Menjaga Semangat Belajar Meski Sudah Jadi Ibu

By Aprilely Ajeng Fitriana - Monday, June 15, 2020

semangat belajar

Saya patut bersyukur karena Allah memperkenalkan saya dengan para ibu yang punya semangat belajar tinggi. Mereka jarang sekali mengeluh tidak punya waktu untuk belajar. Alih-alih mengeluh, mereka justru antusias sekali dengan ilmu-ilmu baru yang akan mereka dapatkan.

Bagi saya, ini anugerah. Semangat mereka yang menggebu-gebu dalam belajar ini juga yang mendorong saya untuk terus belajar. Apapun kondisinya. Entah saya punya anak atau tidak.


Karena Ibu Madrasatul Ula

semangat belajar

Teman-teman saya ini bukan pengangguran yang kebanyakan waktu luang. Sebagian besar bahkan tidak dibantu asisten rumah tangga untuk mengurus rumah. Mereka kerjakan semuanya sendiri. Ya mengasuh anak, ya mengurus rumah. Bahkan, ada juga yang masih harus bekerja di ranah publik.

Jadi, kalau ada ibu-ibu yang bilang, "asisten rumah tangga saya nggak sebanyak Nia Ramadhani," itu cuma alasan aja. Sebuah pembenaran untuk tidak berinvestasi terhadap dirinya.

Dulu, sebelum saya menikah dan punya anak, saya heran dengan teman-teman saya ini. Bagaimana caranya mereka mengatur waktu agar bisa menjalani semua itu? Apa tidak repot harus mengurus ini itu sambil belajar?

Hari ini, setelah saya menjadi ibu, saya akhirnya sadar jawabannya. Kesadaran perempuan sebagai madrasatul ula bagi anak-anaknya inilah yang mendorong mereka untuk terus belajar. Mereka penuhi amanah yang telah Allah berikan sebagai wujud ketakwaan mereka.

Justru ketika semua itu dilakukan sebagai wujud ibadah, Allah bantu untuk menyelesaikan segala urusan. Kalau dinalar memang rasanya tidak ada waktu. Tapi, percayalah bahwa Allah Sang Penggenggam Waktu. Kalau pertolongan Allah sudah datang, tidak ada yang tidak mungkin.

Belajar Itu Mengurai Keresahan

Galau

Jujur, setelah menikah, banyak hal yang bikin galau. Mau kerja dari rumah atau di luar rumah. Kalau di rumah apa pertimbangannya, kalau di luar juga apa.

Saat hamil, ternyata keresahannya lain lagi. Galau pilih obgyn, pilih tempat bersalin, mempersiapkan kelahiran, biaya ini itu. Setelah anaknya lahir, keresahannya beda lagi. Khawatir ASI yang tidak lancar, takut-takut saat harus merawat bayi, dan sebagainya. Bahkan keresahan itu akan terus ada seiring bertambahnya usia. Seakan tidak pernah ada habisnya.

Buat saya, ilmu yang saya dapatkan sebelum menjalaninya langsung itu menenangkan. Saya tidak bilang itu bisa menghapus semua keresahan. Tapi, ketika tahu usaha apa yang harus dilakukan, bagaimana caranya, itu betul-betul membantu diri ini untuk tetap waras menjalani lika-liku sebagai ibu baru.


Tips Menjaga Semangat Belajar Meski Sudah Jadi Ibu

Belajar

Semangat belajar itu tidak hadir tiba-tiba. Namanya semangat, ya pasti ada naik turunnya. Tapi, kita bisa menyiasati agar dia bertahan lebih lama. 

Berikut ini adalah cara saya untuk menjaga semangat belajar. Semoga bisa membantu buibu yang mungkin mulai kehilangan semangat untuk belajar.

1. Tentukan minat

Kenapa sih minat ini penting? Karena kalau kita tahu apa minat kita, ini akan amat sangat memudahkan proses belajar kita. Tekanan dalam belajar juga bisa diredam. Bahkan, kita bisa menjalaninya dengan suka cita.

Misal, saat mau menikah, belajar tentang reproduksi perempuan. Tahu bagaimana hubungan siklus nenstruasi dengan mudah tidaknya hamil. Kalau siklusnya tidak teratur, apa saja yang bisa dilakukan.

Saat baru menikah, belajar tentang kehamilan. Apa saja yang akan dilalui saat hamil. Apa yang harus dilakukan dicari tahu. 

Dan seterusnya. Biasanya minat belajar ini akan muncul ketika kita akan menjalani itu semua. Dorongannya akan semakin besar ketika waktunya pun semakin dekat.

2. Susun kurikulum untuk mempermudah

Ketika sedang semangat belajar, tak jarang dari kita melahap semuanya sekaligus. Ikut banyak kelas, baca banyak buku, nonton banyak video dari para expert. Saya tidak bilang ini buruk, tapi seringkali ini justru membuat kita jadi tsunami informasi. Alih-alih makin paham, jadinya malah semakin galau.

Coba susun kurikulum belajar. Tentukan cara terbaik untuk belajar bagaimana. Setiap orang unik, jadi tidak harus sontek cara belajar teman. Tengok saja ke diri sendiri kira-kira suka belajar dengan metode seperti apa.

Upayakan juga untuk tidak belajar banyak hal dalam satu waktu. Susun jadwal belajar. Ini akan membantu kita untuk membangun kerangka berpikir dalam menghadapi masalah di kemudian hari.


3. Cari lingkungan yang mendukung

Tidak bisa dipungkiri lingkungan itu mendukung. Kalau kita punya teman-teman yang semangat belajarnya tinggi, kita pun ikut semangat. Sebaliknya, jika mereka selow aja, kita juga jadi ikut selow.

Kalau kita ingin menjaga semangat belajar, coba gabung ke komunitas ibu-ibu pembelajar. Sesuaikan juga dengan minat kita. Apa sih yang ingin kita tekuni.

Peran Suami dalam Proses Belajar Ibu

Love

Ini hal terakhir yang tidak kalah penting. Banyak orang yang akhirnya kesulitan belajar karena tidak punya dukungan dari suaminya. Bagi saya, suami tidak hanya punya fungsi memberikan izin saja. Tapi lebih dari itu.

Saya bisa belajar banyak hal mulai dari tulis menulis, blogging, parenting, dan lain-lain karena dukungan suami. Dukungan ini banyak sekali. Ya dibayarin kelasnya, ya dibantu dalam menyelesaikan pekerjaan rumah, ya dibantu untuk mengasuh anak. Bayangkan ketika semua pekerjaan rumah dan pengasuhan saya kerjakan sendiri. Tentu ini akan amat sangat sulit bagi saya untuk belajar.

Lalu, bagaimana kalau suami kita belum peka atas kebutuhan istri yang satu ini?

Komunikasikan. Coba bicarakan sedetail mungkin. Jangan gunakan kode-kode. Pusing dan capek sendiri nanti. Langsung saja utarakan apa mau kita. Tentu saja, gunakan siasat cantik agar proses komunikasi ini tetap menyenangkan.

Kesimpulan

Menjadi ibu adalah amanah yang luar biasa. Rasanya mustahil bila kita menjalaninya tanpa ilmu. Ini sebabnya menjaga semangat untuk terus belajar juga menjadi hal penting. Selain upaya dari diri sendiri, peran suport system juga akan amat sangat membantu proses ini.

Kalau kamu seorang perempuan juga, coba ceritakan di kolom komentar tentang apa yang sedang kamu pelajari dan tantangannya. Siapa tahu ceritamu akan menginspirasi yang lain untuk terdorong belajar juga.

  • Share:

You Might Also Like

32 komentar

  1. Tidak bisa lebih setuju dari ini :)
    Secara pribadi, saya menjadikan ibu dan nenek saya role-model sebagai perempuan, istri, dan ibu. Yang membuat saya kagum adalah, mereka 'berisi', punya ilmu (masing-masing) yang bisa dibagikan kepada anak dan cucunya. Baik dari pengalaman hidup maupun dunia kerjanya. Itu yang membuat saya terpacu menjadi seperti mereka (kalau bisa lebih baik).

    Karena yaa saya rasakan sendiri sih, ketika ibu atau nenek saya bercerita tentang berbagai hal, membuka pikiran saya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Apalagi kalau sudah punya anak. Lebih kerasa lagi kalau butuh belajar. :)

      Delete
  2. Setuju, semua perempuan harus menjadi pembelajar. Saya pun 'memaksa' diri untuk ikut gerakan membaca buku, sembari membumikan literasi. Saya sebelumnya juga bergabung dengan komunitas ibu profesional, namun saya masih berpindah-pindah domisili sehingga tidak maksimal mengikuti, tapi tidak menyurutkan langkah saya untuk terus belajar apa yang saya minati :)

    ReplyDelete
  3. Saya setuju, para ibu tetap harus semangat belajar. Meng-upgrade diri tidak hanya karen ibu adalah pilar utama pendidikan keluarga. Dan jangan lupa, belajar juga untuk bisa "nyambung" dengan suami. Apalagi untuk IRT penuh waktu. Jangan sampai suami makin maju, istri tetap ada di "situ"
    Semangat terus belajar!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak, setidaknya memang biar bisa nyambung ngobrol sama suami. Efek lebih besarnya, ngomong sama siapa aja ngeh.

      Semangaaat!

      Delete
  4. 100% setuju semua sama isinya, Mbak. Alhamdulillah aku juga dikasih suami kesempatan untuk selalu updrade diri. Semoga kelak kita bisa membantu perempuan-perempuan yang ingin upgrade dirinya yaa...

    ReplyDelete
  5. Setuju sekali, sekarang ini banyak komunitas ibu-ibu sebagai wadah agar tetap bisa belajar. Mulai dari belajar parenting sampai pelatihan menulis.

    Alhamdulillah, saat ini saya sedang mengikuti "Sekolah Muslimah" belajar dengan metode daring. Insya Allah baru sampai pengerjaan Tugas Mulia 2.

    Buat bunda2. Yuk ttp semangat belajar dan menambah ilmu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semangaaat.. Jadi kepo sama sekolah muslimahnya nih.🙈

      Delete
  6. Setuju banget mbak. Menjadi seorang ibu harus tetap semangat untuk belajar. Menjadi ibu yang terus belajar akan membuat kita bahagia. Karena kita tetap bisa mengaktualisasikan diri kita, bahkan bisa menebarkan kebaikan dan juga kebermanfaatan untuk sesama melalui ilmu yang kita miliki. Yuk semangat terus untuk belajar meskipun sudah menjadi ibu😊

    ReplyDelete
  7. Sepaham dengan isi tulisan. Jangan sampai ibu tidak bersemangat untuk belajar, karena sejatinya ibu menjadi tempat pertama kalinya anak bertanya. Dukungan suami akan menjadikan aktivitas belajar istrinya lebih nyaman untuk dijalani

    ReplyDelete
  8. Ibu ibu justru profesi paling sibuk lho mba. Waktunya orang kerja kan 8 jam , nah ibu malah 24 jam. Trus kalau karyawan itu terima gaji tiap awal bulan, Ibu justru tidak menerima bayaran sepeserpun. Namun Insha Allah bayarannya surga. Aamiin

    ReplyDelete
  9. Yes, saya setuju.. Ibu harus tetap meluangkan wakti untuk bekajar, sesibuk apapun pekerjaan rumajmh atau lainnya

    ReplyDelete
  10. Wah... saya enggak pernah berpikir kalau perlu membuat kurikulum belajar untuk diri saya sendiri. Betul juga ya... selama ini rasanya kalap saja melahap semua tanpa berpikir ilmunya sesuai dengan kebutuhan atau enggak. Makasih banyak nih mbak lely, menginspirasi sekali (langsung oret-oret bikin kurikulum,hehe)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mabok mbak kalau nggak disusun. Jadi makin pusing. Kalau saya ya. Tapi beda orang beda cerita sih.

      Delete
  11. Hallo mbak lely. Senang sekali membaca tulisan mbak lely♥️. Saya seorang ibu dengan 3 bocil mbak dirumah kesehariannya, entah kenapa saat ini saya suka sekali memasak lalu membuat videonya, melakukan itu semangat saya meningkat (padahal sebelumnya lelah melanda). Tantangannya memang harus bangun pagi atau kalau gak nunggu anak tidur dulu baru bisa eksekusinya, karena kalau anak belum tidur pastinya didapur saya sulit untuk mengeksekusi masakan dan pembuatan videonya, hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Keren nih. Masaknya jadi kayak di masterchef gitu ya.

      Delete
  12. bener banget ini mba, makanya seorang perempuan harus terdidik ya. yang bilang perempuan enggak boleh berpendidikan tinggi tuh salah banget. padahal ibu itu awal mula anak-anak belajar. jadi ya harus berpendidikan biar anak-anaknya juga terdidik dengan baik. makasih mba sharingnya.

    ReplyDelete
  13. Kalo saya sepertinya memang butuh banyak belajar mba, terlebih karena ortu dulu terlalu sibuk dan kurang bisa dijadikan role model, jadi saya dulu belajarnya banyak dari ortunya teman-teman, karena dulu infomasi gak bisa didapat semudah seperti sekarang ini

    ReplyDelete
  14. Faktor yang paling penting itu menurut saya adalah dukungan suami. Karena tanpa dukungan suamk, maka mentahlah semua niat dan ketekunan itu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya banget. Kalau suami nggak ngedukung nih susah banget. Lebih menguras tenaga kalau menurut saya.

      Delete
  15. Sedang belajar menjadi istri dan ibu yang baik. Yang sulit sekali aplikasinya. Bahkan dari awal menikah hingga sekarang, pembelajaran ini masih tak usai.

    ReplyDelete
  16. Buat kurikulum itu ide yang bagus banget. Karena anak-anak saya sudah besar, sekarang saya fokus belajar untuk upgrade skill sebagai blogger (dan skill pendukung karena blogger ternyata bukan cuma nulis tapi juga paham SEO, utak-atik cPanel, bikin infografis, video, konten sosmed, dll). Mungkin akan buat kurikulum untuk skill ini. Makasih insightnya, Mbak.

    ReplyDelete
  17. setuju mbak leli, jangan pernah berhenti apalagi jadi seorang ibu. belajar tentang kehamilan, persalinan, menyusui, parenting. never ending to learning ya

    ReplyDelete
  18. Belajar sepanjang hayat ya mba. Apalagi jadi seorang ibu dan punya anak yang kritis... mau tidak mau ibunya harus belajar dan bisa menjawab pertanyaan anak dengan cerdas

    ReplyDelete