4 Tips Jitu Mengatasi Post Power Syndrome pada Ibu Rumah Tangga

by - Sunday, September 30, 2018

Bicara tentang ibu, tentu tidak akan lepas dari tugasnya untuk memberikan pengasuhan dan pendidikan anak. Ibu yang menyadari peran penting ini, biasanya akan mengalami berbagai pergolakan batin ketika akan berangkat bekerja. Hal inilah yang kemudian mendorong mereka untuk berhenti bekerja dan menjadi ibu rumah tangga saja. Sayangnya, keputusan untuk menjadi ibu rumah tangga yang tak dilengkapi dengan persiapan yang cukup justru akan membuat ibu tersebut mengalami post power syndrome. Kondisi ini merupaan sebuah kondisi yang menggambarkan ketidaknyamanan individu untuk melepaskan hal yang pernah ia dapatkan dari kekuasaannya terdahulu.

Post power syndrome ini terjadi karena seseorang yang tadinya aktif dan banyak kegiatan mendadak kehilangan semua itu sehingga muncul ketidaknyamanan. Akhirnya, orang tersebut jadi mudah marah, kesal, iri, atau tersinggung. Lalu, bagaimana cara mencegahnya? Yuk, simak penjelasan berikut. 


1. Persiapkan diri sebelum benar-benar berhenti bekerja

sumber : pexels.com


Bagi sebagian orang, keputusan untuk berhenti bekerja bukanlah hal yang mudah. Apalagi jika sebelumnya dia adalah orang yang cukup sibuk dengan beragam aktivitas di kantor. Oleh karena itu, sebelum memutuskan berhenti bekerja susun apa saja aktivitas pengganti kesibukan kantoranmu dengan aktivitas lain yang bisa dilakukan di rumah. Kamu bisa mulai merancang aktivitas apa saja yang ingin kamu optimalkan dengan keluargamu nanti setelah berhenti bekerja. Mulailah mengupayakan sedikit demi sedikit sebelum kamu berhenti bekerja sehingga ketika berhenti kamu bisa terus menjalankan aktivitas tersebut dengan lebih nyaman dan tidak kaget. 

2. Ingat kembali prioritas

sumber : pexels.com


Post power syndrome pada sebagian ibu rumah tangga, tak jarang membuat mereka kembali bekerja karena tak mampu mengatasi segala perubahan yang dia alami. Jika kamu mengalami hal yang serupa, cobalah untuk mengingat-ingat kembali alasanmu berhenti bekerja. Berusahalah menerima kenyataan dan menghadapi semua hal dengan mengingat prioritas yang harus dipilih tadi.

Dukungan suami dan orang-orang terdekat akan sangat membantu. Mereka bisa kamu minta untuk mengingatkan kembali prioritas yang kamu pilih ketika kamu mulai goyah. 

3. Menciptakan rutinitas layaknya bekerja kantoran

sumber : pexels.com


Berbeda dengan ibu yang bekerja di kantor, ibu rumah tangga akan punya lebih banyak waktu yang bisa dia atur sendiri. Jika dulu ketika bekerja, semua aktivitas terikat dengan kantor dan atasan. Setelah menjadi ibu rumah tangga, dialah yang mengatur segala aktivitas harian. Dialah yang menjadi boss untuk dirinya sendiri. Untuk itu, penting untuk menjaga ritme kesibukan dengan menyusun rutinitas harian layaknya bekerja di kantor. Kamu bisa mulai membuat rencana kerja harian, mingguan, dan bulanan. Buatlah kandang waktu dari setiap aktivitas tersebut agar kamu terpacu untuk segera menyelesaikannya.

Meski kamu bekerja di rumah, bukan berarti kamu harus bekerja sepanjang waktu. Kamu tetap harus mengelola kapan waktu istirahatmu agar tetap fit bekerja di dalam rumah. Atur waktu kapan kamu bekerja dan istirahat. Kamu bisa menggunakan waktu istirahat yang sama seperti saat kamu masih bekerja dulu. 

4. Antisipasi menurunnya kewarasan

sumber : pexels.com


Keseharian mengurus keluarga di rumah dengan rutinitas yang itu-itu saja tak jarang membuat seorang ibu merasa jenuh dan kelelahan. Hal inilah yang sering kali membuat suasana hatinya terganggu dan menurunkan kewarasan dalam menyikapi persoalan yang ada. Akibatnya, ibu jadi mudah sekali marah untuk masalah-masalah sepele yang dilakukan oleh anggota keluarga. Padahal, hal ini justru akan menggangu hubungan ibu dengan anggota keluarga yang lain, seperti suami dan anak.

Untuk mengantisipasi menurunnya kewarasan, kamu bisa mulai terlibat secara aktif dalam komunitas. selain itu, kamu juga bisa ikut berbagai kelas parenting. Ilmu yang kamu dapatkan dari kelas ini tentu akan amat berguna membantumu mengendalikan emosi dan bersikap saat mendidik anak-anak. Komunikasi dengan suami juga harus terus dilakukan. Dukungan penuh dari suami tentu akan membuat kamu lebih mudah menjalani perubahan aktivitas pada keseharianmu.

You May Also Like

4 komentar

  1. Ada teman yang baru resign beberapa bulan ini resign. Awalnya bingung mengisi waktu selama anak-anaknya sekolah. Ikut kegiatan ibu-ibu, mulai dari memjahit, menulis dan berjualan. Tapi jadi nggak fokus. Mungkin yang begini perlu persiapan dulu ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, harus disiapkan dulu mau apa, selain biar nggak kena PPS tadi juga biar terarah gitu mau ke mana.

      Delete
  2. Sempat mengalaminya sekitar 3tahun yg lalu, untungnya berusaha untuk menyadari + bersyukur juga punya pasangan yg full support

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak. Kalau nggak ada yang support berat banget emang. Kan suka dipandang sebelah mata ya status ibu rumah tangga gitu.

      Delete