Pengalaman Melahirkan Baby G: Hingga Batas Ikhtiar

Jan 27, 2020


Pengalaman melahirkan

Awal tahun 2019 kemarin, saya tulis "punya anak" sebagai salah satu harapan di tahun itu. Alhamdulillah, hal yang kami nanti-nantikan diijabah oleh Allah. Ketika garis dua itu muncul, masya Allah nyess banget. Kalau inget moment itu, mata ini mendadak jadi lebih becek aja. Even akhirnya buyar dengan respon suami yang malah minta dijelasin gimana garis dua itu muncul.

9 bulan nggembol jabang bayi bisa dibilang bukan hal yang mudah. Morning sickness, diare parah sampai lemes, jantung tiba-tiba juga jadi aneh. Meski begitu, tetep aja hamil itu ngangenin. Setuju?

Well, sama halnya dengan buibu yang lain, saya juga ingin melahirkan Baby G dengan normal. Segala hal mengenai melahirkan yang nyaman dan menyenangkan saya pelajari. Birth plan saya buat. Tenaga kesehatan yang nantinya akan mendampingi, saya pilih. Rumah sakit yang pro ini itu juga sudah. Persiapan fisik dan nutrisi untuk janin juga sudah. Apa yang bisa saya dan suami upayakan, kami upayakan.

Hingga akhirnya segala kisah itu bermula...


Senin, 4 November 2019


Hari itu saya kontrol ke dr. Astry lagi. Maunya menjelang due date begini kontrolnya ke dr. Farah aja, dokter yang kami percaya untuk membantu persalinan nanti. Tapi apalah daya, kemarinnya lupa kalau harus daftar dulu pagi-pagi. Begitu ingat langsung telpon RSIA Bunda Suryatni. Karna sudah agak siang, saya kehabisan slot untuk kontrol.

Karna sudah masuk 39 minggu, selain USG, dr. Astry juga melakukan VT ke saya. Hasil kontrol hari itu yang agak tidak menyenangkan.

"Kondisi plasentanya sudah mulai mengalami pengapuran Grade III, air ketuban juga sudah mulai berkurang. Berat janin ibu juga tidak mengalami kenaikan berat badan yang signifikan. Ini naiknya bahkan cuma 20 gram saja. Posisi janin juga masih belum masuk panggul. Kalau saya sih lebih baik segera dilahirkan saja. Saya buatkan surat rekomendasi untuk induksi ya, Bu. Kalau ibu dan bapak setuju, besok pagi jam 7 bisa datang ke IGD untuk menjalankan proses ini," begitu kata beliau.

Surat rekomendasi dibuat. Rasanya masih selow sih. Induksi ya wes. Tapi nggak mau lahiran di RSUD.

Keluar dari poli, saya dan suami diskusi. Gimana enaknya, jadi lahiran di RSIA Bunda Suryatni atau RSUD aja. Kalau jadi, kami gimana. Kalau nggak, juga gimana. Akhirnya, keputusan kami tetap jatuh ke RSIA Bunda Suryatni.

Pulang dari RSUD kami beranjak ke RSIA Bunda Suryatni. Pingin konsultasi hasil ngobrol dengan dr. Astry tadi ke dr. Farah. Saya bawa surat rekomendasi itu supaya tetap dapat slot. Alhamdulillah bisa. Bahkan, karena kondisi saya begitu, antrian pun didahulukan. Tidak cuma itu, disuruh naik kursi roda pula. Suami sampai bingung.

Kursi roda
Mulai disuruh naik kursi roda. Khawatir ketuban makin abis.


"Ngapain naik kursi roda?"
"Nggak tahu."

Ekspresi dr. Farah begitu saya masuk ruangan tidak seceria biasanya. Kali in serius sekali.

"Kita periksa dulu, yuk."

Dokter mulai cek lagi kondisi janin saya melalui USG dan VT. Yup, itu VT kedua hari itu. Tidak hanya itu, dokter juga minta saya untuk melakukan tes cardiotocograpghy (CTG).

Saya naik ke lantai 2. Perut saya dipasangi belt yang sudah tersambung dengan alat yang mengukur detak jantung janin dan kontraksi yang saya alami. Sesekali rangsangan diberikan karena janin saya tidak bergerak.

Tes CTG
Tes CTG pertama


Tes ini memakan waktu 30 menit. Lumayan lama dan bikin ngantuk. Tapi saya tetep harus sadar untuk bisa pencet push button kalau-kalau janin mulai bergerak. Setelah tes berakhir, hasilnya langsung dibawa ke dr. Farah untuk memutuskan tindakan selanjutnya.

"Kondisi ketuban memang sudah mulai berkurang, tapi masih bagus. Placenta memang sudah mengalami pengapuran. Tapi ini wajar untuk kehamilan tua seperti ini. Posisi janin ini yang masih jauh. Seandainya kita lakukan induksi sekalipun kemungkinan gagalnya tinggi. Ini hasil CTG bagus. Jadi, kita tunggu dedeknya turun sendiri aja ya. Tapi tetap harus sering absen ke rumah sakit nih. Hari Rabu ke sini lagi ya untuk tes CTG ulang."

Alhamdulillah. Lebih plong mendengar penjelasan dr. Farah.


Selasa, 5 November 2019


Gara-gara dibilang mau induksi itu saya jadi penasaran. Mulai cari tahu induksi itu apa. Worst case kalau induksi gagal, apa yang akan dilakukan dokter. Gimana rasanya, semuanya saya cari tahu untuk persiapan mental yang lebih baik. Of course, diskusi sama suami juga dilakukan.

"Kalau induksinya gagal, aku dicaesar lho, Mas."

Abis ngobrol banyak tentang induksi, suami coba ngobrol sama janin.

"Kak, cepet turun ya kak."


Rabu, 6 November 2019


Berangkat sepagi mungkin untuk tes CTG. Kali kedua tes CTG sudah lebih selow dari sebelumnya. Kali ini bukan hanya CTG saja, tapi VT lagi dan tes darah lagi.

Hasilnya, mulai ada angin baik. Kontraksi mulai semakin teratur. Kalau kemarin janin masih jauh dari panggul, hari itu akhirnya pembukaan 1!

Semua hasil dikirim ke dr. Farah untuk dikonsultasikan langkah selanjutnya. Kata dokter, saya harus CTG lagi pukul 14.00. Ada kemungkinan juga saya harus stay di rumah sakit untuk persiapan persalinan.

Wow, rasanya excited sekali. Alih-alih nunggu, kami pulang ke rumah membawa segala macam yang perlu dibawa. Bahkan sempat ke Depo Bangunan juga untuk beli obat untuk pipa dapur yang tersumbat.

Kisaran pukul 12 siang kami kembali. Untuk saya, rumah sakit sudah menyediakan makan siang. Mumpung lapar nih, datang langsung makan.

Pukul 14.00 saya menjalani tes CTG dan VT yang kedua. Berbeda dengan hasil CTG pagi, kali ini kontraksi makin jarang lagi. Pembukaan yang awalnya dibilang 1 tadi juga ternyata belum full 1. Hmmmm...

Kali ini jawaban dr. Farah adalah induksi. Sebetulnya, kami tidak masalah kalau memang harus begitu. Tapi nggak ada salahnya dong tahu kenapa kok harus banget induksi.

Sekitar jam 8 malam dr. Farah visit. USG dadakan dilakukan di ruang VK. Kondisi ketuban masih baik. Nggak jauh beda dengan hari Senin kemarin. Kalau saya mau nunggu sih, it's okay.

Malam itu, kami pulang. Mengizinkan janin kami berupaya untuk keluar dengan caranya sendiri.


Jumat, 8 November


Absen lagi. CTG lagi. Hasilnya, kontraksi makin bagus. Tapi pembukaan masih 1.

"Mari kita berusaha lagi ya, Nak."

Sepulang dari RS, seperti biasa, coba yoga, main gymball, dan upayain pakai gerakan Maryam yang populer itu. Intinya, apa aja yang bisa diupayakan, upayakan.

Tiba-tiba aja dikasih tahu suami kalau ibu mau ke Bogor. Ini di luar rencana sih. Awalnya, ibu bilang nggak bisa dampingi. Ternyata kepikiran sampai nangis-nangis.


Sabtu, 9 November 2019


Seperti biasa, tiap Sabtu pagi yoga di RS. kali ini langsung bawa peralatan perang dan hospital bag. Siap-siap kalau seandainya abis yoga terus kontraksi makin hebat.

Pukul 10.30 WIB, kelas yoga selesai. Entah kenapa waktu diminta komunikasi sama janin, air mata ini mendadak meleleh.

"Dear Baby G, kamu kuat. Semangat, Nak. Terima kasih sudah mau bertahan selama ini di perut Ummi."

Kami pulang masih dengan harapan kalau hari ini bisa lahir. Sesampai rumah, saya urus pekerjaan rumah yang belum selesai.

Sorenya, kontraksi semakin intens dan makin sakit. Rencana masak makan malam untuk ayah ibu jadi dibatalkan. Beli makan di luar saja.

Ba'da isya, kontraksi sudah semakin sering dan semakin sakit. Ibu melarang saya untuk pergi ke RS dulu.

"Tunggu sampai betul-betul sakit."

"Ini udah sakit, Bu."

Ibu diam. Iyalah, kan yang merasakan saya.

Sampai RS, saya langsung dibawa ke Ruang VK untuk tes CTG dan VT dulu. Hasilnya, pembukaan sudah mulai bertambah meski kontraksi menghilang saat sampai di sana.

Gemes? Sudah pasti. Malam itu, kami bermalam di sana.


Minggu, 10 November 2019


Bangun pagi sekali dan mulai jalan-jalan di sekitar Ruang VK. Setelah itu, masuk kamar untuk coba gerakan-gerakan yoga yang bisa bantu janin makin turun ke panggul. Main gymball pun tidak lupa.

Sayangnya, kontraksi masih datang dan pergi.

Tes CTG malam, detak jantung janin sering sekali lebih tinggi dari batas normal. Biasanya sih itu terjadi kalau dia lagi gerak. Kali ini beda. Janin saya tidak bergerak.

Rasa cemas mulai menghampiri. Coba tanya ke bidan tentang hasil CTG malam itu. Katanya sih baik-baik saja. Normal-normal saja. Entah, itu untuk menenangkan saya saja atau bagaimana.

Hasil CTG dikirim ke dr. Farah. Kata beliau, besok janin saya harus lahir. Bisa dengan induksi atau caesar.

"Ya Allah, terima kasih sudah menitipkan janin ini di perut hamba. Jika memang Engkau berkenan hamba memeluk dan merawatnya, berikan kami kekuatan. Hamba sudah berusaha untuk bisa melahirkan normal, bila memang bukan ini jalan yang terbaik, hamba ikhlas."

Pasrah dengan sepenuhnya pasrah dengan hasil yang nanti akan Allah berikan. Kalau memang harus induksi, ya sudah. Kalau memang harus caesar, ya sudah. Satu yang pasti, saya ingin mendengar tangis bayi saya. Ingin memeluk serta mendekapnya. Tapi, bila memang Allah berkehendak lain, saya siap.


Senin, 11 November 2019


"Kata dr. Farah, hari ini dia harus lahir. Pilihannya ada 2, mau induksi atau caesar."

"Saya pilih induksi."

Agak galau sebetulnya. Khawatir induksi gagal. Tapi sebetulnya tanda-tanda persalinan sudah semakin baik. Jadi, apa salahnya dicoba.

Pukul 07.00 obat diinjeksikan melalui cairan infus. Tetesannya diatur oleh bidan sesuai perintah dr. Farah.

Pukul 10.00, belum juga merasakan kontraksi. Akhirnya, dosis obat ditambah. Setelah itu, tes CTG kembali dilakukan. Entah ini tes yang ke berapa kalinya.

CTG kali ini semakin bikin melow. Tiap kali kontraksi detak jantung janin melemah. Ditambah lagi, dia jarang sekali bergerak. Berkali-kali dirangsang oleh bel, hasilnya hampir sama. Rasanya ingin USG saja untuk lihat ada apa di dalam sana.

"Gimana hasilnya, Mbak?"
"Hasil ctg-nya bagus kok, Bu. Tapi karena tadi sempat melemah, ibu pakai selang oksigen ya. Ini untuk tambahan oksigen ke janin juga."

Bidan-bidan masih sama. Melakukan tindakan sembari menenangkan hati saya.

Selang oksigen dipasangkan ke saya untuk membantu tambahan oksigen ke janin. Lihat tes CTG yang seperti itu, saya putuskan untuk tidak banyak bergerak.

"Dear Baby G, kuat ya, Nak."

Menjelang pukul 12 siang, kami mempersiapkan diri untuk check kandungan dengan dr. Farah di poli. Kursi roda sudah disiapkan. Setelah siap, kami turun ke bawah.

