembali masak-masak. Akhirnya..

"Iya, Bu. Saya bersedia untuk melanjutkan proses ta'aruf dengan keponakan Ibu."

Dari situ kami mulai bertukar CV dan menjalani proses ta'aruf. Saya dalami karakternya, pola pikirnya, cita-citanya, semua hal tentang bagaimana nanti kami akan menjalani rumah tangga. Semakin dalam saya mengenal dia, semakin besar pula ketertarikan saya terhadapnya. Hingga saya pun akhirnya mantap bahwa memang dia laki-lakk yang selama ini saya tunggu.

You May Also Like

0 komentar