Antara Tujuan Hidup dan Produktifitas

By Aprilely Ajeng Fitriana - Monday, June 17, 2019

Kemarin malam, pas lagi kencan sama suami, kami ngobrol-ngobrol santai soal tujuan hidup. Ada pertanyaan yang sebetulnya bergelayut di kepala saya. Apa iya, ketika kita punya tujuan hidup yang jelas, kita bisa jadi orang yang jauh lebih produktif?

Jawaban suami nih yang agak menggelitik dan nggak sesuai espektasi saya.

"Nggak selalu. Ada juga orang yang punya tujuan hidup tapi hidupnya ya nggak produktif-produktif amat."

Really? Kok bisa? Kenapa begitu?

Productivity


Jawaban suami ini yang akhirnya justru memunculkan aneka macam pertanyaan baru. Bikin mikir lagi. Kontemplasi lagi. Dan banyak nginget-nginget orang-orang di sekitar tentang tujuan hidup dan seberapa produktif sih dia menjalani hari-harinya. Saya juga jadi flash back ke diri sendiri, bertanya pada diri sendiri sejak kapan sih saya punya tujuan hidup yang jelas, lalu seberapa produktif sih saya menjalani hari-hari saya setelah memilikinya.


Perihal Menetapkan Tujuan Hidup


Goals


Dulu, waktu kecil ketika kita ditanya mau jadi apa, rasanya mudah sekali untuk menjawab pertanyaan tersebut.

"Aku mau jadi dokter."
"Aku mau jadi arsitek."
"Aku mau bikin pesawat terbang."

Atau mungkin jawaban antik semacam, "aku mau jadi batman."

Mudah banget menjawab pertanyaan itu. Seiring berjalannya waktu, ketika kita udah mulai kenal kesulitan hidup, sulitnya soal-soal Fisika, Kimia, Biologi, dan Matematika. Menjawab pertanyaan, "apa cita-citamu?" Bukan lagi menjadi perkara yang mudah.

Banyak pertanyaan pada diri sendiri yang kita tanyakan sebelum menjawab pertanyaan itu. Semua pertanyaan yang bermuara pada seberapa kenal kita dengan diri kita sendiri. Siapa saya? Hidup saya ini mau dibawa ke mana?

Beberapa orang setelah mereka paham realitas hidup, mimpi-mimpi mereka menjadi semakin jelas. Mereka tahu ke mana mereka harus membawa hidup mereka itu. Sedangkan, beberapa orang yang lain justru semakin bias. Semakin bingung mau jadi apa dan akan dibawa ke mana hidup mereka.


Tujuan Memudahkan untuk Merencanakan Hidup


goals


Punya tujuan hidup yang jelas itu akan sangat amat membantu kita untuk menentukan tiap langkah ke depan yang mau kita ambil. Baik itu rencana jangka pendek, maupun yang jangka panjang.

Ini ibaratnya kita lagi di terminal dan mau naik bus. Kalau kita tahu tujuan kita ke mana, mudah banget pilih bus yang bisa nganter kita sampai ke tujuan. Lain cerita kalau kita sendiri bingung mau ke mana. Bisa jadi kita jadi banyak bengong di terminal bus sambil menatap nanar bus yang datang silih berganti. Atau mungkin kita justru naik bus random aja, terserah mau ke mana, asal bisa keluar dari terminal itu.

Dua-duanya memang bisa banget bikin kita keluar dari kondisi awal. Tapi ya tetep aja proses yang dijalani akan beda.

Misal, mau ke Surabaya dari Aceh. Oh, berarti abis naik bus A ntar ganti bus di sini. Abis itu naik kapal untuk nyebrang ke Jawa. Terus ganti bus lagi. Kalau udah sampai Surabaya, nanti naik angkot B untuk bisa sampai ke tempat tujuan. Atau kalau mau cepet, naik ojek aja. Semuanya jadi jelas dan bisa diorganisir dengan baik. Termasuk, bagaimana kita mengkondisikan badan kita untuk bisa tetap prima sampai di sana.

Tapi semua akan lain kalau kita random aja pilih bus. Tujuan nggak penting, asal busnya adem, misal. Iya sih, hidup kita jadi enak naik bus adem tadi. Tapi lihat deh dampak selanjutnya yang kita rasakan. Buang waktu iya, energi iya, bahkan duit.

Iya kan? Misal, naik bus ke Semarang random aja gitu. Eh, pas udah sampai Semarang nyesel.

"Ih, kok panas sih? Kok gini sih? Kok gitu sih?  Pindah tempat aja deh."

Trial and error akan terjadi beeeerulang kali entah sampai kapan untuk target yang bahkan kita aja nggak tahu itu apa.

Dalam hidup pun sama, kalau kita punya tujuan yang jelas, perencanaan hidup juga jadi lebih mudah. Misal, pingin masuk surga sama-sama sekeluarga. Dari sini, tentu kita bisa merencanakan action plan yang harus kita jalani ke depan. Ya ke diri sendiri, ya ke keluarga.

Salah satu contoh, kalau hari ini masih banyak banget mengabaikan perintah Allah, mulai hijrah dan melaksanakan apa yang Allah perintahkan. Kalau dulu nggak sholat, sekarang sholatnya dibenerin. Kalau dulu puasa Ramadhan suka bolong tanpa udzur syar'i, sekarang dibenerin juga. Kalau dulu belum berdakwah, mulai dakwah. Dan masih banyak hal lain. Tinggal cek aja ke diri sendiri kurangnya apa.


Jadi Produktif


Produktif


Saya pernah bertanya-tanya tentang orang-orang yang produktifitasnya luar biasa. Ya dakwahnya, ya pekerjaannya, ya di keluarga. Kok bisa ya mereka begitu?

Ada satu hal yang menarik yang menjadi benang merah dari orang-orang produktif ini, yaitu tentang bagaimana mereka merencanakan harinya. Hari ini saya mau begini, besok mau begitu, dan seterusnya mereka tahu. Hari ini jam sekian saya harus begini, jam sekian harus begitu, itu juga tertata dengan baik. Dari perencanaan yang mereka buat, mereka berusaha semaksimal mungkin menyelesaikan semuanya. Menepati waktu bukan hanya ketika janjian sama orang, tapi juga ke diri sendiri.

Saya pernah coba ini ke diri saya. Hasilnya memang beda ketika saya buat perencanaan yang detail terkait waktu kerja dan tidak. Batasan waktu yang saya tetapkan memaksa saya untuk fokus menyelesaikan satu pekerjaan sebelum pindah ke pekerjaan yang lain. Hal ini ternyata betul-betul membantu saya untuk mendapatkan hasil kerja yang jauh lebih banyak dibanding ketika saya tidak merencanakan dengan detail.

Ketika saya tidak menerapkan kandang waktu untuk diri saya sendiri, biasanya saya akan lebih banyak membuang waktu untuk menunda pekerjaan. Alih-alih mengerjakan ini itu, bisa saja saya pilih menghabiskan waktu untuk scroll social media, tidur, nonton film, dan aneka kegiatan tak berfaedah yang lain.

Kamu bisa coba sendiri dan bandingkan mana sih yang bisa bikin kamu lebih produktif. Ketika kamu punya perencanaan yang baik, bagaimana hasilnya? Dan kalau kamu asal saja menjalani rutinitas, bagaimana hasilnya?


Cita-Cita Bukan Angan Kosong


Cita-cita


Cita-cita atau tujuan hidup seseorang banyak atau sedikit pasti akan memberikan trigger bagi orang tersebut untuk bergerak dan mulai mengusahakan mimpinya. Cita-cita itu juga yang menuntut orang untuk merencanakan langkah ke depan.

"Oh, saya mau jadi dokter berarti saya harus kuliah kedokteran untuk bisa menguasai ilmunya dan dipercaya untuk bisa praktik."

"Saya mau jadi penyanyi. Berarti mulai sekarang harus banyak-banyak latihan vocal untuk memperbaiki dan menjaga kualitas suara."

"Saya mau jadi MC kondang. Berarti saya harus belajar public speaking."

Dan masih banyak lagi.

Mimpi itu yang menuntun kita untuk merencanakan langkah ke depan. Perencanaan itulah yang nantinya akan menjadi guidance untuk ngapain aja.

Buat saya, kalau kita cuma mimpi tanpa mengupayakan sesuatu, itu macem halusinasi aja. Semuanya akan jadi angan kosong belaka.

Gimana pun juga ketika kita berani untuk bermimpi, maka kita juga harus berani mengusahakannya. Nggak cuma ngomong doang sih. Kalau kayak gitu sih semua orang juga bisa.

Mimpi harusnya bisa jadi motivasi kita untuk melangkah. Dia bukan hanya sekedar kata-kata belaka, tapi ada realisasi untuk mewujudkan itu semua. Langkah demi langkah itulah yang menjadikan kita pribadi yang semakin produktif dalam keseharian kita.

Jadi, tentang apa yang suami saya bilang. Ya memang ada manusia semacam ini. Mereka punya tujuan hidup tapi tidak menjadikan mereka semakin produktif. Orang-orang ini nih yang kita sebut manusia pengkhayal tingkat satu.

Karena mimpi tanpa realisasi sama saja dengan halusinasi.



with love,


  • Share:

You Might Also Like

24 komentar

  1. mimpi dan impian hehehehe.
    Beda tipis :D

    Tapi saya salut dengan orang-orang yang begitu ulet mengejar impiannya.
    Dengan berbagai jalan yang ditempuh :D

    Dan di sisi lain, kadang juga ada orang yang sudah berusaha mati-matian, tapi belum ada hasil yang keliatan oleh orang lain, sehingga mungkin kita menganggap belum produktif.

    Kayak IRT hahaha.
    Sering banget dibilang gak produktif, padahal anak tumbuh besar itu pencapaian yang luar biasa, namun sering terabaikan :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalau buat saya sih mbak, nggak penting banyak orang tahu tentang apa aja yang udah kita usahain. karna kalau ngejar apa kata orang ya bakal capek. hasilnya tuh cukup bisa betul-betul layak dipertanggungjawabkan nanti di akhirat.

      Delete
  2. Artikelnya bagus banget. Memang merancanakan sesuatu itu sangat penting selain itu menyelesaikan 1 pekerjaan dengan baik bisa membantu kita untuk dapat menyelesaikan pekerjaan kita

    ReplyDelete
  3. Nah, suamiku jarang suka diajak ngobrol masa depan karena lebih suka dipikirkan yang dekat dulu dilakukan yang terbaik gitu menurutnya meski ada cita2 yang ingin diwujudkan tapi kayaknya jadi rahasia deh soal ini..hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha... gpp mbak, nggak harus semuanya dishare juga :)

      Delete
  4. Masya Allah.. Sejak dulu sy tidak pernah ragu tentang impian. Kemudian berusaha mewujudkan...Kalau udah pengen biasanya ngejar mati-matian semampu saya...Dan belakangan sy sadar, banyak orang gagal karena kurang sungguh2 mengusahakan mmimpinya biar jadi kenyataan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak, saya juga belajar dari mbak muyas yang maju terus pantang mundur. makasi banyak udah ngasih saya inspirasi untuk teruuus melangkah maju biar terseok-seok.

      Delete
  5. pembahasanny mendalam bgt mb. terima kasih sdh mngingatkan ttg semangat bermimpi dan mngejar mimpi y mb ^^

    ReplyDelete
  6. menarik sekali diskusinya. semoga kita termasuk orang2 yang memiliki tujuan jelas dan produktif dalam hidup, ya.

    ReplyDelete
  7. keren mbak sharingnya. Kandang waktu dan pemanfaatan waktu yang baik, salah satu kunci utama dalam perencanaan tujuan hidup.

    ReplyDelete
  8. "Karena mimpi tanpa realisasi sama saja dengan halusinasi" duh bener banget nih, jadi reminder banget yang kadang-kadang masih suka bermimpi tapi minim action hiks.

    *noted juga nih, untuk jadi produktif harus ada perencanaan, dan memang perencanaan ini penting ya mbak agar hidup kita juga bisa jadi lebih terarah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe... itu juga reminder buat diri sendiri sih mbak. kadang kita tuh butuh diingetin juga. jadi saya nulis juga buat ngingetin diri sendiri bahwa saya punya mimpi dan harus berusaha merealisasikannya.

      Delete
  9. nice article mbak, setuju dengan semua tulisan diatas :)

    ReplyDelete
  10. Hehe kdg saya mimpi tapi gak ngapa2in.. Ealaah

    ReplyDelete
  11. Memang kita harus merencanakan dulu agar semuanya bisa tercapai dan pekerjaan yang di depan mata bisa selesai duluan

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul mbak, tanpa perencanaan biasanya bakal ndlewer parah sih. karena kita nggak punya pakem kan

      Delete
  12. Huaduuuhh, jangan2 saya masuk sebagai pemimpi nih.
    Emang bener Mbak, klo kita buat satu plan dan berusaha utk melaksanakan apa yg sudah kita rencanakan itu lebih enak, lebih terarah aja gitu.
    Jadi ingat waktu kuliah suka gini, tiap awal semester tuh buat target nilai segini segini dan segini. Klo berhasil capai target, duuh senangnya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya juga sering merasa begini sih mbak. Tapi perasaan begini yg justru menyadarkan kita untuk melakukan hal yang lebih.

      Delete