Ternyata, Dia Bukan Jodohku

by - Friday, June 14, 2019

Bulan Syawal itu selain identik dengan silaturahim ke saudara ternyata juga identik dengan musim nikah. Di bulan ini, undangan nikah akan meluncur dari penjuru arah mata angin. Ya dari temen sekolah, temen kuliah, temen kerja, temen kerja di tempat yang dulu, tetangga. Banyak.

Nggak perlu heran sih. Rasulullah dulu menikahi Ummul Mukminin Aisyah ra. di Bulan Syawal. Jadi ya wajar kalau banyak banget yang ngikut nikah di Bulan Syawal juga.

Saya yakin seluruh calon pengantin di penjuru nusantara yang rencananya mau nikah bulan ini, pasti lagi hectic banget siapin ini itu. Karena ya makin deket hari h, makin banyak hal yang harus dipastikan ada pas acara nikahan nanti. Ini belum lagi soal konflik-konflik yang tiba-tiba aja muncul ketika sudah sepakat untuk menikah. Entah itu konflik dengan pasangan, maupun dengan orang tua. Ada aja. Saking banyaknya, sampai nggak sempet buat deg-degan lagi.

jodoh


Sayangnya, di tengah hiruk pikuk orang yang lagi siapin nikahan atau siap-siap mau kondangan, ternyata ada juga nih kaum-kaum yang gagal nikah. Udah lamaran, terus batal nikah. Udah siapin ini itu buat nikahan, eh nggak jadi nikah. Atau bahkan udah mulai sebar undangan nikah ke khalayak ramai, terus harus cabut lagi undangannya karena batal nikah.

Untuk kamu yang hari ini lagi ngalamin potek-poteknya hati karena nggak jadi nikah, I feel you, guys. Ngerti banget gimana rasanya. Bingungnya jelasin ke orang tua pas akhirnya nggak jadi. Terus malunya ke keluarga atau orang-orang terdekat yang tahu kalau nggak jadi. Belum lagi pertempuran dengan diri sendiri perkara menerima kenyataan pahit itu.



I feel you. Saya cuma bisa ngasih virtual hug ke kamu yang hari ini lagi ngalamin itu. Saya tahu itu berat sekali. Apalagi kalau kamu ada di posisi yang ditinggalkan. Tapi percayalah bahwa sesuatu yang rasanya nggak enak dan super pahit ini, one day akan kamu syukuri sebagai bentuk rasa sayangnya Allah ke kamu.

Saya bisa ngomong gini juga karena pernah mengalami hal yang serupa. Waktu itu umur saya masih mudah banget. 24 tahun, baru lulus S2, dan pingin banget segera menikah. Alhamdulillah, keinginan itu disambut baik juga dengan datangnya seorang laki-laki dalam hidup saya. Tanpa babibu, setelah kenal dan mulai merasakan kecocokan, kami memutuskan untuk menikah. Mulai tuh acara lamar-lamaran. Keluarganya datang ke rumah untuk mengungkapkan maksud kedatangan mereka.

Waktu itu, rasanya mimpi udah makin dekat lagi. Bentar lagi mau nikah. Bahagia bukan kepalang.

Tapi bahagia itu kemudian lambat laun menyusut. Kok rasanya cuma saya yang heboh siapin ini itu. Urus ini itu. Sedangkan dia, bahkan urus berkas ke KUA aja belum. Alasannya sih, masih sibuk dengan pekerjaannya. Sikapnya itu juga yang kemudian membuat orang tua saya jadi mempertanyakan keseriusannya, "mau nikah nggak sih?"



Berbagai argumen saya keluarkan untuk belain dia. Saya nggak pingin ada konflik antara dia sama orang tua saya sebelum nikah dong. Alhamdulillah, orang tua saya juga mau ngerti soal itu. Hingga akhirnya, macem udah gemes juga ya, mereka ngajak saya untuk datang ke rumah orang tuanya.

"Ayah sama ibu mau ngobrol dengan orang tuanya."

Momen itu kemudian jadi momen rapat keluarga untuk menentukan tanggal pernikahan dan segala printilan-printilan nikah. Menyepakati ini itu. Agak nyindir dia juga sih yang sampai sekarang belum urus berkas ke KUA.

Udah, sepakat. Saya dan orang tua saya pulang ke rumah. Besoknya, kami mulai nyari-nyari catering, dekor, make up, dan segala macemnya. Keliling Malang berdua sama Ibu. Masyaa Allah ya kalau inget perjuangannya waktu itu. Bahkan kami pernah hujan-hujanan nyari lokasinya, terus kelaperan dan akhirnya ngedeprok di warung mie ayam di Jalan Soekarno Hatta. Random aja. Saking lapernya.

Itu masih survey tuh. Setelah pilih-pilih vendor, kami mulai hitung budget nikah nih. Pas lagi siapin perduitan itu, tiba-tiba negara api menyerang. Datanglah sebuah pengumuman kalau saya diterima di PENS.

DEG!



Saat itu juga, feeling nggak jadi nikah mulai muncul tuh. Antara seneng dan lemes, saya kasih tahu orang tua saya. Seneng banget dong mereka, akhirnya anaknya ini diterima kerja di kampus negeri. Politeknik terbaik di Indonesia.

"Tapi dia nggak mau istrinya kerja satu kampus bareng dia."

Raut wajah orang tua saya langsung beda. Agak sebel juga. Menurut saya sih, itu akumulasi dari segalanya. Kami lelah siapin nikahan, sedangkan dia seselow itu. Terus belum jadi suami saya udah ngatur-ngatur duluan.

Yes, kabar gembira itu yang akhirnya jadi konflik di antara kami. Singkat cerita,

"Aku nggak bisa lanjutin ini semua," katanya. Oke. Baik. Semuanya selesai saudara-saudara. Agak konyol sih, tapi ya begitulah akhir kisah kami.

Setelah keputusan itu, saya tahu ibu saya jadi down juga. Sempat sakit juga. Saya? Oya sama. Down-lah pasti. Siapa sih yang nggak merasa terguncang ketika nggak jadi nikah?

Hal yang jauh lebih menyakitkan adalah ketika saya datang di kampus dan orang-orang udah pada kenal kalau saya ini calonnya dia. Tiap kali kenalan, mereka tanyain. Padahal, kami udah selesai. Cekit-cekit banget. Mulut berusaha senyum nanggepin joke mereka, tapi hati teriris.



At the end, saya bilang kalau saya bukan calonnya lagi. Saya pikir itu jalan terbaik untuk berhenti menyakiti diri sendiri. Iya, mungkin akan ada banyak pertanyaan ke saya lagi. Banyak orang yang ingin mengorek cerita itu. Lebih sakit lagi. Tapi itu cara tercepat untuk bisa sembuh.

Macem kita lagi luka, berdarah. Terus dikasih alkohol. Perih buanget sih emang, tapi lukanya jadi cepet kering.

Satu hal yang perlu saya syukuri saat itu adalah saya masih yakin bahwa sepahit apapun yang saya rasakan, itu adalah jalan terbaik yang Allah pilihkan untuk saya. Karna nggak semua orang bisa begitu. Ketika ada di posisi yang nggak enak banget gitu, bisa aja saya nyalahin Allah dan benci sama Allah. Alhamdulillah, itu nggak terjadi sama saya. Justru dengan itu saya jadi makin banyak inget Allah dan curhat sama Allah.

Mungkin, karena itu juga Allah sembuhkan luka itu nggak lama.

Beberapa minggu berlalu setelah pernikahan kami batal, saya mulai ngeh tuh dia orangnya seperti apa. Ternyata, baiknya dia menurut orang lain, nggak match dengan saya. Banyak hal yang mungkin justru akan menyulitkan diri sendiri.




Saya nggak bilang kalau dia orangnya jahat ya. Dia cuma bukan sosok terbaik untuk saya. Dan Allah tunjukkan semua itu.

Kalau kamu adalah salah satu di antara mereka yang nggak jadi nikah, cara terbaik untuk bangkit dan sembuh dari luka adalah dengan percaya rencana Allah. Percaya aja. Nggak perlu denial karena itu akan bikin kamu semakin terluka. Ikhlasin aja semuanya. Minta sama Allah untuk sembuhkan luka yang ada di hati kamu saat ini.

Ingat, Allah yang ngatur segalanya. Allah yang kasih kamu luka. Allah juga yang mampu sembuhkan luka itu. Allah yang cabut rasa bahagiamu, Allah juga yang nanti akan ganti dengan sesuatu yang jauh lebih baik.

Seperti hari ini, saya bersyukur sekali nggak jadi nikah sama dia. Kalau misal jadi, saya nggak bakal ketemu suami saya. Satu kebahagiaan tersendiri sih akhirnya Allah bisa sandingkan saya dengan suami saya.

Kamu juga suatu saat akan begitu. Jangan menyerah. Jangan putus asa. Sedih itu boleh kok. Nangis sejadi-jadinya itu boleh banget. Tapi kamu harus ingat, ada momen di mana kamu harus belajar bangkit dari keterpurukanmu. Semangat.


with love,


You May Also Like

6 komentar

  1. Salfok sama stiker/gambarnya cute banget. Bikin sendiri atau beli mbak?
    Btw saya sepakat dengan cerita di atas, sesakit apapun pasti akan ada hikmahnya. Kalau dulu saya belum sampai terlalu jauh sih. Cuma sudah dikenalkan ke orang tua, dimana tradisi keluarga kami ngenalin cowok ke orang tua itu tandanya mau serius. Si pria juga awalnya bilang mau serius. Eh beberapa waktu kemudian dia bilang belum siap. Laaah, padahal saya sudah membayangkan akan dilamar. wkwkw, jadi malu sendiri. Sudahlah, mungkin belum jodohnya dan beberapa bulan kemudian saya ketemu sama laki-laki baik yang sekarang jadi suami.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Beli mbak, hehe..

      macem begini saya juga pernah. wkwkwk..
      tapi alhamdulillah ya, sekarang udah nemu pelabuhan hati kita.

      Delete
  2. Hal kecewa pasti ada, saya juga pernah mengalami hati lulu lantah, tapi ya itu seiring dengan waktu bisa melupakannya.
    Dia bukan jodohku.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya memang, Allah pasti akan kasih waktu untuk menyembuhkan

      Delete
  3. Hidup itu rumit kadang di saat kita mulai merasa nyaman dengan seseorang ternyata itu bukan jodohnya, di saat ada laki - laki yang suka sama kita dan bilang maukah kamu menjadi istriku ? Bidadariku duh bingung mahu jawab apa?

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya betul, makanya kita diajarin untuk nggak terlalu berharap sebelum ada ikatan pernikahan sih.

      Delete