Assalamu'alaikum!

Perkenalkan, nama saya Aprilely Ajeng Fitriana. Kalian bisa panggil saya Lelly. Saya lahir di Malang pada tanggal 22 April 1991. Saat ini, saya tinggal di Bogor bersama suami dan anak saya. Blog ini adalah tempat saya mencurahkan segala pemikiran saya dari berbagai peristiwa. Bagaimana saya menghadapinya dan apa saja hikmah yang saya peroleh.

Jun 25, 2019

Produktif dari Dalam Rumah


tetap produktif


Bicara soal produktivitas ini sebetulnya nggak kenal profesi dan di mana orang itu bekerja. Mau kerja kantoran atau kerja dari rumah, ini memungkinkan. Buat saya, produktif adalah tentang bagaimana kita menggunakan waktu kita sebaik-baiknya untuk hal-hal yang bisa menghasilkan value tertentu. Ini mematahkan omongan orang tentang para pekerja yang kerja dari rumah itu nggak produktif. Kita cuma nggak bisa lihat aja gimana dia jungkir balik menyelesaikan tiap pekerjaannya dari rumah.

Dulu, saya termasuk orang yang takut nganggur di rumah. Saya nggak suka liburan terlalu panjang karena biasanya akan terlalu banyak waktu yang saya habiskan dengan hal-hal yang nggak ada faedahnya sama sekali. Belum lagi perdebatan dengan ibu saya kalau lihat anaknya bengong. Semakin tak nyamanlah diri ini.



Waktu kenalan dengan suami untuk menikah dan tahu kalau dia tinggal di Bogor, saya mulai menyiapkan diri untuk melepas pekerjaan saya di Surabaya, dan memulai sesuatu yang baru di Bogor. Mau ngajar atau yang lain itu harus jelas dulu. Saya pun mulai browsing kampus yang punya program studi linier dengan ijazah yang saya punya. Ada 3 pilihan waktu itu dan semuanya swasta. Siapin mental lagi untuk masuk ke kampus swasta dengan aneka tantangannya.

Agak nggak siap sih sebetulnya ngajar di swasta itu. Ini juga yang mendorong saya untuk cari aktivitas lain yang bikin saya tetap produktif, yaitu menulis. Saya mulai serius tuh mendalami bidang ini. Aneka rupa kelas menulis saya ikuti. Mulai dari yang gratis sampai berbayar. Beberapa projek antologi pun demikian. Tujuannya sih untuk build portfolio di bidang ini. Nggak mudah, apalagi waktu itu masih ngajar dan punya tanggungan ini itu di kampus.

Setelah resign dan pindah ke Bogor semuanya dimulai. Welcome to the real jungle.

Saya penulis baru yang sebenaranya nggak kenal-kenal banget sama medan. Bondo nekat dan keinginan kuat untuk terus berkarya. Kaget? Tentu saja. Segala ritme yang dulunya saya jalani berubah 180 derajat. Ini juga yang bikin saya merasa, “kok gue nggak bisa produktif ya?”



Saya coba ngobrol dengan teman saya tentang ini. Kenapa ya saya kok sulit banget ngatur ini itunya di rumah? Padahal saya udah nggak kerja kantoran, mestinya saya bisa lebih fasih ngurus segala hal yang ada di rumah, termasuk merintis pekerjaan baru sebagai penulis. Dari obrolan itu, akhirnya saya ngeh di mana penyakitnya dan gimana caranya untuk terus stay on the track.

Tulisan ini saya racik berdasarkan pengalaman saya hampir setahun ini kerja dari rumah. Jadi, kalau hari ini kamu merasa belum produktif saat kerja dari rumah, atau kamu pingin resign dan kerja dari rumah aja, semoga tulisan ini membantu.


3 Masalah Umum yang Sering Terjadi saat Kerja dari Rumah


“Enak ya, kerja dari rumah, bisa sambil ngurus anak.”
“Enak ya, kerja dari rumah, hemat ongkos transport.”
Dan segala macam enak-enak yang lain.

working at home


Well, kalau mau lihat sisi baiknya ya pasti banyak. That’s true, saya jadi bisa menghemat tenaga yang biasa saya pakai untuk PP rumah-kampus. Nggak cuma tenaga sih, waktu dan duit pun jadi lebih hemat. Kalau lapar juga tinggal ke dapur terus makan. Ngantuk, tinggal tidur siang bentar. Senyaman itu memang.

Terus masalahnya di mana?

Nyaman bukan berarti hidup tanpa masalah. Kerja dari rumah meski amat sangat nyaman juga ngasih tantangan sendiri lho. Apa aja sih itu? Ini dia.

1.   Banyak distraksi

Di kantor, kita punya ruang kerja sendiri. Jauh dari keluarga. Jauh dari anak-anak juga. Jadi, kemungkinan untuk bisa terus fokus dengan pekerjaan itu besar. Nggak jarang sih ada orang yang suka pulang larut untuk menyelesaikan pekerjaan tambahan di kantor. Ya, karena di rumah akan ada banyak sekali distraksi. Anak yang rewel, pasangan yang juga minta diperhatikan, atau tamu yang kebetulan datang.

2.   Waktu kerja yang nggak tentu

Saat kerja di rumah, kita nggak diikat oleh jam kerja apapun. Kalau telat nanti potong gaji nggak ada. Kalau ambil lembur dapat tambahan gaji juga nggak. Kita bisa tentukan sendiri sehari mau kerja berapa jam. Tapi ini yang justru jadi masalah baru. Banyak orang yang akhirnya terlena dengan waktu yang kelihatannya banyak ini. Peluang untuk procrastinating ini jadi lebih besar dari sebelumnya.

3.   Tanpa Boss bikin motivasi loyo

Buat orang-orang yang biasa kerja pakai bos, terus jadi kerja sama diri sendiri ini akan ngerasain banget bedanya. Senyebel-nyebelinnya bos, mereka ini yang membantu kita untuk tetap fokus ke kerjaan kita. Waktu kerja kita juga jadi nggak banyak terbuang sia-sia kalau punya bos yang banyak mau. Ya sih, jadinya emang capek banget.

Beda banget waktu kerja sendiri. Kita bosnya, kita yang buat aturan sendiri. Kita bebas mau ngapain aja. Mau kerja atau leyeh-leyeh aja, bebas! Kalau kita nggak pinter-pinter organize diri kita, ini beneran bisa kacau sih.

Kerja dari rumah artinya kita sendiri yang nentuin mau ngapain aja hari ini. Nggak akan ada limpahan pekerjaan yang mendadak turun dari orang lain. Kita yang jemput, kita yang cari, kita yang upayakan. Kalau motivasi kita kurang, kemungkinan untuk tidak produktif juga akan jadi semakin besar.


3 hal itu yang saya rasakan selama beberapa minggu pertama kerja dari rumah. Kok gini ya. Distraksi yang saya tulis juga nggak meluli dari luar diri kita. Kadang, kita sendiri yang menciptakan distraksi untuk diri sendiri. Apa itu? Aneka rupa grup Whatsapp dan sosial media. Ampun deh soal dua hal ini.

Well, ada masalah bukan berarti nggak ada solusinya ya. Untuk melawan 3 hal ini saya juga udah melakukan beberapa cara. Selama saya nempel terus sama cara ini, selama itu juga saya bisa terus produktif. Tapi kalau nempelnya sama aneka excuse yang ada di atas, ya jadi lain cerita.


Lakukan 5 Hal Ini Agar Kamu Tetap Produktif Bekerja dari Rumah 


Waktu saya masih ngajar di kampus. Saya nggak berani bilang kalau saya selalu produktif selama saya kerja. Cuma karena pekerjaan itu datang silih berganti dan numpuk nggak ada abisnya, saya jadi nggak kurang kerjaan sih. Ritme ini beda banget saya mulai kerja dari rumah. Nggak ada jam kerja, nggak ada bos, dan distraksinya banyak. Saya yang tentukan mau kerja apa dan kapan. Berapa lama saya kerja semuanya terserah saya. Artinya, dalam sehari penuh saya bisa menghabiskan waktu lebih lama dari kerja kantoran. Tapi bisa juga saya nggak ngapa-ngapain seharian penuh. Semuanya bisa terjadi terganting mood dan sikon.

Masalahnya, kita kerja kan nggak cuma lihat mood. Nggak nunggu mood ada dulu, tapi membangun mood itu. Ya, kan? Itu juga yang saya lakukan pada diri saya. Saya bangun sistem kerja untuk diri saya sendiri. Kerja nggak harus nunggu mood, tapi dilakukan karena memang itu jadi keharusan ketika saya menginginkan sesuatu di masa yang akan datang.

1.   Set your workspace

workspace


Kamu nggak harus punya ruang kerja khusus sendiri sih. Tapi kamu bisa mengkondisikan ruangan tertentu yang biasa kamu pakai kerja. Mau kasur, sudut ruang tamu, ruang makan, atau mana aja terserah. Tiap orang yang kerja di rumah pasti punya workspace favoritnya.

Di rumah, saya punya meja kerja yang lengkap dengan kursinya di kamar tidur kami. Ada satu sudut kamar yang biasa saya pakai kerja kalau suami nggak kerja remote dari rumah. Workspace saya jadi pindah ke atas kasur kalau meja kerja itu dipakai oleh suami.

Sebelum mulai kerja, biasanya saya bersihin dulu area kerja itu. Mejanya rapi. Segala keruwetan sana sini diberesin dulu. Lap-lap dulu juga. Suka risih aja kalau kerja terus mejanya debuan. Kalau sudah bersih, jurnal-jurnal yang saya pakai untuk breakdown ide dan planner saya taruh di atas meja. Tentu laptopnya juga ya. Kebetulan saya punya laptop yang bisa diajak kerja tanpa charger cukup lama. Kalau paginya full, setelah pekerjaan selesai, biasanya sih baru habis baterainya.

Nah, untuk laptop ini, saya biasa siapkan dulu malamnya. Jadi, pagi baterai sudah terisi full. Ganggu banget kalau pas lagi asyik-asyiknya kerja terus baterai low.

2.   Lakukan ritual khusus untuk memulai pekerjaan

breakfast


Ritual ini untuk mengkondisikan badan bahwa kita akan memulai pekerjaan kita. Saya biasanya akan memulai setelah sarapan, mandi pagi, sholat dhuha dan pakai skin care routine saya. Sarapan ini penting banget dilakukan biar kita punya tenaga untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Nggak harus banyak sih kalau sarapan ini. Kalau kebanyakan nanti malah ngantuk.

Selain itu, biasanya saya dandan tipis-tipis, meski tetap menggunakan pakaian kebesaran a.k.a daster.. Jadi, rambut dan wajah itu keliatan seger.

“Pakai lipstick, Lel?”

Iya, saya pakai. Bukan buat siapa-siapa, tapi buat diri saya sendiri. Beberapa orang, macem Bu Septi Peni itu, beliau punya baju kerja sendiri saat dia mulai kerja di rumah. Setelah pekerjaannya tuntas, baru deh pakai daster. Tiap orang pasti punya ritual masing-masing yang bikin dia nyaman. Kamu tinggal pilih mana ritual yang paling bikin nyaman.

3.   Set jam kerja

waktu kerja


Enaknya kerja dari rumah itu, kita bisa atur sendiri jam kerja kita. Mau kerja waktu anak sekolah atau tidur, boleh. Mau kerja dari pagi macem saya, juga boleh. Satu hal yang perlu dipastikan adalah kita tahu kapan waktu kita kerja dan batasnya sampai mana.

Terkait jam kerja ini, ada beberapa orang yang mengambil patokan target pekerjaan. Jadi, kalau pekerjaannya belum selesai ya dia nggak akan berhenti kerja. Dengan ritme semacam ini, orang tersebut bisa aja kerja berjam-jam melebihi orang kantoran, bisa juga malah seharian  dia free nggak ngapa-ngapain. Ada juga yang matok jam kerja. Misal, dari jam 9 pagi sampai jam 12 siang dia kerja, jam 12 sampai malam urus anak, kemudian mulai lagi jam 9 malam, setelah anak-anak tidur.

Saya pribadi lebih suka ngasih batasan waktu. Selesai nggak selesai, ketika jam kerja saya habis, saya harus berhenti. Apa bisa tetap efektif? Bisa karena saya punya point ke 5 yang nanti akan saya jelaskan di bawah.

4.   Jauhkan diri dari segala distraksi yang ada

bayi


Tiap orang punya distraksi masing-masing. Tapi distraksi paling besar saat kita kerja di rumah ya anggota keluarga. Entah itu anak minta makan, ngajak main, atau suami yang justru minta untuk dilayani ini itu. Menjauhkan distraksi bukan berarti ngusir mereka jauh-jauh saat jam kerja ya. Bagaimana pun juga mereka punya ha katas kita. Jadi, kita penuhi dulu hak mereka.

Sounding kalau mau menyelesaikan sesuatu dari jam sekian sampai jam sekian mau menyelesaikan pekerjaan juga bisa sih. Tapi yang begini ini baru bisa kalau anaknya udah bisa dikondisikan. Kalau masih bayi ya kita yang ikuti ritme mereka supaya kita bisa konsentrasi kerja.

Bagaimana kalau gangguan yang muncul ternyata dari handphone? Ini saya pernah bahas cara ampuh lain untuk jauh-jauh dari HP supaya bisa tetap fokus di blog ini. Silakan dibaca saja.

5.   Buat target kerja



Saya terbiasa membuat to do list mingguan untuk push diri saya boar bener-bener fokus mengerjakan sesuatu. Dari to do list ini, semuanya punya jadwal sendiri kapan harus selesai. Misal, hari senin saya harus buat satu tulisan di blog. Maka, saya akan berusaha keras menyelesaikannya dalam sehari. Ya risetnya, ya outlining, nulis, hingga editing. Harus selesai hari itu juga gimana pun caranya.

Lalu, bagaimana kalau waktunya habis dan saya belum menyelesaikannya? Maka, pekerjaan saya hari itu akan bergeser ke hari berikutnya. Begitu seterusnya. Artinya, ketika saya menunda pekerjaan atau tidak segera menyelesaikan pekerjaan itu karena satu dan lain hal, maka saya akan punya pekerjaan yang lebih banyak lagi esok harinya.

Cara ini cukup ampuh di saya untuk bisa tetap fokus dan produktif menyelesaikan pekerjaan dari rumah. Di artikel sebelumnya, saya juga sudah jabarkan terkait hubungan antara tujuan dan produktifitas. Jadi, kalau kamu bener-bener pingin bisa lebih produktif, set your goal!


Nah, itu tadi beberapa hal yang saya lakukan berdasarkan pengalaman bekerja dari rumah. Kalau kamu biasanya gimana nih? Share dong di kolom komentar.


with love,


Jun 20, 2019

Kenal Lebih Dekat dengan Domain Authority

DA



Beberapa waktu lalu, MOZ ngupdate metrics-nya lagi. Nggak sedikit juga blogger yang kena dampaknya. Domain Aauthority (DA) yang dimiliki turun. Nggak semuanya turun drastis sih, ada yang tetap stabil, tapi ada juga yang langsung ngesot. Belum surut kehebohan ini, dampak dari dinonaktifkannya Google+ ternyata juga banyak dikeluhkan oleh para blogger. Lagi-lagi DA mereka turun. Buat mereka yang kemarin udah turun gara-gara MOZ update metrics, makin ngenes lah lihat DA mereka yang tinggal seuprit.

Saya salah satunya. LOL

Tapi turunnya DA ini justru bikin saya penasaran, apa sih yang sesungguhnya mempengaruhi DA itu? Apa yang biasanya dinilai oleh MOZ untuk menentukan score DA? Bener nggak sih backlink yang rusak di blog kita itu mempengaruhi merosotnya DA?

