Cities that I’ve Live In

by - Wednesday, December 05, 2018



Saya bingung kalau harus milih 10 blog yang biasanya jadi blog wajib buat dikunjungi karena terlalu banyak. Lagian, saya juga suka random milihnya. Jadi emang nggak punya list wajib gitu. Akhirnya, saya pilih tema pengganti aja, kota-kota yang pernah saya tinggali. Hidup selama 27 tahun, saya baru sadar kalau saya suka dilempar ke mana-mana. Tuntutan pekerjaan juga sih dulu. Di antara sekian banyak kota yang pernah saya singgahi, ada beberapa kota yang pernah saya tinggali agak lama.

Dan inilah kota-kota itu..

Malang

Saya lahir dan tumbuh besar di Malang. Orang tua saya asli Malang juga. Jadi, kalau mudik ya di situ-situ aja. Ke desanya sih. Saya lama sekali tinggal di sini, tapi rasanya nggak ada yang berkesan. Tiap kali ingat Malang, memory yang tidak menyenangkan yang selalu saya ingat.

Setelah lulus SMA, saya berusaha keras untuk keluar dari Malang. Bukan lagi jenuh, tapi sudah betul-betul enggan untuk tinggal di sini lagi. Ingin jauh daei orang tua. Ingin punya kehidupan yang  benar-benar baru.

Surabaya

Keinginan saya akhirnya terpenuhi. Saya diterima kuliah di Surabaya. Bahkan S2 juga di Surabaya. Terlalu kerasan dengan kota ini sampai akhirnya saya menggemuk. Saya merasa bahagia tinggal di sini. Kehidupan saya yang baru.

Di kampus saya bertemu dengan orang-orang baru, di kost juga. Memang, ada saudara yang tinggal di sini. Tapi, ya jarang ketemu juga karena kesibukan di kampus.

Setelah lulus saya sempat bekerja di sini juga selama 3 tahun. Jadi, kira-kira 9 tahun sudah saya tinggal di Surabaya. Lamaaa sekali. Rasanya nggak mau pindah. Inginnya dulu punya suami yang kerja di Surabaya juga. Jadi, saya bisa stay di Surabaya menghabiskan hari tua saya. Ternyata Allah berkehendak lain.

Kota ini betul-betul berkesan untuk saya. Di sinilah saya merasa betul-betul dituntun oleh Allah untuk menemukan jalan yang lurus. Pelan dan berliku memang tapi akhirnya Allah benar-benar tunjukkan hidayah-Nya kepada saya. Saya pun berubah sedikit demi sedikit seiring bertumbuhnya pemahaman saya. Jadi konflik sama ibu saya juga sih. Tapi karena jauh jadi nggak terasa. Saya masih bisa menghadapi hari-hari saya dengan normal.

Batam

Hijrah saya membawa perubahan yang besar. Saya mulai merasakan bahagianya hidup dengan Islam, bangga dengan agama saya, dan saya pun mulai berdakwah kepada mahasiswa-mahasiswa saya. Tapi rupanya ada yang tidak suka dengan itu. Hebohnya lagi, justru pimpinan saya yang tidak suka.

Tekanan demi tekanan mulai saya rasakan. Puncaknya, saya ditugaskan ke Batam selama beberapa minggu untuk ikut workshop. Padahal materi workshop itu sama sekali tidak sejalan dengan bidang keilmuan saya, bahkan prodi saya. Lebih terasa diasingkan lagi setelah pimpinan saya menyampaikan kalau sebetulnya bukan saya dan satu dosen perempuan lain yang berangkat, tapi bapak-bapak semuanya.

Kesal sih. Tapi lama-lama saya mencoba untuk menerima semua itu. Lumayan juga nggak ngajar selama beberapa minggu. Tapi ya gitu, PR tatap muka dengan mahasiswa jadi amat sangat terbatas. Semester itu seharusnya saya tidak terlalu banyak jam mengajar tapi jadi membengkak karena harus mengejar materi.

Karena tinggal di sini untuk workshop, pemandangan yang saya lihat setiap hari ya hotel, bus, tempat pelatihan. Kalau weekend diajak keliling Batam dan kota di sekitarnya sih. Tapi ya gitu, nggak banyak yang saya tahu.

Probolinggo

Setelah menikah, saya sempat tinggal bersama suami di Probolinggo. Suami saya harus menyelesaikan proyek di sana. Jadi stay di Probolinggo agak lama juga. Tapi karena nggak ada kendaraan pribadi, jadi nggak banyak tahu Probolinggo juga sih.

Bogor

Saya menikah bulan Juli dan baru bulan Agustus saya pindah ke Bogor. Agak shock dengan macetnya Bogor. Surabaya aja nggak kayak gini. Tapi lama-lama kerasan juga. Di sini mau belajar apa aja bisa. Mau ngaji juga mudah. Hawanya itu adem, kalau siang aja sih agak panas.

Bogor juga tidak terlalu jauh dari Jakarta. Jadi, kalau ada event di Jakarta masih bisa dijangkau. Contohnya, acara Hijrah Fest yang dilaksanakan November lalu, reuni 212 juga masih memungkinan datang naik motor berdua sama suami.
Saya nggak tahu apakah saya akan tinggal di Bogor sampai tua nanti ataukah pindah lagi ke kota yang baru. Di mana pun tempatnya, saya berharap tetap bisa mendampingi suami saya dan mudah untuk mengkaji Islam.

You May Also Like

2 komentar

  1. Hwaa udah pindah-pindah dari 5 kota ya mbanya. Banyak. Jadi banyak pengalaman juga jadinya tinggal di satu kota ke kota lainnya yang pastinya punya kebiasaan yang berbeda. Seru ih. Kalau aku masih di sini-sini aja enggak jauh dari rumah muehehe. Padahal inginnya jauh. *siapayangnanya

    ReplyDelete