Assalamu'alaikum!

Perkenalkan, nama saya Aprilely Ajeng Fitriana. Kalian bisa panggil saya Lelly. Saya lahir di Malang pada tanggal 22 April 1991. Saat ini, saya tinggal di Bogor bersama suami dan anak saya. Blog ini adalah tempat saya mencurahkan segala pemikiran saya dari berbagai peristiwa. Bagaimana saya menghadapinya dan apa saja hikmah yang saya peroleh.

Tidak Semua Orang Bisa Bilang Maaf

Mar 29, 2021

maaf


Kapan hari, saya marah sama suami. Alasannya sepele, gara-gara dia tidur di pagi hari. Kita tahu ya, hawa-hawa pagi emang bikin ngantuk. Paling sedep kalau abis Sholat Subuh tuh tidur lagi. Tapi, ini kan kita bukan jomblo yang hidup sendiri lagi. Ada banyak hal yang harus disiapkan di pagi hari.

Belum ini, belum itu. Ghazy rewel dan maunya sama Ummi. Suami tidak berusaha bangun dan mengambil alih Ghazy. Masih bersikekeuh kalau Ghazy minta nenen. Padahal, bukan.

Pagi itu Ghazy rewel karna lihat HP. Belum mandi, belum makan, minta nonton YouTube. Oya tentu tydak. Ini yang bikin dia tantrum pagi-pagi.

Saya kesal bukan main sama suami yang diam aja di kasur. Tidak berusaha membantu dan terus nyuruh saya untuk kasih Ghazy ASI. Bahkan, dia ikut-ikutan kesal karna tidurnya terganggu.

Wow, sungguh suasana pagi yang menyulut emosi, saudara-saudara.

Singkat cerita, saya taruh Ghazy di kasur. Saya pasang pagar pembatas kasur. Lalu, saya pergi ke dapur. 

Biasanya, saya akan memutar podcast atau nonton streaming apapun dari YouTube, VIU, atau kelas online. Tapi, pagi itu tidak. Saya terlalu marah sampai enggan memilih playlist. Dalam kepala saya berkecamuk aneka rupa omelan.

Hari itu, saya putuskan untuk diam. Saya abaikan suami saya. Tak ada chat, video call, bahkan saya menolak disentuh. Saya bilang kalau saya kesal dengannya.

Besoknya, masih tidur lagi pagi-pagi. Wow, anak sultan apa gimana nih?

"Nggak usah pulang kalau mau tidur pagi-pagi! Tidur aja di kantor sana!"

Tidak cukup dengan hardikan semacam itu. Pintu saya banting. Mainan Ghazy yang di lantai saya tendang-tendang. Terakhir, saya masuk ke kamar dan kamar saya kunci.

Saya super kesal dengan suami saya. Bukannya minta maaf, malah membuat saya makin kesal. Sepertinya, tidurnya jadi tak nyenyak karna saya marah-marah. Suami saya akhirnya bangun dan pergi ke dapur. Saya tidak tahu persis apa yang suami saya lakukan. Males aja nengok.

Rasa kesal, membuat saya enggan membukakannya pintu ketika akan pergi ke kantor. Saya abaikan pamitnya. Saya tak berusaha menjelaskan ke Ghazy kalau abinya mau berangkat ke kantor. Jadi, pagi itu dia berangkat tanpa salam dan salim dari kami. Bahkan, Ghazy cuma nengok aja karna lagi asyik nonton YouTube.

Amarah saya mencair ketika saya masuk ke dapur. Cucian piring tak ada. Nasi sudah matang. Dapur aman terkendali. Saya dan Ghazy tinggal makan siang tanpa harus riweh lagi siapkan ini itu. Mungkin, itu cara dia untuk bilang maaf.

Kata Maaf yang Tak Terucap

maaf


Saya jadi teringat masa ta'aruf dengan suami. Kami pernah bersitegang karna suatu hal. Kali itu, saya yang salah. Saya akhirnya meminta maaf ke suami (dulu masih calon). 

"Kenapa minta maaf?"

Berjalannya pernikahan, saya baru menyadari bahwa ada kata yang hilang dari kamus hidupnya. Maaf. Suami saya sulit sekali bilang maaf.

Jujur, ini jadi PR ketika Ghazy sudah ada di tengah-tengah kami. Bagaimana caranya saya mengajari dia kata maaf, kalau suami saya saja enggan mengakui kesalahannya.

Pernah satu kali, saya sampai berkali-kali minta suami saya minta maaf ke Ghazy karna satu hal. Ghazy marah sampai menangis sesenggukan karna abinya melakukan sesuatu yang tidak dia inginkan saat itu. Tangisnya bahkan tak kunjung reda meski sudah saya gendong. Dia akhirnya tenang ketika akhirnya Abi meminta maaf ke Ghazy.

Saya sempat mempertanyakan hal ini dalam benak saya sendiri. Kenapa dia begitu sulit meminta maaf. Tapi, akhirnya saya temukan sendiri jawabannya.

Pola asuh!

Ini saya temukan ketika saya dan suami berkonflik dengan ibu mertua. Suami sudah menjelaskan dasar apa yang kami pakai. Kami sampaikan bahwa beliau keliru. Tapi, kata-kata yang keluar justru pembelaan yang makin tak masuk akal. Bahkan, bukan hanya itu. Aneka rupa kesalahan masa lalu ikut diungkit.

Kalau sudah begitu, suami saya kesal sendiri. Kebetulan, ibu mertua tidak pernah memarahi saya langsung. Tapi, dia sengaja mengeraskan suaranya agar saya dengar. Jadilah, suami saya yang terasa terus-terusan dipojokkan.

Dalam satu sesi obrolan, suami saya bilang, "ya gitu itu ibu. Kadang mikirnga agak konyol. Udah jelas-jelas salah, tapi masih aja kasih alasan yang nggak masuk akal. Aku kalau Ibu udah gitu, males deh."

Ini cukup jadi kuncian kenapa suami saya suliiit sekali minta maaf. Dia tak terbiasa diajari untuk mengakui kesalahan. Dia tak terbiasa untuk menerima kesalahan dan mengungkapkan hal itu. Kalau hari ini, pasangan kalian atau orang terdekat lain sulit meminta maaf, coba tengok orangtuanya. Bagaimana dia bisa diperlakukan oleh orangtuanya, itu akan punya dampak tersendiri.

Bentuk Lain dari Maaf

maaf


Mudah tidaknya seseorang untuk meminta maaf itu dipengaruhi oleh pola asuh yang dulunya dia terima. Saya yakin, tidak ada orangtua yang tidak pernah mengajari anaknya untuk minta maaf ketika dia salah. Sayangnya, sikap orangtua itu sendiri yang mau dianggap selalu benar, tidak mau mengalah, sulit mendengarkan apa yang disampaikan anaknya, dan lain sebagainya yang membuat anak itu sendiri tidak punya gambaran yang jelas tentang bagaimana cara meminta maaf.

Gengsi yang tinggi dari orangtua akhirnya nurun ke anaknya. Kata maaf jadi sulit sekali terdengar dari lisannya. Tak peduli bagaimana gejolak yang ada dalam dada.

Tapi, tak bisa menyampaikan melalui lisan, bukan berarti tidak bisa menunjukkan dengan hal lain. Ada lho orang-orang yang memang nggak bisa bilang maaf, tapi kemudian dia wujudkan melalui hal lain untuk memperbaiki keadaan. Contohnya, apa yang suami saya lakukan ke saya setelah saya marah dalam diam.

Jadi, kalau hingga hari ini, pasangan kalian kaya susah banget minta maaf, coba deh cek hal lain. Mungkin kata maaf itu sudah diganti dalam bentuk yang lain. Entah itu hadiah atau sikap-sikap manisnya. Kalau bukan keduanya juga, mungkin dia sedang membenahi kesalahan yang dia lakukan pelan-pelan. Berusaha menghapus kesal kita dengan memperbaiki apa yang bisa diperbaiki. Berubah menjadi lebih baik lagi.

Kalau begini, haruskah kita memaksa kata maaf terucap dari lisannya?

Saya rasa tidak perlu. Apalagi kalau itu justru akan memicu konflik-konflik lain. Pasangan kita adalah manusia biasa yang tak luput dari kekurangan. Luka pengasuhan yang dulu dia terima bisa jadi membentuk dirinya menjadi sosok seperti hari ini. Kita, sebagai pasangan, mestinya tak perlu membuat luka itu menganga lagi. Justru, sebisa mungkin bantu dia untuk mengobati lukanya. Bertumbuh bersama menjadi pribadi yang jauh lebih baik lagi.

Bukankah Allah memang pasangkan kita dengannya untuk saling melengkapi?

Penutup

Menyebalkan memang ketika ada orang lain yang membuat kita kesal lalu pergi begitu saja tanpa ada kata maaf darinya. Menyebalkan ketika dia sudah tahu kita kesal, tapi seolah tidak pernah terjadi apapun. Tapi, coba lihat lebih dalam lagi. Jangan-jangan ada alasan kenapa dia sulit sekali meminta maaf. Alih-alih meminta dipahami dan berakhir kesal sendiri, coba tengok dari sudut pandang yang berbeda. Siapa tahu dari sana kita bisa mendapatkan pemakluman atas segala kekurangan yang orang ini miliki.

Comments

  1. Ada sebagian orang yang susah untuk diharapkan kata maaf terucap dari lisannya. Bukannya tidak mau, tapi mungkin tidak terbiasa. Untuk orang seperti ini, maaf dari mereka biasanya dibuktikan dengan tindakan, bukan ucapan.

    ReplyDelete
  2. Setiap pasangan akan memiliki kelebihan & kekurangan yang berbeda.
    Mungkin suami mba, memiliki sifat yang agak sedikit cuek, coba deh sesekali kalau mba star mulai melakukan rutinitas kasih pengertian ke suami.
    Dibahas dari hati ke hati pentingnya membagi peran supaya tak terjadi keributan, dan soal kata 'Maaf' biasanya itu kebiasaan yang diterapkan dari orang tua. Sehingga kata maaf menjadi suatu hal yang penting di ucapkan bila salah, mungkin kebiasaan itu tak ada di suami.

    ReplyDelete
  3. Wah, jadi teringat dengan teman satu geng yang seperti itu. Ampuuun. Susah bener bilang maaf. Padahal jelas-jelas dia yang salah. Ternyata memang ada faktor itu ya? Kesalahan pola asuh saat kecil. Jadi tercerahkan. Terima kasih sharingnya Mba. Sangat bermanfaat.

    ReplyDelete
  4. Tulisannya mengalir bangettt.

    Ada alasan di balik sikap seseorang ya kak? Hm, seperti bahasa cinta, maaf juga ada bahasanya ya? Ada yang maaf dari lisan, ada yang menunjukkannya lewat perbuatan. Yang penting semua dilakukan dengan ketulusan :)

    ReplyDelete
  5. Aku sependapat dengan Mbak Lelly. Biasanya laki-laki memang jarang minta maaf duluan. Bisa jadi karena mereka memang gak peka. "Ah, perempuan kan emang baperan, hal gini aja jadi masalah." :) Gak pekanya ini bisa karena pengaruh didikan sejak kecil, bisa juga karena mereka enggan belajar. Namun, bagiku yang penting adalah endingnya. Kalau akhirnya baik dan mereka mau melakukan sesuatu sebagai bentuk permintaan maafnya seperti suami Mbak Lelly sih gak masalah. Artinya, dia sadar bahwa dia salah.
    Yang repot itu kalau dia gengsi dan tetap cuek, gak mau mengakui kesalahannya.

    ReplyDelete
  6. hihihi, kalo suamiku mungkin hampir sama mbak dengan suami mbak lelly. Beliau kalo salah mau minta maaf tapi seringnya gak sadar kalo istrinya ini sedang ngambek ama dia. Baru kalo dah didiamkan lebih dari 2 hari, nyadar deh kalo istrinya gi ngambek.

    ReplyDelete
  7. Memang kedua belah pihak harus saling menyadari ya mbak. Memang kalau sudah sebel sama suami, saya pun sama seperti mbak. Namun lagi2 kebesaran hati lah yg bisa membuat hati kita legowo ya mbak

    ReplyDelete
  8. kok sama Mbak, suamiku juga paling gak bisa bilang maaf.
    sering BT kalau dia salah malah gak mau bilang maaf, padahal anak-anak sedari dini kuajarkan bilang maaf.

    pernah jugaa tuh kejadian, dia salah ama anak, saya minta dia bilang maaf tapi dia cuek ajaa, iisshh KZL deehh.

    Dan seperti yang Mbak bilang pola asuh, saya juga asumsinya demikian, karena di keluarganya cuek urusan seperti ini, gak ada kata maaf atau tolong, jadi mungkin baginya, bagi mereka itu hanyalah hal biasa yang sepele padahal tidak semua orang bisa terima seperti itu, apalagi jika sudah terbiasa bilang kata ajaib itu yaa :)

    ReplyDelete