Follow Me @lellyfitriana

Oct 16, 2018

Quarter Life Crisis #1: Mau Dibawa Ke Mana?

Tuesday, October 16, 2018 0 Comments

Mau dibawa kemana hubungan kitaaa...

Siapa yang baca judul terus mendadak nyanyi begitu? Ngaku. Gue yang bikin tulisan aja nulis sambil nyanyi kok. Wkwkwk..

By the way, pernah nggak sih kamu bertanya pada dirimu sendiri, "hidup gue mau gue bawa ke mana, ya?" Pertanyaan apapun seputar hal itu, misal, bingung mau lanjut kuliah, kerja, atau nikah. Atau, galau kenapa sudah punya pekerjaan yang oke tapi nggak bahagia. Ada yang sedang mengalami hal semacam ini?



Kalau kamu sedang merasakan kegundahan semacam ini, selamat kamu sedang mengalami yang namanya Quarter Life Crisis (QLC). Nah, sebelum kita bahas lebih lanjut mengenai QLC ini, coba jawab pertanyaan ini dengan jujur.

Kalau hari ini kamu sedang berada di terminal bus. Lalu, kamu melihat banyak sekali bus yang parkir berjajar di sana. Kira-kira bus mana yang akan kamu pilih?
a. Bus yang murah plus jelek
b. Bus yang murah tapi bagus
c. Bus yang mahal tapi jelek
d. Bus yang mahal plus bagus

Hayooo, pilih yang mana? Saya yakin sebagian besar akan memilih B atau D. Kalau ada yang murah tapi bagus, why not? Atau, untuk kamu yang memilih D, it's okay lah bayar mahal kalau worth it. Atau ada yang memilih jawaban lain? 

Sebenarnya ya, nggak penting kamu memilih bus A, B, C, atau D. Asal bus itu bisa membawamu sampai ke tujuan. Ya, nggak? Kalau ada yang murah dan bagus tapi tidak membawa kita sampai ke tujuan, ngapain juga naik? Kalau ada mahal trus jelek, tapi bisa membawa kita sampai ke tujuan, mau nggak mau kita akan naik juga, 'kan?
Hidup kita ini sebenarnya seperti terminal bus tadi. Ada banyak sekali bus yang terparkir di sana yang bisa dipilih sesuai dengan tujuan kita. Nah, kita ini macem penumpang bus yang lagi nyari bus. Orang yang nggak punya tujuan hidup itu macem orang yang ke terminal terus ngasal milih bus. Dia pilih bus yang menurut dia paling enak, paling pewe. Tapi dia lupa nih buat ngecek, bus yang dia naiki tadi tujuannya ke mana, ya?

Ini parah, sih. Iya kalau tujuannya sama, enak 'kan nggak perlu naik turun bus, tinggal duduk, terus nyampek. Iya kalau gitu? Gimana kalau ternyata tujuannya berbeda? Kita mau ke Surabaya nih ya, tapi ternyata bus yang kita naiki tujuannya ke Jakarta. Repot, 'kan? Harus naik turun bus dulu, nyari lagi, ngemper pinggir jalan lagi, kepanasan lagi. Buang uang, buang waktu. Okelah, situ horang kaya, duit bukan masalah. Tapi bagaimana dengan waktu yang sudah terbuang? Nah, loooh..




Mau kuliah negeri atau swasta?
Mau diploma atau sarjana?
Mau lanjut kuliah atau cari kerja dulu?
Mau bisnis atau kerja kantoran aja?
Mau suami yang ganteng atau yang sholih?

Dalam hidup, kita dihadapkan oleh sekian banyak pilihan yang menanti untuk kita pilih. Semua pilihan ini macem bus yang lagi parkir di terminal bus tadi. Ada banyak, tapi nggak semua akan mengantarmu sampai ke tujuan. Ada yang akan mendekatkan kita dengan tujuan yang ingin kita capai, Ada juga yang justru menjauhkan kita dari tujuan itu. Satu yang pasti, semua pilihan ini punya harga dan konsekuensi yang berbeda.

"Terus gimana dong, Lel, kalau gue nggak punya tujuan hidup? Gue harus pilih yang mana?"

It's okay. Kamu bebas memilih mana aja yang kamu mau. Jadi dokter, pilot, insinyur, atau presiden sekalipun. It's okay. Apapun pilihanmu nggak akan salah karena kamu mau milih apa aja, jawabannya sama. Tidak akan membawamu ke manapun. Iya lah. 'Kan tadi ceritanya nggak punya tujuan. Jadi yaaa...



Hari ini, kita akan melihat banyak orang yang bekerja di perusahaan terkenal, gaji tinggi, karier melejit, tapi hidupnya nggak bahagia. Semua itu karena dia menjalani kehidupannya tidak sesuai dengan tujuan hidupnya.

"Pernah nggak sih, Lel, kamu ada di fase semacam ini?"

Ooo ya pernah banget. Saya galau mau kuliah di mana, mau kuliah arsitek tapi nggak pede. Orang tua juga maunya lain. Dilema antara ingin membahagiakan orang tua atau ikuti kata hati. Akhirnya, saya sendiri yang capek. Saya ikut tes ini itu cuma karena orang tua saya ingin saya kuliah yang ada ikatan dinasnya. Waktu terbuang, duit terbuang. Akhirnya, waktu tes terakhir salah satu beasiswa ikatan dinas. Saya mikiiir lagi betul-betul, "am I happy with this?" Dan jawabannya, saya lain. Saya kacaukan tes terakhir itu biar nggak lolos. Hehehe...

"Ada yang lain, nggak?"

Banyak. Tapi bakal panjang banget ceritanya kalau saya tulis satu per satu. So, saya akan bagikan tips yang  bisa kamu gunakan untuk menghadapi QLC.

1. Tentukan visi dan misi hidupmu



Di awal-awal tadi saya sudah jelaskan panjang dan lebar pentingnya punya tujuan dalam hidup. Kamu bebas memilih mau jadi apa kok. Gratis. Tentukan. Lalu, kejar mimpi-mimpi itu.

Makin spesifik kamu memilih tujuan hidupmu akan semakin baik. Remember, kita harus punya alasan yang sangat jelas untuk bisa menjalani hidup kita dengan bahagia. Next post, saya akan berbagi bagaimana sih caranya menentukan tujuan hidup itu.

2. Find your own supporter



Berjuang sendirian itu nggak enak. Rasanya akan sepi. Kita juga akan lebih mudah untuk ikut arus aja dibanding memperjuangkan apa yang kita mau. That's why, penting banget buat mencari orang-orang yang mau mendukungmu. Kalau di inner circle yang kamu punya saat ini nggak ada yang mau dukung, keluarlah. Kamu bisa mencari dukungan dari berbagai komunitas yang sejalan dengan tujuan yang kamu inginkan.

Misal, kamu mau jadi penulis. Keluarga nggak dukung, sahabat kamu saat ini juga mencibir terus. Ya udah, biarin aja. Stop galau. Stop baper. Cari komunitas nulis yang di dalamnya kamu akan ketemu banyak orang yang akan saling support satu sama lain. Di situ, kamu nggak hanya akan mendapatkan teman baru saja, tapi juga ilmu-ilmu baru dan networking yang akan sangat berguna untuk goalmu ke depan.

Kamu mau jadi yang lain? It's okay. Find your own supporter!

3. Find your own path



Kamu sudah punya tujuan, 'kan? Nah, sekarang mulai nih menyusuri setapak demi setapak untuk meraih tujuan yang kamu inginkan. Di sini, kamu nggak boleh ngasal milih jalur. You need to thinking carefully. Mimpi besar itu nggak cuma butuh kemauan aja, tapi kamu juga harus memikirkan strategi untuk bisa sampai ke sana. Daaan.. yang terpenting adalah say no to baper-baper club.

"Duh, kenapa ya artikelku ditolak terus sama media? Kayanya aku nggak cocok deh nulis artikel."

Whohoooo... Tunggu dulu! Sebelum kamu bilang "nggak cocok" coba deh cek lagi amunisi apa sih yang sudah kamu punya. Jangan-jangan nih, selama ini kamu maju perang cuma modal nekat doang. Senjata nggak punya. Strategi juga nggak ada. Lalu, kamu mau menang? Mimpi aja kaleee..

Kalau kamu mau jadi penulis besar yang karya-karyamu dibaca oleh banyak orang, ya ayo mulai disusun strateginya. Apa sih yang kamu butuhkan untuk meraih semua itu? Initial point yang sudah kamu punya apa aja?

"Gue baru suka nulis aja, Lel. Tapi soal yang lain-lain gue masih clueless banget."

Yaudah, sok atuh cari ilmunya. Mau sekolah dulu, magang dulu, atau bahkan ngebuntutin penulis senior mulu. Gabung di komunitas-komunitas.

Saya punya kenalan yang serius banget pengen punya bisnis di bidang desain. Dia sudah punya nih skill desain. Tinggal link dan ilmu bisnisnya aja yang dia masih clueless. Terus apa yang dia pilih untuk meraih cita-citanya tadi? Sekolah lagi dong. Punya duit? Enggak juga. Dia berjuang mati-matian untuk bisa dapat beasiswa LPDP. Setelah dapat dia mulai kuliah sambil memulai bisnisnya. Susah, nggak? Jangan ditanya lah ya kalau itu. Sudah pasti jungkir baliknya. Tapi dia tahu apa yang dia inginkan dan saat ini dia sedang berjalan di jalur yang dia pilih.

Berjalan pada path yang benar itu penting banget lho. Ya gimana kita bisa sampai di tujuan kalau jalur yang dipilih aja salah. Hal yang dilarang untuk dilakukan adalah sudah tahu tujuannya kemana tapi jalur yang dipilih malah jalur yang salah hanya karena ikut-ikutan orang di sekitar.

Ada lho orang yang kuliah S3 terus waktu ditanya kenapa alasannya, "nggak ada, biar nggak nganggur aja." Gils. Kuliah S3, tiap hari mantengin jurnal-jurnal, mikirin disertasi sampai kepala mau botak hanya dengan alasan biar nggak nganggur aja. Warbyasaaah...

4. Pilah dan pilih saran yang masuk



Ketika kamu menjalani jalan yang kamu pilih, sudah pasti akan ada banyak sekali bisikan-bisikan dari kanan kiri. Mau pilih A, orang akan komentar. Mau pilih B, orang juga mau komentar. Intinya, apapun pilihan kita, komentar orang itu akan tetap mengikuti. 

"Harusnya 'kan kalau lulusan S2 itu jadi dosen."
"Harusnya 'kan cewek itu nggak kuliah di teknik."
Daaan harusnya-harusnya yang lain..

Ingat, kita punya pilihan hidup masing-masing. Ikuti apa kata orang juga nggak akan pernah ada habisnya. So, jangan ikuti semua apa yang orang bilang ke kamu. Jadikan semua komentar yang masuk sebagai saran. Kalau memang sesuai ya ikuti aja, kalau nggak ya udah senyumin aja. 

Ini nih enaknya kalau udah punya tujuan hidup. Kita akan punya alasan yang kuat kenapa kita ambil saran atau menolaknya. Jadi, argumen akan dibalas dengan argumen. Bukan dengan perasaan.

5. Stop comparing yourself



"Si Anu enak, ya? Dia kerja di perusahaan X, terus gajinya besar. Lah gue? Gaji penghasilan segini-segini aja."

"Si Ono enak, ya? Kerjanya jadi travel blogger. Mau keliling kemana aja gratis dibayarin sponsor. Lah, gue? Di sini-sini aja."

Tiap orang punya pilihan dan jalan hidup masing-masing. Jadi yaudah, nggak usah tengok kanan kiri yang justru akan membuat kamu puter balik atau ambil jalan yang beda. Kenapa sih pilih itu, kenapa dia menjalani hidupnya seperti itu? Kenapa kita menjalani hidup yang seperti ini? Itu semua lagi-lagi karena pilihan hidup yang sudah kita buat.

Membanding-bandingkan hidup kita dengan orang lain hanya akan membuat kamu stress. Okelah cari inspirasi dari beberapa tokoh kece yang bisa membuat kamu makin semangat untuk berkarya. Tapi kalau sudah membandingkan? Stop! Ujung-ujungnya malah baper sendiri nanti.

6. Kejar dengan cepat

Kalau kamu sudah punya mimpi, sok atuh dikejar. Jangan tunggu nanti. Lakukan sekarang dan raih as soon as possible. Cari ilmunya. Belajar dari orang yang sudah berpengalaman. Tingkatkan skill. Pantengin channel-channel youtube yang bisa memperkaya wawasanmu. Kalau perlu magang supaya skillmu terasah. Apapun yang dapat membuat mimpimu dapat tercapai lebih cepat, lakukan!



Sekian sharing dari saya, kalau ada yang mau curhat, tanya, atau sharing apapun tentang QLC, silahkan tinggalkan komentar di bawah ini. Next, insyaa Allah saya akan bahas gimana caranya menentukan tujuan hidup. Stay tune on my blog. :)

Oct 15, 2018

7 Tips Jitu Agar Tidak Menunda Pekerja dan Menyelesaikannya Secepat Mungkin

Monday, October 15, 2018 9 Comments


Siapa di sini yang suka menunda pekerjaan? Yuk, ngacung! Perihal menunda pekerjaan ini sebetulnya terjadi pada setiap orang kok. Tapi kalau kamu ingin bekerja lebih produktif lagi, perkara menunda pekerjaan harus dijauhkan sejauh-jauhnya dong. Nah, ini dia tips dari saya untuk meningkatkan produktifitas yang dapat membantumu untuk berhenti menunda dan menyelesaikan lebih banyak pekerjaan.

1. Lawan



Salah satu cara untuk berhenti menunda pekerjaan adalah dengan melawannya. Apa sih maksudnya? Jadi, melawan ini artinya adalah berusaha sekuat tenaga untuk terus melakukan pekerjaan yang sedang kamu usahakan. Godaan terbesar yang biasanya muncul ketika mulai bekerja adalah sosial media. Awalnya sih ingin cek notifikasi saja, tapi lama kelamaan jadi scrolling instagram, buka facebook, dan seterusnya. Nah, ini nih yang harus kamu lawan. Cari alasan kenapa hal tersebut begitu penting untuk kamu jauhi. 

Sebenarnya ketika kamu memiliki projek besar dengan tenggat waktu yang minimalis, hal ini akan lebih mudah untuk dilawan. Kenapa? Karena kamu memiliki daya tahan yang lebih untuk melawan segala hal yang membuatmu menunda pekerjaan.

2. Take Action!



Iya. Sesederhana itu. Kamu hanya perlu melakukannya. Yes, I know. Ini lebih mudah diucapkan dari pada dilakukan. Kalau dilist mungkin akan ada sederet daftar panjang alasan yang membuatmu kesulitan untuk melanjutkan pekerjaan. Jadi, bukan hanya sekedar malas bergerak saja, tapi bisa juga kehilangan ide atau alasan-alasan lainnya.

Lalu, bagaiamana caranya untuk memulainya? Coba lihat dengan seksama pekerjaan yang harus kamu kerjakan itu. Kemudian tanyakan pada dirimu sendiri, 
"Apa sih hal yang paling sederhana dan mudah yang bisa saya kerjakan selanjutnya untuk menyelesaikan pekerjaan ini?"
Silahkan rinci pekerjaan yang akan kamu kerjakan menjadi banyak sekali list yang mudah untuk dikerjakan. Bahkan, sekedar menuliskan nama, tanggal kapan harus selesai, atau hal-hal sederhana lain itu boleh. Buat step-step kecil yang bisa kamu kerjakan. Selanjutnya, kamu bisa mulai mengerjakan step-step kecil tersebut. Cara yang mudah untuk dikerjakan akan membuat kita terus dan terus mengerjakannya.

3. Tentukan Batas Waktu



Kamu tidak ingin mengerjakan pekerjaan ini sepanjang waktu, bukan? Oleh karena itu, tentukan lama waktu kamu akan bekerja. Misal, kamu akan mengerjakan pekerjaan itu dalam 30 menit saja atau 1 jam. Kamu hanya perlu benar-benar fokus mengerjakan pekerjaan tersebut selama waktu yang kamu set tadi. Batas waktu yang kecil-kecil ini sebenarnya akan membantu kamu untuk menahan diri dari mengerjakan pekerjaan lain sebelum waktu itu selesai. Jadi, kamu akan amat sangat terbantu untuk dapat fokus pada pekerjaan tersebut.

Kamu juga bisa membuat batas kapan pekerjaan itu harus benar-benar dihentikan. Misalnya, kamu harus mengakhiri pekerjaan itu pada pukul 9 malam. Selesai atau tidak, kamu harus mengakhiri pekerjaan itu, lalu istirahat. Dengan cara ini, kamu akan punya space khusus untuk menyelesaikan pekerjaanmu tanpa harus diganggu oleh pekerjaan-pekerjaan lain.

4. Deep Work



Setelah membuat langkah-langkah kecil untuk menyelesaikan pekerjaan, membuat batas waktu, hal lain yang perlu kamu lakukan adalah tetap fokus menyelesaikan pekerjaan tersebut. Buat area yang dapat membantumu untuk benar-benar fokus 100% menyelesaikan pekerjaan tersebut. Artinya, untuk sementara waktu, kamu boleh mengabaikan pekerjaan lain dulu agar satu pekerjaan ini selesai. Kalau memang biasanya ada orang lain yang memungkinkan untuk mengganggu pekerjaan tersebut, kamu bisa memilih waktu dan tempat yang dapat mengisolirmu dari segala gangguan yang ada.

5. Set Your Mood



Ada banyak cara yang bisa kamu lakukan untuk mengatur moodmu tetap stabil saat bekerja. Kamu bisa memutar music favoritmu sembari bekerja, menyiapkan secangkir teh hangat untuk membantumu lebih relaks dalam menyelesaikan pekerjaan, atau dengan membersihak ruang kerja terlebih dahulu. Masing-masing orang tentu punya cara masing-masing untuk membuat moodnya baik dalam menyelesaikan pekerjaan. Silahkan pilih dan mulailah atur moodmu.

6. Keep Focus Using Forest

sumber : www.forestapp.cc


Forest ini adalah salah satu aplikasi yang bisa kamu gunakan untuk membantumu tetap fokus. Caranya sederhana dan menyenangkan. Aplikasi ini akan membantumu untuk jauh-jauh dari scrolling sosial media ketika kamu sedang bekerja. Caranya, kapanpun kamu ingin fokus, kamu tinggal menanam pohon yang ada di dalam aplikasi ini. Atur lama waktu dapat benar-benar fokus. Misal, 30 menit. Selama 30 menit itu, aplikasi ini akan mulai menumbuhkan pohon yang sedang kamu tanam. Kalau dalam kurun waktu kurang dari 30 menit kamu tergoda untuk membuka aplikasi lain, maka pohon yang kamu tanam akan mati. Semakin lama waktu kamu fokus bekerja, maka pohon yang tumbuh di hutanmu juga akan semakin banyak.

sumber : www.forestapp.cc

sumber : www.forestapp.cc


7. Wriring Journal



Menulis jurnal adalah salah satu cara yang dapat membantumu untuk mengorganisir aktivitas apa saja yang harus kamu selesaikan hari ini. Buat to do list pekerjaan yang harus diselesaikan. Jika kamu memiliki ide, kamu juga bisa menuliskannya dalam jurnal harianmu untuk memudahkanmu menuliskan kembali ide-ide tersebut. Bukan hanya ide atau sederet daftar panjang pekerjaan yang harus diselesaikan, kamu juga bisa menuliskan kata-kata motivasi yang membuatmu lebih semangat untuk memulai aktivitas sepanjang hari.

Nah, itu tadi 7 tips yang bisa kamu lakukan agar terhindar dari menunda pekerjaan. Selamat mencoba. :)


***

Postingan ini diikutsertakan dalam One Day One Post bersama Estrilook Community



Oct 14, 2018

Balancing Rocks

Sunday, October 14, 2018 3 Comments
Ini adalah salah satu cabang seni yang populer. Balancing rock. Seniman akan menyusun batu satu per satu hingga terbentuklah suatu susunan batu di atas aliran sungai yang apik. Professional balancing rock artist bahkan bisa membuat bentuk yang lebih unik lagi dari gambar. Silahkan saja cari di channel atau akun art.

Rasanya memang mustahil untuk meninggikan batu dengan beragam bentuk dan rupa. Berjajar tinggi di tengah aliran sungai. Sisinya saja tak rata. Permukaan air yang digunakan juga bukan yang tenang. Bagaimana bisa? Ya bisa saja kalau mau. Bisa kalau mau ditelaah lebih dalam, diteliti dari dekat, dan fokus pada sisi yang baik, yang kuat, serta mampu menopang lebih lama.

Demikian juga dengan keluarga. Pasangan dan anak-anak yang hadir dalam kehidupan kita punya segudang kekurangan jika kita mau terus menerus menggalinya. Sayangnya, hal ini tak akan pernah menjadi solusi penyelesaian, malah justru akan menjadi sumber keributan saja.

Bagaimana kalau kita balik sudut pandangnya? Lihatlah kelebihan dan sisi baik lain yang bisa dioptimalkan. Lalu, dampingi untuk tumbuh bersama dalam kebaikan-kebaikan.

Saya dan suami hanya manusia biasa yang tak pernah luput dari kekurangan masing-masing, plus kebiasaan buruk masing-masing yang terkadang membuat kesal satu sama lain. Tapi kami pun punya sisi baik, punya kelebihan masing-masing yang kalau mau disatukan akan saling melengkapi satu sama lain, serta saling menguatkan yang satu dan yang lain.

Tiap rumah tangga tentu punya gambaran masing-masing akan dibentuk seperti apa. Lihatlah satu sama lain dengan lebih dekat. Bangun kekuatan untuk mewujudkan hal itu bersama-sama.



Postingan ini diikutsertakan dalan One Day One Post bersama Estrilook Community.

Resign or Not?

Sunday, October 14, 2018 4 Comments

"Lel, aku mau resign."
"Sudah siap"
"In syaa Allah..."

***

Sebenarnya saya ini juga tidak terlalu mau kepo dengan urusan orang lain. Tapi entah kenapa kok banyak sekali DM yang masuk lewat instagram yang bercerita tentang masalah yang sedang dihadapinya. Salah satunya adalah curhatan ibu tentang anaknya. Ibu bekerja yang merasa kehilangan perhatian dari anaknya. 

Fyi, umur anaknya belum ada satu tahun tapi perhatiannya ke ibunya tak sebaik ketika dia memperhatikan orang yang biasa mengasuhnya. Ibunya cemburu. Marah. Kesal. Sedih. Dan segala perasaan lain yang berkecamuk dalam hatinya. Lalu, siapa yang salah? Anaknya? Ataukah pengasuh anaknya?

Jelas bukan salah si anak atau orang yang mengasuh bayinya. Ini adalah satu konsekuensi yang harus dia ambil ketika mensubkontrakkan pengasuhan kepada orang lain. Kita masih bicara tentang pengasuhan ya, belum pendidikan. Apakah tidak ada drama lain? Oh jelas ada. Ibu dan pengasuh bayi punya keinginan sendiri-sendiri tentang bagaiamana membiasakan si bayi ini. Ibunya mau A, pengasuh bayi maunya B. Siapa yang menang? Oh jelas pengasuhnya. Kenapa? 


Oya, saya belum cerita kondisi ibunya, ya? Berangkat pukul 6 pagi dari rumah. Mengantarkan anaknya untuk dititipkan ke rumah saudara yang dekat dari rumah. Lalu berangkat ke kantor. Pulang kantor di atas pukul 5. Kira-kira sampai rumah menjelang maghrib. Bersih-bersih diri, lalu jemput bayinya. Hitung berapa waktu yang bisa dihabiskan oleh ibu bayi tadi dengan bayinya?

Sekarang, kita sama-sama bisa menjawab pertanyaan kenapa yang menang pengasuhnya, bukan?

Mana yang lebih banyak waktu bersama si bayi? Ibunya atau pengasuhnya? Mana informasi yang lebih banyak masuk? Dari ibunya atau pengasuhnya?

Lalu, kalau si anak lebih seperti apa yang pengasuhnya mau, siapa yang salah? Anaknya? Pengasuhnya? Atau ibunya? 

Saya seriiing sekali mendengar para ibu bekerja yang berdalih memberikan quality time not quantity. Tapi pernah tidak kita melihat dari sisi anak. Belum tentu lho waktu on kita sama dengan waktu on anak. Kalau sudah begini, apa bisa kita memberikan quality time kita ke anak?

It's okay, ketika seorang ibu memilih bekerja. It's okay ketika seorang ibu memilih untuk aktif di ranah publik. Tapi ibu juga harus ingat ada kewajiban yang tak boleh dia alihkan, titipkan, atau subkontrakkan kepada orang lain, yaitu mendidik dan mengasuh anak. 

Mengutip dari beberapa materi yang pernah saya dapatkan dalam kelas Matrikulasi Institut Ibu Profesional, "perempuan boleh aktif di ranah publik. Perempuan bisa bebas berkarya mengembangkan dirinya menjadi apapun yang dia mau. Tapi kalau apa yang dia lakukan membuat suami komplain, ini sudah masuk lampu kuning. Artinya, dia harus waspada. Ada tanggung jawab yang mulai colaps, atau bahkan terabaikan. Kalau anak sudah mulai protes dengan caranya, ini sudah masuk lampu merah. Hentikan dan mulai lagi tata bagaimana peran dan fungsi kita yang utama sebagai ibu dan isteri."

Dulu, sebelum menikah, ada banyak perempuan di luar sana yang berharap untuk segera dipertemukan dengan jodohnya. Lalu, setelah menikah, mereka berharap untuk segera diberikan momongan. Namun, setelah anak hadir dalam keluarga kecil mereka, justru dititipkan pada orang lain. Maunya apa?



Saya tahu betul bahwa resign atau keluar dari pekerjaan bukan sesuatu yang mudah. Ada ego dari diri yang ingin terus berkarya dan mengejar mimpi. Ada pihak yang tak rela ketika kita berhenti bekerja. Dan sekian banyak alasan lain. 

Maka, ketika kamu punya keinginan untuk keluar dari pekerjaanmu yang sekarang. Persiapkan segalanya dengan baik. Bukan hanya mental, tapi sederet aktifitas yang nanti akan kamu jalani. 


Banyak sekali ibu-ibu di luar sana yang akhirnya kembali bekerja lagi setelah resign karena alasan keluarga hanya karena tidak siap dengan segala perubahan yang terjadi dalam dirinya. Ada juga ibu-ibu di luar sana yang memilih untuk bekerja karena stress menghadapi anaknya terus menerus. Ada. 

Prepare your self as well as you can.
Kamu mau nikah? Persiapkan dengan baik semuanya. Bukan hanya ribut kenapa masih jomblo, tapi siapkan ilmunya. Belajar agama agar kamu tahu mana area yang bisa kamu usahakan dan mana area yang kamu hanya cukup bertawakkal pada Allah.

Kamu ingin punya anak? Persiapkan juga dengan baik. Bukan hanya galau kenapa tak kunjung hamil, tapi gali ilmumnya. Persipakan diri untuk menjadi ibu. Mau dididik macam apa, mau dikondisikan bagaimana anak itu nanti ketika lahir, dan seterusnya.

Kamu mau resign? Persiapkan juga dengan baik. Jangan sampai kamu kembali meninggalkan keluarga lagi hanya karena tidak tahan dengan semuannya.

Bekerja atau tidak itu pilihanmu. Terserah kamu mau memilih yang mana. Tapi mengasuh dan mendidik anak bukanlah hal yang bisa kamu pilih-pilih. Ini kewajiban yang melekat pada diri seorang ibu. Jalani sebaik mungkin. Kalau kamu masih ingin berkerja, kondisikan semuanya agar kewajibanmu tak terbengkalai. Kamu tidak mau kehilangan masa-masa berhargamu dengan si kecil, bukan?



Postingan ini diikutsertakan dalam One Day One Post bersama Estrilook Community.

Oct 2, 2018

Hijab, Wujud Ketaatan Muslimah

Tuesday, October 02, 2018 12 Comments


Pernah nggak sih kamu ngajakin orang pakai hijab terus mereka jawab begini.

"Nanti aja deh, kalau udah kuliah."

atau..

"... udah kerja"
"... udah nikah"

daaan seterusnya.

Padahal ya, kita 'kan sama-sama nggak tahu kapan expired date kita masing-masing. Gimana kalau expired date kita datang ketika kita belum berhijab? Mau kain kafan jadi hijab kita yang pertama dan terakhir?



"Tapi aku tuh mau hijabin hati dulu. Biar nanti kalau udah pakai nggak buka tutup gitu."

Hijabin hati? Gimana caranya ya? Hatinya dibuka terus dihijabin gitu? Emang bisa? Kalau ntar mati gimana?

Sebagai seorang muslim, pernah ngitung nggak berapa kali kita mengucapkan kalimat syahadat dalam sehari? Minimal ada 7 kali, di setiap tahyat dalam sholat-sholat kita. Tapi sadar nggak sih bahwa syahadat yang kita ucapkan ini bukan sekedar pemanis di bibir aja? Tahu nggak sih sama konsekuensi yang ada di dalamnya?

Yups. Menjadikah Allah sebagi satu-satunya Illah. Gimana caranya? Ya tunduk, patuh dan taat pada setiap perintah dan larangannya. Kalau diperintahkan, sami'na wa atho'na. Kalau dilarang, sami'na wa atho'na juga. Bukan sami'na wa tapi tapi na. Atau sami'na wa entar-entar na. Buka gitu. Kita kudu gercep dalam melaksanakan syariat.

Termasuk dalam menggunakan hijab, Dear. Allah telah memerintahkan kita, muslimah, untuk menutup aurat, dengan standar dan ketentuan berikut ini:

33:59 + 24:31 - 33:33 = hijab syar'i

Maksudnya, aturan berhija syar'i itu telah dijelaskan dalam Alquran dalam ketiga ayat tersebut. Al Ahzab (33) ayat 59 tentang pakaian seperti apa sih yang harusnya dipakai oleh muslimah itu. An Nur ayat (31) tentang kain kerudung dan mahram yang boleh melihat aurat kita. Terakhir, Al ahzab lagi di ayat 33 yang menjelaskan tentang larangan bertabarruj.

Kurang lebih seperti ini nih..


1. Kewajiban memakai jilbab

"Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." 
(QS. Al-Ahzab 33: Ayat 59) 

Ayat tersebut sebenarnya sudah cukup gamblang ya menjelaskan bagaimana sih perintah Allah kepada istri orang-orang mukmin. Siapa nih? Ya kita laah.. Muslimah.

Iya, kita diwajibkan untuk menggunakan jilbab. Lalu, apa sih jilbab itu? Jilbab adalah pakaian yang panjang menyerupai terowongan atau yang biasa kita sebut dengan gamis. Memang sih ada beberapa pendapat yang menjelaskan definisi jilbab ini. Selain disebut gamis, ada juga yang mendefinisikan sebagai kain yang digunakan untuk menutup kepala.

Tapiii..

Nggak ada yang menjelaskan bahwa jilbab ini baju atasan dan bawahan. Apalagi celana kulot, jeans, dan teman-temannya.

Penggunaan jilbab sendiri juga harus diperhatikan. Perintahnya kan ditutup ya, bukan dibungkus. Jadi, kalau menutup itu, mestinya semua lekuk-lekuk yang ada di dalamnya ya nggak kelihatan. Kalau dibungkus yaaa kayak lemper gitu lah ya kurang lebih. 

That's why, kalau mau beli jilbab. Pastikan dulu bahannya bisa memenuhi syarat tersebut. Jangan asal murah, terus neploook semua kalau dipakai. Jangan yaa..

2. Mengulurkan kain kerudung hingga menutup dada

Berjilbab saja ternyata tidak cukup, Dear. Allah juga memerintahkan kita untuk menutup kepala kita dengan kain kerudung. Kain tersebut juga harus terulur hingga menutup dada, seperti yang difirmankan Allah dalam ayat berikut.

"Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya." 
(QS. An-Nur 24: Ayat 31) 

Bukan hanya kerudung yang dimention di ayat ini saja. Tapi pun mengenai kewajiban menutup aurat juga disebut di dalamnya. Tahu 'kan aurat perempuan itu yang mana? 

Yaps. Seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan.

3. Larangan tabarruj

"Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan (bertingkah laku) seperti orang-orang jahiliah dahulu, dan laksanakanlah sholat, tunaikanlah zakat, dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai Ahlulbait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya." 
(QS. Al-Ahzab 33: Ayat 33) 

Ayat ini menjelaskan larangan tentang berhias yang berlebihan. Tidak hanya itu saja, kita juga dilarang untuk mengikuti perilaku orang-orang jahiliyah terdahulu. Jadi, kalau ada yang bilang, "mendingan mana? Pakai hijab tapi perilakunya buruk atau nggak pakai hijab tapi baik?" Sudah dijawab yaa dengan ayat ini. Jawabannya...

Nggak ada yang mending! Salah semua. Ini macem pas Ramadhan, trus ada yang nanyain, "mendingan mana? Puasa tapi nggak sholat atau sholat tapi nggak puasa?" 

Kewajiban itu tidak untuk dipilih, tapi untuk dikerjakan seeemuuuaaanya. Titik. Sami'na wa atho'na.

Dah, ya.. Dalilnya jelas. Jadi, stop tapi-tapi lagi. Bersegaralah memenuhi syariat.


"Tapiii... aku ini orangnya aktif banget. Kalau pakai jilbab gitu nanti ribet 'kan?"

Sejak kapan hijiab membatasi aktivitasmu? Ini mah alasan situ aja. Ada banyak cara kok biar aktivitasmu tidak terganggu meski menggunakan hijab.

Pertama, kamu bisa pilih bahan dan model yang nyaman untuk keseharianmu. Kalau kamu banyak gerak, kamu bisa aja 'kan pilih gamis dengan model A-line yang nggak sempit-sempit amat buat gerak. Kalau masih kurang puas juga lebarnya, bisa beli yang lebih lebar lagi.

Kedua, kalau kamu aktiiif banget. Kamu bisa menggunakan kaos kaki untuk melindungi kakimu agar tidak tersingkap auratmu ketika aktivitasmu banyak.

Ketiga, pakai ciput. Nggak ada perintahnya sih menggunakan ciput. Tapi bisa aja 'kan karena saking aktifnya kita lalu rambut kita keluar-keluar. Padahaaal itu aurat juga.

pakai ini nih, biar rambutnya nggak keluar-keluar


Keempat, coba deh pakai handsock untuk melindungi pergelangan tanganmu. Jadi, kalau kamu banyak gerak, tanganmu tetap aman.

handsock cantik ini siap menemani hari-hari aktifmu


Nah, untuk ciput dan handsock, coba deh kamu pakai punyanya IndBlack. Di sana ada banyaaak sekali pilihan ciput dan handsock yang kece badai. Khawatir tangannya tersingkap? Pakai handsocknya IndBlack. Pingin ciput yang nggak bikin pusing dan cantik modelnya? Pakai juga ciputnya IndBlack.

handsock dan ciput dari indblack
Ciput dan handsock dari IndBlack itu nggak cuma desainnya aja yang lucu-lucu. Tapi bahannya juga adeeemmmm banget. Nggak bikin gerah dan menyerap keringat. Bener-bener cocok buat kamu yang aktif.



Udah yaa.. Nggak pakai alasan lagi. Hijab itu bukti ketaatan kita sebagai seorang muslim. Lagi pula, zaman sekarang itu kita sudah amat sangat dimudahkan dengan banyaknya model jilbab, kerudung syar'i, bahkan item-item yang membantu melindungi aurat semacam kaos kaki, handsock, dan ciput tadi.

Masalahnya adalaaah..

Kamu mau taat nggak?

Ingat ya, waktu kita di dunia ini terbataaas sekali. Kita juga nggak pernah tau kapan kita dipanggil sama Allah. Jangan sampai kita menyesal, pas udah dipanggil, seruannya belum sempurna kita jalankan. Naudzubillah min dzalik.

Sep 30, 2018

ASUS ZenBook 13 UX3311UAL, Teman Perjalanan Tangguhmu yang Super Tipis dan Ringan

Sunday, September 30, 2018 4 Comments


"Udah packing belum?"
"Ini mau packing."
"Mau bawa berapa tas?"
"Dua ajalah cukup. 'Kan nggak lama perginya."

Ini percakapan yang biasanya saya dan teman saya lakukan kalau kami mau berangkat perjalanan dinas. Apakah itu untuk seminar hasil penelitian, training ke luar kota, atau presentasi lulusan kampus ke industri. Tapi setelah packing...

"Jadi berapa tas?"
"Koper satu. Tas buat laptop dan prentilannya satu. Tas buat jalan satu. Tote bag buat tas cadangan satu."

Tas kami beranak-pinak dari rencana semua.


Yaaa.. Gimana ya? Maunya sih nggak gitu. Tapi butuh.

Sebagai dosen, saya cukup sering melakukan perjalan dinas ke luar kota. Setiap tahun bisa 2-3 kali pergi. Dilema yang paling sering terjadi saat packing adalah packing laptopnya. Laptop adalah salah satu barang wajib yang nggak boleh ketinggalan. Namanya juga perjalanan dinas 'kan. Saya pasti butuh laptop untuk presentasi entah hasil penelitian atau profil kampus untuk kerja saya dengan pihak luar.

Sayangnya, laptop eike nggak bersahabat banget buat dinas luar kota kayak gini. Pertama, laptop eike cukup besar dan berat. Jadi harus dimasukkan tas punggung yang besar. Bukan tas punggung cantik yang bisa buat main gitu. Enggak. Kedua, baterainya udah mulai soak yang hanya bertahan palingan 30 menit aja tanpa baterai. It means, saya nggak bisa lepas dari charger laptop. Bahkan kalau mau training yang memungkinkan bakal rebutan colokan listrik, saya harus stand by kabel olor untuk jaga-jaga.

Kalau sudah begitu biasanya sih saya suka halu-halu babu gitu ke temen yang biasa dilempar keluar kota bareng saya.

"Coba kita punya laptop yang tipis, enteng, dan canggih ya, Mbak."

Kalau ada yang nanya, laptop seperti apa sih yang saya butuhkan untuk menemani perjalanan dinas saya? Sudah jelas yang saya butuhkan adalah laptop yang tipis, ringan dan powerful. Saya maunya sih, laptop ini tidak hanya bisa memenuhi kebutuhan saya untuk traveling saja, tapi punya spesifikasi yang cukup untuk saya gunakan juga mengerjakan penelitian.

Untungnya, kini ASUS telah mengeluarkan seri yang mampu menjawab segala gundah di dalam dada ini ke pasaran Indonesia.


ASUS ZenBook 13 UX331UAL, Laptop Tipis, Ringan dan Powerful

ZenBook 13 UX3311UAL ini merupakan produk revolusioner dari ZenBook 13 yang sangat ringan, sangat tipis, dan sangat powerful. Laptop ini sangat cocok untuk kamu yang punya mobilitas tinggi. Metal chassis yang digunakan sangat ringan sehingga beratnya tak sampai 1 kilogram. Baterai dari laptop ini juga tahan lama, bisa sampai 15 jam. 

Kinerjanya? Duuuh.. Jangan under estimate dulu. Ini laptop keren banget deh.

ZenBook 13 ini benar-benar tidak berkompromi dengan kinerjanya. Dia menggunakan prosesor 8th Generation Intel® Core™ i7, RAM 1GB dan superfast 1TB PCIe® SSD yang super tangguh untuk menjalankan semua kebutuhanmu dengan mudah. Laptop yang satu ini mengguanakan Harman Kardon audio system yang mampu menghasilkan suara yang powerful. Desainnya? Duuuh... Ini nih yang paling bikin jatuh hati. Elegan banget.

Lalu, apa aja sih keunggulan lainnya yang bikin laptop ini jadi laptop yang idaman banget buat travelers macem kita-kita? Ini nih keunggulannya. Dijamin kamu pasti bakal makin kepingin punya laptop satu ini.

Tipis dan Ringan

Buat seorang travelers atau orang seperti saya yang punya mobilitas tinggi, tentu laptop yang paling diinginkan adalah laptop yang sebisa mungkin paling tipis, ringan, dan punya desain yang compact. Ya ZenBook 13 ini solusinya. Beratnya cuma 985 gram aja. Ini bahkan lebih ringan dari sepasang sepatu. Dan yang lebih fantastis bombastisnya lagi, ketebalannya cuma 13,9 milieter. Mupeng nggak sih sama yang satu ini? Bener-bener deh cocok banget buat menemai perjalanan kita, bahkan sampai ke ujung dunia pun oke.


Si Super-Stylish Design

Soal desain, kamu udah nggak perlu khawatir lagi deh. Laptop ini bener-bener laptop yang canggih dan elegan banget. Konstruksinya dibuat dari paduan magnesium-alumunium yang kuat dan ringan banget. Ini bahkan 33% lebih ringan dari standar paduan yang digunakan oleh laptop lain. Dia juga punya sifat disipasi panas yang besar yang membuat laptop ini bisa tetap dingin ketika digunakan dalam performa maksimum. 

ZenBook 13 ini hadir dalam 2 variasi warna yang cantik banget. Ada yang Deep Dive Blue dan ada juga yang Rose Gold. Kalau saya sih lebih suka yang Rose Gold. Kalau kamu suka yang mana?


Layar NanoEdge

ZenBook 13 ini punya layar NanoEdge yang cantik banget dengan bingkai ultra tipis yang mengesankan. Layarnya Full HD 13,3 inci yang punya teknologi wide-view 178 degrees yang mampu meberikan kualitas gambar tanpa degradasi jika dilihat dari sudut yang ekstrim. Jadi ini sudah jelas keren banget untuk kolaborasi atau hiburan.


Bisa Terhubung dengan Apa Saja

Satu lagi kekecean ZenBook yang kamu harus tahu. Dia bisa dihubungkan dengan port USB Type-C™ (USB-C™) yang dirancang untuk mudah dihubungkan dengan device mana saja. Dengan ini, kamu juga bisa mentransfer data 10x lebih cepat dari USB 2.0 yang lama. Bersama dengan port USB-C ini, di sini juga terdapat 2 port USB 3.1 Gen 1 Type A dan 1 port HDMI. Jadi, kamu bisa dengan mudah menghubungkannya dengan layar lain atau projector. MicroSD card reader yang ZenBook 13 punya juga 2x lebih cepat dari standar reader yang ada. Jadi, kamu bisa menggunakannya jika membutuhkan storage tambahan.



Daaaan masih banyak kelebihan yang lain, seperti keyboardnya yang ergonomis banget, fitur fingerprint sensor untuk akses Windows Hello, sampai wi-fi yang super kenceng. Sudah nggak perlu ngetik password untuk akses Windows, terus bisa nangkap sinyal wi-fi kenceng banget.


Kurang apa coba? Jadi, tunggu apalagi? Yuk, buruan beli ini.




sumber gambar : ASUS Channel Site

4 Tips Jitu Mengatasi Post Power Syndrome pada Ibu Rumah Tangga

Sunday, September 30, 2018 2 Comments
Bicara tentang ibu, tentu tidak akan lepas dari tugasnya untuk memberikan pengasuhan dan pendidikan anak. Ibu yang menyadari peran penting ini, biasanya akan mengalami berbagai pergolakan batin ketika akan berangkat bekerja. Hal inilah yang kemudian mendorong mereka untuk berhenti bekerja dan menjadi ibu rumah tangga saja. Sayangnya, keputusan untuk menjadi ibu rumah tangga yang tak dilengkapi dengan persiapan yang cukup justru akan membuat ibu tersebut mengalami post power syndrome. Kondisi ini merupaan sebuah kondisi yang menggambarkan ketidaknyamanan individu untuk melepaskan hal yang pernah ia dapatkan dari kekuasaannya terdahulu.

Post power syndrome ini terjadi karena seseorang yang tadinya aktif dan banyak kegiatan mendadak kehilangan semua itu sehingga muncul ketidaknyamanan. Akhirnya, orang tersebut jadi mudah marah, kesal, iri, atau tersinggung. Lalu, bagaimana cara mencegahnya? Yuk, simak penjelasan berikut. 

1. Persiapkan diri sebelum benar-benar berhenti bekerja

sumber : pexels.com


Bagi sebagian orang, keputusan untuk berhenti bekerja bukanlah hal yang mudah. Apalagi jika sebelumnya dia adalah orang yang cukup sibuk dengan beragam aktivitas di kantor. Oleh karena itu, sebelum memutuskan berhenti bekerja susun apa saja aktivitas pengganti kesibukan kantoranmu dengan aktivitas lain yang bisa dilakukan di rumah. Kamu bisa mulai merancang aktivitas apa saja yang ingin kamu optimalkan dengan keluargamu nanti setelah berhenti bekerja. Mulailah mengupayakan sedikit demi sedikit sebelum kamu berhenti bekerja sehingga ketika berhenti kamu bisa terus menjalankan aktivitas tersebut dengan lebih nyaman dan tidak kaget. 

2. Ingat kembali prioritas

sumber : pexels.com


Post power syndrome pada sebagian ibu rumah tangga, tak jarang membuat mereka kembali bekerja karena tak mampu mengatasi segala perubahan yang dia alami. Jika kamu mengalami hal yang serupa, cobalah untuk mengingat-ingat kembali alasanmu berhenti bekerja. Berusahalah menerima kenyataan dan menghadapi semua hal dengan mengingat prioritas yang harus dipilih tadi.

Dukungan suami dan orang-orang terdekat akan sangat membantu. Mereka bisa kamu minta untuk mengingatkan kembali prioritas yang kamu pilih ketika kamu mulai goyah. 

3. Menciptakan rutinitas layaknya bekerja kantoran

sumber : pexels.com


Berbeda dengan ibu yang bekerja di kantor, ibu rumah tangga akan punya lebih banyak waktu yang bisa dia atur sendiri. Jika dulu ketika bekerja, semua aktivitas terikat dengan kantor dan atasan. Setelah menjadi ibu rumah tangga, dialah yang mengatur segala aktivitas harian. Dialah yang menjadi boss untuk dirinya sendiri. Untuk itu, penting untuk menjaga ritme kesibukan dengan menyusun rutinitas harian layaknya bekerja di kantor. Kamu bisa mulai membuat rencana kerja harian, mingguan, dan bulanan. Buatlah kandang waktu dari setiap aktivitas tersebut agar kamu terpacu untuk segera menyelesaikannya.

Meski kamu bekerja di rumah, bukan berarti kamu harus bekerja sepanjang waktu. Kamu tetap harus mengelola kapan waktu istirahatmu agar tetap fit bekerja di dalam rumah. Atur waktu kapan kamu bekerja dan istirahat. Kamu bisa menggunakan waktu istirahat yang sama seperti saat kamu masih bekerja dulu. 

4. Antisipasi menurunnya kewarasan

sumber : pexels.com


Keseharian mengurus keluarga di rumah dengan rutinitas yang itu-itu saja tak jarang membuat seorang ibu merasa jenuh dan kelelahan. Hal inilah yang sering kali membuat suasana hatinya terganggu dan menurunkan kewarasan dalam menyikapi persoalan yang ada. Akibatnya, ibu jadi mudah sekali marah untuk masalah-masalah sepele yang dilakukan oleh anggota keluarga. Padahal, hal ini justru akan menggangu hubungan ibu dengan anggota keluarga yang lain, seperti suami dan anak.

Untuk mengantisipasi menurunnya kewarasan, kamu bisa mulai terlibat secara aktif dalam komunitas. selain itu, kamu juga bisa ikut berbagai kelas parenting. Ilmu yang kamu dapatkan dari kelas ini tentu akan amat berguna membantumu mengendalikan emosi dan bersikap saat mendidik anak-anak. Komunikasi dengan suami juga harus terus dilakukan. Dukungan penuh dari suami tentu akan membuat kamu lebih mudah menjalani perubahan aktivitas pada keseharianmu.