[Review Film] Kim Ji-Young: Born 1982

By Aprilely Ajeng Fitriana - Monday, September 07, 2020

Kim Jin-Young:Born 1982


Kim Ji Young: Born 1982 adalah film yang saya tonton awal tahun 2020 ini. Sudah cukup lama memang, tapi vibesnya masih terasa hingga kini. Film ini diangkat dari novel yang disusun oleh Cho Nam-Ju dengan judul serupa. Tulisannya didasarkan pada budaya yang ada di Korea tentang bagaimana seorang perempuan yang sudah menikah diperlakukan.

Katanya juga, karya Cho Nam-Ju ini merupakan bentuk kritik tidak langsung terhadap budaya patriaki yang ada di sana. Meski tidak semuanya sama, tapi apa yang dialami oleh Kim Ji-Young ini memang banyak dialami oleh kita sebagai ibu baru.

Tulisan ini akan banyak mengandung spoiler. Jadi, buat nggak suka dikasih spoiler, bisa skip aja bagian sinopsisnya.

Sinopsis Kim Ji-Young: Born 1982

Film ini dibuka dengan scene yang cukup membuat gemas dan penasaran tentang siapa Kim Ji-Young, apa yang sudah dia lakukan sampai jadi bahan omongan orang. Ceritanya Kim Ji-Young sedang duduk santai di taman sambil meminum kopi. Sepertinya sih, dia sedang istirahat sebentar setelah mengajak bayinya jalan-jalan.

Lagi enak-enaknya menikmati segelas kopi panas, terus ada orang yang nyeletuk di belakangnya.

"Enak banget ya bisa minum kopi santai kayak gitu. Tinggal habisin duit suami aja."


Kim Jin-Young:Born 1982



Jujur, komentar ini yang bikin saya penasaran lebih lanjut sama Kim Ji-Young ini. Siapa sih dia kok sampai dibilang gitu? Si cewek matre kah? Suaminya sekaya apa sih? Dan banyak pertanyaan-pertanyaan lain.

Scene berikutnya nih yang menjelaskan Kim Ji-Young ini siapa. Dia ini ibu rumah tangga yang ceritanya baru melahirkan. Nggak baru-baru amat sih. Tapi anaknya masih di bawah satu tahun. Sebagai ibu yang juga punya anak umur segini, tahu buanget gimana repotnya urus rumah dan diri sendiri.

Dia tinggal bersama suami dan anaknya. Tempat tinggalnya bukan tempat tinggal yang sederhana. Bisa dibilang standard lah ya.


Kim Jin-Young:Born 1982



Meski sudah digambarkan siapa Kim Ji-Young ini, masih ada pertanyaan besar dalam benak saya. Sematre apa sih dia sampai dikatain begitu? 

Sampai akhirnya, ketemu nih sama suaminya. Kalau dilihat di film ini, suaminya tuh buaik banget. Suaminya bukan suami yang cuma kerja, terus sampai rumah istirahat. Nggak gitu.

Jung Dae-Hyun, suami Ji-Young ini tipe-tipe family man banget. Kalau di rumah, dia ikut asuh anaknya. Main sama anaknya. Bahkan, dia juga ikut mengerjakan pekerjaan rumah, seperti mencuci baju.

Dae-Hyun ini sebetulnya sadar kalau istrinya ini sedang tidak baik-baik saja. Tapi, dia bingung gimana ngomongnya. Setiap dia tanya ke Ji-Young, jawabannya ya sama.

"Aku baik-baik aja kok."

Biasalah. Perempuan memang gitu. Sering merasa baik-baik saja. Padahal, dia lagi stress berat atau capek yang luar biasa.

Tahu istrinya begini, Dae-Hyun pingin ngajakin istrinya buat piknik alih-alih dateng ke acara tahun baru bareng keluarga. Tapi Ji-Young menolak. Dia nggak bisa skip acara itu karena dia merasa wajib bantuin ibu mertuanya siapin acara keluarga.

Dan tibalah hari yang dinanti. Dari raut wajahnya sih, Ji-Young tuh udah capek banget. Secara fisik dia capek, secara mental dia juga capek.

Satu scene yang bikin saya kesel lagi adalah ketika ibu mertuanya ngasih celemek masak buat Ji-Young. Katanya, lihat celemek keinget menantunya. Maksud ibu? Menantu ibu pembantu? 


Kim Jin-Young:Born 1982



Asli, saya kesel banget sama mertuanya. Mana kayak semuamuanya dikasih ke Ji-Young. Terus waktu Dae-Hyun mau bantuin, sama ibunya nggak diizinin. Part yang lebih ngeselin sekaligus bikin gue bengong kebingungan adalah scene ketika adik Dae-Hyun datang.

Adik iparnya datang, lalu ibunya menyambut dengan manis. Muanis banget sampai nggak boleh bantu apa-apa. Padahal, Ji-Young masih di dapur ngurus ini itu. Ya kesel kan jadinya.

Lalu, sesuatu terjadi. Tiba-tiba Ji-Young ngomel. Sejujurnya, saya nggak ngeh maksudnya waktu Ji-Young ngomel ini. Saya kira, ini cuma karena capek dan sebel yang sudah tumbuh menjadi satu. Ternyata, tidak sesederhana itu.

Siapa orang yang sadar dengan ini? Tentu saja Dae-Hyun. Tapi, dia nggak ngerti ngasih tahu ke Ji-Young dan orang-orang gimana.

Pelan-pelan, Dae-Hyun minta Ji-Young buat dateng ke psikolog. Masalahnya, Dae-Hyun nggak bilang ke Ji-Young separah apa dia. Dae-Hyun cuma bilang kalau MUNGKIN Ji-Young butuh psikolog. Jadi, ya nggak salah dong kalau Ji-Young ngebatalin konsultasi sama psikolog ketika tahu harganya.

Ji-Young ini seperti banyak ibu yang ada di luar sana. Dia memutuskan untuk berhenti bekerja setelah punya anak. Meski begitu, rutinitas jadi ibu yang rasanya gitu-gitu aja bikin dia pingin balik kerja lagi. Meraih segala hal yang dia cita-citakan.

Bagian ini juga bikin dia galau. Apalagi bosnya yang dulu nawarin kerja bareng dia. Sempat izin ke suaminya, tapi sama suaminya dilarang. Sebetulnya, Dae-Hyun ngelarang bukan karena takut disaingin apa gimana sih. Dia khawatir aja sama istrinya. Sekarang aja istrinya udah cukup stress. Kalau kerja, apa kabar?

Tapi lagi-lagi gara-gara masalah komunikasi yang nggak bener, maksud Dae-Hyun jadi nggak sampai ke Ji-Young. Stress lagi. Muncul lagi kepribadian lain di dirinya. Suaminya sampai nangis lihat kondisi ini. Super duper merasa bersalah ke Ji-Young. Dia merasa Ji-Young begini karena nikah sama dia.

Akhirnya, Dae-Hyun izinin Ji-Young kerja. Dia milih buat sama-sama asuh anak. Bahkan, Dae-Hyun rela ambil cuti pasca melahirkan. Oya, kalau di Korea ini juga berlaku ke suami. Meskipun, banyak yang akhirnya kesulitan untuk kembali bekerja.

Dae-Hyun ini nggak bilang ke ibunya. Eh, Ji-Young dong, waktu ditelpon mertuanya dengan suka cita cerita hal ini. Ya ngamuk mertuanya. Sebetulnya, mertuanya ini udah agak mulai merasa bersalah dan stop push menantunya. Tapi, gara-gara diceritain gini dan merasa karier anaknya terancam dia marah banget.

Ji-Young stress lagi. Muncul lagi kepribadiannya yang lain. Dia jadi orang lain lagi. Kali ini ibunya tahu dan hancur banget lihat anaknya sedepresi itu. Ibunya sebel sama keadaan yang lebih memuliakan anak laki-laki dibanding perempuan.


Kim Jin-Young:Born 1982



At the end, Dae-Hyun coba bilang ke Ji-Young lagi untuk pergi ke psikolog. Dia tunjukin bukti kalau Ji-Young literally butuh bantuan. Ini agak sulit buat diterima memang. Tapi, demi anaknya, Ji-Young mau melakukan itu.

Ji-Young mundur dari tawaran pekerjaan yang dikasih bosnya. Dia mau fokus sama terapinya. Dia belajar buat ngungkapin apa yang dia pendam secara verbal dan tulisan. Dan, hal-hal baik pun terjadi. Ji-Young nemu cara untuk bisa tetap menyalurkan eksistensi diri tanpa meninggalkan keluarganya.

Oya, di akhir cerita ketahuan tuh siapa yang suka ngomongin Ji-Young di dekat coffee shop. Literally, orang asing. Tapi, tokoh ini betul-betul mewakili segala hal yang terjadi.

Pesan yang Ingin Diambil dari Film Kim Ji-Young: Born 1982

Kim Jin-Young:Born 1982


Setiap film tentu dibuat dengan tujuan tertentu. Melalui segala macam cerita yang disajikan, ada pesan yang ingin disampaikan ke para penikmatnya. Begitu juga film ini. Ada beberapa pesan yang saya tangkap dari film ini.

1. Kritik terhadap budaya patriaki

Kalau kalian nonton film ini, jelas banget kalau film ini emang pingin mengkritik budaya patriaki di Korea. Bahkan, nggak cuma di Korea aja sih, di seluruh penjuru dunia. Biasanya sih, solusi dari hal ini ya ke arah feminisme. 

Perempuan bisa berkarya. Perempuan berhak meraih mimpinya. Perempuan punya kesempatan yang sama dengan laki-laki. Biasanya akan begitu.

Sedikit banyak film ini menyampaikan hal itu juga. Meskipun, di akhir cerita nggak gini-gini amat. Hal yang saya suka dari Ji-Young adalah kekuatannya dalam menerima segala keadaan dan mau bangkit. Pilihan untuk membersamai keluarganya dulu yang akhirnya nuntun dia menuju suksesnya sendiri.

2. Baby blues itu masalah nyata

Dulu, saya pikir baby blues itu hanya terjadi pada ibu-ibu baru, seperti saya. Ibu yang baru pertama kali punya anak. Realitanya tidak. 

Ada banyak ibu-ibu yang sudah pernah melahirkan yang juga terkena sindrom satu ini. Gara-gara itu juga saya jadi kepo lebih dalam. Kok bisa sih?

Dari hasil pencarian sana-sini, akhirnya saya paham bahwa baby blues adalah kondisi yang amat dekat dengan perempuan yang baru saja melahirkan. Kondisi ini dipicu karena perubahan hormon yang amat drastis. Saya sih membayangkannya seperti ketika kita akan datang bulan. Itu kan apa-apa jadi senggol bacok ya. Sensitif sekali. Kalau lingkungan sekitar justru memicu aneka rupa tekanan, ya memungkinkan sekali baby blues ini datang.

3. Pentingnya komunikasi suami istri

Kalau kalian nonton film ini dari awal, pasti gemes banget sama suaminya. Dia tahu dan amat sadar bahwa istrinya itu punya masalah. Tapi, dia diam saja. Bingung sendiri. Padahal, dia itu tinggal bilang lho. Ngobrol sama istrinya, kamu punya masalah. Terus tunjukin buktinya. Selesai.

Ini malah muter-muter dulu. Nanya sana-sini yang berujung pada sama-sama lelah. Istrinya nggak sembuh, tapi sakit hati lagi. Dianya juga makin lelah dengan semua ini. 

Dari film ini, kita bisa belajar bahwa ketika kita punya masalah dengan pasangan, ya sudah, obrolin aja. Cari waktu yang tepat. Misalnya, obrolan sebelum tidur. Kalau nggak bisa ya waktu makan. Waktu ketika semuanya lagi selow dan nggak megang kerjaan masing-masing. Terus ngobrol.

Memang, komunikasi antara suami istri itu tidak semudah teorinya. Banyak sekali pertikaian yang terjadi, hanya dimulai dari obrolan. Nah, ini seninya. Seni memahami pasangan dan bagaimana menyampaikan maksud kita. Tentu, hal semacam ini butuh banyak sekali belajar dan praktik. 

Banyak masalah besar semacam perselingkuhan, perceraian, kekerasan dalam rumah tangga, rumah tangga yang makin dingin, hanya karena ketidakmampuan satu sama lain dalam berkomunikasi. Untuk itu, kalau mau rumah tangganya langgeng, yuk belajar berkomunikasi sama pasangan. Saya dulu belajar ini dari websitenya John Grey, penulis Mars vs Venus. Dari situs itu, saya jadi banyak tahu tentang jalan pikir laki-laki dan perempuan ini.

Perempuan dalam Sudut Pandang Islam

Kim Jin-Young:Born 1982



Dalam film ini, kita akan amat sering melihat bagaimana seorang perempuan dianggap sebelah mata. Ketika dia memilih sebagai ibu rumah tangga, dia dianggap tidak produktif dan hanya bisa menghabiskan uang suami. Ketika dia memilih sebagai wanita karir, dia pun dianggap menelantarkan anaknya. Apapun pilihan yang diambil oleh perempuan, seolah semuanya salah. 

Nah, dari pada bingung harusnya bagaimana. Mari kita lihat bagaimana Islam memandang persoalan semacam ini.

Kondisi serba salah yang dialami oleh para perempuan di film ini juga sering dialami oleh para perempuan di dunia. Mana yang lebih baik? Jadi ibu rumah tangga saja atau berkarir dan menggapai mimpi? Dalam Islam, hal ini bukan sesuatu yang harus dipermasalahkan. Kenapa? Hukumnya mubah. Boleh perempuan memilih bekerja atau tidak. Satu hal yang harus diingat perempuan, bahwa tugas utamanya adalah menjadi ibu dan pengatur rumah tangga.

Peran ibu adalah peran yang selamanya tidak akan bisa digantikan oleh orang lain. Ini peran yang harus diambil ibu apapun pilihan yang dibuat. Entah itu tetap bekerja di luar rumah atau tidak. Pengasuhan dan pendidikan dari ibu tidak. Jadi, kalau seorang ibu memilih untuk bekerja di luar rumah. Dia harus memastikan tugasnya yang satu ini tetap dapat dijalankan dengan baik. Jangan sampai mengejar yang mubah tapi justru melalaikan yang wajib.

Selain menjadi ibu, perempuan adalah pengatur rumah tangga. Artinya, semua urusan rumah tangga dia yang mengaturnya. Tentu, mengatur tidak sama dengan menyelesaikan semuanya sendiri. Boleh mendelegasikan pekerjaan rumah tangga pada orang lain. Pakai catering harian, punya asisten rumah tangga, atau sesederhana berbagi tugas dengan suami. Itu semuanya boleh. Asal, semuanya tetap undercontrol. Kita yang mengendalikannya. Kita yang memastikan bahwa semuanya tuntas.

Setelah menikah, perempuan memang diwajibkan untuk taat pada suami. Tentu saja, selama perkara itu tidak melanggar syariat. Tapi, tidak serta merta seorang istri berubah menjadi bawahan suami. Dia jadi diperlakukan seolah seperti seorang pembantu. Kalau kita mau melihat dengan kacamata yang utuh bagaimana Islam mengatur hal ini, ternyata tidak begitu halnya. Kita bisa melihat contoh yang diberikan Rasulullah kepada para istrinya. Bagaimana beliau begitu memuliakan istrinya, mau membantu meringankan tugas istri, dan sebagainya. Ini di luar kewajibannya mencari nafkah ya. Jadi, nggak ada ceritanya dari mulut suami keluar begini.

"Aku tuh udah capek kerja. Ya kamu urus rumah yang bener dong."

Wow. Menurut ngana, urus rumah itu semudah membalikkan telapak tangan? Ini belum lagi kalau rumahnya besar, anaknya banyak, menyelesaikan tugas domestik juga jadi PR besar. Peran suami dalam rumah tangga bukan sebagai big boss yang atur sana sini. Tugas laki-laki adalah sebagai qowwam atau pelindung dan pemimpin bagi perempuan. Ketika hal ini dipahami, tidak mungkin seorang laki-laki memperlakukan istrinya sewenang. Kalau ini dipahammi oleh semua orang, apa yang dialami Ji-Young tidak akan pernah terjadi.

Itu kondisi idealnya. Realitanya, tentu tidak begitu. Berislam ternyata tidak selalu membuat laki-laki dan perempuan paham akan hak dan kewajibannya setelah menikah. Akhirnya, penyelewengan terjadi di sana-sini. Kenapa demikian? Ini karena baik sendiri saja sulit. Butuh orang lain yanb terus menerus mengingatkan. Butuh lingkungan yang mampu memberikan contoh yang baik. Terakhir, negara pun harus memberikan wewenangnya untuk melindungi perempuan. Kalau hal ini bisa diwujudkan, insya Allah apa yang dialami oleh para perempuan dalam film ini akan dapat diminimalisir.

Kesimpulan

Overall, saya suka film ini. Mungkin juga karena topik yang diangkat related dengan kehidupan sehari-hari sebagai seorang ibu. Rasanya itu, maju kena, mundur juga kena nyinyiran orang. Wkwkwk..

Nah, sekarang soal penilaian. Dari 1 sampai dengan 5, saya mau kasih 4,5 untuk film ini. Jalan ceritanya oke, acting para pemainnya oke, semuanya itu ngena banget, hanyanada sedikit sekali bagian yang memang mengganjal dalam pikiran saya.

Kalian sudah nonton film ini belum? Kasih komentar kalian tentang film ini juga ya.

  • Share:

You Might Also Like

9 komentar

  1. Lhainii baru review yang melegakan wkwk. Kalau mba Ji Young ngaji (kaya yang mba Lelly bilang tapi, bukan berislam aja tapi ngaji beneran) mungkin nggak akan se-stress itu.

    Awal dulu aku mau nonton film ini, suami aku ngingetin: "Yakin mau nonton? Jangan kebawa baper lho ya". Akhirnya aku nonton juga walaupun sempet kena baper dikit. Ya gimana yaa, sebagai sesama mamak pasti kerasa realate banget nonton ini. Tapi efek yang paling gede abis nonton ini adalah aku jadi mikir kalau aku belum sekeras itu buat mengatur rumah tangga. Kayanya aku terlalu menjaga kewarasan jadi kebablasan santai huhu. Intinya mba Ji Young bikin aku jadi semangat lagi buat all out bersih-bersih rumah hehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wkwkwk... Susaaah kalau nggak baper tuh. Film ini terlalu relate dengan kenyataan. Meski nggak segitunya juga sih. Tapi sedikit banyak kecolek juga. 😆

      Delete
  2. Aku blm pernah nonton film ini mbak, kayaknya emg relate bgt sm kehidupan sehari2 yaa. Bener sih kl baby blues betul2 ada, saudaraku pernah merasakan ini pasca melahirkan. Beneran sekuat tenaga buat bisa melewati baby blues

    ReplyDelete
  3. Wah jadi pengen nonton film ini mbak, karena temanya deket banget dengan keseharian emak-emak, hehe.
    Makasih artikelnya komplit banget dan memberi insight yang menarik...

    ReplyDelete
  4. Omongan tetangga memang pedis, apapun yg kita lakukan pasti di anggap kurang benar, kita harus benar-benar punya telinga tebal masuk kuping kanan harus di kluarkan kuping kiri, jangan sampai masuk ke hati nanti capek sendiri hehe, di film ini menggambarkan keseharian dan panasnya omongan kusak-kusuk tetangga maupun ibu mertua.

    Hikmahnya sebagai seorang perempuan maupun istri harus kuat dg omongan orang" sekitar agar rumah tangga bisa harmonis nggak cek-cok hanya karena omongan tetangga :)

    ReplyDelete
  5. belum pernah nonton film korea ini mba, kebetulan saya memang jarang nonton drama, tapi suka kalau direviewin kayak gini, suka bacanya heheheh, btw bagus juga ya pesan moralnya soal patriarki, komunikasi pasangan, dan baby blues yang jarang dibahas

    ReplyDelete
  6. Film di tonton di awal tahun mah belum lama atuh Teh, daku malah film yang ditonton 5 tahun lalu masih tetep berasa vibesnya. Karena sebuah tayangan yang bagus responnya dari penonton akan terus bagus walau sudah ditonton dari waktu lalu. 😃

    ReplyDelete
  7. Aku penyuka drakor. Tapi belum pernah bikin reviewnya. Baca ini jadi jadi penge juga nulis reviewnya. Bisa lebih jelas apa manfaat yang didapat dari nonton drakor tersebut dengan dituliskan. Bahkan bisa berbagi pada yang lain. Yang ini belum kutonton tapi.

    ReplyDelete
  8. Aku belum pernah nontonnya, juga belum pernah baca bukunya. Apakah filmnya begitu dramatis? Apakah seperti sinetron-sinetron ibu-ibu jahat vs tokoh yang sabar sekali?

    ReplyDelete