Hello Habits, Apa Kabar Sekarang?

by - Monday, April 01, 2019

kebiasaan


Awalnya, saya mau bikin tulisan tentang bagaimana sih membentuk habits yang baik. Tapi lama-lama saya jadi mikir dan bertanya-tanya dalam hati.

"Sudahkah saya punya good habits selama ini?"

Bicara tentang habits yang ingin dibangun tentu nggak lepas dari resolusi 2019 yang saya tulis akhir tahun 2018 kemarin. Maunya sih, bisa jadi pribadi yang lebih produktif lagi di rumah maupun ranah publik. Dari sisi nafsiyah juga naik gitu, nggak segini-gini aja. Tapi ndilalah semua itu tak semudah membalikkan telapak tangan.

Agenda sholat sunnah dan tilawah selalu lost tiap abis mens. Memulai lagi setelah masa menstruasi selesai itu juga nggak mudah.

Jadwal nulis dan posting di blog juga keteteran. Tahun ini qadarullah dapat amanah jadi Wali Kelas di Program Matrikulasi Institut Ibu Profesional. Amanah ini beneran makan waktu banyak. Sering dikomplain sama suami gara-gara kebanyakan online dan drama lain. Boro-boro nulis kan ya. Oke, ini alasan aja. Tapi selain itu saya emang lagi dapat serangan negara api.

Tiap ada masalah dalam diri, saya coba cari solusinya. Macem nulis tadi. Kadang emang nggak bisa dan beneran nggak punya waktu buat nulis. Tapi nggak nulis sama sekali itu membuat dunia saya terasa hampa. Lebay!

Yaps. Sekacau itu saya belakangan ini. Dan sekarang ini saya lagi berusaha keras mengembalikan semuanya ke jalan yang benar.

Struktur Habits


structure


Secara teori, saya paham betul bahwa kebiasaan akan dapat dibangun melalui latihan dan pengulangan. Latihan fungsinya untuk memperbaiki habits, sedangkan pengulangan untuk membiasakan diri. Kita nggak mau kan punya habits baca Quran tapi tajwidnya ngawur semuanya. Ini jelas butuh latihan baca secara tartil, supaya hak-hak huruf yang kita baca bisa dipenuhi. Selanjutnya, pengulangan. Membiasakan diri dengan kebiasaan baru itu.

Berapa lama?

Untuk bisa membentuk 1 kebiasaan baru, sekurangnya kita butuh waktu 21 hari untuk melatih dan mengulangnya. Kalau gagal di tengah, ulangi lagi hitungannya dari awal.

Berat dong?

Ya iyalah. Kalau nggak berat, hadiahnya piring cantik. Membentuk kebiasaan baik itu buat diri sendiri. Bukan buat siapa-siapa, even kebiasaan itu akhirnya juga bisa punya impact ke orang lain. Tapi siapa sih yang paling merasakan dampaknya? Diri sendiri kan?

Jadi lebih enteng melakukan segalanya. Awalnya memang berat. Lama kelamaan, setelah terbiasa ya jadi mudah.

Bagaimana kalau tidak dibiasakan?

Habits atau kebiasaan adalah satu hal yang melekat dalam diri manusia. Masalahnya, kalau bukan kebiasaan baik yang kita tumbuhkan, maka yang akan tumbuh kebiasaan-kebiasaan buruk.

Nggak percaya? Silakan dicek deh.

Ini contoh ya. Kalau kita tidak biasa segera menyelesaikan suatu pekerjaan, artinya kita terbiasa menunda-nunda pekerjaan itu. Kalau setelah sholat subuh kita tidak punya productive morning routine, bisa jadi kita sedang terlelap kembali setelah sholat subuh.

Dan masih banyak lagi contoh yang bisa kita lihat dalam diri kita. Cukup nengok ke diri sendiri aja, nggak perlu nengok tetangga. Saya yakin dengan nengok ke diri sendiri aja, kita udah bisa menemukan belang bentongnya habits kita. Iya apa iya?

Just Do It!

lakukan


Terus gimana dong? Hehehe... Jawabannya sebetulnya kita udah bisa jawab sendiri lho. Ya mari kita mulai.

Mau bisa jadi penghafal Quran? Mari mulai kebiasaan membumikan Alquran dalam keseharian kita.

Mau bisa nulis? Mari banyak-banyak latihan nulis dan membiasakan menulis.

Mau bisa lompat tinggi? Ya mari lompat-lompat. Awalnya mungkin yang cetek-cetek aja, lama-lama pasti bisa makin tinggi, makin tinggi, makin tinggi.

Jangan Batasi Dirimu!

freedom


Ini salah satu hal yang bikin habits tidak kunjung terbentuk juga. Perasaan nggak akan mampu membuat kita macem udah bikin tempurung dalam diri kita sendiri.

"Gue cuma bisa segini aja. Ya udah nggak apa-apa."

No! Kita bisa kok meraih yang jauh lebih tinggi dengan proses yang lebih keras, lebih lama dari sebelumnya. Kuncinya satu, jangan mudah putus asa. Dah, itu aja.

Pernah denger nggak cerita tentang katak dalam tempurung? Jadi ceritanya, ada seekor katak yang dikurung dalam tempurung. Dia merasa kalau dunianya ya segitu itu. Ketika dia bisa lompat, rasanya sih udah tinggi banget. Soalnya njedug tempurungnya kan. E begitu tempurung itu dibuka, ternyata dia nggak ada apa-apanya dong.

Dalam diri kita, bisa jadi kita punya tempurung yang membatasi kita untuk berkarya cukup sampai level itu aja. Padahal, bisa jadi kita sebetulnya mampu untuk meraih yang jauh lebih tinggi lagi.

Jadi, kita semua bisa menguasai apapun kok kalau kita mau usaha dan berhenti membatasi diri. Nggak ada salahnya juga kita buat standar yang tinggi banget. Siapa tahu dengan cara seperti itu, kita jadi makin greget mencapai apa yang kita cita-citakan. Ya kan?

Kesimpulan

Habits itu bisa terbentuk dengan pengulangan dan latihan. Kalau kita mau jadi pro di suatu bidang, kuncinya ya bangun kebiasaan itu agar tubuh kita bisa macem gerak sendiri ketika mau melakukan hal itu.

Membentuk habits memang tidak mudah awalnya. Macem saya yang harus memulai segalanya dari awal lagi. Huhuhu..

Tapi yang sulit itu bukan berarti tidak mungkin. We can do it! Semangat! Hap hap hap!


With love,



You May Also Like

0 komentar