Assalamu'alaikum!

Perkenalkan, nama saya Aprilely Ajeng Fitriana. Kalian bisa panggil saya Lelly. Saya lahir di Malang pada tanggal 22 April 1991. Saat ini, saya tinggal di Bogor bersama suami dan anak saya. Blog ini adalah tempat saya mencurahkan segala pemikiran saya dari berbagai peristiwa. Bagaimana saya menghadapinya dan apa saja hikmah yang saya peroleh.

Jun 22, 2020

Persiapan New Normal: Covid Test Dulu, Kerja Kemudian

New normal

Bulan lalu, saya ditawari untuk mengisi Kelas Blog lagi. Singkat cerita, saya iyakan tawaran itu. Pertimbangan saya sederhana, ada suami yang membantu saya menjaga Ghazy selama kelas berlangsung. Hingga akhirnya muncul pengumuman tentang new normal. Kegiatan ekonomi sedang disiapkan untuk berjalan seperti biasanya. Artinya, suami saya pun cepat atau lambat akan bekerja dari kantor juga.

Sejak pengumuman dari pemerintah itu muncul, saya jadi semakin sering bertanya ke suami tentang kapan dia mulai bekerja dari kantor. Jujur, saya jadi maju mundur dengan kelas blog itu. Apa saya mampu menghandle kelas dan Ghazy sendirian?

Dilema New Normal

New normal

Siapa pun pasti sepakat bahwa nggak ada pilihan kondisi yang menyenangkan selama pandemik ini. Pilih di rumah aja, lama-lama bosan juga. Mau keluar rumah untuk kerja atau main, ngeri-ngeri sedap. Kondisinya memang serba dilematik sih.

Baca juga:

Dari segala kesulitan yang dihadapi selama pandemik, saya masih bisa bersyukur karena pekerjaan suami saya masih bisa dikerjakan dari rumah. Sementara itu, banyak orang-orang yang harus tetap bekerja keluar rumah. Aktivitas saya sendiri juga lebih banyak di rumah. Saya bukan ibu pekerja yang dituntut untuk berangkat ke kantor.

Saya nggak bisa membayangkan ibu-ibu yang harus kembali bekerja setelah muncul new normal ini. Apalagi kalau anaknya masih belum bisa mengurus dirinya sendiri, seperti Ghazy. Ini lebih ruwet lagi.

Kapan hari saya baca postingan dari salah satu dokter anak, saya lupa siapa tepatnya. Ini tentang anjuran IDAI terkait pelaksanaan new normal bagi anak-anak. Sudah pasti, anak-anak harus dijauhkan dari keramaian. Kalau bisa sih di rumah aja. Menitipkan anak ke daycare atau membawanya ke tempat kerja sudah pasti tidak disarankan.

Masalahnya, tidak semua orang tinggal dekat dengan orangtuanya. Tidak semua orang mudah menitipkan anaknya ke neneknya. Mau nggak mau, solusi lain harus dipikirkan agar ibunya bisa bekerja dan anaknya tidak terlantar.

5 Persiapan New Normal yang Wajib Dilakukan Sebelum Kembali ke Tempat Kerja

New normal

Banyak hal yang menjadi dilema memang. Tapi, segalanya tetap harus dihadapi dengan gagah berani. Kalau atasan sudah bertitah untuk kembali bekerja dari kantor, ya mau gimana lagi? 

Meski begitu, bukan berarti bisa berangkat ke kantor seselow sebelum pandemik. Ada beberapa hal juga yang harus kita lakukan sebelum kerja dari kantor. Apa saja itu? Check this out!

1. Persiapkan alat pelindung diri

Ini sudah jadi must have item sih. Nggak cuma ketika berangkat kerja, tapi ke mana saja harus bawa dan pakai. Apa saja itu? Pastinya ya masker. 

Meski pakai masker kain yang washable, tetap harus diganti secara berkala ya. Jangan sampai virusnya ngendon di situ dan kita nggak tahu. Bawa beberapa masker dan wadah plastik tertutup untuk menyimpan masker yang belum dipakai dan sudah dipakai.

Perlu nggak sih pakai face shield? Menurut saya perlu sih. Ini untuk melindungi seluruh wajah dari droplet. Selain face shield, penggunaan sarung tangan non medis juga diperlukan ketika kita sedang ada di dalam transportasi umum.

2. Pastikan untuk mudah mencuci tangan di mana saja

Hand sanitizer punya batas pemakaian. Jadi, sebaiknya tetap cuci tangan pakai sabun. Nah, kalau sedang dalam perjalanan gimana dong?

Sediakan botol berisi air sabun dan air untuk membilas yang mudah dibawa ke mana saja. Jadi, kalau butuh cuci tangan tinggal semprot air sabun, lalu bilas dengan air bersih. Selesai.

3. Tetap lakukan pembatasan sosial

Judulnya memang new normal. Tapi kalau dibilang kembali ke normal yang dulu, ya nggak juga. Jadi, meski aktivitas kita mulai kembali seperti sedia kala, tetap lakukan pembatasan sosial.

Memang, rasanya rindu sekali dengan teman-teman setelah lama tidak berjumpa. Pinginnya sih menghabiskan waktu dengan mereka, menikmati makan siang bersama, atau aktivitas lain. Tapi, kita tetap harus ingat bahwa kita masih dalam situasi yang tidak benar-benar aman. Sebagai langkah pencegahan, ya harus tetap lakukan pembatasan sosial.

4. Pastikan anak-anak aman selama ditinggal bekerja

Ini PR besar yang perlu dipikirkan oleh setiap orangtua yang kembali bekerja. Kalau salah satunya di rumah saja, baik itu ibu yang tidak bekerja maupun ibu yang kerja dari rumah, ini tidak jadi masalah. Masih bisa atur waktu dan pekerjaan di rumah seperti yang sudah dilakukan selama ini.

Masalah akan muncul bila kedua orangtua harus kembali bekerja dari kantor. Opsi menitipkan anak di daycare yang dulu bisa dilakukan, tentunya tidak bisa kita pakai lagi. Sulit untuk membatasi anak tidak berkerumun dengan teman-temannya.

Pilihan yang memungkinkan diambil ya menitipkan anak ke orangtua. Ini kalau rumah orangtua memang dekat. Pilihan lain bagi yang merantau jauh dari orangtua ya memperkerjakan nanny

Cari lembaga terpercaya agar anak-anak kita aman. Sebelum mereka datang, minta untuk melakukan covid test terlebih dahulu. Kalau perlu bayar biaya testnya dan minta hasil test dikirim terlebih dahulu sebelum nanny datang ke rumah.

5. Lakukan covid test terlebih dahulu

Beberapa perusahaan meminta para karyawannya untuk melakukan covid test secara mandiri sebelum bekerja dari kantor. Langkah ini dilakukan perusahaan untuk memastikan tidak ada pegawainya yang terkena covid-19 saat sedang bekerja. Tentu, ini jadi PR baru yang harus diselesaikan juga.

Nah, kalau kalian tinggal di Jakarta, tidak perlu bingung untuk memilih rumah sakit mana yang bisa melakukan covid test. Kalian bisa langsung cek daftar rumah sakit yang melakukan covid test Jakarta melalui aplikasi halodoc.

Apa sih halodoc itu?

halodoc

Halodoc adalah aplikasi kesehatan yang memberikan solusi lengkap bagi masyarakat. Aplikasi ini berisi fitur lengkap yang memudahkan kita memperoleh akses layanan kesehatan dengan mudah. Melalui aplikasi ini juga, kita bisa berkonsultasi dengan dokter bahkan membeli obat dengan resep dokter. Selanjutnya, obat akan diantar ke rumah kita.

Selama pandemik ini, aplikasi ini juga menyediakan fitur untuk mencari rumah sakit mana yang bisa melakukan covid test. Baik itu rapid test maupun PCR swab test. Kita juga bisa langsung membuat appointment dengan rumah sakit pilihan untuk melakukan test.

Penutup

Banyak hal yang menjadi dilema saat pandemik begini. Mau di rumah saja atau menyambut new normal sebetulnya tidak ada pilihan yang benar-benar menyenangkan. Mau nggak mau, semuanya ya tetap harus dihadapi. Harapan kita semua sama, semoga pandemik ini bisa segera berakhir.

Stimulasi Bayi 0-3 Bulan: Dari Cuma Bobo Ganteng Sampai Pinter Berekspresi

Stimulasi bayi 0-3 bulan

Saya mulai belajar tentang parenting jauh sebelum menikah dan punya anak. Tapi untuk mendalami secara detail hingga masalah tumbuh kembang anak, ya baru setelah menikah. Ada satu kejadian yang membuat saya lebih aware dengan hal ini.

Waktu itu ceritanya kami sedang main ke rumah kenalan. Saya dan suami tidak sendiri, tapi bersama rekan kami juga. Rumah yang kami kunjungi punya anak yang usianya 18 bulan. Tapi, dia belum bisa berjalan. Jangankan berjalan, merangkak pun belum. Bahkan, melata saja enggan. 

Di usia yang hampir 2 tahun, anak itu masih berguling ke sana ke mari. Anak seumuran itu, kalau diperlihatkan mainan, biasanya akan tertarik dan berusaha meraih. Ini tidak. Waktu itu dia minta diambilkan gelas air mineral. Saya coba pancing dia agar datang mendekat ke arah saya. Tapi reaksinya tidak seperti yang saya harapkan.

"Kalau nggak mau ngasih, ya udah," gestur tubuhnya seolah mengatakan demikian. 

Sepulang dari rumah itu, rekan saya yang lain nyeletuk tentang perkembangan si anak. Umur segitu kok belum bisa jalan, bahkan merangkak pun belum semangat.

"Kebanyakan digendong tuh," begitu katanya. Jujur, sewaktu di sana saya nggak kepikiran sama sekali kalau si anak ini mengalami keterlambatan dalam perkembangannya. Gara-gara obrolan itu, saya jadi kepo dan mencari tahu seperti apa perkembangan anak setiap bulannya.

Aware dan Abai itu Beda

Stimulasi bayi 0-3 bulan

Iyalah beda. Wkwkwk. Gimana sih, Lel?

Selang beberapa waktu, saya membaca story Mbak Lis tentang pengalamannya menghadapi anak yang speech delay. Dia cerita anaknya yang belum bisa berbicara setelah usia 2 tahun. Penyebabnya, karena Mbak Lis ini sering memberi anaknya gadget. Beliau sibuk sekali. Tools andalan untuk membuat anak anteng ya gadget.

Ternyata, membuat anak anteng ini justru menimbulkan masalah lain. Salah satunya, ya keterlambatan berbicara. Akhirnya, Mbak Lis membatasi gadget untuk anaknya. Stimulasi bicara beliau kejar lagi. Alhamdulillah, sekarang anaknya sudah ngeciwis.

Nah, saya jadi ingat dengan anak kenalan saya tadi. Kami akhirnya bertemu lagi setelah dia berusia hampir 2 tahun. Tapi, bahasa yang keluar dari mulutnya masih ah-oh-ah-oh saja. Padahal, kalau dari referensi yang saya baca, mestinya dia sudah bisa menyebutkan beberapa kata. Ini belum.

Saya coba DM Mbak Lis dan cerita tentang kondisi ini. Termasuk, keterlambatan perkembangan yang lain. Mbak Lis balik tanya ke saya.

"Apakah ibunya paham tentang tahap perkembangan anak?"

Nah, ini kuncinya. Ibunya bisa paham kalau mau belajar tentang hal ini. Dari belajar, akhirnya tahu harus berbuat apa. Tapi, kalau ini tidak ada, ya udah.

Baca juga: 

Kepedulian kita pada anak ternyata tidak hanya ditunjukkan dengan mengasuh dia dengan baik. Mengisi kepala kita dengan ilmu-ilmu parenting ternyata juga salah satu bentuk kepedulian kita. Karena aware dan abai itu beda. 

4 Ranah Perkembangan yang Harus Diperhatikan

Stimulasi bayi 0-3 bulan

Setelah punya anak sendiri, jujur saya nggak mau perkembangan anak saya terlambat. Bukan cuma saya, suami pun demikian. Kami begitu aware dengan tahap perkembangan anak kami. 

Bulan ini dia bisa apa? Bulan berikutnya sudah bisa apa? Bayi rata-rata bagaimana? Kapan kami harus konsultasi ke dokter? Semuanya kami pantau.

PR stimulasi perkembangan juga terus kami kerjakan sama-sama. Alhamdulillah, sejauh ini perkembangan Ghazy masih sesuai dengan usianya. Ada 4 ranah yang terus menerus menjadi perhatian kami saat ini.

1. Motorik Kasar

Motorik kasar ini merupakan perkembangan fisik bayi yang berhubungan dengan otot-otot besar. Perkembangannya dimulai dari kepala, bahu dan lengan, punggung, pinggang, hingga akhirnya kaki. Perkembangan ini yang menentukan anak bisa menegakkan kepalanya, menggulingkan badan, merangkak, duduk, hingga berjalan dan berlari.

Masing-masing tahap perkembangan motorik kasar ini akan menjadi pra syarat perkembangan selanjutnya. Misal, untuk bisa berguling, bayi harus bisa mengangkat kepalanya dulu. Bahu dan lengannya juga harus cukup kuat untuk mendorong tubuhnya ke samping hingga bisa berguling.

2. Motorik Halus

Ada motorik kasar, ada juga motorik halus. Meski sama-sama perkembangan fisik pada anak, tapi keduanya punya segi pengamatan yang berbeda. Kalau motorik kasar melibatkan otot-otot besar, motorik halus hanya melibatkan otot-otot kecil saja. Contohnya, anak bisa menggenggam, mengambil benda, melempar bola, dan sebagainya.

3. Bahasa dan Bicara

Bahasa adalah kunci kecerdasan anak. Kalau anak ini tidak memahami bahasa, bagaimana akhirnya dia bisa mengetahui suatu hal? 

Dalam perkembangan bahasa ini, tentu kita tidak bisa langsung berharap bayi ini bisa ngomong ya. Anak kita ini nggak dikasih mukjizat seperti Nabi Isa yang bisa menjelaskan kalau ibunya perempuan suci. Nggak, jangan berharap sampai situ. Tapi, dari ocehan-ocehannya, responnya ketika kita bicara atau memanggil namanya ini yang nantinya akan kita nilai.

4. Persona Sosial atau Kemandirian

Perkembangan satu ini yang jadi bekal bagaimana anak-anak menapaki kehidupannya di masa datang. Bagaimana dia bisa bersosialisasi dengan lingkungannya. Bagaimana dia bisa menyelesaikan persoalan yang dia hadapi.

Saya jadi ingat tulisan Mbak Talitha tentang bagaimana Rasulullah dulu ditempa sejak usia balita. Bagaimana Allah mengatur hidupnya dengan amat sangat apik hingga beliau terbiasa dengan berbagai kesulitan hidup. Setelah membaca itu, saya jadi paham, pantas saja Rasulullah bisa setangguh itu.

Tahap Perkembangan dan Stimulasi Bayi 0-3 Bulan

Perkembangan anak akan dipantau setiap 3 bulan sekali dengan menggunakan Kuisioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP). Di dalamnya, terdapat beberapa pertanyaan terkait perkembangan anak. Kita hanya perlu menjawab kuisioner tersebut, sesuai dengan kondisi anak kita. Setelah KPSP selesai dijawab, barulah ada kesimpulan. Apakah perkembangan anak kita terlambat atau tidak.

KPSP ini bisa kita dapat di dalam buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) yang berwarna pink. Kalau tidak punya, kita juga bisa mendapatkannya dari aplikasi PrimaKu. Aplikasi digital ini telah didukung oleh IDAI. Jadi, kalau buibu khawatir sama perkembangan anak dan takut mau ke fasilitas kesehatan. Aplikasi ini bisa jadi solusi.

Primaku


Perkembangan dan Stimulasi Baby Ghazy 0-1 Bulan

Nulis ini jadi flashback lagi ke memori waktu baru aja melahirkan. Bongkar-bongkar foto waktu Ghazy masih umur segini. Ya Allah, kok ya mimbik-mimbik jadinya.

Stimulasi bayi 0 bulan
Ghazy umur 1 hari


Dulu, Ghazy kuecil sekali. Dia lahir cuma 2,6 kg aja. Terus beratnya turun di hari kedua, jadi 2,5 kg aja. Apapun yang dipakai Ghazy jadi kelihatan besar. Lengannya Ghazy juga nggak segemuk sekarang. Tiap masukin data Ghazy ke aplikasi, keterangannya selalu Gizi Buruk.

Di umur segitu, tidak banyak yang Ghazy lakukan selain bobo, nenen dan pup. Rasanya ketiga hal ini aja yang repeat setiap hari. Waktu bangunnya tidak banyak. Tapi karena tiap malam dia juga kebangun sebentar-sebentar buat nenen, ngantuk juga hamba. Jadi, kalau Ghazy bobo, umminya ibi ikut bobo juga.

Pekerjaan rumah? Mari kita abaikan saja. Hehehe.

Waktu itu saya sempat bingung. Kalau Ghazy cuma tidur dan nenen aja, bagaimana saya menstimulasi dirinya? Setelah saya belajar-belajar lagi, ternyaya menyusui pun bagian dari memberikan stimulasi untuk bayi.

Stimulasi yang kita berikan bisa berupa sentuhan langsung antar kulit dengan bayi. Nggak harus telanjang dada seperti ketika IMD juga sih. Cukup menyusui aja, proses skin-to-skin bisa terjalin.

Pelukan ibu dan orang-orang terdekatnya ini yang membangun aspek sosio-emosinya di kemudian hari. Sambil menyusui juga, saya coba ngobrol sama Ghazy. Cerita-cerita apa saja dan mendengarkan murotal sama-sama. 

0-1 Bulan, Bisa Apa?

Stimulasi bayi 1 bulan
Ghazy umur 1 bulan

Umur 2 hari, Ghazy sudah bisa memiringkn badannya ke arah kiri. Ini tanpa stimulasi apapun, anaknya sudah begini. Bisa-bisa sendiri.

Dari lahir juga, tatapan matanya ketika melihat orang lain sudah tajam. Seolah ngerti kalau lagi diajak ngobrol. Oya, ini kalau orangnya lagi gendong dia ya. Bisa tuh kontak mata sama Ghazy.

Di umur segini, sebetulnya kita sudah bisa menengkurapkan bayi. Tujuannya, agar si bayi berlatih mengangkat kepalanya. Tapi ini belum saya lakukan sama sekali. Saya dan suami belum berani menengkurapkan Ghazy. Jadi, kami juga tidak tahu apakah dia sudah bisa mengangkat kepala sedikit-sedikit atau belum.

Ghazy juga banyak memasukkan tangan ke mulut. Saya jarang sekali memakaian sarung tangan ke Ghazy. Saya lebih sering membiarkan Ghazy mengeksplorasi tangannya. Supaya dia tidak mencakar diri sendiri, saya rajin-rajin menggunting kukunya. Hampir setiap hari bahkan. Saya juga heran kenapa kuku bayi cepat sekali tumbuh.

Perkembangan dan Stimulasi Baby Ghazy 1-2 Bulan

Stimulasi bayi 2 bulan

Umur 1-2 bulan, waktu tidur Ghazy di siang hari semakin sedikit. Ada waktu dia terjaga agak lama di siang hari. Waktu-waktu ini, biasanya saya pakai untuk main sama Ghazy.

Kami tidak punya banyak mainan untuk Ghazy. Mainan-mainan yang ada biasanya hadiah dari belanja kebutuhan bayi atau kado dari teman. Oya, kami juga sewakan baby gym untuk Ghazy. Jadi, kalau dia bangun, dia ditaruh di sana untuk main-main di baby gym.

Ghazy belum bisa pegang mainan apapun yang tergantung di baby gym. Tapi dia bisa melihatnya dengan fokus. Selain lihat-lihat mainan yang tergantung di atasnya, kakinya juga dilatih untuk menendang piano-piano kecil di bawah.

Selain main-main dengan baby gym, saya juga sering mengajak Ghazy bercermin. Saya dekap Ghazy di dada saya, lalu saya ajak dia bercermin. Ghazy suka sekali dengan aktivitas ini. Dia heran dengan siapa orang yang ada di dalam cermin. Tapi seolah punya teman baru.


Kalau Ghazy ketemu orang lain selain saya dan suami, dia tidak menangis. Biasa aja gitu. Malah asyik main dengan mereka. 

Di usia ini juga, Ghazy lebih banyak saya gendong. Kalau rewel sih, alhamdulillah tidak. Tapi setelah nenen, sulit sekali meletakkan dia tanpa terbangun lagi. Dia seolah amat sangat nyaman dengan ketiak Ummi yang baunya subhanallah. Nggak masalah, ini tidak berlangsung lama kok.

Oya, setelah umur 1 bulan, saya akhirnya berani menengkurapkan Ghazy pelan-pelan. Tidak perlu lama-lama. Sebentar saja. 1 menit saja cukup. 

Saya amati bagaimana reaksinya. Kadang dia menangis, kadang juga tidak. Stimulasi ini yang memicu kontroversi dengan para nenek. Marah-marahlah mereka. Cerita tentang ini ada di postingan saya tentang komentar orangtua.

Meski dimarahin sana sini, saya dan suami tetap melakukan tummy time untuk Ghazy. Setidaknya sehari 1-2 kali dengan waktu kurang dari 1 menit. Kalau Ghazy sudah kelihatan lelah, saya balikkan badannya.

Apa hasilnya?

Ghazy sudah bisa mengangkat tinggi kepalanya saat dia umur 2 bulan saat tummy time. Iya, secepat itu progres perkembangannya bayi. Kalau kita stimulus sedikit saja, melajunya sudah amat pesat. Saya saja heran.

Menjelang usia 2 bulan, saya baru memperkenalkan Ghazy dengan buku bantal. Reaksi awalnya seperti enggan ketemu buku. Itu kalau saya yang bacakan. Beda lagi kalau abinya. Dia bisa serius menyimak. Tapi, lama kelamaan, siapapun yang membacakan dia tertarik.

Perkembangan dan Stimulasi Baby Ghazy 2-3 Bulan

Stimulasi bayi 3 bulan

Di usia ini, waktu bangun di siang hari jauh lebih panjang dari sebelumnya. Sayangnya, dia selalu bangun di jam tidur siang. Ini sungguh ujian buat umminya yang suka ngantuk di jam-jam itu. 😅

Apa saja yang biasa kami mainkan? Banyak. Membaca nyaring untuk Ghazy, mainan sapu tangan, main-main selimut dan tentunya tummy time.

Membaca nyaring yang saya lakukan tidak selalu menggunakan buku-buku bayi. Saya pakai media apa saja yang bisa digunakan. Bahkan, bantal, guling dan brosur mobil pun saya pakai media bercerita. Seolah sedang membaca. Ghazy suka sekali dengan ini.

Bermain dengan cermin juga sering kami lakukan. Apalagi kalau sudah mati gaya. Ajak aja Ghazy bercermin, pasti semangat. Hehehe.

Waktu Ghazy tummy time juga semakin panjang. Selain menengkurapkan Ghazy di atas selimut yang dibentuk U, kami juga mendorong Ghazy untuk bisa membalikkan badannya sendiri.

Oya, selain mengangkat kepala tinggi-tinggi, Ghazy juga sudah bisa miring ke kanan atau ke kiri sendiri. Ghazy baru bisa berguling ke kiri saat umur 3 bulanan. Baru satu arah saja ya.

Jemari Ghazy juga sudah bisa menggenggam jari-jari saya sendiri. Kalau saya dekatkan, dia bisa memegangnya sendiri.

Hal yang Perlu Diperhatikan Orangtua Saat Menstimulus Bayi

Stimulus bayi 0-3 bulan

Seharusnya, poin ini disampaikan di atas. Tapi nggak apa-apa deh, ditaruh di bawah. Ada beberapa poin yang ingin saya sampaikan terkait perkembangan bayi.

1. Perkembangan setiap bayi berbeda

Tiap bayi punya perkembangan yang berbeda. Tidak perlu membandingkan bayi kita dengan bayi lain. Malah stress sendiri nanti. Alih-alih bersyukur dengan setiap capaian tahap perkembangannya, kita malah merasa kurang terus.

Gunakan ceklist skrining perkembangan sebagai bahan rujukan apakah anak kita terlambat berkembang atau tidak. Kalau kita tidak menggunakan ini, ada dua kemungkinkan yang bisa terjadi. Kitanya jadi cuek, seperti kasus kenalan kami itu. Kemungkinan kedua, kita jadi merasa anak kita terlambat terus. Padahal ya belum tentu juga.

2. Stimulasi aja, jangan dianggurin

"Udah, biarin aja dia sesuai instingnya."

Jujur, saya amat sangat tidak setuju dengan pendapat ini. Otak bayi itu masya Allah, luar biasa sekali. Kita beri sedikit saja stimulasi, responnya sudah luar biasa. 

Kalau menurut penjelasan dr. Tiwi, sinaps otak akan bersinambungan ketika kita memberikan stimulasi ke anak. Makin sering stimulasi ini diberikan, serabut otaknya juga akan semakin kaya. Ini yang membuat bayi jadi jauh lebih cerdas.

Saya yakin, bukan hanya saya yang sudah membuktikan hal ini. Para ibu yang sudah berusaha memenuhi PR perkembangan anak pasti merasakan hal yang sama. Jadi, sayang banget kalau bayi-bayi ini dianggurin gitu aja.

3. Fokus ke bayi dulu

Waktu tidak akan pernah bisa diputar. Ketika kita kehilangan momen dengan si kecil, ya sudah. Kita tidak akan bisa kembali lagi ke masa itu.

Bayi juga tidak bisa menunggu. Dia akan terus bertumbuh, tidak peduli seberapa lelah atau sibuknya kita. Jadi, meluangkan waktu untuk dia itu penting. Lepas dari apapun kondisi kita. Mau ibu rumah tangga atau bekerja, ini harus dilakukan.

Satu hal yang saya ingat ketika lelah membersamai Ghazy,

"Bukan dia yang minta dilahirkan ke dunia, tapi saya yang memohon ke Allah agar dia bisa lahir."

Saya coba ingat kembali bagaimana perjuangan untuk mendapatkannya. Berapa panjang malam yang harus saya habiskan untuk merindukan kehadirannya. Lalu, setelah dia hadir, apa pantas saya abaikan dia dan sibuk dengan urusan sendiri?

4. Be happy

Saat bayi usia 0-3 bulan, bukan hanya dia yang sedang beradaptasi dengan lingkungan baru. Kita pun iya. Belajar menyusui, merawat, mengenal tanda-tanda yang dia berikan. Tidak jarang semua hal itu membuat pikiran dan perasaan jadi ruwet.

Belum lagi hormon pasca melahirkan. Ketidaktahuan kita dalam menghadapi fase baru menjadi ibu, lingkungan yang tidak mendukung, serta pengaruh hormon menjadi pemicu besar seorang ibu terkena baby blues, bahkan bisa depresi.

Saya tahu bahwa fase itu amat sulit untuk semuanya. Banyak drama yang menguras air mata di sana. Tapi, percayalah bahwa di balik tangisan itu ada banyak cara untuk bisa bahagia.

Atur fokus kita. Belajar agar kita tidak buta dan panik berlebih. Minta bantuan orang lain ketika kita tidak sanggup mengerjakan. Tidak perlu sungkan. Cara ini akan membantu kita untuk tetap waras dan happy selama mengasuh si kecil.

5. Apresiasi diri sendiri

Dengan segala hal yang kita lalui di awal-awal kehidupan si kecil, jangan lupa untuk mengapresiasi diri sendiri. Kita sudah melakukan yang terbaik untuk anak kita. Sebagian dari kita bahkan sampai lupa makan minum.

Cobalah untuk berterima kasih pada diri sendiri atas segala kerja keras yang sudah dilakukan. Tidak perlu menjadi sempurna untuk melakukan ini. Ingat, kita ini manusia biasa. Kita bukan Tuhan Yang Maha Perkasa.

Penutup

Awalnya, saya mau menuliskan stimulasi bayi dari 0-6 bulan. Tapi ternyata 0-3 bulan saja sudah sepanjang ini. In syaa Allah seri tumbuh kembang ini akan terus berlanjut per 3 bulan sampai bayi berusia 1 tahun. Oya, semua stimulasi yang saya tulis ini berdasarkan apa yang sudah pernah saya lakukan dan pelajari dari sana sini.

Kalau kamu punya cerita menarik saat mendampingi si kecil di usia ini, share ceritamu di kolom komentar ya.



Jun 15, 2020

Menjaga Semangat Belajar Meski Sudah Jadi Ibu

semangat belajar

Saya patut bersyukur karena Allah memperkenalkan saya dengan para ibu yang punya semangat belajar tinggi. Mereka jarang sekali mengeluh tidak punya waktu untuk belajar. Alih-alih mengeluh, mereka justru antusias sekali dengan ilmu-ilmu baru yang akan mereka dapatkan.

Bagi saya, ini anugerah. Semangat mereka yang menggebu-gebu dalam belajar ini juga yang mendorong saya untuk terus belajar. Apapun kondisinya. Entah saya punya anak atau tidak.


Karena Ibu Madrasatul Ula

semangat belajar

Teman-teman saya ini bukan pengangguran yang kebanyakan waktu luang. Sebagian besar bahkan tidak dibantu asisten rumah tangga untuk mengurus rumah. Mereka kerjakan semuanya sendiri. Ya mengasuh anak, ya mengurus rumah. Bahkan, ada juga yang masih harus bekerja di ranah publik.

Jadi, kalau ada ibu-ibu yang bilang, "asisten rumah tangga saya nggak sebanyak Nia Ramadhani," itu cuma alasan aja. Sebuah pembenaran untuk tidak berinvestasi terhadap dirinya.

Dulu, sebelum saya menikah dan punya anak, saya heran dengan teman-teman saya ini. Bagaimana caranya mereka mengatur waktu agar bisa menjalani semua itu? Apa tidak repot harus mengurus ini itu sambil belajar?

Hari ini, setelah saya menjadi ibu, saya akhirnya sadar jawabannya. Kesadaran perempuan sebagai madrasatul ula bagi anak-anaknya inilah yang mendorong mereka untuk terus belajar. Mereka penuhi amanah yang telah Allah berikan sebagai wujud ketakwaan mereka.

Justru ketika semua itu dilakukan sebagai wujud ibadah, Allah bantu untuk menyelesaikan segala urusan. Kalau dinalar memang rasanya tidak ada waktu. Tapi, percayalah bahwa Allah Sang Penggenggam Waktu. Kalau pertolongan Allah sudah datang, tidak ada yang tidak mungkin.

Belajar Itu Mengurai Keresahan

Galau

Jujur, setelah menikah, banyak hal yang bikin galau. Mau kerja dari rumah atau di luar rumah. Kalau di rumah apa pertimbangannya, kalau di luar juga apa.

Saat hamil, ternyata keresahannya lain lagi. Galau pilih obgyn, pilih tempat bersalin, mempersiapkan kelahiran, biaya ini itu. Setelah anaknya lahir, keresahannya beda lagi. Khawatir ASI yang tidak lancar, takut-takut saat harus merawat bayi, dan sebagainya. Bahkan keresahan itu akan terus ada seiring bertambahnya usia. Seakan tidak pernah ada habisnya.

Buat saya, ilmu yang saya dapatkan sebelum menjalaninya langsung itu menenangkan. Saya tidak bilang itu bisa menghapus semua keresahan. Tapi, ketika tahu usaha apa yang harus dilakukan, bagaimana caranya, itu betul-betul membantu diri ini untuk tetap waras menjalani lika-liku sebagai ibu baru.


Tips Menjaga Semangat Belajar Meski Sudah Jadi Ibu

Belajar

Semangat belajar itu tidak hadir tiba-tiba. Namanya semangat, ya pasti ada naik turunnya. Tapi, kita bisa menyiasati agar dia bertahan lebih lama. 

Berikut ini adalah cara saya untuk menjaga semangat belajar. Semoga bisa membantu buibu yang mungkin mulai kehilangan semangat untuk belajar.

1. Tentukan minat

Kenapa sih minat ini penting? Karena kalau kita tahu apa minat kita, ini akan amat sangat memudahkan proses belajar kita. Tekanan dalam belajar juga bisa diredam. Bahkan, kita bisa menjalaninya dengan suka cita.

Misal, saat mau menikah, belajar tentang reproduksi perempuan. Tahu bagaimana hubungan siklus nenstruasi dengan mudah tidaknya hamil. Kalau siklusnya tidak teratur, apa saja yang bisa dilakukan.

Saat baru menikah, belajar tentang kehamilan. Apa saja yang akan dilalui saat hamil. Apa yang harus dilakukan dicari tahu. 

Dan seterusnya. Biasanya minat belajar ini akan muncul ketika kita akan menjalani itu semua. Dorongannya akan semakin besar ketika waktunya pun semakin dekat.

2. Susun kurikulum untuk mempermudah

Ketika sedang semangat belajar, tak jarang dari kita melahap semuanya sekaligus. Ikut banyak kelas, baca banyak buku, nonton banyak video dari para expert. Saya tidak bilang ini buruk, tapi seringkali ini justru membuat kita jadi tsunami informasi. Alih-alih makin paham, jadinya malah semakin galau.

Coba susun kurikulum belajar. Tentukan cara terbaik untuk belajar bagaimana. Setiap orang unik, jadi tidak harus sontek cara belajar teman. Tengok saja ke diri sendiri kira-kira suka belajar dengan metode seperti apa.

Upayakan juga untuk tidak belajar banyak hal dalam satu waktu. Susun jadwal belajar. Ini akan membantu kita untuk membangun kerangka berpikir dalam menghadapi masalah di kemudian hari.


3. Cari lingkungan yang mendukung

Tidak bisa dipungkiri lingkungan itu mendukung. Kalau kita punya teman-teman yang semangat belajarnya tinggi, kita pun ikut semangat. Sebaliknya, jika mereka selow aja, kita juga jadi ikut selow.

Kalau kita ingin menjaga semangat belajar, coba gabung ke komunitas ibu-ibu pembelajar. Sesuaikan juga dengan minat kita. Apa sih yang ingin kita tekuni.

Peran Suami dalam Proses Belajar Ibu

Love

Ini hal terakhir yang tidak kalah penting. Banyak orang yang akhirnya kesulitan belajar karena tidak punya dukungan dari suaminya. Bagi saya, suami tidak hanya punya fungsi memberikan izin saja. Tapi lebih dari itu.

Saya bisa belajar banyak hal mulai dari tulis menulis, blogging, parenting, dan lain-lain karena dukungan suami. Dukungan ini banyak sekali. Ya dibayarin kelasnya, ya dibantu dalam menyelesaikan pekerjaan rumah, ya dibantu untuk mengasuh anak. Bayangkan ketika semua pekerjaan rumah dan pengasuhan saya kerjakan sendiri. Tentu ini akan amat sangat sulit bagi saya untuk belajar.

Lalu, bagaimana kalau suami kita belum peka atas kebutuhan istri yang satu ini?

Komunikasikan. Coba bicarakan sedetail mungkin. Jangan gunakan kode-kode. Pusing dan capek sendiri nanti. Langsung saja utarakan apa mau kita. Tentu saja, gunakan siasat cantik agar proses komunikasi ini tetap menyenangkan.

Kesimpulan

Menjadi ibu adalah amanah yang luar biasa. Rasanya mustahil bila kita menjalaninya tanpa ilmu. Ini sebabnya menjaga semangat untuk terus belajar juga menjadi hal penting. Selain upaya dari diri sendiri, peran suport system juga akan amat sangat membantu proses ini.

Kalau kamu seorang perempuan juga, coba ceritakan di kolom komentar tentang apa yang sedang kamu pelajari dan tantangannya. Siapa tahu ceritamu akan menginspirasi yang lain untuk terdorong belajar juga.

Ide Main Bareng Bayi 0-6 Bulan dengan Peralatan Sederhana di Rumah

Sebetulnya, saya mau nulis ini dari lama. Tapi karena waktunya nggak cukup buat sering-sering blogging, ide ini masih ngendap di keep notes. Akhirnya, tulisan tentang ide main bareng bayi ini dieksekusi juga.

Ide Main



Main dengan Bayi Tanpa Mainan

Main nggak pakai mainan sama bayi tuh gimana konsepnya? Anaknya diajak main petak umpet gitu? 

Ya kalau bayi 0-6 bulan diajak main petak umpet ya nggak bisa emang. Maksud main tanpa mainan ini, kita ajak main bayi dengan benda-benda sederhana yang ada di sekitar kita. Gitu lho, buibu.

Waktu awal-awal lahiran, saya sempat menyesal. Kenapa sih dulu waktu belanja kebutuhan bayi nggak beli mainan juga? Beli apa gitu yang bisa dimainkan.

Emang nggak kepikiran sih. Pikir saya, dia masih bayi banget, masih banyak tidur juga, mana bisa main? Ternyata saya salah.

Bayi usia 0-2 bulan memang masih banyak tidur. Tapi, di waktu meleknya ini, banyak hal yang bisa dia lakukan. Terutama saat siang hari yang waktu terjaganya lebih panjang.

"Yah, coba ada mainan, pasti bisa seru deh," begitu pikir saya dulu.

Sepertinya, Baby Ghazy mendengar gundah gulana Umminya ini. Saya juga kaget sendiri ketika dia seolah memberi clue begini, "bisa kok main pakai ini." Gitu. 

Selain menggunakan benda-benda di sekitar kita sebagai mainan, main tanpa mainan juga bisa menggunakan anggota tubuh ayah atau ibu. Cara ini selain bisa digunakan untuk meningkatkan bonding antara bayi dan orangtua, pun bisa dipakai sebagai sarana olahraga bagi orangtua. 

7 Ide Main Tanpa Alat Bareng Bayi 0-6 Bulan

Ide Main

Semakin kecil usia bayi, semakin banyak waktunya yang dipakai untuk tidur. Ketika bangun, ini saatnya kita untuk bermain. Tidak harus menggunakan alat-alat tertentu. Kita bahkan bisa memanfaatkan pemberian Allah ini, yaitu anggota badan kita.

Apa saja permainan yang bisa dimainkan bersama si kecil? Yuk, simak ide-ide main berikut.

1. Tummy Time di Atas Dada Ayah/Ibu

Menengkurapkan bayi atau yang biasa dikenal sebagai tummy time ini punya banyak sekali manfaat lho. Selain bisa digunakan untuk melatih otot leher, permainan bisa juga dipakai untuk meningkatkan bonding antara orangtua dan anak.

Ada banyak variasi tummy time yang bisa digunakan. Untuk variasi yang tanpa menggunakan alat apapun ya dengan meletakkan bayi di atas dada kita. Selanjutnya, tatap mata bayi dan ajak dia bercakap-cakap.

2. Pesawat Terbang

Di rumah aja jadi nggak ada waktu untuk olahraga? Oops, jangan salah. Main sama bayi bisa banget jadi acara mencari keringat. Salah satunya ya permainan ini, pesawat terbang.

Inti dari permainan ini adalah "menerbangkan bayi". Caranya sederhana, kita tinggal mengangkat bayi tinggi-tinggi sambil berseru, "terbang!"

Permainan ini bisa divariasikan dengan berbagai cara. Kita bisa mengayun-ayun bayi dengan tangan kita. Bisa juga menggunakan kaki kita untuk mengangkat bayi tinggi-tinggi.

Tentu saja, usia bayi yang akan diajak main harus disesuaikan ya. Pastikan bayi otot leher bayi sudah kuat untuk melakukan permainan ini.

3. Ayunan di Kaki Ayah/Ibu

Ini juga permainan yang bisa dilakukan setah otot leher bayi kuat. Caranya pun mudah. Kita tinggal duduk di atas kursi. Lalu, letakkan bayi di bawah atas tulang kering kita. Ayun-ayunkan kaki sambil pegangi bayi. 

Jangan lupa untuk tetap ajak bayi ngobrol ya. Cara ini seru sekali untuk dilakukan bersama. Selain itu, kita juga bisa melatih otot betis kita supaya kuat menghadapi hari.

4. Pijat Bayi

Siapa bilang pijat bayi hanya bisa dilakukan oleh tenaga profesional? Kita pun bisa melakukannya di rumah. Cara ini, selain bisa membuat relaks bayi, juga dapat meningkatkan bonding kita dengan si kecil.

5. Semut dan Gajah Berjalan

Pernah main ini nggak waktu kecil dulu? Ini permainan zaman SD, kalau saya nggak salah ingat. Cara mainnya amat sederhana. Ada yang jadi jalan, ada yang jadi hewan. Orang yang jadi jalan akan membiarkan lengan tangannya untuk dilewati hewan-hewanan yang dibuat orang lain.

Gimana bikin semutnya? Nggak bikin semut juga. Tapi orang yang jadi hewan-hewanan tadi akan memberikan sensasi ke orang yang jadi semut, seolah ada semut yang lewat. 

Kalau gajah? Pakai kepalan tangan, lalu ditepuk-tepukkan ke lengan itu.

Terinspirasi dari permainan itu. Kita bisa banget pakai mainan ini ke anak kita. Kita bisa sensasi semut-semut di lengan atau perutnya. Lalu, ganti jadi gajah dengan ditepuk-tepuk halus. Mau nambah orang lewat? Bisaaa.

6. Bernyanyi Bersama

Saya yakin, ini permainan yang banyak dilakukan oleh para orangtua. Nggak harus punya suara merdu untuk menyanyikan lagu ke anak. Nyanyikan saja lagunya. 

Kita bisa gunakan nyanyian untuk memperkenalkan anggota tubuh, nama-nama nabi dan rasul, sholat, adab makan, dan lain-lain.

7. Kejar-kejaran

Nah, permainan ini harus dilakukan bersama ayah dan ibu. Tidak bisa salah satu. Syarat lain yang harus dipenuhi, otot leher anak sudah amat kuat untuk menyangga kepalanya. Kira-kira ketika anak umur 4-5 bulan, bisa dilakukan permainan ini. 

Caranya, bayi digendong ayah atau ibu dengan posisi memeluk. Pastikan bayi bisa melihat bagian belakang dengan jelas. Ayah atau ibu yang tidak menggendong akan berperan sebagai pengejar. 

Sebelum mengejar, beri tanda ke anak bahwa kita akan mengejarnya. Lalu, main kejar-kejaran deh. Permainan ini amat baik untuk meningkatkan bonding antara anak dan kedua orangtuanya. Kalau sudah ada kakak, kita juga bisa libatkan mereka untuk main ini bersama-sama.

10 Benda di Rumah yang Bisa Dipakai untuk Main Bareng Bayi 0-6 Bulan

Ide Main

Sekali lagi, kita tidak harus memberikan mainan mahal ke anak. Kita bisa memanfaatkan barang-barang ini untuk bermain dengan mereka. Saya yakin seyakin-yakinnya kalau semuanya pasti punya ini. Benda apa saja itu? Check this out!

1. Selimut

Ini bisa selimut apa aja ya. Selimut bayi bisa, selimut yang biasa kita pakai juga bisa. Boleh dibilang, ini mainan favoritnya Ghazy. Dia kalau lihat selimut, matanya langsung berbinar-binar.

2. Kaleng Bekas

Punya kaleng bekas di rumah? Jangan dibuang. Cuci bersih aja. Nanti bisa dimanfaatkan untuk media bermain bareng si kecil.

3. Botol Bekas

"Nggak punya rattle nih, tapi pingi stimulus kemampuan menggenggamnya si bayi."

Jangan risau. Kalau di rumah ada botol-botol bekas minyak telon, vitamin, minuman, madu, atau apapun itu, kumpulin aja dulu. Jangan lupa dicuci bersih dulu. Selanjutnya kita bisa pakai botol-botol ini sebagai pengganti rattle

Mau dihias boleh, nggak dihias juga boleh. Mana aja yang memudahkan kita. Saya tim yang mana? Sudah pasti tim tidak dihias.

4. Galon Kosong

Punya beberapa galon di rumah? Sebelum diisi ulang, galon-galon ini bisa lho dijadikan mainan. Galon ini kira-kira bisa dipakai untuk bayi usia 5-6 bulan. Kalau bayi yang lebih kecil lagi, masih belum bisa ya.

5. Selendang atau Jarik

Siapa yang pakai jarik atau selendang untuk menggendong? Saya bukan salah satunya sih. Tapi punya. Biasanya yang pakai mbah-mbahnya. Nah, kalau mbah-mbahnya pulang, selendang ini beralih fungsi dari alat gendong menjadi peralatan main.

6. Sapu Tangan

Ini merupakan salah satu barang wajib punya kalau punya bayi. Selain untuk lap gumoh, sapu tangan juga bisa dipakai untuk mainan lho. Saya biasanya tidak menggunakan sapu tangan baru untuk main. Ya sapu tangan bekas gumoh itu yang saya pakai. 

7. Peralatan Dapur

Ini pasti semuanya punya ya. Panci, wajan, piring dan gelas plastik, spatula, dan masih banyak lagi. Semua peralatan ini bisa banget dijadikan mainan untuk bayi. Pastikan saja bahan yang dipakai aman untuk bayi. Dan, pastinya buka panci, wajan atau teflon mahal ya. Bisa nangis mamak kalau itu digebruk-gebruk bayi.

8. Cermin

"Mirror mirror on the wall, siapa wanita paling cantik di dunia?"

Nggak harus punya cermin ajaib untuk main dengan si kecil. Cermin apapun yang kita punya bisa banget dipakai. Bayi-bayi tuh biasanya senang sekali melihat bayangannya sendiri di cermin. Butuh waktu sampai mereka paham kalau bayangan yang ada di dalam cermin itu bayangan mereka sendiri.

9. Senter

Semua orang pasti punya dong. Kalau nggak punya senter biasa, paling tidak kita bisa gunakan smartphone kita untuk senter. Alat ini bisa digunakan untuk memperkenalkan konsep gelap terang ke anak. Selain itu, kita juga bisa bermain bayangan tangan dengan senter ini. 

10. Buku atau Brosur

Harus buku anak? Tidak. Buku apa saja yang bergambar, bisa kita pakai. Bahkan, kalau tidak ada buku, gunakan saja brosur-brosur dengan gambar besar. Selebihnya, kita bisa kembangkan kreativitas kita untuk ajak anak ke dunia yang baru ini.

10++ Ide Main dengan Alat-Alat Sederhana di Rumah

Ide Main

Meski hanya menggunakan alat-alat sederhana di rumah, banyak ide main yang bisa kita kembangkan lho. Ini dia contoh-contohnya.

1. Tenda-tendaan

Ini salah satu permainan favorit Ghazy. Mudah, sederhana dan membuatnya antusias. Kami biasanya menggunakan selimut untuk dijadikan tenda. Lalu, beraktivitas di dalam tenda tersebut.

2. Bersembunyi di Gua

Selain main tenda-tendaan, ini juga permainan lain yang Ghazy suka. Kami gunakan selimut sebagai guanya. Kalau waktunya sembunyi, kami selimutkan tubuh kami berdua dengan selimut.

"Ayo, sembunyi di gua!"

3. Ditelan Paus

Ingat kisah Nabi Yunus yang ditelan paus? Nah, kita bisa menggunakan selimut untuk memainkan ini. Kita selimutkan saja tubuh kita dengan anak, seolah-olah kita sedang ditelan paus. Di dalam selimut, kita bisa memainkan peran seolah-olah sedang minta tolong karena ditelan paus.

"Tolong, tolong! Ummi sama Ghazy ditelan paus! Tolooong!"

Wah, Ghazy antusias sekali kalau main ini. Membuka selimut artinya menyelamatkan diri dari paus. Jadi ketika selimut dibuka, "alhamdulillah, kita selamat."

4. Marakas dari Botol Bekas

Botol-botol bekas yang kita punya, bisa diisi dengan biji-bijian atau beras. Selanjutnya, botol ini bisa dijadikan marakas atau rattle untuk anak. Pada usia 3 bulan, mereka akan belajar menggenggam. Kalau kemampuannya sudah baik, dia akan bisa menggerak-gerakkan botol itu, seperti bermain marakas.

5. Main Gendang dari Kaleng Bekas atau Panci

Kira-kira ketika anak umur 5-6 bulan, ketika mereka sudah bisa duduk maupun melata, permainan ini bisa mulai dimainkan. Kita tinggal ajarkan anak untuk memukul-mukup kaleng bekas atau panci. Perdengarkan bunyinya. Ajak anak untuk mengamati bunyi sambil bernyanyi.

6. Menggelindingkan Botol atau Kaleng Bekas

Tak ada bola, botol atau kaleng bekas pun jadi. Permainan ini saya temukan tidak sengaja. Awalnya Ghazy asyik sendiri main kaleng bekas. Lalu, kalengnya menggelinding ke segala arah. Saya cuma bantu mengambilkan.

Lama kelamaan muncul ide baru. Kenapa saya tidak bermain menggelindingkan kaleng saja dengan Ghazy? Setelah itu, saya coba. Reaksi Ghazy jauh lebih antusias dibanding saat dia main sendiri.

Oya, permainan ini baru bisa dimainkan setelah 4 bulan ya. Ketika anak sudah mulai melata atau merangkak, duduk dengan bantuan atau tidak, dan tentunya menopang badan dengan kedua tangannya.

7. Mendorong Galon Bekas

Permainan ini bisa digunakan untuk membantu anak agar bisa merangkak. Gulingkan saja galon di depan anak. Lalu, biarkan anak mendorong galonnya.

8. Menangkap Ujung Sapu Tangan

Permainan ini bisa dilakukan sejak anak usia kurang dari 1 bulan. Pandangan matanya memang belum bisa fokus. Tapi dengan permainan ini, kita jadi bisa menstimulasi pandangan anak. Kita juga bisa memastikan sedari dini, apakah penglihatannya baik-baik saja.

9. Mencabut Sapu Tangan dari dalam Genggaman Ayah/Ibu

Setelah anak mampu menggenggam, coba tantang anak ke permainan dengan level lebih tinggi, yaitu mencabut. Kita bisa gunakan sapu tangan. Genggam saja sapu tangannya dan sisakan salah satu ujung. Biarkan anak mencabut sapu tangan itu.

10. Mengamati Bayangan di Cermin

Bayi suka sekali bercermin. Awalnya, dia belum menyadari bahwa bayangan yang ada di dalam cermin itu adalah dirinya. Dia pikir itu temannya. Lama kelamaan dia akan mulai paham. Kita bisa gunakan cermin untuk memperkenalkan anggota tubuh anak, menunjukkan siapa saja yang ada di dalam cermin.

11. Bermain Bayangan

Saya jarang memainkan ini dengan Ghazy. Tapi, kalau Ghazy tidak kunjung tidur di malam hari, biasanya saya akan memainkan permainan bayangan untuknya. Wah, Ghazy suka sekali melihat bayang-bayang tangan yang menyerupai bentuk hewan. 

Sebetulnya, tidak banyak bentuk hewan yang bisa saya tiru. Jujur, saya lupa cara memainkannya. Meski begitu, dengan sedikitnya bentuk yang saya tahu, itu saja sudah cukup membuat Ghazy antusias mebdengar kisah-kisah saya.

12. Membaca Nyaring

Ini aktivitas yang bisa dilakukan sejak dalam kandungan. Setelah anak lahir, kita bisa mulai memperkenalkan dia dengan buku. Tak masalah bila dia belum bisa merespon. Lama kelamaan pasti bisa, kecuali dia punya gangguan kesehatan serius.


13. Bermain Ayunan

Dulu, waktu kecil saya suka sekali bermain ayunan di sarung ayah. Setelah punya anak, saya juga ingin memperkenalkan asyiknya main ayunan bersama ayah ibunya. Permainan ini bisa dilakukan bersama-sama dengan kedua orangtua. 

Pertama-tama, bentangkan selimut, seprei, atau jarik. Paling mudah ya dengan jarik. Lalu, letakkan anak di tengah-tengah. Ayah dan ibu memegang ujung-ujung kain. Kalau sudah, bersama-sama kain itu diangkat dan diayunkan. Ini anak senang sekali bermain semacam ini 

14. Tummy Time

Banyak cara yang bisa dilakukan saat tummy time. Di awal, tadi sudah dicontohkan dengan meletakkan bayi di atas dada. Cara lain, gulung selimut dan tekuk hingga membentuk huruf U. Kalau sudah, letakkan bayi tengkurap dengan gulungan selimut sebagai penyangga dada.

Gulungan selimut bisa diganti dengan bantal menyusui ya. Kalau anak sudah tengkurap, kita bisa ajak dia ngobrol, menunjukkan cermin di depan anak, atau membawakan mainan favoritnya.

Kesimpulan

Banyak ide permainan yang bisa kita lakukan dengan meski menggunakan peralatan sederhana. Sejatinya, hal yang terpenting dari aktivitas main anak itu bukan dilihat dari seberapa banyak mainan atau harganya. Hal yang penting dan harus ada justru interaksi dengan orangtua. Keterlibatan langsung orangtua saat membersamai anak dalam setiap aktivitas mainnya.

Bagaimana? Sudah main apa saja dengan anak hari ini? Yuk, cerita di kolom komentar.

Jun 8, 2020

Let's Read Aloud! Ini Dia Cara Asyik Menumbuhkan Minat Baca Anak

Let's Read

Siapa sih yang nggak kenal dengan Deddy Corbuzier? Seorang mentalist yang kemudian berubah haluan menjadi host atau pembawa acara. Hari ini, dia tidak hanya dikenal sebagai itu saja, tapi juga motivator, youtuber dan podcaster. 

Jujur, saya selalu suka dengan cara beliau ngobrol dengan bintang tamu dalam setiap acaranya. Entah itu di Hitam Putih maupun di Close The Door Podcast. Mau orang seperti apa juga, selalu aja nyambung ngobrolnya.

Menurut saya, ini nggak mungkin terjadi kalau wawasan Om Deddy nggak luas. Ya bagaimana bisa nyambung kalau level berpikirnya njomplang. 

Bukan cuma Om Deddy, ada beberapa tokoh lain yang sebetulnya nggak kalah hebat. Sebut saja Najwa Shihab, Bossman Mardigu yang lagi hits, atau Rocky Gerung. Dari semua orang yang saya sebutkan tadi, satu kesamaan mereka, suka baca.

Kegemaran mereka dalam membaca yang memperluas wawasan dan pengetahuan mereka. Kegemaran mereka juga yang membuka cakrawala berpikirnya. Kegemaran itu juga yang membuat mereka mampu menganalisis masalah secara tajam. Nggak kaleng-kaleng.

Saya pribadi ingin punya anak yang semacam ini. Selalu ingin tahu. Haus akan ilmu. Karena yang begini ini yang akhirnya akan mendorongnya untuk mau belajar dari mana saja, termasuk buku. Nggak peduli berapa banyak buku yang harus dibaca, pasti akan dihajar saja.

Well, perjalanan saya untuk bisa mendidik anak saya demikian masih amat panjang. Karena cita-cita ini juga, saya pun harus suka membaca. Tujuannya sederhana, agar anak saya bukan hanya mendengar nasehat, tapi juga melihat teladan dari ayah dan ibunya.

Kapan Waktu yang Tepat Menumbuhkan Minat Baca?

Let's Read

Dari semua pertanyaan yang ada, kita akan mulai dari sejak kapan kita bisa memulai ini semua? Sejak kapan kita bisa mulai proses memperkenalkan literasi dan menumbuhkan minat baca pada anak?

Jawabannya sedini mungkin. Apakah setelah dia mampu bicara? Ternyata tidak.

Ada hal menarik yang saya dapatkan saat hamil Ghazy. Ternyata, kita bisa mendidik anak-anak kita dengan kebiasaan-kebiasaan baik sejak dalam kandungan. 


Ingin anak dekat Alquran? Kita bisa mulai sejak masa kehamilan. Termasuk, ketika kita ingin anak-anak kita dekat dengan buku.

Ini pula yang akhirnya saya upayakan ketika saya hamil Ghazy. Membacakan buku untuknya. Awalnya memang aneh, membaca buku keras-keras sendirian. Lama-lama terbiasa. Apalagi saat kandungan semakin besar, ada respon kecil dari dalam perut yang saya rasakan ketika membaca buku untuknya.

Setelah melahirkan, saya baru memulai lagi ketika Ghazy berusia 2 bulan. Setelah segala drama pasca melahirkan dan menyusui bisa saya kendalikan. Saya perlihatkan bukunya. Saya tunjukkan objek-objek yang ada di dalamnya.

Let's Read
Membaca nyaring bersama Ghazy saat masih 2 bulan

Apa responnya? Abai. Bahkan tampak enggan. Anehnya, kalau abinya yang membacakan buku itu, dia nampak begitu serius menyimak. Bahkan, kalau bukunya ditutup, dia menangis.

