Things That Simplify My Life

by - Thursday, October 18, 2018



Ada banyak hal yang berubah dari hidup saya setelah saya menikah. Tidak langsung bleg 180 derajat berubah sih. Pelan tapi pasti perubahan itu terjadi. Mulai dari bekerja di kantor, sekarang bekerja dari rumah. Tinggal di kamar kost yang kecil, sekarang tinggal di rumah sendiri yang lumayan luas. Kalau dulu apa-apa sendiri, sekarang sudah ada orang yang harus dipertimbangkan juga. Lingkungan pertemanan saya juga berubah karena saya harus pindah dari Surabaya ke Bogor. Banyak hal yang harus diadaptasikan supaya saya bisa tetap survive dan nggak gila menghadapi semua perubahan itu. Bagi saya, kehidupan saya lebih sederhana ketika saya belum menikah.

Dulu, saya hanya perlu mengorganize kamar kecil dengan ukuran 3x3 meter persegi, sekarang saya harus mengorganisir seluruh rumah. Mulai dari halaman depan rumah, teras, ruang tamu, garasi, kamar tidur, kamar tamu, ruang sholat, 2 kamar mandi, dapur, ruang keluarga, laundry room, hingga halaman belakang rumah. Dulu, saya hanya cukup menghabiskan waktu paling lama 2 jam untuk membersihkan dan menata ulang kamar saya menjadi seperti baru. Sekarang, waktu 2 jam hanya cukup untuk menyapu rumah dari halaman depan sampai belakang. Belum mengepel lantainya, belum cuci piring, belum cuci baju, setrika kemeja suami, melipat cucian yang sudah kering, dan setumpuk pekerjaan yang lain.

Dulu, saya bisa saja bersih-bersih kamar seminggu sekali. Sekarang, 2 hari saja saya off membersihkan rumah, itu sudah parah sekali kotornya. Apalagi kalau kami baru pulang belanja, rumah jadi mirip gudang.



Bekerja di rumah memang lebih menyenangkan. Saya bisa mengatur sendiri jam kerja saya dan jadwal istirahat saya. Tapi di sisi lain, rasanya pekerjaan itu tiada habisnya. Habis beberes rumah, pegang notes, coret-coret outline, nulis, dst.

Awal-awal menjalani kehidupan semacam ini saya banyak galaunya. Banyak sedihnya karena tidak mampu menjalankan apa yang sudah menjadi tanggung jawab saya. Suami saya sebetulnya juga tidak pernah komplain ini itu, tapi saya kasihan kalau dia pulang sedangkan rumah masih berantakan, cucian menumpuk, atau makanan belum ada di meja. Saya asumsikan saja semua itu terjadi pada diri saya sendiri. Lelah kerja, rumah kotor, itu menyebalkan. Tapi yaaaa 'kan saya ini juga manusia yang punya keterbatasan. I can't do all of this by my self. Dan saya juga nggak mau kehidupan saya berakhir hanya ngurus rumaaah terus. Kapan saya bisa mengembangkan diri saya, kalau yang diurus ituuuu saja?



Then, I've tried to simplify my life. Kalau semua bisa disederhanakan kenapa tidak? Ya, 'kan? Kali in saya akan berbagi tips 7 hal yang saya lakukan untuk menyederhanakan aktivitas sehari-hari saya.

1. Buat jadwal pekerjaan



Kalau mau nurutin cucian dan pekerjaan rumah lain, itu nggak akan ada habisnya. Jadi, alih-alih menghabiskan seluruh waktu saya untuk melakukan semua itu, saya buat jadwal kapan saya harus mengerjakan pekerjaan rumah A, B, C, sampai Z Saya buat kandang waktu yang hanya akan saya kerjakan pada waktu itu juga. Kalau kelewat ya nanti, kalau ada waktu luang, kalau ada cukup tenaga. Sebagai contoh, saya dedikasikan hari Senin saya untuk beberes total dan mengurus segala hal berbau cucian. Mulai dari nyuci, jemur, setrika, sampai lipat-lipat. Semua saya lakukan di hari senin saja. Sedangkan hari-hari yang lain saya gunakan untuk rutinitas harian yang nggak boleh bolong seperti nyapu, memasak, dan cuci piring.

