Kenali dan Deteksi Pikun Sejak Dini

By Aprilely Ajeng Fitriana - Monday, September 21, 2020

pikun


Pernah nonton film A Moment to Remember? Ini film Korea yang cukup lama. Saya sendiri nonton film ini waktu masih kuliah. Kira-kira 9 atau 10 tahun yang lalu. Film ini bercerita tentang pasangan suami istri yang istrinya mengidap Demensia Alzheimer. Apa itu? Mudahnya, pikun. 

Ini lumayan parah. Dalam cerita itu, istrinya bisa lupa jalan pulang ketika sedang pergi ke tempat belanja yang biasa dikunjungi. Parahnya, dia lupa kalau sudah menikah. Dia pikir masih pacaran dengan mantannya yang dulu. Singkat cerita, akhirnya dia kehilangan hampir seluruh memori yang dia miliki.

Film ini betul-betul mengandung bawang. Saya menangis sesenggukan saat menyaksikannya. Tapi, gara-gara film ini juga, saya jadi sering mempertanyakan diri sendiri. Jangan-jangan saya kena Alzheimer juga, saking seringnya lupa. Semua pertanyaan itu kemudian sirna setelah saya mengikuti Festival Digital Bulan Alzheimer Sedunia yang diselenggarakan hari Minggu, tanggal 20 September 2020 kemarin.

pikun


Mengenal Demensia Alzheimer


Tentang lupa, saya ini sering banget lupa ini itu. Sering banget mau ambil barang di kamar, begitu masuk kamar, lupa mau ngapain. Atau, ketika mau ambil sesuatu di kulkas. Begitu buka kulkas, mata hanya mampu menatap nanar tanpa tahu mau ambil apa tadi. Masih banyak contoh yang lain. Suami saya dari yang B aja sampai kesal sendiri dengan ini.

Gara-gara ini, saya pernah kepikiran jangan-jangan saya kena Alzheimer seperti Su Jin di film A Moment to Remember. Alhamdulillah, kemarin saya ikutan webinar yang diadakan oleh PT Eisai Indonesia (PTEI) dan Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf  Indonesia (PERDOSSI). Melalui webinar ini, saya mulai paham Demensia Alzheimer itu apa? Kalau kita sering lupa, apakah ini sudah termasuk gejala Demensia Alzheimer atau bukan? Nah, kita akan bahas di sini.

Apa itu Demensia Alzheimer?


Demensia Alzheimer merupakan sindrom gangguan penurunan fungsi otak yang dapat mempengaruhi fungsi kognitif, emosi, daya ingat, perilaku, serta kemampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Kita sering menyebut ini dengan pikun. Nah, pertanyannya, apakah pelupa ini sama dengan pikun? Ternyata, tidak.

Apa bedanya pelupa dan pikun?


Lupa dan pikun merupakan dua hal yang berbeda. Kalau lupa, ini terjadi karena gangguan pemusatan perhatian. Ini tidak permanen, hanya sementara. Cirinya, lupa nama orang yang jarang ketemu, mengeluh sering lupa tapi bisa memberikan contoh hal yang dilupakan, sesekali kesulitan menemukan kata yang tepat saat berbicara. Selain itu, biasanya dia akan ingat hal penting, pembicaraan tidak terganggu, kehidupan sosial seperti biasa, kadang kesulitan menentukan arah, tapi tidak
sampai tersesat.

Sedangkan pikun, ini terjadi karena fungsi kognitif menurun disertai gangguan aktivitas keseharian. Cirinya, pasien bisa lupa nama orang yang sering ketemu, mengeluh lupa hanya bila ditanya, dan tidak bisa memberikan contoh apa yang dilupakan. Pasien juga sering kesulitan menemukan kata yang tepat saat berbicara. Mereka juga sering lupa hal penting, kemampuan bicara sangat terganggu, kehilangan minat untuk aktifitas sosial, dan juga sering tersesat meski sedang di lingkungan sekitar rumah saja.

Kalau menurut definisi dan cirinya, alhamdulillah saya nggak pikun. Tapi, saya pelupa saja.

Pentingnya Deteksi Dini Alzheimer


pikun


Seperti yang kita ketahui bersama, penyakit ini banyak sekali dialami oleh para lansia. Saking banyaknya, kita jadi menganggap ini sebagai hal yang normal. Padahal berdasarkan data dari Alzheimer’s Disease International dan WHO, terdapat lebih dari 50 juta orang di dunia mengalami demensia dengan hampir 10 juta kasus baru setiap tahunnya. Dari banyaknya kasus tersebut, Alzheimer menyumbang 60-70% kasus.  

Jika gejala ini mampu dideteksi sedari dini, ini akan membantu penderita dan keluarganya untuk dapat menghadapi dampak penurunan fungsi kognitif dan pengaruh psiko-sosial dengan lebih baik. Selain itu, percepatan kepikunan juga bisa dikurangi. Ini sebabnya, deteksi Demensia Alzheimer sejak dini itu penting dilakukan agar penderita mampu mendapatkan penanganan yang tepat sebelum keadaan semakin memburuk.

Dalam Festival Digital Bulan Alzheimer Sedunia kemarin, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, dr. Siti Khalimah, Sp.KJ, MARS juga mengatakan, “Saat ini kita mulai memasuki periode aging population, dimana terjadi peningkatan umur harapan hidup yang diikuti dengan peningkatan jumlah lanjut usia (lansia). Indonesia mengalami peningkatan jumlah penduduk lansia dari 18 juta jiwa (7,56%) pada tahun 2010, menjadi 25,9 juta jiwa (9,7%) pada tahun 2019, dan diperkirakan akan terus meningkat dimana tahun 2035 menjadi 48,2 juta jiwa (15,77%). Jumlah lansia yang terus meningkat tersebut dapat menjadi aset bangsa bila tetap sehat dan produktif. Namun lansia yang tidak sehat dan tidak mandiri akan berdampak besar terhadap kondisi sosial dan ekonomi bangsa. Demensia Alzheimer merupakan salah satu ancaman bagi lansia di Indonesia saat ini."

Lebih lanjut  dr. Siti Khalimah, Sp.KJ, MARS mengatakan, “Kementerian Kesehatan mendukung penuh Festival Digital Bulan Alzheimer Sedunia ini karena merupakan bagian dari edukasi yang sangat penting untuk mencegah lansia terkena Demensia Alzheimer. Harapannya, makin banyak lansia yang terdeteksi Demensia Alzheimer dapat ditangani sejak awal sehingga dapat terus produktif.”

pikun



Upaya untuk Mengenali dan Mendeteksi Pikun Sejak Dini


Mengingat pentingnya untuk kenal dan mampu mendeteksi pikun sejak dini, tentunya harus ada upaya yang dilakukan supaya semakin banyak orang yang paham akan hal ini? Bagaimana caranya? Salah satu caranya adalah dengan melakukan Kampanye Edukatif #ObatiPikun. Dalam kampanye ini, PT Eisai Indonesia dan Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI) mengajak dokter serta masyarakat awam untuk mengenal lebih dekat Demensia Alzheimer ini.

pikun



Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) PERDOSSI, DR. dr. Dodik Tugasworo P, SpS(K) dalam sambutannya mengatakan, “Edukasi kepada masyarakat dan tenaga kesehatan secara terus menerus sangat penting. Sebagai bagian dari program kampanye edukatif #ObatiPikun yang kami canangkan bersama dengan PT. Eisai Indonesia (PTEI), maka kami mengadakan Festival Digital Bulan Alzheimer Sedunia ini. Para peserta akan mendapat penjelasan menyeluruh mengenai Demensia Alzheimer dari berbagai narasumber dibawah naungan PERDOSSI. Dalam kesempatan itu pula, peserta akan diperkenalkan pada sebuah aplikasi deteksi dini Demensia Alzheimer bernama aplikasi E-Memory Screening (EMS). Melalui Aplikasi EMS ini kami berharap semakin banyak masyarakat yang mengetahui gejala awal Demensia Alzheimer dan juga bagaimana penanganannya.”

pikun



Aplikasi E-MS resmi diluncurkan pada tanggal 20 September 2020 dan dapat diunduh dengan mudah oleh dokter dan masyarakat awam di Playstore dan Appstore. Aplikasi E-MS ini akan menilai kondisi memori seseorang dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan terkait Demensia Alzheimer yang mungkin dialami oleh pengguna aplikasi. Setelah itu, Aplikasi E-MS akan memberikan skor dan apabila skor tersebut menunjukkan kondisi abnormal, maka aplikasi ini akan menyediakan fitur direktori rujukan terpercaya kepada dokter di sekitar pengguna aplikasi berdasarkan GPS termasuk informasi jarak, nama dokter beserta keahliannya di bidang Demensia Alzheimer, serta nomor call center RS yang dapat dihubungi. Selain deteksi dini, aplikasi ini juga menyediakan ragam informasi terpercaya dan akurat mengenai Demensia Alzheimer dengan menggunakan bahasa yang mudah dimengerti oleh masyarakat awam. Aplikasi ini juga menyediakan tips dan trik dalam merawat Orang Dengan Demensia (ODD) secara efektif dan efisien.

Penutup


Jangan anggap remeh Demensia Alzheimer. Siapkan orang terdekat bila nanti kita akan menderita ini. Selain itu, bila ada tanda-tanda gejala demensia mulai tampak pada orang terdekat kita, segera tidak lanjuti untuk mencegah kondisi yang semakin memburuk.


  • Share:

You Might Also Like

0 komentar