Who is The True Sexy Killer?

By Aprilely Ajeng Fitriana - Monday, April 15, 2019

Dokumenter Sexy Killer
Siapa yang udah nonton Sexy Killer angkat tangan? Gimana gimana rasanya? Nano-nano ya? Buat kamu, kamu, kamu yang belum nonton, cuss nonton film ini. 

Film dokumenter ini dibuat oleh Watchdog Image dengan riset fakta yang terjadi di lapangan selama setahun. Film ini jadi rame banget dan banyak dikaitkan dengan isu linkungan dan tentu saja isu politik. Release-nya film Sexy Killer yang deketan banget sama Pemilu, juga bikin sebagian orang kebelet golput saat tahu fakta yang terjadi.

O tentu, ada pihak yang nggak tinggal diam. Film ini akhirnya menimbulkan pro dan kontra karena memang diambil dari satu sudut pandang aja, yaitu korban. Mereka juga tidak memberikan solusi terhadap masalah yang ada.

So, kali ini saya mau angkat topik ini dari kacamata saya. Seorang lulusan magister Teknik Elektro yang pernah meneliti tentang renewable energy. 

My Point of View

Point of view

Tahun 2012, itu awal mula saya mulai tertarik dengan sumber tenaga listrik terbarukan. Buat saya, ketika sumber tenaga ini bisa diterapkan secara masal, tentu isu lingkungan yang diakibatkan oleh sumber energi listrik tenaga uap maupun diesel bisa dikurangi. Polusi berkurang, listrik juga bisa tetap dinikmati oleh rakyat. Senang sekali ketika membayangkan hasil penelitian itu bisa diterapkan. 

Penelitian saya pun berkembang. Dari sekedar meneliti sumber tenaga listrik sekala kecil, lalu berkembang menjadi area distribusi. Bagaimana ya kalau sumber energi terbarukan ini dipasang di daerah-daerah terpencil di Indonesia? Selama ini kan keluhan nggak ada listrik sering muncul di area pedalaman. Kalau mau narik kabel dari kota besar terdekat, losses-nya akan besar. Rugi.

Maka muncullah ide isolated-microgrid. Keren nggak sih namanya? Itu jaringan listrik distribusi yang memang secara khusus untuk area isolated atau terpencil. 

Metode-metode optimasi saya gunakan. Teman-teman saya yang lain, membahas dari sisi yang berbeda. Intinya, kami punya solusi kalau memang negeri ini mau.

Sayangnya, penelitian itu, ide itu, konsep itu, hanya berjalan di atas kertas. Implementasi sistem yang sesungguhnya butuh dana yang tidak sedikit. Iyalah, bangun pembangkit baru. 

Waktu nonton film Sexy Killer itu sebetulnya saya nyesek sendiri. Apalagi ketika tahu kalau pemerintah membangun 1 lagi pembangkit listrik tenaga uap di Jawa. Kenapa uang yang ada tidak digunakan untuk membangun pembangkit listrik yang jauh lebih ramah lingkungan? Ada lho, tinggal mau atau tidak aja.

The Real Sexy Killer

Sexy killer


Saya ingat betul. Awal tahun 2016, teman saya yang kerja di Kementrian ESDM ngontak saya untuk menanyakan penelitian saya itu. Excited dong. Dengan amat senang hati, saya akan bagikan semuanya yang saya tahu ke dia. Faktanya, kontak by phone itu tidak berlanjut dan realisasinya sudah jelas hanya tinggal angan.

Fakta-fakta yang ditunjukkan di film Sexy Killer ini bikin saya ngeh kenapa sih solusi yang begitu terpampang nyata ini nggak kunjung dipakai? Yes, permainan para pemilik modal yang memanfaatkan kekuasaannya untuk terus melanggengkan bisnisnya. 

"Kenapa juga pakai renewable energy, kalau gue bisa ngeruk lebih banyak keuntungan dari batubara?"



Uang, uang, dan uang. Itu sih yang ada di pikiran mereka. Dengan uang, mereka bahkan bisa mengendalikan penguasa untuk melegalkan aktivitas yang amat sangat merugikan rakyat.

Nggak peduli berapa banyak hasil ikan yang menurun karena efek pencemaran lingkungan yang dihasilkan. Nggak peduli berapa banyak perkebunan yang dihancurkan secara paksa. Nggak peduli berapa banyak rumah yang hancur akibat aktivitas pertambangan yang berlebihan. Bahkan, mereka sama sekali nggak peduli berapa banyak rakyat yang mati akibat debu-debu yang dihasilkan oleh industri tersebut.

"Kamu jahat!"



The real sexy killer dalam film ini sesungguhnya bukan orang yang namanya paling sering disebut atau yang pernah disebut. Bukan. The real sexy killer ya kapitalis itu sendiri. Sayangnya, kapitalisme ini akan terus bertumbuh seiring bercokolnya sistem demokrasi.

Mereka bilang, demokrasi ada dari rakyat, untuk rakyat, oleh rakyat. Faktanya, rakyat yang mana? Apakah rakyat dilibatkan dalam proses pembangunan pembangkit tadi? Apakah rakyat yang diuntungkan dengan semua aktivitas itu?

Rakyat yang mana dulu? Rasanya, lebih cocok kalau kita ganti dengan dari pemilik modal, untuk pemilik modal, dan oleh pemilik modal. Iya, itu rakyat yang dimaksud. Bukan nelayan ikan yang hidup bergantung pada tangkapan harian. Bukan petani yang hidupnya bergantung pada hasil panen. Bukan.

Selama sistem kapitalis masih tetap bercokol dan dipakai di negeri ini, regenerasi orang-orang yang menguasai Sumber Daya Alam itu akan tetap ada. Para pemain yang hari ini sedang membentuk jaring laba-laba itu, suatu saat nanti akan digantikan oleh orang lain. Cara kerja mereka boleh jadi nggak sama, tapi tetap, rakyat kecillah yang nantinya akan menjadi korban.

Islam Punya Solusi

Alquran


Islam itu agama yang sempurna. Dia mengatur segala urusan, mulai dari hal yang paling kecil sampai urusan besar semacam pengelolaan sumber daya alam. Semuanya ada. 

Dalam Islam, Sumber Daya Alam merupakan kepemilikan umum yang tidak boleh dimiliki oleh individu-individu maupun swasta. Sumber Daya Alam itu milik semua orang. Semua orang bebas menikmati kekayaan alam secara gratis. Macam air, udara, mineral, dan sebagainya.

Karena buanyaknya Sumber Daya Alam yang dimiliki dan tidak memungkinkan tiap individu ketika akan menikmatinya mengelola sendiri dulu, di sinilah peran negara berfungsi.

Negara yang mengatur segala Sumber Daya Alam untuk kemudian dapat digunakan untuk kepentingan rakyat. Bisa untuk dana pendidikan, kesehatan, atau sarana umum lain. 

Indonesia ini kaya banget lho akan SDA. Misal, seluruh SDA yang kita punya baliknya ke rakyat, kayaknya nggak ada tuh ceritanya anak putus sekolah karena nggak mampu bayar. Fasilitas sekolah juga bisa ditunjang dengan sangat amat memadai. 

Urusan kesehatan? Memungkinkan untuk digratiskan tanpa paksaan bayar premi tiap bulan. Itu bisa. Asal, SDA tidak dikelola oleh swasta.

Meski kita sepakat bahwa oke banget nih kalau soal pengelolaan SDA dikelola dengan cara Islam. Cara ini juga nggak akan bisa diterapkan tanpa adanya sistem Islam yang diterapkan secara kaffah dalam seluruh lini. Ya sistem sosial, ekonomi, budaya, hukum, pendidikan, hingga pemerintahan. Semuanya harus menggunakan aturan Islam. Dengan begitu, semua bisa berjalan secara selaras.

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar