Menikmati Proses Tanpa Keluhan

By Aprilely Ajeng Fitriana - Monday, September 09, 2019



September 2018, itu kali pertama saya memulai segalanya sebagai penulis. Semua waktu yang saya miliki saya curahkan hanya untuk menulis. Terkhusus di blog ini. Meski sudah amat sangat lama menulis di blog, baru kali itu saya mendalami semuanya. Mulai belajar menulis artikel, belajar SEO, belajar menaikkan traffic, dan banyak hal lain. Saya masih ingat betul ketika memulai semuanya, mata saya tidak bisa berhenti untuk menatap blogger-blogger senior yang tidak hanya bisa menginspirasi banyak orang melalui blognya, tapi juga bisa menghasilkan sesuatu dari blog.

“Jangan nge-blog hanya untuk mendapatkan uang.”

Itulah pesan yang paling sering saya dengar dari para blogger senior. Iya, mereka memang bisa menghasilkan uang dari blog bukan dalam jentikan jari. Ada proses yang amat panjang yang mereka lalui hingga bisa di posisi mereka saat ini.

“Nikmati saja prosesnya,” pesan mereka.

Dan, di sinilah saya, menikmati segala proses untuk menjadi professional blogger.

Agustus 2019, saya minta izin ke suami untuk merintis bisnis baru. Semua modal dari suami. Agak deg-degan juga sih minta modal usaha ke suami. Takut aja usahanya nggak jalan. Tapi karena suami juga semangat mau bisnis beneran, ya udah jalan.

Hari-hari pertama jualan. Seret amat yak. Wkwkwkwk…



Jangan dibayangkan bahwa orderan bakal laris manis. Ngejual 1 produk aja susahnya bukan main. Bahkan, ada yang nggak notice kalau selama ini tuh saya pasang iklan di WA story. Baiklah, ini kesalahan saya.

Minimnya pengalaman dan ilmu jualan, akhirnya saya memutuskan untuk belajar ilmu marketing di Whatsapp dan Instagram. Keduanya punya pola yang berbeda. Kalau di Whatsapp, saya diminta untuk meraih engagement dengan cara mendekati calon pembeli. Silah ukhuwah dengan teman lama dijalin kembali. Story whatsapp juga jangan langsung hardselling, tapi lebih banyak ke story telling. Ngajakin orang untuk tertarik baca terus sampai akhirnya kita kasih produk, mereka juga mau lirik.

Instagram lain lagi ceritanya. Posting harus di jam prime time. Terus naikkan engagement dengan cara follow, like, dan comment di 30 menit sebelum atau setelah posting. Fungsinya biar Instagram itu notice kalau kita ini lagi aktif. Oh ya, hashtag juga jangan sampai lupa. Riset dulu mana hashtag yang sekiranya pas dan dipakai pada range seribu sampai satu juta postingan.

Semuanya saya kerjakan sendiri. Mulai dari bikin konten, foto produk, editing, riset hashtag, jalanin marketingnya juga iya. Capek nggak sih? Capek banget. Apalagi setelah effort yang begitu besar, orderan tetep aja seret. Clodi yang saya jual tak kunjung berkurang jumlahnya. Saya malah lebih mudah jualan baju-baju bayi import. Meski sebetulnya pemasukkannya juga biasa aja. Dalam sehari belum tentu ada orderan. Sepi bak kuburan.



Baper nggak? Of course. Kok nggak laku-laku ya? Kok nggak kunjung ada yang beli ya? Dan pikiran semacam ini terus muncul. Di sisi lain, saya mulai kangen nulis lagi.

Yes, karna fokus merintis bisnis ini kegiatan nulis di blog jadi sedikit terbengkalai. Susah sekali meluangkan waktu untuk menulis. Betul-betul habis untuk semua itu.

Pas lagi galau gitu, saya coba tanya teman-teman saya yang juga ikut kelas optimasi sosial media ini. Saya penasaran bagaimana mereka merintis bisnis yang mereka jalani saat ini. Pernah nggak sih ngalamin nggak ada orang yang minta beli? Ternyata ya sama aja.



Saya coba jalan-jalan ke luar rumah dan nengok beberapa jualan yang ada di pinggir jalan. Nggak semuanya ramai pembeli. Tapi ada banyak sekali pesaing. Satu hal yang sama dari mereka, tidak menyerah begitu saja.

Saya sugestikan pada diri saya sendiri bahwa nanti dagangan saya pasti bisa laris kok. Teruskan saja mengenalkan produknya ke orang lain. Teruskan saja mengenalkan toko online yang saya miliki saat ini. Saya nggak boleh nyerah dulu, nggak boleh ngeluh. Teruskan promosinya.

Suami saya, sang pemilik modal, sesekali memantau pekerjaan saya. Bagaimana konten di Instagram saya, bagaimana hasil foto yang saya ambil. Dia cek semuanya. Katanya, “ini bagus, Dek.”



Well, saya memang sudah paham sedikit demi sedikit soal sosial media marketing karena selama setahun ini juga itu yang sedang saya geluti. Meski tujuannya beda. Selama ini sosial media marketing saya pakai untuk menaikkan traffic blog saya, tapi kini jadi jualan saya yang dinaikkan. Personal branding juga sudah saya bangun selama setahun ini. Mulai mengenalkan diri sebagai penulis.

Hal menarik terjadi di bulan Agustus kemarin. Ketika saya tengah memupuk asa untuk terus melanjutkan bisnis babyshop online, saya iseng menanyakan ke follower saya tentang kelas blog. Siapa yang menyangka kalau responnya bagus. Saya coba sounding di whatsapp, ternyata yang tertarik juga banyak. Akhirnya, untuk pertama kalinya saya coba membuka kelas blog perdana saya. Siapa sih yang bisa menyanka kalau responnya ternyata bagus sekali. Nggak butuh waktu lama untuk membuat target kuota kelas penuh. Bahkan, untuk kelas ini, saya nggak butuh modal yang besar. Cukup kuota bulanan saja.

Hari ini modal yang diberikan suami saya memang belum tertutup secara utuh. Tapi alhamdulillah, berkat kelas blog itu, separuh modal sudah bisa tertutupi. Saya masih belum tahu apakah akan merutinkan kelas menulis semacam ini atau tidak. Kalau iya, mungkin saya perlu membuat inovasi kelas. Jadi, kelas yang akan saya buka nggak cuma itu-itu saja.

Mohon doanya ya…


  • Share:

You Might Also Like

2 komentar

  1. Subhanallah, lika likunya berjuang jadi pengusaha ternyata segitunya ya.

    Salut buat semangatnya mbak.

    ReplyDelete