Setahun di Bogor, Kisah Hidup Bertetangga

By Aprilely Ajeng Fitriana - Sunday, August 25, 2019

Tetangga


Harusnya sih, tulisan ini dipost waktu 17 Agustus kemarin. Tapi belum jadi-jadi dan akhirnya mundur sampai sekarang. Nggak apa-apa lah ya. Asal masih semangat Agustusan.

Ngomongin soal Agustusan nih. Kalau yang lain bahas tentang kemerdekaan atau lomba-lombaan, saya mau bahas yang lain. 17 Agustus jadi moment lain yang tidak terlupakan. Pada tanggal yang sama, setahun yang lalu, hari ini menjadi hari pertama saya menginjakkan kaki di Bogor.

Apa rasanya? Deg-degan sudah pasti. Excited juga.

Sejujurnya, saya merasa bebas sekali bisa tinggal jauh dari orang tua. Sedikit sekali intervensi dari mereka itu bagi saya menenangkan. Ya sih, kalau kangen itu repot. Nggak bisa sewaktu-waktu pulang ke rumah. Harus nunggu libur panjang dulu dan dananya cukup untuk pulang. Tapi, tetep aja, jauh dari orang tua itu rasanya merdeka.

Lepas dari itu, ada sesuatu yang bikin saya deg-degan sekali. Ini adalah kali pertama saya hidup bertetangga. Mmmm... Bukan berarti dulu saat tinggal dengan orang tua tidak pernah begini. Tapi kan posisinya sekarang beda. Saya yang harus mulai mengenalkan diri. Saya yang harus mulai menampakkan diri dan beradaptasi dengan lingkungan baru saya. Buat saya yang orangnya susah untuk langsung akrab dengan orang lain, hal ini betul-betul jadi tantangan tersendiri.

Pengalaman Hidup Bertetangga

Tetangga

Banyak hal yang pingin banget disampaikan terkait hidup bertetangga selama setahun lebih ini. Dan, inilah rangkuman dari pengalaman hidup bertetangga selama setahun di Bogor.

1. Sulit untuk Bergaul dengan Tetangga

Kebetulan saya tinggal di area perkampungan yang kebanyakan dihuni oleh lansia. Anaknya sudah besar-besar. Rambutnya sudah memutih. Jalannya juga beberapa sudah mulai tertatih.

Orang Sunda yang sepuh-sepuh begini sebetulnya ramah sekali. Saya merasa dirangkul oleh mereka. Tapi ya karena gap usia yang terlampau jauh, gimana mau gaulnya coba?



Bukan hanya itu saja sih masalahnya. Kendala bahasa juga kerap terjadi. Tetangga saya banyak sekali yang sudah lansia. Saya senang mereka ramah-ramah, suka menyapa, dan begitu perhatian pada saya. Tapi ya itu, ngomongnya pakai Bahasa Sunda. Ya mana saya ngerti mereka ngomong apa. Jadi, kalau diajak ngomong ya cuma senyam-senyum aja tanpa tahu apa artinya.

2. Sering Ketinggalan Berita

Waktu awal-awal tinggal di sini, saya suka baper. Kenapa ya susah sekali berbaur dengan tetangga? Ini beneran nggak ada acara kumpul-kumpul RT sama sekali? Kok rasanya cuma pengajian aja ya. Itu pun saya jarang hadir karena berhalangan.

Hingga suatu hari waktu saya jajan di warung depan rumah, saya ketemu Bu RT.

"Kok nggak pernah ikutan acara RT."



Lho? Emang ada acara apa aja?

Beneran macem orang bego sih. Tapi saat itu memang saya nggak tahu acara apa saja yang bikin semuanya kumpul jadi satu, kecuali pengajian rutin mingguan.

Ada arisan, kelewat. Senam RT, kelewat juga. Belum lagi acara-acara lain di luar agenda rutin RT, sudah pasti kelewat.

Kalau begini caranya, kapan saya bisa berbaur dengan mereka?



Nggak cuma itu aja sih, kalau ada tetangga hajatan, keluarga saya juga nggak diundang. Suami lumayan sering nanya tuh kalau tetangga ada hajatan.

“Kita nggak diundang, Dek?”

Ya, gimana ya? Faktanya memang nggak diundang. Saking nggak dikenalnya sama warga sini. Cuma sekali sih mereka undang saya dan suami. Itu waktu kami baru awal-awal nikah dulu. Setelah itu, nihil.

