A-Z Tentang Ta’aruf yang Harus Kamu Tahu Sebelum Melakukannya

by - Friday, February 22, 2019

ta'aruf


Minggu lalu, saya sempat bahas tentang pendapatnya Tsamara Amany, tentang menikah dengan cara pacaran di Instagram story. Saya jelaskan tentang kenapa sih banyak orang yang berpikiran bahwa pacarana adalah satu-satunya jalan untuk menikah. Padahal faktanya tidak demikian. Ada banyak jalan sih untuk menuju pernikahan. Ada yang pakai pacarana dulu. Ada yang main “enak-enakan” sama temen, hamil, terus akhirnya nikah (naudzubillah min dzalik). Ada juga yang pakai cara lain, yaitu ta’aruf. Banyak DM yang kemudian masuk tentang curhatan mereka dalam proses untuk menghindari pacaran ini. Ada yang bahkan sudah dikhitbah. Tapi selama proses khitbah hingga saat ini, dia belum kenal sama sekali dengan calon pasangannya. Sebelumnya pernah kenal? Nggak juga.

Apa iya proses ta’aruf itu begitu? Apa iya, dengan proses ta’aruf kita tidak seperti beli kucing dalam karung? Apa iya, dengan proses ta’aruf kita bisa mengenal lebih dalam calon pasangan kita? Yuk, kita bahas satu per satu.

Apa itu Ta’aruf?

ta'aruf


Ta’aruf ini merupakan istilah dengan Bahasa Arab yang kalau diterjemahkan, artinya itu kenalan. Iya, ta’aruf ini adalah media yang digunakan oleh pasangan yang sudah siap menikah untuk saling mengenal calon pasangan. Pengertiannya memang sesederhana ini. Beberapa orang sudah tahu ya. Permasalahannya adalah aplikasi di lapangan yang sering kali agak blibet gitu. Horornya lagi, karena nggak paham hal-hal lain dalam ta’aruf, dia jatuh pada interaksi yang dilarang oleh Allah. 

Batasan dalam Ta’aruf

ta'aruf


Dalam Islam, kehidupan antara laki-laki dan perempuan itu terpisah, kecuali ada mahram yang mendampingi. Tapi kalau begini susah juga ya. Masa mau beli baso aja nunggu ada mahram dulu. Keburu abang basonya ngilang ya.

Memang, by default interaksinya terpisah. Tapi ada 3 kondisi, di mana laki-laki dan perempuan diperbolehkan untuk berinteraksi. Pendidikan, muamalah, dan kesehatan. Jadi, boleh kalau kita di sekolah terus isinya laki-laki dan perempuan bercampur. Boleh juga kalau kita mau berobat dokternya laki-laki. Boleh juga kita beli bubur ayam ke Mamang Bubur yang suka lewat di depan rumah. Walaupun tanpa didampingi mahram.

Ta’aruf ini tidak termasuk di dalam 3 kondisi ini kan. Jadi, ketika kita melakukan ta’aruf ya jangan dilanggar batasan ini. Bilangnya ta’aruf, terus jalan-jalan berdua bareng. Bilangnya ta’aruf tapi boncengan ke masjid berdua. Ta’aruf ini bukan legalitas atas pacarana Islami ya. Ingat, di dalam Islam nggak ada istilah pacaran. Aktivitas yang biasa dilakukan oleh orang yang pacarana juga jelas dilarang oleh syara’. 

Cara Syar’i Ta’aruf

ta'aruf


Kalau bercampur baur nggak boleh, terus gimana bisa kenal? Tenang, ada banyak secara cara yang bisa dilakukan dalam proses ini. Ikhwan datang langsung ke rumah akhwat untuk melamar. Ini bisa. Setelah itu si Ikhwan tadi kepo-kepo ke keluarga akhwat tentang gimana sih si akhwat ini, sampai dia yakin bener dan nggak ada keraguan untuk menikahinya.

Cara lain bisa dilakukan dengan tukar CV ta’aruf. Tukerannya jelas harus didampingi oleh mahram ya. Nggak bisa langsung srepet gitu.

“Bang, mau nggal tukeran CV ta’aruf sama Neng.”

Eeeeaaa… nggak gini ya. Lakukan dengan cara yang elegan, yaitu dengan menggunakan perantara untuk saling berkenalan. CV ta’aruf ini mulai banyak sekali dilakukan karena ya ini cara yang paling aman untuk menghindari tengsin kalau ditolak.

Kebayang kan, udah datang dengan gagah berani nih si Ikhwan ke wali akhwat. Terus sama akhwat dan keluarganya ditolak karena dia merasa masih asing atau ada beberapa hal yang nggak cocok di antara mereka. Kan tengsin. 

Luruskan Niat

ta'aruf


Saya jadi ingat pertanyaan yang diajukan oleh teman S2 saya dulu. Dia non-muslim. Dia tanya ke saya, apakah tujuan seorang muslim menikah dengan yang lain itu hanya untuk menghalalkan hubungan saja? Katanya, sih, tujuan semacam ini kok terlalu cetek untuk urusan menikah.

Dulu, sebelum saya paham tujuan hidup yang hakiki, saya pun berpikiran demikian. Menikah itu hanya untuk menghalalkan hubungan antara laki-laki dan perempuan. Padahal sebetulnya lebih dari itu. Menikah itu adalah ibadah. Niatnya jelas harus dilakukan hanya untuk mencari ridho Allah, bukan yang lain. Caranya pun harus dilakukan sesuai dengan syariat.

Dari situ saya mulai merenung kembali, saya mau nikah itu buat apa sih? Beneran sudah lillah? Jangan-jangan hanya karena saya sudah semakin sering dikirimi undangan pernikahan oleh teman-teman sebaya saya. Jangan-jangan karena saya sudah lelah ditanya kapan menikah oleh keluarga saya.

Buat kamu yang mau menikah, yuk coba renungkan kembali. Tujuan kamu nikah itu untuk apa sih? Misal belum karena Allah. Cobalah untuk luruskan kembali niatmu. 


Ta’aruf Dulu, Khitbah Kemudian


Ini adalah cara yang biasa dilakukan oleh Ikhwan dan akhwat yang sama-sama asing. Jadi, sebelum mengajukan khitbah, kenalan dulu gaes. Doi ini siapa, latar belakang dia dan keluarganya bagaimana, pekerjaannya apa, dll. Kalau udah cocok, klik, bisa untuk lanjut ke proses khitbah. 

Khitbah Dulu, Ta’aruf Kemudian


Kalau ini, cara yang biasa digunakan oleh orang yang sebelumnya sudah saling kenal. Misal, Ikhwan dan akhwat ini dulunya temen sekampus. Udah tahu gimana akhlaqnya, dan lain sebagainya, hingga akhirnya mantap untuk memutuskan ke tahap selanjutnya, yaitu khitbah.

Setelah khitbah, apa boleh untuk mencari tahu lebih dalam tentang kondisi calon pasangan? Boleh banget. Proses khitbah itu bukan akhir dari segalanya ya. Jadi, setelah khitbah terus auto yakin sama calon pasangan. Ya nggak gitu juga.

Ta’aruf setelah khitbah ini fungsinya untuk menyegerakan proses pernikahan. Jadi, misal ada hal-hal tentang gambaran pernikahan yang belum diketahui dari calon pasangan, boleh nih didetali satu per satu. Bahasa lainnya, dikuliti pemahamannya tentang kehidupan berumah tangga.

Proses persiapan pernikahan yang sifatnya teknis sekali juga boleh kok dibahas. Misal, mau nikah di gedung atau di rumah, jumlah undangan berapa, dan seterusnya. Ini boleh ditanyakan. Tapi tetep ya. Walaupun sudah khitbah, dilarang pergi berdua-duaan. 

No Baper Baper Club

ta'aruf


Kalau kamu mulai untuk ta’aruf. Ada baiknya untuk tidak menggunakan perasaan dulu, sebelum sah jadi suami istri. Kenapa? Ini penting ya. Supaya kita tetap bisa objektif dalam menilai calon pasangan kita. Kalau kita sudah menggunakan perasaan dalam proses ini. Repot. Hal-hal buruk yang sebetulnya sudah Allah tunjukkan ke kita jadi nampak baik-baik saja. Kita mudah untuk mentolerir hal yang sebetulnya sulit kita terima. Ya karena sudah ada perasaan sebelumnya.

