Misi Hidup dan Produktifitas

by - Monday, September 24, 2018

Foto : pexels.com

Setelah menikah ada banyak hal yang berubah dari diri saya. Bukan hanya sekedar tak sendiri lagi, tapi perjalanan hidup yang saya tempuh pun menjadi amat berbeda dari sebelumnya. Keputusan untuk resign dari pekerjaan saya sebagai dosen dan ikut suami tentu bukan hal yang mudah bagi saya. Ada banyak sekali hal baru yang saya alami. Padahal, saya telah mempersiapkan ini sebelum saya menikah. Aktivitas saya yang dulu amat sibuk, kemudian berubah menjadi lebih banyak istirahat.

Dalam banyaknya waktu yang saya miliki, saya terus merenung. Kalau saya hanya diam apa yang saya punya hanya akan saya nikmati sendiri. Hal menakutkan yang bisa terjadi adalah segala kemampuan yang telah Allah berikan, segala ilmu yang telah Allah anugerahkan, akan terkikis sedikit demi sedikit karna tak pernah digunakan apalagi dipakai. Maka, saya memutuskan untuk menulis dan ikut beberapa kelas online tentang personal building dan kerumahtanggan. Salah satunya ya Institut Ibu Profesional ini.

Satu bulan sebelum kami pulang ke Bogor, kami harus tinggal di penginapan yang satu ke penginapan yang lain karena pekerjaan suami. Menyenangkan karena selalu ada suasana baru di tiap kota yang kami kunjungi. Tapi tentu saja menetap adalah pilihan yang lebih menyenangkan.

Pertengahan Agustus lalu, akhirnya saya pertama kali menginjakkan kaki di Bogor. Masuk ke rumah yang telah suami saya perjuangkan selama 5 tahun terakhir. Dan di sinilah perjalanan hidup saya yang baru dimulai. Aktivitas saya lagi-lagi berubah. Satu hal yang tak berubah dari aktivitas saya, menulis.

Saya masih tetap menulis, bahkan setelah saya memutuskan untuk benar-benar serius dalam bidang ini. Saya benar-benar bisa menikmati berbagi lewat tulisan-tulisan saya. Saya bahagia ketika tulisan saya dibaca dan dinikmati oleh banyak orang, bahkan bisa menginspirasi mereka. Saya suka dan bisa.

Foto : pexels.com


BE DO HAVE

Saya tidak pernah bisa membayangkan saya punya waktu seluas ini untuk bisa menulis. Sebelumnya, aktivitas ini hanya hobi yang saya kerjakan sambil lalu. Saya memang punya keinginan menulis buku. Tapi rasanya semua itu terlalu jauh untuk dijangkau. Banyaaak sekali pertimbangan, termasuk waktu yang kian terbatas sejak saya bekerja dulu. Namun, semuanya berubah. Saya merasa Allah telah memberikan saya kesempatan untuk mewujudkan hal itu.

Saya tahu bahwa merubah haluan dari seorang pengajar menjadi penulis itu tak mudah. Dukungan keluarga pun minim. Orang tua saya sendiri masih menginginkan saya untuk kembali menjadi dosen. Bukan tidak mau, tapi tidak untuk saat ini. Mertua saya pun sama. Mereka memliki harapan yang sama. Entah karena sayang dengan pendidikan yang telah saya tempuh, atau sungkan dengan orang tua saya.

Menjadi penulis artinya harus mampu bekerja untuk diri sendiri. Saya yang mengelola waktu kerja saya. Saya yang membuat target tulisan apa dan di mana setiap harinya. Agar tulisan saya dikenal, maka personal branding juga perlu saya lakukan melalui berbagai sosial media yang saya miliki.

Semua tak akan mungkin bisa kalau saya mudah menyerah. Kalau saya mau menjadi penulis yang karyanya bisa dibaca banyak orang, maka saya harus terus melangkah. Saya harus berani untuk mencoba hal-hal baru. Saya harus mau banyak belajar dan berlatih agar tulisan-tulisan saya makin membaik. Semua butuh ketekunan. Tak mudah. Tapi saya yakin, saya bisa. Saya hanya perlu terus melangkah.

Foto : pexels.com


Tulisan-tulisan saya suatu saat nanti tak hanya ditemukan di sosial media yang saya miliki. Tapi nanti, saya akan punya karya sendiri yang bisa dinikmati oleh banyak orang. Buku. 

Saya tahu bahwa kualitas tulisan saya hari ini masih jauuh sekali dari kesempurnaan. Masih banyaak sekali kekurangan di sana sini. Kesadaran ini juga yang mendorong saya untuk terus belajar pada banyak guru. Saya terus berlatih dengan ikut banyak tantangan menulis dan mengirimkan tulisan-tulisan saya ke media. Saya akan perhatikan apa yang berbeda antara sebelum dan sesudah editing. 

Ditolak, gagal, itu sudah amat sering saya lalui. Termehek-mehek dengan deadline yang saya buat sendiri juga sering. Kepala pusing karena terlalu sering menatap laptop apalagi. Tapi semua usaha yang saya pilih dan usahakan pasti akan membuahkan hasil. Saya tak tahu sampai mana rencana saya akan di-ACC Allah. Saya hanya tahu bahwa saya harus terus, terus, dan terus belajar dan berlatih. Setiap hari.

Melahirkan buku adalah salah satu cara saya yang lain untuk berbagi kepada banyak orang. Saya betul-betul berharap bisa memberikan manfaat untuk banyak orang. Tapi tentu ketika satu buku lahir, itu bukan akhir dari sebuah perjalanan. Ada perjalanan-perjalanan lain yang harus saya tempuh. Ada buku-buku lain yang harus terus saya lahirkan. Maka, semua proses belajar, berlatih, dan muhasabah akan terus menerus berputar demi perbaikan diri yang lebih baik.

Foto : pexels.com

Life Time Purpose

Kalau ditanya apa yang ingin saya capai dalam kurun waktu kehidupan saya. Jawabannya ya banyak. Sebagai individu, seperti yang sudah saya sebut di atas, saya ingin menerbitkan buku. Saya ingin belajar ilmu alat, seperti bahasa arab, fiqih, dll, untuk memperdalam pemahaman saya tentang tsaqofah Islam. Saya ingin kuliah lagi. Saya ingin kembali mengajar. Saya ingin membuat modul ajar yang mudah dipahami oleh mahasiswa dalam bentuk animasi.

Saya juga ingin bisa memanfaatkan segala potensi yang saya miliki untuk dakwah. Saya punya keahlian untuk berbicara di depan umum. Saya punya kapasitas untuk mempengaruhi orang. Saya suka dan saya bisa menulis. Kenapa semua itu hanya berhenti pada urusan pribadi saya saja? Bukankah semua kemampuan itu akan lebih punya nilai dan keberkahan ketika saya mendedikasikan waktu dan kemampuan yang Allah berikan untuk memperjuangkan agama-Nya?

Foto : pexels.com


Sebagai isteri, saya betul-betul ingin menjadi manajer keluarga yang baik. NHW yang lalu sempat menampar saya. Membuat saya berpikir ulang, apa yang sudah saya berikan kepada keluarga kecil saya ini? Apa yang sudah saya rencanakan untuk keluarga kecil ini?

Faktanya, saya mungkin masih jadi koki alih-alih manajer gizi keluarga. Ilmu saya belum cukup untuk sampai ke sana. Walaupun dari perenungan tiap hari, saya pun berusaha mencari tahu sedikit demi sedikit.

Faktanya, saya masih menjadi kasir alih-alih manajer keuangan. Suami saya yang mengatur segala jenis pengeluaran kami. Meskipun kalau saya amati ya sama saja. Saya merasa bahwa di antara kami, tak penting siapa yang memegang uang, harus ada yang mengendalikan keluar masukkan uang. Tak masalah bila bukan saya memegang ATM suami. Toh, selama ini semua pengeluaran saya atau suami kami ketahui bersama. Sudah jelas, saya butuh ilmu untuk mengatur cash flow rumah tangga kami.

Faktanya juga, saya masih semacam inem yang membersihkan rumah tanpa pengaturan job sama sekali. Saya lakukan sebagai rutinitas harian yang wajib. Tak ada kandang waktu yang saya gunakan. 

Jujur, NHW yang lalu telah banyak mengubah diri saya. Belakangan saya jadi banyak berpikir untuk mengelola urusan rumah tangga dan pribadi lebih baik. Kapan saya total mengurus rumah, kapan pula saya total untuk urusan diri saya sendiri. Berhenti bekerja bukan akhir dari segalanya. Saya masih bisa bekerja dari rumah dengan segala pengaturan waktu dan job. I'm the boss.

Saya ingin semua hal tentang pembentukan diri saya dan adaptasi menjadi manajer di dalam rumah selesai sebelum anak datang dalam kehidupan kami. Semoga Allah memampukan saya lebih cepat. Aamiin..

Strategic Plan

New Year Resolution

Beberapa bulan yang lalu saya menggarap projek antologi buku bersama dengan beberapa penulis yang saya kenal melalui komunitas menulis. Saya sungguh berharap buku saya bisa terbit tahun ini. Saya tahu bahwa ada banyak sekali hal yang harus disiapkan seperti re-editing. Memastikan semua konten telah baik. Kemudian masuk ke proses pencetakan buku. Semoga semua proses bisa berjalan lancar.

Tahun ini saya ingin menantang diri saya dengan berbagai tantangan menulis, seperti lomba blog, maupun writing challenge yang saya dapat dari berbagai komunitas. Tak hanya itu, saya ingin mulai melebarkan tulisan saya tak hanya di blog saja, tapi ke berbagai media, baik online maupun offline. Untuk bisa mencapai ini semua, saya perlu jadwal menulis harian dengan tema tertentu yang harus saya ikuti. Saya juga harus mengatur kapan waktu libur dan kapan saya harus benar-benar fokus mengerjakan pekerjaan saya.

Foto : pexels.com


Program hamil juga masuk dalam resolusi tahun ini. Ada kekhawatiran saya tak mampu menjadi ibu yang baik bagi anak-anak saya. Tapi pun ada keinginan untuk segera diberikan keturunan oleh Allah. Saya dan suami tentu akan terus berusaha sampai Allah mengizinkan kami mengelola amanah yang baru. Persiapan ilmu dan materi adalah sarana paling ampuh untuk membunuh segala kekhawatiran itu. Semakin siap, tentu ketakutan demi ketakutan yang ada bisa terkikis sedikit demi sedikit. Semoga ketika amanah itu datang, kami telah benar-benar siap menghadapi segala hal baru lagi.



You May Also Like

0 komentar