Review Sky Castle: Ketika Anak Menjadi Prestige Orang Tua

by - Wednesday, April 17, 2019

Sky castle review


Siapa yang udah nonton drama korea Sky Castle? Yuk, angkat tangan! Ini drama korea yang akhirnya saya tonton karena banyaknya review tentang drama ini berseliweran di IG Story maupun WAG. Apa sih yang bikin buibu di dunmay ini pada heboh dengan drakor satu ini? Dan akhirnyaaa.. Saya teracuni dengan drama ini saudara-saudara. 20 episode khatam sudah.

Sky Castle ini mengangkat salah satu isu sosial yang memang terjadi di tengah-tengah masyarakat kita. Di mana, pendidikan bukan hanya digunakan sebagai kebutuhan tapi alat untuk menaikkan gengsi. Kalau punya anak dengan segudang prestasi gemilang, tentu seneng banget dong orang tuanya. Tapi nggak semua orang tua mau tahu kalau nggak semua lho menikmati segala proses itu. Nggak jarang mereka harus mengabaikan apa yang sebenarnya mereka mau demi menyenangkan orang tua.

Tuntutan yang besar akan nilai, prestasi, dan masuk ke sekolah bergengsi nggak jarang juga bikin anak-anak ini makin stress. Kita udah sama-sama pernah denger ya kasus anak-anak SMP, SMA, atau bahkan mahasiswa yang bunuh diri karena stress. Ya segitunya memang tuntutan sosial yang terjadi.



Nonton drama ini tuh bikin saya ingat memori sekian tahun lalu, ketika saya jadi guru les privat. Saya banyak mengamati adik les saya yang nggak semua itu suka belajar. Ada memang yang rajin banget. Semangat banget belajarnya. Terus kalau diajarin nggak ngerti dia nggondok. Tapi ada juga anak-anak yang nggak mau tahu. Dia les cuma biar PR selesai dibantuin sama guru lesnya. Jadi, saya tuh merasa dibayar buat kerjain PR-nya. Ngeselin banget.

Saya pernah diskusi dengan ibu kost yang kebetulan anak sulungnya yang masih SD rajin banget les. Maksudnya, rajin diantar ke tempat les. Padahal ya, pulang sekolah udah siang banget. Sorenya les. Malam masih ngerjain PR sama orang tuanya. Amazing. Dia sama sekali nggak punya waktu buat main. Anak SD lho ini. Alasan ibunya begini,

"Teman-temannya itu semuanya les. Kalau dia nggak les, dia yang ketinggalan pelajaran di sekolah."



Hal serupa juga terjadi di ibu-ibu yang tinggal di Sky Castle ini. Mereka rela bayar tutor super duper mahal asal anaknya bisa punya nilai yang baik dan bisa masuk sekolah favorit. Mereka nggak ngecek lagi tuh, apakah tutor yang mereka bayar itu beneran bisa membantu proses belajar anak-anak mereka atau malah bikin anak-anak mereka tambah stress. Hal terpenting yang mereka inginkan adalah nilai anak-anak mereka baik.

Jadi, jangan heran kalau ibu-ibu ini jadi stress berat ketika anak-anaknya susah diminta belajar lagi di rumah. Hellooo... Ya iyalah ogah. Mereka udah muak belajar tauk.



Tapi nggak semua ibu yang tinggal di Sky Castle begitu. Ada ibu baru yang tinggal di sana dan beda banget dari ibu-ibu yang lain. Dia hidup sederhana. Dia juga nggak menuntut anaknya untuk les ini itu. Anaknya dibiarkan belajar sendiri dengan nyaman. Anehnya, justru dengan cara semacam ini membuat si anak tetap nggak kalah berprestasi dibanding teman-temannya yang lain.

Ibu-ibu lain di Sky Castle sebel dong sama doi. Label sombong pun disematkan ke ibu baru ini. Nggak cuma itu, anaknya juga disumpahin nggak bisa ngejar pelajaran di sekolah. Sungguh amazing ibu-ibu ini.

Tapi, ada satu ibu yang nggak sependapat dengan ibu-ibu yang lain. Dia ngamatin betul anak-anaknya. Dia ngeh sih kalau anak-anaknya itu cerdas, tapi mereka tertekan betul dengan metode belajar dari ayahnya.

Ini seru nih. Perseteruan ibu dan ayah di dalam rumah yang amazinglah. Makin kisruh lagi ketika tahu anak perempuan kebanggan mereka ternyata bohong soal kuliah di Harvard. Itu nggak cuma hancur aja. Tapi udah lumat jadi bubur.

Part paling ngeselin dari drama ini ada di bagian Tutor Kim. Jadi, ceritanya dulu dia tinggal di Amerika dan punya anak yang super jenius. Seumuran anak SD (mon maap lupa umurnya berapa), tapi udah diterima di universitas bergengsi di sana. Singkat cerita, anaknya kecelakaan mobil bareng bapaknya. Si bapak tewas, si anak koma.

Tahu nggak apa yang dia bilang pas dokter ngasih tahu anaknya nggak akan bisa hidup normal lagi?

"Dia bukan anakku."

Itu terus yang dia ulang-ulang. Denial kalau anaknya udah nggak bisa memenuhi keinginannya lagi. Jadi yang terbaik dan termuda di universitas itu tadi. Oh my! Parah banget.



Setelah stay lagi di Korea, anaknya tinggal terpisah dengannya. Anaknya ini jadi nggak normal. Dia dikurung di suatu rumah dengan fasilitas lengkap dan aneka body guard. Tapi ya gitu, nggak sama ibunya.

Nyebelinnya lagi, kalau Tutor Kim ini nengokin anaknya. Dia beneran nggak mau ketemu langsung sama anaknya. Kadang cuma berani lihat dari jauh. Malah pernah nggak turun sama sekali dari mobil. Ish ish ish.. Ibu macam apa itu?

Jadi gitu ya? Anak cuma dipakai sebagai alat untuk meraih harga diri.

Penggambaran soal ini memang lebay. Namanya juga drama. Mau ngarep apa coba?



Tapi itu terjadi beneran. Ada banyak orang tua di Indonesia sendiri yang maksain nilai tinggi ke anak. Ada juga orang tua yang maksain anaknya harus kuliah di mana, bahkan harus jadi apa. Si anak ini serba dipaksa, bahkan doi bingung sebenarnya apa sih yang dia mau. Even nggak selebay drama itu juga sih. Cuma ya pointnya dapet banget.

Pernah juga ada kejadian begini. Ada orang yang memulai kariernya dari awal banget setelah orang tuanya meninggal. Kenapa dia lakukan itu? Karena semasa hidup orang tuanya dia udah terlalu lelah buat debat soal passion yang dia inginkan. Amazing!

Saya pribadi juga pernah ngalami itu. Hal yang paling menyakitkan yang saya dengar dari ibu saya adalah, "kamu itu harga diri ibu." 

Jadi, ketika saya memutuskan untuk memilih jalan hidup yang beda dari pilihan beliau, seakan-akan saya menghancurkan semua harga dirinya. Jadi anak yang nggak tahu terima kasih. Jadi anak yang nggak ngeh kalau apa yang saya capai itu juga atas perjuangan mereka. Kesal bukan main.

Dan sejak saat itu, saya memutuskan untuk bodo amat dengan segala rengekan ibu saya. Terserah deh mau ngomong apaan.

Saya yakin, saya nggak sendiri di sini. Ada banyak sekali orang-orang macam saya yang dipaksa untuk memenuhi gengsi orang tuanya. Ada yang harus banget jadi pegawai negeri. Ada yang anaknya harus banget kerja di BUMN. Ada yang harus banget jadi pengusaha. Dan aneka tuntutan lain.

Kita pernah merasakan hal semacam itu. Nggak nyamannya dipaksa untuk jadi seperti apa yang mereka mau. Bahkan saking seringnya begitu, kita sampai bingung, sebenernya apa sih yang kita mau?

Rasa itu harusnya jadi bahan belajar buat kita semua bahwa tiap anak yang lahir dari rahim kita, mereka punya masa depan mereka sendiri-sendiri. Tugas orang tua bukan untuk menentukan mereka jadi apa. Tugas kita adalah membimbing mereka untuk menemukan jati dirinya. 

Percayalah bahwa setiap anak itu spesial. Tapi mereka juga nggak sempurna. Ada kekurangan dan kelebihan. Fokus ke kekurangan mereka, hanya bikin kita dan anak kita makin tertekan. Coba sih alihkan fokus kita ke kelebihan-kelebihan yang mereka punya. Dukungan kita, sebagai orang tua, tentu akan membuatnya semakin bersinar. 

You May Also Like

0 komentar