Optimasi Instagram untuk Blogger, Bukan Sekedar Menambah Kunjungan di Blog

By Aprilely Ajeng Fitriana - Monday, October 05, 2020

optimasi instagram


Peran sosial media bagi seorang blogger memang cukup besar. Boleh dibilang, ini merupakan salah satu jendela pertama artikel kita dapat diakses orang lain. Sebelum akhirnya SEO bekerja, tentunya. Kalau bisa memegang kendali pada platform sosial media, tidak menutup kemungkinan kunjungan di blog kita akan semakin meningkat. 

Ini cukup menarik. Siapa sih yang nggak kepingin blognya laris manis? Semuanya pasti mau, kecuali kalau dia hanya menjadikan blog sebagai diary digital yang orang lain tidak perlu tahu apa isinya.

Sayangnya, semua itu tidak bisa didapatkan secara instan. Jangan dikira ketika kita meletakkan link di sosial media lalu urusan selesai. Kemudian, orang-orang beramai-ramai mengklik tautan yang kita bagikan itu. Tidak semudah itu, Maemunah.

Coba posisikan diri kita sebagai pembaca. Apa sih yang membuat kita mau membaca artikel yang dibagikan di sosial media? Yap, judul yang menarik dan membuat penasaran. Tapi, ini hanya bisa dijangkau kalau postingan kita terbaca. Iya apa iya?

Sosial media yang dulu dan sekarang itu berbeda jauh. Kalau dulu postingan akan tayang berdasarkan kapan kita post, sekarang sudah tidak lagi. Algoritmanya berubah. Dan, kalau mau menguasai masing-masing algoritma dari sosial media ini, tentu akan memakan banyak sekali waktu. Tidak jarang, ini malah bikin pusing sendiri.

It's okay kalau memang sanggup. Tapi, kalau tidak sanggup untuk mempelajari semuanya, dari pada asal posting, coba pilih salah satu platform yang ingin dikuasai. Mau pilih Instagram, Facebook, Twitter, YouTube, atau bahkan TikTok, bebas. 

Ini pula yang saya jadikan alasan untuk tidak mengoptimalkan semua platform sosial media yang saya miliki. Saya hanya mengambil salah satu platform untuk dioptimasi. Dan, pilihan saya jatuh pada Instagram.

Kenapa Memilih Instagram?

Bagi saya dan banyak orang yang memilih untuk mengembangkan platform ini, tentu bukan hanya sekedar suka atau tidak suka saja. Tapi, ada potensi besar yang kami lihat dari Instagram ini. Kita bisa tengok bagaimana gambaran pengguna Instagram di Indonesia ini.

pengguna instagram


Menurut NapoleonCat, pengguna Instagram di Indonesia per Juni 2020 sejumlah 73 juta orang. Ini adalah angka yang amat fantastis. Sebagai blogger, jumlah ini tentu akan amat sangat menguntungkan. Bayangkan bila 1% saja dari pengguna instagram mengunjungi blog kita, berapa banyak traffic yang akan kita dapatkan? Banyak sekali tentunya.

Lebih dari itu, kita bisa memanfaatkan platform ini untuk membangun personal branding. Kita ingin orang mengenal kita sebagai apa. Dari sini, tidak menutup kemungkinan peluang-peluang lain juga akan datang menghampiri kita. Kerja sama dengan brand tertentu, misalnya. Atau, menjual produk atau jasa sendiri. 

Tulisan-tulisan kita di blog pada akhirnya akan mampu dijangkau banyak orang. Banyak orang yang menanti dan menghargai karya kita. Bahkan, ini bisa dijadikan salah satu cara untuk menghasilkan pundi-pundi rupiah.

Mengenal Algoritma Terbaru Instagram

Algoritma instagram


Semua peluang yang bisa kita dapatkan dari instagram akan dapat kita peroleh kalau akun instagram kita bertumbuh. Mau swipe up, bisa. Mau dapat endorse, bisa. Bahkan, mau jadi pembicara pun bisa.

