Assalamu'alaikum!

Perkenalkan, nama saya Aprilely Ajeng Fitriana. Kalian bisa panggil saya Lelly. Saya lahir di Malang pada tanggal 22 April 1991. Saat ini, saya tinggal di Bogor bersama suami dan anak saya. Blog ini adalah tempat saya mencurahkan segala pemikiran saya dari berbagai peristiwa. Bagaimana saya menghadapinya dan apa saja hikmah yang saya peroleh.

Oct 26, 2020

Ketika Perpisahan Menjadi Sebuah Pilihan

Perceraian


Wih, judulnya ngeri ya. Saya kepingin nulis ini untuk menyalurkan segala rasa yang terpendam. Beberapa hari ini, saya mendengar kabar perceraian dari lingkup pertemanan saya. Betul-betul mengejutkan. Tapi, kalau tahu cerita mereka dari awal, saya nggak bisa menyayangkannya. Semacam, ya itu keputusan terbaik untuk mereka.  

Pandangan Terhadap Perceraian  

Cerai


Dulu, saya agak skeptis soal perceraian. Ini karena saya kebanyakan nonton infotainment. Tahu sendiri kan artist-artist itu banyak sekali yang bercerai. Seolah pernikahan bukan sesuatu yang amat sakral hingga dengan mudahnya diakhiri. Apalagi, mereka bilang alasan perceraiannya karena tidak bisa bersama lagi. Ini tentunya memunculkan prasangka lain, apa iya tidak bisa dibenahi? Jangan-jangan karena mereka saja yang tidak sabar.  

Pandangan ini kemudian berubah ketika saya bertemu seorang janda sekian tahun lalu. Dia ceritakan alasannya bercerai dengan suaminya. Ini sama sekali bukan masalah yang sepele.  

"Seminggu setelah menikah, suamiku ngencingin aku. Aku kaget banget. Tapi dari situ, aku tahu kalau dia punya gangguan jiwa. Sesuatu yang tidak disampaikan oleh pihak keluarga atau siapapun yang tahu akan hal ini."  

Huaaah.. Nyesek banget. Sudah menikah, baru tahu kalau suaminya begitu. Please, jangan menuduh karena mereka ta'aruf. Jangan. Realitanya, ada juga kasus serupa dari orang yang sudah kenal dekat cukup lama. Pernah pacaran lama, lalu bertaubat dan memutuskan untuk menikah. Ini juga ada.  

Selama pacaran, tidak ada tanda-tanda gangguan kejiwaan. Baru setelah menikah, tanda-tanda itu muncul. Innalillahi wa innalillahi rajiun. 

Saya sama sekali nggak bisa membayangkan bagaimana rasanya ada di posisi mereka.  Gangguan jiwa yang dialami oleh pasangan ini yang membuat mereka mendapatkan penyiksaan fisik ketika pasangan mereka hilang akal. Ini bukan lagi tampar menampar ya. Tapi, sudah sampai pada percobaan pembunuhan.  

"Aku nggak berani geletakin pisau sembarangan, Lel. Aku takut pas suamiku kumat terus pakai pisau itu."  

Apa cuma itu? Nggak. Ada lagi. Sesuatu yang lumayan bikin diri terhenyak. Berat sekali cobaan mereka, Ya Allah.  

Cerita-cerita yang amat real ini yang mengubah pandangan saya terhadap perceraian. Nggak semua orang bercerai hanya karena masalah ekonomi. Nggak semua orang bercerai dengan alasan amat sederhana, "kita sudah tak sejalan lagi."   

Nggak semuanya begitu!  

Realitanya, ada masalah-masalah yang terlalu rumit untuk dijelaskan. Jadi, ya memang benar, perceraian adalah salah satu solusi yang Allah berikan kepada kita dalam mengarungi kehidupan. Meskipun, hal ini adalah sesuatu yang Allah tidak sukai pula.  

Artinya apa? Selesaikan dulu masalahnya, bangun kembali keharmonisan keluarga dulu. Pelajari ilmunya. Tapi, kalau memang ada kondisi yang memang tidak bisa ditawar lagi, contohnya ya pasangan yang hilang akal tadi, perceraian bisa menjadi solusi.  

Jalan Terbaik Pun Butuh Penyesuaian  

Cerai


Setiap memasuki fase kehidupan baru, penyesuaian itu pasti ada. Untuk babak baru yang menyenangkan dan begitu diharapkan, seperti pernikahan dan punya anak saja, ada fase berderai air mata di awal. 

Menyesuaikan diri dengan pasangan, status baru, anggota keluarga yang baru, keriwehan yang baru. Padahal, dulunya kita begitu menginginkan hal ini.   

Kalau untuk menjalani kehidupan pernikahan dan punya anak saja begitu, apalagi ketika kita harus berhadapan dengan perpisahan. Ini semacam petir di siang bolong sih kalau menurut saya. Meskipun, kita tahu bahwa itu adalah pilihan terbaik yang paling mungkin diambil, tetap saja tidak akan mudah menjalani semuanya. Tanpa ada anak saja sudah sulit. Apalagi, kalau ada anak dari buah pernilahan sebelumnya. Ya Allah, saya betul-betul tidak bisa membayangkan.  

Kaki yang mulai terbiasa berjalan beriringan, kemudian salah satunya harus diambil. Sulit sekali untuk bisa berjalan tegak dengan satu kaki. Menopang badan sendiri saja sulit, apalagi membawa beban lain. Sudah pasti jauh lebih sulit. Tapi, bukan berarti mustahil. Ini hanya soal waktu.  

Pada akhirnya, saya hanya mampu melambungkan doa agar orang-orang ini bisa menemukan jalan untuk bisa terus melangsungkan hidup. Punya teman yang bisa merangkul dan menggandeng tangannya untuk menjalani babak baru kehidupan. Semoga Allah pun segera menghapus luka di hatinya dan mendatangkan sosok pasangan hidup baru yang jauh lebih baik dari sebelumnya.  

Membuka Lembaran Baru, Mungkinkah?  

Cerai


Dalam doa yang saya panjatkan untuk mereka, saya sungguh berharap teman-teman saya ini bisa dipertemukan dengan pengganti suaminya. Sosok yang jauh lebih baik dan waras dalam menjalani hidup. Sosok yang mau bertanggung jawab dengan keluarganya. Tapi, kemudian saya tersadar bahwa membuka lembaran baru itu tidak mudah.  

Saya masih ingat ketika dulu baru saja gagal menikah. Ada perasaan dibuang oleh mantan dan keluarganya. Rasanya, tidak ada orang lain yang sanggup memahami dengan amat baik, kecuali saya dan keluarga. Tamparan itu saja rasanya sudah amat keras. Saya sempat limbung dan tidak tahu harus apa.   

Ada rasa ingin segera dipertemukan dengan orang baru. Tapi, di sisi lain saya takut untuk gagal kembali. Ketakutan itu yang mungkin membuat saya jadi amat selektif ketika memilih pasangan hidup.   

Itu saya yang gagal menikah. Apalagi mereka yang pernikahannua gagal, ini mungkin akan jauh lebih sulit.  Membuka lembaran baru sebetulnya tidak selalu sulit kalau Allah sudah berkehendak. Ini hanya butuh proses untuk menghadapi semua. Ada luka yang butuh disembuhkan terlebih dahulu. Ada langkah kaki yang butuh dikuatkan untuk menjalani hari.   

Kenapa dulu saya begitu cepat untuk bangkit, sementara mantan saya tidak? Padahal, dia yang meninggalkan saya.   
Jawabannya, ada di doa. Ketika masalah itu mulai datang, saya tahu bahwa bibir ibu saya tidak pernah basah untuk mendoakan saya. Beliau mohonkan agar saya diberi kekuatan untuk menghadapi apapun yang akan terjadi.  

Saya pun melambungkan doa yang sana.  Saya sendiri tidak tahu dari mana datangnya kekuatan itu. Kalau dipikir-pikir lagi, kegagalan itu cukup menjadi alasan bagi saya untuk tidak mencoba membuka hati dalam waktu lama. Nyatanya tidak demikian. Saya cukup mudah untuk move on.  

Saya yakin bahwa bibir ibu dari teman-teman saya ini tidak pernah basah mendoakan anak-anaknya. Bahkan, deraian air mata pun akan tercucur dalam doa-doa mereka. Memohon dengan amat sangat untuk kebahagiaan anaknya.   

Realitanya, ada juga teman yang alhamdulillah bisa move on dan mendapatkan pengganti yang mau menerima dia apa adanya. Saya betul-betul bahagia ketika akhirnya kabar bahagia itu datang. Pasalnya, kehidupannya pasca bercerai itu juga tidak mudah. Alhamdulillah, akhirnya dia nemu juga.   

