Bersamamu, Menyempurnakan Agamaku

by - Monday, August 06, 2018



"Saya terima nikah dan kawinnya, Aprilely Ajeng Fitriana binti Supanggih Agus Prasetyo dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai."

Begitulah janji suci itu diucapkan oleh laki-laki yang baru saja hadir dalam hidup saya. Saya bahkan baru mengenalnya 4-5 bulan yang lalu. Tapi kemudian semua hal yang saya gali dari dia, latar belakanganya, pandangan hidupnya, cita-cita yang ingin dia raih, dan segala hal yang ada padanya menjadikan saya mantap untuk memilih dia menjadi pendamping hidup saya. Janji yang dia ucapkan adalah salah satu peristiwa besar yang disejajarkan dengan peristiwa para nabi. Dalam bayangan saya, akan ada efek dramatis setelah janji itu terucap. Ternyataaa...

Tidak.

"Oh, sudah sah ya," begitulah yang ada di benak saya tepat setelah akad terucap. Kedua ibu, memeluk saya. Mereka berdua menangis haru. Akhirnya, putera puteri mereka menikah juga. Mungkin begitu yang ada di benak mereka.


"Gimana, Dek? Lega?" kata suami saya. Akhirnya bisa sebut begitu. Wkwkwk...

"Belum, Mas."

Perjalanan menuju akad yang penuh dengan drama. Setelah akad tentu ada PR besar yang biasanya sering senggol-senggolan dengan pelanggaran syariat, yaitu walimah. Saya sudah pernah cerita bagaimana perjalanan saya meyakinkan kedua orang tua saya agar walimatul ursy kami bisa berjalan sesuai syariat Islam. Tamu dipisahkan, makan dan minum duduk, tidak tabbaruj, tidak ada prosesi yang aneh-aneh yang justru melanggar syariat, dan tentu saja makanan dan minuman yang disajikan adalah makanan yang halal dan toyyib. 


Sejujurnya, jika boleh. Saya ingiiiin sekali melewati proses ini. Terlalu menegangkan. Wkwkwkwk..

Tapi alhamdulillah, semua proses berjalan dengan lancar. Pernikahan syar'i yang saya harapkan bisa berjalan lancar. Terima kasih kepada Qurrata Ayyun Wedding yang telah membantu segala proses walimatul ursy ini. Mbak Dini yang sudah bantu desainkan undangan dan tag souvenir. Aroma Catering atas makanan yang telah disajikan baik pada saat acara walimatul ursy, acara lamaran saya, dan konsumi untuk saudara-saudara suami yang datang dari jauh-jauh. Jazakumullah khoiron katsir.

Setelah publikasi tentang pernikahan saya tersiar. Banyak yang kaget. 

"Lho, Mbak? Udah nikah?"

"Iya. Sudah."

Mereka kaget karna gak ada foto pre-wedding yang tersiar di segala macam sosial media saya. Tidak ada kontak dengan laki-laki yang semacam kode-kode juga dengan laki-laki. Lalu, berita pernikahan itu datang. Jangankan orang lain, keluarga kami saja kaget. Wkwkwk..

Tapi ya begitulah. Untuk apa disiarkan, kalau kepastian menikah saja masih jauh. Bukankah Islam mengajarkan untuk menyembunyikan lamaran dan mengumumkan pernikahan? Maka, inilah yang saya ambil, pilihan yang suami saya ambil pula. Menyembunyikan segala proses yang kami jalani dari pihak lain hingga semua tampak jelas.

Pelaksanaan walimah syar'i yang saya jalani bukan yang pertama. Tapi memang masih belum umum, maka kalau ada tamu yang gak terima. Galau-galau sendiri karna kepisah sama pasangannya dinikahan saya, itu wajar. 

"Suaminya mana?"

Pertanyaan semacam ini pasti banyak masuk ke saya.

"Ada di sebelah. Kan tempatnya bapak-bapak di sebelah," sambil senyum seeeelebar mungkin. Ini pilihan kami yang tak bisa diterima semua orang. Ada juga yang protes. Tapi yaaa.. Kalo mau dengerin omongan orang, ini gak bakalan selesai. Ini acara kami, maka kami yang memilih dan kami juga yang bertanggung jawab.




Ada banyak hal yang menjadi PR kami berdua setelah proses ini. Tentu banyak langkah yang harus terus diselaraskan. Ada yang protes begini begitu. Ikut-ikut mengevaluasi bagaimana kehidupan kami. Itu rasanyaaaa... hmmmm... 

Pingiiin sekali bilang begini.

Kita punya kehidupan yang beda. Punya ujian yang beda. Punya jalan yang beda. Dan tentu saja punya pilihan yang berbeda. The point is kita sudah mengusahakan semaksimal mungkin untuk tetap berjalan on the track. 

"Mbak, seharusnya itu begini begitu.."

Oke, silahkan berkomentar. Tapi kami yang menjalani.

Perjalanan menuju pernikahan bukan hal yang mudah. Ada banyak sekali drama yang ada di depan mata. Tapi ternyata perjalanan menjadi seorang istri justru jauh lebih fantastis bombastis. Saya dengarkan nasehat para suhu yang telah banyak makan asam garam pernikahan. Saya coba untuk memahami masukan-masukan dari orang lain yang memandang sedikit kemudian mengeneralisir segalanya. 

Semoga pernikahan ini akan terus membawa kami bertumbuh menjadi manusia yang lebih baik. Kami bisa saling mengingatkan dan menguatkan satu sama lain dalam kebaikan. Saling berproses menjadi manusia terbaik yang mampu melahirkan generasi-generasi yang bisa berjuang di jalan Allah. Dan tentu saja, Allah berkenan memberikan sakinah, mawaddah, dan rahmah dalam rumah tangga yang kami jalani.

Aamiin..

You May Also Like

2 komentar

  1. Selamat untuk pernikahannya ya Mbak Lelly..Semoga Sakinah Mawaddah wa Rahmah..Aamiin

    Jadi ingat saya sudah 16 tahun yang lalu menjalani prosesi akad nikah :)

    ReplyDelete