Baby Blues, Kenapa Bisa Gitu?

By Aprilely Ajeng Fitriana - Friday, September 13, 2019

Kapan hari baca IG story temen tentang ibu yang kena baby blues dan sampai membunuh anaknya yang masih berusia 3 bulan. Ini horor sih. Depresinya udah tingkat akut sampai beneran hilang akal dan membunuh anaknya sendiri.



Saya cerita tentang ini ke suami. I mean, saya nggak mau jadi begitu. Kalau selama ini saya banyak belajar ini itu. Banyak nonton video-video gimana ngerawat bayi dan berusaha mengendalikan pikiran, itu serta merta karena saya nggak mau hal itu terjadi dalam hidup saya. Sedikit pun.

Saya pingin punya anak dari zaman belum punya suami. Mupeng dengan pahala yang bisa diraih saat menjadi ibu. Ya masa saya jadi "gila" setelah beneran punya anak?

Ya sih, saya tahu, hal semacam ini bisa terjadi pada siapa pun. Kalau udah terjadi itu qadla. Tapi kita bisa kan meminimalisir supaya hal semacam ini tidak menimpa diri kita? Kita punya kendali atas apa yang akan kita lakukan.

Abis saya ceritain, suami saya nanya, "kenapa bisa gitu? Punya anak mestinya seneng dong?"

Well, saya nggak bisa jawab pertanyaan dia. Tapi dari apa yang saya tahu. Based on cerita orang aja nih. Baby blues dimulai karena si ibu merasa nggak mampu merawat bayinya. Apalagi anak pertama, belum ada pengalaman apapun. Terus capek fisik juga. Perubaham hormon juga yang bikin si ibu jadi super duper sensitif. Jadi beneran butuh dukungan keluarga.

Gara-gara suami saya nanya begini, saya jadi kepo beneran. Pingin tahu lebih detail kenapa kasus ibu itu bisa terjadi. Dan inilah yang saya bisa rangkum terkait masalah postpartum.


Kondisi Ibu Pasca Melahirkan


Ternyata, setelah melahirkan itu 85% perempuan akan mengalami perubahan mood. Kondisi ini sebenarnya dipengaruhu oleh perubahan hormon yang terjadi dalam tubuh ibu. Perubahan mood ini macem-macem ya. Ada yang gejalanya bombastis, ada yang biasa aja.

Karna saya belum pernah melahirkan sama sekali, saya jadi cuma bisa menghubungkan perubahan mood saya ketika lagi PMS aja. Pasca nikah, nggak tahu kenapa PMS yang saya alami jadi lebih drama dari biasanya. Saking dramanya, saya jadi sakit sendiri. Saya udah cerita kan ya kalau saya pernah psikosomatis. Jadi ya gitu deh.

Setelah tahu kalau hamil, saya coba untuk mengendalikan perasaan saya. Banyak orang bilang kalau hamil itu macem PMS selama 9 bulan. Lebih sensitif, lebih begini, lebih begitu. Tapi ada keyakinan lain yang muncul dalam diri saya. Semua itu bisa dikendalikan. Meski begitu, drama tetap saja terjadi. Wkwkwk...

Oke, balik lagi ke topik ya. Tentang periode pasca melahirkan atau yang biasa disebut postpartum. Meski 85% perempuan mengalami perubahan mood. Tapi cuma 10-15% aja yang mengalami kondisi yang lebih signifikan. Dalam artian, kondisi yang jauh lebih horor dari yang lain. Jadi, kondisi ibu yang bunuh bayinya ini amat sangat memungkinkan untuk terjadi. Meski nggak banyak.

Penyakit kejiwaan yang terjadi pasca bersalin ini dibagi dalam 3 kategori. Kategori pertama adalah yang paling ringan dan paling sering kita dengar, yaitu baby blues syndrome. Sedangkan yang lain adalah postartum depresion dan postartum psikiosis. Kategori ketiga ini adalah kondisi paling parahnya. Dan menurut dugaan saya yang super awam ini (lebih tepatnya kesotoyan ini), ibu tadi sudah mengalami postpartum psikiosis.

Tiga kategori ini bukan tahapan kondisi kejiwaan seseorang ya. Seorang ibu bisa aja langsung kena postpartum psikiosis tanpa melalui tahap baby blues dulu. Horor nggak sih?

Baby Blues Syndrome


Setelah melahirkan, 50-85% ibu akan mengalami baby blues syndrome selama beberapa minggu pertama melahirkan. Kondisi ini masih umum terjadi karena banyak dialami oleh ibu-ibu. Jadi, masih normal ya dan belum dikelompokkan sebagai gangguan kejiwaan.

Baby blues syndrome ditandai dengan kondisi ibu yang mudah menangis dan cepat marah. Kondisi ini akan memuncak di hari keempat atau kelima pasca bersalin dan terjadi selama beberapa jam atau bahkan hari. Gejalanya akan sembuh dalam 2 minggu.

Sayangnya, kondisi ini tidak daat diprediksi dan sering kali meresahkan. Jadi, nggak ada jaminan ibu yang waktu hamil selow aja, terus pasca melahirkan bisa bebas dari baby blues syndrome ini. Meski kondisinya meresahkan, tapi ibu hang terkena baby blues masih bisa punya kemampuan untuk merawat bayinya.

Postpartum Depression (PPD)


Ini udah higher level lagi kalau dibandingkan dengan baby blues. Seorang ibu bisa mengalami PPD ada 2-3 bulan pertama setelah melahirkan. Horornya adalah kita nggak bisa bedain apakah ini PPD atau depresi yang umum terjadi sewaktu-waktu.

Gejala PPD ditandai dengan sedih yang berlarut-larut atau depresi, mudah menangis,  kehilangan minat untuk melakukan aktivitas sehari-hari, termasuk urus bayinya. Selain itu, penderita PPD biasanya juga akan selalu diliputi rasa bersalah, tidak berharga, dan tidak kompeten. Selain mengalami kelelahan yang luar biasa, penderita PPD juga mengalami perubahan pola makan, konsentrasi memburuk, dan muncul pikiran untuk bunuh diri. Panick attack dan hypochandriasis juga merupakan salah satu indikasi seseorang mengalami PPD.

Agak sulit membedakan apakah seseorang mengalami PPD atau depresi biasa. Jadi, ketika menemui gejala semacam itu tadi, sebaiknya stop denial dan segera hubungi psikiater atau psikolog. Jangan sampai kondisi ini berjalan secara berangsur-angsur dan makin memburuk. Ingat, dalam kondisi terburuk dari PPD adalah keinginan untuk bunuh diri.

Postpartum Psychosis


Ini adalah kondisi paling parah yang terjadi ada ibu pasca melahirkan. Biasanya akan timbul 48-72 jam pertama. Mereka yang mengalami postpartum psychosis akan mengalami gejala ini selama 2 minggu pertama. Tidak semua orang akan mengalami ini. Kasus yang umum ditemukan biasanya terjadi pada penderita bipolar.

Orang yang mengalami postpartum psychosis biasanya akan cenderung gelisah, mudah marah, dan susah tidur. Sama halnya dengan penderita bipolar, ibu yang mengalami post partum psychosis juga akan memiliki mood swing yang berlebih. Kalau bahagia bisa bahagia sekali, sedangkan kalau lagi sedih bisa betul-betul depresi.

Penderita postpartum psychosis juga punya kecendurangan untuk memiliki delusi-delusi tentang bayinya. Delusi ini yang mendorong pasien untuk menyakiti bayi atau dirinya sendiri. Kondisi terburuknya, dia bisa saja membunuh bayi atau melakukan bunuh diri.

Kalau dari penjelasan ini, kita sebetulnya bisa menarik kesimpulan bahwa ibu yang bunuh bayinya tadi bukan hanya sekedar baby blues biasa. Tapi sudah masuk ada taraf psychosis. Mungkin nih ya, mungkin. Sekali lagi ini berdasarkan kesotoyan diri ini, ibu itu sudah menderita bipolar. Sayangnya, beliau tidak pernah melakukan penanganan lebih lanjut. Jadilah setelah melahirkan begitu. Saat dia di fase depresi, jatuhnya jatuh banget sampai muncul suara-suara ghaib yang nyuruh untuk membunuh bayinya.

