Stimulasi dan Perkembangan Bayi 3-6 Bulan, Persiapan Menuju MPASI

By Aprilely Ajeng Fitriana - Monday, July 27, 2020

stimulasi bayi 3-6 bulan

Soal stimulasi perkembangan anak, saya termasuk orang yang betul-betul mengamati dan mengerjakan tiap PR perkembangan si kecil. Sebagai referensi perkembangan, saya lebih memilih sumber terpercaya seperti buku atau aplikasi terkait tumbuh kembang anak. Saya amati apa target tiap bulan yang harus saya penuhi dan kerjakan. Saya tidak memilih anak orang lain sebagai indikator keberhasilan perkembangan Ghazy.

Kenapa? Jelas nggak valid. 

Ada beberapa anak yang memang berkembang di atas rata-rata. Jadi, dia leading dari banyak hal. Umur sekian udah bisa begini begitu. Ada juga yang terlalu lambat. Kalau saya jadikan ini sebagai acuan, kan jadi bias. 

Kalau yang saya lihat adalah anak di atas rata-rata, saya yang jadi khawatir berlebih. Lihat yang terlalu lambat, saya jadi terlu selow. Padahal, mungkin seharusnya dia sudah bisa begini begitu kalau saya lakukan stimulasi.

Kerennya Perkembangan Otak Anak dan Sikap Kita

stimulasi bayi 3-6 bulan

Otak anak itu keren sekali. Serabut-serbut syarafnya memang belum terhubung secara otomatis begitu dia lahir. Tapi, setiap kali diberi stimulasi, dia akan amat cepat menangkap itu semua. Semakin banyak stimulasi yang diberikan, serabut syarafnya akan semakin banyak yang bersambungan. Semakin ruwet, semakin cerdas pula dia.

Alasan ini yang membuat saya getol untuk mengoptimalkan setiap kesempatan untuk melakukan stimulasi ke Ghazy. Menurut para ahli, perkembangan anak itu bisa jadi keren sekali kalau diberikan stimulasi. Alasan yang membuat anak ini jadi lambat berkembang, seringkali karena sikap orangtuanya sendiri. 

Contoh, terlalu banyak digendong. Oke, menggendong anak itu punya banyak manfaat. Meningkatkan bonding antara orangtua dan anak, meningkatkan daya tahan tubuh anak, memberikan rasa aman dan nyaman, serta banyak manfaat lain. Tapi, kalau terlalu sering juga tidak baik.

Kenapa? Karena anak jadi tidak punya kesempatan melatih dirinya. Bayi yang baru lahir memang belum bisa apa-apa. Mau begini begitu juga belum kuat. Tapi, kalau didiamkan saja dan terus menerus dibantu, ya akan terus seperti itu. Sulit sekali untuk berkembang.

Saya sering menganalogikan dengan orang yang baru saja kecelakaan dan harus menjalani rehab medik. Secara natural, orang ini bisa berjalan. Tapi, karena suatu alasan, kemampuannya jadi hilang. Mereka butuh melatih otot-otot agar mampu berjalan lagi. Kalau ototnya tidak dilatih, sampai kapanpun dia tidak akan mampu berjalan kembali.

Bayi pun sama. Otot-ototnya perlu dilatih agar semakin kuat. Otaknya pun perlu distimulus agar tahu bagaimana menyelesaikan setiap persoalan yang dia hadapi. Kalau mau berguling, dia harus apa. Kalau mau digendong, dia harus apa. Bayi ini akan belajar.

Tentu saja, sikap saya ini tidak selalu mendapat dukungan dari orangtua. Apa yang saya lakukan seringkali dianggap memaksa Ghazy. Saya paling kesal kalau anak saya dikasihani saat dia sedang berupaya melatih dirinya. 

"Kasihan itu kalau tengkurap terlalu lama. Gendonglah."

"Kasihan dia kalau melata terlalu jauh. Capek."

Dan masih banyak lagi.

Ya kapan Ghazy bisa berkembang kalau dia tidak diberi ruang. Saya pasti akan menggendong Ghazy kok kalau dia sudah capek. Saya pasti akan mengistirahatkan dia dan membuatnya nyaman bila itu terjadi. Hanya saja, saya tidak menyimpulkan semuanya sendiri. Biar Ghazy yang memberikan sinyal butuh bantuan dulu. 

Cara semacam ini, selain bisa membantu Ghazy melewati tahap perkembangannya, ternyata juga bisa menumbuhkan rasa percaya dirinya. Semua terlihat kok meski Ghazy belum pernah tampil satu kalipun di depan publik.

Dari sini, saya pun belajar bahwa rasa percaya diri anak bisa tumbuh bila kita memberinya ruang untuk bereksplorasi, ruang untuk menyelesaikan persoalan, serta kepercayaan dari kita bahwa dia mampu.  Bukan hanya sekedar mendorong dia untuk tampil di depan umum. Rasa percaya diri itu bukan hanya untuk tampil, tapi juga untuk menyelesaikan persoalan hidup.

Ada kan orang yang sulit mengambil keputusan dalam hidup. Dia menunggu pendapat orang lain dulu. Padahal, ya belum tentu juga pendapat itu sesuai dengan kondisinya. Dia tidak percaya bahwa dirinya mampu. Sehingga, banyak sekali hal yang dia lewatkan.

Saya nggak mau Ghazy begitu. Tentu saja, ini selalu memicu perdebatan antara saya dan orangtua. Meski begitu, saya tetap melakukannya juga. Paling-paling ya saya berhenti mengirimkan progres perkembangan Ghazy kalau terlalu banyak intervensi yang mereka berikan. Ini juga untungnya tidak tinggal serumah dengan orangtua.

Persiapan Sebelum Memulai MPASI

MPASI

Bayi baru bisa mulai makan paling cepat ya umur 4 bulan. Organ pencernaannya sudah mulai kuat. Tapi, untuk mulai makan, bukan hanya umur yang dijadikan patokan. Ada beberapa hal lain yang harus dipersiapkan dan diamati oleh orangtua. 

Apa saja itu? Tanda-tanda kesiapan anak untuk makan. Range waktu bayi bisa mulai makan adalah saat dia berusia 4-6 bulan. Rekomendasi terbaik ya saat dia berumur 6 bulan.

Tapi ada juga bayi yang disarankan sudah mulai MPASI sejak umur 4 bulan. Biasanya sih karena pertumbuhannya yang mengalami gangguan. Contoh, berat badannya tidak naik.

Hanya saja, kita tidak bisa langsung memukul rata bahwa setiap bayi yang mulai MPASI di usia 4 bulan itu pasti kekurangan gizi. Tidak bisa begitu juga. Bisa jadi, bayinya memang sudah siap.

Dari penjelasan dr. Tiwi dalam banyak seminar beliau, bayi-bayi di luar negeri, biasanya mulai MPASI saat mereka berusia 4 bulan. Artinya, memulai saat 4 bulan itu bukan sebuah dosa besar. Toh, secara teori pencernaannya sudah mampu.

Hanya saja, IDAI melihat bahwa rekomendasi yang paling mendekati dengan kondisi bayi-bayi di Indonesia ya saat mereka berusia 6 bulan. Sekali lagi, ini tidak saklek. Bila kurang dari 6 bulan, bayi sudah menunjukkan tanda siap makan. Ya nggak masalah juga dikasih.

Apa saja tanda-tandanya? 

Pertama, bayi mulai tertarik ketika melihat makanan. Dia sudah mampu menahan kepalanya dan mampu duduk tegak. Refelks muntah bayi pun sudah mulai berkurang. Kalau semua tanda-tanda ini sudah ada, ya nggak masalah dikasih MPASI juga. 

Ini PR yang saya kerjakan saat Ghazy berusia 3-6 bulan. PR saya adalah mengamati tanda-tanda siap makannya serta membantu agar Ghazy bisa duduk tegak. Jadi, ketika sudah waktunya, saya sudah nggak pusing lagi karena keterlambatan ini itu.

Stimulasi Perkembangan Baby Ghazy 3-4 Bulan

Stimulasi bayi 3-4 bulan

Sebelum melakukan stimulasi, saya biasa mengecek apa yang sudah bisa Ghazy lakukan dan target tahap perkembangannya. Di umur 3 bulan, Ghazy sudah mampu menegakkan kepalanya hingga 90 derajat. Tangannya sudah mampu menopang bagian badan atas. Ini artinya, otot leher, bahu dan tangannya sudah semakin kuat.

Lalu, apa target yang ingin saya capai saat Ghazy berusia 4 bulan?

Untuk motorik kasarnya, dia harus bisa membalikkan badan sendiri. Setelah berbalik, kepalanya pun bisa tetap terangkat tinggi. Sedangkan untuk motorik halusnya, dia harus mampu meraih benda, memegang mainannya sendiri. Dari sisi bahasa dan sosio-emosional, bayi sudah mulai bergumam dan tertawa keras.

Saya nulis ini memang telat banget. Tapi kalau diingat-ingat, ya saat 3-4 bulan ini Ghazy berkembang dengan amat cepat. Banyak hal mengagumkan yang dia tunjukkan kepada kami.

Nah, setelah tahu targetnya, saya mulai kerjakan pelan-pelan. Saat umur 3 bulan, Ghazy sudah bisa mengankat kepalanya tinggi. Saya hanya tinggal memberikan tummy time lebih sering agar otot leher, lengan dan bahunya semakin kuat.

PR selanjutnya adalah membantu dia agar bisa berguling sendiri. Saat umur 3 bulan, Ghazy lebih suka tengkurap dibanding rebahan. Meskipun, kalau terlalu lama ya capek juga dia. Jadi, waktu itu kami sering guling-gulingkan Ghazy. 

Cara yang saya lakukan agar Ghazy bisa berguling sendiri adalah menunjukkan step by step. Bisa dengan membantu dia berguling sambil menjelaskan. Bisa juga saya beri contoh.

Untuk bisa berguling, bukan badan yang langsung digerakkan, melainkan kaki. Posisi kaki menyilang terlebih dahulu. Selanjutnya tinggal diputar secara perlahan dimulai dari kaki, pantat, dan yang terakhir badan.

Bayi akan semakin mudah berguling kalau dia sudah bisa memiringkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan. Nah, saat umur 3 bulan, Ghazy sudah bisa nih. Tinggal dijatuhkan lagi saja. 

Kalau kita yang berguling ya mudah sekali. Tapi ternyata tidak untuk bayi. Dia perlu berlatih mendorong tubuhnya agar bisa sampai ke posisi ini. Ghazy sering sekali nyantol di tengah-tengah. Bagian bawah sudah berbalik, tapi badannya belum. Ini yang bikin gemas.

Makin gemas lagi kalau dia mulai berhenti di tengah jalan. Lalu, telentang lagi. Ini gemes banget sih. Alhamdulillah, saat usia 4 bulan tepat, akhirnya Ghazy bisa membalikkan badan sendiri. Meskipun, belum terlalu lancar.

Selain membantu Ghazy berguling, saya juga sering memberi kesempatan agar Ghazy memegang mainannya sendiri. Melihat bagaimana kekuatan genggamannya. Jujur, karena PR ini, saya dan suami akhirnya membelikan Ghazy mainan.

Pertama kali memegang mainan, ya terus menerus jatuh. Dia belum bisa mengendalikan tangannya. Alhasil, mainan yang dia angkat sering juga menjatuhi kepalanya. Tapi ini tidak berlangsung lama kok. Lama kelamaan Ghazy bisa juga memegang mainannya dan mulai memasukkan ke mulutnya.

Oya, di umur segini, bayi akan mulai memasukkan apa saja ke mulutnya. It's okay. Nggak masalah. Justru dengan begini kita bisa melihat refleks muntah yang dia miliki. Jadi, kalau bayi-bayi memasukkan benda ke mulut, jangan dilarang ya. Cukup pastikan benda-benda yang masuk ke mulutnya itu bersih dan aman.

Waktu bangun Ghazy di siang hari semakin banyak seiring bertambahnya usia. Ini juga menjadi tantangan bagi saya untuk memikirkan aktivitas main apa yang sekiranya seru dimainkan bersama. Mengingat, belum banyak yang bisa dilakukan Ghazy.

Salah satu permainan favorit Ghazy adalah bermain dengan selimut. Senang sekali dia kalau saya mulai mengangkat selimut. Ghazy akan tertawa kencang sekali. Selain tertawa, biasanya Ghazy juga akan bergumam tanpa arti. 

Selain main-main dengan selimut, saya juga mulai berani menerbangkan Ghazy. Saya biasanya menggunakan tangan dan kaki sebagai tumpuan. Wah, Ghazy senang sekali kalau diangkat tinggi-tinggi begini.

Stimulasi dan Perkembangan Baby Ghazy 4-5 Bulan

Stimulasi bayi 4-5 bulan

Sejujurnya, tidak banyak stimulasi yang saya lakukan saat Ghazy berusia 4-5 bulan. Saya dan suami hanya sering menaruhnya di playmat alih-alih kasur. Mainan juga disebar di sekeliling Ghazy. Sudah, itu saja yang kami lakukan.

Meski hanya itu, ternyata ini banyak mendorong Ghazy untuk bisa mulai bergerak maju. Awalnya ya hanya berputar di tempat saja. Lalu, mundur sedikit. Selebihnya, dia banyak maju. Bahkan, tidak butuh waktu lama sampai akhirnya Ghazy bisa melata ke sana kemari.

Setelah melata, kami betul-betul tidak bisa meleng sedikit. Ghazy harus diamati betul-betul supaya tidak meraih benda-benda yang membahayakan dia. Selain itu juga agar Ghazy tidak jatuh dari tempat tinggi.

Oya, Ghazy pernah jatuh dari kasur yang tingginya 70 cm. Wah, saya kaget sekali waktu itu. Sambil menggendong Ghazy saya coba tenangkan diri saya. Bagaimana pun juga saya harus tenang agar tahu harus apa.

Waktu itu Ghazy shock sekali. Wajahnya pucat. Badannya lemas setelah jatuh. Saya coba tenangkan dia dengan menggendong dan menyusui. Tidak berselang lama, Ghazy terlelap.

Tapi justru ini yang membuat saya semakin khawatir. Saya takut Ghazy pingsan. Ya gimana nggak khawatir kalau jatuhnya setinggi itu. 70 cm lho. Posisi kepala duluan.

Berulang kali saya minta suami untuk membawanya ke UGD untuk diperiksa. Tapi suami saya menolak. Saya diminta untuk tetap tenang dan mengamati setiap perubahan dari Ghazy. Alhamdulillah, dia nggak kenapa-kenapa. 

Setelah kejadian itu, kami langsung pesan bedrail dan menurunkan kasur. Kami tidur di bawah sampai bedrailnya datang. Kebetulan kasur yang kami miliki cukup tinggi. Jadi, meski sudah ditaruh di bawah, ya tetap saja bahaya. Di sekeliling kasur, kami masih tambahkan bantal dan matras lagi sebagai pengaman.

Oya, ada yang menyarankan saya untuk tidak memasang bedrail karena khawatir bayi akan jatuh lebih tinggi lagi. Ini sebetulnya sudah kami waspadai. Jadi, kami beli bedrail yang paling tinggi, yaitu 90 cm. Begitu datang dan dipasang, bukan hanya Ghazy yang merasa terpenjara, saya pun merasakannya. Tapi demi keamanan, saya tetap pasang.

Selain bisa melata ke mana-mana, Ghazy mulai merespon saat mendengar suara dan dipanggil namanya. Dia sudah tahu kalau namanya itu Ghazy. Dia juga mulai tertarik melihat makanan. Kalau saya atau suami nyemil di depannya, dia seperti mau minta.

Jujur, karena reaksi Ghazy ini yang membuat saya semakin ingin memulai MPASI. Merasa Ghazy sudah semangat makan. Kalau kata dr. Tiwi, ketika anak sudah "minta makan" ya dikasih saja sedikit. Jadi, saya potekin sedikit makanan untuk diberikan ke Ghazy. Tidak banyak ya. Judulnya hanya cicip saja.

Stimulasi dan Perkembangan Baby Ghazy 5-6 Bulan

Stimulasi bayi 5-6 bulan

Boleh dibilang ini gongnya. Targetnya, Ghazy sudah bisa duduk saat umur 6 bulan. Entah itu dibantu atau duduk sendiri.

Meski Ghazy sudah tertarik melihat makanan saat umur 4 bulan, saya tidak langsung memberinya makan. Kenapa? Karena Ghazy belum bisa duduk. 

Saya baru menstimulasi Ghazy untuk bisa duduk sendiri setelah dia umur 5 bulan. Ini ketika Ghazy sudah bisa melata. Kalau menurut dr. Luh, dokter spesialis rehab medik anak, stimulasi duduk dan merangkak itu berjalan beriringan. Kalau anak bisa duduk, nantinya dia juga akan bisa merangkak.

Ada beberapa hal yang biasa saya lakukan agar Ghazy bisa lekas duduk. Pertama, memegang kedua tangan dan menariknya. Cara ini untuk menguji kekuatan leher. Apakah lehernya jatuh ketika saya angkat seperti itu ataukah tidak.

Cara kedua, saya apit dia menggunakan kedua kaki saya dalam posisi tengkurap. Cara ini untuk menguji serta melatih kekuatan otot pinggangnya. Anak akan punya kecenderungan untuk mengangkat badannya.

Ketika, mendudukkan Ghazy tanpa sandaran. Dengan cara ini, Ghazy belajar untuk menopang tubuhnya saat dia duduk. Awalnya, kami hanya memegang bagian pinggulnya saja. Lama kelamaan, Ghazy belajar untuk menopang tubuhnya dengan tangan saat sedang duduk.

Meski sudah bisa duduk dengan bantuan, Ghazy belum bisa merangkak. Dia masih melata ke sana ke mari. Sesekali dia onggong-onggong. Ghazy juga sudah bisa berguling sendiri meskipun masih kesulitan untuk balik sendiri. 

Selain melatih duduk, saya juga sering merangsang kepekaan indera perabanya melalui aneka jenis kain dan mainan bola bertekstur. Kain yang digunakan bukan kain khusus kok. Saya ajak Ghazy menyentuh beragam jenis kain saat saya sedang beberes baju yang baru saja dicuci. Jadi, belajarnya lebih real.

Kemampuan motorik halus Ghazy juga amat berkembang. Di range usia 5-6 bulan ini, cara dia memegang mainan sudah semakin kokoh. Mainan-mainan yang dulunya sulit dia pegang sudah bisa dipegang.

Oya, Ghazy juga suka mencoba untuk berdiri saat kami akan dudukkan dia. Bahkan seperti akan melangkah berjalan. Ini wajar ya. Sebetulnya otaknya sudah punya perintah ke kaki untuk berjalan. Sayangnya, dia masih tidak tahu bagaimana caranya. Jadi, kalaupun mau berjalan ya pasti berjinjit.

Apakah ke depannya dia akan berjinjit saat jalan? Belum tentu. Ini tergantung stimulasi yang kita berikan pada tahap selanjutnya.

Penutup

Itu tadi sekelumit kisah dari pengalaman saya saat memberikan stimulus perkembangan Ghazy. Tidak semua tahap perkembangan bisa lancar seperti melaju di jalan tol. Ada beberapa yang butuh effort juga. 

Well, buibu tidak perlu membandingkan perkembangan anak ibu dengan Ghazy. Setiap anak itu berbeda ya. Dari pada insecure sendiri, sebaiknya download aplikasi Primaku. Aplikasi ini direkomendasikan oleh IDAI untuk membantu orangtua memantau tumbuh kembang anak.

Kalau kalian punya cerita menarik saat menstimulasi bayi, yuk bagikan di kolom komentar.

  • Share:

You Might Also Like

21 komentar

  1. Meski saya belum menikah, ini sangat menarik utk saya pelajari..
    Setiap anak mempunyai ciri khas nya masing2 & waktu tumbuh kembang yg berbeda yaa mbk.. :)

    ReplyDelete
  2. Sepakat banget sih kalau tumbuh kembang anak nggak bisa dibanding2 dan dipukul rata. Soalnya ibu2 komplek ku masih suka begitu mbak, banding2in "anak saya udah bisa blablabla lho, kok anak dia blm bisa ya pdhl seumuran" Ih aku yg blm punya anaknya aja ikutan gemes. Kwkwk
    Baru tahu kl bayi2 di luar negeri udah mulai mamam usia 4 bulan.. Hihi

    ReplyDelete
  3. Senang banget ya mbak bisa mendokumentasikan sekaligus memberi ilmu tentang dunia MPASI dan perkembangan balita.

    ReplyDelete
  4. artikelnya sangat detail dan sangat bermanfaat banget mba buat aku, meski aku belum punya baby, tapi ini sangat bermanfaat buat bekal saya nanti kalau udah punya baby, bahwa segala sesuatu yang terkait dengan MPASI sangat penting banget

    ReplyDelete
  5. Blognya makin cakep, header dan infografisnya lucu, Mbak. Kusuka deh. Aku melewatkan saat dulu Dzaky masih kecil, dulu enggak paham juga ilmu parenting, anak pertama emang jadi percobaan, duh. Btw samaan kayanya kalau sama ortu suka ada aja beda pola pengasuhan. Memang kudu siap segala-galanya saat menjadi ibu. Bahagianya bisa mendokumentasikan perkembangan anak. Dede Ghazy cakep sehat terus, ya

    ReplyDelete
  6. Setuju Mbak. Anak memang butuh ruang gerak supaya bisa semakin berkembang. Istilah orang tua kalau anak sering di gendong jadinya bau tangan, jadi dikit-dikit maunya digendong. Padahal kalau kita berikan kebebasan anak jadi lebih bebas bergerak dan bisa berkembang lebih baik.

    ReplyDelete
  7. Pasti kaget banget pas anak jatuh. Saya pun sama, Mbak. Apalagi kalau urusan kepala...hiks. Malah emaknya yang mau pingsan duluan kalau lihat kejadian begini. Alhamdulillah baik-baik saja, ya.
    BTW, semua anak itu unik. Memang tak boleh membandingkan satu anak dengan yang lain. Bahkan meski dengan saudara kandungnya sendiri.

    ReplyDelete
  8. Betul banget Mbak, setiap anak punya irama sendiri-sendiri ya? Kalau soal jatuh haduh...pernah juga anak saya yang pertama. Semoga ananda Ghazy sehat selalu yaa? Amiin.

    ReplyDelete
  9. Emesh sekali dedek. Alhamdulillah bisa membagikan cerita sekaligus mengabadikan momen tumbang anak ya, Mba. Sehat2 terus..

    ReplyDelete
  10. Setiap anak punya perkembangan sendiri ya. Jangankan beda ayah ibu, saudara kandung saja masa tumbuh kembang anak nya bisa berbeda.

    Yang bisa saya ambil dari pengalaman Mbak adalah semangat dan kasih sayang dari seorang ibu yg tidak ada lelahnya demi kebaikan buah hati.

    Sehat selalu ya Ghazy buah hati Bunda...

    ReplyDelete
  11. Betul sekalu. Bayi harus diberi ruang untuk bergerak, mencoba dan bereksplorasi sesuai kemampuan dan di bawah pengawasan kita. Kalau selalu digendong, dia bisa jadi malas bergerak. Hilang satu stimulasi penting di usianya itu.

    ReplyDelete
  12. Pertumbuhan tiap anak memang berbeda dan unik jadi enggak bisa dibanding-bandingkan. Saya setuju sekali. Kita yang udah gedhe aja gerah kalau dibandingin. Jangan sampai kita ngikutin pola yang sama. Saya deg-degan pas baca bagian Ghazy jatuh dari tempat tidurnya. Untung Ghazy baik-baik ya. Dan memang sebaiknya kalau udah nikah tinggalnya jangan sama mertua dan ortu. Supaya bisa mandiri juga dalam mendidik anak. Semoga Ghazy tumbuh jadi anak yang sehat dan kuat ya, Mbak 😊

    ReplyDelete
  13. MaasyaaAllah senengny lihat perkembangan buah hati yg makin pinter
    Smoga sehat terus y nak
    Saya setuju mba
    Kepercayaan diri seorang anak terasah ketika ortuny memberi ruang untuk berkembang

    ReplyDelete
  14. Setuju mbak..
    Saat memberikan stimulasi anak, pastikan kita sudah tahu tahap pekerbangan usia anak ya mbak..
    Di stimulasi sesuai usianya

    ReplyDelete
  15. Dulu anakku ada sedikit masalah di oromotornya. Dia semacam risih dg tekstur lembek. Emaknya pas belum ngeh. Tapi kebantu bgt ketika bisa bersikap tetap tenang dan fokus pada solusi. Skrg udah abg, eh malah doyan bgt yg lembek-lembek gitu. Wkwkwk

    ReplyDelete
  16. Memang menyaksikan perkembangan anak sendiri itu suka bikin takjub. Sebagai ibu kita punya goal sendiri dan kadang orang lain ngga paham ya mba. Semoga perkembangan Ghazy lancar

    ReplyDelete
  17. Ternyata stimulasi dan perkembangan bayi dari bulan ke bulan bisa sedetail itu ya mbak. Buatku ini jadi ilmu yang penting banget nih kalo suatu saat aku menikah dan punya anak

    ReplyDelete
  18. Menyenangkan sekali memang mengamati proses perkembangan anak dan menikmatinya. Yes, setuju nih bahwa indikator keberhasilan perkembangan anak ya anak kita sendiri.
    Bagusnya merujuk pada ilmu perkembangan anak secara umum, namun tidak dengan membandingkan prosesnya dengan anak lain.
    Sehat cerdas selalu ya, Dek Ghazy :)

    ReplyDelete
  19. Wah sama bun, anak saya juga paling suka kalau mainan selimut. Hehe sehat selalu baby ghazy

    ReplyDelete
  20. Benar bahwa tidak perlu membandingkan anak kita dengan anak orang lain. Bahkan dengan saudaranya sendiri pu. Sebaiknya tidak. Karena mereka istimewa dengan sega kelebihan dan kekurangan masing-masing

    ReplyDelete
  21. Mengamati perkembangan anak memang sebaiknya berdasarkan milestones panduan dari sumber yang tepat. Well done, Mbak Lelly. Semoga Ghazy selalu sehat dan tumbuh makin pintar berkat stimulasi dari ibunya yang keren ini.

    ReplyDelete