Pada hari Senin, kegiatan blogging dan lain-lain akan disisihkan untuk sementara waktu. Jadi, saya hanya akan menggunakan waktu saya untuk menulis ketika ada waktu sisa.

Untuk memulai membuat jadwal, kamu bisa break down pekerjaan yang terkait dengan aktivitas harianmu itu apa. Bagi berdasarkan amanah yang kamu handle saat ini. Sebagai ibu misalnya, urusan dengan anak yang mana saja yang bisa dirinci, detailkan. Sebagai istri, tugas-tugas apa saja yang harus dilakukan. Sebagai penulis, apa saja yang harus dikerjakan. Lalu, masukkan dalam jadwal harian, mingguan, dan bulanan. Tidak semua pekerjaan harus dilakukan setiap hari, ada yang cukup seminggu sekali, atau bahkan sebulan sekali.

2. Bagi job desk



Hi moms, we need to realize that we're not super women. We only have two hands and time limit 24 hours a day. Setelah membuat jadwal, kamu mungkin bakal jauh lebih pusing lagi karena merasa waktu 24 jam itu nggak akan cukup untuk mengerjakan semua hal. Itu juga yang saya alami. So, nggak usah kemaruk. Bagi saya tugas itu pada orang lain, suami misalnya. Saya dan suami sudah sepakat kalau menyapu adalah tugas saya, sedangkan soal mengepel lantai itu dia yang urus. Alhamdulillah, saya punya suami yang ringan tangan. Kalau memang ada waktu dan mampu membantu pasti dibantu. Entah cuci piring, cuci sayuran, atau pekerjaan rumah yang lain.

Untuk beberapa orang yang perfeksionis, ini kadang sulit untuk dilakukan. Alasannya, kalau dikerjakan oleh orang lain hasilnya tak akan sesuai dengan keinginan pribadi. Tapi kalau mau nurutin ego ya capek sendiri, 'kan? So, ajari orang yang akan diberi tanggung jawab tersebut. Misal, kalau naruh barang A harus di laci yang ini, barang B harus di laci yang itu supaya mudah mencari. Kalau nata tempat tidur harus seperti apa saja, komunikasikan. 

Jangan keburu marah-marah kalau ada hal yang dikerjakan orang lain terus nggak beres. Cek lagi, sudahkah kita mengkomunikasikannya dengan baik?

3. Decluttering and organizing



Pernah nggak sih lihat rumah yang isinya penuh sesak dengan barang-barang? Kebayang nggak bagaimana membersihkannya? Iya, susah banget, 'kan? Butuh waktu lebih. Terus pernah nggak mencoba melihat isi rumah kita lebih dekat. Sadar nggak sih kalau kadang-kadang kita suka menyimpan barang-barang yang bahkan nggak kita pakai lagi. Alasannya, "dipakai nanti". Padahal, sampai bulukan juga nggak kepake-pake itu barang.

So, mulai pilah dan pilih mana sih barang yang masih kamu gunakan dan yang tidak. Mana yang masih kamu sayang dan mana yang tidak. Mana yang bisa membuatmu lebih bahagia dan mana yang tidak. Pisahkan semua barang yang kamu jawab tidak secara terpisah. Semua barang itu bisa kamu donasikan, daur ulang, atau bahkan dibuang. Oya, pastikan kalau kamu memang ingin mendaurulangnya lakukan saat itu juga. Kalau tidak kamu hanya akan memindahkan tumpukan barang yang kamu miliki ke tempat yang lain. Dan itu nggak akan pernah menyelesaikan masalahmu.

Kalau semuanya selesai, barulah mengorganize semuanya. Kamu tata dengan baik. Kamu bisa kelompokkan jenis-jenis barang tertentu di satu lemari agar mudah untuk mencarinya. Atau kamu juga bisa memberikan label di kotak penyimpanan agar lebih mudah untuk mencarinya.

Goals akhir yang sebenarnya ingin kita tuju adalah bisa beberes lebih cepat, rapinya tahan lama, and last but not least make us happy. Urutan decluttering dan organazing nggak bisa dibalik ya. Kamu juga nggak bisa menghilangkan decluttering ini. Percuma aja kamu nata barang-barang dengan rapi kalau nggak ada decluttering sebelumnya. Kegiatan merapikan yang kamu lakukan akan berjalan terus, terus, dan terus tiada habisnya. Happy belum tentu, capek iya.

4. Do some food preparation



Sama halnya dengan beberes, memasak juga bisa membutuhkan waktu yang lama. Saya biasanya melakukan food prep setelah belanja. Semua bahan saya simpan sudah dalam kondisi siap masak. Sudah dibersihkan, sudah dikupas, sudah dipotong, dan beberapa bumbu sudah saya haluskan. Jadi, kalau mau masak tinggal plung-plung-plung gitu.

Ini sangat amat membantu saya. Suami saya harus berangkat ke kantor pagi-pagi sekali. Memang sih, bisa saja saya bangun lebih awal untuk memasak. Tapi dengan melakukan food prep ini, saya bisa memasak lebih cepat dari sebelumnya. Dalam 30 menit, sayur, lauk, bahkan minuman hangat untuk suami bisa tersaji di meja makan.

Oya, untuk bahan yang bisa lebih tahan lama dengan dimasak terlebih dahulu juga bisa dilakukan ya. Untuk melakukan food prep ini prinsipnya semua bahan selama satu minggu harus sudah tersedia. Jadi, waktu yang digunakan untuk food prep juga lebih efisien karena sekali hap gitu.

Keuntungan lain dari food prep adalah ketika kita lagi sakit ini akan memudahkan orang lain untuk memasak. Ya karena tinggal plung plung plung gitu. Sebelum melakukan food prep ini, saya pernah memasak dibantu suami. Hasil akhirnya yaaa gitu itu. Nggak pas. Masakan saya nggak enak-enak banget sih. Tapi hasil karya suami lebih aneh lagi. Wkwkwk.. Kalau ada food prep, suami juga nggak bingung kalau mau masak. Saya tinggal sebutkan bahannya, masakan jadi lebih baik hasilnya dari tanpa food prep.

Untuk buibu yang super sibuk, ini jelas pas banget dilakukan.

5. Use drive account to connect all devices

Sumber : Office support


Saya punya 3 device yang biasa saya gunakan untuk bekerja. Entah itu menulis, seminar, atau yang lain. Repot 'kan kalau kita harus membawa storage device kemana-mana seperti flashdisk atau hard disk. Belum lagi kemungkinan connector yang tidak compatible untuk semua device. Jadi, masih harus ditambahkan connector lain yang menghubungkan supaya bisa click gitu. Ribet.

Bersyukurlah karena sekarang sudah ada banyak sekali akun penyimpanan data. Mau google drive, onedrive, atau icloud, terserah. Itu free kalau mau coba. Tapi yang free punya batasan kapasitas ya. Kalau saya sih, beli aja akunnya jadi saya masih bisa bebas menyimpan data di sana.

Akun yang saya miliki adalah akun onedrive. Beli lisensinya sudah bisa dapat lisensi office365 yang lain seperti onenotes, word, excel, powerpoint, skype, dll. Bisa dicek langsung di website office langsung ya kalau mau. Selanjutnya saya tinggal install one drive di semua device saya. Semua file penting akan saya masukkan ke sana. 

Keuntungannya, dengan menyimpan di onedrive, kita bisa menghemat space memory device kita. Asalkan jaringan internet lancar, in syaa Allah nggak akan ada masalah. Kedua, bisa buka file dari device mana saja. Karena sudah tersinkronkan tadi ya. Bahkan pakai device teman juga bisa. Buka saja https://onedrive.live.com/, sign in akun kamu, lalu kamu tinggal buka file yang ingin dilihat. Mau share file juga bisa pakai share link file atau folder. Lebih mudah, banget. Udah nggak jamannya lagi tuker-tukeran flashdisk. 

6. Merger your task



Tidak semua pekerjaan bisa dilakukan dalam satu waktu. Apalagi kalau pekerjaan itu butuh konsentrasi tinggi. Kalau digabung-gabung malah pusing nanti.

Di rumah saya ada mesin cuci, ini amat memudahkan sekali. Jadi, sambil mencuci baju saya bisa membersihkan rumah. Rumah bersih, tinggal jemur. Pekerjaan merapikan baju-baju yang baru kering juga biasanya saya lakukan sambil mendengarkan kuliah online atau menonton video-video yang bisa menambah wawasan saya. Cuci piring dan masak juga kadang suka begini.

