Review Film Hijab: Ridho Suami Pembuka Keberkahan Usaha

By Aprilely Ajeng Fitriana - Wednesday, September 11, 2019

Awal Agustus ini, saya nekat untuk membuka bisnis baru. Sebelumnya memang sudah sempat ngobrol-ngobrol sama suami soal bisnis dari rumah, tapi masih belum berani untuk eksekusi langsung. Bulan lalu hasrat itu muncul. Triggernya sih gara-gara lihat baju-baju bayi yang lucu-lucu.

Menjalani usaha dari rumah ternyata nggak semudah yang saya bayangkan. Jadi banyak hal yang harus dipelajari, termasuk soal urusan marketing dan mengelola perasaan. Biar nggak gampang baper kalau jualannya jalan di tempat. Biar nggak patah semangat kalau strategi marketingnya belum maksimal.

Di tengah kegalauan itu, nggak sengaja banget nemu film Hijab. Film ini sudah lama kok. Release tahun 2015 lalu. Film tentang 4 orang sahabat perempuan dengan 4 latar belakang yang berbeda. Kisah dalam film ini bener-bener bisa ngasih saya pelajaran berharga ketika menjalani pekerjaan apapun.


Sinopsis

Sesuai dengan judul, film ini menggambarkan 4 sosok perempuan dengan karakter dan latar belakang yang berbeda. Mereka adalah Anin, Bia, Tata, dan Sari. Kecuali Anin, 3 orang sahabat ini adalah perempuan yang bersuami dan berhijab dengan gaya yang berbeda-beda.

Bia adalah istri seorang artis papan atas yang lebih senang mengenakan hijab fashion dalam kesehariannya. Sedangkan Tata, suaminya adalah seorang fotografer. Dia sendiri lebih suka mengenakan turban untuk menutupi rambutnya yang botak. Sari lain lagi. Dia istri dari laki-laki keturunan Arab yang super kolot. Dia membalut tubuhnya dengan hijab syar'i. Sementara Anin, dia memilih bebas. Dia tidak mau berhijab dan menikah.

Keempat sahabat ini awalnya disatukan dalam arisan yang melibatkan mereka dan suami-suami mereka. Dari arisan, kemudian mereka berinisiatif untuk membuka bisnis fashion hijab bersama-sama. Mereka tak ada maksud untuk menyembunyikan bisnis itu dari suami-suami mereka. Hanya saja, mereka kesulitan untuk menjelaskan tentang apa yang mereka lakukan pada para suami. Akhirnya, mereka melakukan semuanya diam-diam.

Perjalanan bisnis mereka di awal bisa dibilang cukup mulus. Dengan bantuan Mama Anin, mereka akhirnya dikenalkan dengan para investor fashion. Siapa yang menyangka kalau investor ini siap memberikan investasi dengan nilai tinggi karena desain Bia. Mereka pun menjalankan usaha mereka melalui berbagai sosial media bersama-sama. Promosi dan produksi digencarkan. Berkat strategi marketing yang disusun oleh Sari, dalam waktu amat singkat, mereka mampu mengembalikan modal awal mereka.

Kesuksesan demi kesuksesan berhasil mereka raih. Tapi di sisi lain, ada masalah real yang harus mereka hadapi. Suami-suami mereka. Ketika karier istrinya meroket, pekerjaan para suami justru berada di ujung tanduk. Para suami jadi amat sensitif soal keuangan. Terlebih saat istri-istri ini mulai mampu membantu ekonomi keluarga. Harga diri suami-suami ini pun mulai terluka.

Satu per satu dari 4 sahabat ini harus dihadapkan dengan masalah-masalah yang silih berganti. Sari dan Bia ditinggalkan suaminya. Suami mereka mendadak hilang tanpa kabar. Sementara Tata, anaknya jatuh sakit. Suaminya kecewa betul dengannya. Anin pun tak luput dari masalah. Kekasih ya mulai meminta untuk menikah. Di tengah dilema untuk menerima atau meninggalkannya, datang satu lagi tawaran perjodohan dengan anak kolega mamanya.

Masalah semakin pelik. Sari akhirnya memutuskan untuk mundur dari bisnis. Tata dan Bia pun mulai mempertimbangkan hal ini. Tentu saja Anin menolak mentah-mentah ide itu. Dia ingin terus menjalankan bisnis bersama sahabat-sahabatnya.

Ketika mereka sudah betul-betul mengikhlaskan bisnis itu, sisi baik datang. Para suami mulai tersadarkan atas sesuatu dan mulai mendukung bisnis mereka. Dukungan itu juga yang menjadikan bisnis itu berkembang semakin pesat.

Suami-suami mereka bukan lagi menjadi orang asing dalam bisnis. Mereka bahkan mendukung dengan ikut terlibat di dalamnya.


Istri Bekerja, Boleh Nggak Sih dalam Islam?


Ini salah satu hal menarik yang diangkat dari film ini. Kalau di film ini, suami Sari yang notabene orang Arab ini betul-betul kolot soal perkara halal dan haram. Sebelum menikah, Sari adalah pengusaha sukses. Tapi setelah menikah, dia tinggalkan itu semua. Kata suaminya, istri bekerja itu haram.

