7 Tips Jitu Berdamai dengan Tumpukan Cucian

by - Wednesday, February 27, 2019



Sebelum menikah, saya termasuk orang yang jarang sekali berurusan dengan cucian. Kalau di rumah, ada adik saya yang biasa mencuci dan mensetrika baju orang rumah. Dulu, waktu masih di kos juga dicuci oleh orang lain. Saya biasa melaundry-kan baju-baju saya. Atau pilih tempat kost yang menyediakan jasa mencuci sekaligus. Saya lebih rela merogoh kocek lebih dalam dibanding harus berkutat dengan cucian.

Setelah menikah semuanya berubah. Mau laundry baju pikir-pikir seribu kali. Kalau dulu saya hanya menghabiskan uang 30 ribu rupiah saja untuk laundry, sekarang bisa 100 ribu lebih untuk pakaian seminggu 2 orang. Ini masih 2 orang, belum nambah lagi. Berapa duit yang keluar?



Baju yang dilaundry juga kita sama-sama tahu lah ya. Biasanya beberapa baju masih harus saya setrika lagi. Itu belum resiko baju hilang dan kelunturan. Sudahlah ongkosnya mahal. Resikonya lumayan pula.

“Udah, cuci baju sendiri aja,” begitu yang suami saya bilang.

Baiklah, kalau paduka berkata demikian. Apa yang bisa saya lakukan?

Suami saya adalah orang yang mudah berkeringat dan suka risih pakai baju yang sudah kena keringat. Jadi, kalau sudah merasa tidak nyaman, dia akan ganti baju. Sehari bisa 2-3 kali. Baju-baju saya juga tidak kalah banyak. Kalau keluar rumah, saya biasa menggunakan gamis sebagai luaran dan pakaian rumah sebagai dalaman. Tujuannya supaya tidak njiplak badan kalau terkena angin. Dari sini saja, sudah nampak alasan kenapa kalau laundry bisa mengeluarkan uang lebih dari 100 ribu rupiah.

Saya dan suami biasa mencuci 2-3 kali dengan mesin cuci kami yang berkapasitas 7 kg. Itu untuk cucian seminggu. Hal yang mengerikan itu sebetulnya bukan di proses mencucinya. Kalau mencuci saja sih mudah. Ada mesin cuci yang tinggal pencet terus mencuci sendiri dan mengeringkan baju sendiri. Tapi proses sesudahnya itu yang melelahkan. Setrika.



Ini momok untuk beberapa ibu-ibu di luar sana. Kalau sudah melihat tumpukan cucian itu pasti sulit untuk membayangkan bagaimana mensetrika semua itu. terbayang sudah panasnya, lelahnya, belum lagi kalau pakaian kusut lagi setelah masuk ke lemari. Hhhh… membayangkan proses itu saja sudah bikin maju mundur cantik.

Etapi, saya punya cara untuk berdamai dengan tumpukan cucian itu. Meminimalir rasa lelah, tapi baju masih bisa tetap rapi.

1. Kebaskan pakaian sebelum menjemur



Pakaian yang keluar dari mesin cuci biasanya akan kusut karena proses mencuci. Apalagi setelah dikeringkan, pasti jadi semakin kusut. Meskipun demikian, secanggih apapun mesin cuci yang kita miliki di rumah, tidak akan membuat baju langsung kering seperti setelah dijemur dengan panas matahari.

Ini keuntungan yang bisa kita gunakan. Mengebaskan pakaian yang belum sepenuhnya kering ini, bisa membantu pakaian jadi tidak terlalu kusut. Proses selanjutnya, seperti mensetrika dan melipat juga jadi lebih mudah.

2. Pakaian yang sudah kering, jangan diuwel-uwel



Setelah kering, kita harus tetap memastikan pakaian tidak kusut kembali. Caranya bagaimana? Ya jangan diuwel-uwel (ini Bahasa Indonesianya apa ya?). Kalau saya, untuk pakaian yang dijemur tanpa hanger, biasanya langsung saya lipat sederhana ketika mengambil dari jemuran. Untuk pakaian yang saya jemur dengan hanger, saya angkat bersama dengan hanger. Saya baru akan melepas hanger ketika saya sudah siap untuk mensetrika atau melipatnya dengan lebih rapi.