Tentu saja saya iri. Kenapa Ghazy cuma mau dengan Abi saja? Tapi itu tidak berlangsung lama. Setelah sekian kali percobaan, lama-lama dia pun menikmati mendengar saya bercerita.

Jadi, kalau kalian merasa kesulitan membacakan cerita untuk anak. Coba saja terus. Lama kelamaan anak pasti menunjukkan respon yang positif juga.

Cara Asyik Menumbuhkan Minat Baca Anak

Let's Read

Kalau kita bertanya bagaimana caranya, tentu ada banyak cara untuk bisa menumbuhkan minat baca anak. Selanjutnya, tinggal kapan kita akan memulai ini. Menurut saya, beda objek usia awal untuk memperkenalkan buku, maka caranya pun akan berbeda.

Saya jadi ingat bagaimana cara ibu saya menumbuhkan minat baca saya. Sepanjang ingatan saya, beliau tidak pernah secara khusus mendrill saya untuk belajar membaca. Alih-alih melakukan itu, beliau belikan saya buku mewarna yang multifungsi. Selain untuk mewarnai, juga bisa dipakai untuk mengenalkan abjad pada saya.

Semua dimulai dengan mewarnai huruf. Kemudian naik level mewarnai benda dan mulai belajar mengeja kata benda yang sedang diwarnai. Sesekali, ibu saya membawa saya jalan-jalan untuk membaca papan-papan jalan. Ini menyenangkan sekali saat itu.

Hingga akhirnya, tiba waktu saya mulai dikenalkan dengan bacaan anak-anak. Saya lupa apa bacaan pertama saya, tapi saya ingat salah satu bacaan favorit saya adalah majalah anak yang hits saat itu. Ibu belikan saya cuma-cuma sekali dua kali. Selebihnya, ada tantangan yang ibu berikan pada saya.

"Boleh beli kalau kamu bisa baca sendiri."

Saking pinginnya, saya bilang kalau saya bisa. Padahal, waktu itu baru bisa mengeja kata. Saya belum bisa membaca satu kalimat utuh. 

Sebetulnya, waktu itu saya tidak berpikir panjang. Saya hanya ingin ibu saya membelikan majalah itu. Titik. Ada salah satu cerita bergambar yang begitu ingin saya ketahui ceritanya. Sesampai rumah, saya berharap ibu lupa dan mau membacakan majalah itu untuk saya. Ternyata tidak!

Saya harus membaca majalah itu sendiri. Sebelum ibu mau membacakan untuk saya. Saya berjuang keras menyelesaikan satu cerita bergambar. Ajaibnya, setelah moment itu, saya jadi bisa membaca!

Apakah saya nanti akan mengadopsi cara ibu saya? Bisa jadi. Tapi, untuk saat ini belum.

Ada cara menarik lain yang saya temukan saat saya belajar tentang hal ini. Membaca nyaring atau read aloud dalam Bahasa Inggrisnya.

Apa itu Membaca Nyaring?

Let's Read

Ada yang masih ingat dengan salah satu acara TV yang ada Pak Raden di dalamnya? Kalau kalian tahu, fix kita seumuran. Sama-sama sudah tua. Wkwkwk...

Acara itu cukup menarik karena Pak Raden bukan hanya mendongeng saja. Tapi juga menggambarkan ilustrasi sambil mendongeng. Meski gambarnya tidak bergerak, cara itu berhasil menarik perhatian saya untuk fokus pada apa yang beliau ceritakan.

Membaca nyaring kurang lebih sama seperti yang dilakukan Pak Raden itu. Kita tunjukkan isi bacaan yang ingin kita ceritakan pada anak. Lalu, kita ceritakan isinya pada anak. Sesederhana itu. 

Bagaimana Cara Membaca Nyaring?

Point penting yang ada dalam membaca nyaring adalah interaksi antara pembaca dengan orang yang dibacakan. Jadi, bukan hanya sekedar membaca keras-keras. Tapi kita berusaha menarik anak-anak yang dibacakan ini masuk dalam cerita yang kita baca.

Bagaimana caranya? Tunjukkan ilustrasinya. Perankan peran yang ada di dalamnya. Kalau di sana ada lebih dari satu peran, kita bisa merubah suara kita untuk membedakan peran yang satu dengan yang lain. 

Bagi saya, cara ini cukup menyenangkan untuk didengar. Meski ilustrasi yang ditunjukkan hanya dua dimensi saja.

Caranya yang amat sederhana ini yang membuat kita bisa melakukannya bahkan sejak anak dalam kandungan. Bacakan saja dulu ceritanya. Ketika lahir dan memungkinkan untuk menunjukkan bacaan padanya, baru ditunjukkan.

Apakah Harus Menggunakan Buku Bergambar untuk Membaca Nyaring?

Tidak ada pakem buku apa yang harus dipakai. Sebetulnya, pakai buku tanpa ilustrasi pun bisa. Karena yang paling penting bukan tools yang digunakan, melainkan interaksi kita dengan anak. Bagaimana kita membangkitkan daya imajinasinya untuk bisa masuk ke dalam cerita.

Let's Read


Saya sendiri tidak selalu menggunakan buku cerita bergambar untuk membaca nyaring bersama Ghazy. Ada kalanya, saya pakai brosur mobil. Buku-buku yang minim gambar pun pernah. Ada kalanya juga, saya pakai buku-buku digital yang ada di dalam Let's Read.

Apa itu Let's Read? Nanti akan saya ceritakan di bawah.

Manfaat Membaca Nyaring

Membaca nyaring yang dilakukan oleh orangtua untuk anaknya, ternyata tidak hanya bisa dipakai untuk memperkenalkan literasi pada anak. Cara ini ternyata punya banyak sekali manfaat.

1. Meningkatkan bonding antara orangtua dan anak

Membaca nyaring memang ampuh untuk meningkatkan bonding antara anak dengan orangtua. Bagaimana tidak, kita tidak hanya membaca saja, tapi juga bersama-sama melebur dalam ceritanya. Ada ekspresi yang kita bagikan. Ada suara-suara baru yang kita perdengarkan. Bahkan, ada sentuhan-sentuhan yang membuat segalanya nampak lebih nyata.

Jujur, saya selalu menikmati moment ini. Saya suka melihatnya alisnya yang tersambung, senyum mungil serta gelak tawanya saat saya membacakan cerita untuknya. Meskipun, saya tidak sepenuhnya yakin dia memahami apa yang saya ceritakan. 

Iyalah, Ghazy sendiri baru 6 bulan. Feedback yang dia berikan baru celoteh yang hanya dia dan Tuhan yang tahu artinya.

2. Stimulasi Perkembangan Anak

Otak pada anak butuh stimulus-stimulus agar terus berkembang. Jutaan neuron yang ada belum sepenuhnya terhubung. Stimulus yang kita berikan pada anak, ini yang nanti akan membantu menghubungkan neuron-neuron ini. 

Salah satu stimulasi yang bisa kita lakukan adalah dengan membaca nyaring. Cara ini ternyata mampu membantu anak untuk mengembangkan kemampuan bahasanya. Anak jadi kenal kosakata baru lewat cerita-cerita yang kita bacakan.

Selain perkembangan bahasa, membaca nyaring juga membantu melatih pendengaran anak. Mereka akan belajar mengenal berbagai macam intonasi, jeda dan volume saat kita membaca nyaring. 

3. Melatih rentang fokus dan daya ingat anak

Waktu kecil, saya banyak sekali belajar dari berbagai cerita yang Ibu bacakan untuk saya. Beberapa di antaranya bahkan melekat erat dalam ingatan saya. Hingga hari ini, ilustrasi buku-buku yang beliau bacakan masih bisa saya ingat.

Ternyata, pengalaman ini tidak hanya terjadi pada saya sendiri. Ada om yang pernah cerita tentang anaknya yang hafal betul cerita-cerita sebelum tidur yang pernah dia bacakan. Menariknya, om saya bahkan tidak begitu ingat tentang apa yang pernah dia bacakan ini.

Selain cerita om, saya banyak sekali melihat anak-anak batita yang seolah sudah bisa membaca buku cerita anak. Padahal, ya belum. Mereka hanya mengulang bagaimana  orangtua mereka membacakan cerita untuk mereka.

Ini menarik. Proses membaca nyaring yang kita biasa lakukan ternyata mampu membantu mengasah fokus dan daya ingat anak. Apa yang saya lakukan pada Ghazy saat ini memang belum memperlihatkan hasil. Tapi menengok pengalaman pribadi dan banyak orang, saya yakin suatu saat nanti Ghazy akan mengingat apa saja yang pernah saya bacakan.


Let's Read, Perpustakaan Buku Anak Digital yang Ada dalam Genggaman

Let's Read

Proses membaca nyaring dengan anak kalau dilakukan secara rutin, ini betul-betul bisa menjadi kegiatan yang amat sangat mengasyikkan. Apalagi dalam situasi seperti sekarang yang tidak memungkinkan untuk pergi ke mana-mana. Cerita-cerita dari buku-buku anak, benar-benar ampuh membawa kita pergi ke negeri antah berantah. Kemudian masuk dalam ceritanya.

Sayangnya, keterbatasan yang kita miliki sekarang membuat kita semakin sulit untuk memiliki buku baru. Toko-toko buku ditutup. Perpustakaan ditutup. Kalau pun ingin membeli buku online, pasti akan banyak hal yang menjadi pertimbangan. Iya, masa seperti sekarang memang membuat kita jadi lebih banyak berpikir untuk membelanjakan uang kita.

Pertanyaannya, bagaimana cara kita mendapat buku-buku baru untuk anak-anak kita? Kalau buku-buku itu terus yang dibacakan, lama-lama juga bosan.

Eits, jangan khawatir, sekarang sudah ada Let's Read. Aplikasi perpustakaan buku anak digital yang bisa kita akses melalui PlayStore. Kita tinggal download dan baca deh cerita-ceritanya. 

Let's Read


Aplikasi ini amat menarik karena buku-buku anak yang ada di sini merupakan buku yang ditulis oleh berbagai penulis cerita anak dari berbagai negara. Buku-buku yang ada kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa tiap daerah. Tidak heran kalau di sini, kita bisa mengakses banyak buku anak dalam berbagai macam bahasa. 

Let's Read

Selain itu, buku-buku yang ada di sini juga telah disertai dengan level tertentu yang memudahkan kita untuk memilih buku bacaan mana yang sekiranya cocok untuk usia anak kita. Kalau untuk Ghazy, saya biasanya akan memilih buku pertamaku, level 1 atau 2 yang kalimatnya masih sederhana.

Let's Read


Kalau kita ingin membacakan cerita dengan topik tertentu, ini juga bisa lho dicari. Buku-buku cerita yang ada di aplikasi ini juga telah dibagi berdasarkan beberapa kategori. Kita tinggal memilih topik apa yang ingin kita bacakan.

Let's Read


Buku-buku yang ada di sini juga bisa didownload. Bahkan, dicetak bila ingin diakses secara offline. Ini bisa jadi pilihan bagi orangtua yang ingin membatasi penggunaan gadget untuk anak.

Meski, buku-buku yang ada di sini bisa dicetak, bukan berarti bisa diperjualbelikan ya. Semua buku telah dilindungi oleh hak cipta. Boleh dicetak, tapi untuk konsumsi pribadi. Bukan untuk dikomersilkan.

Kesimpulan 

Ada banyak sekali manfaat yang bisa kita dapatkan dari membaca nyaring. Cara yang perlu dilakukan juga amat sederhana. Kita tinggal membacakan saja untuk anak kita.

Ada yang punya cerita seru membaca nyaring dengan buah hati tercinta? Yuk, share ceritamu di kolom komentar.

Jun 1, 2020

A-Z Panduan Belanja Kebutuhan Bayi Baru Lahir

Panduan belanja kebutuhan bayi

Hamil itu moment yang amazing. Tidak semua hal berjalan mudah. Mual muntah, mendadak suka pegel di sana sini, makin lama juga badan makin berat. Meski begitu, hamil itu menyenangkan. Setidaknya bagi saya begitu.

Banyak hal yang membingungkan sekaligus membuat saya excited. Salah satunya ya belanja kebutuhan bayi. Jujur, dulu saya dan suami bingung banget mau beli apa saja. Apa yang sekiranya dibutuhkan dan tidak. Kami browsing sana sini dan sempat terjebak postingan mamah-mamah muda di instagram yang punya banyak printilan perlengkapan bayi.

Alhamdulillah, waktu itu suami saya ngasih PR untuk membuat list barang-barang yang akan kami beli plus harganya. Tujuannya, untuk budgeting. Kira-kira nih, berapa uang yang kami butuhkan untuk membeli itu semua.

Tips Belanja Kebutuhan Bayi

Saya tahu, hunting peralatan bayi itu menyenangkan sekali. Banyak sekali printilan lucu-lucu yang ingin dibeli. Apalagi untuk anak pertama. 

Nah, supaya kalian tidak hilang arah lalu kalap belanja. Ada beberapa tips yang ingin saya bagikan sebelum tengok-tengok daftar perlengkapan ibu dan bayi.

1. Jangan sungkan meminta bantuan orang lain

Untuk calon ibu baru, belanja kebutuhan bayi itu kalau nggak bikin pusing ya bikin kalap belanja. Pusingnya karena saking nggak tahunya mau beli apa. Well, tanya aja orang-orang terdekatmu, bisa ibu kita atau teman terdekat kita yang baru saja melahirkan. Ini akan lebih mudah mengurai masalah yang tengah kita hadapi.

Kita juga bisa melibatkan peran suami untuk memilih dan membeli beberapa peralatan bayi yang nanti akan digunakan. Ini bisa menjadi salah satu cara untuk mengikat bonding dengan calon buah hati. Kalau saya dan suami, bagi-bagi tugas. Perintilan kecil-kecil yang dibutuhkan bayi, saya yang cari. Sedangkan suami, tugasnya hunting perintilan yang besar dan punya pilihan spesifikasi serta harga.

2. Buat daftar belanja

Begitu masuk toko bayi, kalau nggak bingung mau beli apa ya pingin beli semuanya. Apalagi kalau dengar penjelasan mbak-mbak SPG yang ada di sana. Semua produk terlihat sangat dibutuhkan.

Supaya kita nggak kalap belanja, sebaiknya sebelum berangkat belanja buat daftar belanjaan dulu deh. Ini fungsinya banyak lho. Selain menghindarkan diri kita dari kalap belanja, ini juga membantu kita agar tidak melewatkan item yang justru paling dibutuhkan. Ingat ya, otak ibu hamil kadang suka error kalau disuruh mengingat. 

3. Tidak perlu terburu-buru

Masuk trimester kedua, biasanya sih kita mulai intip-intip baju bayi yang gemes-gemes. Mulai cari tahu apa saja yang dibutuhkan. Kondisi tubuh yang jauh lebih baik dari sebelumnya yang membuat kita punya banyak tenaga untuk melakukan ini itu, termasuk belanja.

Penting banget untuk menahan diri. Nggak perlu buru-buru belanja. Pertimbangkan semuanya masak-masak. Kalau mau cicil belanjaan, boleh. Asal apa yang dibeli memang barang essential. Bukan cuma ikut-ikut mommygram atau artist-artist lain.

Survei kecil-kecilan malah bagus lho. Jadi, kita bisa tahu mana toko yang menjual barang murah dengan kualitas baik. Lumayan lah buat menghemat pengeluaran.

4. Tidak harus beli baru

Ada baju bayi, perlengkapan mandi, gendongan, carseat, bouncer, mainan, dan lain-lain. Banyak. Well, nggak semua harus beli baru kok.

Coba deh tengok kanan kiri. Siapa tahu ada yang mau kasih lungsuran baju bayi. Meski judulnya lungsuran, tapi biasanya baju bayi itu masih bagus-bagus lho. Ini karena masa pakainya cuma sebentar saja.

Barang-barang lain yang lumayan mahal, coba deh sewa dulu aja. Cobain ke bayinya. Dia oke atau nggak pakai itu. Dari pada kita beli barang berjuta-juta. Ternyata, dia nggak mau pakai. Nangislah hati ini.

Coba lihat barang-barang yang sudah ada di rumah. Mana saja yang sekiranya bisa dimodifikasi untuk keperluan bayi. Di rumah saya menumpuk beberapa container dan pintu lemari yang rusak untuk disulap jadi tempat ganti popok dan mandinya Ghazy.

Tempat mandi bayi

Jahitan yang masih cenut-cenut memang akan terbantu kalau kita punya meja untuk memandikan bayi. Tapi, ini nggak wajib ada kok. Bisa DIY ini itu untuk disKulap jadi meja. Dan, voila! Memandikan Ghazy jadi lebih mudah. Nggak perlu jongkok-jongkok lagi.

5. Sesuaikan jumlah dengan kebutuhan masing-masing

Setelah saya belanja kebutuhan bayi, kebetulan saya ngobrol dengan salah satu teman blogger yang sudah ibu-ibu juga. Dia cerita kalau belanja baju bayi itu tidak perlu banyak karena bayi itu cepat sekali besar. Kira-kira setengah lusin untuk tiap item itu sudah cukup.

Jujur saja, saya terhenyak mendengar itu. Agak galau juga karena merasa terlalu banyak beli. Perasaan ini semakin memuncak ketika saya mencuci baju-baju bayi yang sudab dibeli. Wow, banyak sekali.

Tapi setelah dijalani, jumlah itu pas untuk saya dan suami yang tidak terlalu suka sering-sering mencuci. Jumlah yang banyak itu memberi kami ruang untuk bernapas dari rutinitas cuci setrika. 

Dari sini, saya paham bahwa tiap orang punya kebutuhan masing-masing. Ini yang menjadikan jumlah belanjaan jadi amat sangat relatif. Kalau saya dan suami, pertimbangannya tidak mau terlalu seribg mencuci. Mungkin, ada juga yang ingin menekan lagi budget belanja dengan mengurangi jumlah. Tidak masalah sih. Sesuaikan saja dengan kebutuhan.

Kebutuhan ya, bukan keinginan. Serius deh, begitu masuk toko peralatan bayi, banyak sekali item gemes yang melambai-lambai mesra ingin dibeli. Kuatkan imanmu, Esmeralda. Kamu bisa, kamu pasti bisa! Fokus ke kebutuhan, bukan keinginan. 

Ingat ya, kita tidak hanya butuh belanja keperluan bayi saja. Masih harus kontrol kandungan dan mempersiapkan biaya melahirkan juga. 


Daftar Perlengkapan Bayi

Siapa yang waktu hamil mendadak jadi pelupa? Saya. Siapa yang waktu hamil mendadak jadi lebih lola dari biasanya? Saya juga.

Tapi, saya yakin kalau saya nggak sendirian. Ada banyak juga ibu-ibu hamil yang merasakan hal yang sama. Nah, kalau sudah sadar diri, tahu kan seberapa penting kita membuat daftar belanja ini?

Siapa sih yang bis menjamin kita tidak melewatkan detail-detail penting? Untuk membantu ibu-ibu sekalian, saya akan coba rincikan peralatan apa saja yang dibutuhkan. Ingat ya, tidak semua harus dibeli. Kalau ada lungsuran, bisa pakai itu. Kalau mau sewa, silakan. Mau DIY, boleh juga.

Baby

Apa aja sih barang-barang yang dibutuhkan? Yuk, kita tengok listnya!

Pakaian Bayi

  • 1-1,5 lusin baju lengan pendek (two pieces, jumpsuit, atau mix keduanya)
  • 1-1,5 lusin baju lengan panjang (two pieces, jumpsuit, atau mix keduanya)
  • 1-1,5 lusin kaos dalam
  • 1-1,5 lusin celana dalam
  • 3 topi bayi
  • 6 set sarung tangan dan kaki bayi
  • 3 pasang kaos kaki bayi
  • 3-6 lembar bedong
  • 2-3 box popok sekali pakai atau 1 lusin popok kain (saya prefer menggunakan clodi dibanding popok kain jadul)
  • 6 pcs sapu tangan
  • 1 lusin alas ompol (bisa dipakai popok, bisa untuk alas ompol)
  • Deterjen bayi
  • Lemari
Jumlah pakaian ini relatif ya. Dalam sehari, bayi baru lahir bisa pipis sebanyak 10-12 kali. Kalau kalian pakai popok kain yang tradisional, berarti harus menyiapkan pakaian agak banyak. Tapi kalau pakai clodi, ini lumayan terbantu karena dia bisa menyerap ompol. 

Kalau saya dulu sih pakai popok sekali pakai. Saya menyerah pakai popok kain. Ghazy waktu baru lahir bisa BAB lebih dari 6 kali. Pusing juga kalau nyuci popok melulu.

Sapu tangan difungsikan untuk lap gumoh. Ini wajib ada. Kalau pakai tissue pasti boros banget tuh.

Dalam daftar yang saya buat, memang tidak ada celemek. Untuk bayi baru lahir, ini belum butuh. Kira-kira setelah bayi mulai eksplorasi dengan mulutnya, baru deh butuh. Kurang lebih saat bayi usia 3-4 bulan.

Untuk bedong, tidak perlu khawatir tidak terpakai. Sekalipun anak kita aktif sekali, bedong masih bisa dipakai untuk alas tidur dan selimut.

Topi, sarung tangan, dan kaos kaki, tiga item ini tidak perlu beli terlalu banyak. Fungsinya untuk menghangatkan tubuh bayi. Penggunaan sarung tangan bayi lebih baik saat bayi akan tidur saja. Tidak perlu dipakaikan setiap saat supaya bayi belajar mengenali tangannya. Kalau khawatir mukanya kecakar, ya dipotong aja kukunya saat dia tidur.

Lemari untuk bayi bisa pakai apa saja. Nggak perlu maksa beli lemari yang mahal. Pakai yang plastik-plastik dulu juga oke kok.

Perlengkapan Mandi

  • Sabun mandi (bisa pilih yang all-in-one)
  • Shampoo (kalau sabun yang dipilih tidak all-in-one)
  • Body lotion 
  • Baby oil
  • Hair lotion/oil (optional)
  • Diaper cream
  • Gunting kuku
  • Sisir
  • 2-3 pcs handuk bayi
  • 3-4 waslap
  • Bak mandi
  • 1-2 perlak besar
  • Tissue basah dan kering
  • Kapas (bulat atau biasa, bebas)
  • Kassa biasa (untuk membungkus tali pusat dan membersihkan mulut)
  • Sikat gigi bayi (bahan dari silikon, optional, bisa digantikan dengan kassa)
  • Meja untuk ganti diaper (optional)
  • Tatakan bak mandi (semacam kaki-kaki tambahan, optional)
  • Baby bather (optional)
Semua item yang ada di sini bisa dibayangkan lah ya fungsinya untuk apa. Untuk sabun, shampoo, cream, atau lotion yang akan dipakai bayi, saran saya beli yang ukuran kecil dulu. Kenapa? Kita kan nggak tahu kulit bayi kita bagaimana. Cocok dengan produk itu atau tidak. 

