Cerita Tentang Kelas Online dari Persiapan Hingga Akhir Kelas

By Aprilely Ajeng Fitriana - Sunday, September 29, 2019

cerita kelas online


Ada event di September ini yang cukup bikin saya deg-degan. Kelas Belajar Blog untuk Pemula. Ini adalah kelas online pertama yang saya adakan. Sebetulnya, saya nggak pernah punya niatan untuk bikin kelas online sama sekali. Kalau mau sharing ya sharing aja. Makin banyak yang kenal saya sebagai blogger, makin banyak juga yang bilang, "ajarin dong." Dan itu dari berbagai komunitas.

Sebetulnya, nggak masalah sih mau sharing sana sini. Toh ya, dari sharing itu biasanya traffic blog saya akan naik. Hanya saja, kalau saya sudah meluangkan waktu khusus, banyak pula, lalu yang serius cuma segelintir kok rasanya gimana ya. Dan lagi, buat materi kelas blog itu juga nggak main-main.


Jangan Sampai Orang Lain Rugi Ikut Kelas

rugi bayar


Saya banyak ikut Kelas Menulis atau Blogging sebelum saya membuka kelas sendiri. Boleh dibilang, nggak semua kelas yang ada itu layak untuk diulang. Tanpa merendahkan trainingnya, tapi saya pernah merasa agak rugi bayar dan menunggu kelasnya mulai.

"Ternyata, cuma begini aja

Saya nggak mau orang lain merasa begitu. Beberapa pekan sebelum kelas dimulai, saya betul-betul merancang kelas yang akan saya buat seperti apa. Jeda waktu dari satu materi ke materi lain bagaimana. Kira-kira waktunya cukup atau tidak untuk pendampingan tugas-tugas yang akan saya berikan untuk mengukur kemampuan peserta. Berapa kira-kira harga kelasnya? Sebanding tidak dengan tenaga yang saya keluarkan untuk mendampingi mereka.

Intinya sih, saya nggak mau mereka keluar dari kelas saya dan merasa rugi. Kalau bisa semua blognya jadi dan cantik.


Membatasi Jumlah Peserta

kuota


Saya butuh fokus dengan satu per satu masalah peserta. Berdasarkan pengalaman saya selama mengikuti Kelas Blog lain, kustomisasi template untuk pemula itu tidak mudah. Biasanya akan memakan waktu lama dan butuh pendampingan ekstra. Alasan ini juga yang membuat saya membatasi kuota kelas yang saya buat.

Waktu diskusi dengan suami masalah kuota, suami bilang begini, "nggak perlu ambil banyak peserta kalau pada akhirnya kamu nggak sanggup dampingi mereka satu per satu."

Suami saya juga mengingatkan hal yang sama ketika saya punya rencana menambahkan jumlah kuota kelas.

"Kalau tambah 5 lagi gimana?"
"Adek sanggup handle nggak?"

Ikhtiar ini saya lakukan demi kenyamanan bersama. Selain supaya saya bisa fokus dengan peserta, saya juga pingin mereka mudah untuk menyelesaikan tantangan demi tantangan yang akan mereka hadapi.


Merancang dan Menyusun Materi

materi


Saya nggak terlalu kesulitan sih untuk mempersiapkan materi ini. Saya lakukan brainstorming, riset sana sini lagi, buka-buka artikel lama, lalu susun semua materinya.

Pertanyaan yang muncul justru bagaimana nanti saya menyampaikan materi ini. Apakah lewat tulisan saja cukup? Ataukah saya harus menjelaskan langsung lewat voice note?

Saya sebetulnya tipe-tipe orang yang nggak sreg kalau cuma menyampaikan via tulisan saja. Bahkan, sebetulnya saya pingin ada tatap muka langsung dengan peserta. Melihat pekerjaan mereka masing-masing. Sayangnya, saya masih belum tahu bagaimana caranya.


Berjalannya Kelas

belajar


Ketika kelas berjalan, sebetulnya saya agak kecewa karena peserta yang mengikuti betul-betul tidak semuanya. Dari seluruh peserta, sekitar 50-60% saja yang mengikuti materi dari awal sampai akhir. Mungkin katena kesibukan. Tapi kan rugi ya, sudah bayar ternyata nggak bisa maksimal.

Semalam saya ngobrol masalah ini dengan suami. Saya mempertanyakan peserta yang menghilang itu.

"Mereka ini ceritanya apa cuma pingin ngasih aku duit aja ya?"

Wkwkwk..

Jujur ya, saya merasa begitu ke peserta yang nggak aktif dari awal sampai akhir kelas. Nggak pernah tanya, mencoba tugas saya pun tidak. Ini gimana sih?

Suami bilang, mungkin saya perlu japri mereka satu per satu untuk menanyakan kesulitan mereka apa. Hmmm... Ini yang bukan saya banget. Tapi nggak masalah sih. Setelah ini, saya ada rencana untuk menghubungi mereka, menanyakan bagaimana rasanya setelah ikut kelas, kesulitannya apa. Bagaimana pun juga saya butuh masukan dari para pioner ini.


Mendampingi itu Tidak Mudah

mendampingi


Ada satu waktu dalam kelas yang saya bete banget. Ini kenapa sih pertanyaan itu ditanyakan terus, batin saya. Bukan kah saya sudah menjelaskan berulang kali?

Itu pas lagi capek memang. Grup diskusi sempat saya buka 24 jam. Ternyata, pengaruhnya ke kewarasan saya.

Tapi ini betulan lho. Mendampingi peserta satu per satu itu tidak mudah. Saya memang nggak keluar rumah. Tenaga yang dikeluarkan juga nggak banyak. Tapi pikirannya itu lho. Belum lagi kalau masalah yang muncul tidak bisa saya selesaikan sendiri. Ampun deh.


Dari Kelas Online ke Sekolah Online

upgrade


Lepas dari segala keruwetan yang terjadi, saya lumayan ketagihan bikin kelas online. Passion saya untuk ngajar jadi tersalurkan melalui ini. Plusnya lagi, saya nggak perlu keluar rumah.

Saya punya rencana untuk mendirikan sekolah online khusus blogger. Di sekolah itu, mereka nggak hanya akan belajar bagaimana cara membuat blog tapi maintanance, SEO, sampai personal branding juga. Mereka nggak hanya akan saya ajak untuk bersinggungan dengan blog saja, tapi juga instagram sebagai media sosial yang paling hits saat ini.

Masih lama sih, kira-kira setelah melahirkan kelas ini akan ada. Sampai waktu itu muncul, menjelang lahiran ini mau saya pakai untuk mendalami SEO dan materi-materi lain. Ceritanya mau sekolah dulu sebelum buka sekolah.

Karena bentuknya adalah sekolah. Saya akan buat program yang berbeda tiap bulannya. Bahkan, dalam sebulan mungkin saja ada 2-3 kelas. Bukan itu sih yang paling penting, rancangan kurikulum untuk kelas onlinenya saja yang perlu disiapkan. Mohon doanya ya.


Mimpi yang Jadi Nyata

mimpi


Saya baru sadar setelah kelas online ini selesai. Tahun lalu, saya sempat bikin life mapping strategy untuk hidup saya 5, 10, 15, 20, hingga 25 tahun ke depan. Saya punya cita-cita untuk bikin sekolah sendiri. Punya kelas sendiri. Nggak nyangka aja semua itu bisa saya raih lebih cepat. Jalan menuju ke sana mulai terbuka. Bahagia sekali rasanya bisa begitu.

Ada doa, ada usaha. Keduanya itu harus terus diupayakan. Masalah hasil, itu urusan Allah. Dan ternyata, Allah menghendaki semua ini terjadi. Semoga saja sekolah blog yang akan saya dirikan betul-betul bisa terlaksana. Ini saya juga masih memikirkan apakah mau pegang sendiri atau mengajak teman blogger yang saya tahu kapasitasnya ketika menyampaikan sesuatu.

  • Share:

You Might Also Like

4 komentar