Corona Virus dan Kita Hari Ini

By Aprilely Ajeng Fitriana - Monday, March 23, 2020



Sebetulnya, saya ingin menulis tentang Corona, tentang apa itu Corona, bagaimana penyebarannya, dan lain-lain. Tapi kemudian saya mengurungkan diri karena merasa tidak kompeten dalam hal ini. Penjelasan yang saya sampaikan tanpa landasan keilmuan, sangat amat memungkinkan terjadi kekeliruan. Kalau informasi tersebut sampai tersebar dan diamini oleh banyak orang, berapa banyak orang yang justru dirugikan oleh hal itu. Jadi, saya putuskan untuk menulis sesuai dengan kapasitas saya sebagai seorang anak, ibu, dan bagian dari masyarakat ini.

Tentang Corona 


Sejak virus ini muncul di China, ini sudah sangat amat mengejutkan bagi saya. Bagaimana tidak, orang-orang terus berjatuhan di jalan macam robot yang kehabisan sumber daya. Banyak orang yang merutuki Wuhan saat itu. Tentang adzab Allah karena sudah menyiksa kaum muslimin, tentang akibat dari perbuatan mereka sendiri karena segala sesuatu dimakan.

Dari Wuhan, virus ini kemudian menyebar ke banyak kota di China. Menyaksikan venomena ini terjadi, betul-betul seperti film. Dengan penyebarannya yang begitu masif saat itu, tentu tidak  menutup kemungkinan virus ini dapat menyebar ke seluruh penjuru dunia.

Saya sempat mempertanyakan tentang nasib warga asing yang tinggal di sana. Bagaimana nasib mereka selanjutnya? Tentu tidak mudah menghadapi mimpi seburuk itu di depan mata mereka sendiri. Hidup di negara asing saja sudah sulit. Ini masih ditambah dengan bayang-bayang mimpi buruk yang tepat ada di depan mereka. Sudah sewajarnya, sebagai manusia yang lemah, tidak ada pilihan lain untuk meminta pertolongan kepada negara masing-masing. Mereka memohon dengan penuh harap untuk bisa diselamatkan.

Tapi, apakah tindakan penyelamatan ini adalah tindakan yang tepat? Tidak ada jaminan bahwa orang-orang yang pulang ke negara masing-masing ini selamat dari virus ini. Bagaimana jika tanpa mereka sadari mereka sudah terinfeksi oleh virus ini?

Kita semua akhirnya tahu bagaimana akhir dari kisah itu. Negara-negara asal, dengan sigap menyiapkan fasilitas pencegahan sebelum menjemput warga negaranya masing-masing, termasuk Indonesia. Meskipun, terbilang agak lama ya. Negara-negara lain sudah menjemput warga negara masing-masing, Indonesia belum. Orang-orang yang di sana sepertinya sudah nangis duluan mungkin.

Awal Mula Covid-19 di Indonesia


Tidak butuh waktu yang lama. Corona Virus akhirnya menyebar ke seluruh dunia. Angka kematian yang disebabkan oleh virus ini juga lumayan bikin ngeri-ngeri sedap. Hingga akhirnya, mimpi buruk itu datang ke Indonesia.

Pasien yang dinyatakan positif Covid-19 datang dari Depok. Saya perlu mengapresiasi 2 orang pasien pertama positif Corona yang sudah begitu awas tentang kondisi dirinya. Sayangnya, banyak netizen yang justru kepo setengah mati sampai rasa-rasanya segala penghakiman hadir padanya. Seolah-olah penduduk +62 ini bilang, “oh, kamu yang bawa virus itu kemari?”

Kebayang nggak sih, kalau 2 orang ini tidak berusaha untuk memeriksakan dirinya? Kebayang nggak, kalau mereka masih merasa kalau itu flu biasa yang nantinya akan sembuh sendiri? Berapa jiwa yang nantinya akan tertular virus ini? Berapa nyawa lagi yang bisa melayang?

Setelah berita positif Covid-19 menyebar, semua orang jadi panic buying. Borong sana-sini. Ya sembako, ya masker, ya hand sanitizer. Lumayan parah sih ini. Gara-gara ini, mereka yang butuh banget malah nggak kebagian.

Tempat-tempat umum sudah menerapkan SOP baru. Pengukuran suhu tubuh pada setiap pengunjung. Dan kemarin, saya baru saja nonton dan baca penjelasan terkait virus ini. Pasien yang positif Covid-19 bisa saja tidak menunjukkan gejala apapun di awal.

Bekerja dan Belajar dari Rumah


Tanggal 14 Maret 2020, edaran terkait belajar dari rumah sudah mulai beredar ke sekolah-sekolah. Hari itu, Kota Bogor yang biasa ramai sudah mulai lengang. Dan, keesokan harinya Presiden mengumumkan untuk melakukan semua aktivitas dari rumah saja per tanggal 16 Maret 2020 hingga 14 hari berikutnya. Bekerja dari rumah, belajar dari rumah, tetap produktif dari rumah.

Tentu, tidak semua kantor siap dengan hal ini. Ada yang butuh waktu untuk mempersiapkan ini. Tanggal 16 Maret 2020, setelah berita itu, bagi yang tahu dan aware terkait hal ini, tentu keluar rumah dengan perasaan was-was. Keluarga yang melepas pergi juga tentu tidak mudah.

Sesungguhnya, belajar dan bekerja dari rumah itu tidak mudah bagi siapapun. Tapi ya apa boleh buat. Semua demi keselamatan banyak orang.

Saya sebetulnya sudah biasa bekerja dari rumah. Sekarang pun, saya sudah mulai terbiasa bekerja dengan kondisi punya bayi. Tapi, kedatangan personil baru yang diam di rumah ternyata lumayan menambah pekerjaan baru. Ya memang, tugas mengasuh Ghazy jadi bisa terbantu dengan kehadiran suami, tapi ternyata tambahan tugas yang lain juga ada. Jadi semacam punya satu anak lagi. Masak yang biasanya cukup sekali, yaitu di pagi hari. Kini bertambah lagi frekuensinya.

Kondisi saya tentu tidak ada apa-apanya dengan ibu-ibu yang punya anak banyak. Anak-anak yang sudah sekolah membawa pulang banyak sekali tugas sekolah untuk diselesaikan dalam 14 hari ke depan. Saya bisa bayangkan betapa sulitnya hal ini. Harus membantu satu per satu anak, mengurus pekerjaan rumah, dan pekerjaan kantor sendiri (kalau memang biasa kerja di luar rumah).

Ini masih belum lagi harus menghadapi rengekan bocah yang mulai bosan di rumah. Jangankan bocah, orang dewasa aja bosan di rumah terus. Kondisi di dalam rumah sendiri, bisa jadi kondisi yang bikin stress kalau tidak segera beradaptasi untuk mengelola situasi macam ini.

Meski begitu, produktif dari rumah bukan sesuatu yang mustahil. Kalau kebetulan pasangan juga bekerja dari rumah, maka kerja sama ini jadi kunci utama sukses bekerja dari rumah. Apalagi untuk ibu-ibu yang punya anak kecil, harus ada yang menghandle anak ketika ibu menyelesaikan pekerjaan.

Tidak harus pasangan juga. Kita sama-sama tahu bahwa belum semua pekerja bisa kerja dari rumah. Peran pasangan bisa digantikan oleh ART atau keluarga yang lain. Intinya sih, jangan sungkan untuk minta bantuan.

Jangan sampai kita stress sendiri gara-gara ingin tampil sempurna. It's okay kalau nggak semua bisa kepegang. It's okay kalau nggak bisa seideal biasanya. Namanya juga bukan kondisi ideal kan. Bagaimanapun juga, kita butuh untuk terus bahagia agar bisa menularkan kebahagiaan ke yang lain.

Kondisi Kita Hari Ini


Tarik napas panjang, keluarkan...
Tarik napas lagi panjang, keluarkan...
Gimana? Enakan?

Yup, paparan berita tentang Corona dari segala macam penjuru memang bikin sesak. Kemarin nonton youtube-nya Deddy Corbuzier yang bahas Corona sama dr. Tirta. Pasien di rumah sakit banyak yang membeludak karena ada banyak orang yang merasa dirinya positif Covid-19. Padahal, ya belum tentu. Padahal, penanganan yang diperlukan nggak harus yang sampai ke rumah sakit juga. Self isolation saja, bisa jadi sudah cukup.

Kalau boleh saya bilang, sebelum dinyatakan positif Corona, hari ini sudah banyak sekali orang yang terkena Corona Anxiety. Mirisnya, kalau kondisi mental kita udah kena, sistem imun jadi turun. Akibatnya, jadi lebih rentan juga terkena Covid-19 ini.

Well, iya. Jaga kesehatan tubuh dan pikiran di hari ini tuh bukan perkara yang mudah. Kita semacam perang dengan sesuatu yang tidak bisa kita lihat. Tapi, itu ada. Dan, harus berjuang melawannya.

Saya mau cerita sedikit tentang apa yang saya rasakan tempo hari. Sebetulnya, saya bukan orang yang takut sekali dengan keberadaan Covid-19 ini. Meski jumlah pasien meningkat tetap tidak membuat saya panik. Waspada tentu iya. Saya tetap menjaga diri dengan tidak keluar rumah, kalau tidak urgent. Misal, saya harus keluar rumah pun, segala protokol keamanan dan kebersihan diri pasti dipikirkan dan dilakukan. Semua saya lakukan karena saya bayi. Nggak mau aja dia sampai sakit.

Hingga negara api menyerang...

Suatu sore, suami telpon ibu. Hal yang bikin deg dan lumayan jengkel saat ibu mertua saya bilang mau ke Bogor. Ketika kami bingung melindungi diri, beliau malah bingung mau ke sini naik apa. Sudah pasti kami larang. Saya ngomong, suami juga angkat bicara. Intinya, kami berusaha jangan sampai ibu mertua nekad ke Bogor hanya karena kangen cucunya.

Saya curhat ke ibu sendiri. Lah, ibu saya marah. Ternyata, tanpa saya tahu, ibu dan ayah sudah memegang tiket PP Surabaya-Jakarta. Uwah, itu rasanya nano-nano banget. Khawatir ya sudah pasti iya. Kondisi kesehatan ibu tidak bisa dibilang sedang baik-baik saja. Jadilah, malam itu saya cuma bisa menangis saja.

Semalaman saya susah tidur. Perut mual dan muntah-muntah. Iya, asam lambung naik karena stress.

Bayangan kalau orang tua sakit bagaimana? Kalau menulari bayi kami bagaimana? Kalau salah satu dari kami harus diisolasi bagaimana? Semua memenuhi kepala.

Saya sempat membuka portal resmi pemda untuk update info terkini terkait Covid-19 ini. Bagaimana pesebarannya di DKI Jakarta dan Jawa Barat. Harapan saya, informasi ini bisa saya share ke orang tua dan mertua saya. Jadi, mereka bisa membatalkan rencana nengok cucu ini. Dari situ, saya justru makin panik karena Bogor sudah masuk zona kuning saat itu dan Jakarta sudah pasti zona merah. Ini semacam mendatangi singa yang sedang lapar kan jadinya.

Saya kontak adik agar dia mau bantu saya meyakinkan ibu agar tidak nekad ke Bogor. Alhamdulillah, akhirnya berhasil.

Perjuangan kami tidak sampai di situ tentu saja. Setelah video call dengan orang tua, saya tahu kalau ayah dan ibu masih keluar rumah, masih rajin ke masjid, masih membuat pengajian di rumah. Wow, banyak sekali PR-nya.

Pelan-pelan kami meyakinkan orang tua kami. Kalau adik saya mungkin agak ngegas, saya pakai bahasa cinta saja. Tiap satu keberhasilan, adik laporan. Alhamdulillah, selangkah demi selangkah orang tua kami mau sadar.

Belajar dari kasus itu. Mata saya jadi terbuka lebar. Iya, Corona ini memang ada di depan mata. Tapi ternyata, tidak semua orang paham bahayanya. Ini karena mereka terlalu jengah untuk nonton TV. Plus, tidak update social media. Ya wajar aja sih kalau mereka masih santai. Meskipun, ada juga orang-orang yang menganggap remeh ini.

Tentara Kecil dari Allah


Tempo hari, saya baca status orang. Intinya sih dia kesal gitu, lalu nulis yang kurang lebih isinya begini.

"Dulu, waktu Corona masih di Wuhan, ada yang bilang virus ini datang untuk ngeadzab orang-orang China. Sekarang, dia ada di sini juga kalian mau bilang apa, wahai penghuni surga?"

Hmmmm... Wow ya.

Saya sendiri coba renungkan kembali kata-katanya. Meskipun, setelah sekian juta kali merenung, tetap saja saya merasa bahwa virus ini ya memang tentara kecil Allah. Makhluk super duper mini yang mampu menaklukkan semuanya. Bikin pemerintah kalang kabut, bahkan sekelas US dan UK.

Kalau kalian mau baca penjelasan para ahli, Corona itu masih masuk golongan flu gitu. Tapi, mereka bisa mematikan tergantung dari daya tahan tubuh masing-masing. Ini kalau bukan Allah yang bikin, mana bisa? Mustahil!

Lalu, apa sih yang ingin Allah hancurkan? Kesombongan kita, manusia-manusia super lemah, super nggak tahu apa-apa, tapi sombongnya setinggi langit. Astaghfirullah.

Kesombongan ini bentuknya buanyak banget. Paling receh ya meremehkan sesuatu. Dan, itu yang paling sering kita lakukan. Iya, kan?

Kalau mikir Covid-19 ini datang sebagai hukuman, bisa jadi. Kita sama-sama introspeksi diri aja. Memangnya kita udah bebas dari dosa gitu?

Nggak perlu jadi positif Covid-19 dulu untuk merasakan dampaknya ke diri sendiri. Orang-orang tanpa status pun juga merasakan nggak enaknya. Mau ngapa-ngapain susah, serba terbatas, kalau keluar rumah ya ngeri-ngeri sedap sendiri.

Kedua, virus ini datang tentunya untuk menguji kesabaran kita. Bagaimana kita menghadapi pandemik ini. Saya yakin, saya bukan orang satu-satunya yang effort banget ngasih tahu orang tua. Banyak.

Diam di rumah saja sudah menguji kesabaran. Nggak semua orang bisa begini. Ini masih harus membuat orang lain yang kita sayang tetap diam di rumah. Itu wow sih.


Hal yang Harus Kita Lakukan


Corona Virus ini datang dengan segudang PR yang harus kita selesaikan bersama. Kita mau kerjakan atau tidak, itu pilihan. Bagaimana cara menyelesaikannya? Kalian bisa coba cara-cara ini untuk melindungi diri dan orang-orang terkasih.

1. Terapkan Pola Hidup Bersih dan Sehat

Para ahli sepakat bahwa setiap orang sangat amat memungkinkan untuk terkena virus ini. Masalahnya sebetulnya bukan kena atau tidak, tapi bagaimana kita akhirnya bisa survive ketika akhirnya positif. Ini semua tergantung dari imun masing-masing.

Sistem imun di dalam tubuh kita bisa jadi baik kalau kita mau menerapkan pola hidup sehat. Makan makanan yang bergizi, olahraga, istirahat yang cukup.

Selain itu, untuk langkah pencegahan juga, kita juga perlu meningkatkan kebersihan diri. Kalau dulu makan pecel lele cuci tangannya pakai air embun di gelas es teh, sekarang mulai cuci tangan dengan benar. Gunakan air dan sabun untuk membunuh kuman. Ini yang paling efektif.

Nggak usah panic buying dengan ngeborong hand sanitizer, apalagi sampai bikin yang abal-abal. Toh, kita juga di rumah aja. Air mengalir dan sabun sudah pasti tersedia di rumah. Ya kan?

2. Smart dalam Mengelola Waktu dan Energi

Belajar dan bekerja di rumah itu tidak mudah. Penting untuk bisa mengelola waktu dan energi supaya nggak capek dan stress sendiri. Kalau saya pribadi, tidur di awal waktu itu menjadi kunci agar saya bisa menjalani aktivitas di keesokan harinya.

Selain tidur cukup, saya biasakan untuk mengkomunikasikan apa yang ingin saya selesaikan hari itu ke suami. Jadi, kami bisa saling mengkondisikan diri untuk menyelesaikan seluruh pekerjaan masing-masing selama masa self quarantine ini.

Saya tidak punya jadwal yang pasti karena sulit sekali dengan kondisi punya bayi. Untuk saat ini, punya to-do list saja itu sudah cukup. Saya jadi tahu harus menyelesaikan apa saja tanpa terbebani dengan jadwal buatan sendiri.

3. Update Informasi dari Sumber Terpercaya

Hal lain yang harus kita lawan selain virus itu sendiri adalah hoax yang beredar. Untuk mengindari hal ini, pilih sumber-sumber terpecaya. Misal, website pemda masing-masing.

4. Batasi Masuknya Informasi

Update informasi itu harus. Agar kita bisa menentukan langkah selanjutnya. Tapi kalau terlalu banyak, ini juga akan merusak mental kita. Ini bisa membuat kita jadi anxiety sendiri.

5. Sharing is Caring

Nggak ada salahnya untuk berbagi informasi yang benar ke orang-orang terdekat. Cara ini agar mereka tahu apa yang sesungguhnya terjadi hari ini. Dengan catatan, apa yang kita bagikan sudah kita pastikan kebenarannya. Tidak asal share saja.

6. Berdoa

Ini yang paling penting dan utama. Hal yang selalu dilakukan mengiringi setiap usaha yang kita lakukan untuk menjaga diri dan orang-orang tersayang. Menghadapi semua tentang per-covid-an ini sendiri jelas tidak mudah. Tapi semua ujian ini akan terasa lebih ringan kalau kita mau melibatkan Allah.

Semua terjadi karena kehendak Allah. Jadi, mari kita kembalikan lagi semuanya ke Allah sembari terus mengupayakan yang terbaik.


Penutup


Bukan hanya saya, kita semua berharap mimpi buruk ini segera berakhir. Hal-hal yang kita khawatirkan bisa segera berlalu.

Last but not least, saya sungguh berharap kita semua bisa terus dalam lindungan Allah. Saya, kalian, keluarga kita, semuanya bisa dijauhkan dari Covid-19 ini. Kalaulah takdir Allah berkata lain, semoga kita diberi kekuatan dan ketabahan dalam berjuang melawannya.

Peluk hangat dari sini.

With love,

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar