Unpredictable Honeymoon #2: Bertemu Si Merah

by - Saturday, October 20, 2018



Happy nice weekend semuanya..



Bogor lagi hujan nih. Adem banget, jadi pingin bikin indomie kuah. Ada yang mau?



Oke, mari kita lanjutkan ceritanya sambil nyeruput kuah indomie. Hwehehehe...

***

"Ini nanti aku turunnya nunggu Pak Kondekturnya manggil nomor terminalnya, 'kan?" tanya saya ke suami untuk memastikan kembali.

"Iya, nanti disebutin terminalnya. Tenang aja."

Bus damri yang saya naiki telah memasuki area bandara. Jantung saya berdebar kencang. Semakin dekat dengan terminal tujuan, semakin cemas rasanya. Terminal 1A lewat, terminal 1B lewat, terminal 1C lewat, tapi panggilan itu tak kunjung ada. Jangan-jangan saya harus bilang dulu ke sopir atau kondekturnya.



"Terminal 2. Surabaya!" Pak Kondektur mulai meneriakkan terminal tujuan. Seorang penumpang dengan tas hitam turun dengan tergesa-gesa.

Dari arah belakang, saya mendengarkan percakapan yang cukup membuat saya lebih tenang.

"Terminal 1C di belakang 'kan ya? Waah... Dilewatin nih kita."

"Iya, muter dulu lagi kita."

Ooo muter dulu. Berarti setelah terminal 2, kami juga akan diantar ke terminal 1 lagi. Baiklah.



Sesampai di terminal 1B saya menghubungi suami untuk menentukan lokasi kami akan bertemu. Lagi pula saya juga sudah lapar sekali. Mau ngemil dulu sebelum nanti makan malam bersama suami. Begitu turun, saya mengambil troli, menata tas-tas yang saya bawa di atasnya. Lalu, saya mulai mencari restorant yang menunya cukup familiar di lidah saya. Saya tahu harga makanan di bandara pasti mahal. Kalau rasanya nggak enak 'kan rugi sudah bayar mahal.

"Mas, aku tunggu di A&W yaa..."

Saya memesan beberapa camilan. Lalu, duduk menunggu suami sambil memakan pesanan saya tadi. Fyi, saya datang terlalu awal dari jadwal keberangkatan. Pesawat saya berangkat jam 8 lewat. Tapi pukul 5 sore saya sudah di bandara. Warbyasaaah. 



Berasa anak rajin. 

Menunggu jadi terasa lebih lama karena sendiri. Suami saya juga tak kunjung datang hingga waktunya check-in tiba. Terpaksa saya masuk dulu, check-in sendiri, jalan ke gate sendiri, boarding pun sendiri. Sebetulnya saya mau menunggu suami saja untuk boarding, tapi saya belum sholat, sedangkan mushola yang bisa dijangkau tanpa koper ada di dalam. Ya sudah, saya masuk dulu.

Suami saya datang tepat pukul 8 malam. Belum makan malam dan kelaparan. Wkwkwk...

Mas langsung naik ke atas menemui saya karena waktunya sudah mepet. Jadi yaaa... Mana sempat makan malam. Sari kacang hijau yang saya belikan tentu saja tak mampu mengganjal perutnya.

"Harus nasi ini, Dek."

Suami saya sebetulnya bukan tipe orang yang harus makan nasi. Makan malam dengan roti pun tak masalah. Tapi karena kelaparan, rasanya roti saja tidak akan cukup untuk menyembuhkan rasa laparnya. 

Alhamdulillah.. Pesawat kami delay. Jadi, suami saya bisa makan dulu sebelum berangkat ke Bali. Dibilang rezeki ya iya, dibilang apes karna delay sejam juga iya. Ambil hikmahnya saja lah yaaa...

Hampir pukul 10 malam kami baru naik ke pesawat. Mata kami sudah berat sekali. Ngantuk bukan main. Ingin rasanya segera duduk di dalam pesawat dan tidur. Tapi saya juga ingin melihat pemandangan malam Kota Jakarta dari atas pesawat. Jadi, ngantuknya saya tahan-tahan dulu sampai pesawat lepas landas.

Satunya masih bisa senyum, satu lagi udah KO berat

Suami apa kabar? Begitu duduk di pesawat sudah KO berat. Matanya kira-kira tinggal 5 Watt saja. Belum juga lepas landas sudah ada yang nyandar di kursi begini.

Sudah tidur duluan

Saya? Sebetulnya sih nggak lama juga meleknya. Begitu terbang, lihat lampu-lampu sebentar, saya tidur. Mata sudah sepet banget. Nggak tahan mau melek lagi. Begitu bangun, kami sudah sampai di Bandara Ngurah Rai Bali.

"Mas, mobilnya gimana? Sudah hubungi drivernya belum?"
"Tadi udah kok. Ntar sambil nunggu bagasi aku kontak lagi."

Sebetulnya sewa mobil untuk honeymoon kali ini agak dadakan juga. H-7 baru kami memutuskan untuk sewa mobil. Sebelum ini, kami sudah sama-sama sepakat untuk sewa motor saja di Bali. Tapi kemudian suami saya berubah pikiran.

"Sewa mobil aja deh. Ini ada yang murah. Mau lepas kunci juga. Hari pertama kita biar nggak bingung mau tidur di mana. Rugi juga sewa hotel kalau baru check-in dini hari."

Kami memesan Daihatsu Agya yang harga sewanya paling murah dan yang bisa ready untuk tanggal 4-8 Oktober 2018. Namanya juga sewa mobil, warna mobil apa saja sebetulnya tidak masalah. Asal bisa dipakai. Kami memilih Agya juga karena murah. Lagi pula kami cuma berdua saja. Tidak butuh mobil dengan kapasitas besar lah yaa. Cuman, pingin aja gitu dapat pinjaman mobil warna merah. Nggak ngefek dengan performa mobil sih, tapi kan kece naik mobil warna merah.

"Drivernya nunggu di depan Solaria, Dek."

Setelah urusan bagasi selesai. Kami menuju lokasi serah terima mobil. Harus jalan agak jauh juga sih dari pintu keluar. Pingin naik troli saja rasanya. Tapi malu.

Sesampai di depan Solaria, ketemu driver yang mengantarkan mobil, suami saya yang urus serah terima mobil. Pengecekan mobil, berkas-berkasnya. Saya sih tinggal tahu beres aja. Nggak ngerti juga lagian. Plus, urusan check and re-check suami saya ini ahlinya. Duitaaaaaiiiiil sekali.

Oya, tahu tidak? Mobil yang datang warnanya MERAAAH. Sukaaaa....

 
Hehehe.. Nggak penting sih. Tapi saya excited banget naik mobil warna merah. Apalagi nyetir sendiri. Mmmm... nyetir bentar doang sih. Mostly suami saya yang nyetir.

Mobil yang datang bukan Agya seperti yang kami minta sih, tapi Ayla. But you know laaah... Agya sama Ayla itu sodaraan. Dan kayak hampir sama gitu. Jadi, it's okay no problemo.

Tujuan pertama kami adalah Pantai Sanur. Dari bandara ke Pantai Sanur paling cuma 30 menit, kalau lewat tol laut ya. Kami agak excited sih lewat tol laut. 'Kan masih tergolong baru. Sayangnyaaaaa.... mobilnya terlalu pendek. Pandangan kami terhalang dinding pembatas. Jadi yaaa.. nggak keliatan apa-apa, selain tembok.

Selama perjalanan menuju Sanur, saya yang menjadi navigator. Jangan disangka saya hapal Bali ngelontok ya. No. Saya cuma ngandelin google maps aja. Itu pun banyak nyasarnya. Banyak kejadian yang mmmmm gara-gara terlalu manut sama direction-nya google maps.

"Mas, kita ke Sanur 'kan? Ini aku ngetiknya langsung Sanur ya?"

"Iya, Pantai Sanur."

Daaan tahu kah saudara-saudara sekalian? Kami nyasar. Betul sih maps ngasih arah ke Pantai Sanur. Tapi bukan itu pantai yang kami maksud. Jalan masuknya saja sempit. Sudah begitu, banyak anjing pula. Saya larang suami saya untuk membuka kaca jendela. Khawatir anjingnya bakal ngelongok ke dalam mobil. 'Kan pendek mobilnya. Kalau masuk gimana?

Saya baru sadar kalau pantai yang kami maksud namanya bukan Sanur kalau di dalam peta, tapi Pantai Matahari Terbit. Masih searea dengan Pantai Sanur sih, tapi tempat ini punya area parkir yang lebih luas. Bahkan dekat dengan masjid. Setelah menuju pantai yang benar, kami mengisi perut kami dengan beberapa camilan yang kami beli di mini market terdekat. Lalu memarkir mobil di depan masjid. Daaan.. tidur. Udah ngantuk cyiiin...

"Mas mas, bangun mas. Maaas... cepetan banguuun.."

***

Kenapa saya membangunkan suami saya? Apa yang membuat saya terbangun? Nantikan kisah perjalanan honeymoon kami selanjutnya yaa...


You May Also Like

4 komentar

  1. ya ampun, dari atas dah deg2an banget. kirain si merah itu tamu bulanan. ancur dong honeymoonnya hihihi...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe.. Jadwal honeymoonnya udah diset di tanggal kisaran masa subur mbak. XD

      Gak bakal ketemu si Merah yang itu. Hwehehe

      Delete
  2. Saya juga dulu 'kepagian' nyampe bandaranya, padahal take off jam 10 malem sampe izin pulang cepet dari kantor dan bikin jadwal solat Isya di bandara Changi saking khawatir kejebak macet, eeeh padahal jam 7 udah nyampe Soetta, jadi sempet solat Isya dulu di Indo ��

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wkwkwkw...
      Masih jam 7 Mbak. Aku jam 5an untuk flight jam 9. Nunggu lama banget.

      Delete