Review Film: What a Wonderful Family! (Mandarin Version)

By Aprilely Ajeng Fitriana - Tuesday, September 03, 2019

what a wonderfull family

Siapa yang pingin ketika tua nanti bisa makin lengket sama pasangan? Sayaaaa...

Yakin banget, kalian pasti juga pingin begitu. Macem Pak SBY sama Bu Anie atau Pak Habibie sama Bu Ainun. Makin tua makin mesra gengs. Pingin deh begitu.

"Seiring berjalannya usia pernikahan, semakin kenal pasangan, akhirnya bisa makin lengket deh."

Yaaa itu teorinya. Fakta di lapangan tidak semua begitu. Ada juga ketika sudah tua isinya berantem mulu. Boro-boro bisa mesra, ngomong ke satu sama lain aja ngegas.

Saya sih nggak mau pernikahan saya nanti begitu. Jangan sampai ya.

Terus gimana kalau udah lama menikah, anak-anak sudah gedhe, bahkan sudah berumah tangga, tapi justru menginginkan perceraian. Hmmmm...

Kebayang nggak sih? Saya sih nggak. Sama seperti anak-anak dalam film ini yang nggak habis pikir dengan ibunya yang menutut ayahnya bercerai.

Sinopsis



Film ini mengisahkan sepasang suami istri yang telah lama sekali menikah. Anak-anaknya sudah besar, bahkan sebagian besar sudah berkeluarga. Kehidupan mereka ya layaknya keluarga yang lain. Nggak ada yang spesial.

Semua berubah saat sang istri meminta cerai pada suaminya. Sebuah permintaan yang begitu aneh untuk hadiah ulang tahun ke-50. Sang suami begitu terpukul mendengar permintaan istrinya.

Kondisi itu yang membuat anak-anak mereka penasaran dan menggali lebih dalam apa yang membuat ayah mereka tampak aneh. Mereka terkejut bukan main saat tahu bahwa ibu mereka menginginkan perceraian. Mereka sama sekali tidak menyangka itu akan terjadi. Banyak hal yang mereka khawatirkan.

Sebuah rapat keluarga pun digelar untuk menjelaskan duduk persoalan yang terjadi. Istrinya angkat suara atas segala hal yang dia pendam selama ini. Alih-alih mendapatkan solusi, segalanya justru semakin kacau.


Tiap Rumah Tangga Punya Masalah Masing-masing



Sebetulnya, dari awal film saya sudah menduga apa penyebab si istri meminta cerai suaminya. Si suami ini emang nyebelin banget. Tiap malam minum-minum. Pulangnya mabok. Sampai kamar lepas celana panjang sembarangan. Abis itu kalau ngerokok juga abu dan putungnya dibuang ke bunga anggrek yang ada di dekat jendela. Padahal di sampingnya itu udah disediain asbak.

Istrinya sendiri juga menurut saya kelewat sabar sih. Kalau suaminya buang celana panjangnya, dia pungut celana itu terus diberesin. Setelah itu, dia siapin air hangat untuk suaminya. Bukan buat mandi ya, tapi buat merendam kaki.

Belum lagi kelakuan suami yang jadi makin nyebelin saat dia mabuk. Iya kalau sehari dua hari mabuknya. Ini tiap malam setelah dia pensiun.

Saya nggak bisa bayangin sih gimana rasanya jadi si istri itu tadi. Kalau saya, mungkin udah berubah jadi naga kalau digituin terus-terusan.


Speak Up!



Sesabar-sabarnya si istri, caranya menyelesaikan masalah ini justru keliru. Kalau dia nggak suka dengan perangai buruk suaminya, kenapa dia diem aja sih? Kenapa dia nggak bilang kalau apa yang suaminya lakukan itu bikin dia nggak nyaman?

Pelayanan terbaik ke suami kan ya nggak gitu juga, kan? Memendam masalah sendirian itu seperti memeram bom waktu yang kapan saja bisa meledak.

Si suami juga gitu. Saat istrinya mengajukan cerai, sebetulnya dia nggak mau menyetujui gugatan itu. Tapi dia nggak bilang. Dia diem aja berharap istrinya tahu bahwa dia sama sekali tidak menginginkan hal itu.

Oh my, gemes banget deh dua orang tua ini. Kenapa sih nggak mau terbuka satu sama lain? Bukannya sudah menikah lama? Kenapa masih aja kayak gitu?

Kita Bukan Cenayang



Film ini betul-betul bisa mengemas permasalahan yang amat sangat umum terjadi di dalam masing-masing rumah tangga dengan cara yang menarik. Apalagi ada sisi humoris yang diselipkan di beberapa scene film.

Pesan utama yang ingin disampaikan adalah terkait komunikasi antara suami istri. Banyak pasangan suami istri yang nggak ngeh seni berkomunikasi dengan satu sama lain. Akibatnya ya seperti yang sudah banyak terjadi, bahkan mungkin pernah kita alami. Berantem.

Masih mending sih kalau berantem. Mereka yang nggak kunjung menemukan bagaimana caranya, rumah tangganya jadi terasa hampa, bahkan bisa juga berujung ada perceraian.

Komunikasi ini sebetulnya masalah sederhana. Tinggal ngomong aja lho. Tapi karna saking sederhananya, jadi banyak yang meremehkan. Seiring berjalannya usia pernikahan, espektasi pasangan makin kenal kita biasanya akan semakin besar. Sudah hafal karakter dan sifat kita seperti apa. Harapannya, tanpa bicara sekali pun mereka tahu apa yang kita inginkan.

Atau, berharap pasangan ngerti apapun yang kita sampaikan. Dikasih kode langsung paham.

Kita lupa bahwa pasangan kita ini bukan dukun atau cenayang yang bisa baca pikiran kita. Dia cuma manusia biasa yang kalau kita ngomong secara gamblang aja masih memungkinkan untuk miss. Apalagi pakai kode-kodean. Apalagi ngomongnya dengan ilmu kebatinan (dibatin doang, nggak disampaikan). Ya mana bisa?

Ciptakan We-Time untuk Ngobrol

 

Pernah dengar pillow talk kan? Ngobrol di atas kasur sama suami. Saat kondisinya lagi intim, cuma berdua, biasanya jadi jauh lebih rileks. Mau ngobrol apa aja juga enak. Dari topik yang paling receh sampai bahas yang berat-berat.

Sebetulnya, nggak harus dengan pillow talk sih. Tapi meluangkan waktu untuk ngobrol berdua aja tanpa gangguan anak-anak itu penting.

Tentang ini, saya pernah dicurhati salah satu teman yang baru menikah 3 tahunan, tapi rumah tangganya sudah sekaku kanebo. Setelah ditelusuri lagi, ternyata, antara suami dan istri ini sama sekali nggak punya waktu berdua untuk ngobrol. Mereka sibuk dengan kehadiran 2 anak dan pekerjaan masing-masing. Berharap kalau pekerjaan tuntas, maka semua akan baik-baik saja. Ternyata tidak.

Rumah tangga bukan kantor yang masing-masing individu punya job desk yang harus diselesaikan. Rumah tangga ini lebih seperti persahabatan. Keduanya memang punya hak dan kewajiban masing-masing. Tapi ada komunikasi yang begitu luwes yang dijalin di dalamnya. Seberat apapun pekerjaan masing-masing yang harus diselesaikan, kalau bisa berbagi itu pasti akan terasa lebih ringan.


Cinta Datang Bersama Rasa Syukur



Ini kalimat yang paling saya suka dari film ini. Scene ketika suaminya sadar betul kesalahannya ada di mana. Tentang kurangnya dia dalam menghargai istrinya. Tentang rasa cinta yang makin lama makin tak tampak dalam rumah tangga mereka.

"Cinta datang bersama rasa syukur."

Apa sih maksudnya?

Pasangan kita itu memang bukan manusia yang sempurna. Dia punya banyak sekali kekurangan. Tapi dibalik itu semua, ada banyak usaha yang sudah dia lakukan juga untuk kita. Kalau kita fokusnya ke kekurangan dia saja, sulit rasanya untuk mensyukuri kehadiran pasangan kita. Malah lebih banyak keselnya.

Coba sudut pandangnya dibalik. Lihat dia dari segala kebaikan yang sudah dia upayakan untuk kita. Pasti beda rasanya. Bukan hanya rasa syukur karena telah diizinkan bersanding dengannya, tapi juga memunculkan kembali rasa cinta yang sempat karam.


Kesimpulan


Film ini macem ngasih opsi pada kita yang sudah menikah. Apa sih yang mau kita lakukan untuk merawat pernikahan kita? Mau diem-diem aja untuk menghindari konflik? Atau memilih untuk mengkomunikasikan dengan cara baik?

Pasangan kita bukanlah orang yang sempurna. Begitu pula dengan kita. Dia punya kekurangan dan kelebihan. Pada akhirnya, semua kembali pada pilihan kita. Mau melihatnya sebagai sosok yang penuh kekurangan atau justru melihat segala kelebihan yang dia miliki. Semuanya terserah Anda.

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar