Assalamu'alaikum!

Perkenalkan, nama saya Aprilely Ajeng Fitriana. Kalian bisa panggil saya Lelly. Saya lahir di Malang pada tanggal 22 April 1991. Saat ini, saya tinggal di Bogor bersama suami dan anak saya. Blog ini adalah tempat saya mencurahkan segala pemikiran saya dari berbagai peristiwa. Bagaimana saya menghadapinya dan apa saja hikmah yang saya peroleh.

Nov 16, 2020

Penggunaan Gadget untuk Anak Usia Dini

screen time


Menjadi orangtua milenial itu adalah tantangan tersendiri. Anak yang lahir dari rahim kita, mau nggak mau akan bersinggungan dengan gadget. Dulu, tantangannya cuma televisi saja. Ketika akses televisi dicabut, maka terputuslah anak-anak dari gadget. Tapi, sekarang tidak demikian. Masih ada gadget-gadget yang lain.

Sementara kita masih mencari cara untuk membatasi mereka dari gadget, tiba-tiba batita kita sudah mahir mengoperasikan gadget. Foto selfie dengan filter-filter lucu misalnya. Kalau hanya sebatas itu saja, masih oke. Hal yang membuat ngeri-ngeri sedap adalah ketika mereka mulai kecanduan gadget.

Pemberian Gadget untuk Anak di Bawah 2 Tahun, Yey or Ney?

gadget di bawah 2 tahun


Ini salah satu pergolakan batin juga sih. Dalam salah satu video dokumentasi seminar parenting, dr. Tiwi menyampaikan kalau beliau tidak merekomendasikan gadget untuk anak di bawah 2 tahun. Kalau bisa, jangan sama sekali. 

Memang, tidak semua anak begini. Tapi, ada banyak sekali anak yang mengalami keterlambatan perkembangan karena terlalu banyak terpapar gadget. Speach delay, misalnya. Atau bisa juga motoriknya yang terlambat.

Bagi saya, ini make sense. Kita bisa amati dari lingkungan sekitar kita aja. Kalau lagi dine in di resto, kadang-kadang ada keluarga yang bawa anaknya kan. Solusi yang mereka tawarkan ke anak agar bisa duduk tenang apa? Gadget. Putarkan saja channel Youtube favorit anak mereka, pasti tenang. 

Untuk anak yang sudah agak besar, bukan Youtube lagi yang diputar. Tapi sudah permainan game online. Itu gadgetnya sampai kaya mau nempel sama mata kalau mereka udah asyik.
Saya pribadi tidak ingin Ghazy dan adik-adiknya seperti itu. Jadi, sebisa mungkin saya hadir untuknya. Kalau dia bosan, ya kami berikan permainan lain yang membuat dia tertarik.

Ketika Ghazy Mulai Kenal Gadget

kecanduan gadget


Kalau ditanya apakah saya setuju dengan pemberian gadget untuk anak di bawah 2 tahun? Jawabannya amat sangat tidak setuju. Tapi sayangnya, saya belum bisa 0 screen time untuk Ghazy. Huhuhu..

Ada masa ketika saya betul-betul mati gaya main sama Ghazy. Semua permainan yang bisa terpikir oleh saya, sudah kami mainkan. Bahkan, kami juga sudah mengintip dari sumber-sumber lain, seperti aplikasi Chai's Play atau kanal YouTube. Tapi ya itu tadi, tetep aja mati gaya.

Kalau sudah begini, biasanya saya putarkan Ghazy video dari YouTube. Bukan cuma saya, suami pun demikian. Tapi kami sama-sama berjanji ke diri sendiri bahwa Ghazy maksimal hanya boleh nonton 1 video dengan durasi pendek.

Apakah ini berhasil? Ternyata tidak.

Saya tidak tahu kapan hal ini bermula. Ghazy mendadak jadi suka merengek minta nonton dari YouTube. Dia mulai paham di mana dia bisa mendapatkan akses itu dan dengan siapa dia harus meminta. 

Ada HP nganggur. Ada Abi. Artinya, bisa nonton YouTube.

Apa yang terjadi kalau tidak diberikan? Tantrum. Sungguh wadidaw bukan. Umurnya saja belum genap 1 tahun, tapi sudah pandai memainkan strategi seperti itu.

Tips Mengurangi Screen Time pada Anak Usia Dini

terapi gadget


Meski Ghazy sudah terpapar dengan gadget, saya masih harus banyak besyukur karena dia belum dalam taraf kecanduan. Tidak setiap hari dia nonton YouTube. Tidak setiap hari juga dia merengek memintanya. Ghazy bahkan masih lebih sering minta dibacakan buku daripada diputarkan video. Alhamdulillah...

Bisa dibilang, ini karena kami segera menyadari hal ini. Begitu Ghazy mulai menunjukkan gelagat demikian, kami langsung rapat dadakan dan membuat keputusan untuk mengurangi screen time-nya. Ada beberapa tips yang ingin saya bagikan untuk kalian yang mungkin mengalami masalah serupa. Sebelum anak semakin candu dengan gadget, ini cara yang saya dan suami lakukan untuk mengurangi screen time pada anak.

1. Buat kesepatan dengan pasangan

Semua aturan screen time yang kita buat akan sia-sia kalau pasangan belum sepakat dengan hal ini. Bisa jadi kita melarang anak menonton, tapi ternyata tidak dengan suami. Ambyar sudah. Oleh karena itu, samakan tujuan dulu. Sepakati tujuan akhir bersama agar anak pun bisa mengikuti.

2. Ajarkan konsep kepemilikan pada anak

Anak perlu diajarkan konsep kepemilikan. Gadget yang ada di rumah ya milik orangtua. Mereka hanya boleh menggunakan kalau dipinjami. Kalau tidak boleh, ya tidak akan diberikan. 

3. Beritahu fungsi gadget untuk kita

Buat saya, gadget adalah alat perang untuk menghasilkan rupiah. Iya, pekerjaan saya memang berhubungan dengan gadget. Begitu juga dengan suami. Kalau Ghazy mulai merengek, biasanya saya akan jelaskan kalau HP yang kami gunakan itu dipakai untuk bekerja. Lalu, kami tunjukkan padanya aktivitas kami dengan gadget apa. Biasanya, Ghazy akan mengerti dan berhenti merengek lagi.

4. Batasi screen time, bila lebih alihkan

Anak perlu diberi batas kapan boleh melihat layar dalam sehari. Untuk anak usia dini, sulit untuk memberi tahu bahwa waktunya sudah habis. Jadi, kalau batas waktu sudah hampir habis, coba alihkan perhatian anak dengan aktivitas lain yang lebih seru.

5. Hadir secara utuh untuk anak

Kalau saya amati, sebetulnya anak akan minta gadget ketika mereka bosan. Ini terjadi karena kita pun sedang sibuk dengan dunia kita sendiri. Sibuk dengan pekerjaan, scrolling instagram, dan lain-lain. Coba kalau kita hadir secara utuh di dekatnya. Bukan hanya raga kita yang hadir, tapi berikan dia perhatian yang tulus. Anak juga akan menikmati waktu bermain bersama kita dan melupakan gadgetnya. 

Ini juga yang Bunda Elly pernah sampaikan dalam Elly Risman menjawab pada ibu yang baru resign dan anaknya kecanduan gadget. Hadir dulu untuk anak. Buat anak jatuh cinta ke kita, butuh ke kita, dibanding gadgetnya. Semuanya pasti bisa, kalau kita mau mengupayakan.

Kesimpulan

Banyak pakar yang tidak menyarankan penggunaan gadget pada anak usia dini. Meski begitu, mewujudkan zero screen time untuk anak usia dini itu juga butuh effort besar. Adakalanya kita menyerah dengan keadaan dan memberinya gadget agar punya waktu istirahat. Sebelum anak kecanduan gadget, kita bisa mulai mengatasinya dengan sigap.

Nah, kalau kamu punya pengalaman serupa tentang mengurangi screen time pada anak, kasih tahu ya...

Oct 26, 2020

Ketika Perpisahan Menjadi Sebuah Pilihan

Perceraian


Wih, judulnya ngeri ya. Saya kepingin nulis ini untuk menyalurkan segala rasa yang terpendam. Beberapa hari ini, saya mendengar kabar perceraian dari lingkup pertemanan saya. Betul-betul mengejutkan. Tapi, kalau tahu cerita mereka dari awal, saya nggak bisa menyayangkannya. Semacam, ya itu keputusan terbaik untuk mereka.  

Pandangan Terhadap Perceraian  

Cerai


Dulu, saya agak skeptis soal perceraian. Ini karena saya kebanyakan nonton infotainment. Tahu sendiri kan artist-artist itu banyak sekali yang bercerai. Seolah pernikahan bukan sesuatu yang amat sakral hingga dengan mudahnya diakhiri. Apalagi, mereka bilang alasan perceraiannya karena tidak bisa bersama lagi. Ini tentunya memunculkan prasangka lain, apa iya tidak bisa dibenahi? Jangan-jangan karena mereka saja yang tidak sabar.  

Pandangan ini kemudian berubah ketika saya bertemu seorang janda sekian tahun lalu. Dia ceritakan alasannya bercerai dengan suaminya. Ini sama sekali bukan masalah yang sepele.  

"Seminggu setelah menikah, suamiku ngencingin aku. Aku kaget banget. Tapi dari situ, aku tahu kalau dia punya gangguan jiwa. Sesuatu yang tidak disampaikan oleh pihak keluarga atau siapapun yang tahu akan hal ini."  

Huaaah.. Nyesek banget. Sudah menikah, baru tahu kalau suaminya begitu. Please, jangan menuduh karena mereka ta'aruf. Jangan. Realitanya, ada juga kasus serupa dari orang yang sudah kenal dekat cukup lama. Pernah pacaran lama, lalu bertaubat dan memutuskan untuk menikah. Ini juga ada.  

Selama pacaran, tidak ada tanda-tanda gangguan kejiwaan. Baru setelah menikah, tanda-tanda itu muncul. Innalillahi wa innalillahi rajiun. 

Saya sama sekali nggak bisa membayangkan bagaimana rasanya ada di posisi mereka.  Gangguan jiwa yang dialami oleh pasangan ini yang membuat mereka mendapatkan penyiksaan fisik ketika pasangan mereka hilang akal. Ini bukan lagi tampar menampar ya. Tapi, sudah sampai pada percobaan pembunuhan.  

"Aku nggak berani geletakin pisau sembarangan, Lel. Aku takut pas suamiku kumat terus pakai pisau itu."  

Apa cuma itu? Nggak. Ada lagi. Sesuatu yang lumayan bikin diri terhenyak. Berat sekali cobaan mereka, Ya Allah.  

Cerita-cerita yang amat real ini yang mengubah pandangan saya terhadap perceraian. Nggak semua orang bercerai hanya karena masalah ekonomi. Nggak semua orang bercerai dengan alasan amat sederhana, "kita sudah tak sejalan lagi."   

Nggak semuanya begitu!  

Realitanya, ada masalah-masalah yang terlalu rumit untuk dijelaskan. Jadi, ya memang benar, perceraian adalah salah satu solusi yang Allah berikan kepada kita dalam mengarungi kehidupan. Meskipun, hal ini adalah sesuatu yang Allah tidak sukai pula.  

Artinya apa? Selesaikan dulu masalahnya, bangun kembali keharmonisan keluarga dulu. Pelajari ilmunya. Tapi, kalau memang ada kondisi yang memang tidak bisa ditawar lagi, contohnya ya pasangan yang hilang akal tadi, perceraian bisa menjadi solusi.  

Jalan Terbaik Pun Butuh Penyesuaian  

Cerai


Setiap memasuki fase kehidupan baru, penyesuaian itu pasti ada. Untuk babak baru yang menyenangkan dan begitu diharapkan, seperti pernikahan dan punya anak saja, ada fase berderai air mata di awal. 

Menyesuaikan diri dengan pasangan, status baru, anggota keluarga yang baru, keriwehan yang baru. Padahal, dulunya kita begitu menginginkan hal ini.   

Kalau untuk menjalani kehidupan pernikahan dan punya anak saja begitu, apalagi ketika kita harus berhadapan dengan perpisahan. Ini semacam petir di siang bolong sih kalau menurut saya. Meskipun, kita tahu bahwa itu adalah pilihan terbaik yang paling mungkin diambil, tetap saja tidak akan mudah menjalani semuanya. Tanpa ada anak saja sudah sulit. Apalagi, kalau ada anak dari buah pernilahan sebelumnya. Ya Allah, saya betul-betul tidak bisa membayangkan.  

Kaki yang mulai terbiasa berjalan beriringan, kemudian salah satunya harus diambil. Sulit sekali untuk bisa berjalan tegak dengan satu kaki. Menopang badan sendiri saja sulit, apalagi membawa beban lain. Sudah pasti jauh lebih sulit. Tapi, bukan berarti mustahil. Ini hanya soal waktu.  

Pada akhirnya, saya hanya mampu melambungkan doa agar orang-orang ini bisa menemukan jalan untuk bisa terus melangsungkan hidup. Punya teman yang bisa merangkul dan menggandeng tangannya untuk menjalani babak baru kehidupan. Semoga Allah pun segera menghapus luka di hatinya dan mendatangkan sosok pasangan hidup baru yang jauh lebih baik dari sebelumnya.  

Membuka Lembaran Baru, Mungkinkah?  

Cerai


Dalam doa yang saya panjatkan untuk mereka, saya sungguh berharap teman-teman saya ini bisa dipertemukan dengan pengganti suaminya. Sosok yang jauh lebih baik dan waras dalam menjalani hidup. Sosok yang mau bertanggung jawab dengan keluarganya. Tapi, kemudian saya tersadar bahwa membuka lembaran baru itu tidak mudah.  

Saya masih ingat ketika dulu baru saja gagal menikah. Ada perasaan dibuang oleh mantan dan keluarganya. Rasanya, tidak ada orang lain yang sanggup memahami dengan amat baik, kecuali saya dan keluarga. Tamparan itu saja rasanya sudah amat keras. Saya sempat limbung dan tidak tahu harus apa.   

Ada rasa ingin segera dipertemukan dengan orang baru. Tapi, di sisi lain saya takut untuk gagal kembali. Ketakutan itu yang mungkin membuat saya jadi amat selektif ketika memilih pasangan hidup.   

Itu saya yang gagal menikah. Apalagi mereka yang pernikahannua gagal, ini mungkin akan jauh lebih sulit.  Membuka lembaran baru sebetulnya tidak selalu sulit kalau Allah sudah berkehendak. Ini hanya butuh proses untuk menghadapi semua. Ada luka yang butuh disembuhkan terlebih dahulu. Ada langkah kaki yang butuh dikuatkan untuk menjalani hari.   

Kenapa dulu saya begitu cepat untuk bangkit, sementara mantan saya tidak? Padahal, dia yang meninggalkan saya.   
Jawabannya, ada di doa. Ketika masalah itu mulai datang, saya tahu bahwa bibir ibu saya tidak pernah basah untuk mendoakan saya. Beliau mohonkan agar saya diberi kekuatan untuk menghadapi apapun yang akan terjadi.  

Saya pun melambungkan doa yang sana.  Saya sendiri tidak tahu dari mana datangnya kekuatan itu. Kalau dipikir-pikir lagi, kegagalan itu cukup menjadi alasan bagi saya untuk tidak mencoba membuka hati dalam waktu lama. Nyatanya tidak demikian. Saya cukup mudah untuk move on.  

Saya yakin bahwa bibir ibu dari teman-teman saya ini tidak pernah basah mendoakan anak-anaknya. Bahkan, deraian air mata pun akan tercucur dalam doa-doa mereka. Memohon dengan amat sangat untuk kebahagiaan anaknya.   

Realitanya, ada juga teman yang alhamdulillah bisa move on dan mendapatkan pengganti yang mau menerima dia apa adanya. Saya betul-betul bahagia ketika akhirnya kabar bahagia itu datang. Pasalnya, kehidupannya pasca bercerai itu juga tidak mudah. Alhamdulillah, akhirnya dia nemu juga.   

Penutup  


Sebetulnya, saya bingung ingin mengakhiri tulisan ini dengan apa. Realitanya, tulisan ini memang ditulis untuk menyalurkan segala hal yang terpendam di dalam dada. Dapat curhatan yang macam gini tuh menguras energi sekali, kepikiran terus. Jadi, saya sekalian mau mohon maaf kalau ada curhatan yang tidak saya balas. Terutama segala jenis curhat yang masuk dari artikel toxic parents. Masya Allah, kadang saya juga nggak sanggup menanggapinya.  
Well, perpisahan itu berat sekali. Saking beratnya, ada yang mungkin mulai terganggu kesehatan mentalnya. Mulai mengalami depresi hingga menyakiti diri sendiri. Kalau sudah ada di fase ini, please minta tolong ke ahlinya. Berdoa iya, minta tolong iya.   
Sayangi diri sendiri dulu. Kasih perhatian ke diri sendiri dulu, sebelum akhirnya kasih ke orang lain, entah itu anak atau orang tua. Karena, gimana kita bisa ngasih kalau kita nggak punya?  
With love,

Oct 12, 2020

Liburan Bareng Bayi Saat Pandemi, Yey or Ney?

liburan saat pandemi


Siapa yang udah kangen liburan angkat tangan? Ini sih saya banget. Saya udah kangen bisa liburan dengan tenang tanpa memikirkan harus mematuhi segala protokol kesehatan. Saya juga kangen banget pingin pulang ke rumah. Maklum, sejak pindah ke Bogor, saya belum pernah pulang kampung.

Sayangnya, saya punya kondisi yang tidak bisa sembarangan untuk keluar rumah. Bahkan, orang masuk ke rumah pun nggak bisa sembarangan. Saya punya bayi. Nggak kebayang sih kalau anak saya sampai sakit dan kami harus terpisah untuk beberapa waktu atau bahkan selamanya. Membayangkan itu saja, saya udah ambyar duluan.

Antara Ingin Liburan dan Takut Covid-19

liburan saat pandemi


Kalau ditanya, takut nggak sih keluar rumah? Jawabannya ya takut. Apalagi banyak orang yang mengabaikan segala protokol kesehatan ini. Tapi, tidak bisa dipungkiri juga kalau saya betul-betul tidak tahan ada di rumah saja. Rasanya udah kaya mau meledak. Pingin banget liburan dan ajak Ghazy ke tempat wisata keluarga.

Tidak semua keinginan harus dipenuhi. Ini yang selama ini saya pegang. Bahkan, ini cukup untuk jadi rem saya untuk tidak merengek minta liburan ke suami. Saya cukup tenang meski banyak menghabiskan waktu di rumah sampai saya baca postingan salah satu teman yang berlibur ke Kebun Raya Bogor. Dari situ, saya mulai berpikir kalau sepertinya tidak masalah mengajak Ghazy liburan ke tempat wisata. Asalkan, tempat wisata yang dipilih cukup aman untuk menjaga jarak dari orang lain.

Pertimbangan Memilih Tempat Wisata Saat Pandemi

liburan saat pandemi


Pingin banget jalan-jalan atau liburan bawa bayi. Tapi, nggak pingin risau berlebih karena  memang sedang dalam pandemi. Ini sih bisa banget diakalin. Tinggal gimana kita aja untuk memilih tempat wisata mana yang akan dituju. Kalau saya dan suami, ada dua hal yang menjadi pertimbangan kami dalam memilih tempat wisata.

1. Tempatnya ada di alam terbuka

Waktu awal-awal pandemi, saya sempat cari tahu benerapa cara penyebaran virus ini. Virus ternyata amat mudah menyebar kalau kita ada di dalam ruang tertutup dengan sirkulasi udara yang buruk. Droplet yang keluar akan terkungkung dalam ruangan dalam waktu lama. Bahkan, dia bisa menempel ke benda-benda sekitarnya.

Karena alasan inilah, kami selalu memilih tempat wisata alam terbuka. Ini juga terinspirasi dari Zaskia Mecca yang membawa pasukannyae salah satu coban di Jogja. Tempatnya seru banget. Anak-anak senang. Orangtua pun tenang.

2. Pilih tempat wisata yang sepi

Well, memilih tempat wisata di alam terbuka tidak menjadi satu-satunya pertimbangan ya. Beberapa tempat wisata, meski judulnya wisata alam ternyata justru membuat risau. Kenapa? Ramai.

Kebayang nggak sih kalau kita liburan di tempat ramai dengan kondisi pandemi semacam ini? Kalau saya dan suami sih, sudah pasti auto tidak tenang. Kepikiran kalau ketemu sama Orang Tanpa Gejala (OTG). Iya kalau daya tahan tubuh kami bagus, kalau nggak? Kasihan Ghazy sih.

Intinya, tempat wisata yang dipilih juga harus memungkinkan kita untuk melakukan physical distancing di sana. Jadi, saat liburan bareng keluarga, semuanya bisa enjoy menikmati liburan.

Tips Liburan Aman Bersama Bayi

liburan saat pandemi


Dua hal yang saya sebutkan di atas sudah bisa menjadi pertimbangan untuk memilih lokasi yang aman untuk liburan. Setidaknya, sampai lokasi tuh udah tenang. Kita nggak kepikiran ini itu lagi. Tapi, namanya liburan ya. Bisa jadi kita butuh makan di lokasi. Bisa jadi juga, kita butuh tempat untuk menginap. Dan, pastinya kita juga butuh lokasi untuk beribadah. 

Nah loh, kalau sudah begini, banyak faktor lain yang harus dipertimbangkan agar liburan tetap aman dan nyaman bersama bayi. Ada sedikit tips dari saya yang sekiranya bisa membantu kalian yang ingin sekali liburan keluarga dengan budget minimalis tapi tetap aman. Simak ya.

1. Hindari bepergian dengan menggunakan mode transportasi umum


Pingin jalan-jalan ke luar kota atau bahkan luar pulau? Kalau bisa ditahan dulu deh. Apalagi masih punya bayi. Selain pertimbangan jarak, ini lagi ada koronce guys. Kalau pergi keluar kota atau pulau kan pasti butuh transportasi umum. Nggak mungkin naik kendaraan pribadi aja. Sementara itu, kita nggak bisa menjamin apakah orang yang kita temui di sana peduli dengan protokol kesehatan. Realitaya, kita tahu sendiri berapa banyak orang yang sudah abai dengan hal ini.

So, kalau mau liburan, sebisa mungkin untuk menghindari pakai mode transportasi umum. Apalagi bawa bayi. Kalau punya mobil dan bisa dimanfaatkan, alhamdulillah. Kalau misal nggak punya, coba cari tempat lain yang dekat tapi bisa dipakai liburan juga. Bayi tuh mintanya nggak aneh-aneh kok. Sebetulnya, dia nggak diajakin ke mana-mana juga nggak masalah. Kitanya aja yang bosen kalau di rumah aja.

2. Hindari makan di tempat umum

Liburan memang nggak komplit kalau tidak mencicipi kuliner di daerah setempat. Tapi, kita juga harus ingat kalau ini sedang dalam pandemi. Orang makan ya pasti buka masker. Nah, masalahnya tidak semua tempat makan memungkinkan untuk physical distancing. Jadi, kalau memang tidak mendesak sekali, sebaiknya hindari makan di tempat umum. 

Ada baiknya kalau kita bawa bekal makan dari rumah. Semua peralatan makan dari rumah yang kita sudah percaya kebersihannya. Kalaulah ternyata tidak bisa, pilihan drive thru bisa juga dijadikan opsi. Terakhir banget, kalau nggak bisa bawa bekal atau drive thru, coba pilih tempat makan yang tidak terlalu ramai. Jadi, kita masih bisa makan dengan tenang di sana.

"Kalau nggak ramai kan biasanya nggak enak."

Pilih makan enak terus ketemu OTG apa pilih aman? Itu sih pilihannya. Semua kembali ke pilihan masing-masing. Resiko dan konsekuensi juga ditanggung sendiri.

3. Pilih masjid yang aman

Maksudnya apa nih? Gini, awalnya sih saya pikir semua masjid itu sudah aman. Ternyata tidak demikian. Ada masjid yang punya tempat wudhu kecil. Sementara itu, lokasinya di tepi jalan besar dan memang sering dipakai transit sholat. Ini sih sudah jelas big no ya.

Kalau nemu masjid yang begini, mending cari yang lain aja. Ini juga jadi reminder buat kita untuk segera cari tempat sholat kalau udah waktunya. Intinya sih, jangan sholat di injury time. Takutnya nggak keburu dan dapat masjid yang kurang kondusif untuk jaga jarak.

4. Bijak memilih penginapan, bila harus menginap

Saya pribadi tidak menyarankan untuk liburan sampai menginap di suatu tempat. Kenapa? Kita tidak tahu pasti bagaimana SOP hotel ketika pandemi. Iya kalau taat protokol banget. Kalau nggak?

Tapi, semisal harus banget menginap, sebaiknya betul-betul mempertimbangkan hotel yang akan menjadi tujuan. Pilih yang bersih dan nyaman. Selama di hotel, kita bisa  makan dari dalam kamar saja. Meskipun banyak sekali fasilitas yang diberikan oleh hotel, sebelum menggunakan sebaiknya dicek terlebih dahulu bagaimana situasi di sana. Memungkinkan untuk berkerumun atau tidak?

5. Patuhi protokol kesehatan dan jangan memaksa

Maksudnya apa sih? Prioritas utama kita saat ini adalah sehat. Jangan sampai gara-gara liburan terus jadi sakit. Jangan sampai ya. Naudzubillah min dzalik.

So, jangan memaksakan keadaan kalau memang tidak memungkinkan untuk berlibur. Sabar aja dulu. Tunggu keadaan membaik atau ada vaksin. In syaa Allah semua akan indah pada waktunya.

Oya, kalau memang sudah pingin sekali jalan-jalan tapi terkendala ini itu, jalan-jalan keliling kota mungkin bisa jadi pilihan. Tujuannya ke mana? Ke mana aja boleh, asal di mobil aja. Saya biasanya gitu kalau weekend. Keliling Kota Bogor tanpa ada tujuan yang pasti. Literally random.

Kesimpulan


Jadi, kalau ditanya boleh nggak sih liburan bareng bayi saat pandemi? Jawabannya tergantung situasi dan kondisi. Lokasi wisata tujuannya mana, kondisi di sana seperti apa dan lain-lain. Kalau memang memungkinkan untuk jaga jarak dan meminimalisir penyebaran virus, oke-oke aja sih. Tapi kalau tidak ya mending jangan.

Oct 5, 2020

Optimasi Instagram untuk Blogger, Bukan Sekedar Menambah Kunjungan di Blog

optimasi instagram


Peran sosial media bagi seorang blogger memang cukup besar. Boleh dibilang, ini merupakan salah satu jendela pertama artikel kita dapat diakses orang lain. Sebelum akhirnya SEO bekerja, tentunya. Kalau bisa memegang kendali pada platform sosial media, tidak menutup kemungkinan kunjungan di blog kita akan semakin meningkat. 

Ini cukup menarik. Siapa sih yang nggak kepingin blognya laris manis? Semuanya pasti mau, kecuali kalau dia hanya menjadikan blog sebagai diary digital yang orang lain tidak perlu tahu apa isinya.

Sayangnya, semua itu tidak bisa didapatkan secara instan. Jangan dikira ketika kita meletakkan link di sosial media lalu urusan selesai. Kemudian, orang-orang beramai-ramai mengklik tautan yang kita bagikan itu. Tidak semudah itu, Maemunah.

Coba posisikan diri kita sebagai pembaca. Apa sih yang membuat kita mau membaca artikel yang dibagikan di sosial media? Yap, judul yang menarik dan membuat penasaran. Tapi, ini hanya bisa dijangkau kalau postingan kita terbaca. Iya apa iya?

Sosial media yang dulu dan sekarang itu berbeda jauh. Kalau dulu postingan akan tayang berdasarkan kapan kita post, sekarang sudah tidak lagi. Algoritmanya berubah. Dan, kalau mau menguasai masing-masing algoritma dari sosial media ini, tentu akan memakan banyak sekali waktu. Tidak jarang, ini malah bikin pusing sendiri.

It's okay kalau memang sanggup. Tapi, kalau tidak sanggup untuk mempelajari semuanya, dari pada asal posting, coba pilih salah satu platform yang ingin dikuasai. Mau pilih Instagram, Facebook, Twitter, YouTube, atau bahkan TikTok, bebas. 

Ini pula yang saya jadikan alasan untuk tidak mengoptimalkan semua platform sosial media yang saya miliki. Saya hanya mengambil salah satu platform untuk dioptimasi. Dan, pilihan saya jatuh pada Instagram.

Kenapa Memilih Instagram?

Bagi saya dan banyak orang yang memilih untuk mengembangkan platform ini, tentu bukan hanya sekedar suka atau tidak suka saja. Tapi, ada potensi besar yang kami lihat dari Instagram ini. Kita bisa tengok bagaimana gambaran pengguna Instagram di Indonesia ini.

pengguna instagram


Menurut NapoleonCat, pengguna Instagram di Indonesia per Juni 2020 sejumlah 73 juta orang. Ini adalah angka yang amat fantastis. Sebagai blogger, jumlah ini tentu akan amat sangat menguntungkan. Bayangkan bila 1% saja dari pengguna instagram mengunjungi blog kita, berapa banyak traffic yang akan kita dapatkan? Banyak sekali tentunya.

Lebih dari itu, kita bisa memanfaatkan platform ini untuk membangun personal branding. Kita ingin orang mengenal kita sebagai apa. Dari sini, tidak menutup kemungkinan peluang-peluang lain juga akan datang menghampiri kita. Kerja sama dengan brand tertentu, misalnya. Atau, menjual produk atau jasa sendiri. 

Tulisan-tulisan kita di blog pada akhirnya akan mampu dijangkau banyak orang. Banyak orang yang menanti dan menghargai karya kita. Bahkan, ini bisa dijadikan salah satu cara untuk menghasilkan pundi-pundi rupiah.

Mengenal Algoritma Terbaru Instagram

Algoritma instagram


Semua peluang yang bisa kita dapatkan dari instagram akan dapat kita peroleh kalau akun instagram kita bertumbuh. Mau swipe up, bisa. Mau dapat endorse, bisa. Bahkan, mau jadi pembicara pun bisa.

Lalu, bagaimana caranya agar akun kita bisa mengalami pertumbuhan yang signifikan hingga dilirik oleh pembaca atau brand

Mari, kita mulai dari hal yang paling dasar, yaitu mengenal algoritma Instagram. Kalau kita sudah mengenal, tentu akan lebih mudah untuk mencari cara menaklukkannya, bukan?

Seperti yang sudah kita ketahui bersama, Instagram yang dulu ternyata berbeda dengan sekarang. Kalau dulu, kita akan melihat postingan orang lain berdasarkan urutan waktu. Postingan paling atas yang akan kita jangkau adalah postingan yang paling baru ditayangkan. Tapi, kini sudah tidak lagi.

Postingan kita hanya akan dijangkau oleh 10% follower kita. Selebihnya, ini tergantung dari respon mereka. Kalau responnya baik, maka instagram akan memberikan kesempatan pada akun kita untuk dijangkau oleh lebih banyak orang lagi. Kalau tidak, postingan kita akan tenggelam begitu saja. Artinya, punya follower banyak tidak bisa menjadi jaminan postingan kita sampai ke audience

Dulu, Instagram biasa digunakan untuk mengumpulkan portofolio karya kita. Punya foto menarik, post. Abis ngisi seminar, post. Anak kita bisa ini itu, post. Selebihnya, orang akan mudah sekali menjangkau itu semua. Saking mudahnya, sering kali mengganggu juga.

Mungkin karena alasan itu juga, akhirnya Instagram mengubah algoritmanya. Tidak peduli berapa banyak follower yang kita miliki, instagram hanya akan menayangkan berdasarkan apa yang follower kita suka. Bagaimana tahunya suka atau tidak? Ini dilihat dari interaksi mereka. Suka sama akun seperti apa sih? Biasanya reply, like, coment, save, dan share akun seperti apa?

Instagram yang dulunya tempat mengumpulkan portofolio berubah menjadi tempat membangun kehidupan sosial di dalamnya. Artinya, bukan hanya seberapa banyak karya yang mampu kita sajikan, tapi berapa banyak interaksi yang ada di dalamnya. Semakin banyak interaksi yang mampu dihasilkan, maka makin sering juga akun kita direkomendasikan instagram ke akun-akun lain. Instagram kini menuntut kita untuk lebih aware lagi pada konten apa yang akan kita sajikan dan kapan waktu menayangkannya agar jangkauannya bisa lebih luas lagi.


Strategi Pengembangan Akun Instagram

Banyak orang mengira bahwa semakin banyak follower yang dimiliki, maka semakin banyak juga jangkauan yang bisa kita dapatkan. Ini tidak sepenuhnya salah. Meskipun, tidak benar juga.

Kenapa demikian? Iya betul, semakin banyak follower memang bisa memberikan jangkuan besar. Kurang lebih ada 10% follower kita yang mampu melihatnya. Tapi, ini hanya berlaku di 1 jam pertama setelah postingan kita ditayangkan. Apakah postingan kita akan dijangkau lebih banyak orang atau tidak, ini tergantung dari konten yang kita sajikan. Apakah dia mampu menarik interaksi pengguna lain atau tidak. Artinya, basis follower yang besar, bisa jadi memiliki jangkauan yang lebih kecil dibanding akun dengan follower kecil. Ini bisa terjadi bila konten yang disajikan tidak menarik bagi audiences.

Jadi, apa langkah yang harus saya lakukan. Ada beberapa strategi pengembangan instagram yang sudah saya jalani sejak awal September lalu. Apa saja itu?

strategi optimasi instagram


1. Menentukan niche dan target pembaca

Memang, menentukan niche dan target pembaca itu adalah hal yang tidak mudah. Ini bahkan seperti sebuah pencarian jati diri. Tapi, percayalah. Setelah kita memilih niche, apalagi yang lebih spesifik, ini akan memudahkan langkah kita selanjutnya.

Niche bukan hanya sekedar tema besar yang akan kita pilih. Niche juga mampu memudahkan kita untuk branding diri. Kita ingin dikenal sebagai siapa. Itu pula tujuan memiliki niche. Dari sini, siapa target pembaca kita, konten apa saja yang akan disajikan, mau belajar apa untuk memperdalam konten, ini semuanya akan jauh lebih mudah.

Sama seperti orang lain, saya juga butuh waktu hingga bisa menentukan niche apa yang saya pilih. Setelah bertapa sekian purnama, saya pun memilih untuk menggunakan niche parenting. Baik di blog, maupun Instagram saya. Target pembaca yang saya pilih adalah ibu maupun calon ibu dengan range usia 25-34 tahun.

2. Membuat konten yang menarik

Content is the key. Ada dua tipe konten yang biasanya akan mendatangkan banyak interaksi. Pertama, konten yang menghibur. Kedua, konten edukasi.

Konten hiburan ini bisa dalam bentuk sajian visual. Konten-konten photography, kecantikan, musik, atau meme lucu, misalnya. Saya pribadi kurang bisa membuat konten semacam ini. Jadi, saya pilih tipe konten edukasi.

Sejak awal September, saya secara rutin membuat konten edukasi seputar parenting di akun instagram saya. Ini cukup mendatangkan banyak sekali interaksi bahkan follower baru secara organik. Tidak hanya itu, konten-konten yang saya buat juga banyak direpost maupun share oleh akun lain. Jangkauan yang dihasilkan oleh konten tersebut, bahkan ada yang melebihi follower yang saya miliki.

Apa imbasnya ke blog saya? Website click dari instagram juga naik. Meski tidak banyak. Mungkin, kalau follower saya sudah tembus angka 10k, website click ini bisa lebih banyak dari ini.

3. Riset hashtag

Konten yang saya buat bisa menjangkau banyak orang tidak lain dan bukan karena hashtag yang saya sematkan di setiap postingan. Hashtag yang ada tentu bukan sembarang hashtag. Saya memilih hashtag yang relevan dengan konten saya. Selain itu, saya pilih volume yang tidak terlalu besar. 

Kenapa demikian? Ini agar konten saya bisa mendominasi hashtag tersebut. Jadi, kemungkinan orang menjangkau postingan saya pun semakin besar.

Berapa jumlah hashtag yang biasa saya pakai? Ini tidak tentu. Untuk konten carousel, biasanya saya menyiapkan sedikitnya 10 kelompok hashtag. Dalam setiap postingan, hashtag yang saya gunakan juga berbeda.

4. Bangun interaksi

Interaksi adalah cara yang bisa kita gunakan untuk memperluas jangkauan konten kita. Poin utamanya, pastikan konten yang kita sajikan memiliki banyak interaksi di 1 jam pertama setelah tayang. Bagaimana caranya? Saya biasanya bergabung ke dalam support group untuk meningkatkan interaksi. Selanjutnya, respon tiap interaksi yang masuk. Kalau ada komentar, DM, atau respon dari story, sebisa mungkin saya balas.

5. Penjadwalan

Ini rahasia saya yang lain untuk bisa konsisten posting di Instagram. Mungkin banyak yang bertanya-tanya bagaimana caranya saya bisa membuat konten dan menayangkannya di prime time? Sementara itu, saya masih punya bayi yang begitu bergantung pada saya. Nah, ini dia jawabannya.

Saya biasa menggunakan Creator Studio untuk menjadwalkan konten apa yang akan tayang di akun Instagram saya. Waktu tayang, biasanya saya sesuaikan dengan jam kerja support group. Tentu saja, ini untuk mengoptimasi hashtag yang sudah saya pilih.

Lalu, kapan saya membuat konten-konten di instagram? Tentu saja menunggu Ghazy tidur. Setelah dia tidur, baru semua konten bisa saya eksekusi.

6. Pastikan jaringan internet memadai

Ini sih bagian yang tidak bisa ditawar lagi. Tanpa ada internet, artikel di blog tidak akan bisa tayang. Tanpa internet, artikel kita juga tidak akan bisa disebarkan melalui instagram atau platform sosial media yang lain. Tanpa internet juga, kita tidak bisa riset konten, membuat desain konten, hingga melakukan optimasi. Ya, kita butuh internet untuk lakukan semua strategi yang saya tuliskan di atas.

Sejak pandemi, aktivitas semua orang memang lebih banyak di rumah. Penggunaan internet juga semakin meningkat. Karena alasan inilah, akhirnya saya dan suami memutuskan untuk pasang wi-fi di rumah. Kami kira masalah akan selesai sampai di situ. Ternyata, tidak.

Wi-fi amat sangat bergantung dengan listrik. Selain itu, dia juga tidak bisa dibawa ke mana-mana. Jadi, kalau mati lampu atau harus keluar rumah. Bye internet.

IM3 FREEDOM U


Alhamdulillah, kini ada IM3 ooridoo yang bisa dijadikan solusi masalah tersebut. Sekarang kita bisa semakin puas untuk #TerusTerusan akses aplikasi menggunakan Freedom U. Di dalamnya sudah ada aplikasi-aplikasi tambahan baru, seperti Netflix, Snapchat, Zoom, Webex, Microsotf Teams, Skype, dan Google Classroom. Selain ittu, kita masih bisa mengkases apkasi  favorit lainnya, seperti YouTube, Instagram, TikTok, Facebook, Spotify, Joox, WhatsApp, dan Line.

Mau riset konten? Bisa. Mau meeting dengan klien? Bisa. Mau update konten di Instagram? Bisa. Atau mau sekedar scrolling Instagram aja? Bisa banget.

Selain itu, kita juga tidak perlh khawatir lagi dengan pemakaian kuota aplikasi karena menggunakan kuota utama untuk tetap melanjutkan akses kuota aplikasi. Jadi makin non-stop internetan karena pulssa kita akan tetap aman dengan PULSA SAFE. Enaknya lagi, kuota bisa dipakak di mana saja.

Jangan Lupa untuk Menjadi Manusia

just be human


Saya memang cukup serius untuk mendalami instagram ini. Itu sebabnya, saya banyak belajar mengenai optimasi instagram. Alhamdulillah, bulan September lalu Komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis bekerja sama sengan IM3 ooridoo untuk menggelar rangkaian webinar. Totalnya, ada 25 webinar yang mereka selenggarakan dengan tema "Mengoptimalkan Peluang Dunia Blog". Salah satu materi yang disampaikan adalah tentang Optimasi Intagram untuk Mendukung Dunia Blog

Materi tersebut disampaikan oleh ibu muda yang begitu energik, yaitu Mbak Pungky Prayitno. Satu jam materi bersama beliau begitu menyenangkan. Penyampaiannya juga sederhana dan mudah untuk dimengerti. Bahasa-bahasa teknis instagram yang tidak jarang bikin pusing, bisa beliau ramu dengan sederhana.

Satu hal yang beliau sampaikam dalam webinar tersebut yang amat mengena di hati saya.

"Jadilah manusia."

Adakalanya, kita perlu mengenyampingkan segala hal yang berhubungan dengan algoritma Instagram. Adakalanya, kita juga perlu mengabaikan segala strategi optimasi Instagram. Kemudian, cukup menjadi manusia seutuhnya.

Waktu kita tidak hanya digunakan untuk bermain Instagram. Kita juga punya kehidupan lain. Ada anak dan pasangan yang butuh diperhatikan. Ada rumah yang butuh sentuhan kita. Jangan sampai kesibukan kita di dunia maya membuat kita lupa akan apa yang ada di depan mata kita.

Ini cukup menyentil bagi saya. Sejak menjalankan strategi yang saya tulis di atas, saya memang jadi sering kurang tidur. Saya akan marah kalau ketiduran dan tidak dibangunkan oleh suami. Padahal, maksud beliau baik.

"Semalam kan Adek tidurnya cuma bentar."

Saya tidak bilang bahwa saya tidak bahagia menjalani itu semua. Saya senang menjalani semuanya. Saking senangnya, begadang hampir tiap malam pun tidak terasa lelah. Tapi, kalau itu diteruskan, rasanya saya akan berubah menjadi robot. Karena alasan ini pula, saya ubah lagi strategi supaya tetap bisa selow menjalankan semua ini. Intinya, waktu saya bersama keluarga, menjalankan amanah sebagai istri dan ibu, serta istirahat saya tidak lagi terganggu.

Kesimpulan

Well, kita sudah sampai ke kesimpulan. Intinya sih, Instagram bagi blogger itu adalah salah satu jendela yang bisa membuka peluang-peluang baru. Mau mendatangkan kunjungan bisa, mau branding diri bisa, apalagi untuk menunjukkan karya yang sudah kita hasilkan. Semuanya bisa. Hanya saja, itu semua butuh proses dan kegigihan untuk mewujudkannya. Kalau kita mau usaha dan tidak berhenti berjuang, apa yang kita impikan pasti bisa terwujud.

Mau punya banyak follower? Bisa. Mau blog ramai kunjungan? Bisa. Mau punya pembaca setia? Bisa juga. 

Semangat!

***

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Blog IM3 Ooredoo X IIDN Mengoptimalkan Peluang Dunia Blogging

lomba blog



Sep 28, 2020

Membiasakan Anak Tidur di Awal Waktu Tanpa Drama

sleep training



Soal waktu tidur bayi, ini sudah menjadi perhatian saya jauh sebelum saya hamil. Mengingat, saya menikah ketika banyak teman saya sudah menikah dan hamil setelah banyak teman saya punya anak. Alhamdulillah, karena hal ini juga, saya jadi dikasih banyak sekali bocoran tentang hal apa saja yang nanti akan saya hadapi ketika jadi ibu. Salah satu hal yang sering membuat para ibu pusing adalah jam tidur anak. Seolah setelah jadi ibu, begadang itu adalah hal yang lumrah.

Dari Instastory teman, saya sering melihat anaknya pukul 11 malam belum tidur dan masih super aktif. Kalau jam tidur siangnya kacau, malamnya juga jauh lebih kacau lagi.  Kondisi yang lebih parah akan terjadi di 3 bulan pertama jadi ibu. Sudah pasti banyak kebangunnya untuk menyusui anak. Jujur saja, ini agak mengerikan buat saya. Berat sekali kalau ini yang terjadi.

Suatu hari, teman saya cerita begini, "aku tuh nggak pernah kesulitan buat menidurkan Ale dari dia bayi. Waktunya tidur ya tidur. Pernah sih, paling cuma semingguan aja nggak sampai 3 bulan kaya orang-orang. Aku cuma bilang ke Ale kalau ini sudah malam, kalau dia nggak mau tidur, Ibu yang tidur. Jadi dia mau ngapain aja terserah dia, aku tinggal tidur aja."

Well, mungkin kesannya, ini ibu macam apa sih kok meninggalkan anaknya tidur. Tapi saya percaya nggak mungkin 100% ditinggalkan. Paling ya cuma pura-pura tidur saja. Meskipun, mungkin ada waktunya ketiduran juga. Wkwkwkwk..

Lepas dari pro kontra yang ada, saya jadi terinspirasi dengan teman saya ini. Saya punya cita-cita kalau nanti punya anak sebisa mungkin tidak mengalami drama sulit menidurkan anak. Padahal, waktu itu hilal jodoh literally belum kelihatan. Kalau jodohnya aja belum ada, apalagi kemungkinan punya anaknya. Ya makin jauh. Tapi, nggak masalah. Punya cita-cita dulu aja.

Sleep Training, Mulai dari Mana?


Kalau ditanya mulai dari mana, sudah pasti mulai dari cari ilmunya dulu. Buat saya pribadi, ini semacam keharusan untuk memulai apapun. Jadi ibu itu banyak sekali ladang ibadahnya. Melahirkan itu ibadah, menyusui ibadah, merawat anak ibadah, menidurkan bayi pun ibadah. Masya Allah banget nih. Alangkah sayang kalau ibadah-ibadah ini tidak dijemput dengan ilmu. 

Kenapa? Tanpa ilmu semua akan jadi terasa berat. Kenikmatan menjalani semua ibadah ini juga jadi berkurang. Alih-alih bersyukur karena sudah dikasih kesempatan ini itu, malah kesal terus-terusan dengan keadaan. 

Urusan menidurkan bayi pun demikian. Sebelum punya bayi, sebisa mungkin tahu dulu apa yang harus dilakukan. Masalah teori yang berbeda dengan kondisi di lapangan, ini dipikir nanti. Setidaknya, dengan banyak belajar, kita jadi punya banyak sekali opsi untuk dicoba ketika kondisi tak sejalan dengan teori yang ada.

Oke, sekarang dari mana saya belajar soal menidurkan bayi. Ini juga hal yang patut saya syukuri. Semacam dituntun gitu sama Allah. Saya ketemu sama sosok yang begitu menginspirasi saya. Nama Mbak Resti. Saya banyak sekali belajar pengasuhan dari beliau.

Mbak Resti ini musyrifah saya. Dulu, saya halaqah tiap habis subuh di rumahnya. Meski halaqahnya pagi sekali, biasanya anaknya, Sofia, sudah bangun sebelum saya dan teman saya datang. Bukan bangun yang rewel, tapi sudah beraktivitas seperti biasa. Main layaknya anak kecil yang lain.

Beliau cerita kenapa anaknya bisa bangun dan main-main sepagi itu. Ternyata, ini tak lain dan tak bukan karena waktu tidurnya yang teratur. Sofia biasa tidur jam 8 malam. Semalam-malamnya pukul 9 malam. Mendekati jam tidur, Mbak Resti dan suami kondisikan rumah dalam kondisi gelap dan tidak ada aktivitas yang menggunakan listrik. Suami masih mau kerja? Tunggu anak dulu.

Alhamdulillah, dengan cara ini, jam tidur Sofia bisa ditaklukkan. Meski, ceritanya jadi lain lagi ketika dia mulai disapih. Jam tidur sempat berubah. Jadi pembiasaan tidur harus mulai lagi dari awal dengan kondisi yang baru.

Cara Mbak Resti ini cukup masuk akal mengingat hal ini juga dilakukan oleh ibu saya dulu. Waktu kecil, rumah kami akan digelapkan ketika sudah jam 9 malam. Anak-anak harus sudah masuk kamar jam 9 malam. Mau ngantuk atau tidak, jam 9 sudah di kamar dan mulai dikondisikan tidur. Biasanya saya dan adik tidak butuh waktu lama setelah doa tidur dibacakan.

Jadi, cara ini yang saya tiru.


perfect sleep arna skula



Selain pengalaman orang lain, saya juga membaca buku yang berjudul Perfect Sleep karangan Arna Skula. Buku ini saya beli di BBW Jakarta 2019. Dari buku ini, saya banyak belajar tentang waktu biologis bayi. Berapa lama dia butuh tidur, kapan saja dia tidur dan terjaga, dan apa saja yang mempengaruhi pola tidur bayi. Satu hal yang saya highlight ketika belajar tentang sleep training ke anak.

Tidak ada pakem khusus untuk menidurkan anak. Ini semua kembali ke pilihan masing-masing keluarga. Apakah bayi ingin diajarkan tidur terpisah atau tidak, cara menidurkan seperti apa, ini dikembalikan ke masing-masing. Apapun pilihan yang dibuat, kuncinya adalah konsisten menjalani pilihan tersebut.

Pola Tidur yang Diharapkan

Ini semacam tujuan yang harus ada sebelum para orangtua menyusun strategi sleep training. Beda tujuan, tentunya beda juga caranya. Kalau saya dan suami targetnya hanya agar anak-anak kami tidur di awal waktu. Sebelum jam 9 malam sudah tidur. Lebih cepat akan lebih baik. Jadi, kami punya waktu istirahat yang cukup dan bisa melakukan hal lain di malam hari. Pillow talk, misalnya.

Apakah bayi kami harus tidur sendiri? Tidak. 

Ini mungkin berbeda dengan bayi-bayi di luar yang biasanya sudah tidur sendiri di bawah usia 1 tahun. Beberapa ibu di Indonesia juga ada yang melakukan ini. Tapi, kalau saya dan suami memilih untuk tidak melakukannya. Karena targernya hanya ini, tentu saja secara praktik akan lebih minim drama dibanding ibu-ibu yang mengharapkan anaknya sudah bisa tidur sendiri di usia yang bahkan kurang dari 1 tahun.

Kenapa bayi harus tidur lebih awal? 

Ini tidak jauh dari pembiasaan agar dia bangun lebih awal juga. Tiap muslim nantinya butuh untuk bangun pagi untuk melaksanakan sholat subuh. Kalau mereka tidak biasa untuk bangun pagi, pasti berat sekali menjalankannya. Selain itu, bayi juga butuh waktu tidur yang lama untuk masa pertumbuhannya. Untuk bisa memenuhi keduanya, bangun subuh dan waktu tidur yang cukup, bayi harus tidur di awal waktu.

sleep training


Proses Sleep Training


Belajar sudah, target yang diharapkan sudah ada, anak pun sudah launching. It's show time.

Saya mulai sleep training sejak Ghazy bayi. Sebetulnya, ini tidak disengaja. Waktu Ghazy lahir, saya tidak merencanakan untuk langsung memulai sleep training ini. Boro-boro mau sleep training, menggerakkan badan saja susah. Tapi memang sejak Ghazy lahir, saya seolah dibimbing untuk melakukan sesuatu ke Ghazy.

Sleep training Ghazy dimulai di usianya yang baru 2 hari. Waktu itu Ghazy tidur seharian saat pagi hari dan terjaga semelek-meleknya di malam hari. Jam 8 malam semakin segar. Saya coba tidurkan, tidak berhasil. Ibu saya tidurkan, tidak berhasil juga. Ghazy bukan hanya terjaga tapi juga rewel semalaman. Masya Allah.

Saya coba susui Ghazy, dia tidak mau. Mungkin bukan tidak mau, tapi merasa tidak nyaman. Waktu itu bingung bukan main. Apa sih yang Ghazy minta?

Saya coba tenangkan diri lalu teringat kalau suami punya aplikasi untuk memahami tangisan bayi. Dari aplikasi otu, kami tahu kalau Ghazy lapar. Saya coba susui Ghazy. Berhasil tenang, tapi dia tidak kunjung tidur. Alih-alih tidur, dia malah asyik lihat lampu-lampu di kamar rumah sakit. Dari sini, saya seolah mendapatkan pencerahan. Saya ingat apa yang dilakukan ibu saya dan Mbak Resti. Ini beberapaa hal yang saya lakukan ketika membentuk pola tidur Ghazy

1. Mematikan lampu kamar

Waktu sedang ikhtiar untuk promil, saya coba banyak belajar tentang apa saja yang bisa memperbaiki metabolisme tubuh. Salah satunya adalah mengatur pola tidur yang benar. Pola tidur yang benar ini bukan hanya tentang berapa lama saja, tapi juga kapan. Supaya bisa tidur cepat, salah satu ikhtiarnya adalah menjauhkan semua benda yang bisa menyebabkan sleep delay.

Apa saja itu? Lampu, layar gadget, ini makin besar layarnya, makin lama waktu tidur yang tertunda. Kalau misal kita tertidur dalam kondisi sedang nonton TV atau main gadget, itu karena tubuh kita sudah amat kelelahan dan ini justru tidak baik. Dari sini juga, saya mengupayakan untuk mematikan lampu dan menjauhkan segala aktivitas yang membutuhkan gadget.

Dulu, waktu pertama kali memulai ini betul-betul tidak disengaja. Ini karena Ghazy yang sulit tidur dan lebih asyik melihat lampu saat malam hari. Saya pikir, kalau semua distraksi bisa dialihkan, pasti Ghazy bisa tidur lebih cepat. Apakah kenyataannya demikian? Tentu saja tidak. Butuh waktu untuk bisa menidurkan Ghazy. Tapi dengan kondisi gelap, semuanya jadi lebih mudah. Selain hal yang mendistraksi Ghazy dihilangkan, faktor yang membuat sleep delay juga dijauhkan.

Waktu saya operasi mastitis, Ghazy sempat saya titipkan ke ibu saya. Malamnya, saya dapat laporan kalau Ghazy belum juga tidur. Alih-alih makin ngantuk, anaknya justru makin segar di malam hari. Padahal, waktu sudah menunjukkan pukul 10 lewat.

Saya sampaikan kalau seharusnya jam 7 malam, rumah sudah harus digelapkan supaya Ghazy bisa cepat tidur. Akhirnya, ibu saya coba untuk mematikan lampu dan membawa Ghazy ke kamar yang paling gelap. Ternyata, tidak berhasil juga. 

Iya, memang butuh waktu. Tidak bisa hanya gelap saja, butuh cara lainnya juga.

2. Mengajarkan bayi konsep siang dan malam

Di awal kehidupannya, bayi sama sekali tidak paham dengan konsep siang dan malam. Ini juga yang menjadi penyebab kacaunya jam tidur bayi. Mereka belum tahu kapan harus main dan istirahat. Jadi, kalau mau bayi tidur lama di malam hari, dia harus diajarkan konsep ini.

Bagaimana caranya?

Mudah kok. Pertama buat kondisi yang berbeda antara siang dan malam. Misal, lampu ruman hanya menyala saat malam hari, mengenalkan gelap terang ke bayi. Kalau terang, artinya siang. Dia bisa bebas main di sini. Kalau gelap, artinya sudah malam dan waktunya semua orang istirahat.

"Sudah malam, ayo kita bobo," ini yang biasanya juga saya sampaikan ke Ghazy.

Ini perlu berulang kali dijelaskan. Sikap kita juga harus berbeda ketika siang dan malam. Kalau malam dan dia belum tidur, saya akan biarkan dia main sendiri. Saya tidak akan menemani dia. Ini berbeda kalau siang hari, kami biasanya akan bermain bersama. Saya tidak hanya menyampaikannya melalui kata-kata saja, tapi juga memberikan contoh ke Ghazy kalau malam adalah waktunya istirahat. Biasanya, sambil menyusui Ghazy, saya pejamkan mata saya. 

Adanya bed time routine juga membantu kita untuk mengenalkan waktu tidur ke bayi. Biasanya sebelum tidur, saya ajak Ghazy ke kamar mandi dulu untuk ganti popok dan sikat gigi. Kalau sudah, baca buku dulu sama-sama, baru matikan lampu dan siap-siap tidur. Dalam kondisi gelap ini, doa tidur mulai dibacakan. Ini sambil disusui ya. Kadang saya tepuk pelan dia, kadang dielus, kadang juga didiamkan saja. Pastinya, HP tidak dinyalakan saat sedang mengkondisikan Ghazy tidur.

Jadi, waktu Ghazy dititipkan ke ibu, saya juga bilang kalau yang lain harus pura-pura tidur juga supaya Ghazy mengerti ini sudah malam dan waktunya istirahat. Kalau cara ini masih juga belum berhasil, maka saya pakai cara terakhir. Jurus terampuh membuat Ghazy tidur.

3. Buat bayi memilih

Ini jurus andalan yang saya pakai kalau kedua cara di atas masih juga belum berhasil membuat Ghazy tidur. Saya buat Ghazy memilih antara tidur dengan saya atau main sendiri. Dia memang belum bisa menjawab, tapi baahasa tubuhnya bisa membuat pilihan. Kalau dia masih main, artinya dia mau main sendiri. Saya akan pura-pura tidur sampai Ghazy sadar kalau dia sendirian.

Tentu, untuk melakukan ini semua kondisi yang membahayakan bayi harus dijauhkan. Misal, bayi sudah mulai merangkak, sebelum ditinggal pura-pura tidur, kita harus memastikan bahwa bayi tidak akan jatuh. Pasang bedrail atau bantal di sekitar kasur untuk mengamankan situasi. Jadi, kalau kita tertidur saat sedang pura-pura, bayi tetap aman.

Biasanya tidak butuh waktu lama sama dia sadar kalau ditinggal tidur. Saya biasanya diamkan dulu selama beberapa menit. Saya biarkan dia menangis dan mencoba membangunkan saya. Kira-kira butuh waktu 1-2 menit untuk membuat efek jera ke bayi. Kalau dia sudah menyesal, biasanya saya akan bangun dan bertanya lagi, "sudah mainnya? Mau bobo sama Ummi?"

Setelah itu, baru saya kondisikan dia tidur. Saya susui dia sampai tertidur. Ini juga tidak butuh waktu lama, paling cum 15 menit saja. 

4. Jangan lupa untuk bersepakat

Proses sleep training akan sulit berhasil kalau ayah dan ibunya belum sepakat dengan cara dan kapan anak tidur. Misal, si ibu mengupayakan menidurkan bayi, sementara ayahnya masih asyik nonton TV. Ya sulit. Atau, ketika ingin pura-pura tidur, ibunya sudah pura-pura tidur, ayahnya masih menemani main, ya sulit juga.

Untuk cara pertama dan kedua, suami saya sudah amat familiar dengan ini. Tapi tidak dengan cara ketiga. Biasanya beliau pulang saat Ghazy sudah tidur, jadi tidak tahu proses apa yang dilalui untuk membuat Ghazy tidur. Pernah suatu kali, ketika saya minta suami untuk ikut pura-pura tidur, dia berbisik.

"Ghazy nangis tuh," ini maksudnya supaya saya segera menenangkan dia.

"Tunggu dulu."

Setelah hitungan selesai, Ghazy saya tidurkan, baru suami saya paham apa maksud saya. 

"Ooo jadi gini caranya nidurin Ghazy?"

5. Penuhi kebutuhan main dan makan bayi

Ini salah satu yang saya pelajari juga dari buku Perfect Sleep. Bayi akan mudah ditidurkan kalau makanannya sudah terpenuhi. Dalam kondisi kenyang, tentu akan lebih mudah untuk tidur. Setelah Ghazy MPASI, ini memang jadi tantangan tersendiri. Kalau Ghazy makan lahap hari itu, biasanya malamnya dia akan tidur lebih mudah.

Tapi, bukan cuma makan saja ternyata. Saya mengamati bahwa anak seusia Ghazy itu punya energi yang besar sekali. Kalau energi ini tidak disalurkan, maka dia akan sulit untuk tidur di malam hari. Misal, waktu pagi sampai sore Ghazy tidak banyak beraktivitas, malamnya pasti sulit ditidurkan. Alih-alih tidur, dia akan justru keliling kasur terus menerus.

Untuk antisipasi hal ini, biasanya saya akan memberikan kesempatan untuk main sebelum akhirnya cara pertama sampai ketiga saya terapkan ke Ghazy. 

"Ummi kasih waktu sampai HP Ummi bunyi ya. Setelah itu, kita tidur."

Batas waktunya adalah sampai HP berbunyi. Ini karena Ghazy belum paham konsep waktu juga. Jadi batasan dia boleh main juga harus menggunakan cara yang dia pahami.


sleep training
Kalau  tidur kamarnya bisa segelap ini


Tentang Pola Tidur Ghazy


Setelah ikhtiar yang saya lakukan di atas, alhamdulillah saya jarang sekali bermasalah dengan waktu tidur Ghazy. Semalam-malamnya, Ghazy tidur pukul 21.30. Waktu masih baru lahir dia juga tidur jam segitu. Masih suka bangun untuk mencari ASI tapi tidak sampai rewel. Asal kebutuhan ASI-nya terpenuhi masalah selesai.

Semakin besar, waktu terbangunnya di malam hari semakin berkurang. Di usia Ghazy yang 10 bulan ini, biasanya jam 20.00 dia sudah minta tidur. Jam 21.00 dan 22.00 masih suka terbangun untuk minta ASI. Selebihnya, dia akan tidur sampai subuh. Kisaran jam 3 atau 4 pagi, dia bangun lagi untuk minta ASI. Subuh juga bangun, meski tidak lama. Biasanya setelah sholat, dia sudah merengek untuk minta ASI lalu tertidur lagi. Jam 6 atau 6.30, Ghazy bangun lagi untuk main dan sarapan.

Iya, semudah itu mengkondisikan Ghazy.

Pola tidur seperti ini mungkin akan berubah lagi ketika Ghazy akan sapih nanti. Mungkin. Bisa juga tidak kalau sapihnya pelan-pelan. Nanti, kalau Ghazy sudah melalui proses sapih, saya akan cerita lagi.

Kesimpulan

Ada banyak sekali cara yang bisa kita pilih untuk membentuk pola tidur anak. Ini kembali ke masing-masing orangtua. Tapi, kalau kalian ingin menidurkan bayi dengan mudah dan minim drama, cara saya bisa juga dicoba. Siapa tahu berhasil.

Kalau kalian punya cara lain yang sama efektifnya, share di kolom komentar ya.

Sep 21, 2020

Kenali dan Deteksi Pikun Sejak Dini

pikun


Pernah nonton film A Moment to Remember? Ini film Korea yang cukup lama. Saya sendiri nonton film ini waktu masih kuliah. Kira-kira 9 atau 10 tahun yang lalu. Film ini bercerita tentang pasangan suami istri yang istrinya mengidap Demensia Alzheimer. Apa itu? Mudahnya, pikun. 

Ini lumayan parah. Dalam cerita itu, istrinya bisa lupa jalan pulang ketika sedang pergi ke tempat belanja yang biasa dikunjungi. Parahnya, dia lupa kalau sudah menikah. Dia pikir masih pacaran dengan mantannya yang dulu. Singkat cerita, akhirnya dia kehilangan hampir seluruh memori yang dia miliki.

Film ini betul-betul mengandung bawang. Saya menangis sesenggukan saat menyaksikannya. Tapi, gara-gara film ini juga, saya jadi sering mempertanyakan diri sendiri. Jangan-jangan saya kena Alzheimer juga, saking seringnya lupa. Semua pertanyaan itu kemudian sirna setelah saya mengikuti Festival Digital Bulan Alzheimer Sedunia yang diselenggarakan hari Minggu, tanggal 20 September 2020 kemarin.

pikun


Mengenal Demensia Alzheimer


Tentang lupa, saya ini sering banget lupa ini itu. Sering banget mau ambil barang di kamar, begitu masuk kamar, lupa mau ngapain. Atau, ketika mau ambil sesuatu di kulkas. Begitu buka kulkas, mata hanya mampu menatap nanar tanpa tahu mau ambil apa tadi. Masih banyak contoh yang lain. Suami saya dari yang B aja sampai kesal sendiri dengan ini.

Gara-gara ini, saya pernah kepikiran jangan-jangan saya kena Alzheimer seperti Su Jin di film A Moment to Remember. Alhamdulillah, kemarin saya ikutan webinar yang diadakan oleh PT Eisai Indonesia (PTEI) dan Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf  Indonesia (PERDOSSI). Melalui webinar ini, saya mulai paham Demensia Alzheimer itu apa? Kalau kita sering lupa, apakah ini sudah termasuk gejala Demensia Alzheimer atau bukan? Nah, kita akan bahas di sini.

Apa itu Demensia Alzheimer?


Demensia Alzheimer merupakan sindrom gangguan penurunan fungsi otak yang dapat mempengaruhi fungsi kognitif, emosi, daya ingat, perilaku, serta kemampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Kita sering menyebut ini dengan pikun. Nah, pertanyannya, apakah pelupa ini sama dengan pikun? Ternyata, tidak.

Apa bedanya pelupa dan pikun?


Lupa dan pikun merupakan dua hal yang berbeda. Kalau lupa, ini terjadi karena gangguan pemusatan perhatian. Ini tidak permanen, hanya sementara. Cirinya, lupa nama orang yang jarang ketemu, mengeluh sering lupa tapi bisa memberikan contoh hal yang dilupakan, sesekali kesulitan menemukan kata yang tepat saat berbicara. Selain itu, biasanya dia akan ingat hal penting, pembicaraan tidak terganggu, kehidupan sosial seperti biasa, kadang kesulitan menentukan arah, tapi tidak
sampai tersesat.

Sedangkan pikun, ini terjadi karena fungsi kognitif menurun disertai gangguan aktivitas keseharian. Cirinya, pasien bisa lupa nama orang yang sering ketemu, mengeluh lupa hanya bila ditanya, dan tidak bisa memberikan contoh apa yang dilupakan. Pasien juga sering kesulitan menemukan kata yang tepat saat berbicara. Mereka juga sering lupa hal penting, kemampuan bicara sangat terganggu, kehilangan minat untuk aktifitas sosial, dan juga sering tersesat meski sedang di lingkungan sekitar rumah saja.

Kalau menurut definisi dan cirinya, alhamdulillah saya nggak pikun. Tapi, saya pelupa saja.

Pentingnya Deteksi Dini Alzheimer


pikun


Seperti yang kita ketahui bersama, penyakit ini banyak sekali dialami oleh para lansia. Saking banyaknya, kita jadi menganggap ini sebagai hal yang normal. Padahal berdasarkan data dari Alzheimer’s Disease International dan WHO, terdapat lebih dari 50 juta orang di dunia mengalami demensia dengan hampir 10 juta kasus baru setiap tahunnya. Dari banyaknya kasus tersebut, Alzheimer menyumbang 60-70% kasus.  

Jika gejala ini mampu dideteksi sedari dini, ini akan membantu penderita dan keluarganya untuk dapat menghadapi dampak penurunan fungsi kognitif dan pengaruh psiko-sosial dengan lebih baik. Selain itu, percepatan kepikunan juga bisa dikurangi. Ini sebabnya, deteksi Demensia Alzheimer sejak dini itu penting dilakukan agar penderita mampu mendapatkan penanganan yang tepat sebelum keadaan semakin memburuk.

Dalam Festival Digital Bulan Alzheimer Sedunia kemarin, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, dr. Siti Khalimah, Sp.KJ, MARS juga mengatakan, “Saat ini kita mulai memasuki periode aging population, dimana terjadi peningkatan umur harapan hidup yang diikuti dengan peningkatan jumlah lanjut usia (lansia). Indonesia mengalami peningkatan jumlah penduduk lansia dari 18 juta jiwa (7,56%) pada tahun 2010, menjadi 25,9 juta jiwa (9,7%) pada tahun 2019, dan diperkirakan akan terus meningkat dimana tahun 2035 menjadi 48,2 juta jiwa (15,77%). Jumlah lansia yang terus meningkat tersebut dapat menjadi aset bangsa bila tetap sehat dan produktif. Namun lansia yang tidak sehat dan tidak mandiri akan berdampak besar terhadap kondisi sosial dan ekonomi bangsa. Demensia Alzheimer merupakan salah satu ancaman bagi lansia di Indonesia saat ini."

Lebih lanjut  dr. Siti Khalimah, Sp.KJ, MARS mengatakan, “Kementerian Kesehatan mendukung penuh Festival Digital Bulan Alzheimer Sedunia ini karena merupakan bagian dari edukasi yang sangat penting untuk mencegah lansia terkena Demensia Alzheimer. Harapannya, makin banyak lansia yang terdeteksi Demensia Alzheimer dapat ditangani sejak awal sehingga dapat terus produktif.”

pikun



Upaya untuk Mengenali dan Mendeteksi Pikun Sejak Dini


Mengingat pentingnya untuk kenal dan mampu mendeteksi pikun sejak dini, tentunya harus ada upaya yang dilakukan supaya semakin banyak orang yang paham akan hal ini? Bagaimana caranya? Salah satu caranya adalah dengan melakukan Kampanye Edukatif #ObatiPikun. Dalam kampanye ini, PT Eisai Indonesia dan Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI) mengajak dokter serta masyarakat awam untuk mengenal lebih dekat Demensia Alzheimer ini.

pikun



Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) PERDOSSI, DR. dr. Dodik Tugasworo P, SpS(K) dalam sambutannya mengatakan, “Edukasi kepada masyarakat dan tenaga kesehatan secara terus menerus sangat penting. Sebagai bagian dari program kampanye edukatif #ObatiPikun yang kami canangkan bersama dengan PT. Eisai Indonesia (PTEI), maka kami mengadakan Festival Digital Bulan Alzheimer Sedunia ini. Para peserta akan mendapat penjelasan menyeluruh mengenai Demensia Alzheimer dari berbagai narasumber dibawah naungan PERDOSSI. Dalam kesempatan itu pula, peserta akan diperkenalkan pada sebuah aplikasi deteksi dini Demensia Alzheimer bernama aplikasi E-Memory Screening (EMS). Melalui Aplikasi EMS ini kami berharap semakin banyak masyarakat yang mengetahui gejala awal Demensia Alzheimer dan juga bagaimana penanganannya.”

pikun



Aplikasi E-MS resmi diluncurkan pada tanggal 20 September 2020 dan dapat diunduh dengan mudah oleh dokter dan masyarakat awam di Playstore dan Appstore. Aplikasi E-MS ini akan menilai kondisi memori seseorang dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan terkait Demensia Alzheimer yang mungkin dialami oleh pengguna aplikasi. Setelah itu, Aplikasi E-MS akan memberikan skor dan apabila skor tersebut menunjukkan kondisi abnormal, maka aplikasi ini akan menyediakan fitur direktori rujukan terpercaya kepada dokter di sekitar pengguna aplikasi berdasarkan GPS termasuk informasi jarak, nama dokter beserta keahliannya di bidang Demensia Alzheimer, serta nomor call center RS yang dapat dihubungi. Selain deteksi dini, aplikasi ini juga menyediakan ragam informasi terpercaya dan akurat mengenai Demensia Alzheimer dengan menggunakan bahasa yang mudah dimengerti oleh masyarakat awam. Aplikasi ini juga menyediakan tips dan trik dalam merawat Orang Dengan Demensia (ODD) secara efektif dan efisien.

Penutup


Jangan anggap remeh Demensia Alzheimer. Siapkan orang terdekat bila nanti kita akan menderita ini. Selain itu, bila ada tanda-tanda gejala demensia mulai tampak pada orang terdekat kita, segera tidak lanjuti untuk mencegah kondisi yang semakin memburuk.