Nah, kalau kassa, ini fungsinya untuk membungkus tali pusat. Nggak yang erat banget sih membungkusnya dan tidak perlu direkatkan dengan apapun. 

Oya, perawatan gigi sudah bisa dimulai sejak bayi baru lahir ya. Ini bisa menggunakan kassa yang dibasahi air matang. Usap ke bagian dalam mulut. Tapi, kalau kalian kesulitan pakai ini seperti saya, sebaiknya sih beli sikat gigi bayi.

Perlengkapan Tidur

  • 1 Bantal anti peyang (optional)
  • 3 sarung bantal
  • 3 selimut bayi (mix yang ada topinya dan tidak)
  • 2 bedding set (isi bantal, guling, bed cover)
  • 1 set kasur bayi (optional, kalau takut tidur nimpukin bayi, bisa dipilih, sudah include dengan kelambu)
  • 1 box bayi (optional)
  • 1 kelambu bayi (beli terpisah bila tidak menggunakan keranjang bayi atau kasur bayi)
Penggunaan box bayi, sejujurnya ya, ini nggak terlalu dibutuhkan. Apalagi untuk bayi baru lahir. Well, kebutuhan ASI untuk bayi baru lahir itu tiap 2 jam ya. Kebayang kan kalau tiap 2 jam kita angkat dari box, susuin, lalu ditidurkan lagi. Ini pasti merepotkan sekali.

Nah, kalau khawatir menindih bayi saat tidur, pasang saja kasur bayi dan kelambunya. Itu sudah cukup aman menjaga bayi saat tidur malam.

Tapiiii... Kalau kalian masih bersikukuh ingin mencoba box bayi, saya sarankan untul sewa aja dulu. Coba dulu, rasakan, hayati, lalu putuskan untuk beli atau tidak.

Peralatan Menyusui

  • Botol atau kantong ASI
  • Botol bayi, cup feeder, pipet, atau sendok bayi 
  • Sabun cuci botol bayi
  • Sterilizer (optional)
Dulu, saya tidak mempersiapkan ini semua. Saya pikir, untuk apa. Toh, saya di rumah saja. Saya bisa menyusui anak saya kapan saja dia mau. Tapi setelah melalu drama awal menyusui, saya baru sadar seberapa pentingnya ini. Setidaknya waktu di awal-awal menyusui dan nanti saat anak akan MPASI.

Perlengkapan Travelling

  • 1 diaper bag (boleh tas apa saja)
  • 1 perlak kecil
  • 1 nursing apron (optional)
  • Gendongan
  • Stroller (optional)
  • Carseat (optional)
Untuk item optional, ini bisa lihat kondisi masing-masing ya. Punya mobil atau tidak. Kalau keluar dengan bayi, pakai mobil atau tidak. Kalau ke mana-mana naik angkutan umum atau motor, ya ngapain.

Apakah kalau ada mobil jadi wajib punya? Untuk carseat iya, tapi untuk stroller ini tidak. Punya stroller itu enak memang. Anak bisa ditaruh di situ. Kalau mau jalan-jalan nggak capek menggendongnya. Tapi tolong dipertimbangkan juga, nggak semua anak mau ditaruh stroller.

Saya punya sih stroller, dikasi adik ipar. Ini justru lebih dipakai saat di rumah. Itupun terpakai setelah Ghazy umur 3 bulan ke atas. Sebelum itu, boro-boro taruh stroller, nyariin ketek Ummi mulu. 

Nursing apron ini kalau berkerudung lebar, bisa memanfaatkan kerudung untuk menutupi bayi yang sedang menyusui. Tapi, kalau bingung gimana caranya. Menyusui yang kelihatan langsung aja masih bingung, apalagi kalau harus meraba-raba, ya beli aja nursing apron.

Obat-obatan

  • Minyak telon
  • Alkohol (untuk membersihkan tali pusat, optional)
  • Minyak kutus-kutus (optional)
  • Essential oil (optional)
  • Sedot ingus
  • Termometer digital
  • Paracetamol (biasanya akan diresepkan dokter setelah imunisasi)
  • Plester kompres demam
  • Transpulmin 
Selain item optional, semuanya wajib punya, termasuk termometer digital. Bayi itu suhu tubuhnya harus dipantau. Apalagi kalau sedang demam. Indikator demam atau tidaknya, jangan hanya mengandalkan tangan. Pakai aja termometer yang lebih valid hasilnya.

Termometer ini harganya variatif ya. Ada yang murah, ada yang mahal. Menurut saya sih, nggak perlu memaksakan beli yang mahal. Pakai yang dijepitkan ke ketiak itu juga oke kok, kalau yang tembak terlalu mahal.

Mainan Bayi (optional)

  • Buku bantal
  • Flash card high contrast
  • Mainan gantung
  • Playmat
  • Boneka
  • Boneka gelang kaki
Semua mainan sifatnya optional. Kenapa? Mainan terbaik tetap tubuh orangtuanya. Tapi, kita tetap butuh sesuatu untuk menstimulus bayi. Latihan menggenggam, memfokuskan pandangan, menguatkan otot leher.

Tidak harus punya mainan mahal. Kita bisa manfaatkan barang yang sudah ada. Jujur, saya baru membelikan Ghazy mainan saat dia umur 3 bulan. Sebelum itu, saya pakai bantal, guling, selimut, sapu tangan, dan barang-barang yang ada di sekitar kami untuk main. 

Oya, saya sempat sewakan Ghazy baby gym selama 2 bulan. Mainan seperti ini kalau beli sendiri lumayan mahal. Terpakainya juga cuma sebentar. Sayang kalau beli sendiri. 

Daftar Perlengkapan Ibu

Perlengkapan untuk ibu sebetulnya tidak terlalu banyak. Beberapa perlengkapan, mungkin sudah kita miliki di rumah. Seperti contohnya baju menyusui, pilih saja baju dengan kancing depan supaya nyaman saat menyusui. Kalaupun mau menggunakan baju yang biasa dipakai sehari-hari pun tak masalah.

  • Baju menyusui (kaos atau daster, bebas)
  • Bra menyusui (naikkan 1 ukuran dari ukuran biasanya)
  • Celana dalam hamil (bisa diganti celana dalam biasa, tapi yang tinggi)
  • Breast pad
  • Pompa ASI
  • Bantal menyusui (optional)
  • Lactation massager (optional)
  • Kulkas ASI (disarankan untuk ibu bekerja)
  • Korset, stagen, atau bekung
  • Pembalut nifas
  • Nipple cream
  • Nipple shield
  • Dermatix

Pada list ini, saya tulis celana dalam hamil atau celana dalam biasa yang tinggi. Ini tidak harus punya, tapi sebaiknya disediakan. Kalau nanti ternyata harus menjanai sectio caesar, menggunakan celana dalam semacam ini akan lebih nyaman dan tidak berbahaya untuk jahitan.

Saat awal menyusui, bukan hanya kita yang belajar, tapi bayi pun belajar untuk menyusu dengan benar. Dalam proses ini, adakalanya puting kita jadi terluka. Ini membuat proses menyusui menjadi jauh lebih menyakitkan. Ada baiknya kalau kita sudah menyediakan nipple shield. Sekiranya puting kita terluka parah, kita bisa menggunakannya untuk mengurangi rasa sakit saat menyusui.

Untuk ibu-ibu yang tidak bekerja kantoran, ini memang amat sangat memungkinkan untuk menyusui bayi secara langsung. Penggunaan pompa ASI mungkin akan dirasa tidak diperlukan. Tapi percayalah, alat ini akan amat sangat membantu kita di awal menyusui.

Pada masa awal, ada dua kemungkinan yang terjadi kepada kita. Kelebihan ASI atau ASI belum keluar. Kedua masalah ini bisa selesai dengan memerah ASI. Kita memang bisa memerah secara manual. Tapi ini sungguh merepotkan. Lebih nyaman bila menggunakan pompa ASI.

Selain pompa ASI, kita juga akan amat sangat terbantu dengan lactation massager. Sekali lagi, saat awal menyusui, bila produksi ASI berlimpah, biasanya akan membuat payudara terasa bengkak dan menyakitkan. Alat ini akan membantu untuk melancarkan ASI. Bila belum keluar, alat ini juga bisa membantu proses let down reflect (LDR), supaya ASI lebih cepat keluar.

Baca juga:
Tenang, kita tidak harus membeli semua itu. Beberapa barang bisa kita sewa selama yang kita butuhkan. Kalau ibu rumah tangga seperti saya, mungkin 1-2 bulan masa sewa sudah cukup. Di atas 2 bulan, bayi biasanya mulai pintar menyusu. Masalah-masalah saat menyusui di awal pun lambat laun akan terselesaikan.

Beli Perlengkapan Bayi di Bogor

Ada beberapa orang yang lebih nyaman belanja online. Tapi ada juga yang lebih nyaman belanja offline. Saya pribadi lebih suka belanja offline karena bisa tahu langsung kualitas bahan yang akan saya beli.

Kalau kamu seperti saya, ada tiga toko bayi yang banyak direkomendasikan ibu-ibu di Bogor. Toko ini konon lumayan lengkap dan harganya pun amat sangat terjangkau. Ada 2 toko yang sudah saya kunjungi, satu lagi belum. Tapi, saya banyak dapat kado yang sepertinya berasal dari sana. 

"Tahu dari mana?"
"Kantong plastiknya lah. Wkwkwk."

Sebagai referensi, saya tuliskan alamat dan kontak dari ketiga toko bayi tersebut.

Baby shop bogor


My Baby Shop 

Blok AL-AM, Ruko Villa Indah Pajajaran, Jl. Raya Pajajaran No.2, RT.01/RW.07, Bantarjati, Bandung, Kota Bogor, Jawa Barat 16142

Baby House

Jl. Raya Pajajaran No.23 A-B, RT.05/RW.01, Sukasari, Kec. Bogor Tim., Kota Bogor, Jawa Barat 16142

Tiara Baby Shop

Jl. Sukasari 1 No.5B, RT.03/RW.02, Sukasari, Kec. Bogor Tim., Kota Bogor, Jawa Barat 16142

Toko yang sudah saya kunjungi adalah My Baby Shop dan Baby House. Dari segi kelengkapan barang, di sini lumayan lengkap. Mau cari apa saja ada. Tidak hanya baju, peralatana mandi dan makan saja.

Kalau dari segi harga, harganya lebih murah Baby House dengan kualitas barang yang sama. Kalau untuk baju-baju bayi, menurut saya sih harganya sama saja. Tapi, kalau kata teman-teman saya lebih murah Tiara Baby Shop dan Baby House.

Sewa Perlengkapan dan Mainan Bayi di Bogor

Dari semua daftar yang saya buat, tidak semua kami beli. Ada beberapa barang yang diberi oleh teman atau saudara kami. Ada juga barang-barang kami sewa.

Beberapa tempat sewa pompa ASI, mainan, maupun peralatan bayi yang lain, bisa cek ke toko persewaan perlengkapan bayi berikut. Silakan langsung klik dan pilih mana yang sekiranya dibutuhkan. Semua link langsung terhubung ke akun instagram masing-masing.
Baby rent bogor

Penutup

Nah, itu tadi beberapa tips untuk membeli perlengkapan bayi. Memang banyak sekali yang dibutuhkan. Tapi tidak semua harus dibeli. Sesuaikan dengan kebutuhan dan budget masing-masing.

Kalau ada perlengkapan bayi yang terlewat oleh saya, atau mungkin teman-teman punya rekomendasi tempat belanja dan sewa, silakan komen di bawah ya.