Learning How to Learn: Rancangan Pembelajaran Calon Ibu Profesional

by - Sunday, September 02, 2018


3 tahun lebih lamanya saya bekerja sebagai seorang dosen. 3 tahun itu juga saya belajar untuk menyusun rancangan pembelajaran bagi mahasiswa-mahasiswa saya. Saya tentukan target luaran yang saya inginkan untuk mereka. Apa saja kompetensi dasar yang harus mereka miliki? Indikator-indikator keberhasilan dari proses belajar itu? Bagaimana cara mengevaluasinya? Hingga menyusun materi pembelajaran bagi mereka. Semua itu saya lakukan pelan-pelan dengan sedikitnya ilmu dan pengalaman yang saya miliki. Perubahan terus saya lakukan seiring dengan bertambahnya ilmh yang saya dapatkan dari berbagai workshop penyusunan perangkat pembelajaran.

Sayangnya, saya lupa bahwa saya pun adalah mahasiswa di Universitas Kehidupan ini. Di kampus ini, saya punya banyak dosen untuk belajar banyak sekali hal. Tapi sayangnya, saya tak memiliki kurikulum yang jelas akan menjadi seperti apa saya nanti. Saya biasa belajar karena terdesak kebutuhan. Desakan kebutuhan ilmu dari apa yang ingin saya gapai.

Sebagai contoh, ketika saya belum menikah lalu. Saya berharap betul bisa punya bekal ilmu yang cukup untuk mengarungi bahtera rumah tangga saya nanti. Saya break down satu per satu kebutuhan paling utama dari peran ibu dan isteri. Apa kira-kira yang perlu saya persiapkan? Termasuk ilmu-ilmu dalam menjemput pasangan hidup dan mempersiapkan walimah. Ada sederet daftar panjang ilmu yang ingin sekali saya pelajari. Rasanya ingin dalam sekejap mata semua itu bisa masuk ke dalam kepala saya. Tapi faktanya, tidak semudah itu. Masing-masing cabang ilmu butuh kesabaran dan waktu untuk mempelajarinya. Tak mungkin bisa sekejap mata kemudian saya mendadak menjadi mahir.



Seiring bertambahnya usia saya, semakin yakin bahwa pasangan hidup saya makin dekat, semakin paniklah saya. Saya merasa ilmu saya masih belum cukup. Ada kekhawatiran yang besar dalam diri saya terkait bagaimana saya mengupgrade ketertinggalan itu setelah saya menikah. Bagaimana jika saya tak punya cukup untuk belajar karena amanah-amanah yang harus saya tunaikan?

Tugas pekan ke-5 ini telah mengingatkan saya bahwa saya pun butuh rancangan pembelajaran untuk diri saya sendiri. Saya butuh ruang dan waktu yang cukup untuk membangun satu per satu pondasi ilmu yang nanti akan menjadi bekal saya dalam menjalankan peran hidup saya, baik di dalam keluarga maupun di masyarakat.

Ada 5 tahan yang akan saya susun untuk kurikulum pribadi saya sebagai calon Ibu Profesional, yaitu analisis kebutuhan, desain, pengembangan, implementasi, dan yang teraknir adalah evaluasi.

1. Analisis Kebutuhan


Analaisis kebutuhan saya gunakan untuk menetapkan pijakan awal kurikulum yang akan saya susun. Saya perlu melihat kebutuhan saya pribadi sebagai individu, ibu, isteri, dan bagian dari masyarakat. Apa yang paling saya dan mereka butuhkan? Sehingga saya bisa mengupgrade diri sesuai dengan kebutuhan diri dan lingkungan saya. Dalam nice homework (NHW) 1-4, saya telah amat terbantu untuk merenungkan apa saja yang saya butuhkan dalam penyusunan kurikulum pribadi saya. Apa yang saya butuhkan sebagai individu, isteri, dan ibu telah saya jabarkan dalam tugas-tugas tersebut. 

2. Desain



Selanjutnya adalah proses mendesain. Ada 4 komponen yang nanti akan saya gunakan sebagai bahan baku rancangan ini, yaitu capaian pembelajaran, bahan kajian, pengalaman belajar, serta hasil evaluasi dari proses belajar yang telah saya lalui. Melalui 4 komponen ini, saya pun bisa menentukan capaian pembelajaran dalam kurikulum yang saya susun ini.

“Menjadi sosok perempuan yang mampu melaksanakan perannya sebagai individu, ibu, dan isteri secara professional.” 

3. Pengembangan


Pada tahap ini, saya harus menjabarkan capaian pembelajaran yang ingin saya raih ke dalam mata kuliah di Universitas Kehidupan ini. Masing-masing mata kuliah nanti akan disusun rancangan pembelajaran, instrument penilaian, dan materi-materi yang saya butuhkan untuk belajar nanti.

Dalam NHW 4, saya telah membreak-down mata kuliah apa saja yang ingin saya tekuni dalam Universitas Kehidupan ini. Masing-masing ilmu ini tentu butuh capaian pembelajaran masing-masinh, instrument penilaian sebagai bahan evaluasi, serta materi-materi yang akan menunjangnya. 

4. Implementasi


Setelah semua perangkat telah siap, sampailah saya pada tahap implementasi. Pada tahapan ini, saya perlu mengidentifikasi kemungkinan masalah yang menghambat implementasi kurikulum saya. Selanjutnya, tinggal melaksanakan kurikulum dan terus menerus melakukan monitoring.

5. Evaluasi


Kita tidak akan pernah tahu bagaimana tingkat keberhasilan dari sebuah proses tanpa adanya evaluasi. Maka, di sinilah pentingnya proses ini. Proses evaluasi akan terus menerus dilakukan untuk menilai tingkat keberhasilan kurikulum ini. Selanjutnya, hasil dari evaluasi ini akan digunakan untuk peninjauan kurikulum yang ada. Apakah kurikulum ini masih berlaku ataukah butuh diupgrade lagi?



Inilah 5 tahap yang sedang saya usahakan usahakan untuk membuat kurikulum pribadi saya sebagai calon Ibu Profesional. Semoga Allah memberikan saya kemudahan untuk menjalankan semua yang telah saya tuliskan. Aamiin.




sumber gambar : pexels.com

You May Also Like

0 komentar