Ketika Istri Merasa “Diperkosa” Suami

By Aprilely Ajeng Fitriana - Thursday, October 03, 2019




Masalah seks sebetulnya sudah jadi hal yang wajar yang terjadi dalam pernikahan. Meski, pernikahan bukan hanya soal seks. Tapi di dalamnya pasti ada ini yang fungsinya sebagai penyaluran kebutuhan biologis. Ini normal dan halal dilakukan oleh pasangan suami istri. Tapi urusan ini jadi ramai setelah muncul RUU KUHP dan RUU PK-S yang intinya akan memperkarakan urusan ini. Dampaknya, kalau ini disahkan maka suami yang memaksa istrinya untuk berhubungan badan bisa dijerat pidana selama 9 tahun dengan tuduhan memperkosa istrinya.

Well, kasus ini jelas menimbulkan pro dan kontra.

Dari sisi yang pro bilang, “ini harus disahkan saja untuk melindungi perempuan dari kekerasan seksual yang dialami.”

Dari sisi yang kontra bilang, “pasal ini ngawur, orang sama istrinya sendiri kok nggak boleh. Itu halal lho. Terus harus gimana? Cari di luar?”

Perdebatan ini cukup sengit. Dari pihak yang merasa tersakiti dan pihak yang merasa itu adalah haknya. Kalau cuma mau lihat dari pribadi masing-masing, apa yang dirasakan dan apa yang sudah jadi haknya, masalah ini tidak akan pernah selesai. Gitu aja terus sampai Squidward berhenti kesel sama Spongebob dan bersahabat karib.



Nggak ada asap tanpa api. Masalah semacam ini juga nggak akan masuk dalam RUU kalau nggak pernah ada keluhan. Kalau hubungan pernikahan antara suami istri ini berjalan sesuai koridornya. Masalahnya, nggak begitu. Meski agama sudah mengatur bagaimana keduanya seharusnya berinteraksi, bahkan untuk urusan ranjang. Praktiknya tidak begitu. Kalau akhirnya muncul masalah, ya jelas aja.

Ini seperti kita lagi naik kendaraan, terus kita nggak mau mematuhi rambu-rambu lalu lintas. Mau belok kanan, lampu sein yang dinyalain yang kiri. Lampu merah, waktu berhenti masih ngeyel nerobos juga. Apa yang akan terjadi? Ya ruwet itu tadi.

Nah, sekarang kita tengok duduk permasalahannya ada di mana.

Fakta yang Terjadi

marital rap



Waktu awal-awal nikah, saya sempat ikut webinar selama beberapa pekan yang membahas tentang masalah reproduksi wanita. Ada satu pertanyaan yang wow banget saat itu. Saya tidak tahu siapa yang bertanya karena semua pertanyaan dikumpulkan melalui admin.

“Saya sudah menikah dan punya 2 anak. Saya mau tanya bagaimana seorang perempuan ketika mengalami orgasme itu sendiri? Selama ini, saya tidak bisa menikmati hubungan badan dengan suami karena selalu merasa kesakitan.”



Kurang lebih pertanyaannya begitu. Buat saya, ini aneh. Kok bisa nikah selama itu dan dia terus merasa kesakitan? Kalau dia pengantin baru, belum pernah jebol sama sekali  pertahanannya, wajar begitu. Lha ini udah menikah, udah banyak kali mungkin melakukan hubungan badan. Tapi tetap sakit?

Pertanyaan lain juga ada yang nggak kalah menarik. Intinya sih, adakalanya dia merasa diperkosa oleh suaminya sendiri. Dia galau. Kalau suami minta, terus nggak dituruti, maka dia akan dilaknat oleh Para Malaikat. Tapi, kalau diteruskan, dia sendiri yang merasa kesakitan.

Sakitnya kayak apa sih? Buat yang belum menikah dan berhubungan badan sama sekali mungkin nggak bisa menggambarkan seperti apa rasanya. Kalau mau tahu, coba aja lakukan hal ini.

Coba lipat lengan kalian, terus masukkan jari ke dalamnya. Gesek-gesekkan jari itu ke lipatan lengan itu. Pastikan tidak sedang berkeringat, tidak ada sabun atau lotion yang ada di lengan itu. Seperti apa rasanya? Panas, perih, nggak nyaman. Kurang lebih seperti itu yang dirasakan kalau pihak perempuan belum siap.



Ada jugaa curhatan lain yang muncul terkait masalah ini. Waktu itu nggak sengaja nemu IGTV yang membahas masalah seks dalam obrolan santai. Ini agak fulgar sih, tapi nggak apa-apa ya.

“Kalau suami lagi pingin tuh suka nggak tahu waktu dan sikon. Kadang, kita dibangunin tengah malem buat diajakin dines. Masih ngantuk, mood belum kebangun, udah main gasak aja. Harusnya kan nggak gitu. Diapain dulu kek, biar kitanya sama-sama enak.”

Kasus terakhir yang mungkin paling sering dialami oleh para istri di luar sana. Ini juga yang mungkin bikin mereka jadi enggan kalau diajak main.



Oya, sebetulnya korban dari marital rape ini tidak harus perempuan ya. Katanya sih begitu. Tapi, kalau saya ngobrol sama suami, kita sama-sama nggak nemu sisi diperkosanya di bagian mana. Karna ya balik lagi, semuanya bisa sama-sama enak, kalau pihak perempuan menikmati. Kalau laki-laki diperkosa, ini gimana ceritanya? Beneran, dia nggak ikutan menikmati juga setelah itu?

Ini masih jadi misteri juga.


Jika Istri Menolak

marital rap


Lalu, apa yang terjadi kalau istri menolak hubungan badan?

Contoh ini muncul dalam obrolan salah satu WAG yang saya ikuti. Jadi ceritanya ada orang yang curhat ke salah satu penghuni WAG. Posisinya dia sedang hamil. Kalau hamil, biasanya Hasrat seksual memang menurun drastis. Gimana nggak turun, urus badan aja repot. Ya mual lah, ini lah, itu lah. Karena si istri ini tidak mampu memenuhi keinginan suaminya dalam kondisi seperti itu, akhirnya suaminya ngebokep.



Saya nggak mau mengecilkan masalah bokep ini. Tapi ini baru ngebokep. Nonton film porno saja. Bagaimana kalau yang terjadi jauh lebih parah dari itu? Suami jajan di luar saat istrinya sedang hamil. Kebayang nggak gimana potek-potek hatinya kalau tahu kenyataan semacam ini?

Dampak lain, ini dijelaskan dalam hadist shahih. Istri yang menolak ajakan suami untuk berhubungan, tanpa alasan yang syar’I, maka dia akan dilaknat oleh malaikat. Terkait hal ini, Rasulullah juga pernah menerangkan bahwa doa orang yang tidak berdosa itu doanya mudah diijabah oleh Allah. Kita tahu sendiri kalau malaikat itu nggak pernah bikin dosa. Bayangkan kalau mereka berdoa ramai-ramai untuk melaknat kita sampai pagi hari?

Ini semacam makanan yang dibuka. Tidak ditutup. Lalat, debu, dan lain-lain bisa hinggap dimakanan tersebut. Itu juga yang akan terjadi. Kalau Allah turunkan wabah penyakit, ya kita bisa kena. Kalau ada yang kirim sihir atau teluh, kita bisa kena juga.

Horror? Banget.


Kenapa Hal Ini Bisa Terjadi?

marital rap


Dampaknya ngeri ya. Kerusakan memang bisa terjadi di mana-mana, hanya karena urusan ranjang saja. Dari pada saling ngeyel, yuk, kita cari duduk masalahnya ada di mana. Kenapa sih hal semacam ini bisa terjadi?

“Jika seorang suami mengajak istrinya ke ranjang, lalu istrinya menolaknya sehingga dia (suami) melalui malam itu dalam keadaan marah, maka malaikat melaknat istrinya hingga subuh.”

Itu dalil yang menjelaskan. Selow dulu ya. Jangan ngegas kalau baca ini.

Waktu pertama kali saya dengar dalil ini, hal yang terbesit dalam benak saya adalah betapa mudahnya seorang istri berdoa terhadap suaminya. Karena, misal kita lagi masak dan suami ngajak ke ranjang, maka masaknya harus ditunda dulu untuk memenuhi hasrat seksual suami. Apalagi kalau pengantin baru, misal suami minta lebih dari 5 kali sehari, ya harus diiyakan. Wownya lagi, hal ini tidak berlaku untuk istri.

Kesannya memang sesaklek itu. Tapi, pada praktiknya tidak. Istri bisa saja menolak hal ini kalau ada udzur syar’i. Misal, sedang sakit, kelelahan, atau menstruasi. Hal semacam ini bisa dikomunikasikan dengan suami.

Pointnya itu. Jadi, kita nggak cuma bicara tentang hak dan kewajiban suami istri tapi juga bagaimana komunikasi antara keduanya.




Nah, kalau ceritanya si istri cuma nggak mood aja gimana?

Hello, dalam pernikahan itu bukan cuma istri lho yang punya kewajiban. Suami juga lho. Suami ini qawwam bagi istrinya. Dia yang memimpin. Dia imamnya. Tapi posisinya kan nggak seperti atasan dan bawahan ya. hubungan suami istri itu seperti seorang sahabat. Saling memperlakukan dengan baik.

Kalau istri belum mood gimana? Ya komunikasikan dong. Terus cari solusinya supaya keduanya sama-sama enak. Misal, dengan membangkitkan hasrat seksual istri dulu. Nggak main sikat aja. Ini juga dzalim. Dalam buku Barakallahu Laka yang ditulis oleh Ustadz Salim Fillah, hal yang semacam ini dijelaskan secara detail. Bahkan, kalau memang diperlukan, ngasih makanan dan minuman yang bisa membuat istri lebih rileks dan nyaman juga perlu dilakukan. Bahkan sampai ngatur ritme yang pas supaya keduanya sama-sama enak.



Dalam kasus si istri yang selalu merasa sakit itu, sebetulnya ada kemungkinan lain yang terjadi. Bukan hanya soal hak dan kewajiban suami istri yang tidak dijalankan dengan baik. Atau masalah komunikasi yang bermasalah. Bisa jadi, salah satunya memang sakit secara psikologis. Misal, istrinya punya trauma di masa lalu atau suaminya yang memang suka sensasi sakit yang dirasakan saat berhubungan seksual. Kan ada ya yang begitu itu.

Kalau kondisinya begini bagaimana? Nolak itu nggak masalah. Karena memang ada udzur syar’i. Tapi buian berarti masalah itu dibiarkan berlarut-larut. Kalau memang butuh bantuan psikolog ya lakukan. Sekali lagi, dampaknya besar.

Iya, mungkin bisa lepas dari laknat malaikat. Bagaimana kalau suami justru lari ke perempuan lain? Mencari pemenuhan pada tempat yang lain. Ngeri kan?


Kesimpulan



Percayalah bahwa Islam sudah mengatur segalanya dengan sedemikian sempurna. Urusan ranjang saja dibahas begitu detail dalam Islam. Bahkan tidak hanya melihat dari satu sisi saja, harus dari keduanya, baru diambil bagaimana seharusnya bersikap. Masalah semacam ini tidak akan terjadi kalau kita mau mengembalikan masalah pada koridor penyelesaian yang shahih.

Pernikahan itu adalah ibadah terlama yang akan dijalani. Tantangan yang ada itu luar biasa besar. Baik suami atau istri itu perlu untuk terus belajar teekait ibadah-ibadah yang ada di dalamnya. Bagaimana seharusnya bersikap, bagaimana ketika masalah A-Z muncul. Masalah bisa saja terjadi, bukan hanya karena tidak dikembalikan pada koridor penyelesaiannya yang seharusnya, tapi bisa jadi karena minimnya ilmu kita untuk mengambil solusi tersebut.

Jadi, bukan berarti nggak ada solusinya. Kita aja yang nggak tahu.

Ini juga jadi reminder untuk diri saya sendiri untuk terus belajar, belajar, dan belajar mengkaji Islam. Bukan hanya dalam hal pernikahan saja, tapi semua aspek kehidupan.

  • Share:

You Might Also Like

8 komentar

  1. saya kurang paham,
    sebagai suami dan istri harus saling memahami, ehmm harus komunikasikan.
    kalau ada hadits misalnya tentang laknat atas penolakan, saya rasa ini juga nasihat suami kalau harus memahami keadaan istri.( menyelamatkan dari laknat)

    misalnya nih kalau dia tidak cinta ddan karena pernikahan dipaksa dia bia mengajukan perceraian setidaknya seperti itu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya nggak langsung cerai juga sih, menikah itu kan ibadah, sayang aja kalau masalah yang seharusnya bisa selesai dengan komunikasi justru diakhiri dengan perceraian.

      kalau masalahnya komunikasi dan pemahaman hak dan kewajiban masing-masing, ya benahi di situ. belajar bagaimana caranya. bukan langsung cerai sih. ini sama aja kayak jempol sakit, terus amputasi tangan.

      Delete
    2. Becerai itu setelah melewati banyak pertimbangan.

      Nggak sedikit kok orang menikah tanpa cinta, karena dijodohkan dengan salah satu pihak terpaksa dan pihak lainnya bisa saja acuh atu bahkan menikmati keterpaksaan pihak lainnya.

      kalau menikah adalah ibadah, ibadah macam apa yang dilaksanakan dengan terpaksa?

      Delete
    3. O tentu, bercerai itu dibolehkan,tapi selama masih bisa diperbaiki, kenapa tidak?

      Janji pernikahan itu diucapkan bukan hanya kepada satu sama lain, tapi juga ke Allah. Ini yang mestinya jadi dasar keduanya untuk mau saling berjuang memperbaiki.

      Menikah juga nggak harus dimulai dengan cinta dulu. Ada lho yang memulai dengan biasa saja, lalu mampu menumbuhkan perasaan itu. Toh ya, hati itu punya Allah. Kecondongan itu Allah yang bikin, termasuk kita jatuh cinta sama orang juga Allah yang bikin.

      Nggak akan ada hisab terkait ada cinta atau tidak. Tapi bagaimana kita memperlakukan pasangan itu yang akan dipertanggungjawabkan oleh masing-masing.

      Delete
  2. Saya juga yang ikut berkomentar kontra saat tahu berita ini kemarin. Aneh saja.

    Alhamdulillah dalam Islam sudah diajarkan dengan sangat detail. Adab-adab hubungan suami istri dan masalah dalam pernikahan lainnya. Tinggal kitanya mau mempelajari dan berusaha mengamalkannya atau tidak.

    Juga komunikasi antara keduanya. Belajar memahami satu dengan yang lainnya memang sangat penting.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, kalau keduanya mau jalan on the track, mestinya sih baik-baik saja. Sakinah, mawaddah, dan rahmah itu bisa ada.

      Delete
  3. Wah kak lely, keren sekali tulisannya. Makasih ya, salam kenal

    ReplyDelete