7. Re-use



Barang-barang yang ada di sekitar kita sebenarnya bisa banget lho dimanfaatkan kembali. Botol-botol bekas, kardus bekas, kantong plastik bekas, bahkan pintu dan jendela lama sisa renovasi rumah pun bisa dimanfaatkan. All we need to do is be creative. 

"Gue nggak kreatif nih, Lel. Suka bingung kalau nyari ide buat sesuatu."

It's okay. Nggak masalah. Kamu masih bisa nyari di youtube, atau sumber-sumber lain sebagai bahan insporasi. Intinya sih, nggak penting kamu dapat ide dari mana. Mau hasil pemikiranmu sendiri atau bukan, yang penting barang bekas tadi nggak serta merta dibuang atau digeletakkan begitu saja di gudang. Manfaatkan. 

Gitu dulu ya sharing dari emak-emak baru ini. Semoga bermanfaat. Emak-emak senior yang sudah berpengalaman juga boleh lho berbagi cerita dan tips lain untuk saya atau buibu yang lain. Langsung tulis di kolom komentar yaaa... :)

You May Also Like

12 komentar

  1. Waktu masih single memang nggak kerasa, setelah berkeluarga banyak keharusan supaya bikin hidup tidak bertambah ribet. Saya berusaha menyederhanakan hampir semuanya dan fokus kepada hal penting saja. Di masyarakat kita yang paling sulit untuk mencapai itu adalah karena we culture yang saling mempengaruhi dan mudah merasakan tekanan sosial. Terima kasih sharing pengalamannya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak, bener banget. emang kita juga kudu berani say no juga sih.
      terima kasih kembali :)

      Delete
  2. Sama aja mbak, saya juga mengalami hal-hal di atas.
    Rasanya ni rumah nggak ada selesainya diberesin.
    Soal "dipakai nanti" itu saya banget. Dulu, sebelum nikah saya gak langsung main buang barang yg gak dipakai, karena setelahnya bakal saya olah lagi. Ternyata abis nikah, ceritanya jadi beda hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbaaak.. Huhuhu...
      Pekerjaan adaaa aja.

      Jadi numpuk mbak barang-barang dirumah kalau nggak cepet-cepet diolah atau dibuang.

      Delete
  3. Topiknya saya bangeeet! Saya juga lagi mencoba untuk hidup lebih minimalis dan praktis. Lately lagi demen banget decluttering & home organizing. Selain bikin hidup jadi makin nggak ribet, melakukan ini juga me-refresh pikiran banget. Dan jadi bikin saya lebih 'tega' untuk menyingkirkan barang dan picky untuk beli barang, hihi.

    Kalau connecting devices udah saya lakuin sejak lama, bahkan saya kalau ngetik dokumen sekarang langsung pakai Google Docs, jadi file-nya langsung tersimpan di Google Drive. Nggak lagi ngetik pakai Microsoft Office, hehe.

    Thank you for sharing!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Samaan. Tapi kadang kalau mau decluttering sama orang rumah ceritanya lain. Hehehe..

      Pake office juga bisa langsung sinkron ke onedrive kok kalo online. Jadi tetep bisa dibuka di mana aja sih.

      Delete
  4. Aku harus mulai nih bikin jdwal kerjaan bgini juga. Memang sih selama ini kantoran.. Tapi kan ttp ada bbrp kerjaan yg hrs aku jdwalin supaya ga berantakan.. Ini aja ngerasa waktu mah kurang ngerjain semua. Tp sbnrnya hrs aku akuin, krn time managementku masih kacau sih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mau kerja kantoran, masih kuliah atau sekolah, tips ini masih bisa dipakai kok.

      Saya udah mulai ini sebelum resign. Area kantor sama kos-kosan saya terapkan ini. Cuma waktu abis nikah agak shock, jadi colaps gitu. Hehehe...

      Delete
  5. Setuju banget dengan komentar yang di atas. Sejak berkeluarga saya juga mencoba untuk lebih rapih dan menyederhanakan segala sesuatu. Mulai dari merapikan barang-barang secara fisik sampai gadget. Saya juga lebih suka belanja mingguan akhir-akhir ini, supaya bahan-bahan makanan nggak mubazir atau terlalu lama di kulkas (biasanya ujung-ujungnya saya buang hiks). Terima kasih untuk sharingnya, Mba (:

    ReplyDelete
  6. Thanks for sharing mba, suka sama blog nya😍

    ReplyDelete