Penutup  


Sebetulnya, saya bingung ingin mengakhiri tulisan ini dengan apa. Realitanya, tulisan ini memang ditulis untuk menyalurkan segala hal yang terpendam di dalam dada. Dapat curhatan yang macam gini tuh menguras energi sekali, kepikiran terus. Jadi, saya sekalian mau mohon maaf kalau ada curhatan yang tidak saya balas. Terutama segala jenis curhat yang masuk dari artikel toxic parents. Masya Allah, kadang saya juga nggak sanggup menanggapinya.  
Well, perpisahan itu berat sekali. Saking beratnya, ada yang mungkin mulai terganggu kesehatan mentalnya. Mulai mengalami depresi hingga menyakiti diri sendiri. Kalau sudah ada di fase ini, please minta tolong ke ahlinya. Berdoa iya, minta tolong iya.   
Sayangi diri sendiri dulu. Kasih perhatian ke diri sendiri dulu, sebelum akhirnya kasih ke orang lain, entah itu anak atau orang tua. Karena, gimana kita bisa ngasih kalau kita nggak punya?  
With love,

Oct 12, 2020

Liburan Bareng Bayi Saat Pandemi, Yey or Ney?

liburan saat pandemi


Siapa yang udah kangen liburan angkat tangan? Ini sih saya banget. Saya udah kangen bisa liburan dengan tenang tanpa memikirkan harus mematuhi segala protokol kesehatan. Saya juga kangen banget pingin pulang ke rumah. Maklum, sejak pindah ke Bogor, saya belum pernah pulang kampung.

Sayangnya, saya punya kondisi yang tidak bisa sembarangan untuk keluar rumah. Bahkan, orang masuk ke rumah pun nggak bisa sembarangan. Saya punya bayi. Nggak kebayang sih kalau anak saya sampai sakit dan kami harus terpisah untuk beberapa waktu atau bahkan selamanya. Membayangkan itu saja, saya udah ambyar duluan.

Antara Ingin Liburan dan Takut Covid-19

liburan saat pandemi


Kalau ditanya, takut nggak sih keluar rumah? Jawabannya ya takut. Apalagi banyak orang yang mengabaikan segala protokol kesehatan ini. Tapi, tidak bisa dipungkiri juga kalau saya betul-betul tidak tahan ada di rumah saja. Rasanya udah kaya mau meledak. Pingin banget liburan dan ajak Ghazy ke tempat wisata keluarga.

Tidak semua keinginan harus dipenuhi. Ini yang selama ini saya pegang. Bahkan, ini cukup untuk jadi rem saya untuk tidak merengek minta liburan ke suami. Saya cukup tenang meski banyak menghabiskan waktu di rumah sampai saya baca postingan salah satu teman yang berlibur ke Kebun Raya Bogor. Dari situ, saya mulai berpikir kalau sepertinya tidak masalah mengajak Ghazy liburan ke tempat wisata. Asalkan, tempat wisata yang dipilih cukup aman untuk menjaga jarak dari orang lain.

Pertimbangan Memilih Tempat Wisata Saat Pandemi

liburan saat pandemi


Pingin banget jalan-jalan atau liburan bawa bayi. Tapi, nggak pingin risau berlebih karena  memang sedang dalam pandemi. Ini sih bisa banget diakalin. Tinggal gimana kita aja untuk memilih tempat wisata mana yang akan dituju. Kalau saya dan suami, ada dua hal yang menjadi pertimbangan kami dalam memilih tempat wisata.

1. Tempatnya ada di alam terbuka

Waktu awal-awal pandemi, saya sempat cari tahu benerapa cara penyebaran virus ini. Virus ternyata amat mudah menyebar kalau kita ada di dalam ruang tertutup dengan sirkulasi udara yang buruk. Droplet yang keluar akan terkungkung dalam ruangan dalam waktu lama. Bahkan, dia bisa menempel ke benda-benda sekitarnya.

Karena alasan inilah, kami selalu memilih tempat wisata alam terbuka. Ini juga terinspirasi dari Zaskia Mecca yang membawa pasukannyae salah satu coban di Jogja. Tempatnya seru banget. Anak-anak senang. Orangtua pun tenang.

2. Pilih tempat wisata yang sepi

Well, memilih tempat wisata di alam terbuka tidak menjadi satu-satunya pertimbangan ya. Beberapa tempat wisata, meski judulnya wisata alam ternyata justru membuat risau. Kenapa? Ramai.

Kebayang nggak sih kalau kita liburan di tempat ramai dengan kondisi pandemi semacam ini? Kalau saya dan suami sih, sudah pasti auto tidak tenang. Kepikiran kalau ketemu sama Orang Tanpa Gejala (OTG). Iya kalau daya tahan tubuh kami bagus, kalau nggak? Kasihan Ghazy sih.

Intinya, tempat wisata yang dipilih juga harus memungkinkan kita untuk melakukan physical distancing di sana. Jadi, saat liburan bareng keluarga, semuanya bisa enjoy menikmati liburan.

Tips Liburan Aman Bersama Bayi

liburan saat pandemi


Dua hal yang saya sebutkan di atas sudah bisa menjadi pertimbangan untuk memilih lokasi yang aman untuk liburan. Setidaknya, sampai lokasi tuh udah tenang. Kita nggak kepikiran ini itu lagi. Tapi, namanya liburan ya. Bisa jadi kita butuh makan di lokasi. Bisa jadi juga, kita butuh tempat untuk menginap. Dan, pastinya kita juga butuh lokasi untuk beribadah. 

Nah loh, kalau sudah begini, banyak faktor lain yang harus dipertimbangkan agar liburan tetap aman dan nyaman bersama bayi. Ada sedikit tips dari saya yang sekiranya bisa membantu kalian yang ingin sekali liburan keluarga dengan budget minimalis tapi tetap aman. Simak ya.

1. Hindari bepergian dengan menggunakan mode transportasi umum


Pingin jalan-jalan ke luar kota atau bahkan luar pulau? Kalau bisa ditahan dulu deh. Apalagi masih punya bayi. Selain pertimbangan jarak, ini lagi ada koronce guys. Kalau pergi keluar kota atau pulau kan pasti butuh transportasi umum. Nggak mungkin naik kendaraan pribadi aja. Sementara itu, kita nggak bisa menjamin apakah orang yang kita temui di sana peduli dengan protokol kesehatan. Realitaya, kita tahu sendiri berapa banyak orang yang sudah abai dengan hal ini.

So, kalau mau liburan, sebisa mungkin untuk menghindari pakai mode transportasi umum. Apalagi bawa bayi. Kalau punya mobil dan bisa dimanfaatkan, alhamdulillah. Kalau misal nggak punya, coba cari tempat lain yang dekat tapi bisa dipakai liburan juga. Bayi tuh mintanya nggak aneh-aneh kok. Sebetulnya, dia nggak diajakin ke mana-mana juga nggak masalah. Kitanya aja yang bosen kalau di rumah aja.

2. Hindari makan di tempat umum

Liburan memang nggak komplit kalau tidak mencicipi kuliner di daerah setempat. Tapi, kita juga harus ingat kalau ini sedang dalam pandemi. Orang makan ya pasti buka masker. Nah, masalahnya tidak semua tempat makan memungkinkan untuk physical distancing. Jadi, kalau memang tidak mendesak sekali, sebaiknya hindari makan di tempat umum. 

Ada baiknya kalau kita bawa bekal makan dari rumah. Semua peralatan makan dari rumah yang kita sudah percaya kebersihannya. Kalaulah ternyata tidak bisa, pilihan drive thru bisa juga dijadikan opsi. Terakhir banget, kalau nggak bisa bawa bekal atau drive thru, coba pilih tempat makan yang tidak terlalu ramai. Jadi, kita masih bisa makan dengan tenang di sana.

"Kalau nggak ramai kan biasanya nggak enak."

Pilih makan enak terus ketemu OTG apa pilih aman? Itu sih pilihannya. Semua kembali ke pilihan masing-masing. Resiko dan konsekuensi juga ditanggung sendiri.

3. Pilih masjid yang aman

Maksudnya apa nih? Gini, awalnya sih saya pikir semua masjid itu sudah aman. Ternyata tidak demikian. Ada masjid yang punya tempat wudhu kecil. Sementara itu, lokasinya di tepi jalan besar dan memang sering dipakai transit sholat. Ini sih sudah jelas big no ya.

Kalau nemu masjid yang begini, mending cari yang lain aja. Ini juga jadi reminder buat kita untuk segera cari tempat sholat kalau udah waktunya. Intinya sih, jangan sholat di injury time. Takutnya nggak keburu dan dapat masjid yang kurang kondusif untuk jaga jarak.

4. Bijak memilih penginapan, bila harus menginap

Saya pribadi tidak menyarankan untuk liburan sampai menginap di suatu tempat. Kenapa? Kita tidak tahu pasti bagaimana SOP hotel ketika pandemi. Iya kalau taat protokol banget. Kalau nggak?

Tapi, semisal harus banget menginap, sebaiknya betul-betul mempertimbangkan hotel yang akan menjadi tujuan. Pilih yang bersih dan nyaman. Selama di hotel, kita bisa  makan dari dalam kamar saja. Meskipun banyak sekali fasilitas yang diberikan oleh hotel, sebelum menggunakan sebaiknya dicek terlebih dahulu bagaimana situasi di sana. Memungkinkan untuk berkerumun atau tidak?

5. Patuhi protokol kesehatan dan jangan memaksa

Maksudnya apa sih? Prioritas utama kita saat ini adalah sehat. Jangan sampai gara-gara liburan terus jadi sakit. Jangan sampai ya. Naudzubillah min dzalik.

So, jangan memaksakan keadaan kalau memang tidak memungkinkan untuk berlibur. Sabar aja dulu. Tunggu keadaan membaik atau ada vaksin. In syaa Allah semua akan indah pada waktunya.

Oya, kalau memang sudah pingin sekali jalan-jalan tapi terkendala ini itu, jalan-jalan keliling kota mungkin bisa jadi pilihan. Tujuannya ke mana? Ke mana aja boleh, asal di mobil aja. Saya biasanya gitu kalau weekend. Keliling Kota Bogor tanpa ada tujuan yang pasti. Literally random.

Kesimpulan


Jadi, kalau ditanya boleh nggak sih liburan bareng bayi saat pandemi? Jawabannya tergantung situasi dan kondisi. Lokasi wisata tujuannya mana, kondisi di sana seperti apa dan lain-lain. Kalau memang memungkinkan untuk jaga jarak dan meminimalisir penyebaran virus, oke-oke aja sih. Tapi kalau tidak ya mending jangan.

Oct 5, 2020

Optimasi Instagram untuk Blogger, Bukan Sekedar Menambah Kunjungan di Blog

optimasi instagram


Peran sosial media bagi seorang blogger memang cukup besar. Boleh dibilang, ini merupakan salah satu jendela pertama artikel kita dapat diakses orang lain. Sebelum akhirnya SEO bekerja, tentunya. Kalau bisa memegang kendali pada platform sosial media, tidak menutup kemungkinan kunjungan di blog kita akan semakin meningkat. 

Ini cukup menarik. Siapa sih yang nggak kepingin blognya laris manis? Semuanya pasti mau, kecuali kalau dia hanya menjadikan blog sebagai diary digital yang orang lain tidak perlu tahu apa isinya.

Sayangnya, semua itu tidak bisa didapatkan secara instan. Jangan dikira ketika kita meletakkan link di sosial media lalu urusan selesai. Kemudian, orang-orang beramai-ramai mengklik tautan yang kita bagikan itu. Tidak semudah itu, Maemunah.

Coba posisikan diri kita sebagai pembaca. Apa sih yang membuat kita mau membaca artikel yang dibagikan di sosial media? Yap, judul yang menarik dan membuat penasaran. Tapi, ini hanya bisa dijangkau kalau postingan kita terbaca. Iya apa iya?

Sosial media yang dulu dan sekarang itu berbeda jauh. Kalau dulu postingan akan tayang berdasarkan kapan kita post, sekarang sudah tidak lagi. Algoritmanya berubah. Dan, kalau mau menguasai masing-masing algoritma dari sosial media ini, tentu akan memakan banyak sekali waktu. Tidak jarang, ini malah bikin pusing sendiri.

It's okay kalau memang sanggup. Tapi, kalau tidak sanggup untuk mempelajari semuanya, dari pada asal posting, coba pilih salah satu platform yang ingin dikuasai. Mau pilih Instagram, Facebook, Twitter, YouTube, atau bahkan TikTok, bebas. 

Ini pula yang saya jadikan alasan untuk tidak mengoptimalkan semua platform sosial media yang saya miliki. Saya hanya mengambil salah satu platform untuk dioptimasi. Dan, pilihan saya jatuh pada Instagram.

Kenapa Memilih Instagram?

Bagi saya dan banyak orang yang memilih untuk mengembangkan platform ini, tentu bukan hanya sekedar suka atau tidak suka saja. Tapi, ada potensi besar yang kami lihat dari Instagram ini. Kita bisa tengok bagaimana gambaran pengguna Instagram di Indonesia ini.

pengguna instagram


Menurut NapoleonCat, pengguna Instagram di Indonesia per Juni 2020 sejumlah 73 juta orang. Ini adalah angka yang amat fantastis. Sebagai blogger, jumlah ini tentu akan amat sangat menguntungkan. Bayangkan bila 1% saja dari pengguna instagram mengunjungi blog kita, berapa banyak traffic yang akan kita dapatkan? Banyak sekali tentunya.

Lebih dari itu, kita bisa memanfaatkan platform ini untuk membangun personal branding. Kita ingin orang mengenal kita sebagai apa. Dari sini, tidak menutup kemungkinan peluang-peluang lain juga akan datang menghampiri kita. Kerja sama dengan brand tertentu, misalnya. Atau, menjual produk atau jasa sendiri. 

Tulisan-tulisan kita di blog pada akhirnya akan mampu dijangkau banyak orang. Banyak orang yang menanti dan menghargai karya kita. Bahkan, ini bisa dijadikan salah satu cara untuk menghasilkan pundi-pundi rupiah.

Mengenal Algoritma Terbaru Instagram

Algoritma instagram


Semua peluang yang bisa kita dapatkan dari instagram akan dapat kita peroleh kalau akun instagram kita bertumbuh. Mau swipe up, bisa. Mau dapat endorse, bisa. Bahkan, mau jadi pembicara pun bisa.

Lalu, bagaimana caranya agar akun kita bisa mengalami pertumbuhan yang signifikan hingga dilirik oleh pembaca atau brand

Mari, kita mulai dari hal yang paling dasar, yaitu mengenal algoritma Instagram. Kalau kita sudah mengenal, tentu akan lebih mudah untuk mencari cara menaklukkannya, bukan?

Seperti yang sudah kita ketahui bersama, Instagram yang dulu ternyata berbeda dengan sekarang. Kalau dulu, kita akan melihat postingan orang lain berdasarkan urutan waktu. Postingan paling atas yang akan kita jangkau adalah postingan yang paling baru ditayangkan. Tapi, kini sudah tidak lagi.

Postingan kita hanya akan dijangkau oleh 10% follower kita. Selebihnya, ini tergantung dari respon mereka. Kalau responnya baik, maka instagram akan memberikan kesempatan pada akun kita untuk dijangkau oleh lebih banyak orang lagi. Kalau tidak, postingan kita akan tenggelam begitu saja. Artinya, punya follower banyak tidak bisa menjadi jaminan postingan kita sampai ke audience

Dulu, Instagram biasa digunakan untuk mengumpulkan portofolio karya kita. Punya foto menarik, post. Abis ngisi seminar, post. Anak kita bisa ini itu, post. Selebihnya, orang akan mudah sekali menjangkau itu semua. Saking mudahnya, sering kali mengganggu juga.

Mungkin karena alasan itu juga, akhirnya Instagram mengubah algoritmanya. Tidak peduli berapa banyak follower yang kita miliki, instagram hanya akan menayangkan berdasarkan apa yang follower kita suka. Bagaimana tahunya suka atau tidak? Ini dilihat dari interaksi mereka. Suka sama akun seperti apa sih? Biasanya reply, like, coment, save, dan share akun seperti apa?

Instagram yang dulunya tempat mengumpulkan portofolio berubah menjadi tempat membangun kehidupan sosial di dalamnya. Artinya, bukan hanya seberapa banyak karya yang mampu kita sajikan, tapi berapa banyak interaksi yang ada di dalamnya. Semakin banyak interaksi yang mampu dihasilkan, maka makin sering juga akun kita direkomendasikan instagram ke akun-akun lain. Instagram kini menuntut kita untuk lebih aware lagi pada konten apa yang akan kita sajikan dan kapan waktu menayangkannya agar jangkauannya bisa lebih luas lagi.


Strategi Pengembangan Akun Instagram

Banyak orang mengira bahwa semakin banyak follower yang dimiliki, maka semakin banyak juga jangkauan yang bisa kita dapatkan. Ini tidak sepenuhnya salah. Meskipun, tidak benar juga.

Kenapa demikian? Iya betul, semakin banyak follower memang bisa memberikan jangkuan besar. Kurang lebih ada 10% follower kita yang mampu melihatnya. Tapi, ini hanya berlaku di 1 jam pertama setelah postingan kita ditayangkan. Apakah postingan kita akan dijangkau lebih banyak orang atau tidak, ini tergantung dari konten yang kita sajikan. Apakah dia mampu menarik interaksi pengguna lain atau tidak. Artinya, basis follower yang besar, bisa jadi memiliki jangkauan yang lebih kecil dibanding akun dengan follower kecil. Ini bisa terjadi bila konten yang disajikan tidak menarik bagi audiences.

Jadi, apa langkah yang harus saya lakukan. Ada beberapa strategi pengembangan instagram yang sudah saya jalani sejak awal September lalu. Apa saja itu?

strategi optimasi instagram


1. Menentukan niche dan target pembaca

Memang, menentukan niche dan target pembaca itu adalah hal yang tidak mudah. Ini bahkan seperti sebuah pencarian jati diri. Tapi, percayalah. Setelah kita memilih niche, apalagi yang lebih spesifik, ini akan memudahkan langkah kita selanjutnya.

Niche bukan hanya sekedar tema besar yang akan kita pilih. Niche juga mampu memudahkan kita untuk branding diri. Kita ingin dikenal sebagai siapa. Itu pula tujuan memiliki niche. Dari sini, siapa target pembaca kita, konten apa saja yang akan disajikan, mau belajar apa untuk memperdalam konten, ini semuanya akan jauh lebih mudah.

Sama seperti orang lain, saya juga butuh waktu hingga bisa menentukan niche apa yang saya pilih. Setelah bertapa sekian purnama, saya pun memilih untuk menggunakan niche parenting. Baik di blog, maupun Instagram saya. Target pembaca yang saya pilih adalah ibu maupun calon ibu dengan range usia 25-34 tahun.

2. Membuat konten yang menarik

Content is the key. Ada dua tipe konten yang biasanya akan mendatangkan banyak interaksi. Pertama, konten yang menghibur. Kedua, konten edukasi.

Konten hiburan ini bisa dalam bentuk sajian visual. Konten-konten photography, kecantikan, musik, atau meme lucu, misalnya. Saya pribadi kurang bisa membuat konten semacam ini. Jadi, saya pilih tipe konten edukasi.

Sejak awal September, saya secara rutin membuat konten edukasi seputar parenting di akun instagram saya. Ini cukup mendatangkan banyak sekali interaksi bahkan follower baru secara organik. Tidak hanya itu, konten-konten yang saya buat juga banyak direpost maupun share oleh akun lain. Jangkauan yang dihasilkan oleh konten tersebut, bahkan ada yang melebihi follower yang saya miliki.

Apa imbasnya ke blog saya? Website click dari instagram juga naik. Meski tidak banyak. Mungkin, kalau follower saya sudah tembus angka 10k, website click ini bisa lebih banyak dari ini.

3. Riset hashtag

Konten yang saya buat bisa menjangkau banyak orang tidak lain dan bukan karena hashtag yang saya sematkan di setiap postingan. Hashtag yang ada tentu bukan sembarang hashtag. Saya memilih hashtag yang relevan dengan konten saya. Selain itu, saya pilih volume yang tidak terlalu besar. 

Kenapa demikian? Ini agar konten saya bisa mendominasi hashtag tersebut. Jadi, kemungkinan orang menjangkau postingan saya pun semakin besar.

Berapa jumlah hashtag yang biasa saya pakai? Ini tidak tentu. Untuk konten carousel, biasanya saya menyiapkan sedikitnya 10 kelompok hashtag. Dalam setiap postingan, hashtag yang saya gunakan juga berbeda.

4. Bangun interaksi

Interaksi adalah cara yang bisa kita gunakan untuk memperluas jangkauan konten kita. Poin utamanya, pastikan konten yang kita sajikan memiliki banyak interaksi di 1 jam pertama setelah tayang. Bagaimana caranya? Saya biasanya bergabung ke dalam support group untuk meningkatkan interaksi. Selanjutnya, respon tiap interaksi yang masuk. Kalau ada komentar, DM, atau respon dari story, sebisa mungkin saya balas.

5. Penjadwalan

Ini rahasia saya yang lain untuk bisa konsisten posting di Instagram. Mungkin banyak yang bertanya-tanya bagaimana caranya saya bisa membuat konten dan menayangkannya di prime time? Sementara itu, saya masih punya bayi yang begitu bergantung pada saya. Nah, ini dia jawabannya.

Saya biasa menggunakan Creator Studio untuk menjadwalkan konten apa yang akan tayang di akun Instagram saya. Waktu tayang, biasanya saya sesuaikan dengan jam kerja support group. Tentu saja, ini untuk mengoptimasi hashtag yang sudah saya pilih.

Lalu, kapan saya membuat konten-konten di instagram? Tentu saja menunggu Ghazy tidur. Setelah dia tidur, baru semua konten bisa saya eksekusi.

6. Pastikan jaringan internet memadai

Ini sih bagian yang tidak bisa ditawar lagi. Tanpa ada internet, artikel di blog tidak akan bisa tayang. Tanpa internet, artikel kita juga tidak akan bisa disebarkan melalui instagram atau platform sosial media yang lain. Tanpa internet juga, kita tidak bisa riset konten, membuat desain konten, hingga melakukan optimasi. Ya, kita butuh internet untuk lakukan semua strategi yang saya tuliskan di atas.

Sejak pandemi, aktivitas semua orang memang lebih banyak di rumah. Penggunaan internet juga semakin meningkat. Karena alasan inilah, akhirnya saya dan suami memutuskan untuk pasang wi-fi di rumah. Kami kira masalah akan selesai sampai di situ. Ternyata, tidak.

Wi-fi amat sangat bergantung dengan listrik. Selain itu, dia juga tidak bisa dibawa ke mana-mana. Jadi, kalau mati lampu atau harus keluar rumah. Bye internet.

IM3 FREEDOM U


Alhamdulillah, kini ada IM3 ooridoo yang bisa dijadikan solusi masalah tersebut. Sekarang kita bisa semakin puas untuk #TerusTerusan akses aplikasi menggunakan Freedom U. Di dalamnya sudah ada aplikasi-aplikasi tambahan baru, seperti Netflix, Snapchat, Zoom, Webex, Microsotf Teams, Skype, dan Google Classroom. Selain ittu, kita masih bisa mengkases apkasi  favorit lainnya, seperti YouTube, Instagram, TikTok, Facebook, Spotify, Joox, WhatsApp, dan Line.

Mau riset konten? Bisa. Mau meeting dengan klien? Bisa. Mau update konten di Instagram? Bisa. Atau mau sekedar scrolling Instagram aja? Bisa banget.

Selain itu, kita juga tidak perlh khawatir lagi dengan pemakaian kuota aplikasi karena menggunakan kuota utama untuk tetap melanjutkan akses kuota aplikasi. Jadi makin non-stop internetan karena pulssa kita akan tetap aman dengan PULSA SAFE. Enaknya lagi, kuota bisa dipakak di mana saja.

Jangan Lupa untuk Menjadi Manusia

just be human


Saya memang cukup serius untuk mendalami instagram ini. Itu sebabnya, saya banyak belajar mengenai optimasi instagram. Alhamdulillah, bulan September lalu Komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis bekerja sama sengan IM3 ooridoo untuk menggelar rangkaian webinar. Totalnya, ada 25 webinar yang mereka selenggarakan dengan tema "Mengoptimalkan Peluang Dunia Blog". Salah satu materi yang disampaikan adalah tentang Optimasi Intagram untuk Mendukung Dunia Blog

Materi tersebut disampaikan oleh ibu muda yang begitu energik, yaitu Mbak Pungky Prayitno. Satu jam materi bersama beliau begitu menyenangkan. Penyampaiannya juga sederhana dan mudah untuk dimengerti. Bahasa-bahasa teknis instagram yang tidak jarang bikin pusing, bisa beliau ramu dengan sederhana.

Satu hal yang beliau sampaikam dalam webinar tersebut yang amat mengena di hati saya.

"Jadilah manusia."

Adakalanya, kita perlu mengenyampingkan segala hal yang berhubungan dengan algoritma Instagram. Adakalanya, kita juga perlu mengabaikan segala strategi optimasi Instagram. Kemudian, cukup menjadi manusia seutuhnya.

Waktu kita tidak hanya digunakan untuk bermain Instagram. Kita juga punya kehidupan lain. Ada anak dan pasangan yang butuh diperhatikan. Ada rumah yang butuh sentuhan kita. Jangan sampai kesibukan kita di dunia maya membuat kita lupa akan apa yang ada di depan mata kita.

Ini cukup menyentil bagi saya. Sejak menjalankan strategi yang saya tulis di atas, saya memang jadi sering kurang tidur. Saya akan marah kalau ketiduran dan tidak dibangunkan oleh suami. Padahal, maksud beliau baik.

"Semalam kan Adek tidurnya cuma bentar."

Saya tidak bilang bahwa saya tidak bahagia menjalani itu semua. Saya senang menjalani semuanya. Saking senangnya, begadang hampir tiap malam pun tidak terasa lelah. Tapi, kalau itu diteruskan, rasanya saya akan berubah menjadi robot. Karena alasan ini pula, saya ubah lagi strategi supaya tetap bisa selow menjalankan semua ini. Intinya, waktu saya bersama keluarga, menjalankan amanah sebagai istri dan ibu, serta istirahat saya tidak lagi terganggu.

Kesimpulan

Well, kita sudah sampai ke kesimpulan. Intinya sih, Instagram bagi blogger itu adalah salah satu jendela yang bisa membuka peluang-peluang baru. Mau mendatangkan kunjungan bisa, mau branding diri bisa, apalagi untuk menunjukkan karya yang sudah kita hasilkan. Semuanya bisa. Hanya saja, itu semua butuh proses dan kegigihan untuk mewujudkannya. Kalau kita mau usaha dan tidak berhenti berjuang, apa yang kita impikan pasti bisa terwujud.

Mau punya banyak follower? Bisa. Mau blog ramai kunjungan? Bisa. Mau punya pembaca setia? Bisa juga. 

Semangat!

***

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Blog IM3 Ooredoo X IIDN Mengoptimalkan Peluang Dunia Blogging

lomba blog