That's why, Sari jadi orang paling rempong di film ini. Perannya besar dalam bisnis fashion hijab mereka karena memang sudah punya pengalaman bertahun-tahun. Di sisi lain, kalau suaminya tahu, pasti akan marah besar. Ya itu tadi, anggapan bahwa istri yang bekerja itu haram.

Tapi bener nggak sih begitu?

Terkait hal ini, ada pendapat ulama yang mengemukakan bahwa perempuan itu baiknya di rumah saja. Kalau mau keluar rumah harus dengan mahramnya, nggak boleh sendiri. Apa iya begitu?

Ternyata tidak. Istri boleh lho melakukan aktivitas di luar rumah. Entah itu untuk bekerja, berdakwah, atau yang lain. Asalkan dengan izin suami. Kalau suami nggak ridho ya nggak boleh.

Selain ridhonya suami, sebetulnya ada perkara lain yang harus dipertimbangkan di sini, yaitu kewajiban utama perempuan setelah dia menikah. Apa itu? Menjadi ibu dan pengatur rumah tangga. Selama perkara ini selesai dengan baik, ya it's okay bekerja atau melakukan aktivitas yang lain.

Saya nggak ngerti kenapa di film ini digambarin macem orang yang memegang aturan Islam itu kayak kolot banget. Padahal ya aturan perbuatan itu nggak cuma halal dan haram aja lho. Ada wajib, sunnah, mubah, makruh, dan haram. Terkait perkara hukum bekerja bagi seorang perempuan, mestinya bisa dinilai dari skala prioritasnya. Dahulukan yang wajib dibanding yang sunnah dan mubah. Kalau makruh dan haram ya sudah pasti harus ditinggalkan lah ya.


Komunikasikan Semuanya dengan Suami


Lagi-lagi saya daat pelajaran komunikasi suami istri dari film. Masalag yang muncul pada rumah tangga Bia, Tata, dan Sari ini sebetulnya hanya karna komunikasi mereka yang nggak baik. Mereka pikir dengan cara membuktikan dengan perbuatan saja cukup menyelesaikan masalah. Ternyata tidak.

Suami-suami ini qawwam. Ketika mereka paham tanggung jawab masing-masing pasti akan berusaha sepenuhnya untuk mengupayakan hal ini. Kebayang nggak sih ketika usaha mati-matian terus si istri take over peran mereka? Padahal ya padahal, suami itu juga punya harga diri. Nggak suka dibegitukan.

Kalau akhirnya mereka jadi takut istrinya lebih wow dan meninggalkan mereka, wajar nggak sih? Wajar lah. Ada banyak kasus di luar sana, ketika istri mulai punya penghasilan lebih tinggi biasanya jadi meremehkan pemberian suami. Ini nih yang mereka nggak mau. Meskipun hal semacam ini nggak bisa dipukul rata ya. Nggak semua begini, tapi ada.

Masalah ini cuma bisa diselesaikan dengan ngobrol bareng. Kasih pengertian ke suami. Kalau menjalankan bisnis, coba cerita progresnya gimana, minta pertimbangan beliau supaya mereka merasa dihargai juga. Mereka nggak harus terlibat langsung kok dengan bisnis yang dijalani, masukan-masukan mereka dan dukungan moril yang lain itu pasti kita butuhkan. Pas lagi baper karena pelanggan, siapa tahu masukan dari suami bisa jadi penentram hati yang gundah. Ya kaaan?


Ridho Suami Pembuka Pintu Keberkahan Usaha


Perempuan memang masih bisa berkarya meski tanya izin dari suami. Dia masih bisa menghasilkan sesuatu walaupun suaminya nggak ridho. Tapi ya gitu, usaha yang diberkahi dan nggak itu beda lho. Keberkahan itu bisa datang dari banyak sisi. Bisa mendatangkan kemudahan dalam bekerja. Bisa juga membuka kran-kran rizki. Kalau suami udah ridho tuh, semuanya enak. Jalannya macem jalan tol. Muluuus banget.

Lain cerita kalau kita nggak ngantongin ridho suami. Seperti yang digambarkan dalam film ini, apa-apa seret. Mengerikannya lagi, kita bisa jadi dijauhkan dari kewajiban utama kita sebagai istri dan ibu. Tahu-tahu keluarga kita udah begitu jauh dari jangkauan. Anak-anak nggak aware lagi sama kita. Suami juga menjauh. Kan ngeri ya kalau begini. Hal yang jauh lebih buruk bisa saja terjadi. Anak terjebak dalam pergaulan bebas misalnya. Terus suami selingkuh karena nggak dapetin apa yang dia butuhkan di rumah. Ngeri nggak sih?


Kesimpulan

Saya nulis ini sebetulnya juga kerasa ketabok sendiri. Jadi pingin muhasabah diri atas segala keruwetan yang terjadi. Bener nggak sih suami sudah ridho dengan apa yang saya jalani saat ini? Bener nggak sih komunikasi saya dan suami sudah berjalan amat mulus? Bener nggak sih sudah tak ada hal yang ditutup-tutupi lagi?

Kalau memang semuanya sudah oke. Berarti tinggal cek lagi urusan saya dengan Allah. Apa ada yang dilalaikan? Berapa banyak hal yang saya sepelekan sampai semuanya kerasa seret?

Hmmmm... Mari kita cek sekali lagi.

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar