Pembinaan Masyarakat ala Rasulullah

by - Friday, April 20, 2018

"Kebangkitan masyarakat tidak dilihat dari seberapa kaya masyarakatnya, seberapa maju teknologinya, tapi dilihat dari bagaimana cara pandangnya terhadap seluruh permasalahan kehidupan."
***
Sumber : pinterest

"Mereka yang ilmu agamanya banyak itu cuma bisa ngomongin teori aja. Pada dasarnya juga gak ngerti-ngerti banget gimana caranya nyelesaikan masalah orang-orang miskin itu."

Itu obrolan sore tadi dengan salah satu dosen senior yang mendadak ngajakin saya makan siang bareng. Beliau cerita kalau dari SMA sudah sering ketemu orang yang super miskin punya penyakit yang mematikan dengan vonis dokter yang seram-seram.

"Kamu tau gak Lel, mereka itu orang-orang yang putus asa dengan hidupnya. Gak bisa kita cekokin Islam ke mereka kemudian mereka disuruh meninggalkan asuransi atau kredit. Hari ini, hal-hal macam gitu itu yang jadi satu-satunya solusi buat mereka."

Saya salut dengan perjuangan Beliau dalam membantu orang-orang miskin. Beliau benar-benar membina masyarakat menengah bawah agar memperoleh penghidupan masing-masing, mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.

"Kalau kamu dakwah cuma nyampaikan ayat tanpa berusaha membina mereka. Itu omong kosong."

Begitulah kira-kira yang Beliau sampaikan pada saya sore itu. Pandangan semacam ini tidak hanya muncul dari satu dua orang saja. Tapi banyak. Mereka menganggap bahwa membina masyarakat artinya mengentaskan mereka dari masalah. Ya kemiskinan, ya kesehatan.

Beliau tau bahwa Islam pun menawarkan segala macam solusi mengenai masalah ekonomi. Permasalahannya adalah menurut Beliau itu gak konkret untuk menyelesaikan masalah mereka hari ini. Beliau sepakat dengan dakwah. Orang-orang semacam itu memang perlu untuk disentuh dakwah karna akan sangat amat berbahaya sekali. Misionaris datang membawa solusi bagi mereka. Doa dan bantuan.

Entah kenapa pikiran saya jadi menerawang kepada metode dakwah Rasulullah ketika membina para sahabat. Tak semua sahabat yang awal masuk Islam adalah golongan dari orang yang terpandang. Bahkan ada yang masih menjadi budak. Mereka kesulitan dalam sisi ekonomi, bahkan melebihi orang miskin hari ini. Tak hanya miskin, mereka bahkan tak punya hak atas diri mereka. Tapi kenapa mereka mau menjalankan syariat Islam secara kaffah? Kenapa mereka begitu taat dengan segala risalah yang disampaikan oleh Rasulullah?

Mereka miskin. Mereka dihimpit dengan segala macam persoalan hidup, tapi tak sedikit pun dalam benak mereka untuk mencicipi segala hal yang dilarang oleh Allah. Apa kuncinya?

Dakwah.

Begitulah Islam sampai pada mereka. Metode dakwah yang dilakukan Rasulullah tidak dengan membawa sembako kesana kemari tapi membangkitkan pemikiran masyarakat Mekkah pada saat itu. Landasan akidah dibangun dari proses pemikiran atas manusia, kehidupan, dan alam semesta. Tentang konsep ketauhitan, selayaknya Nabi Ibrahim yang menemukan Tuhan. Landasan akidah dibangun dengan begitu kokoh hingga yakin bahwa Allah adalah satu-satunya pencipta sekaligus pengatur kehidupan. Selanjutnya, pelaksanaan hukum syara' dilaksanakan sebagai konsekuensi iman mereka.

Apakah masalah kemudian selesai ketika setiap individu taat sendiri? Tidak.
Kesulitan dialami oleh mereka ketika tidak ada institusi yang menaungi mereka. Sama halnya dengan hari ini.

Bagaimana caranya agar kita bisa benar-benar terbebas daei riba? Ya kebijakan pemerintah yang perlu diatur agar sesuai syariat.

Bagaimana caranya agar dana negara bisa mengkover seluruh biaya pendidikan dan kesehatan rakyat? Tentu sistem ekonomi Islam yang harus diterapkan. Pengelolaan sumber daya alam harus dikelola oleh negara secara utuh kemudian dikembalikan kepada rakyat dalam bentuk pendidikan dan kesehatan gratis.

Sistem ekonomi Islam pun tak akan bisa berjalan tanpa sistem politik Islam. Dan semua itu hanya akan bisa terlaksana bila ada sebuah institusi yang mau menjalankan seluruh syariat Islam secara sempurna, yaitu Khilafah.




Surabaya, 20 April 2018

©lellyfitriana

You May Also Like

0 komentar