Pursuit of Happiness

By Aprilely Ajeng Fitriana - Tuesday, September 17, 2019

Ada yang pernah nonton film ini? Saya pernah. Tapi kali ini, saya nggak mau review film. Saya cuma mau sharing tentang bahagia itu sendiri.

Pursuit of happines


"What is the purpose of your life? I wanna be happy."

QnA semacam ini sangat amat sering kita dengar ya. Ada orang yang ditanya, tujuan dia melakukan semua hal itu apa, jawabnya karena itu semua bikin dia bahagia. Dia suka itu dan dia bahagia menjalankannya.

Tapi pernah nggak sih mengulik lebih dalam tentang kebahagiaan ini sendiri? Pernah nggak kita berusaha keras untuk membahagiakan diri sendiri tapi ujung-ujungnya ya kita stuck pada perasaan kita saat itu. Pernah nggak ngalamin itu?


Asal Kebahagiaan


Ada satu obrolan saya dengan teman yang terngiang di kepala saya sampai saat ini.

"Kebahagiaan itu bukan kita yang menciptakan, tapi Allah yang kasih."

Lalu, dia sebutkan ayat yang menjelaskan itu.


هُوَ الَّذِيْۤ اَنْزَلَ السَّكِيْنَةَ فِيْ قُلُوْبِ الْمُؤْمِنِيْنَ لِيَزْدَا دُوْۤا اِيْمَا نًا مَّعَ اِيْمَا نِهِمْ ۗ وَلِلّٰهِ جُنُوْدُ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ ۗ وَكَا نَ اللّٰهُ عَلِيْمًا حَكِيْمًا ۙ 

"Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin untuk menambah keimanan atas keimanan mereka (yang telah ada). Dan milik Allah-lah bala tentara langit dan bumi, dan Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana,"
(QS. Al-Fath 48: Ayat 4)

Allah yang mendatangkan kebahagiaan dalam hidup kita. Bukan kita. Peran kita sebetulnya adalah mengupayakan hal itu terjadi. Hanya sampai sebatas usaha. Kalau Allah nggak berkehendak, ya nggak akan bisa.

Dari sini, sebetulnya sudah cukup gamblang bagaimana cara kita mendapatkan kebahagiaan, beriman. Tunduk dan patuh sama semua aturannya Allah.


Taat Membawa Kebahagiaan


Pernah nggak sih ngalamin hidup yang ruwet banget? Mau ngapain aja kok rasanya susah pakai banget. Setelah ditelusuri, ternyata ada aturan Allah yang kita abaikan. Entah itu kita sepelekan atau bahkan kita langgar.

Contoh, sholat kita berantakan. Iya sih nggak sampai bolong, tapi sering injury time. Contoh lagi, harta kita kecampur riba karena minimnya ilmu kita tentang ini. Ini yang biasanya paling bombastis efeknya. Karna dosanya juga nggak main-main. Keruwetan hidup betul-betul terpampang nyata.

Sudah banyak banget cerita orang yang mencoba membenahi hidupnya dengan berusaha taat sama Allah. Sulit memang menjalaninya, tapi mereka jadi jauh lebih tenang dan bahagia menjalani kehidupan mereka. Meskipun, ujian yang datang juga silih berganti.


Berhenti Membandingkan Hidup Kita dengan Orang Lain


Selain taat dengan aturan Allah, ada hal lain yang juga perlu kita lakukan agar hidup kita lebih bahagia. Jalani hidup dan berhenti membandingkan hidup kita dengan orang lain.

"Enak ya jadi itu, dia bisa begini begitu. Lha kita?"

Hmmm... Kita perlu banget memahami bahwa nggak ada orang yang hidup tanpa kesulitan. Hanya saja kadarnya beda.

Saya pernah ngobrol sama suami saya terkait artis yang di instagram mesra sekali. Tapi ternyata pernikahan mereka nggak lama. Padahal, kemesraan mereka itu banyak diinginkan oleh para netizen.

Itu contoh kasus aja. Tapi dari kasus ini aja, kita sudah bisa pahami bahwa apa yang kita lihat dari orang lain itu nggak utuh. Ada bagian nggak enak yang mereka sembunyikan dengan apik. Kita sendiri juga gitu, kan? Kalau lagi berantem hebat sama suami, masa iya mau direkam dan disebar ke sosial media?

Meski hidupnya sulit, nggak semua tangis akan dibagikan ke orang lain. Bahkan mungkin, saking banyaknya hal yang nggak enak dalam hidup dia, justru bikin yang bersangkutan cuma mau berbagi hal-hal manis untuk melupakan yang pahit tadi.

Kita nggak tahu yang mana. Rasanya juga terlalu rumit untuk mikir kehidupan pribadi. Kenapa nggak coba untuk fokus pada diri sendiri? Kita punya kehidupan sendiri yang harus kita jalani. Asam manis, bahkan pahit getirnya harus dihadapi. Justru itu yang menempa kita jadi pribadi seperti hari ini.


Sabar dan Syukur


Ini juga 2 hal yang perlu kita terapkan selain fokus pada kehidupan kita sendiri. Kalau dapat yang nggak enak-enak, kita sabar. Kalau dapat kemudahan, kita bersyukur. Teorinya memang tidak semudah praktik. Tapi kalau kita mau upayakan ini, hidup beneran berasa ringan banget.

Lagi pula, di setiap kesulitan hidup yang kita alami, itu pasti ada kemudahannya juga. Janji Allah begitu dan Allah nggak akan pernah ingkar. Hanya saja, kadang kala karena kita terlalu fokus sama kesulitan yang kita hadapi, kita jadi nggak ngeh kalau kemudahan itu juga udah ada di depan mata. Jadi kesannya ruweeet terus.


Selalu Libatkan Allah dalam Segala Aktivitas


Bukan cuma perkara mau nikah aja kita melibatkan Allah. Tapi semuanya. Melibatkan Allah artinya, kita usaha semaksimal mungkin dulu. Setelah itu tawakkal sama hasilnya. Percaya aja sama Allah bahwa sepahit apapun, itu yang terbaik untuk kita.

Cara ini nggak ngajarin kita untuk pasrah tanpa berbuat apa-apa. Tapi justru menuntut kita untuk fokus ke usaha kita. Bukan hasil.

Kalau ini kita lakukan, ini beneran ampuh untuk menghindarkan diri kita dari sikap sombong ketika kita berhasil meraih sesuatu. Ya karena kita sepenuhnya sadar bahwa kesuksesan yang kita raih, segala kebahagiaan yanh kita peroleh, ada karena Allah yang menghendaki. Bukan semata-mata karena usaha kita saja.


Kesimpulan


Ada banyak sekali hal dalam hidup kita yanh bisa bikin kita bahagia. Nggak harus hal besar. Bahkan hal remeh, bisa mendatangkan kebahagiaan tersendiri untuk kita.

Lepas dari itu. Kita perlu sadar bahwa kebahagiaan itu salah satu rizki yang Allah kasih ke kita. Kalau kita mau lebih bahagia lagi, ya dekati Allah. Tingkatkan kualitas keimanan kita.

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar