Review Drama Jepang: Chef: Three Star School Lunch

by - Thursday, June 13, 2019

Kapan hari saya sempat ngobrol sama Mbak Athiah Listyowati yang sekarang lagi nemenin suami studi di Ausie. Topiknya tentang mensiasati agar anak makan sayur. Mbak List share beberapa pengalamannya untuk menumbuhkan minat anak agar mau makan sayur. Katanya, dulu dia pernah mengolah sayur sedemikian rupa hingga nggak keliatan bentuknya itu sayur. Pokoknya, sayur itu harus masuk dulu ke pencernaan anak agar bisa diserap oleh tubuh. Tapi kemudian Mbak List galau nih.

“Apakah cara seperti ini sudah tepat agar anak mau makan sayur?”

Iya, betul. Sayurnya memang akan dimakan oleh anak. Tapi perihal akhirnya anak jadi mau makan sayur secara suka rela itu tetap akan menjadi PR tersendiri. Iyalah, mereka kan nggak sadar kalau lagi makan sayur. Mereka tahunya lagi makan makanan lain. Ini tricky sih. Entah ya, apa ini juga termasuk bohong ke anak atau nggak.


Chef: Mitsuboshi no Kyushoku


Bermula dari obrolan ini, saya jadi inget drama Jepang tentang masak memasak yang cukup relate dengan topik ini. Judulnya, Chef: Mitsuboshi no Kyushoku. Kalau diterjemahkan dalam Bahasa Inggris jadinya Chef: Three Star School Lunch.

Drama ini berkisah tentang seorang Chef restoran Prancis yang amat terkenal dengan keahliannya dalam mengolah masakan-masakan Prancis, Hoshino Mitsuko. Dia bekerja di sebuah restoran bintang tiga La Cuisine de La Reine di Ginza, Tokyo.

Keahlian memasak dan mengolah masakan Prancis Mitsuko memang tidak perlu diragukan lagi. Sayangnya, dia ini agak semaunya sendiri kalau masak. Targetnya hanya menciptakan masakan yang sangat lezat. Tapi dia lupa, bahwa sebetulnya ketika dia bekerja ada aturan-aturan yang juga perlu dia perhatikan. Karakternya ini yang membuat pemilik restoran La Cuisine de La Reine, Shogo Shinoda, pusing.

Lelah dengan sikap Mitsuko, akhirnya Shinoda pun membuat rencana jahat untuk mendepak Mitsuko dari dunia masakan Prancis. Dia dijebak dalam satu acara yang mengundang banyak sekali media. Fitnah tentang masakan Mitsuko yang beracun beredar. Mitsuko dipecat dari La Reine. Tidak hanya itu, setelah dipecat dia juga kesulitan untuk mencari pekerjaan baru di restoran-restoran Perancis mana pun di Tokyo.

Di tengah kondisinya yang terpuruk itu, salah seorang produser televisi menghampirinya dan menawarkannya suatu program. Saki Yaguchi, produser televisi itu, mengatakan bahwa cara ini bisa menjadi salah satu cara untuk menghapus fitnah terkait masakan Mitsuko yang beracun itu. Singkat cerita, Mitsuko mau tuh dan mulailah program televisi tersebut.

Jiah, lupa cerita program TV-nya. Jadi, ini macem reality show yang menampilkan proses pembuatan makan siang dari dapur sekolah untuk siswa-siswa SD. Mitsuko ditantang agar anak-anak suka dengan makanannya yang katanya sangat lezat itu.

Chef: Mitsuboshi no Kyushoku


Hari pertama kerja, Mitsuko udah dihadapkan dengan tantangan rekan kerja yang aneka rupa bentuknya. Semuanya macem nggak ada yang pro buat masak. Bener-bener meragukan lah ya. Udah gitu, Mitsuko masih harus eyel-eyelan sama Heisuke Araki, yang bertanggung jawab atas terpenuhinya standar gizi anak-anak. Mereka sama-sama ngotot harus masak dengan menu mereka masing-masing. Akhirnya, diambil jalan tengah. Kalau Mitsuko gagal bikin anak-anak terkesan, maka dia harus berhenti masak di dapur sekolah.

Ndilalah, masakan yang dibuat Mitsuko, meski sudah memenuhi standar gizi, ternyata nggaak cocok di lidah anak-anak. Iya, masakannya memang sangat enak untuk orang dewasa, tapi untuk anak-anak ternyata terlalu pahit.

Shock? Jelas. Dia bertanya-tanya kenapa respon anak-anak segitunya sama masakannya dia. Sempet mutung keluar dari dapur sekolah juga sih. Tapi sekali lagi karena dia belum diterima di restoran mana pun, akhirnya balik lagi untuk memulihkan namanya. Mitsuko kemudian belajar dari kesalahannya. Belajar untuk bisa masak sesuai standar gizi dan tentu bisa membuat anak-anak nafsu makan. Karena dia nggak suka dengan ritme kerja pegawai dapur sekolah, dia pun berangkat kerja untuk menyiapkan semua bahan dari pagi buta. Kualitas bahan, higienisnya, harga, serta kebutuhan gizi dia perhatikan semua. Setelah gagal di hari pertamanya, akhirnya anak-anak mulai suka dengan makanan buatan Mitsuko. Makanan sisa dari dapur sekolah pun mulai menurun.

Chef: Mitsuboshi no Kyushoku


Mitsuko lambat laun mulai membuktikan dirinya. Tapi tentu saja tantangan tidak hanya berhenti sampai situ. Mitsuko yang ditolak di semua restoran masakan Prancis akhirnya membuat kedai sendiri. Kisah perjuangannya dalam masak serta menjual masakan Prancis di kedai pun dimulai. Hari pertama, dia ditangkap polisi karena kedainya tidak sesuai dengan standar kedai yang ada. Jadi, dia dilarang untuk jualan lagi. Mikir lagi tuh dia. Belajar lagi untuk memenuhi aturan dalam mengelola bisnis kedai makanan ini.

Banyak konflik-konflik seru di dalam drama ini. Ya sama puterinya. Ya sama Shinoda. Ya sama Araki. Endingnya gimana? Apakah semua baik-baik saja? Apakah dia bisa balik lagi ke restoran masakan Prancis? Mending tonton sendiri deh. Cuma 10 episode kok. Kalau kamu udah biasa nonton drama korea yang panjangnya 16-20 episode, nonton ini bakal kerasa lebih cetek sih.

Drama ini beneran seru karena dia nggak cuma menampilkan kegigihan Mitsuko untuk terus mengejar mimpi dan passionnya aja. Tapi juga ngasih kita pandangan baru sebagai orang tua bahwa sebetulnya semua sayur itu enak asal cara mengolahnya benar. Teknik memasak akan menentukan rasa dari sayur itu.

Chef: Mitsuboshi no Kyushoku


Di drama ini, Mitsuko dan timnya berhasil lho bikin masakan-masakan dari bahan makanan yang paling sering kebuang. Nggak cuma itu, dia juga bisa bikin masakan yang bisa memuaskan lidah anak dan orang tua saat kunjungan sekolah. Dia sampai belain kerja di kebun tomat untuk dapetin tomat segar yang rasanya sesuai dengan apa yang dia mau. Tentu saja, juga sesuai dengan budget.

Kerenlah pokoknya. Dari sini, saya pribadi banyak belajar bahwa masak itu bukan hanya soal bahan dan teknik masak aja. Tapi dia juga untuk siapa. Sebisa mungkin kita masak yang bisa bikin orang yang makan itu happy dengan masakan kita.

Kalau dengan skill masak yang sekarang tentu aja masih jauuuuh banget dibanding dengan Mitsuko ini. Saya nggak bisa bikin masakan yang aneh-aneh macem yang Mitsuko buat. Tapi setidaknya, saya bisa bikin masakan rumahan yang bisa memanjakan lidah keluarga kecil saya. Dan semoga nanti, saat si kecil lahir ke dunia ini dan mulai bisa merasakan masakan Ummi. Dia juga suka dan makan dengan lahap. Aamiin..


with love,



You May Also Like

0 komentar