Lalu, bagaimana caranya agar akun kita bisa mengalami pertumbuhan yang signifikan hingga dilirik oleh pembaca atau brand

Mari, kita mulai dari hal yang paling dasar, yaitu mengenal algoritma Instagram. Kalau kita sudah mengenal, tentu akan lebih mudah untuk mencari cara menaklukkannya, bukan?

Seperti yang sudah kita ketahui bersama, Instagram yang dulu ternyata berbeda dengan sekarang. Kalau dulu, kita akan melihat postingan orang lain berdasarkan urutan waktu. Postingan paling atas yang akan kita jangkau adalah postingan yang paling baru ditayangkan. Tapi, kini sudah tidak lagi.

Postingan kita hanya akan dijangkau oleh 10% follower kita. Selebihnya, ini tergantung dari respon mereka. Kalau responnya baik, maka instagram akan memberikan kesempatan pada akun kita untuk dijangkau oleh lebih banyak orang lagi. Kalau tidak, postingan kita akan tenggelam begitu saja. Artinya, punya follower banyak tidak bisa menjadi jaminan postingan kita sampai ke audience

Dulu, Instagram biasa digunakan untuk mengumpulkan portofolio karya kita. Punya foto menarik, post. Abis ngisi seminar, post. Anak kita bisa ini itu, post. Selebihnya, orang akan mudah sekali menjangkau itu semua. Saking mudahnya, sering kali mengganggu juga.

Mungkin karena alasan itu juga, akhirnya Instagram mengubah algoritmanya. Tidak peduli berapa banyak follower yang kita miliki, instagram hanya akan menayangkan berdasarkan apa yang follower kita suka. Bagaimana tahunya suka atau tidak? Ini dilihat dari interaksi mereka. Suka sama akun seperti apa sih? Biasanya reply, like, coment, save, dan share akun seperti apa?

Instagram yang dulunya tempat mengumpulkan portofolio berubah menjadi tempat membangun kehidupan sosial di dalamnya. Artinya, bukan hanya seberapa banyak karya yang mampu kita sajikan, tapi berapa banyak interaksi yang ada di dalamnya. Semakin banyak interaksi yang mampu dihasilkan, maka makin sering juga akun kita direkomendasikan instagram ke akun-akun lain. Instagram kini menuntut kita untuk lebih aware lagi pada konten apa yang akan kita sajikan dan kapan waktu menayangkannya agar jangkauannya bisa lebih luas lagi.


Strategi Pengembangan Akun Instagram

Banyak orang mengira bahwa semakin banyak follower yang dimiliki, maka semakin banyak juga jangkauan yang bisa kita dapatkan. Ini tidak sepenuhnya salah. Meskipun, tidak benar juga.

Kenapa demikian? Iya betul, semakin banyak follower memang bisa memberikan jangkuan besar. Kurang lebih ada 10% follower kita yang mampu melihatnya. Tapi, ini hanya berlaku di 1 jam pertama setelah postingan kita ditayangkan. Apakah postingan kita akan dijangkau lebih banyak orang atau tidak, ini tergantung dari konten yang kita sajikan. Apakah dia mampu menarik interaksi pengguna lain atau tidak. Artinya, basis follower yang besar, bisa jadi memiliki jangkauan yang lebih kecil dibanding akun dengan follower kecil. Ini bisa terjadi bila konten yang disajikan tidak menarik bagi audiences.

Jadi, apa langkah yang harus saya lakukan. Ada beberapa strategi pengembangan instagram yang sudah saya jalani sejak awal September lalu. Apa saja itu?

strategi optimasi instagram


1. Menentukan niche dan target pembaca

Memang, menentukan niche dan target pembaca itu adalah hal yang tidak mudah. Ini bahkan seperti sebuah pencarian jati diri. Tapi, percayalah. Setelah kita memilih niche, apalagi yang lebih spesifik, ini akan memudahkan langkah kita selanjutnya.

Niche bukan hanya sekedar tema besar yang akan kita pilih. Niche juga mampu memudahkan kita untuk branding diri. Kita ingin dikenal sebagai siapa. Itu pula tujuan memiliki niche. Dari sini, siapa target pembaca kita, konten apa saja yang akan disajikan, mau belajar apa untuk memperdalam konten, ini semuanya akan jauh lebih mudah.

Sama seperti orang lain, saya juga butuh waktu hingga bisa menentukan niche apa yang saya pilih. Setelah bertapa sekian purnama, saya pun memilih untuk menggunakan niche parenting. Baik di blog, maupun Instagram saya. Target pembaca yang saya pilih adalah ibu maupun calon ibu dengan range usia 25-34 tahun.

2. Membuat konten yang menarik

Content is the key. Ada dua tipe konten yang biasanya akan mendatangkan banyak interaksi. Pertama, konten yang menghibur. Kedua, konten edukasi.

Konten hiburan ini bisa dalam bentuk sajian visual. Konten-konten photography, kecantikan, musik, atau meme lucu, misalnya. Saya pribadi kurang bisa membuat konten semacam ini. Jadi, saya pilih tipe konten edukasi.

Sejak awal September, saya secara rutin membuat konten edukasi seputar parenting di akun instagram saya. Ini cukup mendatangkan banyak sekali interaksi bahkan follower baru secara organik. Tidak hanya itu, konten-konten yang saya buat juga banyak direpost maupun share oleh akun lain. Jangkauan yang dihasilkan oleh konten tersebut, bahkan ada yang melebihi follower yang saya miliki.

Apa imbasnya ke blog saya? Website click dari instagram juga naik. Meski tidak banyak. Mungkin, kalau follower saya sudah tembus angka 10k, website click ini bisa lebih banyak dari ini.

3. Riset hashtag

Konten yang saya buat bisa menjangkau banyak orang tidak lain dan bukan karena hashtag yang saya sematkan di setiap postingan. Hashtag yang ada tentu bukan sembarang hashtag. Saya memilih hashtag yang relevan dengan konten saya. Selain itu, saya pilih volume yang tidak terlalu besar. 

Kenapa demikian? Ini agar konten saya bisa mendominasi hashtag tersebut. Jadi, kemungkinan orang menjangkau postingan saya pun semakin besar.

Berapa jumlah hashtag yang biasa saya pakai? Ini tidak tentu. Untuk konten carousel, biasanya saya menyiapkan sedikitnya 10 kelompok hashtag. Dalam setiap postingan, hashtag yang saya gunakan juga berbeda.

4. Bangun interaksi

Interaksi adalah cara yang bisa kita gunakan untuk memperluas jangkauan konten kita. Poin utamanya, pastikan konten yang kita sajikan memiliki banyak interaksi di 1 jam pertama setelah tayang. Bagaimana caranya? Saya biasanya bergabung ke dalam support group untuk meningkatkan interaksi. Selanjutnya, respon tiap interaksi yang masuk. Kalau ada komentar, DM, atau respon dari story, sebisa mungkin saya balas.

5. Penjadwalan

Ini rahasia saya yang lain untuk bisa konsisten posting di Instagram. Mungkin banyak yang bertanya-tanya bagaimana caranya saya bisa membuat konten dan menayangkannya di prime time? Sementara itu, saya masih punya bayi yang begitu bergantung pada saya. Nah, ini dia jawabannya.

Saya biasa menggunakan Creator Studio untuk menjadwalkan konten apa yang akan tayang di akun Instagram saya. Waktu tayang, biasanya saya sesuaikan dengan jam kerja support group. Tentu saja, ini untuk mengoptimasi hashtag yang sudah saya pilih.

Lalu, kapan saya membuat konten-konten di instagram? Tentu saja menunggu Ghazy tidur. Setelah dia tidur, baru semua konten bisa saya eksekusi.

6. Pastikan jaringan internet memadai

Ini sih bagian yang tidak bisa ditawar lagi. Tanpa ada internet, artikel di blog tidak akan bisa tayang. Tanpa internet, artikel kita juga tidak akan bisa disebarkan melalui instagram atau platform sosial media yang lain. Tanpa internet juga, kita tidak bisa riset konten, membuat desain konten, hingga melakukan optimasi. Ya, kita butuh internet untuk lakukan semua strategi yang saya tuliskan di atas.

Sejak pandemi, aktivitas semua orang memang lebih banyak di rumah. Penggunaan internet juga semakin meningkat. Karena alasan inilah, akhirnya saya dan suami memutuskan untuk pasang wi-fi di rumah. Kami kira masalah akan selesai sampai di situ. Ternyata, tidak.

Wi-fi amat sangat bergantung dengan listrik. Selain itu, dia juga tidak bisa dibawa ke mana-mana. Jadi, kalau mati lampu atau harus keluar rumah. Bye internet.

IM3 FREEDOM U


Alhamdulillah, kini ada IM3 ooridoo yang bisa dijadikan solusi masalah tersebut. Sekarang kita bisa semakin puas untuk #TerusTerusan akses aplikasi menggunakan Freedom U. Di dalamnya sudah ada aplikasi-aplikasi tambahan baru, seperti Netflix, Snapchat, Zoom, Webex, Microsotf Teams, Skype, dan Google Classroom. Selain ittu, kita masih bisa mengkases apkasi  favorit lainnya, seperti YouTube, Instagram, TikTok, Facebook, Spotify, Joox, WhatsApp, dan Line.

Mau riset konten? Bisa. Mau meeting dengan klien? Bisa. Mau update konten di Instagram? Bisa. Atau mau sekedar scrolling Instagram aja? Bisa banget.

Selain itu, kita juga tidak perlh khawatir lagi dengan pemakaian kuota aplikasi karena menggunakan kuota utama untuk tetap melanjutkan akses kuota aplikasi. Jadi makin non-stop internetan karena pulssa kita akan tetap aman dengan PULSA SAFE. Enaknya lagi, kuota bisa dipakak di mana saja.

Jangan Lupa untuk Menjadi Manusia

just be human


Saya memang cukup serius untuk mendalami instagram ini. Itu sebabnya, saya banyak belajar mengenai optimasi instagram. Alhamdulillah, bulan September lalu Komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis bekerja sama sengan IM3 ooridoo untuk menggelar rangkaian webinar. Totalnya, ada 25 webinar yang mereka selenggarakan dengan tema "Mengoptimalkan Peluang Dunia Blog". Salah satu materi yang disampaikan adalah tentang Optimasi Intagram untuk Mendukung Dunia Blog

Materi tersebut disampaikan oleh ibu muda yang begitu energik, yaitu Mbak Pungky Prayitno. Satu jam materi bersama beliau begitu menyenangkan. Penyampaiannya juga sederhana dan mudah untuk dimengerti. Bahasa-bahasa teknis instagram yang tidak jarang bikin pusing, bisa beliau ramu dengan sederhana.

Satu hal yang beliau sampaikam dalam webinar tersebut yang amat mengena di hati saya.

"Jadilah manusia."

Adakalanya, kita perlu mengenyampingkan segala hal yang berhubungan dengan algoritma Instagram. Adakalanya, kita juga perlu mengabaikan segala strategi optimasi Instagram. Kemudian, cukup menjadi manusia seutuhnya.

Waktu kita tidak hanya digunakan untuk bermain Instagram. Kita juga punya kehidupan lain. Ada anak dan pasangan yang butuh diperhatikan. Ada rumah yang butuh sentuhan kita. Jangan sampai kesibukan kita di dunia maya membuat kita lupa akan apa yang ada di depan mata kita.

Ini cukup menyentil bagi saya. Sejak menjalankan strategi yang saya tulis di atas, saya memang jadi sering kurang tidur. Saya akan marah kalau ketiduran dan tidak dibangunkan oleh suami. Padahal, maksud beliau baik.

"Semalam kan Adek tidurnya cuma bentar."

Saya tidak bilang bahwa saya tidak bahagia menjalani itu semua. Saya senang menjalani semuanya. Saking senangnya, begadang hampir tiap malam pun tidak terasa lelah. Tapi, kalau itu diteruskan, rasanya saya akan berubah menjadi robot. Karena alasan ini pula, saya ubah lagi strategi supaya tetap bisa selow menjalankan semua ini. Intinya, waktu saya bersama keluarga, menjalankan amanah sebagai istri dan ibu, serta istirahat saya tidak lagi terganggu.

Kesimpulan

Well, kita sudah sampai ke kesimpulan. Intinya sih, Instagram bagi blogger itu adalah salah satu jendela yang bisa membuka peluang-peluang baru. Mau mendatangkan kunjungan bisa, mau branding diri bisa, apalagi untuk menunjukkan karya yang sudah kita hasilkan. Semuanya bisa. Hanya saja, itu semua butuh proses dan kegigihan untuk mewujudkannya. Kalau kita mau usaha dan tidak berhenti berjuang, apa yang kita impikan pasti bisa terwujud.

Mau punya banyak follower? Bisa. Mau blog ramai kunjungan? Bisa. Mau punya pembaca setia? Bisa juga. 

Semangat!

***

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Blog IM3 Ooredoo X IIDN Mengoptimalkan Peluang Dunia Blogging

lomba blog



  • Share:

You Might Also Like

25 komentar

  1. Tp jujur sejauh ini aku nggak begitu optimasi instagram. Wkwkwk
    Posting ya posting aja, ga mikirin feednya ini itu, atau bahkan menjadwalkan. Karena sejauh ini instagram cm buat have fun aja. Mungkin udah saatnya nih q mikirin instagram untuk optimasi. Xixixi

    ReplyDelete
    Replies
    1. It's okay sih mbak. Hanya saja, ada kalanya kita butuh sosmed untuk lebih dekat sama pembaca.

      Delete
  2. Dinamika zaman. Beberapa tawaran job blogger juga minta data instagram. Instagram sudah banyak berubah dari yang awal aku kenal sekitar tahun 2011 dulu. Fiturnya banyak ditambah, terutama semenjak dibeli facebook. Sekarang tampaknya jadi jaman microblog dg banyak slide, dan juga igtv, dan iglive.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya betul. Makanya, banyak juga blogger yang berlomba-lomba menaikkan jumlah follower dengan cara singkat. Tapiii... Ada yang kelupaan nih, mereka lupa untuk membangun kedekatan dengan follower.

      Delete
  3. Akuu lagi manage banget buat nggak addicted dengan Instagram setelah posting konten promosi apapun apalagi yang sifatnya personal branding. Karena aku bawaannya suka mantau terus insightnya, langsung evaluatif dengan interaksinya, dan suka over perfeksionis sama desain dan konten. Jujur bikin aku nggak manusiawi akhirnya ke anak dan suami.

    So yes, dengan keadaan psikis yang lagi gini dan awareness kalau personal branding juga harus jalan, aku sekarang masih dalam fase ngga all out optimasi Instagram.

    Makanya, saluut buat Ummi Ghazi, aku termasuk pembaca organik konten edukatif mba di Instagram. Your carousel feeds are incredibely stunning mbaa :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku sebetulnya juga gitu. Wkwkwk... Tapi Ghazy mengalihkan duniaku. Jadi lumayan balance nggak lihatin insight terus atau terlalu perfeksionis.

      Kadang tuh aku merem aja sama hasilnya. Biarin deh gitu.

      Delete
  4. Selama ini masih suka jadi penikmat konten di Instagram. Dan rata-rata postingan hanya untuk promo blog aja dan konten suka2. Sebenarnya kalo mau dioptimasi IG bisa nambah2 follower organik ya mba.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak. Konten itu bisa jadi kekuatan untuk nambahin follower secara organik

      Delete
  5. wah betul banget ya instagram itu saat ini menjadi hal yang sangat populer, termasuk untuk optimasi blog kita. tips-tipsnya dalam optimasi konten kita di IG sangat bermanfaat mba lelly, kebetulan saya juga sering lupa2 update di IG, bener banget wajib dijadwalin ya. Pastinya internetnya juga harus mendukung ya. Saya pakai Im3 dari 2003 mba

    ReplyDelete
  6. IGku ada beberapa dan semua adem ayem aja, ampuuun. Memang perlu effort untuk buat konten di IG. Feed bagus juga berpengaruh ketika agency memilih kita ternyata

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jangan dibiarin aja mbak. Sayang atuh. Dibersihin dulu lah sarang laba-labanya itu.

      Delete
  7. Pusing kalau mikirin optimasi instagram. Aku followers banyak tapi interaksi minim. Tapi aku percaya, tulisanku, entah itu di IG, blog atau FB, pasti akan menemukan pembacanya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak, memang tiap tulisan bisa nemu pembacanya. Tinggal mau berapa banyak dan berapa lama aja. Kalau mau pelaaaan sekali, ya udah biarkan saja berjalan secara alami.

      Kenapa saya bilang pelaaaan sekali? Karna kita bukan artis, bukan penulis papan atas yang tulisannya dicari.

      Delete
  8. bener bgt Umi Ghazi, instagram memang bs bantu optimasi blog kita ya. Namun, aku sempat bgt keteran pgn bikin microblog eh deadline blog jadi kemana-mana.

    dalem bgt ya mbak pungki pesannya "jadi manusia".. jadi kembali lg tujuan kita ya mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang harus diatur sih mbak. Aku buat konten selang seling antara carousel sama single image. Tujuannya ya biar agak longgar untuk bikin konten.

      Soalnya, bikin konten karousel itu effortnya besar sekali.

      Terus, untuk blog, saya tetap jadwalkan seminggu sekali mbak. Apapun yang terjadi harus tayang.

      Delete
  9. Daku pernah dengar ini bahwa algoritma instagram berubah, hanya tetep belum paham sih, yang penting tetap konsisten menyajikan konten bermanfaat hehe

    ReplyDelete
  10. Wahhhh lengkap ini ulasannya. Aku ketinggalan pas webinar, cuma ikut 1 jam terakhir.
    Untuk pola postingan di Instagram aku udah dapet sebenernya, tapi gak terlalu mikirin jangkauannya seberapa sih. Jadi aku setuju sama Mbak Pungky Prayitno bahwa gak usah terlalu kayak robot juga ya, yg penting kita tetap belajar ilmu optimasinya. Praktiknya bisa kita sesuaikan dengan situasi dan kondisi masing-masing.

    ReplyDelete
  11. Salut mbak sudah menerapkan micro-blogging di instagram ya. Aku belum nih. Ga ikut juga aku pas webinar IM3 Ooredoo IIDN yang optimasi instagram. Memang benar lebih banyak share konten bermanfaat akan mendatangkan followers baru.

    Menggunakan creator studio berarti mba akun IG nya dijadikan akun bisniskah?

    ReplyDelete
  12. Menarik nih Mbak Lelly, sebelumnya saya baca postingan Mbak Marati yg ttg optimasi Twitter. Yu[, kita hrs menentukan dl yaa mau fokus optimasi di medsos yg mana. Krn kl mau semuanya ya jelas mustahil, wktu dan tenaga pasti terbatas ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak. Semuanya butuh effort soalnya. Nggak mungkin cuma gitu doang. Jadi ya pelan-pelan aja.

      Delete
  13. Kayanya sekarang 1 paket ya blogger ama influencer dan biasanya mainannya emang instagram. Kalo untuk saat ini sih aq lebih terobsesi bagusin feed daripada liatin insight haha.. penasaran ama dunia desain nih ajarin dong mb Lelly.. hehe

    ReplyDelete
  14. pingin blognya dl dirapihkan
    ig juga pinginnya jadi ladang dakwah sama bisnis hehe

    ReplyDelete