Quarter Life Crisis #2: Finding Meaning in Life

by - Monday, October 29, 2018



Waktu SMA saya pernah bertanya kepada diri saya sendiri, "untuk apa sih Allah menciptakan manusia di dunia ini? Untuk apa saya dilahirkan?" Sayangnya, pertanyaan itu tak dapat langsung dijawab. Saya tidak berhasil menemukan jawaban dari semua itu. Beranjak ke masa kuliah, seorang teman mulai bertanya kepada saya pertanyaan yang membuat saya merenung dan berpikir keras sepanjang siang dan malam.

"Untuk apa kamu hidup? Apa tujuan hidupmu?"

Apakah hanya saya yang mempertanyakan pertanyaan ini? Tidak. Kita semua pernah bertanya kepada orang tua kita, diri kita sendiri, dan orang-orang terdekat kita yang lain tentang 3 hal ini.

Dari mana kita berasal?
Untuk apa kita hidup di dunia ini?
Akan ke mana kita setelah mati?

3 pertanyaan ini adalah 3 pertanyaan mendasar yang pernah kita tanyakan dulu. Entah itu ketika kita masih kecil atau ketika kita mulai beranjak dewasa. Atau bahkan saat ini, kita pun masih mempertanyakan 3 pertanyaan ini. 3 pertanyaan inilah yang nantinya akan menuntun kita untuk menemukan arti hidup kita yang sebenarnya. Sesuatu yang membuat hidup layak untuk dijalani. Sesuatu yang amat dinantikan. Sesuatu yang membuat kita mau memberikan penghargaan secara utuh untuk hidup.

Bagaimana kita menjalani passion, hobi, atau aktivitas yang kita sukai akan ditentukan dari bagaimana kita menjawab 3 pertanyaan yang mendasar ini. Tidak hanya itu saja, tapi juga bagaimana kita akan menjalin hubungan dengan orang lain pun akan dipengaruhi oleh tiga pertanyaan ini. Sebegitu pentingnya pertanyaan ini terjawab dengan benar, maka kita harus benar-benar serius untuk mencarinya. Bukan hanya sekedar jawaban dari ketiganya tapi hubungan antara ketiga jawaban itu juga. 


Dari Mana Kita Berasal?


"Ma, aku dulu asalnya dari mana?"

Ini adalah pertanyaan yang sering kali ditanyakan oleh anak-anak. Bukan hanya anak kita saja, tapi kita dulu pun menanyakan hal semacam ini. Lalu, para orang tua akan menjawab dengan jawaban semacam ini yang biasanya akan diikuti oleh pertanyaan-pertanyaan selanjutnya.

"Dari perut Mama."
"Kalau Mama asalnya dari mana?"
"Dari nenek."
"Kalau nenek?"

Daan seterusnya. Ini semacam pertanyaan yang tidak akan ada habisnya. Lalu, dari mana sih sebenarnya kita berasal? 

Dalam Alquran, Allah telah berfirman untuk menjawab pertanyaan ini,

"Kemudian, air mani itu Kami jadikan sesuatu yang melekat, lalu sesuatu yang melekat itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian, Kami menjadikannya makhluk yang (berbentuk) lain. Maha Suci Allah, Pencipta yang paling baik."
- QS Al Mu'minun (23) : 14 -

Ada banyak sekali ayat yang menjelaskan penciptaan manusia, alam semesta serta kehidupan. Kita hanya perlu yakin bahwa Alquran yang selama ini kita pegang sebagai panduan hidup kita betul-betul datang dari Allah. Bukan buatan manusia.


Untuk Apa Kita Hidup di Dunia Ini?


Jawaban dari pertanyaan ini pun dapat kita temukan dalam Alquran. Allah berfirman dalam Surat Adz-Dzariat ayat 56:

"Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku."
- QS Adz Dzariat (51) : 56 -

Makna ibadah yang di sini bukan hanya sekedar ibadah ritual semacam sholat, zakat, puasa, haji, atau yang lain. Tapi seluruh aktivitas yang kita lakukan mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi harus kita jadikan sebagai sarana ibadah kita dengan Allah swt. 

Bagaimana caranya?

Mudah. Niatkan semuanya untuk Allah dan lakukan dengan benar. Standar benar dan salah yang kita pakai tentu bukan hanya sekedar katanya, adat, atau budaya. Tapi menggunakan syariat Islam sebagai standar seluruh aktivitas kita.


Akan Kemana Kita Setelah Mati?


Allah berfirman dalam Alquran,

"Kemudian setelah itu, sungguh kamu pasti mati. Kemudian, sungguh kamu akan dibangkitkan (dari kuburmu) pada hari Kiamat."
- QS Al Mu'minun (23) : 15-16 -

Ayat ini telah menjelaskan dengan cukup gamblang kepada kita semua tentang ke manakah kita setelah mati. Kita akan sama-sama dibangkitkan saat hari kiamat nanti untuk mempertanggungjawabkan segala amal perbuatan kita di dunia ini. Semuanya akan dihitung dan ditimbang. Jika amal kebaikan kita lebih banyak, maka kita akan masuk ke surga. Sebaliknya, kita akan masuk ke neraka. 


Tapi sebelum itu semua ada hal yang harus dipastikan. Syarat yang akan menentukan apakah amal itu akan ditimbang ataukah kita akan masuk begitu saja ke neraka. Syarat itu adalah menjadi MUSLIM. 

Kalau nggak muslim memangnya nggak bisa masuk surga? Kan nggak adil namanya, mereka sudah berbuat baik, tapi nggak ada balasan apapun.

Ini semacam mengikuti lomba lari. Kita punya skill lari yang luar biasa hebat. Tapi mungkin nggak sih kita menang lomba kalau kita nggak pernah daftar? Sebaik apapun skill kita, sekeras apapun kita berjuang, tidak akan mungkin kita memenangkan perlombaan itu. Iyalah. Kan tadi belum daftar.

Lalu, tujuan akhir mana yang kamu inginkan?



Kalau saya sih pilihnya ke surga. 

Ketiga pertanyaan ini sebetulnya saling terkait antara yang satu dengan yang lain. Ketika kita sadar bahwa kita ini berasal dari Allah, maka kita juga akan menyadari bahwa tak mungkin sebuah produk berjalan dengan sendirinya tanpa manual book, tanpa petunjuk pemakaian. Allah telah turunkan Alquran kepada kita untuk kita jadikan pedoman dalam hidup kita. Pedoman kita tentang bagaimana kita menjalankan dan memilih segala aktivitas kita di dunia. Tentu saja, semua ini kita lakukan tak lain karena mengharapkan surga-Nya.

Saya rasa tak ada harga yang lebih mahal dari ini untuk membayar kenapa kita harus bekerja keras, berjuang, dan mencurahkan segala hidup kita untuk suatu hal, kecuali surga. Bila kamu menemukan hal lain yang jauh lebih berharga dari kehidupan di surga nanti, silahkan. Itu hakmu. 



sumber gambar : pexels.com

You May Also Like

24 komentar

  1. tentunya ingin tujuan akhir husnul khatimah, mbak

    aamiin yra

    ReplyDelete
    Replies
    1. aamiin yaa rabbal alamiin.. semoga ya mbak. :)

      Delete
  2. masyaallah, terimakasih sekali sudah mengingatkan :)

    ReplyDelete
  3. Tujuan akhir pasti surga. Perjuangan berat banget untuk mencapainya, apalagi jaman sekarang. Yang paling terasa adalah sulit untuk menahan diri supaya jari kita nggak langsung ngetik sesuatu kalo ada status orang yang kita nggak suka. Pas udah mau ngetik biasanya langsung sadar, astaghfirullahaladzim.....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Bunda, ini perlu kesadaran utuh sih. Selalu memikirikan tiap perilaku yang kita lakukan. Kira2 betul tidak ya. Jadi, memang nggak bisa asal spontan begitu. Apalagi awal2.

      Delete
  4. Saya juga sering mengingat ini mbak.. Kadang saya sering terlena urusan dunia, pertanyaan2 seperti mengingatkan saya bahwa dunia hanya sementara saja. Dan kemudian bisa fokus lagi memperbaiki diri. Terima kasih sudah membuat postingan tentang hal ini. Dan bersyukurnya saya menemukan tulisan ini.. ❤️❤️❤️❤️

    ReplyDelete
  5. Luar biasa mba, saling mengingatkan dalam kebaikan. Saya jadi teringat sewaktu sekolah dasar meski kita nulis di biodata kita salah satunya adalah moto hidup. Moto hidup saya saat itu adalah hidup adalah ibadah. Sontak saja teman-teman yang lain menertawakan saya. Mereka bilang masa hidup hanya untuk sholat, puasa, zakat dll yang berbau ibadah. Lah, saya langsung bilang ke teman-teman, "Ibdah itu ga hanya sholat, kawan... makan, minum, membantu orang tua, sekolah, nyapu dll itu adalah ibadah. Tapi mereka tetap saya menertawakan saya. Biarlah, sampai saat ini moto hidup saya tetap "hidup adalah ibadah", saya bekerja adalah ibadah, saya merawat anak saya adalah ibadah, semuanya ibadah untuk menggapai tujuan akhir kita yaitu jannah..AAmiin...semoga..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Di beberapa training motivasi, orang-orang yang punya tujuan surga memang dianggap seperti orang yang nggak punya tujuan. Padahal mereka yang sadar bahwa tujuan hidupnya untuk beribadah untuk meraih surga, pasti akan serius sekali menjalani hidup. Nggak selengehan. Dan tentu akan lebih berhati-hati dalam memilih setiap aktivitas dalam hidupnya.

      Delete
  6. Terima kasih sudah mengingatkan mbak, paling susah adalah saat ada yg menyinggung perasaan, mulut ini serasa ingin membalas dengan perkataan yang lebih menyakitkan lagi, astaghfirullah haladjim

    ReplyDelete
    Replies
    1. Perlu kontrol diri sih mbak. Harus terus dalam kondisi on. Ini yang perlu latihan.

      Susah bukan berarti nggak bisa kan? :)

      Delete
  7. Subhanallah... Terima kasih sudah mengingatkan. Bismillah... Hidup adalah ibadah

    ReplyDelete
  8. Subhanallah, syukak banget sama kalimat, "Mudah. Niatkan semuanya untuk Allah dan lakukan dengan benar". Makasih, Mbak.. Menginspirasi bangeett

    ReplyDelete
  9. Sama mbak. Kepercayaan kami juga meyakini adanya hari kebangkitan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, kalau tahu ini kan orang jadi hati-hati memilih

      Delete
  10. Ya Allah saya pengen nangis...dan beberapa hari ini selalu teringat gimana nanti kalau saya mati... :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pukpukpuk, emang harus inget terus sih mbak. Biar nggak sembrono ketika beraktivitas.

      Kata Umar bin Khattab, orang yang cerdas itu adalah orang yang selalu ingat mati.

      Delete
  11. Yes, itu pertanyaan saya dari kecil. Dan setelah dewasa menjadi paham sendiri, siapa aku, dari mana asalaku, kenapa harus mati?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pertanyaan ini sebetulnya pasti ada di semua orang. Karena dorongan naluri manusia untuk mencari Tuhan, Mbak.

      Delete
  12. Love this article soooooo much. Pengingat banget ini. 3 tahapan hidup yang penting banget. Hidup cuma mampir untuk terus berbuat baik.

    Makasih mba.

    ReplyDelete