Pakai Behel, Kan Merubah Ciptaan Allah, Boleh Nggak Sih?

by - Friday, April 05, 2019

Orthodontist


One day, saya pernah nanya ke follower-follower saya di Instagram tentang next postingan di blog saya. Requestnya cukup beragam. Macem-macem lah ya. Lupa juga apa aja. Saya cuma inget 1 aja yang emang agak nyentil.

"Sulam alis, operasi plastik, dan pakai behel tuh boleh nggak sih dalam Islam?"

Postingan kali ini, saya nggak akan bahas semuanya. Of course. Salah satu dulu dari segi pengalaman dan pencarian hidup saya. Alah. Lebay.

Yash. Tentang behel aja yah. Kalau dari postingan ini kalian paham intinya, in syaa Allah dua pertanyaan serupa bisa kejawab juga kok. So, let's start it.

Kenapa Pakai Behel?

Kawat gigi


Keinginan pakai behel tuh sebetulnya nggak datang dari diri saya sendiri. Ibu saya yang kasihan lihat gigi anaknya yang super berantakan.

Sebelumnya, saya pernah post tentang gigi gigis kan? Itu ada kaitannya dengan ini.

Waktu kecil gigi saya habis. Beneran ompong. Dan setelah gigi seri tumbuh, karena dia nggak punya pegangan hidup untuk tumbuh serapi gigi kambing, mulai deh tumbuh semaunya. Ada yang ndlesep ke dalam. Ada yang maju ke depan. Ada yang miring. Itu yang atas. Bagian bawah tidak terlalu random tumbuhnya, tapi cahem. Bagian bawah lebih menonjol.

Orang tua saya kasihan sih lihat anaknya giginya begitu. Setelah tahu penyebabnya ya makin merasa bersalah lagi lah. Dulu kan saya banyak diasuh tetangga. Dikasih makanan-makanan manis tanpa terkontrol orang tua saya. Jadinya, ya gitu deh giginya. Hancur.

Rencana Pakai Behel dari Kapan?

Planning


Kalau ngomongin rencana, saya udah di sounding orang tua saya dari SMP. Katanya, nanti masuk SMA pakai behel ya. Zaman segitu, belum banyak yang pakai behel. Terus masih kebayang sama filmnya Betty La Fea. Oh my.. Makin keliatan cupu parah dong.

Saya nggak sebahagia anak zaman now ketika dikabari orang tuanya mau dipasangin behel. Kalau sekarang malah mereka yang pingin pasang sendiri. Alasannya sih, untuk ngikutin trend.

Nggak siap. Itu yang saya rasakan saat orang tua saya pertama kali sounding. Apalagi informasi nggak semasif sekarang. Waktu SMP, buka Google aja, saya kagok berat. Apalagi sampai berselancar lebih jauh. Gaptek parah lah. Dan gaptek bikin bego. Terus bego bikin takut yang nggak-nggak.

At the end, baru semester 2 pakai. Kok lama?

Nabung dulu gaes. Pasang behel kan nggak murah. Selain nabung, orang tua saya juga nunggu saya siap. Siapnya baru pas kelas 2 SMA.

Emang Harus Banget Siap Mental Dulu?

Pakak behel


Ya dong. Pasal behel itu nggak murah. Perwatan berkala. Harian dan bulanan ada. Belum lagi penyiksaan yang dirasakan saat awal-awal pakai behel. Parah. Sakit banget. Nggak bisa ngunyah bener selama 3 bulan. Lebih sih.

Orang tua saya nggak mau udah keluar biaya besar, terus saya minta berhenti di tengah jalan. Jadi, kalau mau ya harus komit untuk menyelesaikan perjuangan sampai akhir.

Kan Merubah Ciptaan Allah, Emang Boleh?

Merubah ciptaan Allah


Well, setelah cerita preambule panjang kali lebar akhirnya saya jelasin. Kenapa sih harus diceritain sepanjang itu? Biar kalian juga ngeh kasus yang saya alami.

Yes, pakai behel artinya merubah ciptaan Allah. Struktur gigi saya yang awalnya berantakan parah mulai berangsur membaik.  I'm so sorry nggak bisa kasih tunjuk dulu awalnya gimana. Dulu, mana punya kamera smartphone sebagus sekarang.

Kalau nanya hukumnya, waktu pertama kali pasang dulu, jujur ya. Saya juga clueless. Tapi orang tua saya itu ternyata nggak cuma nyiapin dana dan mental saya aja. Mereka juga nyari referensi, tanya sana sini, boleh nggak sih dalam Islam kalau saya pasang behel? Gitu.

Saya nggak ngeh pencarian mereka seperti apa. Tapi akhirnya nemu kalau emang boleh. Alasannya? Saya nggak ngeh.



Bertahun-tahun kemudian, setelah saya pasang behel, saya baru ngeh kalau urusan pasang behel bukan hanya sekedar merapikan gigi. Tapi ini betul-betul tindakan medis untuk gigi saya yang perlu dipantau minimal tiap bulan. Pernah bolos nggak kontrol dan aneka masalah gigi muncul. Dari situ kapok, sesibuk apapun saya, harus mau nyempetin untuk kontrol gigi.

Saya baru ngeh betul kalau masalah gigi saya ini masalah kronis yang nggak semua dokter gigi mampu menanganinya. Kapan? Setelah saya pindah ke Bogor. Sepanjang itu lho perjalanan saya. Baru ngeh coba.

Jadi itu ceritanya saya udah kesakitan. Harus cari dokter gigi baru untuk kontrol gigi. Tapi nggak ada yang mau melanjutkan. Jangankan melanjutkan, pegang aja nggak berani.

"Wah, ini kasusnya serius nih."



Perjalanan nyari dokter spesialis pun dimulai. Tentu saja pertimbangan biaya jadi bahan juga. Saya punya rencana mau pasang ulang aja karena sepertinya dokter-dokter juga nggak mau lanjutin kan.

Udah nemu satu nama. Tapi biayanya di atas 20 juta. Amazing banget. Gak sanggup bayar cyin.



Cari dokter lagi dong. Cari klinik yang lain juga. Sampai ketemu klinik yang lumayan bagus, biaya pasang juga masih terjangkau. Lucunya, dokter yang sama.

Saya dan suami akhirnya ngeh. Dokter spesialis ortho di Bogor itu langka. Salah satunya ya beliau ini.

Udah kejawab belum kalau hukumnya boleh? Udah ya, di atas.

Jadi, sebetulnya mengubah ciptaan Allah itu memang dilarang. By default, dia nggak boleh. Aturan ini kemudian jadi boleh bahkan jadi sunnah ketika digunakan untuk pengobatan seperti yang sedang saya jalani.

Dulu, pernah ada salah seorang sahabat yang tulang rawab hidungnya rusak akibat perang. Bentuknya jadi mengerikan dong gara-gara rusak. Terus sama dia diganti dengan besi. Kalau zaman sekarang ya bukan pakai besi ya. Tapi hidung tiruan yang udah kelihatan macem hidung asli.

Rasulullah tahu soal ini. Tapi beliau mendiamkannya.

Dari sini, para mujtahid mengambil kesimpulan bahkan merubah bentuk tubuh itu diperbolehkan dengan alasan medis. Abis kecelakaan, butuh face off. Itu boleh. Demikian juga dengan pasang behel, boleh jika memang ada indikasi medis. Dokter menyarankan demikian.

Kondisi Gigi Seperti Apa yang Boleh Dibehel?

Gigi indah


Jelas ya. Misal ada sakit berlebih dan harus dibehel itu ya mau nggak mau harus dibehel. Kondisi-kondisi lainnya, bisa gigi yang tumbuh tidak beraturan, gigi tonggos, gigi cahem atau cakil. By the way, itu bukan kata saya ya. Tapi dokter gigi sendiri yang bilang. Untuk bisa tahu mana yang emang harus dibehel dan nggak, bisa konsultasi sendiri ke dokter gigi ya. In sya Allah akan dijelaskan.

Boleh dan bahkan dianjurkan untuk dibehel tentu nggak bisa juga untuk semua gigi. Perawatan gigi macem behel atau veneer sebetulnya nggak bisa ngasal. Nggak bisa cuma untuk alasan biar bagus aja. Biar hits. Nggak bisa. Karena ya emang bisa bahaya ke kesehatan gigi dan mulut pasien. Gitu.

Gimana? Udah cukup jelas belum? Kalau belum, silakan tulis pertanyaan atau uneg-uneg temen-temen di kolom komentar.

You May Also Like

0 komentar