Ketika Allah Memintanya Kembali

By Aprilely Ajeng Fitriana - Monday, February 24, 2020



Belum ada sepekan setelah melahirkan saya dipertemukan oleh keluarga yang sedang gundah gulana. Ada nenek yang bolak-balik dengan wajah cemas. Ada seorang suami yang mengupayakan dirinya tetap tegar agar yang lain pun tak ikut cemas. Apalagi anaknya yang sedang menunggu di luar ruangan.

Saat itu kami ada di loby ruang bersalin. Niatnya sih jenguk Ghazy yang lagi disinar. Tapi kami harus menunggu beberapa waktu karena saat itu sedang ada tindakan. Jadilah kami turut menyaksikan kisah pilu bersama secara nyata.

Ceritanya, si ibu baru saja melahirkan caesar karena riwayat asma. Saat lahir, bayinya menangis kencang sekali sebagaimana mestinya. Dia cium anaknya dari meja operasi. Tidak lama karena memang ruangan operasi yang tidak terlalu bersahabat untuk bayi. Ibu dan bayi tadi pun akhirnya dipisahkan.

Setelah operasi, ibu masih harus berbaring di Ruang OK untuk observasi. Sementara bayinya di observasi di Ruang Perina. Saya tidak tahu jedanya berapa lama, tapi kemudian ada bayi ibu lain yang akhirnya dipertemukan.

"Mana bayi saya?" tanya ibu tadi.
"Sebentar ya Bu, masih diobservasi."

Sementara Si Ibu menunggu bayinya, di luar ruangan ada keluarga dan tenaga medis yang hilir mudik mengupayakan hal terbaik untuk bayi. Pasca dipisahkan ternyata bayinya kesulitan bernapas. Wajahnya membiru.

Cukup lama kami menunggu. Saya tahu semuanya berupaya yang terbaik untuk bayi tadi. Hingga akhirnya, ketetapan Allah datang. Bayi itu meninggal.

Sebelum pihak keluarga keluar, dokter anak yang menolong keluar ruangan dengan ekspresi pilu. Ada kesedihan luar biasa yang tampak dari raut wajahnya.

Tak lama kemudian, saudara perempuan pasangan suami istri tadi keluar sambil menangis. Dia peluk anaknya yang sedari tadi bermain di loby bersama kakak si bayi. Lalu, suami yang sedari tadi nampak kuat kini jatuh terduduk dan menangis sejadi-jadinya. Dia luapkan emosinya saat itu juga sebelum akhirnya harus menguatkan sosok yang pasti akan amat hancur hatinya siang itu, istrinya.

Saya pun menangis melihat kondisi ini. Butuh waktu beberapa saat bagi keluarga dan dokter untuk akhirnya mengabarkan si ibu yang sedari tadi menunggu bayinya. Hingga akhirnya ketika waktu itu tiba, sayup-sayup saya dengat tangisan pilu ibu.

"Tadi dia ada. Tadi dia ada," begitu teriakannya.

Hati ini semakin teriris mendengar tangisan itu. Saya yang terpisah dari anak beberapa jam saja rasanya sudah begitu kalut. Apalagi ibu ini.

18 Februari 2020, kita dikejutkan oleh berita duka yang datang dari keluarga Bunga Citra Lestari. Suaminya, Ashraf Sinclaire meninggal pagi ketika Unge baru saja pulang. Iya, sebelumnya dia memang on air di acara Indonesia Idol sebagai juri.

Entah bagaimana rasanya ketika pulang ke rumah dan menghadapi kenyataan bahwa orang terkasih kita telah diminta kembali oleh Sang Pemilik Hidup. Rasanya mungkin seperti sedang bermimpi buruk. Tapi sekuat apapun kita berusaha terbangun, tidak akan bisa. Karna ya faktanya demikian.

Saya sempat melihat bagaimana ekspresi Unge dan Noah, putra mereka saat pemakaman Ashraf. Noah menangis. Sementara Unge berusaha menenangkan putranya.

Hari itu sosial media banjir ucapan doa terbaik untuk Ashraf. Tidak hanya itu, ada banyak istri yang pun baper menyaksikan kejadian ini. Siapa yang menyangka Ashraf akan meninggal dalam usia tersebut. Tapi siapa yang bisa mengetahui tentang ajal? Tidak ada. Hanya Allah saja yang tahu.

Keesokan paginya, rasanya sulit sekali melepas suami untuk berangkat kerja. Segala macam bujukan agar suami remote dari rumah pun dilancarkan. Sayang, hari itu juga suami memang harus sekali berangkat ke kantor karena ada pekerjaan penting yang harus diselesaikan.

Suami saya memang biasa pulang malam. Paling cepat sampai rumah pukul 10 malam. Tapi malam itu lain. Saya terbangun lewat tengah malam dan mendapati ada yang kurang di ranjang kami. Suami saya belum juga ada di sana.

Saya tajamkan pendengaran, barangkali dia sedang mandi. Tapi tak ada tanda-tanda manusia lain selain saya dan Ghazy di rumah. Rasa cemas mulai datang. Saya telpon dia. Tidak diangkat.

"Mungkin kehujanan, jadi pulang larut."

Lewat pukul 1 dini hari, belum ada tanda-tanda kehadirannya. Saya telpon lagi. Kali ini sayup-sayup mulai terdengar suara ringtone HP. Lega sekali rasanya.

Iya, kisah BCL dan Ashraf memang membuat saya pun ikut baper. Tidak ada yang tahu kapan ajal itu datang. Saya tidak pernah tahu kapan nanti saya, suami, dan anak-anak saya mati. Sekuat apapun saya berusaha mendekap mereka, tetap saja ketika Allah mengambilnya lagi, kami akan terpisah juga.

Satu-satunya sikap yang harus diambil dan diupayakan ya ridho dengan segala ketetapan Allah. Jelas, segalanya tidak akan mudah. Siapa sih yang mau berpisah untuk selamanya dengan orang terkasih kita? Kalau saya ditanya, apakah siap atau tidak, ya mungkin tidak akan pernah siap. Tapi ketika hal itu terjadi, apa baik kalau saya terus menerus meratapi kehilangan?

Pada akhirnya, bagi mereka yang masih diberi kesempatan untuk berkumpul ya melakukan hal terbaik yang bisa dilakukan. Hingga ketika nanti waktu itu tiba, tak ada lagi sesal di dalam dada. Toh, penyesalan-penyesalan itu tak akan membuat yang mati hidup kembali.

Lakukan yang terbaik sebagai hamba yang suatu saat nanti akan mati. Lakukan yang terbaik sebagai anggota keluarga yang nanti akan meninggalkan dan ditinggalkan. Karena waktu tak akan pernah bisa kembali.

With love,

  • Share:

You Might Also Like

28 komentar

  1. Haduh sama mb, saya LDR sempet kepikiran gimana klo salah satu dr kami pergi duluan. Suami dojkt sy di lampung menjaga ortu bahkan sempet ada temen yg mengingatkan "kamu mempertaruhkan RT" demi ortu gmn kalo suami mati duluan. Ya Allah, makin kalut. Tapi suami ridho, kita cuma bisa ikhtiar, sabar dan selebihnya pasrah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Padahal ya, kalau ngomongin soal kematian, even suami dikekepin juga tetep aja bisa datang kan. Ya udah. Akhirnya cuma bisa minta tolong ke Allah. Titipin suami ke Allah yang Maha Menjaga Titipan

      Delete
  2. Berita meninggalnya suami BCL sempat juga bikin saya baper mbak, ah bukan kita saja kayaknya, tetapi seluruh rakyat Indonesia dan dunia yang mengenal beliau.
    Semoga ini menjadi pengingat buat kita untuk selalu muhasabah diri.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sepertinya begitu ya mbak. Meninggalnya mendadak sekali. Bahkan sebelumnya abis liburan dengan BCL dan Noah. Masih muda lagi.

      Ini memang betul-betul reminder untuk kita kalau ajal itu bisa datang kapan aja.

      Delete
  3. Setuju Mba. Lakukan yang terbaik selama masih bisa bernapas. Saya pernah kehilangan seperti BCL. Jadi tahu bagaimana rasanya.

    ReplyDelete
  4. terima kasih sdh mngingatkan untuk brbuat sebaik mgkin selama Alloh msh menitipkn rezeki sehatbdan klg di dekat kita, kak^^

    ReplyDelete
  5. Saya ikut sedihhh Bu Lelly... Saya turut merasa kehilangan atas berita itu... Seperti mimpi tapi nyata.

    Terima kasih untuk penutup postingan yang menghangatkan :)


    Satu-satunya sikap yang harus diambil dan diupayakan ya ridho dengan segala ketetapan Allah. Jelas, segalanya tidak akan mudah. Siapa sih yang mau berpisah untuk selamanya dengan orang terkasih kita? Kalau saya ditanya, apakah siap atau tidak, ya mungkin tidak akan pernah siap. Tapi ketika hal itu terjadi, apa baik kalau saya terus menerus meratapi kehilangan?

    Pada akhirnya, bagi mereka yang masih diberi kesempatan untuk berkumpul ya melakukan hal terbaik yang bisa dilakukan. Hingga ketika nanti waktu itu tiba, tak ada lagi sesal di dalam dada. Toh, penyesalan-penyesalan itu tak akan membuat yang mati hidup kembali.

    Lakukan yang terbaik sebagai hamba yang suatu saat nanti akan mati. Lakukan yang terbaik sebagai anggota keluarga yang nanti akan meninggalkan dan ditinggalkan. Karena waktu tak akan pernah bisa kembali.

    ReplyDelete
  6. Pasangan hidup, anak, harta adalah titipan. Suatu saat pasti ada waktunya Allah mengambilnya kembali. Meski belum siap kehilangan, suatu saat pasti akan mengalami hal ini. Makasih remindernya, Mbak Lely

    ReplyDelete
  7. Mba Lelly aku nangiiis sesenggukan baca yang anak bayi. Allahu. How to stop this unstopable tears? Hiks hiks. Aku ikut sedih banget buat ibunya. Maryam juga sempet masuk NICU, waktu 8 hari. Nggak langsung kepisah pasca lahiran aja nangisnya udah kaya gimana. Ngeliat tangan mungil itu diinfus aja hati rasanya meledak-ledak.

    Tapi sebenarnya yang paling ngeri itu waktu sebelum masuk NICU, kelabatan pikiran nakutin kaya kalau nanti dia mati gimana. Ternyata iman diri ini masih segini. Belum siap untuk selalu ridha dengan ketetapanNya. Belum selalu ingat mati dan mempersiapkan kehidupan setelah mati..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku kalau inget juga merinding sendiri. Apalagi pas ibunya nangis. Ya Allah, nggak kebayang rasanya cuma sempet ketemu bentar banget sama yang digembol selama 9 bulan.

      I feel you. Sebelum induksi detak jantung janinku udah melemah. Itu rasanya udah nano-nano. Langsung ambil HP, tulis di note apa aja yang bisa ditulis buat self healing. Terus lanjut pasrah sepasrahnya.

      Takut dia kenapa-kenapa, apalagi sampai meninggal. Tapi, aku juga nggak punya daya untuk bikin dia terus hidup kalau memang sudah ajalnya. Hiks.

      Delete
  8. Sedih banget mbak rasanya walaupun bukan siapa-siapa. Memang pada akhirnya ya harus belajar ikhlas sama ketentuan Allah..

    ReplyDelete
  9. Ibu saya juga meninggal mendadak mbak, Bapak saya yang biasanya sabar dan tegar tiba-tiba oleng, beliau bilang kenapa mendadak? kenapa sampai beliau tidak tahu padahal tidur di sebelahnya? Sampai beberapa waktu bapak tidak bisa beraktifitas karena selalu menangis mengenang ibu. Beliau hanya berharap bisa merawat ibu yang sakit tapi nyatanya Allah memanggil Ibu dengan mendadak dan begitu cepat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Innalillahi wa innaillaihi rajiun..

      Kalau mendadak memang berasa ditabok gitu ya mbak. Tapi bisa jadi, meski nggak mendadak juga belum tentu siap sih.

      Susah kan siapnya. Hiks. :(

      Delete
  10. Memang tidak ada yang tahu kapan Tuhan memanggil kita ya Mba? Istri saya juga kerja pulang sore. Kadang kalau saya pulang dari kantor duluan, dan dia belum pulang, lalu aku telpon. Ketika telpon gak diangkat-angkat sama dia rasanya tuh kayak gimana gitu. Eh, pas telponnya diangkat lega banget sarasnya...

    Salam kenal, Mbak?

    ReplyDelete
  11. Aku pun sempat over khawatir selepas wafatnya Ashraff kemarin. Tapi ya gak bisa gitu juga, umur kan Allah yang atur. Yang penting yakin apa yang ditetapkan Allah tetap paling baik

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, dikekepin kaya gimana kalau udah ajal ya udah, wassalam

      Delete
  12. Maut memang tidak terduga ya mbak, sekuat apapun persiapan mental kita pasti akan runtuh juga saat itu terjadi dalam keluarga kita. Hanyak ketabahan dan kesabaran yang bisa kita lakukan.

    ReplyDelete
  13. Jadi ingat bayi pertama saya meninggal saat 13 hari usianya.
    Alhamdulillah kini ada pengganti 2 anak lelaki dari-Nya
    Semoga kita semua sehat selalu ya Mbak...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya Allah, mbak...
      Nggak kebayang gimana rasanya waktu itu. Tapi alhamdulillah ya dikasih pengganti sama Allah.

      Delete
  14. Saya sampek brebes mili membayangkan si ibu yang kehilangan bayinya itu. Ya, benar. Memang ajal adalah misteri. Jadi teringat cara berpulangnya ponakan saya yang juga mengejutkan dan tiba-tiba. Hiks...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya juga nangis waktu lihat dan dengar sendiri. Hiks.

      Delete