Pengalaman Mastitis Saat Menyusui, Akhirnya Sembuh

By Aprilely Ajeng Fitriana - Monday, May 25, 2020

Waktu hamil Ghazy, saya banyak belajar tentang menyusui. Mulai dari pelekatan bagaimana, kebutuhan ASI untuk bayi dari awal kehidupannya, cara ngecek ASI cukup atau nggak gimana, banyak. Realitanya, apa yang saya tahu tidak serta merta membuat perjalanan saya menyusui Ghazy jadi lebih mudah. Ada saja hal yang bikin galau. 

Salah satu hal menyakitkan yang saya alami saat menyusui Ghazy adalah mastitis. Semua ibu pasti mengiyakan kalau bayi yang baru lahir itu nyusunya menyakitkan. Nanti, setelah dia tumbuh gigi terus tergigit, itu juga sakit. Tapi mastitis ini sakitnya ampun-ampun. Saya sampai stress dibuatnya. 

Dan, inilah sekelumit kisah pengalaman saya ketika terkena mastitis. Kenapa saya bisa mengalaminya? Apa kesalahan menyusui yang sudah saya lakukan? Lalu, bagaimana akhirnya saya bisa sembuh? Semuanya akan saya akan ceritakan di sini. Semoga siapapun yang membaca mendapat titik cerah untuk mencari solusi yang tepat.

Mastitis

Awal Mula Mastitis

Sebelum saya cerita lebih lanjut tentang apa itu mastitis, mungkin masih ada yang bingung tentang penyakit ini. Saya sertakan link penjelasan mastitis yang bisa kalian pelajari secara singkat di sini.

Well, mari kita mulai ceritanya.

Waktu itu Ghazy masih umur satu bulan. Setelah sempat kuning dan push Ghazy untuk bisa menyusui dengan baik dan benar, saya tidak lagi bermasalah dengan pelekatan dan kekhawatiran ASI kurang. Dari apa yang saya baca, selama payudara ibu dihisap oleh bayi, dia akan terus mengeluarkan ASI.

Masalah lain muncul ketika saya menunda memberikan ASI dari salah satu payudara. Saya pikir ASI bisa disimpan dulu di payudara supaya nanti malam saat menyusui bisa punya banyak stok. Pikiran ini yang ternyata menjadi sumber segala penyakit yang menyerang saya sendiri. Huhuhu.



Ibu-ibu tentu bisa menebak apa yang terjadi pada saya. Payudara saya bengkak. Mulai terasa sakit karena saking banyaknya ASI di sana. Setelah terasa sakit, baru saya ngeh kalau saya keliru. 

Saya coba lakukan breast care dengan mengompres dan memijat payudara saya. Tengah-tengah breast care, saya kedatangan tamu. Allahu akbar! Bisa nggak sih, nggak ke rumah dulu?

Cukup merepotkan menemui tamu sendiri sambil ngasuh Ghazy yang sedang ngantuk dan payudara yang lagi cenut-cenut. Tapi, masa ya mau diusir tamunya? Sebetulnya, saya mau pura-pura tidak mendengar saja. Eh, kok waktu ngintip itu siapa kelihatan sama tamunya. Terpaksa saya keluar.

Setelah tamu itu pulang, saya coba susukan ke Ghazy. Payudara saya yang bengkak itu cukup menyulitkan dia untuk menyusu. Akhirnya, tawaran saya ditolak oleh Ghazy. Seharusnya sih, saya coba lakukan marmet (memerah dengan tangan) dulu sebelum memberikan ke Ghazy biar dia mau. Tapi itu tidak saya lakukan.

Alih-alih push Ghazy untuk mengosongkan payudara itu. Saya malah membiarkan dia menyusui dari payudara yang lain. Memang sayanya yang nggak mau ambil pusing sih waktu itu. Iya, itulah kebodohan saya. Huhuhu.


Saya masih berjuang untuk mengatasi rasa sakit itu. Breast care saya lakukan tapi saya tidak mengosongkan payudara. Saya kira, sakit ini seperti awal-awal ASI saya muncul. Tahu kan bagaimana rasanya? Payudara terasa penuh dan sakit. Tapi, lambat laun hilang karena disusukan ke bayi.

