Ketika Orang Tua Terlalu Toxic, Harus Apa?

By Aprilely Ajeng Fitriana - Thursday, September 05, 2019

Pernah dengar istilah toxic people? Seperti namanya, toxic people itu artinya orang yang beracun. Jangan dibayangkan seperti Nagin siluman ular gitu ya. Nggak gitu juga. Mereka ini orang-orang yang suka meracuni pikiran-pikiran kita. Tujuannya supaya kita terus merasa bersalah, kehilangan semangat, hidup dalam ketakutan, dan semacamnya.

Masalah yang muncul adalah orang ini nggak sadar kalau ternyata dia itu toxic bagi orang lain. Nggak cuma itu aja, orang-orang semacam ini memungkinkan untuk hadir dalam hidup kita. Saya pernah bikin polling di instagram terkait bagaimana cara menghadapi toxic people ini. Sebagian besar memilih untuk pergi dan menjaga jarak sejauh mungkin. Bahkan, kalau perlu semua akses untuk berhubungan, baik itu social messenger dan media diblok.

Kalau saya ketemu toxic people, saya pun akan melakukan hal yang sama. Ambil langkah mundur teratur, lalu pergi sejauh-jauhnya. Blok semua akun itu mungkin juga akan saya lakukan kalau yang bersangkutan terlalu toxic untuk saya.

Pertanyaan lain muncul, bagaimana ya kalau ternyata si toxic people ini adalah orang terdekat kita? Orang tua kita, misalnya. Jeng jeng jeng jeeeeeng...

Toxic parents


Apakah pilihan untuk pergi sejauh-jauhnya tetap menjadi pilihan kita? Ataukah ada cara lain yang bisa kita ambil untuk menghadapi situasi semacam ini?


Toxic Parents


Saya percaya dan masih meyakini bahwa setiap orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya. Hal ini yang menjadikan para orang tua berusaha berjuang untuk memberikan yang terbaik yang mereka mampu. Namun, adakalanya upaya ini bukan membuat anak semakin terpacu untuk menjadi baik, justru semakin melukai anak.

Banyak orang tua yang tanpa sadar telah menjadi toxic dalam kehidupan anak-anaknya. Sebetulnya, kalau diruntut lebih jauh lagi, ini bukan sepenuhnya kesalahan mereka. Pola asuh yang keliru dan luka batin yang mereka pendam selama inilah yang memicu mereka bersikap demikian. Mereka tidak sadar atau lebih tepatnya tidak tahu bahwa perbuatan mereka yang justru memberikan dampak buruk kepada anak-anak mereka.


Sikap yang Perlu Dilakukan untuk Menghadapi Toxic Parents


Saya tahu bahwa tidak mudah "berperang" dengan orang tua sendiri. Segalanya jadi serba salah. Ada hak orang tua atas kita yang perlu kita penuhi. Tapi, bertemu pun bukan sesuatu yang mudah bila luka yang ditimbulkan ternyata begitu dalam.

Lalu, apa yang harus dilakukan?

1. Memaafkan dan menerima orang tua apa adanya

Kita perlu bersyukur bahwa hari ini kita bisa belajar ilmu parenting dari berbagai sumber dengan amat sangat mudah. Ada banyak artikel yang bersliweran di sana sini yang memudahkan kita untuk belajar, belajar, dan belajar. Kita bisa belajar untuk menjadi role model terbaik bagi anak-anak kita dari segala kemudahan itu.

Lalu, apa kabar dengan orang tua kita? Bukankan akses informasi tak sederas sekarang? Seminar-seminar parenting juga tak semasif hari ini? Dari mana mereka belajar?

Mana lagi jika bukan menggunakan intuisi terbaik mereka. Meniru dari apa yang orang tua mereka lakukan dahulu. Masalah tepat atau tidak, itu yang kemudian menjadi permasalahan selanjutnya.

Kita bisa saja marah dengan kondisi ini. Dendam dengan orang tua sendiri. Memendam kebencian yang teramat dalam atas luka yang mereka sebabkan. Tapi, mau sampai kapan? Bukankah segala energi negatif itu yang justru membuat kita terluka semakin dalam?

Saya tahu bahwa memaafkan dan menerima mereka apa adanya bukanlah hal yang mudah. Tapi, inilah yang perlu kita upayakan untuk betul-betul bisa mengobati segala sakit yang mereka timbulkan.

Kita memang tidak pernah bisa memilih lahir dari keluarga mana dan dibesarkan dengan cara yang bagaimana. Kita tidak bisa memilih itu. Tapi kita bisa memilih sikap seperti apa yang sebaiknya kita lakukan pada orang tua kita. Lepas dari segala hal buruk yang pernah kita alami bersama mereka.

2. Membuat jarak bila memang diperlukan

Saya pernah mendapat cerita tentang suami istri yang hampir saja bercerai hanya karena orang tua. Mereka tinggal dekat dengan orang tua, bahkan satu atap. Orang tuanya mendesak anaknya untuk berpisah karena satu dan lain hal yang sebetulnya amat tidak masuk akal. Akhirnya, suami istri ini memutuskan untuk pisah rumah dengan orang tuanya.

Tentu saja, ini membuat orang tuanya marah besar. Tapi mereka hadapi semua itu demi mempertahankan rumah tangga mereka. Sebulan setelah pisah rumah dengan orang tua, keadaan membaik. Sedikit demi sedikit hubungan dengan orang tua pun bisa mereka atasi.

Ada banyak sekali kisah tentang jarak anak dengan orang tua yang justru membuat keadaan semakin membaik. Bisa jadi karna keduanya akhirnya sama-sama belajar untuk melihat dari sisi lain yang selama ini tidak mampu mereka lihat.

Saya pun sama dengan kalian semua. Seorang anak dari orang tua yang penuh dengan keterbatasan. Ada banyak hal yang sering membuat saya marah kepada mereka, kecewa, terluka. Tapi tahukah kalian? Saat saya memutuskan untuk merantau, justru jarak yang membuat saya mampu lebih memahami mereka.

Hubungan anak dengan orang tua ini unik. Kalau dekat sepertinya ada saja yang diributkan. Ada saja yang membuat satu sama lain terluka. Tapi ketika jauh, justru rindu yang membuat luka-luka itu sembuh. Rindu yang menjadikan diri ini lebih mudah untuk memaafkan mereka. Dan akhirnya, dengan berbesar hati kita mampu mengatakan ini.

"Mereka melakukan semua itu karena mencintai saya."


3. Mintalah pertolongan

Kalau kalian tidak sanggup dengan segala tekanan yang diberikan oleh orang tua kalian, tidak ada salahnya lho berbagi hal ini dengan orang yang kalian percaya. Bisa sahabat, pasangan, psikolog, atau murobbi. Jangan dipendam sendiri. Adakalanya, kita butuh sudut pandang lain dalam menyikapi hal ini.

Memendam masalah sendiri justru tidak baik. Banyak sekali masalah-masalah yang terkait dengan mental health yang disebabkan karena ini. Dalam kondisi terburuk, bisa saja memicu depresi akut. Kalau sudah begini, biasanya keinginan untuk bunuh diri bisa saja muncul. Nggak mau kan ya semacam ini?

Selain meminta pertolongan orang lain, tentu saja kita juga harus banget meminta pertolongan pada Dzat Yang Maha Membolak-balikkan hati manusia. Allah yang menciptakan mereka. Allah yang menggenggam segala kuasa atas mereka. Maka, serahkan segala urusan kepada Allah. Minta tolong sama Allah agar semuanya bisa dihadapi dengan mudah. Apa sih yang nggak mungkin kalau Allah sudah berkehendak?

Putus Lingkaran Setan, Stop Jadi Toxic Parents


Mungkin ada di antara kita yang merasakan menjadi korban dari orang tua yang toxic. Tapi, pernah nggak sih kita coba tanya ke dalam diri kita sendiri, apa iya saya bukan toxic parents juga?

Sama seperti orang tua kita dulu yang tanpa sadar ngasih racun ke kita, bisa jadi kita pun mengulang kesalahan yang sama pada anak-anak kita. Bedanya, saat ini kita sadar betul dampak dari perilaku toxic ini pada kehidupan anak di masa yang akan datang. Nggak mau kan anak-anak kita punya inner child seperti yang dulu kita alami?

Yuk, kita pahami ciri-ciri toxic parents itu apa. Tujuannya, agar kita bisa mengevaluasi diri dan mengubah sikap saat menemui hal semacam ini terjadi pada diri kita.

1. Kelewat kritis

Apa-apa dikritik. Anak melakukan hal yang salah dikritik. Melakukan hal yang baik dikritik juga. Semua jadi serba salah.

Hati-hati ya. Kalau kita punya pola asuh semacam ini ke anak, dia bisa tumbuh menjadi pengkritik berat. Nggak hanya ke orang lain, tapi ke dirinya sendiri.

2. Melarang anak mengekspresikan emosi negatif

"Jangan marah!"
"Jangan nangis!"

Ini nih salah satu contoh yang tidak sehat. Padahal anak juga butuh menyalurkan emosi negatifnya. Hanya saja, kita perlu mengajarkan dia bagaimana mengendalikan emosi itu agar tidak sampai merusak diri dan sekitarnya.

Melarang anak untuk mengekspresikan emosi negatif justru akan membuat anak lebih rentan pada depresi. Dia juga akan kesulitan untuk menghadapi emosi negatifnya saat dia tumbuh dewasa nanti.

3. Berlebihan

Segala sesuatu kalau dilakukan secara berlebihan tentu jadinya akan tidak baik. Kita ingin anak kita aman, tapi kita berlebihan dalam "melindungi" anak. Segala hal yang berkaitan dengan anak dipantau dan diintai secara berlebih. Bahkan ikut campur dalam urusan anak terlalu jauh.

Jangan begitu ya. Ini reminder juga sih untuk diri saya sendiri. Semoga nggak jadi orang tua semacam ini. Sebelum melakukan hal ini lebih jauh, coba deh balikkan lagi ke diri kita, nyaman nggak kalau diperlakukan seperti itu?

4. Mengatur target dan tujuan anak

"Udahlah, jadi PNS aja. Hidupnya lebih terjamin. Iya sih gajinya kecil, tapi ada terus."

"Kamu harus masuk IPA ya, biar cari kuliah gampang."

Dan masih banyak contoh yang lain. Well, kalau kita udah begini, kayaknya perlu nih nampar diri sendiri.

"Dear me, dia bukan saya. Dia punya jalan hidupnya sendiri. Tugas saya bukan menentukan masa depannya, tapi membimbingnya untuk meraih cita-citanya."

Itu sih yang perlu kita katakan pada diri sendiri. Soalnya, orang tua semacam ini, biasanya sampai tega membuat anak merasa bersalah agar mau mengikuti keinginan orang tua.

"Nggak cuma kamu yang berjuang, tapi Mama juga. Masa kamu mau jadi itu?"

Segala macam hal yang pernah dilakukan diungkit semuanya. Ya uang, ya tenaga, ya materi. Semuanya diungkit. Maksudnya sih biar tetap bisa mengendalikan anak.

5. Meminta perhatian dan waktu lebih dari seharusnya

Kalau yang ini, tipe-tipe orang tua yang suka minta perhatian dan waktu lebih ke anak. Tidak hanya itu, mereka juga akan membuat anak merasa bertanggung jawab atas kebahagiaan mereka.

Dari kelima point yang sudah disampaikan, semoga nggak ada ya dalam diri kita. Semisal ada, semoga hal ini bisa kita jadikan bahan untuk introspeksi diri.


Kesimpulan


Punya orang tua yang toxic banget memang nyiksa lahir batin. Beberapa orang yang nggak tahan dengan ini bisa terganggu mental health-nya. Tapi, kita perlu banget ingat bahwa nggak semua hal bisa kita kendalikan. Termasuk mengendalikan siapa yang layak jadi orang tua kita.

Alih-alih meratapi nasib dan mengutuk orang tua, ada baiknya kita mulai bersahabat dan menerima kenyataan. Kita memang tidak bisa memilih siapa yang menjadi orang tua kita, tapi kita bisa memilih menjadi anak seperti apa kepada orang tua kita.

Lepas dari perbuatan mereka, kita masih punya kewajiban untuk berbakti kepada mereka. Dan ini nggak akan pernah hilang selama mereka masih hidup. So, mumpung orang tua kita masih hidup, mari kita sikapi segala masalah dengan bijak.

  • Share:

You Might Also Like

56 komentar

  1. saya lakukan nomer 2: dari lulus Sd sampai kuliah pilih hidup di luar rumah, masa sekolah di pesantren, kuliah kost, eh kerja kost lagi, karena bawaannya dirumah malah stress, ga happy. alasannya yaitu: toxic parent, terutama bapak saya yg mudah sekali marah2-.-' pernah minta tolong ke paman bibi gitu tapi mereka sendiri jg ga berani ngadepin bapak saya, selain krn di tua kan di keluarga. ya sudah..pilih menjauh, nengok pas libur, malah lebih mending, ketemu dgn kondisi baik, jadi jarang ngomel hehe, kalau seatap...pusing dengernya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. emang ya, kalau ortu mudah marah tuh, kitanya juga jadi lebih stress kalau di rumah. pinginnya sih nggak terlalu lama ketemu. antara males dengerin omelan yang itu-itu aja, atau bisa juga males dengan segala justifikasi yang diberikan.

      Delete
  2. Pernah ngalamin, dan tapi akhirnya orang tua luluh sama kemauan anaknya yg keras kepala :'D

    ReplyDelete
  3. Memberi kasih sayang yang berlebihan dengan memenuhi segala keinginannya juga katanya termausk toxic. Saya pun sering berkaca tentang toxic parent. Semoga sebagai orang tua, dijauhkan dari sifat ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya ini juga termasuk poin ketiga. ini bisa bikin anak nggak mandiri dan sulit untuk memutuskan apa yang sebetulnya dia inginkan.

      Delete
  4. Sebagai anak biasanya terkungkung, dan tidak berani ambil keputusan, padahal lebih baik kalau ada jeda dengan orang tua yang toxic...
    Sebagai calon orang tua, ini pelajaran banget supaya kelak tyda jadi orang tua yang toxic... :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, kalau terlalu toxic memang sebaiknya ada jeda untuk napas. bukan berarti lari ya..

      Delete
  5. Harus nyanyi!!!

    *joged-joged ala Britney Spears sambil nyanyiin 'TOXIC'

    hahahahaha.

    Betewe, thanks deh tulisannya, poin-poinnya ada yang menampar saya, eh nggak ding, mencubit aja haha

    Saya kadang kalau udah capek beneran melarang anak mengekspresikan emosi negatifnya, nggak boleh marah, nggak boleh nangis.

    Astagaaa hiks

    Mamak emang kudu setrrooonggg, biar ga maramara mulu :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. wajar sih, semua ibu memungkinkan begitu, tinggal gimana kita bisa nahan diri aja.

      Delete
  6. Semoga saya bisa terus melepaskan jaringan-jaringan toxic parents pada diri ini. Masih banyak salahnya sih tapi terus berusaha memperbaiki agar lebih baik

    ReplyDelete
    Replies
    1. aamiin ya rabbal alamiin.. semangat mbak. you can do it

      Delete
  7. mbaaa aku membacanya jadi auto refleksi diri untuk memutus juga rangkaian menjadi orang tua yang menyebalkan bahkan d cap oleh anak nanti sebagai toxic parent. Semoga kita menjadi anak yg berbakti kepada org tua dan anak-anak kita sayang sama kita yaa

    ReplyDelete
  8. Baru tahu dengan istilah toxic people. Mungkin memang ada orang tua yang terlalu menekan anaknya, dan kita sebagai orang tua atau calon orang tua jangan sampai menjadi toxic untuk anak sendiri.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak, masalahnya toxic people ini suka nggak sadar kalau dirinya toxic.

      Delete
  9. Sy nggak ngeh sih ortu toxic ap nggak, tp stlh bca ini kyknya iya deh. Semoga bisa jd ortu yg baik buat anak tnpa jd toxic.

    ReplyDelete
    Replies
    1. toxic atau nggak itu kita yang ngerasain sih mbak. nggak semua orang tua toxic juga. ada batasnya intinya.

      Delete
  10. Duh, sesekali memang aku suka bilang jangan nangis dan jangan marah ke anak. Apakah ini jadi bentuk toxic? Hm ...

    Memang kadang ada ortu yang otoriter dan kelewat batas terhadap anak. Tidak mungkin juga ambil jarak Karena masih tinggal satu rumah. Memang memaafkan adalah jalan terbaik pastinya. Postingan yang bagus dan mencerahkan. Trims sharingnya, Mbak Lely

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak. kalau memang gabisa pisah rumah ya harus cari alternatif lain.

      sama-sama mbak lia

      Delete
  11. Toxic ditulisan ini memang terkadang nggak dapat dielakkan. ada rasa serba salah, kalau ini jadi salah, itu jadi gimana.

    ReplyDelete
    Replies
    1. manusia kan tempatnya salah mbak. nggak ada yang 100% sempurna, tapi dari yang salah-salah itu, gimana caranya bisa cepet dibenerin dan nggak diulangin lagi.

      Delete
  12. ngerasain juga efek toxic parents meski gak banyak dan gak parah sekaligus jadi pembelajaran semoga aku bisa lebih baik kepada anakku

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak, kalau ngalami sendiri, kita mungkin bisa belajar untuk nggak mengulangi hal yang sama

      Delete
  13. Masa-masa emosi dengan orang tua untuk saya sudah berlalu hahahahaa... Udah ngalamin yg namanya pisah kota sejak SMA. Justru setelah kuliah dan punya anak sampai sekarang saya masih tinggal bersama ibu karena memang kondisi yang tak memungkinkan meninggalkan beliau.
    Alhamdulillah, beliau sudah lebih tenang, enggak suka jadi toxic lagi. Kadang masih sih, tapi saya anggap wajar karena bagaimanapun saya tetap anaknya. Bersyukur aja masih punya orang tua.

    ReplyDelete
    Replies
    1. samaaa... saya juga sudah berlalu sih, mungkin karna jarak juga yaa..

      Delete
  14. ahahahhaak toxic parent equal to NPD parents... dan orang tua saya pun masuk ke golongan itu

    ReplyDelete
  15. Renungan nih Mbak. Semua orang tua akan selalu memberikan yang terbaik untuk anaknya. Bagaimanapun kondisi orang tua, semoga kita bisa memahaminya.

    ReplyDelete
  16. Berarti menjaga jarak dengan toxic people sangat tepat ya mbak, agar tak terpengaruh.

    ReplyDelete
  17. Menjadi toxic parent? Mungkin kita harus belajar lagi untuk menjadi orang tua yang baik bagi anak

    ReplyDelete
  18. Toxic parents ini saya alami juga karena ortu terpengaruh dari omongan orang luar,,

    Tak mungkin menjauh dari ibu, karena cuma dia yg saya punya, tapi orang lain pasti banget saya jauhi, gak pernah suka sama orang kaya gitu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak, memang ada kondisi tidak bisa menjauh begitu.

      Delete
  19. makasih mbak sharingnya, semoga aku bisa memperbaiki diri agar tidak menjadi toxic parents..aamiin

    ReplyDelete
  20. Wah, kok pas banget. Saya sedang dicurhatin seseorang yang rumah tangganya runyam gegara ortunya toxic. Ikutan geram, gitu. Saya coba kasih solusi dikit-dikit agar dia berani bersuara. Lha tertekan tapi manut saja padahal pendapat si ortu toxic-nya menyalahi syariat juga.

    Sebuah pembelajaran agar kita jangan jadi ortu toxic, Na'uzubillahiminzalik. Tulisan bagus nih Mbak Lelly :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. kasihan ya kalau begitu itu. :(

      semoga yang begitu itu nggak menimpa kita ya mbak. naudzubillah..

      Delete
  21. Tolong saya,
    semua point di atas terjadi pada saya bahkan masih banyak point lain lagi.
    Saya ingin keluar, Jika saya bersuara maka saya akan semaakin dibuat `menyesal` karena sudah membantah. Tidak jarang keluar kata `mati` baik ditujukan untuk saya baik pada ibu saya.

    Saya sudah meminta pertolongan ke orang sekitar, tapi tidak mudah. Saya juga tertekan karena di satu sisi ibu saya sering menyebar cerita yang kurang baik tentang saya. Saya tahu saya bukan anak yang baik, tapi saya juga tidak seburuk itu. Setiap hari ketakutan. Hari ini saya nekat membuat komentar ini siapa tahu ada solusi yang lebih baik.

    Saat sedang tenang saya sudah mencoba memberikan pengertian. Bahkan nekat memberitahu apa yang saya inginkan dan saya tanya apa yang ibu inginkan dari saya.
    Tapi kalau sedang berada di puncak masalah, rasanya semua itu tidak ada artinya.
    Pernah ketika saya `diusir` saya benar-benar akan keluar. Tapi yang terjadi justru drama lebih besar. Dan saya belum berani secara finansial.
    Kira-kira saya harus bagaimana?
    Semua yang ditanamkan oleh ibu saya benar-benar hampir mendarah daging. Takut, khawatir, rasa tidak berguna, insecure dll.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai mbak,
      Kalau saran saya, coba hubungi psikolog untuk membantu menghilangkan toxic yang mendarah daging ini. Semisal ada cara untuk keluar rumah baik-baik, coba lakukan. Merantau karena bekerja, kuliah, atau menikah.

      Delete
    2. Sy jg mengalami hal yg sama..bahkan terkadang sy sangat membenci ibu sy sendiri. Terlalu mencampuri urusan pribadi bahkan tata cara berpakain, rasanya tdk punya pendirian sendiri krn semua harus dilakukan sesuai keinginan dia, hanya utk membuat dia senang tp sy sangat menderita secara mental. Dia membuatku merasa insecure dan mempunyai anxiety berlebihan,rasanya tdk punya semangat hidup lg. Disaat sy mengharapkan seorang ibu bisa menjadi teman sekaligus Krn sy sangat kesepian justru dia seperti musuh bagiku

      Delete
    3. --Semua yang ditanamkan oleh ibu saya benar-benar hampir mendarah daging. Takut, khawatir, rasa tidak berguna, insecure dl--
      aku merasakan hal yang bener2 sama ini.

      kata2 yang diulang terus-menerus semenjak kecil hingga sekarang umur sudah 30, "dasar anak durhaka, sok cantik, sok pintar". tidak pernah diberi kepercayaan untuk melakukan semuanya sendiri, bahkan pengambilan keputusan, sekalinya sendiri dan salah beliau akan marah habis-habisan dan membuat saya jadi tidak percaya diri lagi untuk memutuskan semuanya sendiri.

      Menurut saya pertolongan pertama untuk 'kita' sebenarnya adalah menyadari bahwa orang tua kita memang toxic. Jadi kita sadar bahwa semua hal buruk yang beliau katakan tentang kita tidak benar adanya. Maka saat beliau berkata buruk anggaplah itu hanya luapan kekesalan, bukan diri kita sebenarnya, dengan begitu hati akan lebih tenang dan tidak menggebu-gebu untuk 'membantah' karena percuma :D

      Delete
  22. Hai Kak.
    Terima kasih atas blog dan penjelasannya. Sedikit banyak jadi membuka pengetahuan saya kalau "kami bukanlah anak durhaka". Membuka sedikit hati saya kalau "ternyata kami tidak sepenuhnya bersalah".

    Saya berasal dari keluarga yang sangat "fair". Kamu terserah mau jadi apa tetapi jangan lupa bertanggung jawab. Dan itu menjadikan saya anak yang sangat penurut. Dan saya lakukan itu tanpa beban apapun.

    Setelah dewasa saya bertemu dengan laki2 yang sekarang menjadi suami saya. Dia berasal dari keluarga broken home. Ketika kecil, di buang oleh ibunya ke Kampung neneknya. Ketika dewasa, di usir oleh Ayahnya karena pergoki ayahnya selingkuh. Dan ketika sudah menikah, kehidupan kami perlahan menanjak. Ibunya selalu memaksa minta uang. Saya suka diam2 kasih. Karena suami saya merasa tidak pernah diurus sama ibunya, jadi dia selalu melarang saya untuk beri uang.

    Kejadian terakhir yang bikin kami lost contact dengan Ibu mertua saya adalah ketika saya ingin transfer diam2. Tapi sebelum kejadian adik ipar saya yang tinggal dengan mertua bilang kalo saya yang menguasai harta suami. Jadi menurut mereka, saya yang larang suami untuk memberi uang ke mereka.

    Saya depresi.
    Karena saya merasa bersalah kenapa waktu itu gak diem2 aja trf ke mereka.

    Sekarang suami benar2 melarang saya untuk berhubungan dengan keluarganya. Karena ternyata kata toxic benar2 bisa terjadi di orang tua.

    Sudah setengah tahun tidak kontak dengan ibu mertua. Tapi ternyata ini yang terbaik untuk kesehatan mental kita untuk saat ini.
    Sampai semua tenang, kami akan pikirkan kembali cara agar dapat berbaikan lagi.
    (Walau suami inginnya Ibunya yang sadar akan perbuatannya)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sending big virtual hug for you, mbak. Pukpukpuk..

      Semoga masalahnya cepat selesai ya. Saya doakan kondisinya jadi membaik lagi semua.

      Delete
    2. Hanya bisa ngasih virtual hugs.. (pelukan virtual). I feel you, sisters... 😢

      Delete
    3. Terima kasih semua.
      Virtual big hug buat sister2 semua.
      Semoga kita semua kuat dan diberi jalan terbaik untuk masalahnya :)

      Delete
  23. Aku korban physical dan mental abuse dari toxic family, dari kesimpulan yg aku baca intinya kita harus memafkan ortu dan mencoba memakluminya? Aku kurang srek kak, karena mgkin aku sudah punya luka terdalam di hati, aku bingung harus gimana kak, klw meninggalkan keluarga ini aku kasian sm mama tinggal sendiri, kok aku bertahan aku ga sanggup, gimana ya kak caranya blg ke ortu klw cara mereka ini salah, karena pd dasarnga keluarga aku sulit utk diajak dikusis atau ga pernah denger apa yg aku blg, terkesan anggp aku masih anak2, pdahal dah umur 23, aku ingin merubah semuanya mencoba memaafkannya, ada saran kak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya tahu bahwa memaafkan itu part paling sulit di sini. Tapi percaya deh, ketika itu bisa dilakukan, rasanya jauh lebih plong. Untuk bisa sembuh dari inner child, mungkin bisa minta tolong ke psikolog. Ada kok caranya untuk bisa healing dari semua perasaan itu.

      Nah, tentang bagaimana memulai berdamai dengan ortu ya dengan memulai. Coba aja dulu. Adakalanya, kita berhenti untuk mencoba karena bayangan orang tua akan begini begitu. Bisa jadi, itu tidak sepenuhnya salah. Saking banyaknya pengulangan yang terjadi.

      Tapiiiii... Kita punya Tuhan. Coba minta tolong sama Allah. Ceritakan niat kita apa. Terus coba urai masalahnya satu persatu untuk diselesaikan.

      Kalau memang kita nggak sanggup menyelesaikan, ada Allah yang maha membolak-balikkan hati manusia. Ada pertolongan tak terduga yang pasti akan datang. Entah kapan itu. Kuncinya sih, jangan menyerah. Lurusin niat juga.

      Semangat yah. :)

      Delete
  24. Makasih banyak kak udah sharing seputar toxic family.

    Flashback 8th yg lalu keluargaku broken home krn alasan Mama ku selingkuh. Tapi Papa ku juga salah krn beliau menelantarkan Mama, aku, dan adik.
    Setelah perceraian Mama ku nikah siri krn suaminya udh berkeluarga. Semua keluarga besar ga ada yg setuju, terutama aku dan adik tapi akhirnya mereka maksa nikah.
    Pertengkaran hebat pun tak terelakkan antara aku dan Mama. Semenjak saat itu luka batin membekas sampai saat ini.

    Aku menjaga jarak dgn tidak serumah dan itu sangat membuat aku lebih tenang. Setiap aku ingat Mama gatau kenapa hatiku sesak dan nangis krn luka itu ternyata masih belum sembuh. Meski begitu komunikasi tetap berjalan krn menghormati beliau.

    Saat ini aku tinggal dengan adik. Tapi akhir2 ini hubunganku dgn adik sedang tdk baik. Ku akui aku yg salah, tapi pas adikku komunikasi sama Mama spt ga membantu menyelesaikan masalah. Ku kira akan ada nasehat. Tapi malah aku dibilang ga bisa jaga adik dan ga layak jd kakak. Deggg ...
    Sampe aku tuh bingung, ini bener ga sih ortu ku?? Ko bisa sih??

    Apakah ini hanya aku yg over thinking? Atau emang aku di lingkungan family toxic?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama mbak.

      Sending big virtual hug for you. Pertama-tama, saya nggak berani bilang apakah yang mbak rasakan ini overthinking saja atau memang lingkungannya yang sudah toxic. Saya rasa, apa yang mbak rasa sekarang ini akumulatif dari emosi di masa lalu. Waktu ortu mbak cerai, mamanya mbak nikah siri. Semuanya ngendap jadi satu.

      Coba deh release satu per satu dulu. Bukan dilupakan dan dianggap tidak ada apa-apa. Tapi selesaikan satu per satu.

      In case, pusing banget dan nggak tahu harus gimana, mbak bisa konsul ke psikolog yang lebih mumpuni dari saya.

      Delete
  25. iyah tinggalnya jangan bareng sama orang tua

    ReplyDelete
  26. Bru sekarang aku menyadari bahwa org tua ku toxic. Aku sering nangis smpe sekarang karena BPK ku sering bgt ngomong gini ketika aku gagal tes "percuma tes ini itu gagal terus ujung nya, mending duitnya buat kebutuhan yg lain" . Setiap kali aku melakukan hal yg dianggap parents kurang. Mereka selalu mengungkit materi, tenaga, uang yg telah diberikan. Ps aku mau test masuk kuliah ternyata gagal. Mereka selalu ungkit semua nya.
    Sering pas ngobrol parents tbtb bbilang dri aku lahir mereka harus susah payah biayain aku keluar uang banyak, tenang banyak buat aku. Trus pas udah gede aku masih aja nyusahin. Ga ngertiin org tua. Padahal klo aku bisa milih aku g mau lahir klo bikin susah org tua. di umur 21 ini aku merasa depresi bgt grgr setiap hal yg aku alami selalu di anggap beban sm org tua ku.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sending big virtual hug for you. :)

      Semoga masalahnya segera berlalu ya. Kalau memang butuh bantuan orang lain, jangan ragu ya. :)

      Delete
  27. Pas banget topiknya!

    Btw saya termasuk anak yg dibesarkan dari keluarga toxic, seumur hidup saya gak pernah terbuka bahkan cerita sama ortu sampai mereka berdua kembali ke pangkuan-Nya.

    Singkat cerita ortu saya orang yg sangat ambisius, selalu mengekang dan menekan anak kalo saya harus gini gitu ikuti kemauan ortu, lama kelamaan sampai saya terbiasa memendam sendiri dari ortu ��
    Saya tau ini kebiasaan yg gak baik, tapi apalah daya kalo saya jujur atau terbuka malah dimarahi ortu, dianggap saya anak bodoh, lemah gak bisa seperti anak yg lain ��

    Pasca kepergian ortu, saya berjuang untuk harus selesaikan kuliah. Sempat disindir keluarga "kuliah mulu diurusin, tapi gak selesai2 juga". Walaupun gak tepat waktu akhirnya terselesaikan lulus s1 saya.

    Diumur saya sekarang 25 tahun saya telah selesaikan s1, namun karna pandemi covid saya susah cari kerja, sebanyak apapun saya lamar gak kunjung dipanggil kerja. Nyinyiran dan sindiran dari keluarga besar kalo saya gak bisa jadi orang yg sukses, sejak itu mereka ngecap "percuma s1 tapi pengangguran", "salah jurusan tuh pantesen gak dapet kerja". Yap, perlahan saya jauhin mereka, gak nyaman dgn keluarga sendiri. Makin kesini makin lelah mental karna toxic family belum terputus sampai saat ini ��

    ReplyDelete