3.Sedikit Sekali Kumpul dengan Tetangga

Bu RT saya ini orangnya perhatian banget. Tahu kalau saya miss sana sini, akhirnya saya dimasukkan ke whatsapp Group RT.

Wooow... Welcome to the new group.

Dari WAG ini, saya jadi dapat banyak informasi tentang agenda RT. Ya senam, ya cucurag, ya arisan. Tapi, sayanya nggak bisa ikut. Hiks.

Agenda RT selalu saja bentrok dengan agenda saya yang lain. Pernah juga sih nggak begitu. Sudah direncanakan mau marathon agenda. Ya kajian, ya kondangan, ya cucurag RT. Mumpung bisa, pikir saya. Qadarullah, badan saya drop. Ikut kajian cuma bisa separuh jalan. Kondangan juga sudah pasti skip. Apalagi cucurag RT. Tapi ya mau gimana lagi? Kondisi yang tidak memungkinkan.



Terus, saya ketemu lagi sama Bu RT. Pertanyaan serupa keluar lagi dari mulut beliau, "kok nggak pernah ikut acara RT."

Kali ini, saya jelaskan lagi kenapa nggak bisanya. Waktu itu memang sedang hamil muda dan kondisi saya sering sekali drop. Betul-betul nggak bisa capek.

Setelah kondisi saya membaik, saya betul-betul berusaha untuk datang ke undangan warga apapun itu bentuknya. Mau pengajian, aqiqah, atau yang lain. Selama saya diundang, saya pasti upayakan untuk datang. Biasanya sih, orang jadi nanyain siapa saya.

Ekspektasi yang Tak Sejalan dengan Realita

Espektasi dan realita


Sebelum saya pindah ke Bogor dan betul-betul menjalani kehidupan bertetangga, saya pernah membayangkan bahwa nanti saya bisa hidup bertetangga seperti kedua orang tua saya. Hubungan dengan tetangga baik, suka berbagi. Kalau punya anak, diasuh bareng. Jadi, anak nggak cuma punya teman main, tapi mainnya gimana yang ngawasin banyak.

Tetangga juga pinginnya jadi tempat berbagi. Kalau ada kelebihan rizki, dibagi. Kalau pingin cerita, ada temannya.

Realitanya, kenapa untuk menuju ke sana susah syekaleee? Boro-boro bisa curhat, kenal aja enggak. Sudah setahun lho, tapi nggak kenal sama tetangga.

Kadang, saya mikir gini, "apa cuma saya ya yang susah adaptasi sama tetangga?"

Kalau lihat postingan temen-temen saya yang guyup sama tetangganya gitu, saya iri lho. Kapan ya saya bisa seperti mereka? Bisa ketawa ketiwi bareng. Bisa ngobrol bareng dengan santai.

Kenapa mereka bisa dan saya tidak?

Sebuah Pembenaran

Salah


Kapan hari saya baca tulisan Puty Puar yang curhat masalah serupa. Baca tulisannya dia jadi ngerasa, "ih, ini gue banget."

Iya, saya merasa sesulit itu untuk berbaur dengan tetangga-tetangga saya. Alasannya sudah saya sebutkan tadi di atas.

Saya bersyukur sekali dipertemukan dengan komunitas Ibu Profesional. Jadi punya temen di Bogor. Sekali pun virtual ya. Tatap mukanya juga kalau lagi kopdar aja.

Mungkin karena saya udah termasuk ibu-ibu milenial kali ya. Semua serba on gadget. Temenan juga maunya yang instan. No drama, no baper.

Ya sih, saya tahu kalau teman virtual itu cuma dekat di jempol, jauh di mata. Kalau saya ada apa-apa juga belum tentu bisa bantu. Orang rumahnya aja jauhan.

Gimana pun juga, hubungan dengan tetangga ini yang kudu bener-bener dijalin. Sesusah apapun tetap kudu dicoba. Sedrama apapun ya kudu dijalani. Namanya juga interaksi sama manusia ya. Pasti nano-nano lah rasanya. Nggak mungkin lempeng-lempeng aja.

Temenan online aja bisa ada gesekan. Apalagi yang ketemu langsung. Ya, sama aja.

Harapan ke Depan

Mimpi

Last but not least, saya berharap hubungan saya dengan tetangga bisa jauh lebih baik. Bisa kenal kanan kiri. Kalau ada acara bisa ikutan juga. Dan, pastinya nggak jadi macem tetangga yang ansos (anti sosial; red) banget.

Semoga. Doakan saya ya.

Dan, kalau kamu pengantin baru yang ngalami kejadian serupa. Semangat juga buat kamu. Saya nggak bisa kasih saran apa-apa selain dukungan dan motivasi.

with love,


  • Share:

You Might Also Like

20 komentar

  1. Kak, boleh ga tuh saya ikut komunitas Ibu Profesional?

    Sedih banget rasanya ga punya teman di Bogor huhu wkwk. Ada sih beberapa teman semasa kuliah, atau teman sosmed yang sudah kenal lama. Tapi rasaya, butuh punya teman baru. Masalah di saya, agak males kenalan (loh) wkwk. Pusing juga antara introvert dan ekstrovert.

    Btw saya juga punya masalah yang serupa. Dulu waktu masih tinggal sama orangtua, masalah tetangga/tamu orangtua yang urusin. Sekarang, urusan saya (kami berdua).

    Tapi sepertinya kakak lebih baik sih, karena ada niatan untuk ikut berbaur dengan lingkungan setempat. Saya mah......apa karena tinggal di pinggir jalan ya, jadi kaya ga punya tetangga hehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Boleh. Tapi ada syaratnya. Untuk bisa gabung di Komunitas Ibu Profesional regional mana pun, harus lulus dulu Kelas Matrikulasi. Insyaa Allah, kisaran bulan oktober-november akan ada open registrasi. Ini yang mau ikutan buanyak banget. Jadi, pastikan follow akun instagram Ibu Profesional dan aktifkan notifikasinya. Biar nggak ketinggalan.

      Saya mencoba berbaur karna saya tinggal jauh sekali dengan keluarga. Buat saya, tetangga itu ya keluarga baru saya. Orang terdekat selain suami yang bisa dimintain tolong ketika nanti saya butuh bantuan. Nah, kalau nggak kenal sama sekali? Macem hidup sendiri dong. Hiks.

      Butuh proses memang untuk bisa berbaur dengan mereka. Secara, latar belakang beda, semuanya beda. Ya susah banget. Tapi bukan berarti tidak mungkin. Cuma ya, nggak tahu kapan.

      Delete
  2. Anda gak sendiri mba, wkwkwkwk
    Awal menikah juga saya kikuk mau menyapa tetangga, sama, saya gak bisa cepet berbaur dengan orang baru. Pernah ada waktu ngobrol sama ibu warung, sekalian saya cerita sama ibu2 yg lagi belanja, kenalan lah, trus cerita kalo saya dan suami kerjanya dari pagi sampe sore, bla bla bla, cerita asal dr mana, baru nikah berapa bulan.

    Next, kalo ada orang nanya, ibu warung malah yg jadi ngenalin saya ke ibu2 yg lain, :D
    Bawa ngalir aja mba, jangan malah jadi stress gegara merasa belum bergaul dengan baik ke tetangga.
    Semua butuh proses.
    Semangat merdeka!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. samaaaaa... saya juga gitu, biasa dikenal-kenalin sama ibu warung depan rumah. tapi ya gimana ya, mereka sekedar tahu saya, sayanya yang tetep nggak kenal mereka.

      ya sih, semua butuh proses, semoga yang begini ini nggak bertahan lama. buar nggak kayak hidup sendiri gitu.

      Delete
  3. Memang bertetangga tu ada seninya... Susah-susah gampang.. Harus banyak belajar dengan orang yang lebih senior .semangat... Semoga kita bisa...

    ReplyDelete
  4. Sama aku juga jarang bergaul sama tetangga,maksudnya jarang ngobrol-ngobrol sama mereka. Meskipun banyak yang seusia dan punya anak balita Kaya saya. Sempet bete kalau ada yang nanyain kapan punya adik lagi, enggak kerja, atau anaknya kok belum di sekolahin cucu saya dari usia 3 th udah sekolah.


    Lah, saya jadi curhat sama Mbak Lelly? Wkwkwk


    Intinya memang jaga jarak, takut ngomongin orang, dan suka enggak enak kalau ngobrol soal pribadi.

    Meski enggak kerja, aku di rumah pun banyak yang dikerjain. Selain kerjaan rumah, aku juga kadang suka nulis dan ada job nulis yang kadang diburu DL. Ya sudahlah memang enggak gaul aja sama tetangga. Seperlunya aja

    ReplyDelete
    Replies
    1. wkwkwkwk... nggak apa-apa mbak.

      saya tuh bukan lagi jarang bergaul mbak, beneran nggak kenal sama mereka. susah banget buat mengakrabkan diri. sisi positifnya, waktu jadi nggak banyak terbuang buat gosip sama tetangga. etapi tetangga saya jarang sih yang nendon buat gosip gitu. kalau yang saya lihat yaa...

      Delete
  5. Saya termasuk orang yg sulit bergaul, jarang keluar rumah, keluar klo ada perlu aja hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. saya juga sih, cuma ya saya merasa kalau begini ini dibiarkan juga nggak bagus. gimana pun juga kita butuh orang lain. ya kali datang oas lagi butuh aja, kan juga nggak enak

      Delete
  6. Hahahaaa klo saya malah nggak terlalu suka banyak kegiatan macam arisan, senam, dll, mbak. Secara aku orangnya introvert. Justru klo tetangganya udah sepuh dan tua aku malah suka karena nggak terlalu banyak ganjen dan rempongnya kayak para mahmud wkwkwkwk...
    *maapkeuunnn yaa para mahmud
    Tapi intinya kita perbaiki diri aja terus, nanti orang juga paham kita bagaimana. Yang penting say no to ghibah :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. saya mikirnya itu salah satu wasilah buat kenal tetangga sih mbak. sebetulnya juga nggak terlalu suka juga. hahaha..
      tspi kalau nggak ikut, kapan mau kenalnya gitu.

      yes, saya juga setuju. say no to ghibah

      Delete
  7. Tetangga itu, kadang ada yang lebih baik dari keluarga, kadang ada yang lebih jahat dari musuh, kadang ada yang didepannya baik dibelakang ampun-ampun nyinyirnya dah... Seru kalau bahas hidup bertetangga. Sebisa mungkin berusaha berbaur, tapi jangan melebur.
    Tidak bisa dipungkiri, ibu2 tetanggaan, kalau sudah ngumpul bisa nyerempet2 gibah. Ngga pernah keluar rumah dirasani, keluar rumah ikut ngerasani orang, hahaha..

    Jadi buat saya mempunyai komunitas / kegiatan diluar lingkungan tetangga cukup membantu saya agar tidak terjebak dalam sisi negatifnya bertetangga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. memang, ada yang begitu. jadi macam harus hati-hati sekali dalam bersikap.

      setuju sama pesannya mbak. berbaur tapi jangan melebur.

      karna kita peremouan ya, ini mulut gatau kenapa gampang banget buat ikutan ghibah. astaghfirullah..

      Delete
  8. Saya juga jarang bergaul tetangga, tapi alhamdulillah masih diusahakan sesempatnya. Dan kalau udah ngumpul sm tetangga sbisanya yang akrab.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak, mestinya begitu sih. kalau sempat ya ikutan kumpul.

      Delete
  9. Untung ya mba Bu RT nya perhatian jadi tahu info warga komplek.
    Bersosialisasi di tempat baru menurutku memang butuh perjuangan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak. aku bersyukur banget dapat bu RT yang begitu perhatian. cuma ya jadi gak enak aja.

      Delete
  10. Sebagai anak pingit, saya sudah sangat terbiasa hidup ga bertetangga.
    Justru kalau bertetangga rasanya ga pernah nyambung.

    Hidup kami juga sebelumnya pindah-pindah mulu, setelah anak sekolah barulah nggak pindah ikut suami.

    dulu di jombang 3 kali pindah, yang pertama ngekos sungguh nggak kuat dengan tetangga yang masha Allah hobi banget ngerumpi, sementara saya hobi depan laptop aja hahaha

    Terus kontrak di gang kecil, langsung shock gara-gara tetangga sering banget 'pinjam' segala macam, dari uang sampai barang dan ga dikembalikan ckckck.

    sampai akhirnya ngontrak di lokasi yang agak sepi, baru deh damai :D

    Sekarang malah tetangga saya cuman 1, keturunan Chinese yang jarang keluar, jadinya ya kami masing2 menikmati dalam rumah doang hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. saya juga, macem beda dunia gitu. wkwkwk..

      lika-liku bertetangga ya. banyak ceritanya. kalau pas baik enakan, kalau nggak yaaa gitu deh. hahaha..

      Delete