Kenapa Bisa Begitu?


Mulai dari baby blues hingga kondisi terparah, yaitu psychosis terjadi karena pengaruh perubahan hormonal yang sangat cepat dalam diri ibu. 48 jam pertama setelah melahirkan, hormon estrogen dan progesteron akan turun drastis. Sebagai gantinya, hormon prolaktin yang akan terus naik untuk membantu ibu memproduksi air susu. Padahal estrogen dan progesteron ini terlibat langsung dalam pengaturan suasana hati. Untuk orang-orang yang sensitif banget pada perubahan hormon, mereka akan lebih mudah terserang PPD.

Apakah ada faktor lain yang bisa memicu hal ini?

Ada. Bukan hanya sekedar perubahan hormon saja, tapi kondisi sekitar ibu akan mempengaruhi. Faktor pertama, masalah dalam pernikahan. Ini bisa banget memicu terjadinya PPD. Kecewa sama suami atau masalah-masalah yang lain, ini akan mempengaruhi sekali.

Faktor yang lain yaitu dukungan sosial yang tidak memadai. Misal nih ya, ASI nggak keluar-keluar terus disalahin kenapa nggak keluar, justifikasi ini itu ketika nggak keluar. Ketika merawat bayi juga, disalah-salahin mulu, ini juga akan mempengaruhi kondisi mental ibu.

Ibu juga bisa mengalami PPD jika saat hamil sudah berada dalam kondisi yang tertekan. Dapat abuse dari suaminya misal, atau stress berlebih karena pekerjaan. Ini bisa banget memicu terjadinya PPD juga.


Kesimpulan


Kalau kita mau urutin dari aneka rupa kondisi mental ibu pasca melahirkan, sebetulnya baby blues ini termasuk kondisi yang bisa dibilang biasa aja. Ya kalau kita lagi PMS aja gitu, semuanya jadi lebay. Beda drama aja. Kalau PMS apa aja disikat, ketika baby blues fokusnya ke bayi. Kalau marah ya seputaran bayi. Kalau sedih juga seputaran bayi.

Baby blues ini masih normal dan tidak berbahaya sama sekali. Toh, even si ibu kondisinya begitu, kemampuannya dalam ngasuh bayi nggak akan berkurang sama sekali.

Mana yang mulai horor dan butuh penanganan psikiater atau psikolog? Ketika si ibu sudah dalam fase depresi berlebih. Ini bukan lagi baby blues, tapi sudah masuk ke PPD, bahkan psychosis.

Peran suami dan pihak mana saja yang ada di lingkungan ibu betul-betul akan berpengaruh pada kondisi mental ibu. Jadi dukungan itu penting banget. Bantu aja apa yang bisa dibantu. Kalau si ibu kelelahan, ya udah biarin dia tidur. Biar tenaganya juga bisa direcovery.

Kalau misal belum bisa ngasuh, ya dibantu supaya bisa. Kalau ASI nggak keluar, bantu mereka biar bisa keluar. Yakin banget nggak ada ibu yang nggak baper ketika ASI nggak kunjung keluar. Even mereka tahu bahwa bayi bisa bertahan tanpa ASI selama 3 hari, tapi tetep ya deg-dega. Bantu. Kasih ASI booster kek, disenengin hatinya, atau apapun yang bisa bikin ibu lebih relaks.

Dukungan dari pihak sekitar itu beneran membantu ibu. Terus ikhtiar apa yang bisa dilakukan ibu? Tentu saja memperkaya diri dengan pengetahuan. Panik karna nggak tahu harus gimana itu horor, bisa memicu hal yang nggak diinginkan. Selain itu, ya coba untuk afirmasi diri, menenangkan diri ketika realita yang dihadapi nggak sesuai dengan espektasi.

So, buat ibu-ibu yang baru melahirkan, semangaaaat. Doakan saya juga bisa melalui semua ini dengan mudah. Kalau lelah, inget-inget aja pahala besar yang ada di depan mata. Kalau lelahnya lillah, in syaa Allah akan jadi berkah.


  • Share:

You Might Also Like

0 komentar