Banyak banget pertanyaan di kepala saya tentang DA ini. Jadi, saya belajar sana-sini dari para suhu yang memang paham soal DA. Saya coba rangkum semuanya yang saya dapat itu dalam tulisan ini. Semoga membantu kamu untuk menghilangkan kegundahan di dalam kalbu, macem saya. LOL


Apa sih Domain Authority Itu?

DA


Ketika mulai belajar blogging dengan serius, saya mulai nemu istilah-istilah blogging yang nggak jarang bikin kening berkerut. Termasuk, Domain Authority ini.

“Duh, makanan apa lagi sih ini?”

Siapa yang senasib dengan saya? Angkat tangan!

Domain Authority (DA) atau Otoritas Domain ini merupakan satuan standar yang dikembangkan oleh MOZ. Acuannya tak lain dan tak bukan ya PageRank yang dimiliki oleh Google. DA ini memang faktor yang penting untuk sebuah website atau blog. Kalau dia punya DA yang tinggi, maka bisa dipastikan juga bahwa seluruh komponen di dalamnya juga berkualitas.

DA ini juga membentuk salah satu faktor peringkat yang menentukan di mana sih posisi blog kita akan punya nilai di mata Search Engine. Semakin besar nilainya, tentu saja akan semakin dipercaya, semakin baik dan semakin direkomendasikan oleh Search Engine.

Skor DA punya rentan antara 1-100. Skor yang lebih tinggi akan punya peluang mendapatkan ranking lebih baik. Jadi, kalau blog kita masih unyu-unyunya, baru banget bikin, biasanya skor DA kita adalah 1. Kalau dari curhatan para blogger senior, DA ini dibagi dalam beberapa pembagian skor. 1-11, 11-20, 21-40, 41-60, dan 60 ke atas. Tiap level ini punya kesulitan naikin skor yang beda. Tentu saja, semakin tinggi levelnya, semakin besar pula effort yang harus kita keluarkan untuk menaikkan DA.

Hubungan Domain Authority dan Link

DA


Tutupnya Google+ ternyata punya dampak yang luar biasa untuk blogger yang biasa memanfaatkan situs ini untuk membagikan link atau sekedar jadi pintu saat menuliskan komentar di blog orang lain. Well, artinya link dan domain authority ini memang bersahabat bagai kepompong.

Hal yang perlu diperhatikan adalah hubungan yang dijalin antara DA dan link ini. Penting banget bagi kita untuk membangun link yang berkualitas baik ke tempat-tempat yang relevan dengan konten blog kita. Jadi, nggak bisa sembarangan juga bagi-bagi link.

Lalu, apa sih link yang berkualitas ini?

Link yang berkualitas adalah link yang berasal dari situs web yang punya nilai otoritas tinggi dan kontennya selalu update. Nah, kalau kita berhasil mendapatkan link dari website tersebut, kita akan punya sinyal ke Google kalau blog kita ternyata bisa ngasih nilai lebih untuk pembaca. Selanjutnya, Google akan menempatkan blog kita di peringkat atas mesin pencari karena mendapatkan link kepercayaan dari sebuah website besar dan berkualitas.

Perlu diperhatikan nih. Hindari situs web berkualitas rendah yang terlalu banyak iklan dan kelihatan spammy. Ini penting banget diperhatikan kalau kita nggak mau kena penalty oleh Google.

Ini juga berlaku sebaliknya ya. Maksudnya, kalau kita dapat backlink atau ngasih tautan dofollow pada web besar dan berkualitas. Link-link ini akan punya dampak baik juga ke blog kita. Dari sini, kita jadi belajar juga bahwa kita perlu banget berhati-hati dalam memberikan tautan dofollow pada situs tertentu.


Faktor yang Mempengaruhi Domain Aauthority

DA



Ada 2 faktor yang mempengaruhi DA. Keduanya akan mempengaruhi DA kita merangkak naik atau justru sebaliknya. Apa saja itu?

1.   SEO on Page


Score DA kita akan dipengaruhi apakah page kita ini memenuhi standar SEO. Ya dari templatenya, ya artikelnya. Untuk syarat template yang SEO-friendly, saya sudah pernah tulis di blog. Nah, untuk artikel sendiri, kamu hanya perlu membuat artikel dengan mengikuti kaidah berikut ini.

Keyword

Kalau kita ngomongin tentang SEO, dia memang nggak akan jauh-jauh dari keyword atau kata kunci. That’s why, penting banget bagi kita untuk mulai memikirkan ini sebelum mulai menulis atau membuat konten. Pada prinsipnya, kalau mau tulisan kita ini SEO-friendly sehingga DA juga ikutan naik, kita perlu lakukan hal-hal berikut terkait keyword:
  • Lakukan keyword research. Tentukan topik besar konten yanb mau dibahas, lalu cek ke Keyword Planner yang gratis ini asalkan billingnya nggak diapa-apain ya. Cek yang punya volume cukup besar.
  • Pilih long tailed keyword, maksudnya yang terdiri atas 3-4 kata. Contoh, alih-alih memilih kata kunci ‘kuliner’, pilihlah ‘kuliner khas kota Bogor’. Ini nanti hasilnya akan lebih bagus.
  • Penempatan keyword yang tepat, yaitu di judul, URL, paragraph pertama, subheading, image alt attributes, search description, dan tersebar merata di seluruh artikel secara natural.


Optimasi image

Foto atau image biasanya kita gunakan untuk mempercantik konten yang kita buat. Tapi, jangan lupa untuk memastikan nama file atau image yang kits gunakan mengandung keyword ya.

Jangan lupa juga untuk mengoptimasi image tersebut, terutama size. Supaya nggsk pecah saat loading dan nggak memberatkan kecepatsn loading blog kita.

Judul

Judul yang SEO-friendly itu harus mendeskripsikan konten dengan akurat, dalam artian no clickbait. Usahakan juga 5 kata pertama mengandung keyword. Judul yang dibuat tentu harus persuasive dan clickable ya, sehingga pembaca tertarik.

URL

Sudah tahu kan kalau URL postingan akan otomatis ter-generate dari judul yang kita buat? Masalah muncul ketika kita membuat judul yang panjang sepanjang jalan kenangan. Jangan lupa untu edit URL supaya lebih sederhana dan pendek. Untuk URL ini, cukup gunakan 3-4 kata saja dengan memasukkan keyword. Lakukan editing URL inu sebelum artikel dipublish.

Struktur dan panjang konten

Bagi konten dalam beberapa bagian atau sub bab dengan menggunakan Heading 2, Heading 3, dan seterusnya. Bukan cuma dibold aja ya. Ceritanya akan lain lagi. Ini tujuannya agar konten jadi lebih mudah dibaca, terutama untuk pembaca yang suka banget skimming alias baca cepat.

Panjang artikel juga harus diperhatikan ya. Kalau dari hasil survey-nya Buffer Blog, artikel yang ada di peringkat atas itu punya rata-rata panjang tulisan 2000-2400 kata lebih. Amazing! Bisa mabok beneran kalau nggak biasa nulis sedalam itu.

Artikel yang panjang dan mendalam memang punya kesempatan untuk menduduki top position di Google. Tapi bukan berarti untuk menuju ke sana terus kita panjang-panjangin tulisan kita, hingga penggunaan kalimatnya nggak efisien. Konten yang pointless begini juga bakal diketahui oleh Google sih. Jadi, putuskan dengan bijak mau bikin artikel yang sepanjang apa. Hal yang paling penting adalah tulisan tersebut bermanfaat bagi pembaca.

Link building

Setelah selesai membuat konten, jangan lupa juga untuk menambahkan link ya. Perhatikan beberapa hal berikut ketika akan memasukkan link:
  • Masukkan internal link. Pastikan kata yang akan kuta tautkan adalah keyword dari artikel tujuan yang ditautkan.
  • Jangan bikin link narsis. Ini maksudnya menautkan link ke artikel yang sama. 
  • Tambahkan eksternal link, jika ada rujukan. Nggak usah takut menambahkan external link ke blog kita. Apalagi kalau link tersebut milik web besar yang trustworthy. Alasannya tadi sudah saya jelaskan di atas ya. Link semacam ini akan memberikan sumbangsih kredit plus dari Google.


