Ibu-Ibu Milenial di Tengah Zaman Digital

By Aprilely Ajeng Fitriana - Monday, February 17, 2020

"Kamu tuh sekarang udah enak, mau belajar apa aja bisa. Akses juga bisa dari mana saja. Zaman Mama dulu, mau bikin tugas akhir harus keliling perpus untuk cari referensi. Kalau sudah ketemu, semuanya langsung dicatat manual."


"Iya, sekarang memang semuanya serba mudah. Tapi Mama nggak tahu kan kalau distrkasi yang aku dapat juga banyak."


Itu percakapan antara teman saya dengan anak gadisnya yang sudah mau kuliah. Entah kenapa percakapan ini membuat saya jadi sadar kalau saya, sebagai ibu-ibu milenial ternyata tidak hanya dihadapkan dengan aneka kemudahan. Ada tantangan zaman dan tentu saja nyinyiran netizen++ yang perlu dihadapi dengan gagah berani.

Awalnya, saya sempat bertanya-tanya. Kenapa ibu-ibu di zaman digital yang punya kemudahan akses di mana saja bisa rentan terkena depresi. Pasca melahirkan, banyak ibu yang tidak hanya mengalami baby blues saja, tapi post partum depresion, bahkan postpartum psychosis. Kok bisa? Tapi setelah banyak merenung kembali, saya sadar bahwa jadi ibu-ibu milenial itu tidak sepenuhnya mudah. Ada tantangan-tantangan lain yang harus dihadapi yang bisa jadi berbeda dari apa yang dialami oleh orang tua kita dulu.



Kali ini saya ingin membahas enak dan nggaknya jadi ibu-ibu milenial yang hidup di tengah zaman digital. Tentu saja ini dari pandangan saya pribadi ketika melihat fakta yang dihadapi.

Kemudahan Akses


Hidup di Zaman Digital seperti sekarang ini, tidak bisa dipungkiri bahwa kemudahan akses itu betul-betul terpampang nyata. Saya ingat sekali, dulu waktu zaman kuliah, sering sekali membayangkan kalau saya akan mati kelaparan saat sedang sakit. Pasalnya, kondisi saya tidak memungkinkan untuk mencari makan. Teman kost juga banyak yang sibuk dengan urusan masing-masing. Mau minta tolong sungkan. Sekarang? Rasanya saya tidak perlu khawatir lagi. Ada aneka rupa aplikasi untuk food delivery. Tinggal pilih menu, makanan langsung datang, tanpa kita perlu repot lagi.

Apa hanya makanan saja? O tentu tidak. Bahkan sekarang kalau sedang enggan bebersih rumah, ada jasa beberes rumah yang bisa diakses melalui aplikasi mobile. Tinggal klik, janjian, rumah beres. Semudah itu.

Mau ke mana-mana juga bisa mudah. Tidak ada kendaraan? Ada ojek online. Tinggal pilih saja, mau mobil atau motor. Misal tidak mau ojek online, masih ada banyak fasilitas transportasi umum yang makin ke sini, makin manusiawi. Perbaikan sarana transportasi publik terus menerus diperbaiki.

Tidak hanya itu, teknologi yang ada saat ini juga memungkinkan kita para ibu untuk belajar dari dan di mana saja. Mau baca dari buku? Perpustakaan banyak. Nggak sempet ke perpus? Ada perpustakaan digital. Ragam buku juga bervariasi, ada yang masih kertas, ada juga yang sudah paperless.

Sumber informasi juga tidak hanya kita dapatkan dari buku saja. Ada video-video pembelajaran yang tersebar di berbagai sosial media. Ada artikel-artikel di media online maupun sosial media. Banyak.

Bahkan kalau mau ikut kelas pun bisa. Nggak harus ke mana-mana, cuma modal HP dan kuota sudah bisa belajar.


Dunia Digital Bikin Insecure


Hidup di era digital memang memudahkan kita untuk berbagi banyak hal dan mendapatkan kemudahan akses di berbagai bidang. Nyatanya, kemudahan ini nggak selalu bikin buibu hidup happily ever after.

Sosial media contohnya. Sadar atau tidak, sosial media bisa membuat seseorang membandingkan kehidupan pribadinya dengan apa yang dia lihat di sana.

"Wah, Si A udah begini nih. Aku kapan ya?"
"Wah, anaknya Si B udah pinter aja, kok anakku masih gini-gini aja ya?"
"Romantis amat sama suaminya, suamiku mah boro-boro."

Dan banyak hal lain.

Lupa, kalau sebetulnya kehidupan yang dia jalani pun sudah amat sangat baik. Akhirnya ya, stress sendiri. Merasa tidak diperhatikan suami, padahal ya nggak juga. Cuma beda wujudnya aja. Merasa anaknya kurang ini itu sampai lupa kalau anaknya juga punya kelebihan di sisi yang lain.

Apakah hanya ini? O tentu tidak. Masih ada nyinyiran dari maha benar netizen, ya nggak? Banyak orang yang tiba-tiba ikut campur urusan orang, padahal kenal juga tidak. Begini salah, begitu salah. Bikin pusing sendiri.

Kemudahan akses ternyata juga seringkali dimanfaatkan oleh orang-orang jahat untuk melakukan tindak kejahatan. Meretas akun lalu meminta sejumlah uang misalnya. Mencuri gambar untuk melancarkan proses tipu-tipunya. Banyak. Korbannya juga sudah banyak. Mau yang tua atau muda, semuanya bisa saja kena kalau lagi apes.


Tsunami Informasi


Kita memang bisa belajar dari dan di mana saja. Saking banyaknya informasi yang bisa kita akses, tidak jarang ini justru membuat tsunami informasi. Ambil saja contoh topik parenting. Kalau mau cari, itu akan keluar rentetan informasi yang kalau mau diturutin semua, dijamin ngos-ngosan. Belum apa-apa sudah pusing sendiri.

Sebetulnya, ini bisa saja dihindari kalau kita sudah paham celahnya. Untuk belajar pun ternyata kita juga harus tahu caranya. Kemudahan akses informasi bisa bikin pusing kalau ditelan sekaligus. Tapi semuanya akan mudah untuk dicerna kalau kita mau bikin "kurikulum" hal yang ingin kita pelajari.

Misal, tentang menjadi seorang ibu. Bisa kita mulai belajar sedikit demi sedikit terkait kehamilan, persalinan, perawatan bayi, lalu mulai belajar pelan-pelan tentang pendidikannya. Bahan bacaan juga perlu dipilih. Saya pribadi lebih suka membaca tulisan para pakar dibanding review orang lain. Jelas, penjelasannya bukan dari sisi kenyamanan pengguna saja, tapi ada penjelasan ilmiah yang lebih masuk di akal.

Kuliah online hari ini memang banyak sekali. Dari yang gratis sampai berbayar, semuanya ada. Kita tidak harus ikut semua sih kalau memang nggak sanggup. Batasi diri untuk ikut satu per satu saja. Kalau memang belum tahu kapan lagi diadakan, ya sudah legowo saja. Artinya, belum rejeki. Ini jauh lebih baik dari pada harus ikut semua, tapi banyak skipnya. Kan sayang juga.


Tantangan Zaman yang Makin Amazing


Kalau baca atau lihat berita hari ini, rasanya ngeri-ngeri sendiri. Pinginnya sih anak-anak dikekepin aja di rumah. Nggak jauh-jauh dari pantauan. Biar aman.

Aman dari apa?

Ya predator anak, penculikan, narkoba, pornografi, game online, sampai pergaulan bebas. Tapi kan ya nggak bisa gitu juga. Anak perlu belajar di luar rumah. Ketemu banyak orang. Bersosialisi.

Ini yang bikin mendidik anak zaman sekarang juga jadi lebih effort dari orang tua kita dulu. Bekal untuk anak sebelum masuk ke the real jungle tuh beneran harus merasuk ke dalam jiwa. Kalau nggak, bisa ikut tenggelam dalam pusaran arus yang ngeri-ngeri sedap tadi.

Memang, semua hal yang mengerikan itu bikin kita jadi aware dan belajar lebih giat. Tapi tidak bisa dipungkiri, kekhawatiran ini itu juga bisa bikin stress sendiri. Ya, nggak?

Pada akhirnya ya, kita cuma bisa usaha semaksimal mungkin dan tidak lupa menitipkan anak-anak kita ke yang punya. Siapa lagi kalau bukan Allah, ya kan?

Itu kalau soal anak. Sebagai ibu sendiri juga sekarang mulai menantang. Dulu, kebanyakan ibu ya merawat anaknya di rumah. Tapi sekarang karena tuntutan ekonomi, banyak ibu yang akhirnya harus ikut bekerja. Pergi pagi, pulang petang, sampai rumah masih digelendotin anak. Uwooow, nggak kebayang gimana capeknya. Saya aja yang kerja dari rumah dengan waktu yang suka-suka saya masih ngerasa capek. Apalagi yang keluar rumah dan bertarung dengan jalanan.


It's Okay Not to Be Okay


Kemudahan yang ada seakan-akan menuntut seorang ibu milenial untuk bisa lebih sempurna dari ibu-ibu dulu.

"Kamu sekarang enak bisa begini begitu, Ibu dulu..."
"Ibu dulu bisa begini begitu. Ya diatur dong."

Wow, banyak sekali ya tuntutannya. Di sisi lain, kita tidak pernah diajarkan untuk menjadi ibu. Boro-boro diajarin, ngasuh bayi ya pertama kali waktu abis lahiran itu. Kebayang ya gimana nano-nanonya perasaan ibu baru ini. Takut-takut urus anak, masih clekit-clekit pasca lahiran, dan masih saja dapat mom shaming dari kanan kiri.

Well, saya cuma mau bilang, it's okay not to be okay. Nggak apa-apa kalau kita belum bisa. Nggak apa-apa kalau kita tidak bisa sempurna. Nggak apa-apa. Manusia mana ada yang sempurna sih. Jadi ibu pun demikian.

Nggak apa-apa kalau kita nangis karena capek. Nggak apa-apa kalau kita mendadak bego gara-gara kurang tidur. Nggak apa-apa kalau dandanan kita lebih mirip zombie dibanding princess. Nggak apa-apa kok.

Saya percaya bahwa setiap ibu sudah mengusahakan yang terbaik untuk keluarganya. Hanya saja, batas kemampuan masing-masing beda. Ujiannya saja beda.

Tentang hal-hal tidak menyenangkan yang kita baca, dengar, atau bahkan lihat, ya sudah biarkan saja. Tidak semua hal  bisa kita kendalikan. Kalau kita tidak mampu membungkam semua yang ada di luar sana, tenang. Kita masih punya dua tangan untuk menutup telinga dari hal-hal yang tidak ingin kita dengar.

  • Share:

You Might Also Like

28 komentar

  1. Betul juga, ya. Perlu saringan yang super alus buat memilih aneka info yang datang

    ReplyDelete
  2. Sooo relatable. Aku emang iya ngerasa lebih overwhelmed sama kehidupan online ketimbang offline. Habis mba Lelly urai, kayanya aku lebih kena ke insecurity dan fomo akibat banjir infoh hehe. Kaya sampe yang cape banget gitu banding-bandingin diri sama pencapaian orang, entah ngerasa bangga diri atau sedih hati. Pokoknya sampe kadar yang menurut aku udah ga sehat buat mental health aku wkwk. Akhirnya mulai decluttering akun2 yg aku follow dan selow nggak takut ketinggalan kelas online berkat realistis dengan skala prioritas kebutuhan belajar mwehehe. We're all in this together, para mamak pejuang kewarasan jiwa ��

    ReplyDelete
    Replies
    1. aku juga gitu kok. wkwkwk
      jadi sekarang beneran ngurangi kalau nggak butuh-butuh amat

      Delete
  3. Bener banget, Mbak Lely. Meski zaman udah serba canggih ternyata babby blues dan PPD masih banyak terjadi. Udah gitu kadang ortu suka membandingkan zaman dulu begini, masa perempuan zaman sekarang kok enggak bisa. Sekali lagi memang tantangannya beda. Serem banget memang masalah predator anak, tapi itu nyata ada di sekitar Kita. Memang Kita harus lebih bijak menyikapinya semua.

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya kaaaan...
      kita dituntut serba sempurna, disuruh ngikutin jejak ibu kita yang luar biasa. padahaaal... tantangan jaman sekarang tuh beda.

      Delete
  4. Medsos beneran sebuah hal yang bikin insecure.
    Makanya saya rajin di medsos, biar kebal hahahaha.
    Tapi memang iya sih, kadang saya merasa sedih saat melihat anak orang udah bisa gini anak saya belom, tapi untungnya sih nggak terlalu bikin down. cuman dipikirin sesaat doang :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. wkwkwkwk... biar kesaktian meningkat ya mbak.
      itu kegalauan banyak emak sih. saya juga kadang begitu, tapi ya buru-buru introspeksi diri sama cek rapor tumbuh kembangnya sih. apa iya anak saya yang lambat atau gimana.

      Delete
  5. betul mbak perlu filter dalam bergaul di era digtal ini. Kalau berwujud mungkin filter yang lubangnya paling halus biar sarinya aja kita ambil ampasnya dibuang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, kalau perlu sih pakaii dobel filter boar aman terkendali. wkwkwk

      Delete
  6. zaman berubah, kehidupan pun juga berubah.
    zaman digital bisa memudahkan segalanya tapi dibalik itu semua kewaspadaan pun juga harus lebih dijaga, isshh.. ngeri-ngeri sedaplah dengan berita yg beredar sekarang, penculikan anak dsbnya, hiikks.
    kita pun juga harus menjaga diri untuk tidak terlalu longgar mempublikasikan diri dan keluarga yang bisa mengundang kejahatan *Naudzubillah.

    ReplyDelete
  7. Saya sering hibernasi dari medsos untuk mewaraskan diri. hahaha.. tapi balik lagi karena tuntutan pekerjaan. Iya, sepakat mbak... kita harus punya saringan dan mental yang kuat untuk menghadapi dunia yang semakin wow ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. rasanya sulit untuk hibernasi dari sosmed kalau jadi blogger. pekerjaan ini aja butuh sosmed sendiri.

      Delete
  8. Betul Mba. Sekarang ini informasi bisa didapat dari mana saja. Tinggal kitanya saja mau apa enggak.

    ReplyDelete
  9. Setuju banget mbaa sama poin di atas. Saking banyak informasi yang diterima, entah kenapa jadi makin insecure ya dan kadang kondisi ini kerap memengaruhi kewarasan saya sebagai ibu (haduh, tepok jidat). Beneran deh, antara ingin menjauh tapi rasa-rasanya masih butuh. Hiks, bikin bingung yak!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya kaaan... Emang repot sih. Pada akhirnya, kita sendiri yang harus pinter-pinter ngatur biar nggak tenggelam dalam pusara arus digital yang nano-nano itu.

      Delete
  10. wah, suka sama yang ini, it's okay not to be okay. Hmm, ini semacam supporter dan belas kasih pada diri sendiri ya mbak. Y emang kekuatan kita terbesar dari diri kita sendiri, Menjadi kuat, kita akui, menjadi lemah juga kita akui.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, ya mana ada sih manusia yang sempurna. Semuanya bertumbuh, semuanya belajar. Jadi kalau salah sana sini, yaudah lah ya. Maafin diri sendiri. It doesn't means kita jadi stuck di tempat. Tapi setidaknya dengan gitu bisa ngurangi stress akibat tuntutan realita yang ada.

      Delete
  11. Bener smua.. Dan poin terakhir yang it's ok not to be ok. Beneran ngaku klo super sekaligus lemah uhuk

    ReplyDelete
  12. Betul sekali, Mbak.. Media sosial kadang bikin sy senang banding-bandingin hidup dengan yang lain. Parahnya nggak berasa pula. Akhirnya nggak nyaman dan suntuk sendiri :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dan serba repot. Mau nggak pakai sosmed ya butuh. Wkwkwkk

      Delete
  13. Jadi inget lagunya Fiersa Besari nih, kita boleh kok enggak baik-baik saja alias menangis atau mewek..sedih juga ya kalau ada yg masih suka memberi komentar tak menyenangkan padahal sesama perempuan ya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, tapi gitu itu kadang karna kebiasaannya dia aja. Komentator suka ga sadar kalau dia nyakitin hati orang.

      Delete
  14. Betul sekali, zaman sekarang harus pandai-pandai mengelola emosi. Mengelola pikiran dan hati. Kita harus tahu fokus kita dan keluarga ya mbak. Terima kasih telah berbagi 😍

    ReplyDelete