Jadi, penting sekali untuk diingat. Bahkan ketika sudah khitbah sekali pun. Kendalikan perasaan kita padanya. 

Persiapan Sebelum Ta’aruf

ta'aruf


Apa saja sih yang harus kita siapkan sebelum ta’aruf? Ilmu. Ini sudah pasti. Tanpa ilmu, ya sulit kita menilai calon pasangan. Jangankan menilai, membuat gambaran umum pernikahan yang bisa sakinnah mawaddah wa rahmah aja ngeblank. Terus nanti ta’aruf gimana mau memastikannya? Ya kan? Jadi, pastikan kita tidak hanya siap mental untuk menikah. Tapi juga siap ilmunya. Sehingga ketika datang laki-laki atau perempuan dalam kehidupan kita, ada standar syar’i yang sudah kita miliki untuk menerima dia atau menolaknya.

Selain ilmu, restu dari orang tua juga harus sudah dikantongi ya. Jangan memulai ta’aruf kalau SIM (Surat Izin Menikah) aja belum punya. Ini bisa repot di tengah jalan. Udah oke. Cocok. Eh, orang tua belum kasih restu. 

Topik yang Dibahas Saat Ta’aruf

ta'aruf


“Kalau nggak pacaran, kayak beli kucing dalam karung dong?”

Iya, kalau kita juga nggak paham ta’aruf ini gimana. Step by step menuju jenjang pernikahan seperti apa. Kirim CV, liat foto, kayaknya oke nih. Terus besoknya nikah. Nggak ditanya dulu lebih dalam tentang gambaran kehidupan rumah tangga yang mau dibangun ini gimana. Setelah nikah, baru deh tahu zonknya. Naudzubillah ya.

That’s why. Coba cari tahu sedetail-detailnya calon pasangan. Kalau perlu sewa detektif buat kepoin dia secara maksimal. Hehehe… jadi kebayang Kogoro Mouri yang suka jadi mata-mata suami orang yang selingkuh ya.

Misal nggak nemu detektif atau orang yang bisa dipakai buat kepoin calon secara maksimal, gunakan perantara untuk berdiskusi dengannya. Diskusi ini tujuannya ya cari tahu dong. Isi kepalanya soal apa yang dibawa saat nikah itu apa sih. Gitu.

Gimana? Udah kegambar? Kalau masih juga ngeblank, saya kasih beberapa topik yang bisa dibahas. Nggak detail sih. Next post aja kalau mau bahas detail beberapa di antaranya.

1. Personal information

2. Visi misi pernikahan yang ingin dibangun

3. Latar belakang keluarga

4. Pekerjaan dan penghasilan

5. Rencana ke depan (investasi, beli rumah, rencana kuliah lagi, dll)

6. Pendidikan dan pengasuhan anak

7. Pemahaman hak dan kewajiban suami istri

8. Dakwah

9. Bagaimana menempatkan diri di tengah masyarakat setelah menikah

10. Poligami

10 pertanyaan ini adalah topik yang dulu saya bahas dengan suami. Sehari satu topik. Dibahas secara dalam dan fokus ke topik itu aja. Topik-topik tertentu yang dibahas agak lama, lebih dari sehari. Ada juga yang jadi PR untuk menghindari debat kusir. Kami sama-sama belajar dulu gaes. Cari referensi yang jelas. Bahkan, saya dulu sampai melakukan wawancara ke pihak tertentu untuk tahu secara detail aktivitas yang dilakukan pada masalah yang kami perdebatkan.

Kami sama sekali nggak kepikiran, “dia udah makan belum ya?” atau “sudah tidur belum ya?” Ini betul-betul diskusi secara dalam. 

Beri Batasan Waktu

ta'aruf


Ta’aruf ini kan tujuannya untuk saling kenal. Tapi perlu diingat bahwa setan itu nggak suka sama orang yang mau nikah. Kalau belum menikah, dia akan goda dari segala sisi agar prosesnya tidak syar’i. Awalnya diskusi soal nikah, lama-lama jadi nanyain kabar, sudah sholat belum, sudah makan belum, dan segala modus-modus yang lain. Hmmmm…

Belum lagi soal perasaan yang kadang muncul tiba-tiba, padahal di khitbah aja belum. Kebayang nggak sih gimana mellow-nya kacau gagal. Hmmmm…

Untuk menghindari semua itu, berikan ketegasan waktu. Kalian mau ta’aruf berapa lama? Kalau saya dulu sama suami kasih batas waktu 3 bulan. Kalau dalam kurun waktu tersebut kami tidak mencapai kata sepakat untuk menikah. Entah itu nggak klik atau yang lain. Ta’aruf batal. Kami jalan sendiri-sendiri. Eh, ternyata kurang dari 3 bulan udah klik. 

Kalau kamu, ya nggak harus ikutin saya juga sih. Just for your information, segerakan menikah. Jangan dilama-lamain. Godaannya berat gengs. Lebih berat dari rindunya Dilan ke Milea. Serius. Jaga diri di proses ini tuh beraaaaat sekali. Masya Allah, buat stay waras, stay inget batasan syara' itu susah banget. Apalagi kalau udah klik. Bisa jadi gejolak-gejolak asmara itu muncul. Waaah... tantangannya nambah lagi tuh. Gimana cara memanajemen gharizah nau' sedangkan pemicunya nongol terus. Berat!

Ikhlas Untuk Melepaskan

ta'aruf


Kalau memang tidak cocok. Ada banyak hal yang nggak sreg dengan calon. Boleh kok dibatalkan. Beberapa mungkin akan mengalami guncangan batin ketika gagal ta’aruf. It’s okay, Dear. Lebih baik gagal ta’aruf dari pada gagal setelah menikah. Allah tahu mana yang paling baik untuk kamu. Jadi, ikhlaskan saja ketika memang tidak bisa bersatu dalam ikatan pernikahan. 

Allah Dulu, Allah Lagi, Allah Terus

ta'aruf


Maksudnya apa sih? Libatkan Allah dalam setiap aktivitas ini. Mohon perlindungan dari godaan syetan dan gejolak nafsu yang tidak tepat. Tanya juga ke Allah, apakah dia adalah orang yang terbaik untuk kita. Dan jangan lupa, selalu ingat bahwa Allah mengawasi kita. Jadi, jangan aneh-aneh deh. Jangan langar syariat. Jaga dirimu sebelum akad. Insya Allah kamu akan lebih mulia dengannya.



Yak, itu tadi A-Z tentang ta’aruf. Nggak 26 juga sih. Tapi banyaklah ya. Semoga informasi ini bisa kamu pakai untuk mempersiapkan diri menuju jenjang pernikahan. Siapkan mental, siapkan ilmu, dan lakukan dalam koridor sesuai syariat Islam.


with love,


You May Also Like

7 komentar

  1. Sampai saat ini, saya udah punya 4 teman yang nikah secara taaruf syari.. Lewat biro jodoh hihihi..

    Tapi saya kadang kesel sama orang yang ga percaya dengan model taaruf, padahal taaruf adalah syariat.. Mereka seakan-akan mengejek model taarufan ini tidak adil nanti pas menikah blablablabla gitu.. huhu..

    Detail mbak, penjelasannya.. Terima kasih infonyaa!

    ReplyDelete
    Replies
    1. belum tentu juga. sama seperti yang pacaran juga belum tentu sama-sama kenal. setidaknya orang yang menjaga dan berusaha untuk taat insya Allah akan dipertemukan dengan yang begitu juga.

      sama-sama

      Delete
  2. Makasih ilmunya mba, buat nanti kalau siap ta'aruf

    ReplyDelete
  3. Ternyata banyak juga yang "diperbincangkan" saat taaruf ya mbak. Masyarakat banyak yang salah kaprah selama ini, mengira taaruf sama dengan beli kucing dalam karung. Padahal gak gitu juga konsepnya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, tapi itu tergantung masing-masing individu sih mbak. kalah opsinya ya itu, kalau saya pribadi yang menjalankan proses itu, semuanya saya tanyakan.

      Delete
  4. numpang share ya min ^^
    bosan tidak tahu mesti mengerjakan apa ^^
    daripada begong saja, ayo segera bergabung dengan kami di
    F*A*N*S*P*O*K*E*R cara bermainnya gampang kok hanya dengan minimal deposit 10.000
    ayo tunggu apa lagi buruan daftar di agen kami ^^

    ReplyDelete