3. Pisahkan cucian sesuai kategori



Sebelum mensetrika, biasanya saya akan memisahkan pakaian kerja, pakaian rumah, pakaian dalam, dan kain-kain seperti handuk, kerudung, seprei, dan lain-lain. Proses ini akan membantu saya untuk memudahkan proses merapikan pakaian setelah ini.

4. Lipat rapi selain pakaian kerja



Pakaian yang sudah dipisahkan, tentu akan lebih mudah untuk memulai mana dulu yang harus dilipat. Saya biasanya memilih jenis yang paling mudah dilipat terlebih dahulu. Misal, handuk, seprei, selimut, dan semacamnya. Setelah itu, saya baru melipat baju-baju rumah. Saya mulai dengan kaos santai atau daster dulu, celana-celana pendek dan panjang kemudian. Kalau baju rumah selesai, barulah saya melipat kerudung-kerudung saya. Hasil akhir dari kerudung ini biasanya saya lipat agar mudah untuk digulung.

Oya, jangan lupa sebelum melipat, haluskan dulu permukaan kain dengan tangan kita. Cara seperti ini akan membuat kain tidak terlalu kusut saat nanti akan dipakai.

5. Setrika baju kerja



Ini adalah baju yang wajib di setrika. Saya nggak mau suami saya terlihat kucel karena bajunya yang kusut. Orang lain yang melihat juga akan memandang gimana gitu kalau baju kerjanya kusut. Jadi, hanya baju-baju kerja saja sih yang saya setrika. Kalau lagi super malas, minimal baju kerja untuk seminggu sudah siap pakai. Hehehe…

Selain baju kerja, pakaian yang biasa saya setrika adalah pakaian yang biasa kami gunakan untuk kondangan. Ini supaya kalau mau kondangan tinggal pakai saja dan nggak rempong setrika-setrika dulu.

6. Setrika kerudung ketika akan digunakan saja



Saya jarang menyeterika kerudung meski saya tahu kalau dilipat saja tidak akan membuat kerudung jadi mendadak rapi. Biasanya, saya akan menyetrika sebelum saya menggunakan kerudung itu. Ini tentu tergantung dari jenis kerudung apa yang digunakan. Kerudung dengan bahan spandek dan kaos ini yang paling saya suka. Alasannya sederhana, tidak perlu disetrika saja sudah rapi.

7. Tata lemari dengan baik



Bagian terakhir ini adalah bagian yang paling penting. Usaha kita di atas akan sia-sia kalau kita tidak menata lemari dengan baik. Oleh karena itu, pastikan semua pakaian ditata rapi di dalam lemari. Untuk pakaian kerja, jaket, dan gamis, saya biasa menggantungnya. Cara ini selain menjaga agar kain tidak kusut lagi, juga kami lakukan untuk menghemat lemari. Sisanya bisa ditata seperti biasa. Ditumpuk atau ditata ala orang Jepang. Silakan.

Kunci dari menata lemari adalah memastikan bahwa lemari tidak terlalu penuh dengan pakaian. Lemari yang penuh sesak dengan pakaian tentu akan membuat pakaian sulit bernapas, sulit diambil, dan sudah pasti sulit untuk bertahan rapi dalam waktu lama.

Kalau kamu sudah merasa lemarimu terlalu penuh, ini adalah pertanda bahwa kamu harus mensortir ulang isi lemari. Pilah mana pakaian yang masih digunakan dan mana yang bisa disumbangkan atau bahkan dibuang. Tapi cara ini tidak akan efektif kalau kamu tidak dapat mengendalikan diri saat belanja pakaian. Sesering apapun kamu menyumbangkan pakaianmu, kalau kamu juga sering belanja, lemarimu tetap akan penuh juga.

Saya sudah mulai membatasi diri untuk belanja pakaian sejak saya membaca larangan untuk menimbun harta. Dari apa yang saya baca, harta ini adalah segala sesuatu yang kita punya, termasuk pakaian. Memang benar, menyumbangkannya bisa menjadi solusi. Tapi kalau terus menerus ditambahkan, ya sama aja bohong. Padahal, nanti semua yang kita miliki ini akan kita pertanggungjawabkan di akhirat kelak.

Nah, itu tadi 7 cara yang saya lakukan untuk berdamai dengan tumpukan cucian. Dengan cara ini, saya bisa meminimalisir stress ketika melihat tumpukan cucian yang menggunung. Baik yang sudah dicuci maupun yang belum. Kamu juga bisa menggunakan cara ini kalau kamu seperti saya, suka parno dengan cucian. Selamat mencoba.

You May Also Like

38 komentar

  1. Saya sich sudah lumayan lama berdamai dengan cucian. Kalau versi saya sich cuci tangan ataupun cuci pake mesin, selanjutnya dikeringkan di mesin, lalu jemur dengan digantung. Tetap rapi pakaiannya walaupun ndak disetrika

    ReplyDelete
    Replies
    1. saya kalau udah cuci pakai tangan biasanya udah nggak dikeringkan pakai pengering sih mbak. soalnya sedikit sekali yang dicuci tangan. hemat listrik. wkwkwk

      Delete
  2. Tetap semangat ya mba walau cucian menggunung.
    Saya justru gak terlalu suka nyuci, tapi lebih bisa berdamai sama setrikaan.
    Mungkin karena saya ini tipe yang "anti air" ya... πŸ˜‚

    ReplyDelete
    Replies
    1. nyuci kan gampang mbak. tinggal pencet kalau di rumah saya. wkwkwkwk
      makanya saya suka. kalau cuci sendiri itu juuuuuaaaaraaang sekali. setahun bisa dihitung jari. XD

      Delete
  3. yap setuju wkwkwk, karena saya pun orang yang enggak suka sama menyetrika, kalo bisa ada mesin setrika saya beli juga skrg, wkwkwkwk. nah saya pun kalo setrika baju hanya baju kerja suami dan gamis saya doang, daster, kaos dan dalaman lipet doang lgs masukan lemari. enggak stress menyerika tentunya, wkwkwk.

    ReplyDelete
    Replies
    1. itu juga saya pingin belu juga. so far, pingin setrika uap yang gantung itu. biar tinggal gantung, srepet-srepet, trus rapi. wkwkwk..

      Delete
  4. Pas bgt semua sama dg saya, kecuali kerudung. Kalau saya mah setrika aja itu kerudung sama dg baju kerja (baca: baju bepergian).

    ReplyDelete
    Replies
    1. kerudung nggak saya setrika soalnya kalau masuk lemari dia kusut lagi. huhuhu
      akhirnya setrika ulang. akhirnya ya saya lipat aja, tanpa setrika.

      Delete
  5. Kebiasaan saya tuh uwel2 pakaian... Akhirnya ditegur suami. Ahaha. Saya juga prinsipnya setrika kerudung saat mau dipakai. Tapi pernah suatu kali jadi kelabakan karena kudu dipakai saat itu juga namun gak ada waktu buat setrika

    ReplyDelete
    Replies
    1. jangan diuwel-uwel mbak. bikin makin kusut. kalau males jadi repot ntar. wkwkwk
      kayak saya gini, banyak malesnya. jadi nggak berani uwel-uwel baju. wkwkkwk

      Delete
  6. Aku tergoda dengan istilah .. uwel~uwel hehehe :).
    Aku tau sih kata itu dari bahasa Jawa, kira~kira bahasa Indonesianya apa ya,kak ?.
    Aku sendiri juga bingung mengistilahkannya :)

    Biasanya pakaian rumahan, ngga pernah disetrika, kak.
    Ya buat hemat listrik gitu :).
    Kalo pakaian buat bepergian, dilihatnya kurang rapi baru kusetrika.
    Kalo sekiranya ngga perlu disetrika karena terlihat rapi, ya ngga kusetrika.
    Langsung pakai saja :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalau tanu udah aku tulis bahasa indonesianya kali.

      kayaknya bilang hemat listrik itu modus aja deh, padahal sebetulnya ogah aja rempong sama setrikaan. wkwkwk

      Delete
  7. Mbaaak judulnya curahan hati aku banget deh hehehe rasanya bt tiap hari berhadapan dengan yang namanya cucian yang rajin membelah diri wkwkw makasih yaa tipsnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. wkwkwkwkwk... membelah diriiii..
      kalau ketemu cucian lain, dia jadi berkembang biak ya mbak. XD

      Delete
  8. Saya suka nyuci pakaian tapi paling malas melipat apalagi menyetrikanya. Meski demikian, tetap dilakoni lho. Namanya juga ibu rumah tangga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. samaaaa... Tos mbak. Wkwkwk..

      Iya, pekerjaan rumah itu, suka tidak suka tetap harus dijalani.

      Delete
  9. sama dong mba, huhuhu,, paling males nyetrikanya,, lipet-lipet aja hehe

    ReplyDelete
  10. Alhamdulillah... saya sudah menerapkan hal yang sama sejak hamil anak ke-5. Akhirnya, saya angkat tangan juga dengan setrikaan, haha...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wkwkwkwk...
      Saya udah dari dulu mbak. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

      Delete
  11. saya juga malas yang namanya setrika mb. Makasih ya mb atas tipsnya.

    ReplyDelete
  12. Yup, klo angkat jemuran pasti aku usahakan nggk diuwel-uwel biar tetep rapi :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaaa... Ini bukan kerajinan sih. Tapi karena nggak tahu juga kapan mau setrika. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

      Delete
  13. Semenjak kerja aku jadi males nyetrika karena cape. Yang biasanya 2 kali sehari ini jadi ditumpuk dulu sampai banyak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sehari 2 kali 😱😱😱
      Kereeeennn..

      Aku sekali aja ampun mbak.πŸ™ˆ

      Delete
  14. Hehehhe.. Perubahan yang perlu adaptasi ya mbak dlm menghadapi cucian😊😊. Btw..boleh juga tipsnya mbak,sangat membantu. Tapi utk kerudung...agar meringankan biaya setrika (nggak sering digunakan), sebaiknya menggunakan gantungan khusus kerudung supaya tetap rapi dan mudah dalam pencarianπŸ€—

    ReplyDelete
    Replies
    1. sudah pernah juga mbak pakai gantungan khusus kerudung tapi menurutku sama saja. tetap harus disetrika lagi. akhirnya gak pernah pakai lagi. kerudung digulung-gulung aja biar nyimpannya nggak gampamg mawul-mawul.

      Delete
  15. Tipsnya mantap banget nih mbak. Tumpukan cucian memang suka bikin saya stres. Kalau mencucinya sih nggak masalah. Setelah dicucinya itu lho..�� baca postingan ini jadi dapat pencerahan. Thanks for sharingnya mbak Lelly��

    ReplyDelete
    Replies
    1. wkwkwk... iya memang, bukan saya aja yang merasa begini.

      Delete
  16. Yang namanya cucian tuh memang bikin hzzzz banget mba wkwk. Aku yg gapernah setrika sebelum nikah, harus setrika setelah menikah ini jadi cukup shock haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. samaaaa... tapi mau kasih laundry kok yaaa...
      hmmmmmmmm (pakai nada nisa sabian 1 jam)

      Delete
  17. berhubungan dengan pakaian emang yang paling bikin mikir panjang ketika urusan menyeterika ya mbak, begitupun dengan aku..belum bisa berdamai dengan seterika sejak jaman kuliah dulu hehehe

    ReplyDelete
  18. Saya juga sering memisahkan pakaian sesuai kategori ba, bju ke3 anak dan baju suami dan saya

    ReplyDelete
    Replies
    1. lebih enak ya mbak? apa untuk didelegesikan ke yang punya baju?

      Delete
  19. Makasih tipsnya mba, aku biasanya juga memisahkan baju tapi perpakaian, misal suami, bajuku, baju anak, baju kerja suami jadi misal lagi males yang aku ambil yang paling penting dulu hehehehe

    ReplyDelete