Saya pikir, sakit ini akan berlalu dalam satu atau dua hari. Tapi sampai hari ketiga, payudara saya tetap sakit juga. Payudara saya mulai memerah. Saya juga mulai panas dingin.

Sebetulnya, saya tidak tahu kalau saat itu saya sudah terkena mastitis. Waktu saya curhat ke teman saya, barulah saya tahu itu mastitis.

Perjuangan Menyembuhkan Rasa Sakit

Jujur, saya sudah stress sekali saat itu. Saya tidak tahu harus berbuat apalagi. Tapi, saya coba menenangkan diri dan melakukan apa yang bisa saya lakukan. 

Saya kemudian ingat teman saya yang pernah demam karena payudara yang bengkak juga. Dia akhirnya membawanya ke bidan untuk pijat laktasi. Saya langsung coba cari jasa bidan homecare. Ketemu, tapi beliau sudah full book untuk keesokan harinya. 

Saya coba alternatif lain. Saya cari kontaknya di instagram dan grup prenatal yoga yang dulu pernah saya ikuti. Beberapa nama bidan yang bisa melakukan homecare muncul di sana.

Hingga akhirnya, saya bisa membuat janji dengan salah satu guru prenatal yoga saya dulu, Bidan Yuni. Saya baru tahu kalau dia bisa melakukan homecare juga.

Saat kunjungan, Bidan Yuni bertanya kenapa saya bisa begitu. Dari cerita saya, akhirnya beliau memberi tahu kesalahan-kesalahan yang saya lakukan saat menyusui Ghazy. Setelah wawancara, baru beliau memijat saya di depan suami. Tujuannya, supaya suami saya juga belajar bagaimana melakukan pijatan untuk ibu menyusui.

Kata Bidan Yuni, payudara yang bengkak itu belum sampai mastitis. Itu masih penyumbatan ASI saja. Meski demikian, ini bisa saja berubah menjadi mastitis kalau tidak segera ditangani dengan benar.


Bidan Yuni sudah berusaha untuk melakukan pijat laktasi untuk saya. Sayangnya, payudara saya sudah terlalu bengkak. Sulit untuk bisa mengosongkan payudara hanya dalam satu kesempatan. Jadi, beliau memberikan saya beberapa PR untuk bisa menyembuhkan rasa sakit itu.

  • Bayi harus menyusu dari payudara yang bengkak dulu, bukan yang lain
  • Pengosongan payudara yang lain bisa dilakukan dengan memompa ASI
  • Terus lakukan breast care agar ASI yang bengkak mudah keluar

Ketiga PR itu saya kerjakan semuanya. Sayangnya, rasa sakit itu tidak kunjung hilang. Saya makin stress dibuatnya. Akhirnya, saya merengek ke suami untuk pergi ke dokter.

Suami saya tidak tahu kalau masalah ini bisa jadi amat serius bila tidak segera ditangani. Jadi, dia santai saja menanggapinya. Sempat menolak membawa saya ke dokter juga. Setelah saya menangis kesakitan, barulah dia mengiyakan untuk membawa saya ke dokter.

Konsultasi Mastitis ke Dokter Spesialis Kandungan

Payudara sudah sakit sekali. Saya ingin segera membawanya ke dokter tapi saya bingung ke dokter apa. Saya sempat baca-baca pengalaman orang lain yang terkena mastitis dan solusinya adalah membawanya ke dokter kandungan

Waktu itu, bukan jadwal praktik dokter kandungan saya. Tapi, karena saya sudah amat sangat kesakitan, siapa saja dokternya tidak masalah. Mau laki-laki atau perempuan, yang penting sembuh.

Subuh menjelang saya akan konsultasi ke dokter, saya sempat mencium bau anyir ketika Ghazy sedang menyusu. Payudara saya ternyata sudah luka. Selama ini, saya mengabaikan rasa sakit ketika menyusui Ghazy dari payudara yang bengkak itu. 

"Nggak masalah sakit sekarang, asal bisa cepat sembuh," itu pikiran saya.


Jadi, waktu konsultasi ke dokter, kondisi payudara saya sudah amat parah. Puting luka, payudara bengkak. Kata dokter, ini sudah mastitis. Penyebabnya karena penyumbatan di payudara dan luka pada puting yang membuatnya jadi radang.

Dokter kemudian meresepkan obat oles untuk menyembuhkan puting saya yang lecet, antibiotik, serta pereda rasa sakit. Beliau tidak meresepkan penurun demam karena saya sudah punya di rumah. 

Oya, saya lupa cerita. Sebelum ke dokter, saya sempat minum paracetamol untuk meredakan rasa sakit yang saya rasakan. Nah, obat ini diminta untuk terus saya minum sampai demam saya mereda. Selebihnya, tinggal menghabiskn antibiotik saja.

Setelah berobat ke dokter, saya merasa membaik meskipun payudara saya masih bengkak. Saya sudah khawatir mastitis itu berubah menjadi abses payudara. Tapi kata dokter, saya hanya perlu melanjutkan pengobatan dan breast care di rumah.


Dikira Sembuh dari Mastitis, Ternyata...

Jujur, saya kesulitan melakukan breast care karena Ghazy tidak mau berhenti menyusu. Repot sekali harus mengurus diri sendiri dan Ghazy yang terus menerus minta nenen. Saya cuma bisa mencoba mengosongkan payudara saya dengan pompa ASI saja. Selebihnya sulit.

Saya akhirnya mencoba sewa alat pijat payudara. Ini sangat amat membantu untuk mengurangi bengkak. Payudara saya yang bengkak mulai membaik. Saya juga sudah lama tidak merasakan sakit lagi. 

Harapan bahwa sebentar lagi sembuh pun mulai muncul. Saya optimis sekali bahwa sebentar lagi saya akan terbebas dari siklus yang menyiksa itu.

Hingga akhirnya muncul benjolan bernanah. Saya masih belum menganggap ini serius. Saya pikir nanah itu bisa keluar dengan sendirinya. Tapi ternyata tidak.

Saya sempat cerita ke ibu saya tentang nanah itu. Ibu saya bilang bahwa saya harus mengeluarkannya apapun yang terjadi. Meminta saya untuk mencoba mengeluarkannya sendiri, tapi saya tidak berani.

Ada 2 benjolan bernanah yang ada. Satunya kecil dan nanahnya sudah keluar semua. Satu lagi cukup besar dan agak merepotkan untuk mengeluarkannya. Ini agak ngeri juga sebetulnya. Khawatir saat menyusu, Ghazy terkena nanah itu.

Qadarullah, nanah itu pecah saat libur natal dan tahun baru. Agak sulit untuk konsultasi ke dokter spesialis saat itu. Tapi karena kondisi sudah darurat, saya coba bawa ke IGD. Harapan saya, nanah itu bisa disedot di sana.

Lagi-lagi saya keliru. Dokter yang ada di IGD hanya ada dokter umum. Jaringan yang ada di payudara ini cukup kompleks sehingga butuh penanganan dokter spesialis agar tidak merusak jaringan-jaringan yang ada. Dokter umum tidak bisa memberikan tindakan apapun kecuali membersihkan nanah saja.



Setelah kunjungan ke IGD, saya coba keluarkan nanah itu sendiri dengan cara mengompres bagian bernanah dengan revanol, lalu menutupnya lagi agar tidak mengenai baju atau bayi saya. Cara ini memang bisa dipakai untuk mengeluarkan nanah, tapi tidak signifikan.

Tak lama setelah kunjungan ke IGD itu, ada jadwal posyandu. Seperti biasa, saya datang ke sana untuk menimbang berat badan anak saya dan ngobrol dengan bidan yang bertugas. Beliau menyarankan saya untuk langsung konsultasi dengan Dokter Bedah setelah mendengar kondisi saya. Konsultasi ke Dokter Kandungan yang pernah saya lakukan sebelumnya sudah tepat. Tapi karena kondisi sudah seperti itu, saya perlu konsultasi ke dokter bedah untuk mendapatkan tindakan lebih lanjut.

Konsultasi Mastitis dengan Dokter Bedah yang Mengiris Kalbu

Besoknya, saya datang ke rumah sakit untuk konsultasi dengan dokter bedah. Kebetulan dokter bedah yang pertama kali menangani saya sedang sibuk. Beliau khawatir tidak bisa melakukan tindakan lebih kepada saya. Jadi, beliau rujuk saya ke dokter bedah lain yang praktik di jam berbeda.

Kebetulan, beliau praktik di hari yang sama, tapi siang. Rumah saya cukup dekat dari rumah sakit. Saya putuskan untuk pulang dulu agar Ghazy tidak terlalu lama ada di rumah sakit.

Siang itu juga saya kembali ke rumah sakit untuk konsultasi dengan dr. Ruzbih Bahtiar. Payudara saya dicek kanan dan kiri. Ketiak saya pun dicek juga. Apakah ada benjolan atau tidak.

Semua prosedur itu beliau lakukan untuk mencari tahu apakah yang saya alami ini mastitis biasa atau yang lebih mengerikan lagi, tumor hingga kanker. Saya shock mendengar penjelasan beliau. Saya baru tahu bahwa dari mastitis bisa merambah ke penyakit yang lebih mengerikan lagi.

Beliau menyarankan saya untuk mengangkat abses saya. Abses ini nanah yang ada di dalam payudara saya tadi. Saya mengiyakan saja. Saya pikir prosedurnya tidak mengharuskan saya untuk rawat inap.

"Nanti ibu akan dibius total," begitu penjelasan dr. Ruzbih.

"Saya harus rawat inap dong, Dok?" tanya saya ketika mendengar penjelasan beliau.

"Iya, Bu. Misal, pagi operasi, siang ibu sudah selesai dan harus menunggu sampai biusnya hilang dulu. Paling cepat, besoknya ibu baru bisa pulang."

"Apa tidak bisa ODC (One Day Care), Dok?"

"Tidak bisa, Bu. Ibu akan sangat kesakitan kalau saya melakukan prosedur itu."


Pikiran saya langsung ke Ghazy saat itu juga. Dia belum genap 2 bulan. Siapa yang akan merawatnya saat saya harus rawat inap di rumah sakit. Bagaimana kalau dia lapar, rewel, dan sebagainya?

Spontan saya bertanya ke dr. Ruzbih, "anak saya bagaimana, Dok?" 

Tak terasa air mata saya mengalir begitu saja saat mempertanyakan hal ini. Saya lupa atas segala hal yang harus saya jalani agar bisa sembuh. Fokus saya seketika berubah ke Ghazy. Hati saya hancur berkeping-keping saat tahu kami harus dipisahkan selama saya menjalani pengobatan. 

Persiapan Operasi Mastitis

Dokter mencoba menenangkan saya saat itu. Dia berusaha memberikan tindakan terbaik yang masih memungkinkan saya untuk terus menyusui bayi saya. Bagaimanapun juga pengangkatan abses harus dilakukan agar tidak merusak jaringan payudara saya.

Saya tidak berhenti menangis setelah konsultasi itu. Saya cerita ke suami saya agar kami bisa sama-sama mencari solusi atas masalah kami. Ghazy harus ada yang merawat selama saya menjalani operasi.

Kami sempat terpikir tante suami yang rumahnya tak jauh dari rumah kami. Tapi saat itu, mereka belum pulang dari liburan akhir tahun.

Saya coba cerita ke ibu saya. Pikiran saya bukan lagi ke operasi tapi sepenuhnya ke Ghazy. Ibu saya pun berusaha untuk datang ke Bogor hari itu juga. Siang saya telpon, sore ibu saya berangkat ke bandara penerbangan ke Jakarta. Malamnya, ibu saya sudah di rumah.

Kondisi Ghazy saat itu sedang tidak mau ditaruh. Dia maunya digendong dan banyak sekali menyusu. Ini juga yang membuat saya cemas menitipkan dia ke orang lain. Pasti akan sangat amat merepotkan. 

Kalau dia telat disusui, dia akan menangis kencang sekali. Seolah-olah habis disiksa saja. Ibu saya yang tahu hal ini mulai ngeri juga. 

Sebelum saya harus rawat inap dan menjalani operasi, sebisa mungkin Ghazy akan terus ada di dekat saya. Ibu membantu saya untuk menjaga Ghazy selama saya harus menjalani beraneka tes sebelum operasi. Kalau Ghazy menangis, saya susui dia dulu.

Hingga tiba waktunya saya untuk rawat inap. Saya masuk ke ruangan yang isinya untuk 4 orang. Masuk kamar mana saja tidak masalah bagi saya. Toh, saya hanya semalam di sana.

Kebetulan, saya kehabisan kamar. Sementara itu, saya harus menjalani operasi hari itu juga. Petugas informasi mencoba mencarikan kamar untuk saya. Akhirnya, saya mendapat kamar di gedung baru. Saya sendirian di sana. Saya pikir, mungkin saya bisa meminta membawa anak saya masuk dulu ke sana. Tapi ternyata tidak bisa.

Bangsal yang saya tempati memang sepi sekali. Namun, bagaimapun juga itu tetap bangsal dewasa. Penyakit yang di tangani di sana terlalu berbahaya untuk kondisi bayi yang imunnya belum baik.

Operasi Mastitis, Singkat Tapi Hmmm

Setelah saya masuk ke ruang rawat inap, suami memulangkan ibu saya dan Ghazy. Masih ada waktu 1-2 jam sebelum saya menjalani operasi. Suami saya membelikan Ghazy sufor. Mengajari adik saya untuk menyiapkan ASIP.

Menjelang operasi, saya didampingi suami saja. Perasaan saya jauh lebih tenang karena Ghazy sudah bersama nenek dan tantenya. Saya jadi bisa lebih fokus pada diri saya sendiri.

Operasi mastitis memang mengharuskan bius total. Tapi, ini bukan operasi besar. Prosesnya hanya berlangsung selama 15 menit saja. Paling lama mungkin 30 menit. Sebentar sekali.

Setelah operasi, saya masih ada di ruang OK untuk diobservasi. Jujur, begitu tersadar, saya sempat bingung saya ada di mana. Ruangan itu begitu asing bagi saya. 

Obat bius saat itu masih bekerja di dalam tubuh saya. Jadi, meskipun saya sudah sadar, saya masih kesulitan untuk menggerakkan anggota tubuh saya sendiri. Butuh waktu untuk bisa menggerakkannya.

Setelah operasi itu, payudara saya masih terasa amat nyeri. Berkurangnya obat bius membuat rasa sakitnya terasa sekali. Untuk saya yang tidak kuat dengan rasa sakit, ini menyiksa sekali.

Sesampai di ruang rawat inap, suster memberikan obat antibiotik dan pereda nyeri melalui infus. Saya tidak bisa bilang rasa sakit itu menghilang begitu saja. Tapi, saya mulai terbiasa dengan rasa sakitnya.

Keesokan hari, dr. Ruzbih visite ke ruangan saya. Beliau menanyakan kondisi saya. Alhamdulillah, kondisi saya jauh lebih baik dari sebelumnya. Memang masih terasa nyeri, tapi sudah amat sangat berkurang rasanya. Dokter pun membolehkan saya pulang.



Perawatan Pasca Operasi Mastitis

Setelah operasi, payudara saya berlubang. Kondisinya cukup mengerikan. Saya sendiri ngeri lihat bentuknya. Masih merah sekali dan tampak dagingnya.

Luka itu memang sengaja tidak dijahit. Ini untuk memudahkan mengeluarkan sisa-sisa nanah yang masih keluar. Lagipula, jaringan yang ada di payudara adalah jaringan yang cepat sekali tumbuh kembali.

Perawatan luka, awalnya saya serahkan ke tenaga medis. Setelah 3 hari, jaringan mulai tumbuh dan lubangnya tidak sedalam sebelumnya. Rasanya cukup memungkinkan untuk melakukan perawatan sendiri.

Saya beli sarung tangan medis, larutan NaCl untuk memberihkan luka, serta kasa dan plester untuk membungkus luka kembali. Saya belajar perawatan luka dari tenaga medis yang merawat luka saya selama home care. Alhamdulillah, dalam waktu seminggu jaringan mulai tumbuh dengan sempurna. Selebihnya tinggal pembentukan jaringan kulit yang baru sambil menunggu nanahnya betul-betul habis.

Kurang lebih butuh waktu sebulan untuk betul-betul sembuh. Luka betul-betul kering dan bisa diolesi dermatic.

Masalah lain yang muncul adalah produksi ASI yang turun drastis. Sebetulnya, ASI saya tidak langsung turun. Pasca operasi ASI saya masih keluar. Tapi saya kesulitan untuk memerahnya. Sementara itu, saya agak takut memberikan payudara yang luka ke bayi.

Oya, pasca operasi mastitis, kita masih bisa ya menyusui bayi. Payudara yang habis dioperasi itu juga masih bisa disusukan. Dokter pun bilang kalau itu aman untuk disusukan ke bayi. 

Hanya saja, Ghazy saat menyusu kadang suka memukul payudara saya. Ini yang membuat saya ngeri-ngeri sedap setiap kali menyusui Ghazy selama mastitis dan masa penyembuhan ini. Ya itu tadi, takut ditabok.

Saya tidak menyusui Ghazy dengan satu payudara saja pasca operasi mastitis. Tapi mengurangi frekuensi payudara yang sakit sampai dia sembuh betul. Memang, begini ini membuat ukurannya jadi besar sebelah. Tapi asal suami tidak komplain saja, tak masalah lah ya.



Hal yang Harus Kamu Lakukan Ketika Terkena Mastitis

Belajar dari pengalaman, saya mencoba merangkum apa saja yang harus dilakukan agar tidak melakukan kesalahan yang sama seperti saya.

1. Lakukan breast care dan rutin mengosongkan payudara

Breast care dan pengosongan payudara menjadi kunci untuk bisa cepat sembuh dari mastitis. Prosedur breast care yang bisa dilakukan bisa dilihat di video berikut supaya lebih jelas lagi.


Selain rutin melakukan pijat laktasi atau breast care, jangan lupa untuk mengupayakan pengosongan payudara. Berdasarkan pengalaman saya, cara termudah ya dengan menyusui bayi. Tanda payudara yang telah kosong bisa dilihat dari kondisi payudara yang awalnya kencang jadi mengendur setelah disusukan ke bayi. Bila payudara masih terasa kencang setelah menyusui, coba perah menggunakan alat pompa ASI.

2. Kompres payudara bila terasa nyeri

Kompres dengan handuk dingin bisa membantu untuk meredakan nyeri akibat peradangan. Selain handuk dingin, bisa juga menggunakan kol bersih yang telah dibekukan di dalam freezer. Kompres ini bisa dilakukan selama 10-15 menit.

3. Konsultasi masalah ini ke konselor laktasi

Mastitis memang bikin stress. Bagaimana tidak, rasa sakit yang tidak kunjung hilang tentu amat sangat menyiksa. Belum lagi kita harus mengurus bayi kita juga. Sekalipun kita sudah membaca segala informasi tentang mastitis dari berbagai sumber, nyatanya banyak hal yang belum juga bisa terjawab.

Kok bisa begitu? Karena kondisi tiap orang bisa jadi berbeda.

Alih-alih pusing dan stress sendiri, cobalah untuk berkonsultasi dengan konselor laktasi terdekat. Ada beberapa rumah sakit yang menyediakan klinik laktasi yang bisa dijadikan rujukan untuk konsultasi. Tentunya, di sana kita bisa bertemu dokter yang lebih tepat untuk menangani kasus yang kita alami.

Kalau dari referensi yang saya baca, untuk mengetahui kondisi payudara kita dengan tepat, tidak hanya cukup dilihat dengan mata telanjang. Memang perlu beberapa tes untuk mengukur seberapa parah mastitis yang kita alami. 

Untuk tahu apakah mastitis sudah menjadi abses atau tidak, mestinya dilakukan USG Payudara. Saya belum pernah mengalaminya. Sempat penasaran juga kenapa kemarin dokter tidak melakukan hal ini kepada saya. 

Nah, kalau sudah mulai keluar nanah, harus dites lagi jaringan payudara yang bernanah tersebut. Apakah itu mastitis kronis saja atau sampai muncul sel kanker di dalamnya.

Kalau di Bogor, rumah sakit yang ada klinik laktasinya ada di RS PMI dan RS Azra. Kontak kedua rumah sakit itu, bisa dilihat di sini.

4. Terus susui bayi apapun yang terjadi

Mastitis bisa sembuh kalau sumber peradangan hilang. Bakterinya mati karena antibiotik yang kita minum. ASI yang tersumbat keluar setelah dikosongkan. Saya tahu bahwa mengosongkan payudara saat sedang mastitis itu sulitnya minta ampun. Mengeluarkan ASI yang tersumbat itu betul-betul setengah mati. Tapi itu harus dilakukan. Cara terampuh untuk mengosongkannya ya dengan disusui ke bayi.

Jangan khawatir bayi akan terkontaminasi dengan ini itu. In syaa Allah aman. Kandungan dari ASI sendiri sudah cukup keren untuk melindungi bayi dari bakteri-bakteri tadi.

5. Sabar

Last but not least, sabar aja. Mau gimana lagi, buat sembuh butuh waktu. Mau nangis, silakan. Tapi terus upayakan yang terbaik. Pompa ASI iya, susukan iya, breast care iya, minum obat (dengan resep dokter) juga iya. Semoga nggak sampai jadi abses. Semoga sabarnya kita bisa menjadi penggugur dosa-dosa kita.

Penutup

Nggak kerasa nulis sepanjang ini. Intinya sih, saya cuma kepingin teman-teman yang baca tulisan ini tidak mengalami apa yang saya alami. Ini nggak cuma bikin galau, tapi betul-betul menyakitkan.

Kalau kalian yang sedang membaca ini dan kebetulan mengalami mastitis juga. Saya doakan semoga Allah memberikan kesembuhan, kekuatan, serta kesabaran, aamiin.

  • Share:

You Might Also Like

12 komentar

  1. Mbaleeeel, ya Allah, sungguh luar biasa sekali perjuangan Mbalely mengASIhi Ghazy...
    Saya ga kebayang sakitnya mastitis itu, soalnya waktu H+4 payudara kanan saya bangun tidur itu bengkak banget karena kemarin habis dipompa habis-habisan aja sakitnya udah bikin emosi jiwa ke seisi rumah ��

    Insya Allah, perjuangan Mbalely sudah dicatat sebagai ibadah oleh Allah karena memenuhi fitrahnya Ghazi...

    Saya ngeri-ngeri sedep baca postingan ini, inget perjuangan dulu juga mengASIhi Thariq...

    Oh iya, selamat lulus S1 ASI ya, Ghazi... Semangat 1.5 tahun lagi ��

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya bayangin aja sakit gara-gara bengkak selama sebulan. Udah nangis-nangis aja tuh rasanya.

      Sebulanan mastitis. Dari yang sakit banget sampai kaya udah biasa sama sakitnya.

      Abis itu operasi, recovery sebulanan juga. Amazing bangetlah.

      Alhamdulillah, zemua zudah berlaluuu..

      Mamacih mbunnya Thariq. 😘

      Delete
  2. Semangat bunda, semoga lekas pulih dan keluarga selalu sehat semua😊

    ReplyDelete
  3. Kemaren dulu itu saya saya juga sempet tersumbat ASI nya Mba, udah sampe bengkak dan kesakitan. Tapi saya ingat ipar saya, dia pernah menusuk lubang di putingnya pake jarum (dipanaskan terlebih dahulu) karena ada penyumbatan. Akhirnya saya terpikir kesitu dan nyoba juga. Ternyata saya juga ketemu sumbernya, semacam titik putih menyumbat di salah satu lubang, setelah ditusuk (gak sakit) titik putih itu menempel di ujung jarum, akhirnya ASI nya lancar lagi, untunglah kondisi kami gak jauh beda penanganannya Mba, saya udah bener-bener cemas waktu itu. 😂

    ReplyDelete
    Replies
    1. Coba saya tahu cara ini mbak. Tante saya juga bilang gitu. Tapi sayangnya waktu itu udah jadi abses. Jadi memang sudah harus operasi, tapi saya tunda dulu.

      Delete
    2. Tapi enggak jadi infeksi ? Ditusuk jarum gitu ?

      Delete
    3. Jarumnya disterilkan dulu. Dibakar baru dipakai. Tapi kalau khawatir infeksi, lebih baik coba perah-perah aja. Bisa juga merendam puting pakai epsom salt. Ini membantu memperlancar gumpalan-gumpalan juga.

      Delete
  4. Saya belum nikah mbk. Masih otw. Jadi baru tahu tentang mastitis ini. Ngeri juga ya mbk. Gara-gara asi nggak segera dikasih ke bayi ternyata bisa berakibat fatal. Bahkan sampai harus dioperasi. Saya sebagai wanita merasa salut sama mbk lelly yang tetep sabar menghadapi mastitisnya. Jadi pelajaran juga buat saya kalau nanti punya bayi dan harus menyusui.
    Makasih sharingnya mbk. Semoga diberi kesehatam selalu...😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jangan sampai kena mbak. Seriusan deh. Itu sakitnya sampai ke ubun-ubun. Huhuhu...

      Delete