Mendidik dengan Kekuatan Fitrah

by - Sunday, August 26, 2018



Allah memberikan sebuah tugas istimewa kepada perempuan, yaitu menjadi ummu wa rabbatul bait (ibu sekaligus pengatur rumah tangga). Saya pernah melakukan beberapa wawancara singkat kepada teman-teman perempuan saya yang sudah menikah.

"Apa sih yang kamu rasakan setelah menikah?"

Menarik, ketika sebagian besar dari mereka justru mengalami shock setelah menikah. Ada orang tua baru yang perlu dikenali lebih dalam dan dicintai layaknya orang tua sendiri. Ada laki-laki asing yang dulu sepertinya telah kita kenal baik, ternyata banyak hal yang masih terus butuh untuk digali lagi. Ada anak yang butuh untuk dididik.

Kehidupan pernikahan ternyata penuh dengan banyak lika-liku yang tak jarang membuat mereka berderai air mata. Ada ketakutan yang begitu besar mengalir dalam diri saya ketika mendengar itu semua. Bagaimana bila nanti saya pun mengalami hal serupa? Bagaimana bila saya tak tahu harus berbuat apa setelah status saya berubah menjadi isteri dan ibu? Dan banyak hal lain.

Ketakutan demi ketakutan pada diri sendiri yang mendorong saya untuk terus dan terus belajar. Saya belajar banyak tentang pernikahan, tentang bagaimana saya menyiapkan diri untuk menuju ke sana. Semakin dalam saya belajar, saya sepenuhnya sadar bahwa pernikahan bukan hanya tentang berganti status dari lajang menjadi kawin. Bukan semacam itu. Ada tanggung jawab besar yang pun akan ikut menyertainya. Bukan hanya tanggung jawab saya mendampingi laki-laki yang nanti menjadi suami saya, pun tanggung jawab besar untuk mendidik sebuah generasi.

Dari rahim saya, anak-anak yang akan meneruskan peradaban ini lahir. Pertanyaan besar kemudian muncul dalam kepala saya. 

"Akan saya didik seperti apa mereka nanti?"

Saya suka sekali mengajar. Saya amat bahagia ketika apa yang saya tahu bisa saya tularkan pada orang lain. Itu pula yang mengantarkan saya terjun ke dalam dunia pendidikan, menjadi dosen di salah satu perguruan tinggi di Surabaya. Ada kebimbangan yang luar biasa dalam diri saya sesaat sebelum saya menikah. Apakah saya akan terus mengajar setelah menikah nanti? Jika saya nanti bekerja, apakah anak-anak saya nanti bisa mendapatkan pendidikan yang optimal dari saya? Baikkah saya ketika saya sibuk mendidik orang lain, sedangkan anak saya harus berakhir di tempat penitipan anak, mendapatkan sisa waktu saya. 

Segala pertanyaan itu yang mendorong saya untuk memutuskan akan berhenti bekerja ketika keluarga kecil kami nanti diamanahi seorang anak. Segala pertanyaan itu pula yang mendorong saya untuk serius mempelajari pendidikan anak. Saya sungguh berharap rumah kami nanti bisa menjadi sekolah bagi anak-anak saya nanti. Kurikulum terbaik dapat saya dan suami saya susun sesuai dengan kebutuhan masing-masing anak. Setiap perubahan dapat kami pantau dari jarak yang amat dekat.

Saya paham bahwa untuk bisa sampai ke sana maka saya harus selesai dengan diri saya sendiri. Agar saya bisa terus membersamai suami dan anak-anak saya tumbuh dalam kebaikan-kebaikan yang ingin kami raih bersama. Sederet daftar panjang telah saya siapkan untuk mengawal program pendidikan anak tersebut. Semuanya dimulai dari diri sendiri. Saya gembleng diri saya untuk mau konsisten melakukan kebiasaan-kebiasaan baik, seperti membaca Al Quran setiap hari, membaca buku, sholat malam, dan lain-lain. 

Apakah saya sudah bisa konsisten 100%? Tentu saja belum. Dari checklist yang saya buat, masih ada beberapa checklist yang masih gagal dilakukan. Rasa malas pun sering muncul ketika saya hendak mengusahakannya. Tapi ketika saya ingat anak-anak saya nanti, dorongan itu muncul untuk terus mengupayakan apa yang telah saya tulis. Semoga nanti semua itu bisa menjadi kebiasaan baik yang terus melekat pada keluarga kami nanti. Aamiin..

***


وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ 

Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku
- Adz Dzariat (51) : 56 -


Manusia yang lahir di dunia telah diberikan visi oleh Allah, yaitu untuk beribadah kepada-Nya. Artinya, seluruh aktivitas hidupnya harus bisa punya nilai ibadah. Sebagai seorang muslim, saya menyadari hal ini. Konsekuensinya, pernikahan yang saya jalani harus bisa punya nilai ibadah. Interaksi saya dengan suami dan anak-anak, maupun dengan keluarga besar kami, harus punya nilai ibadah. Bagaimana saya mendidik anak-anak saya nanti harus bisa saya jadikan investasi saya di kehidupan yang jauh lebih kekal lagi. Pun bagaimana interaksi saya dengan masyarakat.

Bagaimana caranya?

Pertama, amal yang dilakukan harus diniatkan karena Allah. Kedua, amal yang dilakukan harus benar sesuai syariat Islam. Ketiga, optimalisasi amal dengan berdakwah.

Dakwah adalah misi hidup yang ingin saya ambil. Bagi saya, dakwah adalah bahasa cinta kepada sesama. Ketika saya merasakan indahnya Islam dalam setiap ketaatan yang saya upayakan melalui peran saya, saya ingin orang lain pun merasakan hal yang sama. Pun ketika saya ingin mendalami bidang pendidikan anak, saya ingin bidang tersebut bisa menjadi sarana dakwah saya di tengah-tengah ummat. Banyak cara tentunya yang bisa saya lakukan, bisa melalui tatap muka maupun tulisan-tulisan yang tersebar di berbagai sosial media saya. Harapan saya ke depan, semoga ilmu yang telah saya peroleh bisa saya ikat melalui buku yang saya tulis sendiri.

Saya sepenuhnya sadar bahwa semuanya tentu butuh ilmu. Bagaimana bisa amal itu menjadi ibadah ketika kita saja tak melakukannya dengan benar sesuai syariat? Bagaimana kita bisa tahu amal itu benar atau tidak bila kita saja tak tahu ilmunya. Maka, inilah ilmu-ilmu yang akan saya persiapkan untuk mencapai misi hidup yang saya inginkan.
  1. Ilmu-ilmu alat yang saya gunakan untuk mengkaji Islam lebih dalam
  2. Ilmu-ilmu tentang pengasuhan anak
  3. Ilmu-ilmu tentang pengelolaan diri dan pengaturan rumah tangga
  4. Ilmu tentang public speaking dan menulis
Setelah memahami ilmu apa saja yang saya miliki, tentu saja sebuah strategi untuk mencapai semua yang saya inginkan haruslah saya susun. Berikut ini adalah life mapping strategy yang telah saya susun untuk meraih semua hal yang saya impikan dalam hidup saya. Life mapping ini dimulai sejak tahun 2018.


Saya amat sangat bersyukur bahwa apa yang telah saya tulis di sini, satu per satu telah terwujud. Alhamdulillah, saya telah menikah di tahun 2018 ini. Media sosial yang saya miliki pun masih terus menerus bisa saya gunakan untuk media dakwah saya. Melalui foto-foto yang saya miliki, ternyata bisa menghasilkan konten-konten dakwah yang lumayan menarik.

"Sebuah cita-cita hanya akan menjadi wacana bila tidak dilakukan."

Oleh karena itu, saya akan terus, terus, dan terus mengupayakan perbaikan dalam diri saya. Segala ilmu yang bisa menunjang misi hidup saya, akan terus saya kejar. Semoga Allah memberikan saya kemudahan untuk memahami serta mengaplikasikan ilmu-ilmu tersebut.

You May Also Like

0 komentar