Vaksin Jiwa untuk Anak

by - Sunday, September 02, 2018



“Bunga, kamu diajari siapa, Nak?” tanya teman saya ketika melihat anakperempuannya dengan santainya menggunakan spidol boardmarker merah sebagai lipstick. Jangan tanya bagaimana anggota tubuh Bunga yang lain. Sudah jelas penuh coretan. Umur Bunga baru 2 tahun. Anak perempuan yang amat aktif dan cepar sekali menangkap apa yang terjadi di sekitarnya. Oya, Bunga ini bukan nama sebenarnya.

Ummu Bunga bukan orang yang suka menggunakan make up. Saya pun tak yakin ada lipstick di rumah mereka. Pertanyaanya, bagaimana Bunga tahu cara menggunakan lipstick?

“Tahu dari mana, Mbak?” tanya saya.

“Sepertinya dari instagram. Kalau buka satu video di search ‘kan suka ganti otomatis. Sepertinya sih dari situ.”

Di lain waktu, saya mendapatkan cerita dari teman saya. Sebagai bentuk penjagaan kepada anaknya, dia dan suaminya sepakat memasukkan anak mereka ke salah satu sekolah Islam terbaik di Surabaya. Kurikulum yang ada di sekolah itu sudah dicek dan sesuai dengan visi pendidikan yang mereka harapkan.

Di rumah, anak dijaga dengan begitu getol agar terhindar dari pengaruh buruk lingkungan. Di sekolah pun demikian. Hingga suatu kali, sekolah mereka mengadakan kunjungan ke salah satu rumah internet di salah satu kelurahan dekat sekolah. Siapa yang menyangka kalau dari rumah internet itu mereka akhirnya mengenal game online dan tayangan-tayangan yang tak layak untuk anak-anak.



Kaget sekali teman saya ketika anaknya bercerita kegiatannya hari itu. Kesal, kecewa, dan tak berdaya ketika mengetahui apa yang baru saja masuk ke dalam otak anaknya. Dia dan suami telah berusaha keras menjaga anak mereka dari pengaruh-pengaruh yang tak baik. Tapi faktanya, hal-hal macam itu terkadang memang tidak bisa dihindarkan.

Lalu, kita bisa apa?

Saya pernah berbincang hal semacam ini dengan rekan saya yang baru saja melahirkan. Kekhawatiran kami sama tentang nasib anak-anak kami nanti dengan serangan lingkungan yang makin lama makin memprihatinkan.

“Kita bisa apa, Lel? Mau membatasi pergaulannya dia juga rasanya masih nggak mungkin juga. Aku pernah diskusi ini sama suamiku.”

“Terus?”

“Yaaa…. Kita cuma bisa doain anak-anak kita aja biar dilindungi Allah.”

Tak ada yang salah dengan doa. Bagaimana pun doa mampu mengetuk pintu langit agar Allah terus memberikan perlindungan kepada anak-anank kita. Tapi kemudian saya bertanya pada diri saya sendiri. Jika anak-anak kita adalah amanah bagi kita, apakah doa adalah ikhtiar terbaik yang mampu kita lakukan? Apakah tidak ada hal lain yang dapat kita lakukan untuk menjaga anak-anak kita dari segala pengaruh negatif yang ada? 



Ada hal menarik yang saya temukan dalam buku-buku parenting yang pernah saya baca dan diskusi saya dengan teman-teman saya yang lain. Sterilisasi jiwa anak dari lingkungan luar yang memungkinkan memberikan dampak negatif itu akan amat sangat sulit. kita bisa saja mensterilkan anak saat ini. Namun kelak, anak harus mampu bersikap ketika hal-hal yang tidak kita inginkan hadir dalam hidupnya. Alih-alih mensterilkan jiwa mereka. Ada hal lain yang bisa kita lakukan, yaitu dengan memberikan vaksin kepada jiwa anak-anak kita. Biarkan vaksin itu yang menguatkan sistem imun di jiwa anak.

Lalu, apakah vaksin jiwa ini? Bagaimana cara memberikan vaksin ini kepada anak?

Pertama, tanamkan aqidah ada diri anak. Aqidah Islam adalah pondasi utama bagi anak dalam menjalani hidupnya. Keyakinan pada agamanya serta keimanan yang kokoh pada Tuhannya yang mampu menjadi landasan utama bagi anak untuk bergerak melindungi jiwanya. Anak pun akan punya alasan paling kuat untuk melakukan dan tidak melakukan sesuatu. Anak akan punya keberanian yang besar untuk melakukan sesuatu atau meninggalkan sesuatu. Dan ketika anak merasa takut, ketakutan itu semata-mata karena Tuhannya.

Tentu landasan aqidah saja tak akan cukup tanpa diimbangi dengan pengetahuan mengenai hukum syara’. Anak harus paham standar yang harus dia pegang dalam memandang suatu perkara. Didik anak agar memahami mana yang seharusnya dikerjakan dan mana yang harus dijauhi. Mana-mana saja perkara yang boleh untuk dilakukan dan mana yang harus dihindari. Cukup jadikan syari'at Islam sebagai kacamata anak untuk melihat segala perkara. Bukan yang lain. 

Faktanya, ketika anak telah memahami terkait hal ini, anak akan menanyakan kenapa di lingkungannya ada yang berbeda. Ketika anak mampu membedakan mana yang benar, dia justru mendapati orang bersikap yang sebaliknya. Sesuatu yang keliru dan tak boleh dilakukan justru dilakukan oleh kebanyakan orang.

“Ummi, katanya ‘kan begini tidak boleh, kok kakak yang di sana melakukan itu?”

Tentu memberikan mereka jawaban saja tak akan pernah cukup. Bahkan bisa jadi jawaban yang kita sampaikan justru semakin membuatnya bingung. Lebih dari itu, kita perlu menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka sembari memberikan mereka amanah yang kelak akan dipertanggungjawabkan dihadapan Allah. 

Saya jadi ingat nasehat Uncle Ben kepada Peter Parker sebelum dia meninggal di film Spiderman. 



“With great power comes great responsibility.” - Uncle Ben


Kekuatan yang besar akan memberikan tanggung jawab yang besar pula. Ilmu serta kecerdasan yang dianugerahkan kepada Allah tentu akan memberikan konsekuensi bagi pemiliknya. Semua kenikmatan itu sudah seharusnya bisa dijadikan sebagai sarana untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah. Dekat sendiri saya rasa tak akan pernah cukup, kita perlu menyampaikan kebenaran di tengah-tengah ummat. Begitu pula dengan anak-anak kita nanti. Ilmu-ilmu serta kecerdasan yang mereka miliki punya tanggung jawab besar untuk digunakan di jalan Allah. Semoga Allah memberikan kekuatan serta keteguhan hati kepada kita dan anak-anak kita kelak untuk berjuang di jalan Allah.

Sungguh vaksin terbaik yang mampu kita berikan adalah ilmu agama dan iman. Kedua hal inilah yang mampu melindungi mereka dari dampak negatif yang datang kepada mereka. Pemahaman agama yang mereka miliki yang membuat anak tahu bagaimana harus bersikap. Sedangkan iman yang kokoh yang akan terus meneguhkan jiwa anak menghadapi berbagai serangan-serangan yang ada.

Wallahu a’lam bissawab

sumber gambar : pexels.com

You May Also Like

9 komentar

  1. harus di kontrol bgt anak zaman sekarang , sudah melek bgt sm teknologi

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyap, bener. makanya ortu jg harus punya peran ekstra.

      Delete
  2. aku mah selalu memperkenalkan anak hal yang baik dan buruk agar mereka tahu di luar sana ada banyak hal baik yg baik dan buruk sehingga mereka hrs bisa memilah2

    ReplyDelete
  3. kalau aku mah mengajarkan anak aklau di luar sana ada hal yg baik dan buruk shg mereka tahu dan diajar memilah mana yang boleh dan yg tidak

    ReplyDelete
  4. Segala sesuatu memang harus kembali pada pendidikan keluarga ya.
    Susah sekali kita nutup informasi dari luar pada anak.
    Yang penting memang bekal akhlak dan pendidikan agama.
    Makasih sharingnya Mbak ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, mbak. tugas ortu yang kudu dioptimalkan lagi.
      sama2 mbak :)

      Delete