Isi meta search description

Ini juga penting banget diisi. Elemen ini nantinya akan muncul sebagai snippet di hasil pencarian. Cara ngisinya mudah banget untuk pengguna Blogspot. Isi aja panel ‘Search Description’ yang ada di sebelah kanan bawah.

2.   Fokus pada Link Building

Oke, sekarang ngomongin tentang link. Pada prinsipnya, buang link yang buruk dan dapatkan link yang bagus. Terus, apa aja nih yang perlu diperhatikan dalam link building ini?

Backlinks

Sudah tahu kana pa itu backlink? Iya, backlink merupakan tauran ke blog kita dari situs wes lainnya. Backlink ini merupakan salah satu hal wajib yang juga perlu kita perhatikan dalam manajemen blog. Backlink yang baik akan membentuk struktur web atau blog yang SEO-friendly. Backlink juga penting banget untuk meningkatkan traffic blog kita.

Tapi perlu diingat ya, banyaknya tautan yang berkualitas rendah hanya akan membahayan otoritas domain kita. Contoh, backlink yang asalnya dari situs porno, spamming, atau web yang tidak relevan dengan konten kita. Untuk link-link semacam ini sebaiknya kita hindari.

Salah satu cara terbaik untik menghasilkan link yang berkualitas adalah dengan membuat konten yang sangat menarik, yang punya nilai plus dan segar untuk dibaca. Konten semacam ini akan bisa membentuk pembaca loyal. Kalau mereka suka baca tulisan kita, kemungkinan besar mereka akan share atau menautkan ke konten kita. Tautan macem gini nig yang akan dapat nilak lebih untuk DA kita.

Internal links

Ini maksudnya adalah menautkan dari satu halaman ke halaman lain di blog kita sendiri. hal ini ternyata bisa juga nih mempengaruhi DA kita. Pastikan aja anchor text-nya tepat, dan tautannya relevan. Kalau ini sudah dilakukan, user akan lebih mudah untuk menavigasi blog kita. DA kita jadi naik deh.

Nah, itu tadi beberapa hal yang menentukan kinerja blog kita. Jadi, kalau kita mau DA kita stabil dan cenderung naik, main aman aja. Terus fokus ke konten, main secara natural. Mau diupdate metrics-nya kek, atau Google+ tutup juga nggak akan ada pengaruhnya. Sayangnya, banyak sekali blogger yang mengambil jalan pintas untuk menaikkan DA. Pas jalan pintas tesebut bermasalah, kena deh DA-nya.

Dari aneka fenomena yang sudah kita alami dan rasakan sama-sama, kita bisa mulai memutuskan, mau dibawa ke mana blog kita selanjutnya?



with love,
Lelly Fitriana

Jun 19, 2019

Review Pasang dan Perawatan Behel di Audy Dental Clinic Bogor

klinik gigi


Sebenarnya, saya sudah pakai kawat gigi a.k.a behel dari zaman kuliah. Kisaran 2010 atau 2011 gitu. Lamaaaaa sekali. Udah bertahun-tahun dan nggak kunjung selesai. Padahal, saya ini termasuk orang yang rajin kontrol gigi lho. Tiap bulan nggak pernah lewat.

Baca juga: Pakai Behel, Kan Merubah Ciptaan Allah, Boleh Nggak Sih?

Dulu, pertama kali pasang behel di Malang. Dokter giginya perempuan dan selisih usia kami nggak terlalu jauh. Jadi, seru aja ngobrol dengan dokter. Karena perempuan juga, biasany beliau ngasih lihat kombinasi warna karet behel yang bagus apa. Nyenengin lah pokoknya. Sayangnya, dokter saya harus lanjut studi dan sulit kalau menyesuaikan jadwal saya bisa kontrolnya. Akhirnya, saya dipindahin ke dokter gigi lain di Surabaya karena waktu itu saya lebih banyak tinggal di Surabaya dibanding Malang.

Dokter kedua ini laki-laki. Saya nggak tahu sih masalah gigi saya ini serumit apa, kok sampai pindah dokter gigi tetep aja menyisakan progres yang cukup rumit. Iya sih, ada progres. Gigi saya yang berantakan mulai rapi. Gigi saya yang cahem juga udah mulai mundur. Cuma masalah miring kanan kiri ini yang jadi PR.

Hingga saya harus pindah ke Bogor. Sebelum pindah saya udah bilang sih ke dokter saya. Beliau juga bilang mau carikan dokter gigi di sana. Tapi sampai saya pindah kabar itu belum ada. Mungkin nggak ada yang mau kali ya.

2 bulan stay di Bogor otomatis nggak bisa kontrol gigi dong. Gigi saya pun mulai bermasalah. Bengkak sana-sini. Ini sebetulnya bukan kali pertama saya mengalami hal serupa. Bengkak dan sakit ini yang bikin saya lumaya rajin kontrol. Nggak mau aja sakit duluan baru kontrol gigi. Kalau bisa dicegah, kenapa nggak?

Tidur nggak nyenyak. Makan juga nggak bisa. Akhirnya, saya minta suami untuk carikan dokter gigi di Bogor. Perjalanan cari dokter gigi pun dimulai.


Cari Dokter Gigi Baru di Bogor



Dari apa yang saya tahu, nggak semua dokter mau menerima ortho. Jadi, nggak bisa sembarangan juga. Kebetulan nih, ada sepupu suami yang pakai behel dengan kasus yang mirip-mirip sama saya. Gigi cahem dan aneka macam masalah lain. Saya minta suami untuk menanyakan dokternya siapa dan minta kontak dokter tersebut. Maksud hati, supaya saya bisa menjelaskan kondisi saya dulu sebelum control.

Singkat cerita, saya dapat kontak salah satu dokter gigi di Bogor, namanya drg. Iik Yani Hidayati. Beliau biasa praktik di Klinik-Q atau di Rumah Sakit Islam. Setelah cerita kondisi saya, dokter menyarankan agar kami ketemu dulu untuk konsultasi. Dokter juga tidak memutuskan apakah mau melanjutkan penanganan tertentu kalau belum lihat sendiri kasusnya bagaimana. Akhirnya, kami janjian untuk konsultasi.

Hari yang ditunggu tiba. Saya ketemu langsung dengan drg. Iik di ruang praktiknya. Kami ngobrol terkait masalah gigi yang saya hadapi ini. Gusi yang meradang dan lain sebagainya.

“Saya lihat dulu ya,” kata drg. Iik.

Setelah melihat kondisi gigi saya, dokter tidak berani memberikan penanganan apapun terkait gigi saya ini.

“Wah, ini PR-nya masih banyak sekali. Kalau tinggal melanjutkan saja, saya nggak apa-apa sih. Tapi ini kasusnya kompleks dan masih banyak PR yang harus diselesaikan. Saya nggak berani pegang nih. Termasuk untuk nangani gusi bengkak itu.”

Jadi, behel saya beneran nggak diotak-atik sama sekali oleh drg. Iik. Cuma dilihat aja sebentar. Sebelum pulang, saya diresepkan obat untuk mengurangi radang gigi saya. Obat kumur aja sih. Beliau juga menyarankan saya untuk konsultasi ke dokter spesialis ortho, yaitu drg. Andi.

“Saya kasih rujukan ke drg. Andi ya. Nanti kamu bisa konsultasi ke beliau terkait behel itu. Nggak tahu sih apa drg. Andi mau melanjutkan perawatan atau tidak. Coba aja dulu. Sementara waktu, pakai obat kumurnya dulu untuk menenangkan radangnya.”

Seminggu berlalu, radang mulai membaik, meski masih sakit juga sih. Saya lanjut konsultasi ke drg. Andi. Di pertemuan itu, Beliau menjelaskan kasus saya panjang lebar dan memberikan penanganan emergency untuk gusi saya yang bengkak itu. Kata beliau, kalau peradangan ini masih berlanjut, saya harus konsultasi ke dokter spesialis perio untuk melakukan tindakan bedah mulut.

