Unpredictable Honeymoon #1: Semuanya yang Pertama Selalu Mendebarkan

by - Wednesday, October 17, 2018



Actually, saya enggak tahu harus nulis apa untuk memenuhi target harian One Day One Post bareng Estrilook Community. Sudah buat tulisan tentang produktifitas, akhirnya dihapus lagi karna kurang greget. Then, I decided to write my honeymoon story. Biar macem pasangan milenial yang lain gitu. Hehehe...

Jadi, setelah menikah, kami memang sempat punya rencana untuk honeymoon entah itu ke Lombok atau Bali. Tapi ndilalah kok Lombok kena gempa sebelum kami sempat ke sana. Mau ke Bali juga ada banyak sekali pekerjaan yang harus segera diselesaikan. Akhirnya, rencana honeymoon itu hanya berakhir sebagai wacana saja. Sudah nggak lagi kepikiran honeymoon juga. Sampai datanglah sebuah email pengumuman lomba blog dari Qlapa.com.

Selamat, Anda adalah pemenang kedua program Kompetisi Blog #MerdekaProdukIndonesia yang diselenggarakan pada periode 6 Juni-31 Agustus 2018.

Aprilely Ajeng Fitriana

Berhak atas hadiah berupa 2 Tiket Pesawat Jakarta-Bali (PP) + Voucher 100.000


Rezeki anak sholihah ini namanya. Lagi pingin honeymoon kok malah dapat tiket gratis. Saya lapor dong ke suami saya. Cerita kalau saya menang lomba dengan hadiah tiket PP ke Bali berdua. Rencana perjalanan ke Bali pun segera disusun. Suami saya antusias sekali dapat tiket itu. Detail betul dia merencanakan perjalanan selama di Bali.

"Ini daftar destinasi yang akan kita kunjungi, Dek. Kita berangkat Kamis malam aja. Jumatnya aku bisa izin lah ke kantor. Toh, aku belum ambil cuti menikah juga 'kan. Terus pulangnya Senin siang aja. Biar Adek nggak kecapekan."

Dijabarkanlah kemana saja kami di hari pertama, kedua, hingga keempat. Persiapan apa saja yang harus kami siapkan. Dan masih banyak lagi. Saya bahkan diajak belanja baju renang untuk persiapan main air selama di Bali. Niat betul, deh.

"Nggak pakai honeymoon package, Lel?"

Enggak dooong. Disusun sendiri aja biar murah dan duitnya bisa puas dipakai main. Kami juga nggak memilih hotel yang wow untuk honeymoon, homestay saja sudah cukup bagi kami. Malam pertama di Bali kami bahkan tidak menginap di mana-mana. Cukup tidur di mobil saja. Wkwkwkwk..



Untuk akomodasi selama di Bali, suami saya menyewa mobil yang murah. Kebetulan ketemu persewaan mobil murah yang mau lepas kunci. Kami sewa Ayla selama 4 hari di sana. Untuk sewa mobil tanpa driver seperti ini, kamu bisa cek websitenya omocars.com langsung ya. Pilihan mobilnya banyak. Mau matic atau manual semuanya ada. Harganya juga bervariasi. Mulai dari 175 ribu rupiah saja per hari. Tanpa driver dan BBM ya.

Semua persiapan beres. Datanglah hari yang ditunggu-tunggu. Saya dan suami berangkat terpisah. Saya berangkat dari Bogor, sedangkan suami saya berangkat dari Jakarta. Jadi, paginya Mas kerja dulu. Sepulang kerja baru deh nyusul saya ke Bandara.

Ini nih yang serba pertama. Kali pertama pergi ke bandara sendirian. Kali pertama naik damri sendirian. Kali pertama masuk Bandara Soekarno-Hatta sendirian juga. Asli saya deg-degan. Kata orang, Bandara Soetta itu besaaaar sekali. Kalau salah terminal ya bisa jalan jauuuh sekali. Nggak lucu 'kan kalau belum apa saya sudah nyasar duluan di bandara?



Ini juga kali pertama saya meninggalkan rumah untuk waktu yang lama sendirian. Biasanya sih sama suami. Suami saya yang mengkondisikan rumah tetap aman terkendali. Mengunci pintu, mencabut semua peralatan elektronik, mematikan kran PDAM, dan lain-lain. Saya sih biasanya nungguin aja suami melakukan semua itu. Tapi kali ini, saya yang harus melakukan semua itu. Mana saya ini orangnya ceroboh sekali. Belum pernah saya mengkondisikan rumah untuk ditinggal dalam waktu yang lama. Paling mentok kamar kost saja. Itu pun saya masih suka teledor.

Suami saya tahu betul saya ini seperti apa. Sebelum saya berangkat berulang kali Mas mengingatkan saya.

"Dek, sudah berangkat? Nanti jangan lupa bla-bla-bla..."

Bahkan, waktu saya pamit mau keluar rumah pun reminder itu berulang lagi. Bagus sih. Hampir saja saya lupa mematikan kran PDAM waktu akan berangkat.

Saya berangkat dengan koper dan tas besar sendiri. Alhamdulillah ya, zaman now ada banyak taksi online yang tinggal dipanggil. Jadi, saya tidak perlu repot-repot berjalan kaki jauh keluar dari gang dan nyetop angkot untuk berangkat menuju terminal Damri. Perjalanan ke terminal masih dibilang mudah. Tinggal nurut apa kata map.

"Nggak takut ilang, Lel?"

Ya takut lah. Wkwkwk.. Tiap kali naik taksi online sendirian itu selalu kuatir diculik pak taksinya. Jadi, dari rumah udah pamit sama suami, terus nyalain live location. Tujuannya apa sih? Biar suami nggak nanyain mulu saya ada di mana. Saya juga nggak capek jawabin pertanyaan "di mana" dari suami tiap tikungan.

Sampai di Terminal Damri itu rasanya lega. Setelah menurunkan barang-barang bawaan, saya PD aja gitu mau langsung naik Damri. Ya diteriakin Pak Petugas, lah.

"Mbak, Mbak, beli tiket dulu di sana."



Briefing suami tadi pagi nggak gitu, sih. Mas nggak cerita kalau saya harus beli tiket dulu di loket. Katanya sih bisa langsung naik bus tujuan Soetta aja gitu. Ternyata harus ke loket dulu beli tiket. For your information, tiket damri Bogor-Soetta harganya 75 ribu rupiah per orang. Abis beli tiket, barulah saya diberi tahu bus mana yang akan berangkat ke Soetta. Mungkin itu alasan bapak-bapak tadi memanggil saya untuk ke loket dulu sebelum naik bus. Ya, supaya saya tidak salah naik.

Berbeda dengan bus yang biasanya saya naiki selama ini. Barang-barang yang dititipkan di dalam bagasi bus Damri diberi stiker dengan nomor tertentu. Tujuannya ya biar tidak tertukar dengan barang milik orang lain. Bapak kondektur yang ngasih tiket tadi juga akan menanyakan pesawat apa yang akan saya naiki dan tujuan saya ke mana.

Perjalanan dari Bogor menuju Soetta kurang lebih 2 jam. Sama seperti perjalanan Surabaya-Malang naik bus. Biasanya sih, saya pelor banget di bus. Begitu duduk bus, tidur. Tapiiiiii... karena ini pertama kalinya saya naik Damri sendirian ke Soetta. Mana berani tidur? Live location juga masih nyala terus untuk suami. Jadi, Mas tahu saya sudah berada di jalur yang benar.

"Sebentar lagi sampai, Dek."

Saya makin melek ketika suami memberitahu begitu. Masih deg-degan salah turun, nyasar di bandara, dan drama-drama lain yang berputar di benak saya sendiri.

"Terus aku turun di mana?"
"Turun terminal 1B sesuai di tiket pesawat. Nanti Pak Kondekturnya sebutkan pesawatnya kok."
"Gitu ya? Oke deh."

Sudah dibriefing begitu masih deg-degan saja. Belum lagi ada bapak yang turun di terminal 2. Sepertinya sih mengejar pesawat. Jadi beliau didahulukan. Terminal 1A dan 1B.

"Lho? Kok dilewatin aja?' begitu pikir saya.

Penumpang lain sih santai. Mereka rombongan. Naik pesawat yang sama, tujuannya juga sama. Lha saya? Sendiri. Wajar kan kalau grogi berat.



Apa yang terjadi selanjutnya? Ikuti cerita perjalanan honeymoon saya selanjutnya, yaaa...

Bersambung...

You May Also Like

6 komentar

  1. Mbak..tulisanmu kereen...Pasti greget semuaaa... :D Dan kamu udah mastah banget di dunia perblogan yesss.. :D Ayolah bikin buku solo kamu pasti bisa...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku jadi malu kalo yang nyemangatin dirimu, Mbak. 🙈

      Doakan yaaa... Aku mau bertapa dulu mau nulis apaan. Kuatir nggak ada yang mau beli juga.

      Delete
  2. Hai, mbaleeeeeel... Kita ketemu juga di blog yaah ��

    Wuiiih, nulis tentang honeymoon, saya juga pengen nulis tentang honeymoon tapi apa daya belum keluar semangatnya, hihihi...
    Jadi pengen baca kelanjutan post tentang unpredictable honeymoon nya mbalel nih...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe... Iyaaa..

      Kamu mah honeymoon terus kayaknya sama suami. Wkwkwk..

      Tunggu yaa.. Makasi udah baca :)

      Delete
  3. Pas banget ihhhh motongnyaaaa ceritanyaaa. Kan udah ikutan deg degan :(

    Kayak nonton serial drama, pas piringnya jatuh trus ketahuan majikan trus muka majikannya di zoom in zoom out. Pas udah mau bilang sesuatu ada tulisan TBC :(

    ReplyDelete