Dokter sudah menyambut kami. Beliau minta saya untuk berbaring di ranjang untuk persiapan USG.

"Kondisi janin masih OK, tapi air ketubannya sudah mulai kering nih. Hari ini juga mesti lahir. Jadi, kalau April masih mau lahiran normal, banyakin jalan ya. Dosis induksinya nggak akan saya tambah kok. Segitu aja cukup biar nggak terlalu sakit juga," gitu kata dr. Farah.

Selesai ketemu dokter, ikhtiar terakhir kami upayakan. Banyak jalan. Betul-betul banyak jalan. Saya keliling lobi ruang tunggu VK macem orang gila. Nggak lupa dzikir terus dirapal untuk mengalihkan rasa sakit waktu kontraksi itu datang.

Powerwalk
Masih bisa jalan-jalan


Pukul 14.00 saya mulai kembali ke ruang VK lagi. Istirahat. Bagimana pun juga saya butuh tenaga untuk persiapan persalinan.

Kontraksi datang makin lama makin hebat. Suami saya minta untuk terus ada di samping saya. Tangannya saya genggang kuat-kuat ketik kontraksi itu datang. Seiring bertambahnya rasa sakit, saya mulai kesulitan bernapas.

"Mas, tolong pasangin oksigen ke hidungku lagi dong."

Oksigen sudah terpasang. Kontraksi juga datang makin intens.

Pukul 15.00. Saya makin kesulitan bernapas.

"Mas, aku nggak bisa napas."

"Jangan bilang nggak bisa," kata ibu.

"Ini emang nggak bisa. Panggil bidan. Panggil bidan."

Bidan datang. Dalam kondisi semacam ini justru masih bertanya saya maunya nerusin induksi apa nggak. Jujur, detik itu juga udah nggak bisa mikir. Terserah deh mau diapain juga.

Rasa sakit datang makin kuat. Napas sebetulnya jadi kunci untuk mengalihkan sakit itu. Tapi sayang, saat itu saya betul-betul kesulitan. Rasanya seperti mau mati saja.

Pukul 16.00

Saya sudah nggak kuat lagi. Saya minta suami untuk memanggil bidan. Saat itu, ibu saya sudah turun ke bawah untuk menemui dr. Farah. Intinya sih minta untuk segera dilakukan tindakan pertolongan.

"Ibu masih ngobrol sama dokter, Bun."

"Saya mau caesar aja."

"Kamu yakin? Ikhlas? Nggak apa-apa?" tanya suami saya meyakinkan keputusan saya itu.

"Iya, nggak apa-apa."

Saya cuma mau menyelamatkan anak saya. Kalau saja saat itu adalah waktu terakhir saya, setidaknya anak saya masih bisa hidup.

Setelah keputusan itu, saya ditinggal sendiri. Suami diminta untuk tanda tangan surat persetujuan tindakan. Para bidan juga mulai mempersiapkan semua hal yang saya butuhkan.

Pukul 16.30
Saya sudah makin lemas. Tangan suami masih dalam genggaman saya.

"Mas, aku minta maaf ya. Kalau aja ini jadi napas terakhirku, aku minta maaf atas semua kesalahanku."

Mas mengusap kepala saya. Dia kecup kening saya.

"Sudah, jangan bilang gitu."

Saya juga minta maaf ke ibu. Momen itu justru jadi momen baikan dengan ibu setelah sempat lama bersitegang. Kami menangis bersama.

Tak lupa juga mengabarkan ke ayah-ayah kami dan ibu mertua.

Setelah itu, saya baru ingat kalau saya belum Sholat Ashar. Saya minta bantuan ibu untuk mengambil air wudhu dan menutup aurat saya. Mungkin itu sholat yang saya jalani dalam perasaan yang betul-betul ada di titik nol. Hanya keagungan Allah yang ada.

Air mata saya meleleh dalam tiap doa yang saya ucap dalam sholat saya. Selesai sholat, rapalan istighfar terus menerus saya gumamkan.

Pukul 17.00
Hujan lebat mengguyur Kota Bogor. Kamar operasi sudah siap. Tes alergi terhadap obat juga sudah dilakukan. Saya pun dipersiapkan untuk dibawa ke kamar operasi.

Di sana, saya sendirian. Bidan melarang suami saya untuk masuk.

Pasrah. Itu yang saya rasakan saat itu.

Tidak lama setelah saya masuk ruang operasi, saya mulai merasa ingin mengejan. Saat itu saya sendirian, bidan sedang keluar sebentar untuk laporan ke dokter. Bingung harus apa. Bahkan tiap napas yang saya hembuskan rasanya membuat posisi janin makin turun. Rasanya mau brojol aja.

Dokter anastesi masuk bersama bidan. Saya mulai didudukkan untuk injeksi anastesi. Saya tahan gejolak yang ada dalam perut saya itu.

Sekali suntik. Gagal. Posisi saya kurang tegak sehingga jarum suntik sulit untuk masuk. Kali kedua, setelah dibantu bidan menegakkan badan, barulah bisa.

Perlahan kaki saya mulai hilang rasa. Merambat ke atas hingga perut. Rasa ibgin mengejan perlahan mulai hilang.

Berita acara dibacakan. Dokter-dokter yang akan membantu proses operasi sudah lengkap. Dalam kesadaran yang hilang timbul, bibir ini tak henti-henti merapal istoghfar. Memohon ampun atas segala dosa yang pernah saya lakukan.

"April ngantuk ya?" tanya dr. Farah.
"Enggak, dok."
"Sebentar lagi anak kamu lahir."

Tak lama setelah itu, suara tangis bayi pecah. Air mata saya pun mulai mengalir. Alhamdulillah, Ya Allah. Engkau izinkan hamba mendengarnya.

Setelah tali pusat dipotong, kami melakukan skin to skin. Saya cium Baby G untuk pertama kalinya, begitu juga dengannya. Proses ini tidak bisa lama karena ruang operasi yang dingin. Kasihan bayinya.

Pasca operasi, kami dipisahkan selama 6 jam untuk observasi ibu dan bayi. Saya masih di ruang OK. Sementara Baby G di ruang perina.

Lepas maghrib, suami saya masuk. Dia kecup kening saya.

"Selamat ya sudah jadi ibu."


Epilog

Ghazy Sarfaraz Azzam


11 November 2019, bukan hanya jadi hari lahir putra kami yang bernama Ghazy Sarfaraz Azzam. Hari itu, saya pun seperti dilahirkan kembali.

Perjuangan panjang yang kami lalui bersama menunjukkan betapa besarnya kuasa Allah di sini. Sehebat apapun ikhtiar yang kami lakukan, bila Allah tidak berkehendak ya tidak akan terjadi. Allah tahu skenario terbaik untuk hamba-Nya. Pada akhirnya, ketika semua berjalan tak sesuai harapan, percaya saja bahwa itu adalah yang terbaik.


With love,

Comments

  1. Ya Allah...saya nangis Mbak. Selamat sudah menguatkan diri untuk menjaga ananda ya Mbak. Saya jadi terhanyut dan Masya Allah cerita dan pengalaman Mbak Lelly menjadi pembelajaran bagi saya, bahwa kita harus banyak mengingat Allah. Terima kasih ya Mbak. Selamat sudah menjadi Ibu dan barokallah teruntuk ananda, semoga menjadi anak yang sholih. Amiin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin yaa rabbal alamiin..
      Makasi mbak. Wa fiik barakallah.

      Delete
  2. Masyaallah cerita pengalaman melahirkan memang suka bikin mengharu biru. Selamat sudah menjadi ibu, ya, Mbak Lely. Moga putranya jadi anak Saleh dan menjadi penyejuk kedua orang tua. Saya jadi inget anak saya begitu baca postingan ini. Alhamdulillah dikasih anugerah luar biasa, ya, Mbak

    ReplyDelete
  3. Masya Allah, hampir sama seperti saya prosesnya bun. Barakallah untuk kelahiran putra putrinya 😍🤗

    ReplyDelete
  4. Selamat ya Mba, masha Allah.
    Penantian akhirnya terbayarkan.
    Momen melahirkan memang selalu membekas di hati kita sebagai ibu.
    Momen di mana perasaan kita tak menentu, antara takut, sakit, kesal dan bahagia luar biasa :)

    ReplyDelete
  5. ya Allah, terharu saya bacanya. anak dan ibu sama-sama pejuang, ya. kalian hebat!

    ReplyDelete
  6. Masya Alloh Mba. Perjuangan melahirkannya luar biasa. Selamat menjadi ibu ya Mba. Jadi ingat almarhum ibu.

    ReplyDelete
  7. Hwaa mbaakkk abis induksi masih bisa berdiri dan jalan pegang tiang infus, kerennnn!

    Saya abis induksi macam udah gak bisa bangun, malah terus sempat muntah-muntah, mungkin saking paniknya, hiks. Ini pas anak pertama, kalo anak kedua tanpa induksi tapi ketuban udah pecah duluan, jadi sama harus di atas kursi roda, karena takut makin banyak yang rembes keluar

    Tiap anak memang beda cara lahir dan prosesnya, mungkin ini juga ya yang membuat tiap anak itu unik dan spesial

    ReplyDelete
    Replies
    1. Karna sakitnya masih bisa ditahan mbak. Sakit sekali tapi justru sakitnya itu yang ditunggu. Tiap sakitnya datang macem ada semangat baru karna tahu bentar lagi ketemu bayi saya.

      Tapi ya gitu, abis itu sesek banget.

      Iya, saya denger cerita lahiran tuh beda-beda. Ada aja ceritanya.

      Delete
  8. Waaah....perjuangan yang luarbiasa. Saya mengalami pada kehamilan anak pertama, tapi sayang setelah berusia tujuh hari dia pergi menghadap yang Kuasa. Meninggalkan orangtuanya yang telah menantinya selama tiga tahun. Selamat ya Mba atas hadirnya generasi penerus keluarga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya Allah... Nggak kebayang gimana rasanya. Waktu anak harus dirawat di perina aja saya udah potek-potek. Nangiiiis mulu. Padahal ya tahu kalau anak saya baik-baik saja dan ditangani tenaga profesional. Ya namanya ibu ya.

      Delete
  9. Alhamdulillah Ya Allah.. 17 tahun yang lalu saya induksi 3 macam selama 26 jam dan berujung cesio.. Sakitnya dua kali..
    Selamat ya mba Lelly.. Sehat untuk mba n baby G :)

    ReplyDelete
  10. Masya Allah!
    Begitulah perjuangan ibu, pantas saja Rasulullah menyebutkan ibu sampai tiga kali sebelum menyebuttkan ayah hanya sekali ketika ditanya, kepada siapa anak mengabdi?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak, perjuangan sekali. Ibunya berjuang. Anaknya juga.

      Delete
  11. Selamat y mbaaa
    Finally mb jd seorang ibu masyaAllah
    Jd inget waktu operasi juga
    Perjuangan bgt
    Semua ibu memang hebat

    ReplyDelete
  12. Deg-degan saya bacanya mbak.. Alhamdulillah baby G lahir selamat dan mbak juga sehat. Perjuangan banget ya menjadi seorang ibu.. Mbak melakukan yg terbaik. Sehat-sehat terus yaa, Nak..

    ReplyDelete
  13. kisah panjang yang beakhir bahagia ya, Mbak
    Alhamdulillah telah lahir putra tercinta dengan sehat meski sempat ada drama. Tapi apapun prosesnya mau spontan atau caesar itu sudah jalan terbaik dari-Nya. Barakallah, Mbak

    ReplyDelete
  14. Alhamdulillah, selamat ya mba atas kelahiran Baby G. Semoga kelak sang buah hati menjadi anak yang saleh, menjadi kebanggaan kedua orang tuanya.

    ReplyDelete
  15. Kisah kak Lelly daku ceritakan pada kakakku, karena beliau pernah mengalami proses melahirkan dan pernah induksi juga cuma beliau lebih memilih caesar aja, soalnya induksi itu sakit.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, memang sakit. Kemungkinan berhasil juga 50% saja.

      Delete
  16. mbaaaa aku nangisss banget di moment pamitan itu tadi, ya Allah hiks sedih bangetttttttt. Selamat untuk kelahiran Babby G nya ya mba, semoga sehat selalu :)

    ReplyDelete
  17. Mbak, selamat sudah jadi Ibu. Apapun prosesnya tetap yang terbaik. Alhamdulillah sekarang bisa memeluk Baby G. Aku ikut terharu. Proses hamil dan melahirkan itu memang benar-benar spiritual.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak, nggak ada yang tahu akan seperti apa. Alhamdulillah masih diizinkan memeluk dan merawatnya.

      Delete
  18. Waw..bikin terharu bacanya, memang perjuangan menjadi ibu tidak mudah, akupun 2x melahirkan kesemuanya SC mba..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasi mbak, la hawla wa laa quwwata illa billah. Semoga diberi kemudahan. Aamiin.

      Delete