Memahami Rencana Allah 'tuk Lejitkan Diri

by - Monday, August 20, 2018

Saat saya menuliskan tulisan ini, ingatan saya kembali pada hari pertama pernikahan kami. Saya ingat bagaimana kikuknya suami saya ketika pertama kali menyentuh saya. Saya ingat ketika banyak orang yang memintanya untuk mencium kening saya setelah doa pernikahan usai ia rapalkan.



Hari-hari kami tentu saja dipenuhi dengan kebahagiaan dan sedikit kehebohan di sana-sini. Sekali pun semuanya serba tidak ideal.

Awal pernikahan, kami tak bisa segera tinggal di Bogor karena kami harus menyelesaikan urusan kami masing-masing di kota yang berbeda. Saya di Surabaya dan suami di Probolinggo. Keputusan kami untuk bisa tinggal bersama yang menjadikan kami hidup seperti keong dan cangkangnya. Berpindah dari satu hotel ke hotel yang lain.

Adakalanya, suami saya yang harus pulang pergi Probolinggo-Surabaya agar kami bisa tetap bertemu setiap hari. Adakalanya sebaliknya.

Lelaaah sekali menjalani hidup semacam ini. Tapi saya paham bahwa bukan hanya saya yang merasakan letih. Suami bahkan lebih lelah dari saya. Saya masih punya waktu istirahat yang lebih. Sedangkan suami saya tidak.

Pilihan hidup kami saat ini, seringkali dipertanyakan. Baik oleh orang-orang yang berhubungan dengan saya, maupun suami. Entah itu keluarga kami, maupun yang bukan keluarga. Tapi kami telah sepakat bahwa tak semua hal yang kami pilih harus dipahami oleh semua pihak.

"Alhamdulillah kalau mereka mau mengerti, kalau tidak ya kita abaikan saja," begitulah yang suami saya sampaikan kepada saya.

Pagi ini, saya masih terbangun dengan suami saya di samping saya. Saya amati wajahnya yang masih tidur pulas. Banyak hal yang terjadi pada kami yang sebenarnya menguji emosi juga. Banyak hal yang harus saya coba pahami dari orang lain, agar saya lebih bisa mengendalikan diri saya.

Percakapan semalam membangkitkan memori saya tentang kenapa saya memilih dia dan akan kami bawa kemana rumah tangga kami nanti. Saya memilihnya bukan karna kekayaan yang dia miliki, bukan juga karna bentuk fisiknya. Tapi karna cita-cita yang ingin kita bangun sama. Bagaimana kami akan mewujudkannya pun selaras. Tanpa kami sadari percakapan tentang rencana-rencana kami tentang bagaimana mengelola rumah tangga kami nanti terbangun dengan begitu mudah.

Kemauan suami untuk terus belajar dan tidak menutup diri pada satu sumber saja yang membuat saya semakin yakin dengannya. Tentu saja bukan hanya ilmu duniawi saja, tapi juga ilmu agama.

"Kemauan untuk berusaha mencari itu yang akan menuntun kita untuk melangkah lebih dekat dari taufik-Nya."

Keyakinan itu tumbuh makin kuat ketika mertua saya bercerita tentang anak laki-lakinya yang mengajarkan banyak hal hingga beliau bisa berubah banyak seperti sekarang. Bahkan dari seseorang yang tak mampu membaca Al Quran menjadi orang yang terus berusaha menjalankan syariat Islam dalam kehidupannya.

"Semoga denganmu, kita bisa sama-sama menguatkan langkah untuk terus berdakwah di keluarga kita. Semoga denganmu, kita bisa menjadi contoh bagi mereka bagaimana indahnya Islam yang kita hadirkan dalam setiap langkah kita. Semoga denganmu, kita bisa terus memberi manfaat untuk banyak orang
Semoga denganmu, kita mampu menghasilkam generasi rabbani yang mampu meneruskan perjuangan Islam."

Pagi ini, saya tatap kembali wajahnya. Saya tahu betul bahwa suami saya tak pernah menghalangi saya untuk belajar, bahkan memberikan saya dukungan penuh untuk saya. Tidak hanya itu, suami saya juga yang memahamkan saya akan satu hal yang tak saya pahami. Suami saya juga yang menjadi rekan belajar dan diskusi saya selama ini.

Saya bersyukuur sekali bahwa hingga detik ini suami saya terus mengupayakan apa yang telah kami rancang sebelum menikah dulu. Saya bersyukur dengan limpahan kasih sayang yang suami saya berikan pada saya.

Terima kasih, Cinta.

***

Satu bulan setelah kami menikah, ibu saya sakit dan harus dirawat inap di rumah sakit. Padahal sebelumnya Beliau sempat silaturahim ke rumah mertua saya sembari menahan rasa sakitnya.


Ada rasa bersalah yang begitu besar. Ada perasaan bahwa sayalah yang menjadi penyebab sakitnya ibu saya. Ada keputusan besar dalam hidup saya yang saya tahu sulit untuk ibu saya terima. Saya resign dari pekerjaan saya untuk ikut suami saya.

Tentu saja, ini membawa banyak perubahan besar dalam diri saya. Saya yang biasa sibuk di luar rumah. Kini lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Apalagi, kondisi kami yang masih nomaden. Tak ada rekan yang bisa saya ajak untuk berinteraksi, kecuali suami saya.

"Allah punya rencana sendiri untuk saya."

Itu yang selalu saya yakinkan pada diri saya ketika hal-hal sulit datang dalam hidup saya. Pekerjaan suami yang jauh dari Bogor, ternyata memberikan kami waktu lebih lama dengan orang tua kami. Saya dengan ibu saya. Dan suami dengan ibunya.

Banyaknya waktu luang saya memberikan saya kesempatan untuk merawat ibu saya selama di rumah sakit tanpa harus meninggalkan amanah publik saya. Waktu luang yang saya miliki pun membuat saya punya waktu lebih banyak untuk belajar dan berbagi lewat tulisan-tulisan saya. Saya punya waktu untuk berpikir dengan jernih tanpa ada interupt pekerjaan-pekerjaan di kampus.

Waktu luang saya memberikan saya waktu untuk menyelesaikan segala hal yang belum selesai antara saya dan ibu saya. Jujur, ini adalah sesuatu yang amat berat bagi saya. Butuh keberanian untuk menyelesaikan semuanya.

"Pernikaham adalah tentang menyatukan kekuatan."

Saya benar-benar merasakannya sekarang. Kehadiran suami saya di samping saya memberikan kekuatan bagi saya untuk menghadapi segala hal yang terjadi dalam hidup kami.

Pekerjaan suami yang mengharuskannya pindah dari satu kota ke kota yang lain dalam waktu singkat pun memberikan kami suasana baru setiap pekan. Memberikan kami kesempatan untuk menikmati waktu berdua dengan pengalaman-pengalaman baru dan tempat-tempat baru. Dan tentu saja mengenal suami lebih dekat. Bukankah karakter seseorang akan nampak saat kita melakukan safar dengannya? Alhamdulillah, kesempatan itu datang sebelum anak hadir dalam rumah tangga kecil kami.

Allah yang Maha Tahu yang terbaik bagi hamba-Nya. Mungkin, hari ini Allah sedang memberikan saya kesempatan untuk menyelesaikan segala hal sebelum saya benar-benar menetap di Bogor. Mungkin, Allah sedang memberi saya kesempatan yang lebih leluasa untuk belajar banyak hal. Menimbun banyak teori, sebelum nanti benar-benar saya aplikasikan dalam rumah tangga kami. Mungkin juga, Allah sedang menempa saya untuk menjadi pribadi yang tangguh dan bisa memberikan manfaat yang jauh lebih besar untuk masyarakat.


Bogor, 20 Agustus 2018

You May Also Like

0 komentar