Nggak nyangka aja sih kasusnya bisa sekomplek itu sampai harus ada tindakan bedah. Saya kira cuma radang karena karet yang nempel di behel semakin tidak terkendali. Denger itu, agak ngeri-ngeri sedap. Tapi saya jalani dulu apa yang dokter sarankan.

Alhamdulillah, setelah tindakan emergency itu, gusi saya membaik. Nggak perlu sampai ke dokter perio. Tapi ini masalah behel masih jadi PR. Kondisi yang sama bisa saja berulang kalau ini nggak dilepas atau dilanjutkan perawatannya. Oya, drg. Andi nggak mau melanjutkan perawatan karena ada beberapa hal yang memang harus diganti supaya gigi saya punya progress yang signifikan.

“Berapa dok, biaya pasang barunya?”
“Kalau di saya 20 juta.”

Alamak, mahal kali. Awalnya sih mau pakai uang tabungan sendiri untuk pasang behel, tapi melipir denger harganya. Saya coret opsi pasang gigi ke dokter Andi. Hahaha…nggak kuat bayar meeen.

Setelah kondisi saya membaik, saya diskusi sama suami terkait masalah gigi saya ini. Nggak bisa didiemin aja. Khawatirnya nanti malah timbul masalah lain. Suami minta saya untuk terus menghubungi dokter saya di Surabaya, menanyakan terkait rujukan ke dokter gigi di Bogor. Kami juga mulai cari alternative klinik gigi yang menerima pasang behel selain di Klinik-Q. Bukan klinik gigi abal-abal yang ada di pasar gitu ya. Tapi yang ditangani oleh dokter gigi betulan.


Kontrol Gigi di Audy Dental Bogor


Audy Dental Bogor
Audy Dental Bogor


Pencarian kami berakhir pada Audy Dental Bogor. Kebetulan itu klinik gigi yang muncul di map dan punya dokter spesialis ortho. Iya, kami cari dokter spesialis biar nggak dilempar-lempar lagi. Klinik ini ternyata punya banyak cabang di Jabodetabek. Masing-masing cabang punya banyak dokter spesialis sesuai dengan kebutuhan pasien. Nilai plusnya lagi, Audy Dental ini juga menawarkan banyak sekali paket promo. Lumayan lah kalau mau ngirit bisa ke sini.

Tergiur oleh harga promo itu, saya mulai hubungi kontak yang ada untuk area Bogor. Kemudian saya buat jadwal konsultasi dengan salah satu dokter di sana. Saya nggak tahu sih nanti mau konsultasi dengan dokter ortho yang mana.

Waktu lihat profil dokter di Audy Dental ini, ternyata yang saya lihat dokter-dokter dari seluruh cabang. Nggak neliti siapa yang praktik di Bogor. Suami saya nih yang akhirnya nemu jadwal control gigi sekaligus nemu siapa aja dokter spesialis ortho yang merawat.

“Dek, ini ada dokter Andi nih. Jangan-jangan dokter Andi yang itu.”

Dan betul saja. Jadwal konsultasi saya ternyata dengan dokter Andi. Setelah ketemu langsung dengan beliau juga dokter Andi yang kemarin di Klinik-Q. Ini beneran jodoh ya bisa ketemu drg. Andi.

“Dok, ini dilepas aja nggak apa-apa. Terus pasang baru.”

Karena sebelumnya kami juga udah ngobrol. Saya juga udah dikasih saran oleh beliau dan saya sendiri juga udah bawa foto panoramic gigi, jadi proses kali ini lebih cepet bagi saya untuk memutuskan perawatan lanjutan seperti apa.

“Yakin nih?” tanya dokter sekali lagi.
“Iya, Dok. Yakin.”

Saya pun diminta untuk menandatangani surat pernyataan untuk pelepasan behel sebelum tindakan medis dilakukan. Setelah itu, behel saya mulai dilepas satu per satu dan dibersihkan oleh dokter. itu rasanya nano-nano syekali.

“Sementara begini dulu ya. Coba untuk libur pakai behel sebulan dulu. Rasanya jadi lain sih kalau udah biasa pakai behel, terus dia dilepas. Untuk administrasi pemasangan, kamu langsung tanya aja ke resepsionis di bawah ya.”

Itulah akhir behel yang sudah terpasang sekian tahun di gigi saya. Setelah ini aka nada behel baru yang menghiasi gigi saya.


Pasang Behel di Audy Dental Bogor


Ruang tunggu yang nyaman


Kesan pertama konsultasi di Audy Dental Bogor ini menyenangkan. Mereka punya ruang tunggu yang nyaman. Ruang praktik dokter juga nggak serem. Sayangnya, saya nggak bisa fotoin bagian dalam ruang praktiknya karena harus dengan seizin manajemen dulu.

Audy Dental Bogor juga menyediakan free minuman, macem teh, kopi, atau air mineral biasa kepada pengunjung. Jadi, sambil ngantri, boleh tuh bikin kopi atau teh sendiri. Gratis. Saya sih ambil air mineral aja karena nggak terlalu suka kopi dan teh.

Audy Dental Bogor
Desain modern dan ada televisinya yang bikin nggak bosen nunggu antrian dokter


Resepsionis ramah, dokternya ramah, lalu tenaga medis yang bantu dokter juga ada 2, jadi beneran cepet banget dan nyaman.

“Mbak, saya mau pasang behel. Promonya masih berlaku kan ya, Mbak?”

Lalu, mbaknya jelasin paket-paket yang bisa saya pilih dan kapan saya mau dijadwalkan kontrol lagi dengan drg. Andi. Paket behel ini bervariasi, dari behel sejuta ummat sampai behel yang biasa dipakai artis-artis itu ada semuanya di sini. Harganya dari 6 jutaan sampai puluhan juta tergantung dari bahan brachet yang dipilih. Saya sih pilihnya yang murah meriah aja. Wkwkwk..

Mbaknya juga jelaskan sistem pembayaran yang bisa kami pilih. Mau tunai atau dicicil terserah. Harganya sama aja kok. Kami waktu itu pilih bayar tunai karena masih terjangkau. Maksud hati, biar nggak ada tanggungan hutang sana sini juga sih.

Area parkir mobil yang cuma segini aja :(


Kekurangan dari klinik ini menurut saya ada di tempat parkirnya. Agak susah ya cari parkir mobil. Kalau motor masih mudah sih. Kadang kami harus parkir mobil jauuuh dulu dari klinik.

Oya, Audy Dental Bogor ini juga punya dokter gigi spesialis anak. Saya nggak tahu sih dokternya seperti apa. Ramah anak atau nggak. Tapi menurut saya, ini cukup bikin anak tenang dengan aneka fasilitas yang mereka punya. Saya pernah lihat sendiri bocah yang keasyikan main di situ dan biasa aja waktu kontrol gigi di sana. Nggak ada drama tangisan histeris juga.

Selama beberapa bulan menjalani perawatan di sana, saya puas banget dengan semuanya. Ya fasilitasnya, ya dokternya, ya tenaga medisnya. Untuk jadwal konsultasi dengan dokter nggak bisa langsung datang ya. Harus buat janji dulu sebelumnya. Saya cantumkan alamat beserta kontak dari kliniknya ya. Kalau butuh bisa langsung hubungi kontak yang tertera di bawah.


Audy Dental Clinic Bogor

Jl. Pandu Raya No. 145, Bogor

WA : +62 813-8880-8686

Telp : +62 251 8342780


Jun 18, 2019

Tak Kenal, Maka Tak Sayang

"Kamu bangga nggak jadi Muslim?"


ta'aruf


Kalau pertanyaan semacam ini ditanyakan pada saya 10 tahun yang lalu, mungkin saya akan sangat bingung menjawabnya. Apa yang bisa saya banggakan dari menjadi seorang muslim? Apa yang membuat saya unggul dibanding memilih agama-agama yang lain?

Saya bingung karena saya sendiri belum mengenal Islam lebih dalam. Saya bingung menjawabnya karena saya sendiri menjalankan kewajiban juga masih ala kadarnya, bahkan cenderung lalai.


Virus Islamophobia

islamophobia


Dulu, saya belajar agama hanya sebatas sholat dan membaca Alquran. Saya bisa sholat, saya bisa mengaji. Tapi saya tak mampu menjadikan Alquran sebagai petunjuk hidup saya. Bagi saya saat itu, tak ada bedanya Alquran dengan buku-buku yang lain. Sekali lagi, karena saya tidak paham isinya.

Waktu SMA, isu pergerakan dakwah yang menyeramkan mulai terhembus. Banyak gerakan dakwah yang katanya siap mencuci otak orang-orang yang berinteraksi dengan mereka agar ikut ajaran yang mereka bawa. Katanya, ada sekelompok ekstrimis yang bahkan kalau kita sholat di masjid mereka, kita dianggap najis hingga harus mengepel seluruh lantai masjid.

Tahun 2009, ketika saya hendak hijrah ke Surabaya, orang tua saya berpesan agar saya berhati-hati dengan masjid kampus. Sebaiknya, tidak banyak interaksi dengan mereka.

"Kalau kamu nggak hati-hati, kamu bisa dicuci otak oleh mereka. Kita nggak pernah tahu di dalam masjid ada kelompok macam apa saja. Ada yang aman, ada yang nggak."

Sejujurnya, saya tidak paham apa yang orang tua saya maksud. Tapi pesan mereka semakin membuat saya menjauh dari masjid. Semua saya lakukan sebagai tindakan preventif.

Saya nggak bisa menyalahkan orang tua saya. Bagaimana pun juga isu semacam ini berhembus santer sekali. Media sosial yang meluruskan pandangan semacam ini juga nggak ada. Kami nerima semua berita itu bulat-bulat, tanpa punya kesempatan untuk tabayun.

Saya yakin, saya bukan satu-satunya orang yang merasa demikian. Ada jutaan muslim yang mungkin ngeri untuk memperdalam agamanya. Ngeri untuk mengenal lebih dalam agamanya. Ngeri untuk sepenuhnya menjadi taat.

"Jadi muslim yang biasa-biasa aja lah. Nggak usah yang terlalu kaku."

Dulu, saya mengamini ini. Saya percaya jadi ekstrimis itu hanya akan memperburuk citra Islam. Belum lagi pandangan-pandangan aneh mereka ketika menyikapi sesuatu. Ah, semua begitu tak masuk akal di benak saya.


Ta'aruf dengan Islam

ta'aruf


Hingga negara api menyerang....

Nggak deng, bukan negara api. Tapi Allah bukakan pintu hidayah untuk saya. Allah lembutkan hati saya ketika mencuri dengar salah satu liqo' di mushola kampus.

Iya, itu adalah awal mula saya belajar Islam. Saya belajar untuk meyakini bahwa Allah itu ada. Allah yang menciptakan dan mengatur segalanya. Saya belajar bagaimana menjadikan Alquran sebagai petunjuk hidup saya. Memahami konsekuensi dari syahadat yang setiap kali sholat saya ucapkan.

اَشْهُدُ اَنْ لَا  اِلهَ اِلَّا اللهُ

"Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah."

Mengenal Islam menjadikan diri saya tak lagi sama seperti dulu. Saya mulai merasakan nikmatnya hidup dalam Islam, meskipun saya belum siap untuk menjalankan semuanya secara utuh. Ada pergolakan batin yang besar yang saya alami kala itu sebelum saya berusaha menjalankannya secara menyeluruh.

"Kenapa ya mau jadi baik aja susah?"
"Kenapa ya mau taat aja susah banget?"
"Kenapa ya mau nurut Allah aja kok masih banyak tapi?"


Hijrah

movement


Tidak selamanya proses belajar saya itu berjalan mulus. Ada masa di mana saya menyerah dengan semuanya dan memilih untuk menjadi pribadi yang sama. Saya pikir itu adalah pilihan terbaik untuk saya. Saya akan bahagia dan nyaman menjalani semuanya.

Ternyata saya salah.

Tahu dan tidak melaksanakan justru menjadi boomerang untuk saya. Ada aneka ragam perasaan yang berkecamuk terus menerus yang mendorong saya untuk taat. Tapi ya itu, sekali lagi hawa nafsu saya mengatakan jika saya belum siap. Saya belum cukup percaya diri.

Perjalanan hijrah secara serius pun saya jalani. Saya mulai mencari tahu Islam lebih dalam. Belajar dari satu guru ke guru yang lain. Mencari satu hal yang betul-betul memuaskan akal dan perasaan saya. Mencari satu kekuatan yang mampu mendorong saya untuk tak lagi menunda taat.

Nggak sebentar perjalanan yang saya tempuh hingga saya mau berubah setahap demi setahap. Aneka ragam ujian pun mulai datang dari kanan kiri saya. Tak jarang deraian air mata bercucuran karena tak tahan dengan apa yang mereka sampaikan. Tapi saya berhasil bertahan untuk tidak kembali ke masa lampau. Saya bertahan untuk terus memperbaiki diri.


Kenal Dulu Kalau Mau Sayang


Saya nggak pernah menyangka sebelumnya, jika saya bisa duduk di depan forum untuk menyampaikan Islam. Saya nggak pernah menyangka sebelumnya, jika saya bisa merindukan peradaban Islam kembali berjaya.

Hari ini ketika saya mendengar mereka yang takut dengan Islam, memandang Islam sebelah mata, menyudutkan Islam, bagi saya mereka begitu hanya karena mereka belum mengenal Islam. Ketika mereka kenal Islam lebih dalam, belajar Islam lebih dekat, bukan hanya katanya ini dan itu, saya yakin rasa sayang itu akan muncul.

Sama seperti rasa sayang di antara kita, ada ketika kenal satu sama lain.






with love,



Jun 17, 2019

Antara Tujuan Hidup dan Produktifitas

Kemarin malam, pas lagi kencan sama suami, kami ngobrol-ngobrol santai soal tujuan hidup. Ada pertanyaan yang sebetulnya bergelayut di kepala saya. Apa iya, ketika kita punya tujuan hidup yang jelas, kita bisa jadi orang yang jauh lebih produktif?

Jawaban suami nih yang agak menggelitik dan nggak sesuai espektasi saya.

"Nggak selalu. Ada juga orang yang punya tujuan hidup tapi hidupnya ya nggak produktif-produktif amat."

Really? Kok bisa? Kenapa begitu?

Productivity


Jawaban suami ini yang akhirnya justru memunculkan aneka macam pertanyaan baru. Bikin mikir lagi. Kontemplasi lagi. Dan banyak nginget-nginget orang-orang di sekitar tentang tujuan hidup dan seberapa produktif sih dia menjalani hari-harinya. Saya juga jadi flash back ke diri sendiri, bertanya pada diri sendiri sejak kapan sih saya punya tujuan hidup yang jelas, lalu seberapa produktif sih saya menjalani hari-hari saya setelah memilikinya.


Perihal Menetapkan Tujuan Hidup


Goals


Dulu, waktu kecil ketika kita ditanya mau jadi apa, rasanya mudah sekali untuk menjawab pertanyaan tersebut.

"Aku mau jadi dokter."
"Aku mau jadi arsitek."
"Aku mau bikin pesawat terbang."

Atau mungkin jawaban antik semacam, "aku mau jadi batman."

Mudah banget menjawab pertanyaan itu. Seiring berjalannya waktu, ketika kita udah mulai kenal kesulitan hidup, sulitnya soal-soal Fisika, Kimia, Biologi, dan Matematika. Menjawab pertanyaan, "apa cita-citamu?" Bukan lagi menjadi perkara yang mudah.

Banyak pertanyaan pada diri sendiri yang kita tanyakan sebelum menjawab pertanyaan itu. Semua pertanyaan yang bermuara pada seberapa kenal kita dengan diri kita sendiri. Siapa saya? Hidup saya ini mau dibawa ke mana?

Beberapa orang setelah mereka paham realitas hidup, mimpi-mimpi mereka menjadi semakin jelas. Mereka tahu ke mana mereka harus membawa hidup mereka itu. Sedangkan, beberapa orang yang lain justru semakin bias. Semakin bingung mau jadi apa dan akan dibawa ke mana hidup mereka.


Tujuan Memudahkan untuk Merencanakan Hidup


goals


Punya tujuan hidup yang jelas itu akan sangat amat membantu kita untuk menentukan tiap langkah ke depan yang mau kita ambil. Baik itu rencana jangka pendek, maupun yang jangka panjang.

Ini ibaratnya kita lagi di terminal dan mau naik bus. Kalau kita tahu tujuan kita ke mana, mudah banget pilih bus yang bisa nganter kita sampai ke tujuan. Lain cerita kalau kita sendiri bingung mau ke mana. Bisa jadi kita jadi banyak bengong di terminal bus sambil menatap nanar bus yang datang silih berganti. Atau mungkin kita justru naik bus random aja, terserah mau ke mana, asal bisa keluar dari terminal itu.

Dua-duanya memang bisa banget bikin kita keluar dari kondisi awal. Tapi ya tetep aja proses yang dijalani akan beda.

Misal, mau ke Surabaya dari Aceh. Oh, berarti abis naik bus A ntar ganti bus di sini. Abis itu naik kapal untuk nyebrang ke Jawa. Terus ganti bus lagi. Kalau udah sampai Surabaya, nanti naik angkot B untuk bisa sampai ke tempat tujuan. Atau kalau mau cepet, naik ojek aja. Semuanya jadi jelas dan bisa diorganisir dengan baik. Termasuk, bagaimana kita mengkondisikan badan kita untuk bisa tetap prima sampai di sana.

Tapi semua akan lain kalau kita random aja pilih bus. Tujuan nggak penting, asal busnya adem, misal. Iya sih, hidup kita jadi enak naik bus adem tadi. Tapi lihat deh dampak selanjutnya yang kita rasakan. Buang waktu iya, energi iya, bahkan duit.

Iya kan? Misal, naik bus ke Semarang random aja gitu. Eh, pas udah sampai Semarang nyesel.

"Ih, kok panas sih? Kok gini sih? Kok gitu sih?  Pindah tempat aja deh."

Trial and error akan terjadi beeeerulang kali entah sampai kapan untuk target yang bahkan kita aja nggak tahu itu apa.

Dalam hidup pun sama, kalau kita punya tujuan yang jelas, perencanaan hidup juga jadi lebih mudah. Misal, pingin masuk surga sama-sama sekeluarga. Dari sini, tentu kita bisa merencanakan action plan yang harus kita jalani ke depan. Ya ke diri sendiri, ya ke keluarga.

Salah satu contoh, kalau hari ini masih banyak banget mengabaikan perintah Allah, mulai hijrah dan melaksanakan apa yang Allah perintahkan. Kalau dulu nggak sholat, sekarang sholatnya dibenerin. Kalau dulu puasa Ramadhan suka bolong tanpa udzur syar'i, sekarang dibenerin juga. Kalau dulu belum berdakwah, mulai dakwah. Dan masih banyak hal lain. Tinggal cek aja ke diri sendiri kurangnya apa.


Jadi Produktif


Produktif


Saya pernah bertanya-tanya tentang orang-orang yang produktifitasnya luar biasa. Ya dakwahnya, ya pekerjaannya, ya di keluarga. Kok bisa ya mereka begitu?

Ada satu hal yang menarik yang menjadi benang merah dari orang-orang produktif ini, yaitu tentang bagaimana mereka merencanakan harinya. Hari ini saya mau begini, besok mau begitu, dan seterusnya mereka tahu. Hari ini jam sekian saya harus begini, jam sekian harus begitu, itu juga tertata dengan baik. Dari perencanaan yang mereka buat, mereka berusaha semaksimal mungkin menyelesaikan semuanya. Menepati waktu bukan hanya ketika janjian sama orang, tapi juga ke diri sendiri.

Saya pernah coba ini ke diri saya. Hasilnya memang beda ketika saya buat perencanaan yang detail terkait waktu kerja dan tidak. Batasan waktu yang saya tetapkan memaksa saya untuk fokus menyelesaikan satu pekerjaan sebelum pindah ke pekerjaan yang lain. Hal ini ternyata betul-betul membantu saya untuk mendapatkan hasil kerja yang jauh lebih banyak dibanding ketika saya tidak merencanakan dengan detail.

Ketika saya tidak menerapkan kandang waktu untuk diri saya sendiri, biasanya saya akan lebih banyak membuang waktu untuk menunda pekerjaan. Alih-alih mengerjakan ini itu, bisa saja saya pilih menghabiskan waktu untuk scroll social media, tidur, nonton film, dan aneka kegiatan tak berfaedah yang lain.

Kamu bisa coba sendiri dan bandingkan mana sih yang bisa bikin kamu lebih produktif. Ketika kamu punya perencanaan yang baik, bagaimana hasilnya? Dan kalau kamu asal saja menjalani rutinitas, bagaimana hasilnya?


Cita-Cita Bukan Angan Kosong


Cita-cita


Cita-cita atau tujuan hidup seseorang banyak atau sedikit pasti akan memberikan trigger bagi orang tersebut untuk bergerak dan mulai mengusahakan mimpinya. Cita-cita itu juga yang menuntut orang untuk merencanakan langkah ke depan.

"Oh, saya mau jadi dokter berarti saya harus kuliah kedokteran untuk bisa menguasai ilmunya dan dipercaya untuk bisa praktik."

"Saya mau jadi penyanyi. Berarti mulai sekarang harus banyak-banyak latihan vocal untuk memperbaiki dan menjaga kualitas suara."

"Saya mau jadi MC kondang. Berarti saya harus belajar public speaking."

Dan masih banyak lagi.

Mimpi itu yang menuntun kita untuk merencanakan langkah ke depan. Perencanaan itulah yang nantinya akan menjadi guidance untuk ngapain aja.

Buat saya, kalau kita cuma mimpi tanpa mengupayakan sesuatu, itu macem halusinasi aja. Semuanya akan jadi angan kosong belaka.

Gimana pun juga ketika kita berani untuk bermimpi, maka kita juga harus berani mengusahakannya. Nggak cuma ngomong doang sih. Kalau kayak gitu sih semua orang juga bisa.

Mimpi harusnya bisa jadi motivasi kita untuk melangkah. Dia bukan hanya sekedar kata-kata belaka, tapi ada realisasi untuk mewujudkan itu semua. Langkah demi langkah itulah yang menjadikan kita pribadi yang semakin produktif dalam keseharian kita.

Jadi, tentang apa yang suami saya bilang. Ya memang ada manusia semacam ini. Mereka punya tujuan hidup tapi tidak menjadikan mereka semakin produktif. Orang-orang ini nih yang kita sebut manusia pengkhayal tingkat satu.

Karena mimpi tanpa realisasi sama saja dengan halusinasi.



with love,


Jun 14, 2019

Ternyata, Dia Bukan Jodohku

Bulan Syawal itu selain identik dengan silaturahim ke saudara ternyata juga identik dengan musim nikah. Di bulan ini, undangan nikah akan meluncur dari penjuru arah mata angin. Ya dari temen sekolah, temen kuliah, temen kerja, temen kerja di tempat yang dulu, tetangga. Banyak.

Nggak perlu heran sih. Rasulullah dulu menikahi Ummul Mukminin Aisyah ra. di Bulan Syawal. Jadi ya wajar kalau banyak banget yang ngikut nikah di Bulan Syawal juga.

Saya yakin seluruh calon pengantin di penjuru nusantara yang rencananya mau nikah bulan ini, pasti lagi hectic banget siapin ini itu. Karena ya makin deket hari h, makin banyak hal yang harus dipastikan ada pas acara nikahan nanti. Ini belum lagi soal konflik-konflik yang tiba-tiba aja muncul ketika sudah sepakat untuk menikah. Entah itu konflik dengan pasangan, maupun dengan orang tua. Ada aja. Saking banyaknya, sampai nggak sempet buat deg-degan lagi.

jodoh


Sayangnya, di tengah hiruk pikuk orang yang lagi siapin nikahan atau siap-siap mau kondangan, ternyata ada juga nih kaum-kaum yang gagal nikah. Udah lamaran, terus batal nikah. Udah siapin ini itu buat nikahan, eh nggak jadi nikah. Atau bahkan udah mulai sebar undangan nikah ke khalayak ramai, terus harus cabut lagi undangannya karena batal nikah.

Untuk kamu yang hari ini lagi ngalamin potek-poteknya hati karena nggak jadi nikah, I feel you, guys. Ngerti banget gimana rasanya. Bingungnya jelasin ke orang tua pas akhirnya nggak jadi. Terus malunya ke keluarga atau orang-orang terdekat yang tahu kalau nggak jadi. Belum lagi pertempuran dengan diri sendiri perkara menerima kenyataan pahit itu.



I feel you. Saya cuma bisa ngasih virtual hug ke kamu yang hari ini lagi ngalamin itu. Saya tahu itu berat sekali. Apalagi kalau kamu ada di posisi yang ditinggalkan. Tapi percayalah bahwa sesuatu yang rasanya nggak enak dan super pahit ini, one day akan kamu syukuri sebagai bentuk rasa sayangnya Allah ke kamu.

Saya bisa ngomong gini juga karena pernah mengalami hal yang serupa. Waktu itu umur saya masih mudah banget. 24 tahun, baru lulus S2, dan pingin banget segera menikah. Alhamdulillah, keinginan itu disambut baik juga dengan datangnya seorang laki-laki dalam hidup saya. Tanpa babibu, setelah kenal dan mulai merasakan kecocokan, kami memutuskan untuk menikah. Mulai tuh acara lamar-lamaran. Keluarganya datang ke rumah untuk mengungkapkan maksud kedatangan mereka.

Waktu itu, rasanya mimpi udah makin dekat lagi. Bentar lagi mau nikah. Bahagia bukan kepalang.

Tapi bahagia itu kemudian lambat laun menyusut. Kok rasanya cuma saya yang heboh siapin ini itu. Urus ini itu. Sedangkan dia, bahkan urus berkas ke KUA aja belum. Alasannya sih, masih sibuk dengan pekerjaannya. Sikapnya itu juga yang kemudian membuat orang tua saya jadi mempertanyakan keseriusannya, "mau nikah nggak sih?"



Berbagai argumen saya keluarkan untuk belain dia. Saya nggak pingin ada konflik antara dia sama orang tua saya sebelum nikah dong. Alhamdulillah, orang tua saya juga mau ngerti soal itu. Hingga akhirnya, macem udah gemes juga ya, mereka ngajak saya untuk datang ke rumah orang tuanya.

"Ayah sama ibu mau ngobrol dengan orang tuanya."

Momen itu kemudian jadi momen rapat keluarga untuk menentukan tanggal pernikahan dan segala printilan-printilan nikah. Menyepakati ini itu. Agak nyindir dia juga sih yang sampai sekarang belum urus berkas ke KUA.

Udah, sepakat. Saya dan orang tua saya pulang ke rumah. Besoknya, kami mulai nyari-nyari catering, dekor, make up, dan segala macemnya. Keliling Malang berdua sama Ibu. Masyaa Allah ya kalau inget perjuangannya waktu itu. Bahkan kami pernah hujan-hujanan nyari lokasinya, terus kelaperan dan akhirnya ngedeprok di warung mie ayam di Jalan Soekarno Hatta. Random aja. Saking lapernya.

Itu masih survey tuh. Setelah pilih-pilih vendor, kami mulai hitung budget nikah nih. Pas lagi siapin perduitan itu, tiba-tiba negara api menyerang. Datanglah sebuah pengumuman kalau saya diterima di PENS.

DEG!



Saat itu juga, feeling nggak jadi nikah mulai muncul tuh. Antara seneng dan lemes, saya kasih tahu orang tua saya. Seneng banget dong mereka, akhirnya anaknya ini diterima kerja di kampus negeri. Politeknik terbaik di Indonesia.

"Tapi dia nggak mau istrinya kerja satu kampus bareng dia."

Raut wajah orang tua saya langsung beda. Agak sebel juga. Menurut saya sih, itu akumulasi dari segalanya. Kami lelah siapin nikahan, sedangkan dia seselow itu. Terus belum jadi suami saya udah ngatur-ngatur duluan.

Yes, kabar gembira itu yang akhirnya jadi konflik di antara kami. Singkat cerita,

"Aku nggak bisa lanjutin ini semua," katanya. Oke. Baik. Semuanya selesai saudara-saudara. Agak konyol sih, tapi ya begitulah akhir kisah kami.

Setelah keputusan itu, saya tahu ibu saya jadi down juga. Sempat sakit juga. Saya? Oya sama. Down-lah pasti. Siapa sih yang nggak merasa terguncang ketika nggak jadi nikah?

Hal yang jauh lebih menyakitkan adalah ketika saya datang di kampus dan orang-orang udah pada kenal kalau saya ini calonnya dia. Tiap kali kenalan, mereka tanyain. Padahal, kami udah selesai. Cekit-cekit banget. Mulut berusaha senyum nanggepin joke mereka, tapi hati teriris.



At the end, saya bilang kalau saya bukan calonnya lagi. Saya pikir itu jalan terbaik untuk berhenti menyakiti diri sendiri. Iya, mungkin akan ada banyak pertanyaan ke saya lagi. Banyak orang yang ingin mengorek cerita itu. Lebih sakit lagi. Tapi itu cara tercepat untuk bisa sembuh.

Macem kita lagi luka, berdarah. Terus dikasih alkohol. Perih buanget sih emang, tapi lukanya jadi cepet kering.

Satu hal yang perlu saya syukuri saat itu adalah saya masih yakin bahwa sepahit apapun yang saya rasakan, itu adalah jalan terbaik yang Allah pilihkan untuk saya. Karna nggak semua orang bisa begitu. Ketika ada di posisi yang nggak enak banget gitu, bisa aja saya nyalahin Allah dan benci sama Allah. Alhamdulillah, itu nggak terjadi sama saya. Justru dengan itu saya jadi makin banyak inget Allah dan curhat sama Allah.

Mungkin, karena itu juga Allah sembuhkan luka itu nggak lama.

Beberapa minggu berlalu setelah pernikahan kami batal, saya mulai ngeh tuh dia orangnya seperti apa. Ternyata, baiknya dia menurut orang lain, nggak match dengan saya. Banyak hal yang mungkin justru akan menyulitkan diri sendiri.




Saya nggak bilang kalau dia orangnya jahat ya. Dia cuma bukan sosok terbaik untuk saya. Dan Allah tunjukkan semua itu.

Kalau kamu adalah salah satu di antara mereka yang nggak jadi nikah, cara terbaik untuk bangkit dan sembuh dari luka adalah dengan percaya rencana Allah. Percaya aja. Nggak perlu denial karena itu akan bikin kamu semakin terluka. Ikhlasin aja semuanya. Minta sama Allah untuk sembuhkan luka yang ada di hati kamu saat ini.

Ingat, Allah yang ngatur segalanya. Allah yang kasih kamu luka. Allah juga yang mampu sembuhkan luka itu. Allah yang cabut rasa bahagiamu, Allah juga yang nanti akan ganti dengan sesuatu yang jauh lebih baik.

Seperti hari ini, saya bersyukur sekali nggak jadi nikah sama dia. Kalau misal jadi, saya nggak bakal ketemu suami saya. Satu kebahagiaan tersendiri sih akhirnya Allah bisa sandingkan saya dengan suami saya.

Kamu juga suatu saat akan begitu. Jangan menyerah. Jangan putus asa. Sedih itu boleh kok. Nangis sejadi-jadinya itu boleh banget. Tapi kamu harus ingat, ada momen di mana kamu harus belajar bangkit dari keterpurukanmu. Semangat.


with love,